KELAHIRAN YESUS
Satu hal yang paling mengesankan tentang kelahiran Yesus ialah kesederhanaan-Nya:
Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (Lukas 2:6).
Kelahiran Yesus memang diberitakan oleh malaikat Allah, yaitu Gabriel, tetapi ketika Ia lahir, Ia tidak dilahirkan di dalam sebuah istana dengan segala kemegahan, kemewahan, dan pesta-pora, melainkan “dibaringkan di dalam palungan.”
“Palungan” adalah bak tempat makanan dan minuman untuk ternak (kuda, dsb).
Betapa sederhana! Dia adalah Anak Allah, tetapi Ia dilahirkan dalam keadaan yang demikian sederhana, menurut ukuran dunia. Tanpa hiasan apapun, tanpa lilin atau lampu yang gemerlapan. Sungguh, Tuhan kita adalah Tuhan yang menyatakan diri-Nya dalam wujud yang sangat sederhana.
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:5-8).
Yesus telah meninggalkan teladan hidup sederhana kepada kita, maka “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Yesus Kristus.”
Demikian sederhana hidup-Nya sampai Ia tak mempunyai tempat tinggal yang tetap, yang dapat dikatakan milik-Nya.
Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Matius 8:20).
Selain sederhana Yesus juga rendah hati. Ia tidak suka menonjolan diri-Nya. Ia berkata:
Jikalau Aku memuliakan diri-ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapakulah yang memuliakan Aku (Yohanes 8:54).
Maka tidaklah mengherankan jika Yesus tak pernah memerintahkan murid-murid-Nya untuk memperingati hari ulang tahun-Nya. Itulah sebabnya mengapa para rasul seperti Petrus, Yohanes, Yakobus, Paulus, dan sebagainya, tidak pernah merayakan hari ulang tahun-Nya juga.
Kita tak dapat menemukan tanggal kelahiran Yesus dari kitab Kejadian sampai dengan kitab Wahyu. Jadi, kitapun tak dapat merayakan hari ulang tahun-Nya.
Yesus tak ingin kita memperingati hari ulang tahun-Nya. Jika Ia menginginkan hal itu, tentulah Ia meberikan tanggal lahir-Nya dan perintah yang jelas, seperti mengenai kematian-Nya:
Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku (1 Korintus 11:23).
Mengapa Yesus ingin kita selalu ingat akan kematian-Nya? Sebab, jika Ia tidak mati dan bangkit kembali dari antara orang mati, kita takkan memperoleh hidup baru (lahir kembali).
Terpujilah Allah dan Bapa kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu (1 Petrus 1:3-4).
Kita lahir kembali, bukan karena Yesus lahir di dalam hati kita, melainkan karena Ia telah mati dan bangkit dari antara orang mati.
Kita bersukacita, karena Yesus telah lahir di dunia. Tetapi, kita lebih bersulacita, karena Yesus telah mati dan bangkit kembali dari antara orang mati bagi kita. Oleh kebangkitan-Nya, kita lahir kembali.
Setelah kita lahir kembali, kita menjadi anak Allah. Bagaimanakah seharusnya kita hidup sebagai anak-anak Allah?
Hendaklah kita meneladani kesederhanaan dan kerendahan hati-Nya.
Jika Yesus sendiri tak pernah memerintahkan kita untuk setiap tahun memperingati hari ulang tahun-Nya, yang tak jelas kapan, mengapakah kita merayakannya, dan menganggap sesat orang lain yang tak merayakannya?
Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus (Galatia 1:10).
DAMAI SEJAHTERA DI BUMI
Ketika Yesus lahir, bala tentara sorga memuji Allah:
Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (Lukas 2:14).
Yesus telah lahir sekitar 2000 tahun yang lalu. Tetapi, sampai saat ini belum juga ada damai sejahtera di bumi. Peperangan dari abad ke abad terus-menerus timbul, silih berganti. Kini di sana-sini ada peperangan dengan segala macam persenjataan yang lebih canggih dan lebih hebat.
Kapankah ada damai sejahtera di bumi?
Mungkin kita kecewa, karena apa yang difirmankan itu belum menjadi kenyataan. Tetapi, apabila kita membaca ayat tersebut dengan lebih teliti, kita akan mengetahui, bahwa janji Allah itu bukan berlaku secara umum, melainkan khusus “di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”
Memang di bumi ini akan selalu ada peperangan, bahkan makin lama makin hebat. Peperangan baru akan berhenti setelah Kristus datang kembali untuk memerintah sebagai Raja Damai dalam kerajaan 1000 tahun.
Sementara ini, damai sejahtera itu hanya dapat dialami oleh “manusia yang berkenan kepada-Nya.”
Bagaimanakah manusia dapat berkenan kepada Allah?
Tetapi tanpa iman tidak mungkin berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6).
Orang yang berkenan kepada Allah ialah orang yang sungguh-sungguh percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Ia akan memenuhi apa yang dijanjikan-Nya.
Sekarang, banyak orang yang mengatakan bahwa mereka percaya kepada Tuhan, tetapi di dalam hatinya, mereka tidak percaya bahwa Allah ada. Hal ini nampak dalam hidupnya sehari-hari. Mereka merencanakan segala sesuatu menurut pengertiannya sendiri, tanpa lebih dahulu berdoa dan mencari hehendak-Nya.
Sebaliknya, mereka mengatai-ngatai orang yang dengan tekun membaca Alkitab dan melakukan kehendak-Nya, dan yang bersandar kepada Tuhan dalam segala hal, sebagai orang yang ekstrim, fanatik!
Mustahil orang-orang semacam itu dapat mengalami damai sejahtera, sebab mereka hidup tanpa iman, dan tanpa iman takkan berkenan kepada Allah.
Secara lahiriah, mereka adalah orang-orang beragama. Mereka giat dalam segala pelayanan gerejani.
Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya (2 Timotius 3:5).
Mereka seperti orang Farisi dan para ahli Taurat pada zaman Tuhan Yesus hidup di bumi, amat mengutamakan tradisi (adat istiadat).
Orang yang makan tanpa membasuh tangannya menurut tradisi, yaitu dari ujung jari sampai siku, makanan yang disentuhnya dianggap najis. Jadi, walaupun kedua tangannya telah bersih, dianggap belum bersih, karena belum memenuhi syarat.
Yesus menyebut orang-orang seperti itu “munafik”!
Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia (Matius 15:8-9).
Firman Tuhan (Alkitab) tidak mencatat tanggal Yesus dilahirkan di dunia. Yesus tidak pernah memerintahkan murid-murid-Nya untuk memperingati hari ulang tahun-Nya. Para rasul juga tak pernah merayakannya setelah kebangkitan Yesus. Tetapi, tradisi menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari ulang tahun Yesus.
Jelas, bahwa perayaan hari Natal adalah ajaran dan perintah manusia.
Tetapi, apa kata “orang Farisi dan ahli Taurat” modern jika kita tidak merayakan hari Natal?
Sesat!
Mereka marah, karena tiada damai sejahtera di dalam hatinya.
Mengapa tiada damai sejahtera di dalam hatinya? Karena mereka bukan “di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”
Sebaliknya, damai sejahtera memenuhi hati orang-orang yang berkenan kepada Allah, walaupun dicela, difitnah, ditentang, dikucilkan, dirampas haknya.
Corrie ten Boom, seorang wanita Belanda, ditawan di dalam kamp konsentrasi Nazi, karena usahanya bersama keluarganya untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi dari cengkraman kaum Nazi.
Di dalam kamp konsentrasi, keadaan jasmaninya makin lama makin lemah, tetapi damai sejahtera makin lama makin penuh di dalam hatinya. Karena ia “di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”
NATAL MILIK SIAPA
Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibingkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (Lukas 2:6).
Yesus “dibaringkan di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”
Yesus, Anak Allah, lahir di dunia untuk menebus umat manusia. Tetapi manusia tidak mau menerimanya. Tidak ada tempat bagi-Nya, baik di dalam rumahnya maupun di dalam hatinya.
Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya (Yohanes 1:11).
Mengapa orang-orang Yahudi tidak dapat menerima Yesus sebagai Mesias yang mereka nanti-nantikan? Sebab Yesus terlalu sederhana dan rendah hati.
Mereka ingin seorang raja yang berkuasa dalam segala kemegahannya. Yesus tidak memenuhi citra mereka. Maka mereka menolak Yesus, bahkan dibunuhnya.
Sampai kini dunia masih tetap menolak-Nya, sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.
Mungkin anda tidak setuju. Sebab, bukankah hari Natal dirayakan di seluruh dunia?
Bila kita jujur, kita harus mengakui bahwa kebanyakan orang merayakan Natal bukan karena memperingati kelahiran Yesus, melainkan menikmatinya sebagai hari libur.
Cara mereka merayakan Natal juga tidak menunjukkan bahwa mereka telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka.
“Orang Jepang terkenal hemat, tetapi menjelang Natal mereka tiba-tiba boros sekali. Apalagi Natal yang lalu. Apa-apa dibeli, untuk diri sendiri maupun untuk dihadiahkan kepada orang lain ...” (INTISARI, Desember 1988).
Apakah orang Jepang telah menerima Yesus Kristus? Jelas, tidak!
Kini, menjelang Natal, di mana-mana kita dapat melihat pajangan dan hiasan Natal. Di toko-toko, hotel-hotel, bahkan nightclub juga terdapat pohon terang. Semua ini tidak menunjukkan bahwa dunia telah menerima Kristus, tetapi justru sebaliknya.
Dunia merayakan Natal, sebab Natal adalah miliknya sendiri.
Kasihan orang-orang Kristen yang masih mengira bahwa Natal milik Kristus!
Jika Natal milik Kristus dan diperintahkan-Nya untuk dirayakan, pasti Ia memberikan tanggal lahir-Nya.
Jika Natal milik Kristus dan diperintahkan-Nya untuk dirayakan, tentu murid-murid-Nya telah merayakannya ketika Yesus masih hidup di dunia.
Jika Natal milik Kristus dan diperintahkan-Nya untuk dirayakan, tak mungkin para rasul melupakannya.
Jika Natal milik Kristus, bukan dari dunia, pasti dunia menolak dan membenci perayaan Natal.
Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu (Yohanes 15:19).
Selain itu, kita dapat melihat pada pada perayaan Natal ciri-ciri dari dunia: pesta pora, tukar menukar hadiah, jor-joran, pemborosan, korupsi, dsb.
Mana mungkin kita menghayati makna kelahiran Yesus dalam suasana demikian?
Rasa syukur justru timbul di dalam hati kita, ketika dalam ketenangan merenungkan hakekat kelahiran Yesus, tanpa pohon terang dan lampu-lampunya yang bergemerlapan.
Natal adalah milik dunia. Tanggal 25 Desember adalah hari ulang tahunnya dewa matahari, yang dirayakan oleh orang-orang Romawi kuno sebagai “Feast of Saturn.”
Pada tahun 354, Uskup Liberius dari Roma memerintahkan umat Kristen untuk memperingati tanggal 25 Desember sebagai hari lahir Yesus. Jadi, tanggal tersebut diambil alih dari adat istiadat penyembahan berhala agama kafir.
Betapa kita menghina Kristus dengan merayakan Natal, yang merupakan hari ulang tahun dewa matahari. Apalagi, dengan pesta pora, yang sama sekali tidak memancarkan kesederhanaan dan kerendahan hati Kristus.
Bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dengan Belial? (2 Korintus 6:14-15).
Firman Tuhan memberikan peringatan yang tegas kepada orang-orang yang melakukan suatu kegiatan yang bukan dari Allah:
Celakalah anak-anak pemberontak, demikianlah firman Tuhan, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan dari pada-Ku, yang memasuki suatu persekutuan, yang bukan oleh dorongan RohKu, sehingga dosa mereka bertambah-tambah (Yesaya 30:1).
Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu! (Ibrani 4:7).
JANGAN TAKUT
Kelahiran Yesus membawa sukacita. Kata malaikat kepada para gembala di padang yang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam:
Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud (Lukas 2:10).
Para malaikat, Maria dan Yusuf, para gembala, orang-orang Majus, Elisabet, Simeon, semuanya bersukacita dengan kelahiran Yesus. Demikian juga kita, hendaklah kita bersukacita bahwa Yesus telah lahir di dunia ini sekitar 2000 tahun yang lalu.
Apabila kita merenungkan kelahiran Yesus, kita bersyukur akan kasih karunia Allah terhadap kita.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ie telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).
Jika Yesus tidak lahir di dunia, tentu kita tidak mempunyai Juruselamat yang menebus dosa kita.
Haleluyah!
Ketika Yesus telah dewasa, pada suatu hari Ia membuka kitab Yesaya di rumah ibadat. Ia membaca nubuat tentang diri-Nya:
Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Lukas 4:18-19).
Ada alasan bagi kita untuk bersukacita, karena Ia datang untuk membebaskan kita dari tawanan Iblis dan dari kerajaan kegelapan.
Kelahiran Yesus membawa sukacita kepada kita. Tetapi Ia tak pernah memerintahkan murid-murid-Nya untuk memperingati hari ulang tahun-Nya, apalagi untuk merayakannya. Sebab perayaan hari ulang tahun adalah kebiasaan orang-orang kafir, yang dilakukan oleh Firaun dan Herodes.
Perayaan hari ulang tahun sifatnya menonjolkan diri sendiri. Hal itu berlawanan dengan sifat Yesus yang rendah hati.
Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. BapaKulah yang memuliakan Aku (Yohanes 8:54).
Tradisi perayaan Natal bukan berasal dari Alkitab. Jadi kita tak perlu merayakannya.
Tetapi karena tradisi itu telah demikian mendarah-daging di kalangan Kristen, sehingga banyak orang beranggapan jika tidak merayakan Natal bukan Kristen. Malah ada yang menganggapnya sesat.
Beberapa sekolah meminta sumbangan untuk perayaan Natal. Ketika ada muridnya yang menolak untuk memberikan sumbangan, karena tidak mau ikut merayakan Natal, maka permintaan sumbangan itu berubahlah menjadi paksaan: Jika tidak memberi sumbangan dan ikut perayaan Natal, tidak boleh mengikuti ulangan.
Akibatnya, bagi murid tersebut perayaan Natal justru menjadi ancaman yang menakutkan.
Tetapi, bagi orang-orang yang berpegang teguh kepada firman Tuhan, tidak perlu takut. Sebab firman Tuhan:
Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut (Wahyu 1:17-18).
Haleluyah!
Betapa mudah orang mengecap orang lain sesat, hanyalah karena tidak merayakan Natal, yang sebenarnya tidak ada di dalam Alkitab.
Pada waktu Paulus dan Silas memberitakan Injil, di mana-mana mereka menghadapi perlawanan dari orang-orang Yahudi, tetapi tidaklah demikian halnya di Berea.
Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian. Banyak di antara mereka itu yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka dan laki-laki Yunani (Kisah 17:11-12).
Jika guru-guru sekolah dan orang-orang Kristen yang merayakan Natal itu mau bersikap seperti orang-orang Yahusi di kota Berea itu, dengan rendah hati menyelidiki Alkitab untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian, tentulah mereka tidak akan semudah itu menuduh orang sesat.
Orang yang sesat, bukan karena tidak merayakan Natal, melainkan karena tidak mengetahui isi alkitab. Kata Yesus:
Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah (Matius 22:29).
API ASING
Tidak sedikit orang Kristen dan hamba Tuhan yang dengan jujur mengakui bahwa Natal memang tidak terdapat di dalam Alkitab. Mereka juga mengakui bahwa tradisi perayaan Natal diambil-alih dari agama kafir.
Dr. Merrill F. Unger, misalnya, menyatakan dalam Unger’s Bible Dictionary: “Beberapa unsur yang bukan Kristen telah menyelinap masuk ke dalam perayaan Natal.”
Namun demikian, mereka berpendapat bahwa perayaan Natal bermanfaat untuk dipertahankan, sebab menurut mereka perayaan Natal dapat dipakai sebagai sarana penginjilan.
Secara manusiawi,pendapat ini bagus sekali. Tetapi, bagaimanakah pendapat Tuhan?
“Ah, tak usah berpikir terlalu jauh; kita lakukan yang praktis saja!” Demikian kilah banyak orang, jika diajak untuk meninjau pendapatnya lebih mendalam.
Ini aneh. Kita menginjili orang demi nama siapa? Jika demi nama Tuhan,mengapa kita tak mau minta pendapat-Nya?
Kita menginjili orang supaya orang itu mengenal Tuhan Yesus dan bertobat, lalu lahir baru dan menjadi anak Tuhan. Tetapi, kita sendiri tidak mengindahkan firman Tuhan. Jadi, apakah gunanya?
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh (Yohanes 3:6).
Istilah “daging” di dalam kitab Perjanjian Baru dipakai untuk menyatakan hal-hal yang bersifat manusiawi atau duniawi yaitu yang berdosa dan najis. Jadi, “apa yang dilahirkan dari daging” berarti segala sesuatu yang terjadi atau dilakukan secara manusiawi atau dengan sarana-sarana duniawi.
Yang dimaksudkan dengan “Roh” ialah “Roh Allah” atau “kuasa Allah.” Jadi, “apa yang dilahirkan oleh Roh” berarti segala sesuatu yang terjadi oleh kuasa Allah.
Perayaan Natal diambil-alih dari tradisi penyembahan berhala di dalam agama kafir, tidaklah patut untuk kita pakai sebagai sarana penginjilan. Bila kita memakainya, berarti kita memakai apa yang “dari daging”, atau najis sifatnya.
Bagaimanakah mungkin Tuhan berkenan kepada penginjilan yang demikian itu? Hendaklah kita tidak lupa akan sifat Allah yang kudus.
“Tetapi, kita kan bukan mengambil barang-barang dari tempat penyembahan berhala. Semuanya adalah perbuatan pabrik yang kita beli dari toko,” demikian bantah orang yang dengan gigih mempertahankan perayaan Natal.
Mudah-mudahan sikap orang itu takkan berubah, jika pada suatu hari ia datang ke sebuah pesta, dan di meja dihidangkan makanan-makanan yang lezat di dalam pispot-pispot. Menurut tuan rumah, pispot-pispot itu semuanya baru dibeli dari toko, bukan diambil dari W.C.
Dapatkah ia dengan lahap menyantap makanan-makanan yang dihidangkan dalam pispot-pispot itu?
“Ah, itu mengada-ada saja. Tak mungkin ada orang yang berpikiran waras akan menghidangkan makanan dengan memakai pispot”, orang itu akan tetap membantah.
Benar. Orang yang berpikiran waras tidak akan melakukan hal itu. Tetapi waraskah pikiran kita, jika kita meminjam hari ulang tahun dewa matahari untuk merayakan kelahiran Yesus dan barang-barang yang serupa dengan yang dipakai dalam penyembahan berhala untuk penginjilan?
Marilah kita memakai pikiran kita yang waras!
Dalam Perjanjian Lama, ada ketentuan yang keras untuk tidak memakai api biasa dalam persembahan korban bakaran. Tuhan sendiri yang menyediakan apinya dan menghanguskannya.
Maka ketika kedua anak Harun, Nadab dan Abihu mempersembahkan korban bakaran dengan “api asing” (api biasa), murkalah Allah.
Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuhkan api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan Tuhan api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati (Imamat 11:23-10:1).
Mungkin kita takkan mengalami peristiwa seperti Nadab dan Abihu, dihanguskan api dari Tuhan sehingga mati. Tetapi, hukuman Tuhan akan tetap menimpa orang-orang yang memberontak dan melanggar perintah-Nya. Mungkin secara jasmani kita tidak mati seketika, tetapi secara rohani jiwa kita mati, sehingga tidak sanggup berpikir rasional lagi.
Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia (Matius 15:8-9)
Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah! (Matius 22:29)
Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yohanes 8:32)
|