 |
|

7th September 2007
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Seri: Eksposisi Surat Roma oleh Denny Teguh Sutandio, S.S.)
Seri Eksposisi Surat Roma :
Ajarku Mengerti Anugerah-Mu dan Melakukan Firman-Mu
Seri Eksposisi Surat Roma merupakan suatu bahan studi eksposisional dan tafsiran Alkitab khususnya surat Roma yang ditulis oleh Denny Teguh Sutandio, S.S. (anggota jemaat GRII Andhika, Surabaya, lulusan Sarjana Sastra dari UK Petra, Surabaya dan mahasiswa part-time Sekolah Theologia Reformed Injili Surabaya -> STRIS Andhika) dengan metode eksegese Alkitab (metode tafsiran Alkitab yang benar) yang dapat dipertanggungjawabkan dan teliti. Eksposisi ini akan terus digarap sampai pasal terakhir dalam surat ini untuk memberikan suatu pengajaran tentang pentingnya keseimbangan antara doktrin/ajaran Kristen dan kehidupan Kristen nyata di dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud realisasi dari pengertian doktrin Kristen yang beres. Hal ini penting karena di abad postmodern, keKristenan diterpa oleh semangat relativisme dan Gerakan Zaman Baru yang tidak lagi mengaktifkan fungsi rasio yang beres, malahan menenggelamkan dirinya ke dalam jalur perasaan emosional dan kerelatifan semu yang melawan Alkitab. Doktrin/ajaran Kristen itu sangat penting karena itulah fondasi gereja yang beres, tetapi doktrin jika tidak direalisasikan maka akan menjadi doktrin yang mati, sebagaimana iman tanpa perbuatan menjadi iman yang mati (Yakobus 2:26). Tetapi sekali lagi, ini tidak berarti perbuatan lebih penting daripada doktrin/iman ! Iman/doktrin itu tetap yang terutama, karena kita diselamatkan melalui iman (bukan melalui perbuatan) dan pengertian doktrin/ajaran yang beres menguatkan iman kita untuk tetap teguh berdiri menghadapi tantangan zaman dan menantang zaman. Iman yang menyelamatkan harus membuahkan hasil yang nyata melalui sikap hati, pikiran, hidup dan perkataan yang taat mutlak kepada kehendak-Nya. Itu yang sedang dipaparkan secara inti di dalam surat Roma, keseimbangan antara pengertian doktrinal yang kuat dengan realisasi nyata doktrin tersebut di dalam kehidupan sehari-hari (kehidupan praktis, misalnya di dalam pemerintahan, kasih persaudaraan, dll). Biarlah kita boleh diberkati melalui pengajaran Paulus di dalam surat Roma ini. Soli DEO Gloria...
|

7th September 2007
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Roma 1:1-7: HAMBA KRISTUS DAN FOKUS INJIL (Denny Teguh Sutandio)
Seri Eksposisi Surat Roma :
Hamba Kristus dan Fokus Injil-1
HAMBA KRISTUS DAN FOKUS INJIL
oleh : Denny Teguh Sutandio, S.S.
Nats : Roma 1:1-7
Surat Roma adalah salah satu surat yang ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 57 M. Selama perjalanan pelayanannya, Paulus tidak pernah mengunjungi jemaat Roma. Ia hanya mengunjungi kota Roma sebentar saja (Kisah Para Rasul 23:11-22), lalu ia dipindahkan ke Kaisarea (Kis. 23:23-35). Kota Roma adalah ibu kota sebuah kerajaan yang terbentang dari Inggris sampai ke Arab, sebuah kota yang kaya dan termasuk kosmopolitan serta sebagai pusat diplomatik dan perdagangan dunia yang terkenal pada waktu itu. Kekaisaran Romawi berada dalam suatu keadaan yang damai dan makmur (Pax Romana). Jemaat Roma yang merupakan campuran bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain pertama kali terbentuk dari penginjilan yang dilakukan oleh Rasul Petrus di hari Pentakosta (Kis. 2:10), ketika para pendatang dari Roma sedang berkumpul di Yerusalem. Surat Roma ini menduduki posisi yang penting berkenaan dengan pengajaran Paulus yang paling gamblang akan Injil dan iman Kristen sejati, sehingga surat yang ditulis setelah surat-surat Tesalonika, Korintus, Galatia dan sebelum surat-surat Kolose dan Efesus ini mempengaruhi para tokoh gereja dari Bapa Gereja Augustinus, Dr. Martin Luther, John Bunyan dan Wesley yang akhirnya mengembalikan keKristenan kepada Injil yang sejati. Setelah penulisan surat ini (sekitar tahun 64 M), terjadi penganiayaan besar dari Kaisar Nero yang mengkambinghitamkan orang-orang Kristen dengan menuduh mereka membakar kota Roma (padahal Nero lah yang membakar kota Roma). Hal ini dilakukan karena Nero membenci orang-orang Kristen dan menganggap mereka penentang kaisar karena tidak mau menyembah kaisar sebagai “Tuhan”.
Pada awal suratnya, seperti pada surat-suratnya yang lain, Paulus mengemukakan identitasnya sebagai rasul Yesus Kristus, atau di Roma 1:1 disebut sebagai “hamba Kristus Yesus yang dipanggil menjadi rasul”. Kata “hamba” dalam bahasa Yunaninya doulos yang artinya budak. Konsep hamba/budak/ servant dipakai oleh Rasul Paulus menunjuk kepada suatu jabatan yang boleh dikatakan rendah, karena seorang budak bertugas melayani tuannya. Di dalam Perjanjian Lama, budak adalah orang yang dibeli. Ini tercantum di dalam Kejadian 43:18, di mana saudara-saudara Yusuf sadar betul siapa mereka di hadapan Yusuf. Di dalam ayat ini, sebagai budak, mereka benar-benar kehilangan hak mereka, bahkan harta milik mereka (dalam ayat ini, keledai saudara-saudara Yusuf) dapat diambil oleh tuan mereka. Selain itu, Imamat 25:45-46, konsep ini mengajarkan bahwa budak itu dibeli. Di sini, Paulus sadar bahwa dirinya adalah budak Kristus karena Kristus telah membeli dirinya dengan darah-Nya yang menebus dosa-dosanya. Konsep budak/hamba ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita, di mana kita yang telah ditebus oleh Kristus merupakan budak-budak-Nya. Kalau kita sebagai budak-budak-Nya, maka tidak ada yang patut dipertahankan sebagai milik kita, sebaliknya kita harus menyerahkan segala sesuatu yang kita miliki kepada-Nya sebagai Tuan sekaligus Tuhan (Kurios) di dalam hidup kita (Roma 12:1-2 ; 1 Petrus 3:15). Konsep kedua di dalam Perjanjian Lama tentang hamba menunjukkan seorang yang beribadah kepada Allah. Di dalam Mazmur 119:49, hamba dikaitkan dengan seorang yang mengingat dan berharap akan firman-Nya, selanjutnya, di dalam Yesaya 56:6, hamba berkaitan dengan orang yang memegang teguh perjanjian ( covenant)-Nya. Di dalam hal ini, Paulus sangat beribadah kepada Allah, maka beliau disebut hamba-Nya. Kita yang adalah hamba-hamba Kristus seharusnya bukan hanya bersyukur atas anugerah penebusan-Nya, tetapi juga bersedia menaati apa yang diperintah-Nya dan bersedia berkata TIDAK kepada dosa. Konsep ketiga tentang hamba di dalam Perjanjian Lama adalah berkaitan dengan orang yang sungguh-sungguh melayani orang lain. Di dalam Kejadian 24:2, 10, 17, 34-67, konsep ini semakin jelas di mana hamba Abraham melayani Abraham dan Ishak dengan sungguh-sungguh, bahkan hamba ini meminta tanda dari Tuhan untuk menunjukkan istri yang sesuai untuk Ishak, tuannya. Demikian pula, halnya dengan 1 Raja-raja 19:19-21, di mana Elisa sebagai hamba dari Elia sungguh-sungguh melayani Elia, nabi Tuhan. Di dalam hal ini, Paulus sungguh-sungguh mengabdi dan melayani satu-satunya Tuan di dalam hidupnya yaitu Kristus sendiri, sehingga apapun yang Kristus perintahkan, Paulus taat mutlak. Kita pun sebagai hamba-hamba Kristus wajib membayar harga dalam mengikut Kristus (Matius 16:24), di mana kita wajib mewartakan Injil Kristus kepada semua orang sesuai amanat agung-Nya (Matius 28:19-20).
Di dalam Roma 1:1, Paulus bukan hanya sekedar hamba Kristus Yesus, tetapi ia juga “dipanggil menjadi rasul”. Kata “dipanggil” dalam bahasa Yunaninya kletos yang artinya ditunjuk ( appointed) secara khusus dan kata “rasul” dalam bahasa Yunaninya apostolos yang berarti delegasi atau duta besar Injil ( ambassador of the Gospel) atau utusan ( messenger). Di sini, Paulus selain menyebut dirinya sebagai hamba Kristus, ia juga rasul-Nya atau utusan Kristus atau duta besar Injil sebagai dasar/fondasi gereja (Efesus 2:20). Seorang dipanggil menjadi rasul memiliki ciri-ciri, yaitu sezaman dengan Yesus atau menjadi saksi mata hidup Tuhan Yesus dan/atau dipilih oleh Kristus sendiri. Kesebelas murid Tuhan Yesus (Yudas Iskariot tidak termasuk) disebut para rasul ditambah Paulus sebagai ganti Yudas Iskariot disebut rasul, karena Kristus sendirilah yang memilihnya secara khusus (Kisah 9:3-6). Paulus bukan hanya dipanggil menjadi rasul, tetapi juga “dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” Kata “dikuduskan” di dalam Alkitab Terjemahan Lama (TL) lebih tepat diterjemahkan diasingkan ( separated) dan kata “diasingkan” ini cocok dengan bahasa Yunaninya aphorizo yang juga bisa berarti dipisahkan atau dibedakan. Kita sebagai anak-anak Tuhan pun berada di dalam kondisi yang sama yaitu kita sedang dipisahkan dari dunia untuk menjadi anak-anak adopsi-Nya untuk memberitakan Injil Kristus. Lalu, apa bedanya Paulus dan para rasul Kristus lainnya dengan kita yang sama-sama dipisahkan oleh Allah untuk memberitakan Injil-Nya ? Paulus dan para rasul Kristus lainnya menyatakan diri sebagai hamba yang dipisahkan untuk memberitakan Injil Allah berada dalam posisi peletak pertama pemberita Injil setelah Kristus (meneruskan berita Injil dari Kristus sendiri), sedangkan kita memberitakan Injil berada di dalam posisi meneruskan berita Injil dari Kristus dan para rasul-Nya (kita menunaikan fungsi kerasulan, tetapi tidak berjabatan rasul).
Kalau kita melihat ulang sejarah siapakah Paulus, kita akan semakin bersyukur bahwa Paulus yang dahulu bernama Saulus, seorang penganiaya jemaat Tuhan dapat menjadi rasul-Nya. Paulus dahulu bernama Saulus (Si Besar). Saulus adalah seorang murid dari Gamaliel, (pengajar Taurat terkemuka pada waktu itu) ia sangat membenci para pengikut Kristus (pengikut Jalan Tuhan), sehingga dengan legitimasi dari para ahli Taurat Yahudi, ia pergi ke Damsyik untuk menganiaya para jemaat Tuhan. Saulus dulu adalah budak dosa, di mana ia melayani dosa sebagai tuannya. Ia pikir bahwa dengan menjalankan syariat-syariat Yudaismenya, ia memperoleh keselamatan (sama seperti yang dianggap oleh banyak orang Indonesia dengan agama mayoritasnya), padahal sebenarnya ia sedang berada di bawah dosa atau menjadi hamba dosa dengan menindas kebenaran dengan kelaliman (Roma 1:18). Ketika Saulus dan juga kita adalah budak dosa, maka ia dan kita sama-sama terjerat dan terikat dengan belenggu dosa serta tidak ada yang dapat melepaskan belenggu dosa kita, kecuali Kristus. Perjumpaan Saulus dengan Kristus sendiri di tengah perjalanan menuju Damsyik (Kisah 9:3-9) membukakan dan membebaskannya dari belenggu dosa, sehingga ia yang berganti nama menjadi Paulus (Si Kecil) sekarang menjadi hamba kebenaran yaitu hamba Kristus di mana ia dengan rela hati dan siap sedia untuk mati bagi Kristus dan Injil-Nya. Ketika kita dulu menjadi budak dosa telah dimerdekakan oleh darah Anak Domba Allah, maka kita sekarang tidak berarti tidak menjadi budak siapapun, tetapi kita justru tetap budak, tetapi menjadi budak Kristus, artinya kita melayani-Nya untuk selama-lamanya, setia kepada-Nya dan firman-Nya, taat mutlak kepada-Nya dan firman-Nya, dan siap mati demi nama-Nya. Paulus rela tidak mendapatkan nama yang termasyur seperti ketika dulu dia menjadi murid Gamaliel. Semua yang dulu dianggap untung, sekarang dianggap rugi oleh Paulus, karena pengenalannya akan Kristus lebih berharga dari apapun juga (Filipi 3:8-9). Itulah jiwa hamba Kristus.
Uniknya, di dalam ayat 2-4, Paulus langsung mengaitkan Injil dengan nubuatan dalam Perjanjian Lama (Kejadian 3:15, dll), di mana inti Injil adalah Kristus Yesus yang bernatur manusia dan Allah (perhatikan ayat 3-4, yaitu “tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, ...”). Bahasa Indonesia Sehari-hari lebih jelas mengartikan kedua ayat ini, “Kabar Baik itu mengenai Anak Allah, Tuhan kita Yesus Kristus. Secara manusiawi, Ia adalah keturunan Daud, tetapi secara ilahi Ia ternyata adalah Anak Allah. Itu terbukti dengan kuasa yang luar biasa melalui kebangkitan-Nya dari kematian.” Kristus bernatur manusia, terbukti bahwa Ia adalah keturunan Daud (Matius 1:1-17), dan Kristus pula bernatur Allah, terbukti bahwa Ia bangkit dari kematian untuk mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut. Di sini, konsep dwi natur Kristus dinyatakan dengan jelas oleh Paulus. Inti Injil adalah Kristus. Setiap “injil” yang tidak lagi memberitakan tentang Kristus adalah “injil-injil” palsu (Galatia 1:6-10). Kalau kita melihat kondisi keKristenan di abad postmodern, inti Injil sudah digeser dari karya Kristus yang menebus dosa menjadi dua kubu “penting” yaitu “injil” kesehatan dan kemakmuran (health and prosperity ‘gospel’) yang menekanan mujizat kesembuhan dan pemulihan ekonomi karena adanya penebusan Kristus, di sisi lain adanya “injil” sosial ( social ‘gospel’) yang menawarkan bahwa Kristus melepaskan semua manusia dari beban penderitaan dan kesengsaraan dunia (menolak karya Kristus yang menebus dosa). Kalau Paulus tetap memberitakan Injil Kristus yang murni dengan menekankan karya Kristus yang menebus dosa manusia, maka sudah sepatutnya kita pun juga memberitakan Injil Kristus yang murni tanpa dibumbui dengan segala hal yang tidak mutlak diajarkan oleh Alkitab. Kemudian, Paulus menjelaskan bahwa melalui karya Kristus sebagai Pengantara antara manusia yang berdosa dengan Allah yang Mahakudus, maka kami (Paulus dan para rasul Kristus) menerima anugerah atau kasih karunia dan jabatan rasul untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa agar mereka boleh percaya dan taat kepada-Nya. Di sini, Paulus bukan hanya membahas bahwa inti Injil adalah Kristus, ia pun sedang membicarakan tentang Injil yang universal, artinya Injil bukan terbatas bagi orang-orang Yahudi, tetapi juga perlu diberitakan kepada semua bangsa tanpa kecuali, agar beberapa dari mereka (yang telah dipilih-Nya) boleh meresponi Injil-Nya dengan percaya dan taat kepada-Nya. Memberitakan Injil yang berintikan Kristus harus direalisasikan dengan tidak memandang bulu, sebagaimana Kristus mengasihi semua orang tanpa pandang bulu. Artinya, kita harus memberitakan Injil kepada semua orang tanpa kecuali dengan berita bahwa Tuhan Yesus Kristus satu-satunya Juruselamat dunia dan hasil akhirnya membawa orang-orang yang diinjili semakin percaya dan taat kepada-Nya. Penginjilan yang beres dan bertanggungjawab bukan hanya berpusatkan Kristus (Kristosentris), tetapi juga menuntun kepada Kristus. Penginjilan yang hanya mengajar tentang Kristus, tetapi tidak menuntun kepada Kristus, akan menjadi penginjilan yang sia-sia. Artinya, penginjilan itu hanya sekedar berupa teori-teori yang dirumuskan tanpa ada pergumulan dan keputusan men-Tuhan-kan Kristus di dalam hidup sehari-hari. Inilah yang Paulus sebut sebagai “taat kepada nama-Nya” sebagai respon dari iman kepada Kristus. Kata “taat” dalam bahasa Yunaninya hupakoe yang artinya penundukan ( submission) atau kepatuhan ( obedience). Seorang yang taat adalah seorang yang tunduk (tidak membantah) kepada perintah-perintah-Nya. Di sini, konsep taat sama dengan konsep penyerahan total (total surrender) kepada Allah sebagai satu-satunya yang mutlak patut dipercayai dan diimani tanpa salah dan kepada firman-Nya, Alkitab sebagai satu-satunya fondasi iman Kristen yang paling konsisten, bertanggungjawab dan tanpa salah. Mengapa anak-anak Tuhan dapat berserah total dan taat kepada Allah ? Karena Allah sajalah satu-satunya yang patut dipercayai sebagaimana ynag diajarkan oleh Rasul Paulus kepada Timotius di dalam suratnya 2 Timotius 1:12, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” Paulus tidak malu sedikitpun di dalam menanggung aniaya, karena dirinya tahu kepada siapa dia mempercayakan hidupnya yaitu kepada Allah yang memelihara hidupnya sampai akhir. Adakah kita juga bersedia dengan rela hati menyerahkan hidup kita untuk terus-menerus dipimpin oleh Roh-Nya sehingga hidup kita makin menyerupai Kristus dan memuliakan Allah ?!
Di ayat 6-7a, Paulus langsung menunjuk jemaat-jemaat Roma sebagai orang-orang dari semua bangsa yang dipanggil oleh Allah menjadi milik Kristus sama seperti Paulus. Kita sebagai anak-anak Tuhan pun dipilih dan dipanggil oleh Allah sebelum dunia dijadikan (Roma 8:29-30) untuk diadopsi menjadi milik Kristus serta kita dikuduskan (atau “dijadikan orang-orang kudus” di dalam ayat 7a) agar serupa dengan gambar Kristus, Putra Sulung Allah. Di sini, Paulus mengaitkan konsep predestinasi (pemilihan Allah) dengan konsep Injil dan Kerajaan Allah, di mana Allah yang mengasihi anak-anak-Nya, memilih mereka, menentukan, memanggil mereka melalui Injil Kristus yang diberitakan, membenarkan dan memuliakan mereka kelak di dalam kerajaan-Nya. Kalau kita secara status sudah dipanggil Allah menjadi milik Kristus, itu berarti sudah seharusnya kita menaklukkan diri kita di bawah kuasa-Nya. Mengapa demikian ? Karena kita sudah dibeli dan harganya telah lunas dibayar oleh pengorbanan Kristus. 1 Korintus 6:20 mengajarkan, “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” dan 1 Korintus 7:23 juga mengajarkan, “Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.” Kalau pada 1 Korintus 6:20, Rasul Paulus mengaitkan konsep kita yang telah dibayar lunas oleh pengorbanan Kristus dengan hidup kudus/suci, maka di dalam 1 Korintus 7:23, Paulus juga mengaitkannya dengan konsep menghambakan diri di bawah Allah. Sungguh amat menarik, di dalam 1 Korintus 7:22, Paulus mengemukakan suatu istilah yang paradoks, yaitu, “Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya.” Mungkin sekali, manusia dunia berpikir bahwa tentunya seorang hamba itu adalah orang yang terikat, tetapi Paulus mengatakan hal yang berbeda yaitu bahwa seorang hamba yang dipanggil oleh Allah adalah orang bebas, dan disusul dengan pernyataan bahwa hamba itu meskipun orang bebas tetapi milik Tuhan. Artinya, meskipun setiap anak Tuhan adalah hamba Allah yang telah dimerdekakan dari dosa, mereka tetaplah milik Tuhan yang wajib menghambakan diri bukan kepada manusia, tetapi kepada Allah. Di sini, saya mencoba memberikan suatu konsep circular (melingkar) yang terus berkait satu sama lain, yaitu kita adalah hamba Allah yang sudah diselamatkan melalui pemberitaan Injil, kemudian dilanjutkan dengan suatu tindakan yaitu memberitakan Injil supaya orang lain juga bertobat dan juga menjadi hamba Allah setelah mendengar Injil, lalu orang lain itu pula juga memberitakan Injil, begitu seterusnya. Seperti Rasul Paulus yang dulunya bernama Saulus adalah penganiaya jalan Tuhan, lalu setelah Kristus sendiri menemuinya di tengah perjalanan menuju Damsyik, lalu ia dipanggil menjadi hamba Kristus dan memberitakan Injil salah satunya kepada jemaat di Roma dan Paulus juga ingin jemaat di Roma setelah mendengar Injil dan menerima Kristus serta menjadi hamba-Nya juga bersedia memberitakan Injil dan menjadi saksi-Nya. Jadi, ini adalah suatu lingkaran yang saling terkait di mana sebagai seorang hamba Kristus yang tentu juga milik Kristus, kita harus rela memberitakan Injil sebagai respon aktif kita sebagai hamba Kristus yang sudah ditebus oleh darah-Nya. Kemudian di akhir ayat 7, Paulus memberikan berkat yang merupakan gabungan dari tradisi Yunani dan Yahudi. Berkat ini merupakan suatu salam hangat dari Rasul Paulus kepada jemaat-jemaat di Roma yang belum pernah dikunjunginya (lihat ayat 8). Ucapan salam dan berkat ini merupakan bukti perasaan kasih Paulus kepada jemaat di Roma yang di dalam ayat-ayat selanjutnya hal ini diperjelas.
Maukah kita hari ini menjadi hamba-Nya yang hanya memberitakan Injil Kristus yang murni tanpa ditambah oleh hal-hal yang tidak perlu dan tidak mutlak di dalam Alkitab ? Amin.
|

7th September 2007
|
 |
AP - Community Leader
|
|
Join Date: Jun 2004
Location: Indonesia
Age: 29
Posts: 3,909
|
|
sakit mata bacanya, kegedean
btw, sola scriptura blom kenalan ya? tiba2 aja langsung post yang berat-berat
|

9th September 2007
|
|
AP - Master
|
|
Join Date: Apr 2006
Posts: 318
|
|
iya, fontnya kegedean udah gitu pake warna ungu lagi.. silauuuuuuuu
|

15th September 2007
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Roma 1:8 : HIDUP YG BERFOKUS KEPADA KRISTUS (Denny Teguh Sutandio)
Seri Eksposisi Surat Roma :
Hamba Kristus dan Fokus Injil-2
HIDUP YANG BERFOKUS KEPADA KRISTUS
oleh : Denny Teguh Sutandio
Nats : Roma 1:8
Pada ayat 8, Paulus menyatakan suatu sukacitanya karena dirinya mendengar kesaksian iman para jemaat Roma yang tersiar ke seluruh dunia. Kata “tersiar” di sini diterjemahkan oleh King James Version sebagai is spoken of dari bahasa Yunaninya kataggellō yang artinya to proclaim, promulgate, declare, preach, shew, speak of, teach yang dalam bahasa Indonesia secara keseluruhan berarti iman mereka diproklamasikan atau dideklarasikan keluar atau diajarkan ke seluruh dunia (Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari menerjemahkan, “sebab seluruh dunia sudah mendengar bahwa kalian percaya sekali kepada Kristus.”). Paulus sadar bahwa iman mereka sampai tersebar luas ke seluruh dunia adalah anugerah Allah, sehingga Paulus langsung bersyukur kepada-Nya melalui Kristus karena mendengar berita tersiarnya iman mereka ke seluruh dunia. Matthew Henry dalam tafsirannya Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible terhadap ayat ini mengatakan, “In all our thanksgivings, it is good for us to eye God as our God;” Di sini, beliau mengaitkan antara ucapan syukur kepada Allah dan melihat Allah sebagai Allah. Dengan jelas, beliau ingin mengajarkan bahwa ucapan syukur sejati dan beres adalah ditujukan kepada Allah sejati. Nah, seringkali di dalam ucapan syukur yang meskipun kita katakan dialamatkan kepada Allah, sebenarnya itu hanya klise dan omong kosong belaka, karena ucapan syukur kita tidak pernah melihat Allah sebagai Allah yang patut disembah dan disyukuri anugerah-Nya. Bukan hanya itu saja, kita baru bisa bersyukur tatkala Tuhan mengabulkan permintaan kita, sedangkan ketika Ia tidak mengabulkan apa yang kita inginkan, kita menjadi marah-marah dan bersungut-sungut. Ini sangat bahaya, karena kita mengaitkan ucapan syukur kita dengan kepuasan diri kita bukan kepuasan diri Allah. Ucapan syukur Kristen sejati harus dialamatkan hanya untuk kepuasan dan kemuliaan Allah saja dengan melihat Allah sebagai Allah. Kita kembali kepada ayat 8, di mana Paulus sangat bersyukur ketika mendengar siaran kabar tentang iman jemaat di Roma atau seluruh dunia mendengar bahwa jemaat-jemaat di Roma percaya kepada Kristus. Pertanyaan yang muncul sampai sejauh manakah iman jemaat-jemaat di Roma sehingga Paulus bersukacita karenanya ? Kalau kita memperhatikan konteks, maka kita dapat menemukan dua kondisi yang ada pada jemaat di Roma.
Pertama, jemaat-jemaat di Roma berada di dalam kondisi yang makmur dan kaya (Pax Romana). Di Roma, semua kebutuhan tercukupi dan bahkan berlimpah ruah, semua orang di kota ini adalah orang yang rakus dan serakah. Tetapi di tengah kondisi orang-orang di Roma yang begitu jahat, jemaat-jemaat Tuhan di Roma masih dapat mempertahankan kelakuan yang bersih dengan tetap beriman kepada Kristus dan bahkan iman mereka tersiar sampai ke seluruh dunia. Dengan kata lain, cara hidup mereka berbeda dengan cara hidup kebanyakan orang di Roma yang rakus, mabuk-mabukan, pesta pora, dll. Kita berada di suatu negara yang boleh dibilang subur, Indonesia adalah negara yang diberkati Tuhan, meskipun ditambah dengan subur korupsi, kolusi dan nepotisme, tetapi notabene kita hidup di negara yang cukup maju ketimbang negara-negara seperti India atau bahkan Etiopia. Kondisi negara kita yang subur ditambah cuaca yang cukup enak yaitu cuaca tropis yang tidak sampai kepanasan atau kedinginan, orang-orang di dalamnya merasa keenakan dan akhirnya lupa diri serta menjadi malas. Mereka bersantai-santai dan tidak mempergunakan waktu dengan baik dan bijaksana. Apakah kita sebagai orang Kristen juga tidak berbeda dengan mereka yang menghambur-hamburkan waktu mereka sia-sia ? Ataukah kita bahkan lebih buruk dari mereka dengan lebih menghamburkan waktu untuk hal-hal yang sia-sia ? Seringkali kenyamanan kondisi sekeliling kita bisa membuat kita lupa daratan, tetapi melalui ayat ini kita diingatkan untuk berfokus kepada Kristus dengan beriman kepada-Nya, sehingga kita tidak terseret dan terjebak oleh situasi dan kondisi negara kita yang cukup nyaman. Kita tidak boleh lagi mengingat hal-hal yang menyenangkan dan memuaskan diri kita, tetapi kita seharusnya kembali mengerjakan hal-hal yang berguna bagi kemuliaan-Nya. Mengapa ? Karena Allah telah menetapkan kita untuk, “melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.” (Efesus 2:10) Kita bisa melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah karena kita ini adalah buatan Allah melalui Kristus Yesus dan telah diselamatkan di dalam Kristus. Manusia adalah makhluk ciptaan-Nya yang diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya, gambar dan rupa ini adalah gambar dan rupa anak-Nya yang Tunggal (Roma 8:29), sehingga jikalau Allah masih bekerja, maka kita sebagai ciptaan-Nya khususnya anak-anak pilihan-Nya pun harus bekerja. Untuk meresponi pergunjingan tentang hari Sabat, Tuhan Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” (Yohanes 5:17) Ini berarti selain Kristus dan Bapa sama-sama adalah Allah, ayat ini juga berarti Kristus pun bekerja seperti Bapa-Nya bekerja. Pekerjaan yang Kristus kerjakan adalah mengerjakan apa yang Bapa kehendaki untuk dikerjakan-Nya. Kalau Allah Bapa bekerja, maka Kristus pun bekerja, dan otomatis melalui teladan Kakak Sulung kita, kita sebagai anak-anak adopsi-Nya pun harus bekerja.
Kedua, kondisi di Roma adalah jemaat-jemaat di Roma mengalami penganiayaan karena mereka menyebut diri mereka Kristen. Orang-orang dunia jika dianiaya, mereka bakalan lari dan menyerahkan apapun juga yang ada pada mereka, yang penting bagi mereka adalah keselamatan dirinya dari amukan massa yang menganiaya. Tetapi jemaat-jemaat di Roma tidak demikian, mereka tetap beriman kepada Kristus dan tidak sedikitpun mereka menyangkal iman mereka, sehingga tidak heran Paulus menghibur mereka bahwa barangsiapa yang menyeru nama Tuhan akan diselamatkan (Roma 10:13). Di tengah ancaman marabahaya dan penganiayaan, kita seringkali hanyut di dalamnya. Bahkan tidak usah terlalu jauh, ketika kita mau menyaksikan iman Kristen kita di dalam lingkungan di mana kita tinggal entah di dalam perkuliahan, tempat kerja, dll, kita seringkali dihina, diejek, difitnah, disalahmengerti, tetapi bagaimana reaksi kita ? Apakah kita tidak lagi mau menyaksikan iman Kristen ? Itu menjadi hal yang perlu kita introspeksi. Di dalam penderitaan dan penganiayaan berat sekalipun, kalau jemaat-jemaat di Roma tetap memfokuskan imannya kepada Kristus dan bukan pada penganiayaan, maka kita juga perlu belajar dari mereka yaitu belajar memfokuskan iman kita kepada Kristus dan bukan pada sesuatu yang menghimpit kita, sehingga kita mampu menerobos keluar dan menang menghadapi setiap penganiayaan. Untuk itulah, di dalam Roma 8:35, Paulus menghibur jemaat di Roma bahwa tidak ada satupun yang mampu memisahkan kita dari kasih Kristus, baik itu penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, pedang, itu tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Bahkan di dalam Roma 8:37, Paulus mengatakan bahwa kita lebih daripada orang-orang yang menang meskipun di dalam Roma 8:36, Paulus mengatakan bahwa kita harus melewati berbagai macam penganiayaan dan penderitaan. Terjemahan ayat 37 di dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari memberikan penjelasan, “Malah di dalam semuanya itu kita mendapat kemenangan yang sempurna oleh Dia yang mengasihi kita!” Terjemahan ini lebih memberikan pengertian kepada kita bahwa justru di dalam penganiayaan sekalipun, kita mendapat kemenangan yang sempurna oleh karena ada yang mengasihi kita yaitu Kristus yang sudah mengalahkan pencobaan demi kita. Sungguh unik pernyataan Paulus ini. Paulus menyingkapkan suatu fakta yang berbeda dari dunia yaitu di dalam penderitaan, kita justru semakin bersukacita, bahkan kita mampu mendapatkan kemenangan yang sempurna melalui Kristus yang telah mati dan bangkit bagi kita. Kasih-Nya memampukan kita bisa menang melawan segala macam penderitaan, karena Ia sendiri pun dicobai dan telah menang mengalahkan pencobaan itu. Demikianlah penulis Ibrani mengungkapkan pengajarannya, “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” (Ibrani 2:18). Kalau Kristus sudah menolong kita keluar dari pencobaan, maukah kita juga berusaha dengan bantuan-Nya tidak lagi terjerumus ke dalam pencobaan dan mau mengalahkan pencobaan serta keluar menjadi para pemenang iman ? Kita memang harus menderita aniaya karena nama Kristus (Matius 16:24), tetapi penganiayaan itu tidak seharusnya membuat kita menjadi lesu dan tidak berdaya lalu lemah terhadapnya, melainkan justru membuat kita berani dan tabah menghadapinya karena Kristus di pihak kita, siapa yang dapat melawan kita (Roma 8:31).
Maukah kita hari ini memandang Kristus sebagai satu-satunya sumber pengharapan yang sejati di tengah-tengah penderitaan yang mengancam dan godaan materialisme dan hedonisme dunia yang meracuni kehidupan kita ? Amin.
|

22nd September 2007
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Roma 3:9-13: HAMBA KRISTUS: Kehendak yang Dikuduskan
Seri Eksposisi Surat Roma :
Hamba Kristus dan Fokus Injil-3
Hamba Kristus : Kehendak yang Dikuduskan
oleh : Denny Teguh Sutandio
Nats : Roma 1:9-13
Pada ayat 9, Rasul Paulus menunjukkan kasihnya kepada para jemaat di Roma dengan berkata, “Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil Anak-Nya, adalah saksiku, bahwa dalam doaku aku selalu mengingat kamu:” Prof. J. Knox Chamblin, Th.D. di dalam bukunya Paulus dan Diri pada halaman 3 mengungkapkan, “Paulus menulis sebagai pribadi yang utuh, di mana pemikiran, perasaan, dan kehendaknya secara konstan saling berinteraksi saat ia menulis.” (Chamblin, 2006, halaman 3) Di dalam ayat ini saja, kita menemukan suatu emosi/perasaan kasih dari Rasul Paulus yang terus mendoakan para jemaat di Roma. Paulus tahu kehidupan di Roma yang begitu sulit, sehingga ia terus mendoakan mereka. Doa adalah suatu hal yang penting dan merupakan suatu komunikasi kita sebagai anak-anak-Nya dengan Allah. Doa juga merupakan suatu ekspresi cinta kasih kita kepada seseorang yang kita kasihi dengan mengingat dan membawa mereka di dalam doa kepada Allah, sama seperti di dalam suatu komunikasi antara kita dan teman kita, kalau kita benar-benar mengasihi pasangan kita, maka kita berusaha mengingatnya dan menceritakannya kepada teman kita agar teman kita boleh mengetahuinya. Demikian pula dengan doa, kita sebagai anak-anak-Nya perlu memperhatikan orang lain yang kita kasihi dan kita perlu membawanya di dalam doa. Itu merupakan suatu bukti kepedulian kita terhadap sesama anak Tuhan. Apa yang Paulus telah lakukan yaitu dengan mendoakan para jemaat di Roma sebagai wujud kasihnya, seharusnya kita teladani dengan mendoakan mereka yang berada di dalam kesulitan khususnya anak-anak Tuhan di negara-negara yang melarang pemberitaan Injil dan berdirinya gereja. Mereka berjuang sekeras dan segiat mungkin agar dapat terus setia mengikut Kristus, dan ini harus kita doakan terus-menerus. Inilah bukti bahwa kita tidak menjadi orang Kristen yang egois yang terus memikirkan kepentingan kita sendiri di dalam doa. Di dalam doa, seringkali orang Kristen memuaskan keinginan pribadi mereka, misalnya minta kaya, minta pasangan hidup, minta pekerjaan, dll, bukan berarti semua itu tidak boleh, tetapi jika kita terus mengkhususkan doa untuk hal-hal pribadi kita sendiri, maka kita adalah orang Kristen yang egois. Biasakanlah di dalam doa, kita pertama kali mengingat kepentingan orang lain yang lebih buruk dan susah daripada kita, bahkan kalau perlu pertama kali kita mendoakan para misionaris dan hamba Tuhan yang setia mengabarkan Injil di daerah-daerah yang sulit dan keras. Ini namanya doa syafaat, dan orang Kristen yang terus berdoa syafaat adalah orang Kristen dan hamba-hamba-Nya yang setia. Hamba Tuhan yang setia bukan diukur dari berapa hebatnya dia berkhotbah, melayani, dll, tetapi diukur dari kepedulian mereka dengan jiwa-jiwa yang tersesat dan anak-anak Tuhan lainnya yang berada di dalam kondisi kesulitan (entah itu sakit, bangkrut, dll) dengan mendoakan mereka.
Paulus bukan hanya terus mendoakan mereka, tetapi ia juga menasehati mereka untuk terus berdoa. Di dalam Roma 12:12, Paulus berkata, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Di dalam penderitaan, doa merupakan suatu wadah kita berkomunikasi dengan Allah dan meminta-Nya untuk terus-menerus menguatkan kita dalam menghadapi berbagai macam kesulitan yang kita hadapi. Di dalam kesulitan yang para jemaat Roma alami, Paulus menghibur mereka di dalam ayat ini dengan tiga hal, yaitu : bersukacita di dalam pengharapan, sabar di dalam kesesakan dan bertekun di dalam doa. Doa tidak bisa diabaikan begitu saja, karena tanpa doa, kita tidak mungkin sanggup kuat dan tahan menghadapi penderitaan. Kedua hal pertama yang Paulus utarakan di dalam Roma 12:12 jika tidak disertai dengan pernyataan, “bertekunlah dalam doa !” adalah suatu pernyataan yang sia-sia, karena bersukacita di dalam pengharapan dan sabar di dalam kesesakan tidak berguna tanpa ada penyerahan total kepada kehendak-Nya di dalam doa. Mayoritas, doa dikaitkan dengan bersukacita, sebagaimana di dalam 1 Tesalonika 5:16-17, Paulus menggabungkan antara “Bersukacitalah senantiasa.” dan “Tetaplah berdoa. (King James Version menerjemahkannya Pray without ceasing.=Berdoa tanpa henti.)” Sukacita tanpa doa adalah sukacita palsu/fenomenal dan cenderung lupa diri, karena sukacita sejati adalah sukacita di dalam Tuhan dan itu selalu berkait dengan penyerahan diri secara total kepada Allah di dalam doa. Di dalam doa, ada unsur sukacita, sebaliknya di dalam sukacita, ada unsur doa.
Doa inilah yang Paulus nyatakan dengan sukacita dan rasa cinta kasihnya di dalam ayat 10, “Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu.” Kalau di ayat 9, muncul perasaan kasih dari Paulus, maka di ayat 10, muncullah kehendak Paulus yang ingin mengunjungi jemaat di Roma. Sungguh menarik, Paulus bukan hanya mengaitkan konsep doa dengan rasa kasihnya, tetapi juga mengaitkan doa dengan kehendak Allah. Doa yang beres bukan hanya sekedar ekspresi cinta kasih manusia, tetapi juga harus disinkronkan dengan cinta kasih versi Allah. Caranya adalah mempersilahkan Allah menunjukkan kehendak-Nya melalui jawaban doa kita. Paulus tahu benar siapa dirinya di hadapan-Nya, sehingga ketika ia berdoa, ia tahu di mana letak kedaulatan kehendak-Nya, sehingga segala sesuatu harus diserahkan kepada kehendak-Nya. Kalau kita mengingini sesuatu, biarlah kita berdoa terlebih dahulu kepada Allah untuk mensinkronkan kehendak kita apakah sesuai dengan kehendak-Nya yang kudus dan kekal. Marilah kita membiasakan diri mengutamakan kehendak Allah bukan kehendak pribadi, seperti Paulus yang tetap menyerahkan kehendak pribadinya untuk mengunjungi jemaat di Roma kepada kehendak Allah. Apa yang menjadi kehendak pribadi Paulus ?
Di ayat 11, Paulus mengungkapkannya, “Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu,” Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) mengartikannya, “Sebab saya ingin sekali bertemu dengan kalian supaya saya dapat membagi denganmu karunia dari Roh Allah untuk menguatkan kalian.” Bukan tanpa alasan Paulus ingin mengunjungi jemaat di Roma, tetapi ia ingin membagikan karunia Roh Allah kepada mereka untuk menguatkan mereka. Kepedulian Paulus bukan hanya diukur dari tindakan mendoakan para jemaat di Roma, tetapi juga keinginannya juga untuk mengunjungi mereka dan menguatkan mereka melalui pemberian karunia dari Roh Allah. Apa sajakah wujud karunia Roh Allah ini ? 1 Korintus 12 memberikan daftarnya, marilah kita menelusuri satu per satu dengan teliti.
1. Karunia pelayanan (ayat 5)
2. Karunia berkata-kata dengan hikmat (ayat 8 ; BIS, “kesanggupan untuk berbicara dengan wibawa”)
3. Karunia berkata-kata dengan pengetahuan (ayat 8 ; BIS, “kesanggupan untuk menjelaskan tentang Allah.”)
4. Karunia iman (ayat 9 ; BIS, “kemampuan yang luar biasa untuk percaya kepada Kristus ; ”)
5. Karunia menyembuhkan (ayat 9)
6. Karunia mengadakan mujizat (ayat 10)
7. Karunia bernubuat (ayat 10 ; BIS, “karunia untuk memberitahukan rencana-rencana Allah.”)
8. Karunia untuk membedakan bermacam-macam roh (ayat 10 ; BIS, “kesanggupan untuk membeda-bedakan mana karunia yang dari Roh Allah dan mana yang bukan.”)
9. Karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh (ayat 10)
10. Karunia untuk menafsirkan bahasa roh (ayat 10)
Tiga prinsip penting berbagai macam karunia Roh Allah ini adalah pertama, berlaku hanya bagi umat pilihan-Nya, yaitu memuliakan Kristus (“Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus.”—1 Korintus 12:3), kedua, sumber dari segala macam karunia rohani adalah dari Roh Kudus (“Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.”—1 Korintus 12:4) dan ketiga, dipergunakan untuk saling memperlengkapi bagian-bagian di dalam satu tubuh Kristus (“Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.”—ayat 7).
Dengan jelas, yang dimaksudkan oleh Paulus dengan karunia rohani di ayat 11 pasti berkaitan dengan karunia untuk kepentingan jemaat/bersama di dalam pembangunan tubuh Kristus. Karunia Allah bukan dimonopoli hanya untuk para hamba Tuhan, tetapi juga untuk semua anak Allah. Karunia tetap adalah karunia yang sama dengan anugerah, sesuatu yang berharga yang diberikan dari pribadi kepada pribadi yang tidak layak menerimanya. Demikian halnya dengan karunia/anugerah Allah diberikan oleh Allah kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Tetapi herannya, di zaman postmodern, banyak orang “Kristen” menganggap anugerah Allah bisa dimanipulasi dan dituntut seolah-olah mereka adalah orang-orang yang layak dan “harus” mendapatkan anugerah Allah khususnya berbahasa lidah/roh, padahal di dalam di dalam 1 Korintus 12, karunia berbahasa lidah/roh adalah salah satu dari 10 daftar karunia Roh Allah (bukan satu-satunya), bahkan diletakkan pada urutan kesembilan (paling tidak penting). Lalu, wujud karunia rohani apa yang Paulus maksudkan untuk menguatkan jemaat di Roma ?
Ayat 12, Paulus menegaskan bahwa karunia rohani yang dimaksudkannya adalah karunia iman (1 Korintus 12:9). Perhatikan ucapannya, “yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.” (BIS, “Maksud saya ialah karena kita sama-sama sudah percaya kepada Yesus Kristus, maka kita dapat saling menguatkan.”) Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam khotbahnya di hari pertama di dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) Surabaya 2006 : “Pembelaan dan Perjuangan Iman (Pelayanan Apologetika Reformed)” memaparkan empat macam iman dan karunia iman diletakkan pada urutan ketiga dari keempat macam iman tersebut. Karunia iman adalah sebuah karunia pelayanan yang Allah percayakan kepada para hamba-Nya. Karunia iman yang Paulus miliki dilimpahkan dan dibagikan kepada para jemaat di Roma agar mereka pun memiliki iman di dalam pelayanan mereka. Iman di sini berarti bergantung kepada Allah atau percaya di dalam Kristus. Karena baik Paulus maupun jemaat di Roma memiliki macam iman yang sama, maka Paulus dapat menguatkan iman mereka, sehingga mereka dapat terus-menerus percaya di dalam Kristus tanpa henti. Inilah yang patut kita teladani. Sesama anak Tuhan seharusnya saling menguatkan. Hal ini bisa diartikan dua hal. Pertama, sesama anak Tuhan yang memiliki iman yang sama dapat saling menguatkan. Artinya, mungkin saja salah seorang dari anak Tuhan itu sedang mengalami kesusahan, meskipun ia juga memiliki iman yang beres, tetap saja ia membutuhkan penguatan dari kita. Itu adalah wujud kepedulian kita sebagai anak-anak-Nya di dalam pembangunan satu tubuh Kristus. Kedua, sesama anak Tuhan yang mungkin sementara waktu memiliki iman yang berbeda. Artinya, ada anak Tuhan yang sudah memiliki iman yang beres di dalam Tuhan, sementara anak Tuhan yang lain untuk sementara waktu memiliki iman yang tidak beres yang tidak di dalam Tuhan (mungkin di dalam materialisme, humanisme, dll). Maka, untuk anak Tuhan yang sudah memiliki iman yang beres wajib menguatkan iman anak-anak Tuhan lainnya yang masih belum beres, agar mereka pun boleh kembali beriman di dalam Kristus. Semua ini merupakan kehendak Paulus yang terdalam dari hatinya, tetapi apakah kehendak Paulus sesuai dengan kehendak Allah ?
Pada ayat 13, ternyata Allah berkehendak lain dan tidak mengizinkan Paulus mengunjungi jemaat di Roma. Hal ini nyata di dalam pernyataan Paulus, “Saudara-saudara, aku mau, supaya kamu mengetahui, bahwa aku telah sering berniat untuk datang kepadamu--tetapi hingga kini selalu aku terhalang--agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah, seperti juga di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi yang lain.” Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkannya, “Saudara-saudara! Saya ingin supaya kalian tahu bahwa sudah banyak kali saya bermaksud mengunjungimu tetapi selalu ada saja halangannya. Saya ingin supaya di antaramu pun pekerjaan saya ada hasilnya sebagaimana pekerjaan saya sudah berhasil di antara orang-orang yang bukan Yahudi di tempat-tempat yang lain.” Mengapa Allah tidak mengizinkan Paulus mengunjungi jemaat di Roma ? Bukankah seringkali kita suka sekali menuntut Allah untuk terus mengabulkan permintaan kita walaupun permintaan kita tidak sesuai dengan kehendak-Nya ? Atau mungkin juga kita berpikir bahwa bukankah kehendak Paulus itu baik yaitu mempedulikan kondisi kerohanian jemaatnya, lalu mengapa Allah tidak mengizinkannya ? Apakah ini bukti bahwa Allah itu jahat atau kejam ? TIDAK. Paulus sadar bahwa apa yang diinginkannya tidak sinkron dengan keinginan Allah, sehingga setiap kali ia berniat untuk mengunjungi jemaat di Roma, selalu terhalang/gagal. Apakah pernyataan Paulus berhenti sampai di sini, lalu ia mengeluh dan kecewa ? TIDAK. Paulus sadar bahwa kehendak-Nya lebih penting yaitu agar para jemaat di Roma berbuah. Inilah kehendak Paulus yang dikuduskan, yang melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah yang Berdaulat. Paulus tidak memaksa Allah mengabulkan kehendaknya, tetapi ia menyerahkan kehendaknya kepada kehendak Allah. Itu namanya kehendak bebas (free-will) yang sejati. Kehendak bebas bukan kehendak yang tanpa batas, seenaknya sendiri, tetapi kehendak manusia berdosa yang diserahkan total kepada kehendak-Nya yang bebas sehingga kehendak-Nya dapat terlaksana melalui diri kita dan orang lain demi kemuliaan-Nya. Ketidakhadiran Paulus di Roma di dalam sudut pandang Allah mengakibatkan mereka (para jemaat di Roma) semakin giat, bertekun di dalam doa, persekutuan dan pengajaran para rasul, sehingga pada akhirnya mereka dapat berbuah. Tidak semua kehendak dan kepedulian manusia yang dianggap baik pasti juga baik menurut kehendak Allah. Seandainya Paulus diizinkan oleh Allah mengunjungi jemaat di Roma untuk waktu yang lama, maka mungkin sekali jemaat di Roma bukan semakin berbuah, malahan bergantung terus kepada Paulus (alias manja). Di sini, kita harus peka akan pimpinan dan kehendak-Nya. Maukah kita meneladani Paulus dengan menyerahkan kehendak kita yang berdosa kembali dikuduskan oleh kehendak Allah sehingga nama-Nya semakin dipermuliakan ? Marilah kita belajar memiliki kehendak pribadi yang dikuduskan oleh kehendak Allah dengan membiarkan Allah bekerja sesuai dengan kehendak dan waktu-Nya di dalam diri kita dan sesama anak Tuhan lainnya demi memperlebar Kerajaan Allah. Ingatlah, jangan terbawa oleh perasaan sesat dan tergila-gila dengan fenomena, tetapi belajarlah melihat esensi di balik fenomena dari sudut pandang Allah dan membiarkan perasaan kita dikontrol oleh hati dan pikiran yang ditundukkan di bawah kehendak Allah yang kudus. Amin.
|

28th September 2007
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Roma 1:14-15 : HAMBA KRISTUS : Mengasihi Jiwa dan Memberitakan Injil (Denny Teguh S.)
Seri Eksposisi Surat Roma :
Hamba Kristus dan Fokus Injil-4
Hamba Kristus : Mengasihi Jiwa dan Memberitakan Injil
oleh : Denny Teguh Sutandio
Nats : Roma 1:14-15
Mengapa di ayat-ayat sebelumnya (sebelum ayat 14), Paulus berkeinginan mengunjungi jemaat di Roma ? Alasannya terdapat di dalam ayat 14-15, yaitu, “Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.” Inilah citra diri seorang hamba Tuhan sejati, memiliki hati mengasihi jiwa. Bukan hanya memiliki hati yang mengasihi jiwa, Paulus pun sampai-sampai menyebutkan bahwa dirinya berhutang kalau tidak segera memberitakan Injil. Kata “hutang” di sini di dalam terjemahan King James Version maupun International Standard Version (ISV) sama-sama menggunakan istilah debtor. Di dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari, kata “berhutang” diganti dengan kata “mempunyai kewajiban”. Hal ini identik dengan terjemahan English Standard Version (ESV) yang menerjemahkan, “under obligation” dan New International Version (NIV) menerjemahkannya, “I am obligated” (saya diharuskan/diwajibkan). Dari perbedaan istilah yang dipakai ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya Paulus merasa diri memiliki hutang yaitu suatu kewajiban yang harus diembannya sebagai hamba Kristus yaitu memberitakan Injil. Saya membagi dua tahap di dalam dua ayat ini.
Tahap pertama, Paulus berhutang. Sebelum memberitakan Injil, perasaan berhutang sudah dimiliki oleh Paulus. Ini berarti rasa mengasihi jiwa-jiwa yang berdosa sudah ada di dalam benak Paulus. Oleh karena itu, menjadi kerinduannya untuk mengunjungi jemaat Roma. Perasaan berhutang ini pun seharusnya menjadi perasaan kita di dalam mengasihi jiwa-jiwa yang tersesat, sama sekali bukan suatu keterpaksaan yang memberatkan. Mungkin di dunia ini, kalau kita mengerti konsep hutang berarti mau tidak mau kita harus membayar hutang kita (otomatis dengan terpaksa). Tetapi konsep hutang demikian tidaklah diajarkan oleh Alkitab, karena hutang ini bukan lahir dari keterpaksaan, tetapi dari kerelaan hati yang siap tunduk kepada Allah sebagai Tuhan dan Pemilik hidup anak-anak-Nya. Mengapa bisa muncul sikap kerelaan hati ini ? Karena sebagai anak-anak Tuhan, kita telah dimerdekakan dari kutuk dosa, iblis dan maut oleh penebusan Kristus. Paulus mengungkapkan hal ini di dalam Kolose 2:13,14, “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib:” Kata “surat hutang” memang tidak identik dengan yang dipaparkan di dalam Roma 1:14 tentang perasaan berhutang Paulus. Kata “surat hutang” ada yang diterjemahkan the record of debt (ESV), the charges (ISV), the handwriting of ordinances (KJV). Semuanya itu berarti Kristus telah mengampuni dosa kita dan menebus segala dosa dan pelanggaran yang membelenggu kita dengan memakukannya di kayu salib. Darah Kristus telah menghapus semua dosa kita, karena hanya darah Anak Domba Allah yang 100% suci yang mampu membersihkan kenajisan manusia yang berdosa. Sebagai umat tebusan Allah, sudah seharusnya hati yang berhutang atau mengasihi jiwa-jiwa harus kita miliki, karena itu bukti kita mencintai Allah. Seorang yang mencintai Allah tetapi tidak mencintai jiwa-jiwa yang berdosa, itu berarti mereka tidak pernah mencintai Allah. Mencintai jiwa-jiwa yang berdosa tidak sama dengan mencintai dosa-dosa mereka. Marilah kita belajar dari Tuhan Yesus yang mencintai manusia yang berdosa dan membenci dosa-dosa mereka. Dunia kita mengajarkan konsep mencintai dengan tidak ada aturan yang bertanggungjawab. Apa itu mencintai ? Mereka mendefinisikan bahwa mencintai itu setulus hati mencintai dan menerima apa adanya, bahkan kalau perlu menerima dosa-dosanya sekalian. Inikah cinta kasih Kristen ? Tidak. Cinta kasih memang harus tulus, tetapi tidak boleh dikompromikan. Ketika ada sesama kita yang berdosa, sebagai wujud cinta kasih, kita tidak boleh membiarkannya, tetapi menegurnya dengan kasih dan pengajaran, sehingga mereka boleh bertobat. Seorang yang mengatakan bahwa dirinya mengasihi tetapi membiarkan sesamanya hidup di dalam dosa, adalah seorang yang sebenarnya tidak pernah mengasihi, tetapi mengasihi apa yang dimiliki oleh sesamanya atau mengasihi kalau memerlukan sesuatu. Inilah kasih yang bersyarat. Kasih Kristen adalah seperti kasih Tuhan Yesus yang tidak bersyarat (unconditional love), kasih Agape yang tidak berarti mengkompromikan dosa, tetapi menghendaki manusia yang berdosa segera meninggalkan dosa-dosa mereka dan kembali kepada-Nya. Itulah wujud kasih Kristen yang sejati, sama seperti (beda secara kualitatif) seorang laki-laki yang mengasihi pasangannya (baik pacar maupun istrinya) adalah laki-laki tersebut akan menegur pasangannya jika ada yang kurang atau salah, misalnya mengumpat, dll, tujuannya agar pasangannya juga bisa hidup baik. Hal ini mengajarkan kepada kita untuk tidak egois. Sikap mengasihi jiwa adalah sikap yang tidak egois. Orang Kristen yang egois adalah orang Kristen yang hanya menginginkan dirinya saja yang selamat, lalu masa bodoh dengan orang lain yang belum selamat. Tetapi bukan itu yang Tuhan inginkan. Tuhan ingin kita menjadi saksi dan berkat bagi orang lain dengan mengasihi mereka. Mengasihi adalah tanda seseorang berani merelakan dirinya menjadi saluran berkat dan kasih bagi orang lain agar orang lain boleh diberkati.
Kepada siapakah Paulus berhutang ? Saya kembali membagi obyek hutang Paulus ke dalam dua kategori. Pertama, orang Yunani maupun bukan orang Yunani. Orang-orang bukan Yunani diterjemahkan sebagai orang-orang barbar di dalam Alkitab terjemahan Inggris. Secara ras dan suku, Paulus tidak pernah membeda-bedakan orang. Paulus mengasihi jiwa-jiwa mereka tanpa membedakan ras dan suku. Kita sebagai pengikut dan hamba Kristus juga harus memiliki semangat ini, yaitu semangat untuk mengasihi jiwa-jiwa yang tersesat tanpa memandang suku, ras dan agama mereka. Kalau kita mengerti mayoritas orang Yunani beragama Yunani dengan segala macam dewa-dewi dan pengaruh filsafat mereka baik dari Socrates, Plato, Aristoteles, dll. Demikian pula orang-orang yang non-Yunani atau pendatang juga memiliki agama dan kebudayaan mereka sendiri yang mungkin saja jauh dari pengenalan konsep yang benar tentang Allah yang benar. Paulus mengasihi mereka berdua, demikian pula kita harus mengasihi kedua golongan tersebut. Di Indonesia, mayoritas penduduknya beragama Islam. Sudah menjadi kewajiban kita dengan perasaan berhutang mengasihi jiwa-jiwa mereka yang tersesat tanpa memandang agama, suku dan ras mereka. Sekali lagi, ketika kita berbicara mengenai mengasihi jiwa-jiwa tanpa memandang agama, suku dan ras, itu TIDAK berarti kita mengkompromikan segala macam filsafat dan kebudayaan mereka lalu mengakui filsafat, agama dan kebudayaan mereka sebagai kebenaran yang setara dengan Alkitab. Ingatlah, mengasihi tidak berarti mengkompromikan segala sesuatu. Mengasihi tetaplah mengasihi. Mari kita belajar sedikit tentang mengasihi jiwa-jiwa (yang tanpa kompromi) konsep Paulus di dalam tugas apologetikanya di Atena di dalam Kisah Para Rasul 17:16-34. Di dalam pelayanan pemberitaan Injil, Paulus tidak pernah satu kali mengkompromikan Injil, tetapi mengkomunikasikan Injil dengan tepat dan bertanggungjawab. Di Atena, sebelum masuk ke dalam pemberitaan Injil, ia mengungkit sedikit mengenai kondisi keagamaan masyarakat Atena yang menyembah Allah yang tidak dikenalnya. Dari konsep unknown god, Paulus menceritakan dan mengajarkan tentang konsep Allah yang benar bukan dengan konsep penduduk Atena, tetapi dari konsep Injil Kristus (ayat 22-31). Kalau kita dengan teliti memperhatikan konsep apologia dan penginjilan Paulus ini, sebagai kata pengantar/pembukaan, ia tetap menghargai agama-agama mereka di tataran respon manusia terhadap wahyu umum Allah, lalu ia meneruskannya dengan berita Injil sebagai yang terutama di dalam penginjilan. Ini namanya mengasihi jiwa tanpa mengkompromikan Injil sedikitpun dengan orang-orang yang berbeda kepercayaan dengan kita. Tetapi rupa-rupanya para penganut social “gospel” tidak senang dengan hal ini, dan mengajarkan bahwa kita juga bisa “belajar” dari agama-agama lain, kalau perlu, Alkitab pun perlu ditambah dengan “kitab suci” agama lain. Mereka sudah mendegradasikan fungsi penginjilan dan esensi Injil sejati. Inilah wujud iblis yang menyamar sebagai malaikat terang, mereka sama sekali bukan hamba Kristus, tetapi jelas statusnya adalah hamba diri dan hamba setan. Setiap orang yang tidak memberitakan Kristus dan Injil-Nya, sama sekali bukan hamba Kristus, tetapi hamba diri dan hamba setan, apalagi yang suka memutarbalikkan dan menyelewengkan Injil Kristus dengan motivasi yang tidak beres. Kedua, terhadap orang-orang yang terpelajar dan tidak terpelajar. Kata “terpelajar” diterjemahkan wise atau bijaksana oleh Alkitab terjemahan Inggris dan kata “tidak terpelajar” diterjemahkan foolish atau bodoh/tolol oleh ESV dan ISV. Paulus tidak hanya memperhatikan masalah kebudayaan dan agama, tetapi juga memperhatikan rasio mereka. Paulus yang cerdas sangat memperhatikan konsep pikiran manusia berdosa. Ini terbukti dengan caranya berdialog dan memberitakan Injil di antara orang-orang Yahudi di Atena di dalam Kisah Para Rasul 17:16-34 tadi. Paulus juga mengasihi jiwa-jiwa baik yang berbijaksana atau mungkin yang benar-benar bodoh di mata masyarakat. Paulus menggunakan kata “berbijaksana” bukan kata “pintar”. Perbedaan kata ini bukan sekedar perbedaan kata, tetapi menyangkut perbedaan esensi. Seorang yang pintar bergelar Ph.D. sekalipun belum tentu bijaksana, karena orang yang berbijaksana adalah seorang yang terjun ke dalam masyarakat secara praktek, misalnya dalam mengambil keputusan. Seorang yang bijaksana adalah seorang yang belajar dari sejarah, hidup orang lain, dll, terutama di dalam keKristenan, orang itu belajar dari Sumber Bijaksana itu sendiri yaitu Allah dan firman-Nya. Orang pintar berbeda, mereka mungkin bisa bergelar Ph.D. sebanyak 9 buah, tetapi mungkin sekali secara praktek, mereka tidak memiliki pengalaman bijaksana, sehingga mereka akan kacau dalam mengerjakan apapun meskipun pintar secara akademis. Itulah kegagalan banyak institusi pendidikan yang terlalu mementingkan pengetahuan (knowledge) tanpa memperhatikan kemampuan/keahlian dan hal-hal yang bersangkut paut dengan kehidupan sehari-hari apalagi menyangkut Tuhan. Di dalam kota Roma yang penduduknya juga banyak orang-orang Yunani yang mementingkan rasio, Paulus menyebut mereka bijaksana dengan pengetahuan mereka, tetapi mereka kurang satu hal yaitu kembali kepada Sumber Bijaksana, yaitu Allah dan firman-Nya. Mereka inilah yang perlu dikasihi jiwanya, karena mereka terlalu memuaskan diri dengan berbagai macam bijaksana cara dunia yang berbeda total dengan bijaksana versi Allah. Semua hal yang di dunia ini fana sifatnya dan tidak akan menemukan makna sejati jika tidak kembali kepada Sumber segala sesuatu yaitu Allah sendiri. Oleh karena itu, keinginan Paulus dan seharusnya juga merupakan keinginan kita untuk mengasihi jiwa-jiwa yang merasa puas diri untuk kembali kepada Kristus.
Tahap kedua, Paulus ingin memberitakan Injil. Wujud kasihnya kepada jiwa-jiwa yang tersesat, ternyata direalisasikan oleh Paulus dengan keinginannya untuk memberitakan Injil. Mengasihi jiwa itu harus, tetapi jika terhenti pada tahap itu saja dan tidak ada pewujudnyataannya, itu sia-sia. Mengasihi jiwa harus diwujudnyatakan dengan keinginan kita untuk memberitakan Injil. Kembali, mari kita lihat apa yang Alkitab catat mengenai perasaan dan keinginan Paulus di dalam Kisah Para Rasul 17:16-34. Ayat 16 di dalam Kis. 17, dr. Lukas mencatat, “Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala.” Perasaan mengasihi jiwa-jiwa yang tersesat ada di dalam perasaan Paulus dengan perasaan kesedihan yang mendalam setelah melihat kota Atena yang penuh dengan patung-patung berhala. Tetapi apakah perasaan itu hanya berhenti sampai tahap mengasihi jiwa-jiwa saja ? Tidak. Paulus langsung berdiskusi dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Atena tentang Injil Kristus sambil memberitakan Injil. Inilah citra hamba Kristus sejati, yaitu hati yang mengasihi jiwa ditambah dengan pewujudnyataannya dengan memberitakan Injil. Pemberitaan Injil adalah wujud utama kita mengasihi jiwa, karena pemberitaan Injil sedang berbicara mengenai pemenuhan kebutuhan spiritual yang paling urgent di dalam diri manusia. Mereka perlu Juruselamat yang memberikan kedamaian. Tetapi tidak berhenti sampai di sini, mereka juga perlu diajar oleh Injil untuk hidup bergantung dan bersandar mutlak di dalam penguasaan-Nya dan pimpinan-Nya (men-Tuhan-kan Kristus). Penginjilan Paulus di kota Atena ini sungguh unik dan berbeda total dengan penginjilan yang banyak diperdagangkan oleh banyak “hamba Tuhan” dari gereja kontemporer yang pop. Bedanya terletak pada berita Injil yang langsung disertai dengan berita murka-Nya yang mengadili dunia. Berita Injil yang sehat bukan hanya memberitakan penebusan Kristus atas dosa-dosa manusia, tetapi juga memberitakan tentang hukuman Allah kepada mereka yang tidak menerima Kristus. Itulah kedua sisi berita Injil sebagaimana yang dipaparkan di dalam Yohanes 3:16-21. Kasih Allah menyelamatkan umat pilihan-Nya yang percaya kepada-Nya, dan menghukum manusia yang tidak percaya kepada-Nya. Itulah keadilan Allah yang jarang dibicarakan oleh banyak gereja hari-hari ini. Pemberitaan Injil inilah yang Paulus jalankan dan itulah yang harus kita teladani, karena pemberitaan Injil bukanlah barang dagangan yang bisa dijual menurut kebutuhan manusia yang mendesak (hukum supply and demand), tetapi pemberitaan Injil adalah suatu pemberitaan Kabar Sukacita tentang jalan keluar dari dosa dan hidup benar di hadapan Allah. Injil berlaku untuk selama-lamanya dari zaman Adam sampai di akhir zaman, karena Injil itu, “kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” (Roma 1:16) Karena di dalam Injil ada kuasa Allah yang menyelamatkan, oleh karena itu, jangan sekali-kali mempermainkan Injil dengan tidak bertanggungjawab. Dengan mempermainkan Injil dengan cara memutarbalikkan atau menambahi atau mengubah arti Injil itu berarti mempermainkan kuasa Allah dan otomatis nama Allah sendiri, itu namanya menghujat Allah. Pemberitaan Injil harus kembali berfokus hanya di dalam Kristus, bukan yang lain dan bagi kemuliaan-Nya saja.
Sudahkah hari ini Anda mulai disadarkan akan kebenaran firman untuk mengasihi jiwa-jiwa dan memberitakan Injil Kristus kepada mereka yang tersesat sebagai realisasinya ? Amin.
|

6th October 2007
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Roma 1:16-17: KEDAHSYATAN INJIL KRISTUS (Denny Teguh Sutandio) Part-1
Seri Eksposisi Surat Roma :
Hamba Kristus dan Fokus Injil-5
KEDAHSYATAN INJIL KRISTUS
oleh : Denny Teguh Sutandio
Nats : Roma 1:16-17
Setelah kita merenungkan dua ayat sebelumnya, yaitu di ayat 14-15, tentang dua kerinduan Paulus yaitu mengasihi jiwa dan memberitakan Injil, maka selanjutnya di ayat 16—17, Paulus mengajarkan, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman.” Di dalam kedua ayat ini, Paulus menjelaskan alasan mengapa di ayat 15, ia berkeinginan untuk memberitakan Injil kepada jemaat di Roma, yaitu karena Injil adalah kekuatan Allah. Di dalam ayat 16, Paulus dengan berani memproklamasikan bahwa dirinya tidak malu akan Injil (KJV : “For I am not ashamed of the gospel of Christ”). Terjemahan King James Version ini lebih sesuai dengan naskah aslinya di mana kata ashamed dalam naskah Yunaninya, epaischunomai yang berarti to feel shamed for something. Sungguh menarik sekali akan apa yang Paulus nyatakan, mengingat dulunya Paulus adalah seorang yang membenci Kristus dan para pengikut-Nya. Tetapi setelah dirinya diperbaharui oleh-Nya, ia tidak lagi malu akan Injil bahkan rela mati demi Injil. Inilah jiwa seorang hamba Kristus. Di dalam zaman postmodern ini, banyak sekali orang “Kristen” yang menamakan diri pengikut “Kristus” tetapi herannya tidak suka membicarakan dan memberitakan tentang Injil, salah satunya adalah karena malu. KeKristenan menurut mereka hanya salah satu agama di antara banyak agama, sehingga tidak keunikan dan finalitasnya. Tidak heran, mengapa di abad postmodern yang “memutlakkan” kerelatifan, jiwa membawa dan memberitakan Injil menjadi berkurang di kalangan banyak orang “Kristen” apalagi mereka yang mengklaim diri dengan bangganya sedang “melayani tuhan” ?! Benarkah seorang yang aktif di dalam gereja dan terlibat di dalam “pelayanan” tidak lagi mau memberitakan Injil ? Tentu tidak benar. Mereka boleh saja mengklaim diri sedang “melayani tuhan”, tetapi sebenarnya yang mereka layani adalah diri mereka sendiri, sama sekali bukan Tuhan, mengapa ? Karena seorang yang melayani Tuhan menempatkan diri di bawah Tuhan, menjadi hamba/budak-Nya yang siap diperintah oleh Sang Tuan, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Kita harus dan perlu belajar semangat menjadi hamba dari teladan Paulus yang menghambakan diri secara total kepada Kristus dan men-Tuhan-kan Kristus, sehingga ia tidak malu sedikitpun akan Injil. Paulus tahu di mana titik keunikan dan finalitas Injil, sehingga ia tidak malu akan finalitas Injil yang ia beritakan. Berbeda total dengan banyak orang “Kristen” yang hari-hari tidak berbeda dengan orang-orang dunia yang merelatifkan segala sesuatu termasuk merelatifkan Kebenaran di dalam Kristus dan Alkitab.
Titik finalitas Injil yang dipercaya oleh Paulus, dipaparkannya di dalam pernyataan, “karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” Injil bukan membuat orang sakit menjadi sembuh, atau membuat orang miskin menjadi kaya, atau bahkan membantu orang-orang miskin, itu sama sekali bukan Injil, tetapi “injil” murahan/palsu yang Paulus kutuk habis di dalam Galatia 1:6-10. Injil Kristus sejati yang Paulus tekankan tetap berintikan kepada Kristus, karya pengorbanan-Nya di kayu salib dan pengampunan serta penebusan dosa. Injil tidak boleh dipisahkan dengan penebusan dan karya Kristus. Di dalam pernyataan ini, Paulus mengartkan Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Mari kita merenungkan dua prinsip penting di dalam pernyataan ini. Pertama, Injil adalah kekuatan Allah. Kata “Injil” dalam bahasa Yunani euaggelion yang berarti good message atau kabar sukacita/baik dan kata “kekuatan” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, power dan dalam bahasa Yunani, dunamis yang dapat diterjemahkan mighty, miracle, power, ability, dll. Ini berarti Injil yang berarti kabar sukacita itu adalah kekuatan/kuasa Allah sendiri. Mengapa disebut kuasa Allah ? Karena di dalam Injil, Allah menyatakan kedaulatan-Nya yang melampaui logika yaitu mengutus Kristus yang bernatur 100% Allah dan 100% manusia (bandingkan Roma 1:3-4). Logika ini benar-benar tidak masuk akal di mata dunia, karena apa yang Allah anggap baik selalu dianggap tidak baik oleh manusia, itu namanya supralogika (atau melampaui logika manusia). Selain penciptaan, Allah memakai sarana Injil sebagai kuasa-Nya, sehingga tidak ada hal yang perlu ditambahkan untuk melengkapi apa yang telah Allah sediakan. Dengan kata lain, Injil saja sudah cukup tidak perlu ditambahi oleh buku-buku atau kitab-kitab “suci” manapun untuk menyatakan keseluruhan Pribadi Allah. Itulah finalitas Injil yang berkuasa. Tetapi Injil yang berkuasa tidak berhenti sampai di sini, maka dari itu Paulus melanjutkan pernyataan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (poin kedua). Maksud Injil diberikan bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menyelamatkan. Injil itu diberikan oleh Allah melalui anugerah-Nya untuk membawa manusia pilihan-Nya yang sudah berdosa kembali direkatkan hubungannya dengan Allah yang Mahakudus. Matthew Henry di dalam tafsirannya Matthew Henry’s Concise Commentary menyatakan, “In these verses the apostle opens the design of the whole epistle, in which he brings forward a charge of sinfulness against all flesh; declares the only method of deliverance from condemnation, by faith in the mercy of God, through Jesus Christ; and then builds upon it purity of heart, grateful obedience, and earnest desires to improve in all those Christian graces and tempers, which nothing but a lively faith in Christ can bring forth.” Matthew Henry mengajarkan dan mengingatkan kita bahwa satu-satunya jalan kita dibebaskan dari belenggu kutuk dosa adalah melalui iman di dalam anugerah Allah, melalui Yesus Kristus. Itulah Injil Kristus sejati membawa manusia pilihan-Nya yang sudah jatuh ke dalam dosa untuk direkatkan kembali hubungannya dengan Allah yang Mahakudus. Kristus itu satu-satunya jalan. Sekali lagi, fokus Injil sejati adalah Kristus, sedangkan “injil-injil” palsu berfokus kepada manusia dan tentunya ide di baliknya adalah setan sebagai bapa pendusta. Setiap Injil yang tidak berfokus kepada Kristus, pasti 100% bukan Injil tetapi “injil” palsu dan setiap pengajar “injil” palsu selalu mencari keuntungan dan kemuliaan bagi diri sendiri (Galatia 1:10). Renungkanlah hal ini. Injil sejati membawa manusia mengenal Allah yang sejati di dalam Kristus melalui karya Roh Kudus. Injil sejati memerdekakan manusia dari dosa, sebagaimana Tuhan Yesus berfirman, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:31-32) Kembali, oleh Paulus, di dalam 2 Timotius 1:10, ia menyatakan bahwa kuasa Injil, “telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.” Inilah kekekalan sifat Injil Kristus. Injil bukan saja mematahkan kuasa maut tetapi mendatangkan hidup yang kekal, sebagaimana Kristus sendiri berfirman di dalam Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Injil Kristus menjamin setiap manusia pilihan-Nya yang percaya di dalam-Nya tidak binasa selama-lamanya. Inilah jaminan keselamatan anak-anak Tuhan yang kekal dan tidak dapat hilang. Itulah sebabnya di dalam theologia Reformed, Calvin mengajarkan bahwa keselamatan di dalam Kristus tidak dapat hilang. Karena theologia Reformed sangat mempercayai providensia Allah melalui janji-Nya yang memelihara setiap orang pilihan-Nya yang percaya di dalam-Nya. Mengapa Injil juga bisa mendatangkan hidup yang kekal ? Karena Injil adalah kekuatan Allah. Kalau Injil itu kekuatan Allah, maka otomatis Allah yang Kekal juga menjamin setiap anak-anak-Nya pasti memperoleh hidup kekal bersama-Nya karena mempercayai Injil tersebut.
Kemudian, pada pernyataan selanjutnya di ayat 16, Paulus menjelaskan siapa yang diselamatkan oleh Injil, yaitu mereka yang percaya baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Lalu, mungkin di dalam benak kita muncul pertanyaan, mengapa hanya dua macam golongan orang yang muncul di dalam pernyataan ini ? Kembali, kita harus melihat konteks di kota Roma yang terdiri dari mayoritas kedua orang dari bangsa ini. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) mengganti kata “juga orang Yunani” dengan kata, “dan bangsa lain juga.” Perhatikan urutannya. Paulus mengungkapkan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan pertama-tama : orang Yahudi baru kedua : orang-orang dari bangsa lain. Mengapa harus orang-orang Yahudi dahulu ? Karena keselamatan memang diperuntukkan terlebih dahulu bagi orang-orang Yahudi yang telah menerima Taurat. Taurat adalah penyataan diri Allah yang menjadi teladan dan pemimpin moral, etika, dll bagi umat Israel, tetapi melalui Taurat, mereka bukannya tidak sadar akan keberdosaan dan kelemahan mereka, malahan membanggakan diri sebagai ahli Taurat yang sudah menghafal Taurat, tetapi tidak menjalankannya. Oleh karena itu, di dalam Matius 23, dengan sengit Tuhan Yesus melawan dan menegur kemunafikan banyak ahli Taurat dan orang Farisi yang mengaku menghafal Taurat, tetapi perbuatannya tidak sesuai dengan Taurat. Di dalam rencana Allah, Ia tahu bahwa meskipun Taurat diberikan sebagai penuntun moral dan etika bangsa Israel, tidak ada satu orangpun yang sanggup menjalankannya, oleh karena itu, Bapa mengutus Kristus sebagai satu-satunya wakil untuk menggenapkan seluruh hukum Taurat supaya kebenaran Kristus dapat dilimpahkan kepada kita sehingga kita pun dapat dibenarkan melalui iman di dalam karya Kristus. Paulus sangat mengasihi orang Yahudi karena dulunya ia adalah penganut Yudaisme yang kolot. Inilah hutang Injil yang ia ungkapkan di dalam Roma 1:14. Ia sangat berhutang Injil khususnya kepada orang-orang Yahudi yang belum mendengar tentang Injil, padahal Injil itu yang dinubuatkan dan ditunjukkan oleh Taurat dan kitab-kitab Perjanjian Lama. Kedua, Paulus juga berkata bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan orang-orang Yunani atau bangsa lain juga. Ini berarti wilayah kuasa Allah di dalam Injil tidak terbatas hanya bagi orang-orang Yahudi saja, tetapi juga orang-orang dari bangsa lain yang percaya. Mungkin sekali lagi kita bertanya, “Apakah orang itu harus percaya terlebih dahulu akan Injil, baru Injil itu menyelamatkan dirinya ?” Tentu, pertanyaan ini timbul dari ajaran Arminianisme yang menitikberatkan pada kehendak bebas manusia. Pertanyaan ini tidak patut untuk dipertanyakan, karena jelas, jawabannya tidak. Urutan di dalam ayat ini sangat jelas, Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Bukan karena percaya dahulu, baru Injil menyelamatkan, tetapi Injil dahulu yang berkuasa menyelamatkan umat pilihan-Nya setelah Roh Kudus melahirbarukan mereka, baru mereka dapat meresponi berita Injil dengan bertobat dan percaya di dalam-Nya. Lalu, siapakah “orang yang percaya” di dalam ayat ini ? Apakah orang yang percaya adalah orang-orang yang tiba-tiba percaya di dalam-Nya atas kesadaran sendiri ? Tidak. “Orang yang percaya” dalam ayat ini sama dengan pernyataan “orang yang percaya kepada-Nya” di dalam Yohanes 3:16 di mana kata “percaya” sama-sama menggunakan bahasa Yunani pisteuō yang berarti mempercayakan diri ke dalam. Orang yang percaya jika dikaitkan dengan Yohanes 3 secara keseluruhan maka orang yang percaya pasti berarti orang-orang yang diperanakkan dari Allah atau orang-orang yang telah dipilih oleh Allah sebelumnya. Orang percaya tidak bisa dilepaskan dari umat pilihan-Nya, karena tidak mungkin orang dapat beriman di dalam Kristus tanpa Allah sendiri yang pertama kali berinisiatif mengerjakan seluruh proses keselamatan, dengan mengefektifkan karya penebusan Kristus di dalam hati umat pilihan-Nya melalui tindakan aktif Roh Kudus. Sehingga kuasa Injil hanya berlaku efektif bagi umat-umat pilihan-Nya yang pasti beriman di dalam-Nya.
Kedua, apakah kuasa Injil hanya berhenti pada kuasa untuk menyelamatkan saja ? Tidak. Pada ayat 17, Paulus mengungkapkan, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."”Kuasa Injil tidak berhenti hanya untuk menyelamatkan tetapi memimpin iman. Paulus mengungkapkan bahwa di dalam Injil dan Injil itu sendiri adalah kebenaran Allah. Kata “kebenaran” diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dikaiosunē yang berarti pembenaran/justification. Apakah kebenaran atau pembenaran Allah itu ? Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) di dalam ayat 17 ini mengartikan, “Sebab dengan Kabar Baik itu Allah menunjukkan bagaimana caranya hubungan manusia dengan Allah menjadi baik kembali; caranya ialah dengan percaya kepada Allah, dari mula sampai akhir. Itu sama seperti yang tertulis dalam Alkitab, "Orang yang percaya kepada Allah sehingga hubungannya dengan Allah menjadi baik kembali, orang itu akan hidup!"”Pembenaran Allah yang dimaksud adalah bagaimana cara Allah merekatkan hubungan manusia dengan-Nya melalui Kristus yang di dalamnya kita harus percayai dan taati secara mutlak dari awal sampai akhir. Itulah yang Injil kerjakan yaitu membenarkan manusia berdosa melalui karya Allah Anak dan juga memimpin iman. Di sini, Paulus mengaitkan konsep kebenaran/pembenaran Allah dengan konsep iman. Iman sejati tidak bisa dilepaskan dari kebenaran/pembenaran Allah. Dengan kata lain, iman harus terus-menerus berpaut kepada dan berada di dalam kebenaran Allah (Kristus) sebagai Obyek sekaligus Subyek Iman. Saya memberikan dua istilah bagi Tuhan yaitu sebagai Subyek dan Obyek Iman. Hal ini sesuai dengan pemaparan Paulus di dalam ayat 17 ini, di mana kebenaran Allah memimpin iman yang mula-mula kepada iman pada akhirnya. Di sini ada perjalanan iman. Pdt. Dr. Stephen Tong memberikan empat macam iman, yaitu pertama, iman natural (benih iman yang telah Allah tanamkan di dalam diri setiap orang tanpa kecuali), kedua, iman di dalam Kristus Yesus (iman eksklusif bagi umat pilihan-Nya), ketiga, karunia iman di dalam pelayanan, dan keempat, iman yang bergantung kepada Tuhan. Nah, di dalam ayat 17 ini, iman yang dimaksudkan tentu iman macam kedua. Allah adalah Pemberi atau Sumber/Subyek Iman yang memberikan iman sejati di dalam Kristus kepada umat pilihan-Nya. Ini berarti iman adalah anugerah Allah, sesuai jawaban dari pertanyaan Katekismus Singkat Westminster pasal 86 tentang “Apakah yang dimaksud dengan iman di dalam Yesus Kristus ?” yang mengatakan, “Iman di dalam Yesus Kristus adalah suatu anugerah yang menyelamatkan, yang dengannya kita menerima dan bersandar hanya kepada-Nya untuk keselamatan, sebagaimana yang Dia tawarkan kepada kita di dalam Injil.” Iman bukan hasil usaha kita sendiri, tetapi anugerah Allah. Starr Meade di dalam bukunya “Membentuk Hati, Mendidik Akal Budi” mengajarkan, “Allah menghendaki kita untuk beriman kepada Tuhan Yesus Kristus agar terhindar dari kutuk yang layak diterima dosa kita. Apa yang telah Yesus lakukan untuk menggantikan kita itulah yang menyelamatkan kita. Iman adalah cara kita untuk menggapai dan menerima bagi diri kita sendiri apa yang telah dilakukan-Nya. Iman di dalam Kristus bukanlah sesuatu yang kita kerjakan sendiri. Seandainya demikian, pasti kita dapat berkata bahwa kita selamat oleh karena sesuatu yang kita lakukan. Iman di dalam Kristus adalah karunia dari Allah... Allah menuntut iman dari kita, kemudian Dia sendirilah yang mengaruniakan iman itu supaya kita dapat terlepas dari kutuk-Nya.” (Meade, 2004, halaman 383) Iman ini mengakibatkan anak-anak-Nya tidak terlebih dahulu berusaha keras untuk menggapai iman dan perkenanan Allah, tetapi menyerahkan keseluruhan hidup mereka kepada Tuhan yang menganugerahkan iman. Dengan kata lain, di dalam tahap iman awal/mula-mula ini, Allah bertindak aktif 100% menganugerahkan iman dan manusia pilihan-Nya bertindak pasif 100% hanya sebagai penerima anugerah iman dari Allah. Mengapa manusia pilihan-Nya harus bertindak pasif 100% ? Karena mereka tidak pernah sanggup dapat melepaskan diri dari dosa apalagi dapat memilih iman yang benar di dalam Kristus. Kerusakan total manusia mengakibatkan manusia tidak dapat memiliki keinginan dan motivasi yang beres dan memuliakan Allah. Hati, pikiran, keinginan, emosi, perkataan, sikap dan seluruh keberadaan mereka rusak total akibat dosa seperti noda teh atau minuman soda yang mengenai baju yang kita pakai. Kalau kita mau membersihkan noda kotor di baju kita, apakah baju itu dapat membersihkan dirinya sendiri ? TIDAK. Hanya sesuatu atau Pribadi di luar baju itu yang dapat melakukannya, itulah manusia yang menggunakan deterjen pemutih untuk menghilangkan noda tersebut. Demikian pula, noda itu adalah dosa dan baju itu adalah diri kita. Apakah mungkin jika baju itu dapat membersihkan noda yang menempel padanya ? Tidak. Demikian juga, manusia yang berdosa tidak mungkin dapat lepas dari masalah dosanya. Satu-satunya jalan keluar adalah membiarkan Allah menganugerahkan iman kepada kita di dalam Kristus yang telah menebus dan menyelamatkan kita dari dosa. Inilah yang saya sebut sebagai tindakan manusia pilihan-Nya yang pasif (tindakan manusia hanya pa | |