Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | IM LIST | BOOKMARK US | HELP GUIDE | LANGUAGE:


Go Back   Forum Diskusi Kristen Internasional > AP - DISKUSI ROHANI KRISTEN > Belajar Alkitab > Pengajaran Alkitab
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #1 (permalink)  
Old 21st February 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Dec 2006
Posts: 52
Sugiyarto has a little shameless behaviour in the past
Default ALLAH NAMA SIAPA: Tanggapan Herlianto

Pendahuluan
Ini adalah tanggapan balik dari Sdr. Herlianto, namun saya berprasangka ia mungkin akan malas menjawab tanggapan balik saya lagi; mudah-mudahan saya keliru.


Herlianto menulis: (1)
Diskusi
‘ALLAH’ NAMA SIAPA?
Sekembali dari pelayanan seminggu di Malaysia dan sempat membicarakan isu ‘nama Allah’ di sana, ada beberapa tanggapan e-mail yang diajukan terhadap artikel ‘Allah’ Nama Siapa? Berikut diskusinya:
(Tanggapan–1) Sebutan bahwa Abraham semula berbahasa Aram itu salah, sebenarnya bahasa Ibrani itu sudah ada sebelum Abraham (ca 1800 sM) yaitu sejak Eber, karena ia sudah disebut sebagai orang Ibrani (Kej.14:13) demikian juga keturunanya (Kej.39:14,17; 40:15;41: 12). Baca saja Kej.31:47 dimana disebutkan bahwa Yakub sudah menyebut batu di Yegar-Sahaduta dengan ‘Galed’ dalam bahasa Ibrani.
(Jawab–1) Memang pengagung nama Yahweh menganggap bahasa Ibrani ada dari kekal sampai kekal setidaknya sejak Eber, bahkan disebutkan bahwa: “Bahasa Ibrani adalah satu-satunya bahasa yang tertua” (Siapakah Yang Bernama Allah Itu, hlm.21), namun kita harus sadar bahwa sebutan ‘orang Ibrani’ tidak identik dengan ‘bahasa Ibrani’ karena sebagai bahasa ia berkembang lama sesudah nama Ibrani ada. Harus disadari bahwa Abraham berasal dari kawasan dan keluarga berbahasa Aram (Kej.24:4) seperti saudaranya Nahor, dan setelah berinteraksi dengan bangsa Kanaan maka bahasa Ibrani mulai tumbuh:
“Bahasa Ibrani adalah cabang dari bahasa Kanaan dan Amorit, atau lebih tepat Kanaan dan Amorit adalah dialek-dialek nenek-moyang yang melalui pencampuran keduanya pertumbuhan bahasa Ibrani dapat dijelaskan.” (Interpreters’ Dictionary of the Bible, Vol.2, 553).
Jadi dari percampuran bahasa Ibu yang Aramik yang diikuti Abraham, dengan pengaruh Kanaan dan Amorit berangsur-angsur tumbuh bahasa Ibrani, namun lambat mengingat bahasa Ibrani terdiri dari konsonan yang sukar diucapkan (menjadi bahasa tulisan sekitar abad-X SM mengikuti aksara 22 huruf Kanani dan kemudian mengikuti bentuk bulat aksara Aram). Ishak mengawini Ribka saudara Laban, cucu Nahor yang berbahasa Aram (Kej.31:20,47) , Yakub anak Ribka mengawini Lea dan Rachel anak Laban yang berbahasa Aram juga, sehingga tidak heran kalau bangsa Israel keturunan Yakub mengikuti bahasa nenek dan ibu mereka dan mengaku keturunan Aram (Kej.24-29; Ul.26:5).

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto (1)

Anda mengutip ayat Alkitab tentang munculnya kata Aram/orang Aram kemudian mengaitkan dengan bahasa Aram, tetapi jika pihak lain melakukan hal yang sama untuk memunculkan kata Ibrani dengan konsekuensi berkaitan dengan bahasa Ibrani, Anda menolaknya. Bahkan Anda menyatakan kata Ibrani tidak selalu terkait dengan bahasa Ibrani. Pertanyaannya lalu apakah hanya kata “Aram” saja yang boleh terkait dengan bahasa Aram?

Hal ini hanya akan menunjukkan bahwa Anda entah selaku teolog ataupun non-teolog sama sekali tidak memiliki kejujuran, kemudian mengajukan alasan yang sama sekali tidak argumentatif. Anda selalu menempatkan Aram lebih super ketimbang Ibrani dan menduganya Ibrani berkembang berdasarkan bahasa Aram dan mengkritisi kesukaran mengucapkan bahasa Ibrani. Memangnya bahasa Aram itu lebih mudah pengucapannya. Tolong jelaskan apakah karakter bahasa aram memang lebih mudah ketimbang Ibrani?

Nampaknya Anda semakin menunjukan ”kecerobohan” analisis. Istilah orang Aram (Ibraninya ha arami – the Aramean sering juga diterjemahkan the Syrian), muncul hanya 6 kali yakni dalam Kej 25:20 (2x) untuk menunjuk Betuel dan Laban, lalu Kej. 28:5; 31:20, 24 untuk menunjuk Laban dan Ul. 26:5, untuk menunjuk Yakub menurut pengakuan Musa. Kej 24-29 sama sekali tidak mengacu pada pengakuan Israel sebagai keturunan Aram. Memang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa istri Ishak maupunYakub adalah orang-orang Aram. Dan barangkali itulah dasarnya pengakuan Ul.26:5. Namun, kata Ibrani yang muncul sangat banyak dan menunjuk atas Abraham hingga Yakub Hingga Israel PL bahkan hingga Israel PB sebagai orang-oang Ibrani dan berbahasa Ibrani, Anda dengan seenaknya mengabaikan begitu saja. [(Kej. 43: 32; Kel. 1:15, 16, 19, 22; 2: 6, 7, 11, 13). Bahkan YHWH sendiri mengatakan kepada Musa bahwa Dialah Elohim orang-orang Ibrani untuk menunjuk Israel. (Kel 3:18; 9:1, 13; Yer 34:14), dan pemahaman penyebutan Ibrani ini pun dipakai oleh Musa (Kel. 5: 3; 7:16; 10: 3). Dan masih banyak lagi kata Ibrani untuk menunjuk orang Israel (Kel. 1:2; Ul 12:2; 1Sam 13:3, 7); orang-orang Filistin juga menyebutnya Ibrani (1Sam. 4: 6, 9; 13:19; 14:11; 29:3); Yunus pun mengidentifikasi dirinya sebagai orang Ibrani (Yun. 1: 9). Kelanjutan hidup bangsa Israel dalam PB pun menyebutkan bahasa/bangsa Ibrani (Yoh. 5:2; 19:13, 17, 20; 20:16]

Memang Ibani dan Aram (bahkan mungkin juga Arab) berkembang dari kanaanit dan tentu saling mempengaruhi sebagaimana sudah saya jelaskan pula sebelumnya, namun Anda lebih suka menyatakan bahwa Aram nampak lebih super ketimbang Ibrani yang berkembang lebih lambat.

Saya yakin bahwa pengetahuan Anda hanyalah hasil bacaan menurut ”aliran” Anda tanpa mengujinya dari teks Alkitab itu sendiri. Coba kita tengok pertumbuhan menjadi bangsa dan bahasanya masing-masing dari keturunan Sem yang dimuat dalam Kej. 10:1-32,


“Itulah keturunan Sem, menurut kaum mereka, menurut bahasa mereka, menurut tanah mereka, menurut bangsa mereka.” (ayat 31).

Dalam Kej. 10:1-32 tersebut telah disebutkan keturunan Sem hingga Eber (yang melahirkan istilah Ibrani) maupun Aram (yang melahirkan istilah bahasa Aram), jadi baik Aram maupun Ibrani masing-masing berkembang dan wajar jika saling mempengaruhi.


Herlianto menulis: (2)
Reply With Quote
  #2 (permalink)  
Old 21st February 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Dec 2006
Posts: 52
Sugiyarto has a little shameless behaviour in the past
Default

[quote=Sugiyarto;447728]Pendahuluan
Ini adalah tanggapan balik dari Sdr. Herlianto, namun saya berprasangka ia mungkin akan malas menjawab tanggapan balik saya lagi; mudah-mudahan saya keliru.


Herlianto menulis: (1)
Diskusi
‘ALLAH’ NAMA SIAPA?
Sekembali dari pelayanan seminggu di Malaysia dan sempat membicarakan isu ‘nama Allah’ di sana, ada beberapa tanggapan e-mail yang diajukan terhadap artikel ‘Allah’ Nama Siapa? Berikut diskusinya:

(Tanggapan–1) Sebutan bahwa Abraham semula berbahasa Aram itu salah, sebenarnya bahasa Ibrani itu sudah ada sebelum Abraham (ca 1800 sM) yaitu sejak Eber, karena ia sudah disebut sebagai orang Ibrani (Kej.14:13) demikian juga keturunanya (Kej.39:14,17; 40:15;41: 12). Baca saja Kej.31:47 dimana disebutkan bahwa Yakub sudah menyebut batu di Yegar-Sahaduta dengan ‘Galed’ dalam bahasa Ibrani.

(Jawab–1) Memang pengagung nama Yahweh menganggap bahasa Ibrani ada dari kekal sampai kekal setidaknya sejak Eber, bahkan disebutkan bahwa: “Bahasa Ibrani adalah satu-satunya bahasa yang tertua” (Siapakah Yang Bernama Allah Itu, hlm.21), namun kita harus sadar bahwa sebutan ‘orang Ibrani’ tidak identik dengan ‘bahasa Ibrani’ karena sebagai bahasa ia berkembang lama sesudah nama Ibrani ada. Harus disadari bahwa Abraham berasal dari kawasan dan keluarga berbahasa Aram (Kej.24:4) seperti saudaranya Nahor, dan setelah berinteraksi dengan bangsa Kanaan maka bahasa Ibrani mulai tumbuh:
“Bahasa Ibrani adalah cabang dari bahasa Kanaan dan Amorit, atau lebih tepat Kanaan dan Amorit adalah dialek-dialek nenek-moyang yang melalui pencampuran keduanya pertumbuhan bahasa Ibrani dapat dijelaskan.” (Interpreters’ Dictionary of the Bible, Vol.2, 553).
Jadi dari percampuran bahasa Ibu yang Aramik yang diikuti Abraham, dengan pengaruh Kanaan dan Amorit berangsur-angsur tumbuh bahasa Ibrani, namun lambat mengingat bahasa Ibrani terdiri dari konsonan yang sukar diucapkan (menjadi bahasa tulisan sekitar abad-X SM mengikuti aksara 22 huruf Kanani dan kemudian mengikuti bentuk bulat aksara Aram). Ishak mengawini Ribka saudara Laban, cucu Nahor yang berbahasa Aram (Kej.31:20,47) , Yakub anak Ribka mengawini Lea dan Rachel anak Laban yang berbahasa Aram juga, sehingga tidak heran kalau bangsa Israel keturunan Yakub mengikuti bahasa nenek dan ibu mereka dan mengaku keturunan Aram (Kej.24-29; Ul.26:5).

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto (1)

Anda mengutip ayat Alkitab tentang munculnya kata Aram/orang Aram kemudian mengaitkan dengan bahasa Aram, tetapi jika pihak lain melakukan hal yang sama untuk memunculkan kata Ibrani dengan konsekuensi berkaitan dengan bahasa Ibrani, Anda menolaknya. Bahkan Anda menyatakan kata Ibrani tidak selalu terkait dengan bahasa Ibrani. Pertanyaannya lalu apakah hanya kata “Aram” saja yang boleh terkait dengan bahasa Aram?

Hal ini hanya akan menunjukkan bahwa Anda entah selaku teolog ataupun non-teolog sama sekali tidak memiliki kejujuran, kemudian mengajukan alasan yang sama sekali tidak argumentatif. Anda selalu menempatkan Aram lebih super ketimbang Ibrani dan menduganya Ibrani berkembang berdasarkan bahasa Aram dan mengkritisi kesukaran mengucapkan bahasa Ibrani. Memangnya bahasa Aram itu lebih mudah pengucapannya. Tolong jelaskan apakah karakter bahasa aram memang lebih mudah ketimbang Ibrani?

Nampaknya Anda semakin menunjukan ”kecerobohan” analisis. Istilah orang Aram (Ibraninya ha arami – the Aramean sering juga diterjemahkan the Syrian), muncul hanya 6 kali yakni dalam Kej 25:20 (2x) untuk menunjuk Betuel dan Laban, lalu Kej. 28:5; 31:20, 24 untuk menunjuk Laban dan Ul. 26:5, untuk menunjuk Yakub menurut pengakuan Musa. Kej 24-29 sama sekali tidak mengacu pada pengakuan Israel sebagai keturunan Aram. Memang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa istri Ishak maupunYakub adalah orang-orang Aram. Dan barangkali itulah dasarnya pengakuan Ul.26:5. Namun, kata Ibrani yang muncul sangat banyak dan menunjuk atas Abraham hingga Yakub Hingga Israel PL bahkan hingga Israel PB sebagai orang-oang Ibrani dan berbahasa Ibrani, Anda dengan seenaknya mengabaikan begitu saja. [(Kej. 43: 32; Kel. 1:15, 16, 19, 22; 2: 6, 7, 11, 13). Bahkan YHWH sendiri mengatakan kepada Musa bahwa Dialah Elohim orang-orang Ibrani untuk menunjuk Israel. (Kel 3:18; 9:1, 13; Yer 34:14), dan pemahaman penyebutan Ibrani ini pun dipakai oleh Musa (Kel. 5: 3; 7:16; 10: 3). Dan masih banyak lagi kata Ibrani untuk menunjuk orang Israel (Kel. 1:2; Ul 12:2; 1Sam 13:3, 7); orang-orang Filistin juga menyebutnya Ibrani (1Sam. 4: 6, 9; 13:19; 14:11; 29:3); Yunus pun mengidentifikasi dirinya sebagai orang Ibrani (Yun. 1: 9). Kelanjutan hidup bangsa Israel dalam PB pun menyebutkan bahasa/bangsa Ibrani (Yoh. 5:2; 19:13, 17, 20; 20:16]

Memang Ibani dan Aram (bahkan mungkin juga Arab) berkembang dari kanaanit dan tentu saling mempengaruhi sebagaimana sudah saya jelaskan pula sebelumnya, namun Anda lebih suka menyatakan bahwa Aram nampak lebih super ketimbang Ibrani yang berkembang lebih lambat.

Saya yakin bahwa pengetahuan Anda hanyalah hasil bacaan menurut ”aliran” Anda tanpa mengujinya dari teks Alkitab itu sendiri. Coba kita tengok pertumbuhan menjadi bangsa dan bahasanya masing-masing dari keturunan Sem yang dimuat dalam Kej. 10:1-32,


“Itulah keturunan Sem, menurut kaum mereka, menurut bahasa mereka, menurut tanah mereka, menurut bangsa mereka.” (ayat 31).

Dalam Kej. 10:1-32 tersebut telah disebutkan keturunan Sem hingga Eber (yang melahirkan istilah Ibrani) maupun Aram (yang melahirkan istilah bahasa Aram), jadi baik Aram maupun Ibrani masing-masing berkembang dan wajar jika saling mempengaruhi.


Herlianto menulis: (2)

Galed (Kej.31:47) bukanlah asli kata Ibrani melainkan kata Aram yang menjadi cikal bakal kata Ibrani. Perlu diketahui bahwa Laban juga menyebut ‘Galed’ (Kej.31:48) yang tentu bahasanya sendiri, dan dalam tafsiran mengenai Galed disebutkan:

“Nowhere else in the Jacob-Laban cycle of stories is there the slightest suggestion that the two spoke different languages.” (The Interpreters’ Bible, Vol.I, 716).


Tanggapan Kristian H. Sugiyarto (2)

Sdr. Herlianto, Anda maaf memang sangat ceroboh dalam analisis. Anda boleh saja menganggap bahwa “Galed” adalah bukan kata Ibrani asli melainkan kata Aram dengan alasan ayat berikutnya Laban menyebutkan kata “Galed” dan dukungan referensi di atas (The Interpreters’ Bible, Vol.I, 716).

Lho kenapa tidak sebaliknya bahwa Laban justru mengakui bahwa kata “Galed” yang adalah Ibrani lalu dimasukkan kedalam kosa kata Aram.
Kata Ibrani yang sama seakar dengan Galed itu sangat banyak ditemui menunjuk nama daerah dan nama orang.

Maaf, apa Anda kesulitan menerjemahkan acuan bahasa Inggris tersebut? Ini kan hanya dugaan paling minimal adalah bahwa keduanya (Laban-Yakub) bercakap-cakap dengan bahasa yang berbeda dalam setiap cerita “percakapan Laban-Yakub”. Referensi ini sama sekali tidak menyarankan bahwa keduanya berbicara dengan bahasa sama yakni Aram atau juga Ibrani; tentu saja juga tidak menyarankan bahwa Galed adalah kata Aram yang menurut Anda menjadi cikal-bakal Ibrani. Dengan ceroboh Anda menyatakan bahwa karena kata Galed diucapkan oleh Laban orang Aram lalu berpendapat bahwa kata Galed tentulah bahasanya Laban sendiri alias kata Aram.

Mari kita bandingkan dengan Komentar Matthew Henry berikut ini.
Matthew Henry commentary (Bibleworks6)

The name Jacob gave this heap (Galeed) stuck by it, not the name Laban gave it. In all this rencounter, Laban was noisy and full of words, affecting to say much; Jacob was silent, and said little. When Laban appealed to God under many titles, Jacob only swore by the fear of his father Isaac, that is, the God whom his father Isaac feared, who had never served other gods, as Abraham and Nahor had done. Two words of Jacob's were more memorable than all Laban's speeches and vain repetitions: for the words of wise men are heard in quiet, more than the cry of him that ruleth among fools, Eccl. ix. 17.

Laban akhirnya menyetujuinya sebutan “Galed”, bukan karena kata ini berasal dari Aram melainkan karena Laban terlalu banyak mengata-ngatai Yakub yang mestinya telah diperingatkan Elohim melalui mimpi (Kej. 31:24) untuk tidak mengata-ngatai Yakub. Kenyataannya ia terlalu ribut bahkan dengan usul nama timbunan batu dengan nama yang cukup panjang – Yegar Sahaduta, namun ia akhirnya menyetujui Yakub yang tidak banyak bicara dengan usulan nama lebih pendek cuma dua kata –Galed. Ini adalah salah satu tafsir.

Kej. 31:47

Wayiqra lo Laban yegar sahaduta we Yaaqob qara lo galed. (Ibrani)

Kej. 31:47 Laban menamai timbunan batu itu Yegar Sahaduta, tetapi Yakub menamainya Galed.(LAI)

Uqra leh Laban Yegar Sahaduta we Yaqob qra leh (Targum-Aramaik)

Dengan mudah dapat kita kenali bahwa kata Yegar Sahaduta tetap muncul di dalam Targum sebab memang Targum berbahasa Aramaik; sebaliknya kata ”Galed” yang ada dalam Tenakh tentu saja tidak muncul dalam Targum, karena tentu janggal jika muncul. Dari sini saja kita sudah dapat diyakinkan bahwa Galed adalah kata Ibrani. Sayang sdr. Herlianto sama sekali tidak mampu mengujinya melalui Targum. Jika Anda memang tergila-gila Aramaik, tolong terjemahkan Targum Kej. 31:47 tersebut, saya hanyalah merab-raba saja.

Sekarang silakan bandingkan Hebrew text dengan Targum untuk Kej. 31:48

Wayyomer Laban haggal hazzeh ed beni ubenka hayyom al-ken qara semo galed.

ITB Genesis 31:48 Lalu kata Laban: "Timbunan batu inilah pada hari ini menjadi kesaksian antara aku dan engkau." Itulah sebabnya timbunan itu dinamainya Galed,...

Kita periksa Tragum-nya:

wa amar Laban denora haden sahid beina ubeinak yoma den al ken qera leh

Ternyata dalam Targum kej. 31:48 tersebut, kata Galedtidak muncul, demikian juga kata Yegar Sahaduta. Targum nampaknya lebih suka meniadakan; ini artinya bahwa Laban hanya menyetujui pilihan kata Yakub yakni ”Galed”, karena teks Ibrani menulisnya “Galed” meskipun Targum tidak menulisnya.
(Perlu diingat bahwa Targum memang tidak sekedar menyalin/menerjemahkan, melainkan juga kadang menjelaskan; itu sebabnya dalam Targum sering ditemui ayat-ayat yang lebih panjang).


Sekarang jika kita teruskan ke ayat 49 akan menjadi:

Itulah sebabnya timbunan itu dinamainya Galed (49) dan juga Mizpa (haMizpa), sebab katanya.........

Kata Mispa adalah Ibrani yang artinya watchtower- menara pengawas meskipun sesungguhnya proper noun, dan jika kita bandingkan dengan Targum tentu saja tidak muncul, melainkan penggantinya sakruta (samekh-kaf-waw-taw-alef akhiran dengan huruf alef menunjuk kata sandang pengganti ha).

Silakan uji sendiri jika Anda memang mau berdiskusi lebih akademik. Dengan melihat kalimat kelanjutannya (ay. 49) ini justru dapat diduga bahwa Laban menggunakan kata-kata Ibrani dan bukan Aramaik (sebagaimana dugaan Herlianto).

Jadi andaikata isi referensi yang diajukan Herlianto tersebut benar (The Interpreters’ Bible, Vol.I, 716), maka keduanya justru mungkin bercakap-cakap dengan bahasa yang sama yakni Ibrani bukan Aramaik sebagaimana dugaan Herlianto yang tidak mampu mengajukan bukti apapun.

Tambahan pula, kata ”Galed” sama sekali tidak ditemui dalam Targum-Aramaik; yang muncul banyak adalah ”Gilad” untuk menyalin Ibrani ”Gilad” -Gilead, yang menunjuk nama diri baik untuk orang ataupun tanah/daerah dan ini muncul sangat banyak di dalam Tenakh.
Reply With Quote
  #3 (permalink)  
Old 21st February 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Dec 2006
Posts: 52
Sugiyarto has a little shameless behaviour in the past
Default ALLAH NAMA SIAPA Tanggapana Herlianto (2)

Pendahuluan
Ini adalah tanggapan balik dari Sdr. Herlianto, namun saya berprasangka ia mungkin akan malas menjawab tanggapan balik saya lagi; mudah-mudahan saya keliru.


Herlianto menulis: (1)
Diskusi
‘ALLAH’ NAMA SIAPA?
Sekembali dari pelayanan seminggu di Malaysia dan sempat membicarakan isu ‘nama Allah’ di sana, ada beberapa tanggapan e-mail yang diajukan terhadap artikel ‘Allah’ Nama Siapa? Berikut diskusinya:

(Tanggapan–1) Sebutan bahwa Abraham semula berbahasa Aram itu salah, sebenarnya bahasa Ibrani itu sudah ada sebelum Abraham (ca 1800 sM) yaitu sejak Eber, karena ia sudah disebut sebagai orang Ibrani (Kej.14:13) demikian juga keturunanya (Kej.39:14,17; 40:15;41: 12). Baca saja Kej.31:47 dimana disebutkan bahwa Yakub sudah menyebut batu di Yegar-Sahaduta dengan ‘Galed’ dalam bahasa Ibrani.

(Jawab–1) Memang pengagung nama Yahweh menganggap bahasa Ibrani ada dari kekal sampai kekal setidaknya sejak Eber, bahkan disebutkan bahwa: “Bahasa Ibrani adalah satu-satunya bahasa yang tertua” (Siapakah Yang Bernama Allah Itu, hlm.21), namun kita harus sadar bahwa sebutan ‘orang Ibrani’ tidak identik dengan ‘bahasa Ibrani’ karena sebagai bahasa ia berkembang lama sesudah nama Ibrani ada. Harus disadari bahwa Abraham berasal dari kawasan dan keluarga berbahasa Aram (Kej.24:4) seperti saudaranya Nahor, dan setelah berinteraksi dengan bangsa Kanaan maka bahasa Ibrani mulai tumbuh:
“Bahasa Ibrani adalah cabang dari bahasa Kanaan dan Amorit, atau lebih tepat Kanaan dan Amorit adalah dialek-dialek nenek-moyang yang melalui pencampuran keduanya pertumbuhan bahasa Ibrani dapat dijelaskan.” (Interpreters’ Dictionary of the Bible, Vol.2, 553).
Jadi dari percampuran bahasa Ibu yang Aramik yang diikuti Abraham, dengan pengaruh Kanaan dan Amorit berangsur-angsur tumbuh bahasa Ibrani, namun lambat mengingat bahasa Ibrani terdiri dari konsonan yang sukar diucapkan (menjadi bahasa tulisan sekitar abad-X SM mengikuti aksara 22 huruf Kanani dan kemudian mengikuti bentuk bulat aksara Aram). Ishak mengawini Ribka saudara Laban, cucu Nahor yang berbahasa Aram (Kej.31:20,47) , Yakub anak Ribka mengawini Lea dan Rachel anak Laban yang berbahasa Aram juga, sehingga tidak heran kalau bangsa Israel keturunan Yakub mengikuti bahasa nenek dan ibu mereka dan mengaku keturunan Aram (Kej.24-29; Ul.26:5).

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto (1)

Anda mengutip ayat Alkitab tentang munculnya kata Aram/orang Aram kemudian mengaitkan dengan bahasa Aram, tetapi jika pihak lain melakukan hal yang sama untuk memunculkan kata Ibrani dengan konsekuensi berkaitan dengan bahasa Ibrani, Anda menolaknya. Bahkan Anda menyatakan kata Ibrani tidak selalu terkait dengan bahasa Ibrani. Pertanyaannya lalu apakah hanya kata “Aram” saja yang boleh terkait dengan bahasa Aram?

Hal ini hanya akan menunjukkan bahwa Anda entah selaku teolog ataupun non-teolog sama sekali tidak memiliki kejujuran, kemudian mengajukan alasan yang sama sekali tidak argumentatif. Anda selalu menempatkan Aram lebih super ketimbang Ibrani dan menduganya Ibrani berkembang berdasarkan bahasa Aram dan mengkritisi kesukaran mengucapkan bahasa Ibrani. Memangnya bahasa Aram itu lebih mudah pengucapannya. Tolong jelaskan apakah karakter bahasa aram memang lebih mudah ketimbang Ibrani?

Nampaknya Anda semakin menunjukan ”kecerobohan” analisis. Istilah orang Aram (Ibraninya ha arami – the Aramean sering juga diterjemahkan the Syrian), muncul hanya 6 kali yakni dalam Kej 25:20 (2x) untuk menunjuk Betuel dan Laban, lalu Kej. 28:5; 31:20, 24 untuk menunjuk Laban dan Ul. 26:5, untuk menunjuk Yakub menurut pengakuan Musa. Kej 24-29 sama sekali tidak mengacu pada pengakuan Israel sebagai keturunan Aram. Memang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa istri Ishak maupunYakub adalah orang-orang Aram. Dan barangkali itulah dasarnya pengakuan Ul.26:5. Namun, kata Ibrani yang muncul sangat banyak dan menunjuk atas Abraham hingga Yakub Hingga Israel PL bahkan hingga Israel PB sebagai orang-oang Ibrani dan berbahasa Ibrani, Anda dengan seenaknya mengabaikan begitu saja. [(Kej. 43: 32; Kel. 1:15, 16, 19, 22; 2: 6, 7, 11, 13). Bahkan YHWH sendiri mengatakan kepada Musa bahwa Dialah Elohim orang-orang Ibrani untuk menunjuk Israel. (Kel 3:18; 9:1, 13; Yer 34:14), dan pemahaman penyebutan Ibrani ini pun dipakai oleh Musa (Kel. 5: 3; 7:16; 10: 3). Dan masih banyak lagi kata Ibrani untuk menunjuk orang Israel (Kel. 1:2; Ul 12:2; 1Sam 13:3, 7); orang-orang Filistin juga menyebutnya Ibrani (1Sam. 4: 6, 9; 13:19; 14:11; 29:3); Yunus pun mengidentifikasi dirinya sebagai orang Ibrani (Yun. 1: 9). Kelanjutan hidup bangsa Israel dalam PB pun menyebutkan bahasa/bangsa Ibrani (Yoh. 5:2; 19:13, 17, 20; 20:16]

Memang Ibani dan Aram (bahkan mungkin juga Arab) berkembang dari kanaanit dan tentu saling mempengaruhi sebagaimana sudah saya jelaskan pula sebelumnya, namun Anda lebih suka menyatakan bahwa Aram nampak lebih super ketimbang Ibrani yang berkembang lebih lambat.

Saya yakin bahwa pengetahuan Anda hanyalah hasil bacaan menurut ”aliran” Anda tanpa mengujinya dari teks Alkitab itu sendiri. Coba kita tengok pertumbuhan menjadi bangsa dan bahasanya masing-masing dari keturunan Sem yang dimuat dalam Kej. 10:1-32,


“Itulah keturunan Sem, menurut kaum mereka, menurut bahasa mereka, menurut tanah mereka, menurut bangsa mereka.” (ayat 31).

Dalam Kej. 10:1-32 tersebut telah disebutkan keturunan Sem hingga Eber (yang melahirkan istilah Ibrani) maupun Aram (yang melahirkan istilah bahasa Aram), jadi baik Aram maupun Ibrani masing-masing berkembang dan wajar jika saling mempengaruhi.


Herlianto menulis: (2)

Galed (Kej.31:47) bukanlah asli kata Ibrani melainkan kata Aram yang menjadi cikal bakal kata Ibrani. Perlu diketahui bahwa Laban juga menyebut ‘Galed’ (Kej.31:48) yang tentu bahasanya sendiri, dan dalam tafsiran mengenai Galed disebutkan:

“Nowhere else in the Jacob-Laban cycle of stories is there the slightest suggestion that the two spoke different languages.” (The Interpreters’ Bible, Vol.I, 716).


Tanggapan Kristian H. Sugiyarto (2)

Sdr. Herlianto, Anda maaf memang sangat ceroboh dalam analisis. Anda boleh saja menganggap bahwa “Galed” adalah bukan kata Ibrani asli melainkan kata Aram dengan alasan ayat berikutnya Laban menyebutkan kata “Galed” dan dukungan referensi di atas (The Interpreters’ Bible, Vol.I, 716).

Lho kenapa tidak sebaliknya bahwa Laban justru mengakui bahwa kata “Galed” yang adalah Ibrani lalu dimasukkan kedalam kosa kata Aram.
Kata Ibrani yang sama seakar dengan Galed itu sangat banyak ditemui menunjuk nama daerah dan nama orang.

Maaf, apa Anda kesulitan menerjemahkan acuan bahasa Inggris tersebut? Ini kan hanya dugaan paling minimal adalah bahwa keduanya (Laban-Yakub) bercakap-cakap dengan bahasa yang berbeda dalam setiap cerita “percakapan Laban-Yakub”. Referensi ini sama sekali tidak menyarankan bahwa keduanya berbicara dengan bahasa sama yakni Aram atau juga Ibrani; tentu saja juga tidak menyarankan bahwa Galed adalah kata Aram yang menurut Anda menjadi cikal-bakal Ibrani. Dengan ceroboh Anda menyatakan bahwa karena kata Galed diucapkan oleh Laban orang Aram lalu berpendapat bahwa kata Galed tentulah bahasanya Laban sendiri alias kata Aram.

Mari kita bandingkan dengan Komentar Matthew Henry berikut ini.
Matthew Henry commentary (Bibleworks6)

The name Jacob gave this heap (Galeed) stuck by it, not the name Laban gave it. In all this rencounter, Laban was noisy and full of words, affecting to say much; Jacob was silent, and said little. When Laban appealed to God under many titles, Jacob only swore by the fear of his father Isaac, that is, the God whom his father Isaac feared, who had never served other gods, as Abraham and Nahor had done. Two words of Jacob's were more memorable than all Laban's speeches and vain repetitions: for the words of wise men are heard in quiet, more than the cry of him that ruleth among fools, Eccl. ix. 17.

Laban akhirnya menyetujuinya sebutan “Galed”, bukan karena kata ini berasal dari Aram melainkan karena Laban terlalu banyak mengata-ngatai Yakub yang mestinya telah diperingatkan Elohim melalui mimpi (Kej. 31:24) untuk tidak mengata-ngatai Yakub. Kenyataannya ia terlalu ribut bahkan dengan usul nama timbunan batu dengan nama yang cukup panjang – Yegar Sahaduta, namun ia akhirnya menyetujui Yakub yang tidak banyak bicara dengan usulan nama lebih pendek cuma dua kata –Galed. Ini adalah salah satu tafsir.

Kej. 31:47

Wayiqra lo Laban yegar sahaduta we Yaaqob qara lo galed. (Ibrani)

Kej. 31:47 Laban menamai timbunan batu itu Yegar Sahaduta, tetapi Yakub menamainya Galed.(LAI)

Uqra leh Laban Yegar Sahaduta we Yaqob qra leh (Targum-Aramaik)

Dengan mudah dapat kita kenali bahwa kata Yegar Sahaduta tetap muncul di dalam Targum sebab memang Targum berbahasa Aramaik; sebaliknya kata ”Galed” yang ada dalam Tenakh tentu saja tidak muncul dalam Targum, karena tentu janggal jika muncul. Dari sini saja kita sudah dapat diyakinkan bahwa Galed adalah kata Ibrani. Sayang sdr. Herlianto sama sekali tidak mampu mengujinya melalui Targum. Jika Anda memang tergila-gila Aramaik, tolong terjemahkan Targum Kej. 31:47 tersebut, saya hanyalah merab-raba saja.

Sekarang silakan bandingkan Hebrew text dengan Targum untuk Kej. 31:48

Wayyomer Laban haggal hazzeh ed beni ubenka hayyom al-ken qara semo galed.

ITB Genesis 31:48 Lalu kata Laban: "Timbunan batu inilah pada hari ini menjadi kesaksian antara aku dan engkau." Itulah sebabnya timbunan itu dinamainya Galed,...

Kita periksa Tragum-nya:

wa amar Laban denora haden sahid beina ubeinak yoma den al ken qera leh

Ternyata dalam Targum kej. 31:48 tersebut, kata Galedtidak muncul, demikian juga kata Yegar Sahaduta. Targum nampaknya lebih suka meniadakan; ini artinya bahwa Laban hanya menyetujui pilihan kata Yakub yakni ”Galed”, karena teks Ibrani menulisnya “Galed” meskipun Targum tidak menulisnya.
(Perlu diingat bahwa Targum memang tidak sekedar menyalin/menerjemahkan, melainkan juga kadang menjelaskan; itu sebabnya dalam Targum sering ditemui ayat-ayat yang lebih panjang).


Sekarang jika kita teruskan ke ayat 49 akan menjadi:

Itulah sebabnya timbunan itu dinamainya Galed (49) dan juga Mizpa (haMizpa), sebab katanya.........

Kata Mispa adalah Ibrani yang artinya watchtower- menara pengawas meskipun sesungguhnya proper noun, dan jika kita bandingkan dengan Targum tentu saja tidak muncul, melainkan penggantinya sakruta (samekh-kaf-waw-taw-alef akhiran dengan huruf alef menunjuk kata sandang pengganti ha).

Silakan uji sendiri jika Anda memang mau berdiskusi lebih akademik. Dengan melihat kalimat kelanjutannya (ay. 49) ini justru dapat diduga bahwa Laban menggunakan kata-kata Ibrani dan bukan Aramaik (sebagaimana dugaan Herlianto).

Jadi andaikata isi referensi yang diajukan Herlianto tersebut benar (The Interpreters’ Bible, Vol.I, 716), maka keduanya justru mungkin bercakap-cakap dengan bahasa yang sama yakni Ibrani bukan Aramaik sebagaimana dugaan Herlianto yang tidak mampu mengajukan bukti apapun.

Tambahan pula, kata ”Galed” sama sekali tidak ditemui dalam Targum-Aramaik; yang muncul banyak adalah ”Gilad” untuk menyalin Ibrani ”Gilad” -Gilead, yang menunjuk nama diri baik untuk orang ataupun tanah/daerah dan ini muncul sangat banyak di dalam Tenakh.
[/quote]
Reply With Quote
  #4 (permalink)  
Old 21st February 2008
light_in_the_dark's Avatar
AP - Citizen
 
Join Date: Dec 2006
Location: Indonesia
Age: 29
Posts: 189
light_in_the_dark is on a distinguished roadlight_in_the_dark is on a distinguished road
Send a message via Yahoo to light_in_the_dark
Default

panjang amat bacanya.....
__________________
I pray to you,
Jesus keep u in his name.
keep u from the evil,
sanctify u by the truth,
and give u joy fulfiled always.
amen!
Reply With Quote
  #5 (permalink)  
Old 22nd February 2008
PlainBread's Avatar
Slave of God
 
Join Date: Jan 2006
Location: Azerbaijan
Posts: 8,184
PlainBread has much to be proud ofPlainBread has much to be proud ofPlainBread has much to be proud ofPlainBread has much to be proud ofPlainBread has much to be proud ofPlainBread has much to be proud ofPlainBread has much to be proud of
Default

Ini ibarat pepatah, maboknya di bar, muntahnya di jalan. Diskusinya entah di mana, hasilnya di copy paste ke sini.
__________________
Oh be careful little eyes what I see
Oh be careful little eyes what I see
For the Father up above is looking down in love
Oh be careful little eyes what I see
Reply With Quote
  #6 (permalink)  
Old 22nd February 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Dec 2006
Posts: 52
Sugiyarto has a little shameless behaviour in the past
Default

Herlianto menulis: (2)

Galed (Kej.31:47) bukanlah asli kata Ibrani melainkan kata Aram yang menjadi cikal bakal kata Ibrani. Perlu diketahui bahwa Laban juga menyebut ‘Galed’ (Kej.31:48) yang tentu bahasanya sendiri, dan dalam tafsiran mengenai Galed disebutkan:

“Nowhere else in the Jacob-Laban cycle of stories is there the slightest suggestion that the two spoke different languages.” (The Interpreters’ Bible, Vol.I, 716).


Tanggapan Kristian H. Sugiyarto (2)

Sdr. Herlianto, Anda maaf memang sangat ceroboh dalam analisis. Anda boleh saja menganggap bahwa “Galed” adalah bukan kata Ibrani asli melainkan kata Aram dengan alasan ayat berikutnya Laban menyebutkan kata “Galed” dan dukungan referensi di atas (The Interpreters’ Bible, Vol.I, 716).

Lho kenapa tidak sebaliknya bahwa Laban justru mengakui bahwa kata “Galed” yang adalah Ibrani lalu dimasukkan kedalam kosa kata Aram.
Kata Ibrani yang sama seakar dengan Galed itu sangat banyak ditemui menunjuk nama daerah dan nama orang.

Maaf, apa Anda kesulitan menerjemahkan acuan bahasa Inggris tersebut? Ini kan hanya dugaan paling minimal adalah bahwa keduanya (Laban-Yakub) bercakap-cakap dengan bahasa yang berbeda dalam setiap cerita “percakapan Laban-Yakub”. Referensi ini sama sekali tidak menyarankan bahwa keduanya berbicara dengan bahasa sama yakni Aram atau juga Ibrani; tentu saja juga tidak menyarankan bahwa Galed adalah kata Aram yang menurut Anda menjadi cikal-bakal Ibrani. Dengan ceroboh Anda menyatakan bahwa karena kata Galed diucapkan oleh Laban orang Aram lalu berpendapat bahwa kata Galed tentulah bahasanya Laban sendiri alias kata Aram.

Mari kita bandingkan dengan Komentar Matthew Henry berikut ini.
Matthew Henry commentary (Bibleworks6)

The name Jacob gave this heap (Galeed) stuck by it, not the name Laban gave it. In all this rencounter, Laban was noisy and full of words, affecting to say much; Jacob was silent, and said little. When Laban appealed to God under many titles, Jacob only swore by the fear of his father Isaac, that is, the God whom his father Isaac feared, who had never served other gods, as Abraham and Nahor had done. Two words of Jacob's were more memorable than all Laban's speeches and vain repetitions: for the words of wise men are heard in quiet, more than the cry of him that ruleth among fools, Eccl. ix. 17.

Laban akhirnya menyetujuinya sebutan “Galed”, bukan karena kata ini berasal dari Aram melainkan karena Laban terlalu banyak mengata-ngatai Yakub yang mestinya telah diperingatkan Elohim melalui mimpi (Kej. 31:24) untuk tidak mengata-ngatai Yakub. Kenyataannya ia terlalu ribut bahkan dengan usul nama timbunan batu dengan nama yang cukup panjang – Yegar Sahaduta, namun ia akhirnya menyetujui Yakub yang tidak banyak bicara dengan usulan nama lebih pendek cuma dua kata –Galed. Ini adalah salah satu tafsir.

Kej. 31:47

Wayiqra lo Laban yegar sahaduta we Yaaqob qara lo galed. (Ibrani)

Kej. 31:47 Laban menamai timbunan batu itu Yegar Sahaduta, tetapi Yakub menamainya Galed.(LAI)

Uqra leh Laban Yegar Sahaduta we Yaqob qra leh (Targum-Aramaik)

Dengan mudah dapat kita kenali bahwa kata Yegar Sahaduta tetap muncul di dalam Targum sebab memang Targum berbahasa Aramaik; sebaliknya kata ”Galed” yang ada dalam Tenakh tentu saja tidak muncul dalam Targum, karena tentu janggal jika muncul. Dari sini saja kita sudah dapat diyakinkan bahwa Galed adalah kata Ibrani. Sayang sdr. Herlianto sama sekali tidak mampu mengujinya melalui Targum. Jika Anda memang tergila-gila Aramaik, tolong terjemahkan Targum Kej. 31:47 tersebut, saya hanyalah merab-raba saja.

Sekarang silakan bandingkan Hebrew text dengan Targum untuk Kej. 31:48

Wayyomer Laban haggal hazzeh ed beni ubenka hayyom al-ken qara semo galed.

ITB Genesis 31:48 Lalu kata Laban: "Timbunan batu inilah pada hari ini menjadi kesaksian antara aku dan engkau." Itulah sebabnya timbunan itu dinamainya Galed,...

Kita periksa Tragum-nya:

wa amar Laban denora haden sahid beina ubeinak yoma den al ken qera leh

Ternyata dalam Targum kej. 31:48 tersebut, kata Galedtidak muncul, demikian juga kata Yegar Sahaduta. Targum nampaknya lebih suka meniadakan; ini artinya bahwa Laban hanya menyetujui pilihan kata Yakub yakni ”Galed”, karena teks Ibrani menulisnya “Galed” meskipun Targum tidak menulisnya.
(Perlu diingat bahwa Targum memang tidak sekedar menyalin/menerjemahkan, melainkan juga kadang menjelaskan; itu sebabnya dalam Targum sering ditemui ayat-ayat yang lebih panjang).


Sekarang jika kita teruskan ke ayat 49 akan menjadi:

Itulah sebabnya timbunan itu dinamainya Galed (49) dan juga Mizpa (haMizpa), sebab katanya.........

Kata Mispa adalah Ibrani yang artinya watchtower- menara pengawas meskipun sesungguhnya proper noun, dan jika kita bandingkan dengan Targum tentu saja tidak muncul, melainkan penggantinya sakruta (samekh-kaf-waw-taw-alef akhiran dengan huruf alef menunjuk kata sandang pengganti ha).

Silakan uji sendiri jika Anda memang mau berdiskusi lebih akademik. Dengan melihat kalimat kelanjutannya (ay. 49) ini justru dapat diduga bahwa Laban menggunakan kata-kata Ibrani dan bukan Aramaik (sebagaimana dugaan Herlianto).

Jadi andaikata isi referensi yang diajukan Herlianto tersebut benar (The Interpreters’ Bible, Vol.I, 716), maka keduanya justru mungkin bercakap-cakap dengan bahasa yang sama yakni Ibrani bukan Aramaik sebagaimana dugaan Herlianto yang tidak mampu mengajukan bukti apapun.

Tambahan pula, kata ”Galed” sama sekali tidak ditemui dalam Targum-Aramaik; yang muncul banyak adalah ”Gilad” untuk menyalin Ibrani ”Gilad” -Gilead, yang menunjuk nama diri baik untuk orang ataupun tanah/daerah dan ini muncul sangat banyak di dalam Tenakh.
[/quote]
Reply With Quote
  #7 (permalink)  
Old 22nd February 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Dec 2006
Posts: 52
Sugiyarto has a little shameless behaviour in the past
Default ALLAH NAMA SIAPA: Tanggapan Herlianto (3) Lanjutan

Herlianto menulis: (3)

Lepas dari pengkultusan bangsa dan bahasa Ibrani, perlu disadari bahwa bahasa Ibrani itu tidak berasal dari kekal sampai kekal, tetapi ia berawal dari percampuran Aram-Kanani- Amorit dan pada masa Ibrani Kitab Suci (abad-XI – III SM) terus dipengaruhi bahasa Aram; pada masa Ibrani Miznah (abad-III SM – VII M) dipengaruhi bahasa Aram, Yunani dan Latin (Yesus berbicara bahasa Aram & Yunani, dan diatas salib ada tulisan dalam 3 bahasa itu); pada masa Ibrani Para Rabi (abad-VII – XIX M) dipengaruhi bahasa Arab; dan baru di abad-XIX menjadi bahasa Ibrani modern. Ingat, dalam Perjanjian Baru kalau disebut bahasa Ibrani (terjemahan hebraisti atau hebraik dialekto), yang dimaksudkan adalah bahasa Aram.

(T–2) Dalam bahasa Arab, Allah adalah nama diri, jadi bukan berasal dari ‘Al-Ilah.’ Jadi dalam Kis.2:7-11 tentu orang Yahudi menyebut nama dalam bahasa Ibrani, bahasa ibu mereka, dan orang Arab juga menggunakan bahasa itu atau ‘Al-Ilah.’ Bila kita membaca Arabbible tidak satu nama pun yang ditulis ‘Allah’ semua ditulis ‘Al Ilah,’ jadi tidak semua orang berbahasa Arab menggunakan nama ‘Allah’ sebab sekarang sudah banyak yang menggunakan nama ‘Al Ilah.’ Konsep ini juga disebutkan oleh seorang dosen program studi Islamologi yang bergelar S2 bahwa ‘Allah’ bukan berasal ‘Al Ilah.’ Bisakah ditunjukkan bahwa nama ‘Allah’ sudah digunakan sebelum Islam?

(J–2) Perlu disadari bahwa dalam Perjanjian Baru, bila ada terjemahan berbunyi ‘bahasa Ibrani’ itu adalah bahasa Aram (‘hebraisti’ = lidah orang Ibrani, dan ‘hebraik dialekto’ = dialek Ibrani). D.C. Mulder, pakar Perjanjian Lama, menyebutkan:
“Di tanah Palestina sendiri bahasa Aramlah yang menjadi bahasa sehari-hari sejak abad IV/III sM.; bahasa Ibrani lama-kelamaan hanya dipakai sebagai bahasa suci dan bahasa agama.” (Pembimbing ke dalam Perjanjian Lama, hlm.214)
Sedangkan Bruce M. Metzger, pakar Alkitab dan bahasa-bahasanya, menyebutkan:
”Bahasa ibu orang Yahudi Palestina di waktu itu adalah Aram. Sekalipun para Rabi dan Ahli-Kitab masih menggunakan bahasa Ibrani klasik Perjanjian Lama, untuk mayoritas umat ini adalah bahasa mati. ... Barangkali karena rasa bangga yang salah, dan kemungkinan besar karena tidak dapat membedakan ketepatan ilmiah, bahasa Aram secara populer disebut sebagai bahasa ”Ibrani”. … Bahasa percakapan umum semitik orang Yahudi Palestina pada waktu Yesus adalah Aram.” (The Language of the New Testaments, The Interpreters’ Bible, Vol.7, hlm.43)

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto (3)

Inilah yang saya katakan Sdr. Herlianto asal baca referensi tidak pernah mau menguji lurus-tidaknya referensi tersebut. Setiap kata “Ibrani” yang muncul dalam Alkitab selalu diartikan “Aramaik”. Maka pernah saya katakan Anda maaf seperti bermata kuda delman, tidak mau atau tidak mampu melihat kiri kanan. Saya tidak terlalu tercengang atas referensi yang Anda tampilkan, saya anggap sudah sangat kuno dan perlu dihabisi kebenarannya karena sebenarnya memang cuma asumsi. Baiklah pandangan Herlianto demikian ini kita sebut saja teori aramaik. Pertanyaannya adalah siapa yang merumuskan dan apa alasannya. Berikut hasil studi saya.

Menurut Dr. Randall Buth [[url=http://www.jerusalemperspective.com]Jerusalem Perspective Online > Home[/url] View topic - Who Formulated the Aramaic Hypothesis1.htm Transmitted by Dr. Randall Buth, Posted: Fri Feb 10, 2006 7:14 am)], “hypotesis Aramaik” menunjuk pada:

(1) Ide bahwa bahasa Aramaik adalah satu-satunya bahasa Semit yang hidup yang dipakai sebagai bahasa percakapan orang-orang Yahudi pada akhir periode Bait Suci Yerusalem yang kedua.
(2) Selain itu teori ini juga menunjuk pada teori “Ibrani Mishnaik Tiruan”, artinya dugaan (tanpa bukti) bahwa Ibrani Mishnah adalah bahasa tiruan yang dibuat-buat atau direkayasa oleh para Rabbi dan tidak berkaitan dengan logat percakapan normal yang umum dimengerti oleh orang-orang Yahudi jelata pada masa Yesus. Hipotesis demikian ini dikembangkan oleh Avraham Geiger pada tahun 1845. Geiger adalah pendiri Yudaisme Reformasi, seorang sarjana yang sangat dihormati pada masanya.

(3) George Howard, dalam Injil Ibrani menurut Mateus (Hebrew Gospel of Matthew) halaman 155, mengkaitkan asal usul hipotesis Aramaik dalam pernyataanya:
Sejak masa Widmanstadt telah menjadi anggapan umum bahwa kata “Ibrani” yang diungkapkan Papias sesungguhnya bermaksud “Aramaik”. Anggapan ini oleh karena kepercayaan yang telah lama kukuh bahwa bahasa Ibrani tidak lagi sebagai bahasa rakyat sehari-hari di Palestina, melainkan telah diganti bahasa Aramaik. [Johann Albert Widmanstadt, Liber Sacrosancti Evangelii de Jesu Christi Domino & Deo-Nostro ... characteribus & lingua Syra, Jesu Christo vernacula, Divino ipsius ore consecrata & Joh. Evangelista Hebraica dicta, Scriptorio Prelo dligenter Expressa (Wien. M. Cymbermann, 1555); dalam [url=http://www.jerusalemperspective.com]Jerusalem Perspective Online > Home[/url] View topic, Posted: Wed Nov 29, 2006 5:48 pm]

Orang lain yang pada awalnya secara individual mendukung teori Aramaik adalah Gustaf Dalman yang menekankan bahwa Aramaik adalah bahasa-tutur pada masa Yesus. Orang-orang Ibrani, yakni orang-orang Yahudi Palestina yang berbahasa-tutur Ibrani yang membentuk kelas terpisah dari para Helenis, pada kenyataannya tidak bertutur-kata Ibrani melainkan Aramaik [Dalman, Gustaf Hermann. Words of Jesus: Considered in the Light of Post-Biblical Jewish Writings and the Aramaic Language. Edinburgh: T. & T. Clark, 1909, p.1; dalam [url=http://www.jerusalemperspective.com]Jerusalem Perspective Online > Home[/url], View topic: Post subject: "Aramaic hypothesis" Posted: Tue Apr 11, 2006 4:07 pm].
Dalman berpandangan bahwa Ibrani Mishnah adalah bahasa tiruan yang direkayasa oleh orang-orang Yahudi yang berpikiran Aramaik, jadi bahasa Aramaik yang di-Ibranikan. Dalman berpendapat bahwa orang-orang Galilea bertutur-kata Aramaik.

Akan tetapi, pandangannya tentang Ibrani Mishnah-Tiruan ini disangkal dan dibuktikan kesalahannya secara panjang lebar oleh M. H. Segal dalam suatu artikel yang panjang pada tahun 1908 [Segal, Moses Hirsch. Mishnaic Hebrew and Its Relation to Biblical Hebrew and to Aramaic: A Grammatical Study. Reprinted from the Jewish Quarterly Review, July, 1908: pp. 91. Horace Hart: Oxford, 1909, dalam [url=http://www.jerusalemperspective.com]Jerusalem Perspective Online > Home[/url] View topic - Who Formulated the Aramaic Hypothesis, Posted: Fri Feb 10, 2006 7:14 am].
Selama abad kedua puluh, penelitian lanjut yang diikuti penemuan Gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls-DSS) dan surat-surat Bar Kokhba telah “mengistirahatkan” teori Geiger tentang Ibrani Mishnah-Tiruan ini. Sejak itu, para ahli Ibrani Mishnah telah lama membuang teori tersebut. Dokumen DSS dan Surat Bar Kokhba telah memaksa para ahli bahasa untuk menilai-ulang semua karya tulis atas bahasa Palestina abad pertama sebelum penemuan dokumen-dokumen tersebut termasuk karya Gustaf Dalman.
Dalam konteks bahasa pengajaran Yesus, Safrai menegaskan dukungannya atas pandangan bahwa Ibrani adalah bahasa yang dipergunakan Yesus dalam pengajaranNya, sebab pengajaran dalam banyak perumpamaan hanya ada dalam kultur Ibrani dan sama sekali tidak ada dalam Aramaik; perumpamaan-perumpamaan ini biasa terjadi dalam tradisi kehidupan rumah-tangga, tidak hanya terjadi dalam Injil, tetapi juga dalam literatur-literatur Rabbinik, dan oleh karena itu tentulah dikomunikasikan dengan bahasa yang merakyat, yakni Ibrani.

Ringkasan


Dari uraian di atas jelas bahwa “Teori Aramaik” mendasarkan anggapan bahwa:
(1) Bahasa Ibrani memudar terus sejak zaman Ezra (menurut pemahaman pro-Aramaik atas
Neh.: 8-9) dan bahkan mati pada masa seputar kehidupan Yesus, dan sebagai gantinya adalah bahasa Aramaik.
(2) Setiap kata “Ibrani” yang muncul baik dalam Injil maupun naskah-naskah non-Injil diartikan bahwa kata itu maksudnya adalah “Aramaik”.
(3) Banyak kata-kata yang dianggap sebagai kosa kata Aramaik muncul dalam Injil, misalnya: Ephata, Abba, Talita kumi, Gabata, Golgota, Bethesda, meskipun ditegaskan oleh penulis PB bahwa beberapa kata itu adalah bahasa Ibrani.
(4) Bahasa Ibrani Mishnaik adalah bahasa “tiruan” hasil rekayasa orang-orang Yahudi, dan dengan demikian tidak mencerminkan bahasa percakapan sehari-hari.

Anggapan-anggapan tersebut telah lama “mengakar” sebagai pemahaman yang “dianggap benar” pada banyak sarjana teologia, bahkan sedemikian kuatnya sehingga anggapan tersebut oleh Herlianto dipandang sebagai “fakta sejarah” (Lihat SYBAI hal. 31-35), sesuatu sikap yang jauh dari budaya akademik dengan menerima apa adanya seluruh anggapan tersebut tanpa melakukan usaha kajian sama sekali khususnya atas teks Alkitab terkait.

Untuk itu mari kita buktikan apakah istilah hibraisti atau hibraik dialekto itu bahasa Aram ataukah benar-benar Ibrani.

1. Kata “bahasa Ibrani” adalah terjemahan dari dua macam kata Yunani, ~Ebrai?sti. –Hebraisti (misal Yoh. 5:2) dan ~Ebrai<di diale,ktw-Hebraidi dialekto (misal Kis. 21:40). Keduanya dalam Pe****ta Aramaik tertulis Ibrait (tyarb[), dan dalam PB Ibrani, Ibrit (tyrIb.[i). Penulisan Pe****ta (Aramaik) dilakukan setelah adanya Alkitab PB, dan kenyataannya tertulis sebagaimana adanya dalam PB Yunani; dengan demikian para penyalin Pe****ta tidak mengindikasikan arti lain untuk istilah tersebut. Jadi dari sini saja mestinya Herlianto sudah harus sadar, namun tidak demikian karena ia tidak melakukan kajian apa pun.

2. Septuaginta (PL dalam bahasa Yunani) dengan tegas membedakan istilah Aramaik yakni Suristi-Syriak dengan istilah Ibrani atau Youdaisti sebagaimana dalam 2Raja 18:26:

“Kemudian Eliakim … berkata kepada Rab-Shakeh, ‘Silakan berbicara kepada hamba-hambamu ini dalam bahasa Aramaik (Suristi,), sebab kami mengerti; tetapi janganlah berbicara dengan kami dalam bahasa Ibrani (secara literal Ioudai?sti,, Youdaisti –Yehuda, bahasa orang-orang Yehuda) sambil didengar oleh rakyat yang ada di atas tembok.’” (2Raja.18:26)
Kata Yunani Suristi (Suristi) terjemahan dari PL-Ibrani ´árämît (demikian juga dalam Targum - Aramaik), dan kata Yunani Ioudai?sti, (Youdaisti), terjemahan dari PL- Ibrani yühûdît (namun di dalam Targum diterjemahkan, yarby[- 'ibrai). Jadi jelas kata ”Aram” itu disalin ke dalam bahasa Yunani menjadi Suristi (Suristi).
Kejadian yang dilukiskan dalam Septuaginta itu (zaman Raja-Raja) terjadi sekitar abad 8 BCE, lebih 200 tahun sebelum kembalinya orang-orang Yahudi yang terasingkan ke Babel pada kira-kira 530 BCE. Fakta ini penting atas permasalahan kita sebab ayat tersebut dengan jelas melukiskan adanya perbedaan antara kata Ibrani (dalam hal ini Youdaisti) dan Aramaik (Suristi)

Istilah Suristi untuk menunjuk pada bahasa Aram sangat jelas menurut Septuaginta seperti dalam Daniel 2:4, Ezra 4:7, dan juga Yes. 36:11,
LXT Daniel 2:4 kai. evla,lhsan oi` Caldai/oi pro.j to.n basile,a Suristi, ku,rie basileu/ to.n aivw/na zh/qi avna,ggeilon to. evnu,pnio,n sou toi/j paisi, sou kai. h`mei/j soi fra,somen th.n su,gkrisin auvtou/
Lalu berkatalah orang-orang Kasdim itu kepada Sang Raja dalam bahasa Aram (Suristi- Suristi,): "Sang Raja, hiduplah dengan kekal! Ceritakanlah mimpi itu kepada hambamu, maka kami akan menyatakan maknanya." (Daniel 2:4)

LXT Ezra 4:7 kai. evn h`me,raij Arqasasqa e;grayen evn eivrh,nh| Miqrada,th| Tabehl su.n kai. toi/j loipoi/j sundou,loij auvtou/ pro.j Arqasasqa basile,a Persw/n e;grayen o` forolo,goj grafh.n Suristi. kai. h`rmhneume,nhn

“Dan pada masa Artahsasta, Bislam, Mitredat, Tabeel dan rekan-rekan mereka yang lain menulis surat kepada Artahsasta, Raja negeri Persia; dan surat itu ditulis menurut tata-tulis Aramaik (Suristi., Suristi), dan diterjemahkan dalam bahasa Aramaik” (Ezra 4:7.)

LXT Isaiah 36:11 kai. ei=pen pro.j auvto.n Eliakim kai. Somnaj kai. Iwac la,lhson pro.j tou.j pai/da,j sou Suristi, avkou,omen ga.r h`mei/j kai. mh. la,lei pro.j h`ma/j Ioudai?sti, kai. i[na ti, lalei/j eivj ta. w=ta tw/n avnqrw,pwn tw/n evpi. tw/| tei,cei

”Lalu berkatalah Elyakim, dan Sebna dan Yoah kepada Rab-Shakeh: "Silakan bertutur-kata bahasa Aram (Suristi,, Suristi) kepada hamba-hambamu ini, sebab kami mengerti; tetapi janganlah bertutur-kata bahasa Yehuda (Ioudai?sti, Youdaisti) kepada kami sambil didengar rakyat yang ada di atas tembok itu." (Yes. 36:11)
Lagi-lagi kata Yunani Suristi adalah terjemahan dari kata Ibrani ´árämît (Targum menuliskan Aramath - tm'ra dan kata Yunani Ioudai?sti, adalah terjemahan dari kata Ibrani yühûdît (Targum menuliskan yühûdat – yühûdît - tydIwhuy> td:whuy>>).
Untuk peristiwa pada masa yang lebih dekat lagi, kedua istilah Hebraisti dan Hebraidi juga dijumpai yakni dalam masa sekitar 150 BCE (175 - 135 B.C.E), masa yang sangat dekat dengan masa kehidupan Yesus; kata Ebrai?sti. ditemui dalam apokrif Sirach Prolog 1:22, dan Ebrai<di dalam 4Makabe 12:7; 16:15:

LXT Sirach Prolog 1:22 auvta. evn e`autoi/j Ebrai?sti. lego,mena kai. o[tan metacqh/| eivj e`te,ran glw/ssan …
KJA Sirach Prolog 1:22 For the same things uttered in Hebrew (Hebraisti) and translated into another tongue, [Sebab, hal-hal yang sama yang diucapkan dalam bahasa Ibrani (Hebraisti) dan diterjemahkan dalam bahasa lain, …]

LXT 4 Maccabees 12:7 o` de. th/j mhtro.j th/| Ebrai<di fwnh/| protreyame,nhj auvto,n w`j evrou/men meta. mikro.n u[steron …
RSV 4 Maccabees 12:7 But when his mother had exhorted him in the Hebrew language (Hebraidi phone), as we shall tell a little later, [Akan tetapi, ketika ibunya telah mendesaknya dalam bahasa Ibrani (Hebraidi phone), sebagaimana kami akan menceritakan sedikit kemudian,]

Judas Maccabee adalah seorang pemimpin pejuang Yahudi yang sangat tangguh dan berhasil melawan “penjajah Romawi”. Dalam perlawanannya (166-160 BCE), dikenal dengan slogan Ibrani, “mi kamocha ba'elim hashem - Who is like you among the gods, O Lord” - Siapa yang seperti Engkau di antara para dewa itu, Ya Sang Nama (Yahweh). Akrostik Ibrani untuk kata Maccabee tersebut merupakan slogan-teriakan para pejuang Yahudi yang berjuang secara heroik. ([url]http://www.rainmall.com/hanukkah/history.htm[/url])

Ketenaran Maccabee terekam dalam bukunya (Apokrif) Makabe 1-4 (5) yang merupakan salah satu kitab dalam Septuaginta; buku ini juga ditemui dalam koleksi Sefer HaChitzonim. Buku 1Maccabee diduga ditulis pada tahun 100 BCE segera setelah kematian John Hyrcanus I, oleh penulis Yahudi yang tak dikenal, dalam bahasa asli Hebrew Vorlage yang naskah aslinya sudah hilang (George Lyons, Professor of Biblical Literature, for the Wesley Center for Applied Theology at Northwest Nazarene University). Dengan demikian hingga zaman Maccabee, bahasa Ibrani sebagai bahasa percakapan (slogan) dapat diuji jejaknya.
Reply With Quote
  #8 (permalink)  
Old 22nd February 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Dec 2006
Posts: 52
Sugiyarto has a little shameless behaviour in the past
Default ALLAH NAMA SIAPA: Tanggapan Herlianto (3) Lanjutan2

3. Yosefus

Kedua istilah tersebut di atas ternyata juga dipakai oleh Yosefus (37-100 C.E) dalam bukunya “Antiques of the Jews” (Keantikan orang-orang Yahudi); ia satu-satunya seorang sejarahwan Yahudi yang menjadi saksi penghancuran Bait Suci Yerusalem Kedua (~70 CE), jadi hidup sangat dekat sesudah kematian Yesus, bahkan boleh dikatakan “semasa” dengan-Nya atau lebih tepat sezaman PB. Yosefus menjelaskan keantikan orang-orang Yahudi berdasarkan Kitab Ibrani mereka (yakni PL Ibrani bukan Septuaginta) sebagaimana dituliskan dalam prawacananya (Antiques, Preface 2:1-2):

“Now I have undertaken the present work, as thinking it will appear to all the Greeks worthy of their study; for it will contain all our antiquities, and the constitution of our government, as interpreted out of the Hebrew Scriptures. …” (Josephus: “The Antiques of the Jews”, Preface, 2:1-2; Joe. Ant 1:5 Bible Works 6)

[“Sekarang saya telah melaksanakan karya ini, sebagaimana saya pikirkan, ini akan nampak berharga bagi semua orang Yunani untuk studi mereka; sebab ini akan berisi seluruh keantikan kami, dan konstitusi pemerintah kami, sebagaimana diinterpretasikan dari Kitab Suci Ibrani. ..”]

Di sini dia menyatakan bahwa Kitab Suci Ibrani (PL) itu menjadi sumber utama materi karyanya. Ia membedakan dengan tegas antara kata / istilah Ibrani dan Aramaik dalam penjelasannya atas teks sebagaimana dalam JOE.Ant. 10:8 dan 11:159 (BibleWorks 6),

JOE Ant 10:8 (Ant. 10.1.2) When Rabshakeh had made this speech in the Hebrew tongue (e`brai?sti), for he was skilful in that language, Eliakim was afraid lest the multitude that heard him should be disturbed; so he desired him to speak in the Syrian tongue (suristi.). But the general, understanding what he meant, and perceiving the fear that he was in, he made his answer with a greater and a louder voice, but in the Hebrew tongue (e`brai?sti), and said, that ``since they all heard what were the king's commands, they would consult their own advantage in delivering up themselves to us;

[Ketika Rabshakeh telah menyampaikan pidatonya di dalam bahasa Ibrani (Hebraisti) itu, sebab ia mahir dalam bahasa itu, Eliakim menjadi takut kalau-kalau orang banyak itu yang mendengarnya menjadi gelisah; maka dia menghendakinya untuk berbicara dalam bahasa Syria-Aram (Suristi). Akan tetapi, komandan yang mengerti apa yang dia maksudkan, dan yang ia merasa takutkan, dia menjawab dengan suara lantang, namun dalam bahasa Ibrani (Hebraisti), lalu berkata bahwa, …. ]

Uraian Yosefus ini jelas berkaitan dengan teks Alkitab Ibrani bangsa Israel (PL) sebagaimana dinyatakan dalam prawacana tersebut, yakni dengan 2Raja 18:26 yang telah kita ungkap di atas.

Dari sini kita menjadi tahu bahwa kata Youdaisti (bahasa Yehuda), yang juga ditemui dalam Yesaya 36:11 (bersama-sama dengan kata Suristi), dijelaskan oleh Yosefus sebagai bahasa Ibrani (Hebraisti); dan ini menjadi tegas bahwa orang-orang Yehuda pun memang berbahasa Ibrani ketika Yosefus berbicara perihal Nehemiah (Ant. 11:5:6 - JOE.Ant. 11:159-160 BibleWorks 6). Selain itu, untuk mengekspresikan kata bahasa Syria (yang sering juga disebut bahasa Aram) dipakai istilah Yunani Suristi.

JOE Ant 11:159-160 (Ant. 11:5:6), Now there was one of those Jews that had been carried captive, who was cupbearer to King Xerxes; his name was Nehemiah. As this man was walking before Susa, the metropolis of the Persians, he heard some strangers that were entering the city, after a long journey, speaking to one another in the Hebrew tongue (e`brai?sti); so he went to them, and asked them where they came; and when their answer was, that they came from Judea, he began to inquire of them again in what state the multitude was, and in what condition Jerusalem was;

[Adalah seorang dari orang-orang Yahudi itu yang telah dibawa sebagai tawanan, yang menjadi pembawa cawan minuman Raja Xerxes; namanya Nehemiah. Ketika dia sedang berjalan sebelum Susa, kota besar orang-orang Persia, dia mendengar beberapa orang tak dikenal yang sedang memasuki kota itu setelah perjalanan jauh, sedang bercakap-cakap satu-sama lain dalam bahasa Ibrani (Hebraisti); maka dia pun mendatangi mereka dan menanyainya dari mana mereka datang; dan jawabannya adalah bahwa mereka datang dari Yudea (Youdaia); dia selanjutnya mulai menanyai mereka lagi dalam keadaan mental bagaimana sekumpulan orang itu, dan bagaimana keadaan Yerusalem;]

Jadi, kita melihat bahwa Yosefus menggunakan kata / istilah yang sama untuk kata “Ibrani” (Hebraisti) yang menunjuk pada bahasa milik mereka, sebagaimana kata “Ibrani” (Hebraisti) yang ada di dalam Septuaginta maupun dalam PB Yunani. Andaikata Yosefus telah berkehendak untuk menyatakan bahwa bahasa milik mereka adalah Aramaik, mengapa dia tidak melakukannya dengan memakai istilah Suristi? Ia mengetahui dengan pasti perbedaan antara keduanya sebagaimana ia mencatat dalam penjelasannya atas 2Raja. 18:26. Dengan kata lain, sesungguhnya kita telah ditunjukkan adanya konsistensi peristilahan untuk menyatakan Ibrani dan Aramaik mulai dari zaman Israel sebelum pembuangan Babel (Kitab Raja-Raja) hingga zaman PB.

Kemudian di dalam Peperangan orang-orang Yahudi (Wars of the Jews atau sering disingkat saja Wars) 5:9:2 (JOE.Jwr 5:361 – BibleWorks 6) berkenaan dengan pemimpin Roma, Yosefus menyatakan,

“Tetapi kemudian Titus … mengirim Yosefus untuk berbicara kepada mereka (orang-orang Yahudi) di dalam bahasa mereka; sebab ia (Titus) membayangkan mereka mungkin menyerah atas bujukan dari seorang yang senegeri milik mereka.”
Dan selanjutnya dalam 6, 2, 1, (JOE. Jwr 6:96 – Bible Works 6) Yosefus berkata dengan istilah-istilah yang terang,

“Atas dasar itu, Yosefus berdiri di suatu tempat di mana dia dapat didengar, tidak hanya oleh Yohanes saja, tetapi oleh lebih banyak lagi, dan kemudian menyatakan kepada mereka apa yang Kaisar telah berikan tugas kepadanya, dan (kata-kata) ini di dalam bahasa Ibrani [e`braiζwn– hebraidzon].”

Atas dasar itu semua, kita dapat menyimpulkan bahwa Yosefus yang tentu saja mengetahui bahasa yang dipakai bertutur-kata orang-orang Yahudi di Yerusalem ketika dia berbicara atas nama (Jenderal) Titus dalam bahasa mereka (yakni, orang-orang Yahudi), ternyata sama dengan bahasa Perjanjian Lama, yang adalah Ibrani. Perlu ditegaskan bahwa Yosefus menulis buku-bukunya beberapa tahun setelah penghancuran Bait Suci Kedua. Ini berarti bahwa pada masa sekitar itu penduduk Yerusalem sedang bertutur-kata dalam bahasa Ibrani sebagai bahasa-ibu, yakni bentuk bahasa yang tentu paling sesuai dalam percakapan. Jadi, andaikata bahasa Ibrani telah mati untuk percakapan (sebagaimana anggapan pro-Aramaik), mengapa Yosefus mesti mendesak mereka “untuk menyerahkan diri mereka” kepada tentara Romawi dengan bahasa mati yang hanya dipakai dalam pelayanan keagamaan? Lebih lanjut, Yosefus, yang memahami bahwa ribuan nyawa orang-orang Yahudi, kerabatnya yang sedang berada dalam taruhan mempertahankan Tembok Yerusalem, tentu akan menggunakan bahasa yang paling mudah dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman, dan bahasa ini tentulah bahasa percakapan. (Bandingkan dengan kasus pertobatan Paulus kepada Yesus, Kis. 26:14- dan saat-saat genting penjelasan Paulus dengan masa penuntutnya, Kis. 21:40-). Dengan kata lain Bahasa Ibrani sebagai bahasa percakapan di negeri Israel masih berlaku hingga kejatuhan Yerusalem kedua dalam konteks ini (bahkan hingga zaman perjuangan Simon bar Koba).

Namun barangkali istilah dialekto (sering juga dialekton) dalam hebraidi dialekto (Kisah Para Rasul 21:40; 22:2; 26:14) kurang meyakinkan para pro-Aramaik (sebagaimana pernyataan Herlianto) ketika kedua kata itu diterjemahkan sebagai bahasa, meskipun mudah dipahami bahwa kata dialek tentu menggambarkan bahasa yang dimaksud dengan perbedaan “logat” saja. Namun demikian, keraguan itu sama sekali tidak beralasan ketika kita dihadapkan pada satu contoh dalam karya Yosefus, Antiq. 5:121, (bandingkan dengan Yosua 10:1, 3, dan Hakim 1:5-7)

… having put the government into the hands of Adonibezek (VAdwnizebe,kw), which name denotes the Lord of Bezek (Zebekhnw/n ku,rioj), for Adoni (avdwni), in the Hebrew tongue (~Ebrai,wn diale,ktw), signifies Lord (ku,rioj). Now they hoped to have been too hard for the Israelites, because Joshua was dead;

[……setelah menyerahkan pemerintahan ke dalam tangan Adonibezek (Adonizebek), yang namanya menyatakan Tuan Bezek (Zebek), sebab Adoni dalam bahasa Ibrani (hebraion dialekto) berarti Tuan (kurios). …]

[Catatan: Secara konsisten, Septuaginta menulis AdoniBezek (Adwnibezek) dalam Yos. 10:1,3, dan Hak. 1:5,6,7 (juga dalam Apokrif Hak. 1: 5,6,7); sementara itu Masoretik-PL Ibrani menulis AdoniSedeq dalam Yos. 10:1,3, namun AdoniBezeq dalam Hak. 1:5,6,7; sedangkan Yosefus menulis Adwnizebe,kw| AdoniZebek, namun agak mengherankan terjemahan bahasa Inggrisnya AdoniBezek (Antiq. 5:121, 122) ]
Ayat ini merupakan kepastian bahwa kata dialekto tidak bisa lain kecuali benar-benar berarti bahasa, sebab memang kata adoni (avdwni) adalah murni kosa-kata bahasa Ibrani (ynda) yang artinya Tuan, bukan Aramaik (dalam bahasa Aramaiknya adalah mara - hrm).
Grintz. J. M (Journal of Biblical Literature, 1960, 32-47, dalam D. Bivin, and R. Blizzard, Jr., 2001, Understanding the Difficult Words of Jesus) menyatakan:
“An investigation into writings of Josephus demonstrates beyond doubt that whenever Josephus mentions Hebrew tongue (glotta Ebraion), Hebrew dialect (Ebraion dialekton), etc., he always means “Hebrew” and no other language” (Grintz, 1960:42).
[“Penyelidikan atas tulisan Yosephus mendemonstrasikan tanpa keraguan bahwa kapan saja Yosefus menyebut bahasa Ibrani (glotta Ebraion), dialek Ibrani (Ebraion dialekton), dsb. ia maksudkan selalu ‘Ibrani’ dan bukan bahasa lain”].

Dua contoh gemilang ditunjukkan berikut ini:
“… we celebrate a rest from our labors on that day, and call it the Sabbath (Sabbata), which word denotes rest in the Hebrew tongue (Ebraion dialekton).” (Antiquities, I, I, 1, dalam JOE Ant 1:33).

[…kita merayakan satu hari istirahat dari bekerja pada hari itu dan menyebutnya Sabbat, kata yang berarti istirahat dalam bahasa Ibrani”]
Dalam contoh tersebut Grintz menyimpulkan bahwa Josefus menuliskan kata Sabbata dari kata Ibrani “ShBT” yang berarti beristirahat sesuai dengan Kitab Suci Ibrani (Kej. 2: 2). Dalam bahasa Aramaik, kata kerja “ShBT” tidak ada melainkan “NCH”.

“…This man was called Adam, which in the Hebrew tongue (glottan to Ebraion) signifies one that is red, because he was formed out of red earth, …” (Antiquities, I, I, 2, , dalam JOE Ant 1:34).

[… Manusia ini dipanggil Adam, yang dalam bahasa Ibrani berarti merah, sebab ia dibentuk dari tanah merah, …”]
Dalam contoh tersebut Grintz menyimpulkan bahwa Josefus menuliskan kata Adam (artinya manusia, Strong, no. 120) dari bahasa Ibrani “adom” (Strong, no. 122) yang artinya merah; sementara itu kata “merah” dalam bahasa Aramaik adalah “sumka”, dan tidak ada akar kata “ADM”.

Pertanyaannya adalah apa yang sesungguhnya terjadi pada pro-Aramaik - Herlianto? Istilah Hebrew tongue yang diterjemahkannya sebagai lidahnya orang Ibrani dan dipahami sebagai bahasa Aram menunjukkan bahwa yang bersangkutan sama sekali tidak melakukan penyelidikan atau menyediakan bukti apapun terhadap maksud kata dialekto- tongue tersebut, dan nampaknya justru terjebak dengan menerjemahkan bahasa Inggrisnya tongue.

4. Surat Aristeas

Surat Aristeas ditulis dalam bahasa Yunani pada kira-kira 200 BCE di Aleksandria-Mesir, dan menyatakan bahwa Kitab Torah diterjemahkan dalam tujuh puluh dua hari oleh tujuh puluh tua-tua Yahudi; surat ini menyebutkan bahwa walaupun mereka (orang-orang Yahudi) di Israel dianggap berbahasa-tutur Aramaik, kenyataannya mereka berbahasa-tutur dengan bahasa (lain) yang berbeda, dan bukan Aramaik. Aristeas menulis,

'They need to be translated,' answered Demetrius, 'for in the country of the Jews they use a peculiar alphabet (just as the Egyptians, too, have a special form of letters) and speak a peculiar dialect. They are supposed to use the Syriac tongue, but this is not the case; their language is quite different.' (The Letter of Aristeas, 11, by R.H. Charles-Editor)

‘Kitab-kitab Suci Ibrani itu (Pentateuch) perlu diterjemahkan,’ jawab Demetrius, ‘sebab di negeri orang-orang Yahudi, mereka memakai alfabet yang aneh (seperti halnya orang-orang Mesir juga mempunyai bentuk huruf-huruf yang khas) dan bertutur-kata dialek (bahasa) yang aneh. Mereka dianggap menggunakan bahasa Syriak (Aramaik), tetapi hal ini tidak demikian; bahasa mereka sangat berbeda.’
Dalam hal ini Dr. Buth menjelaskan,

“Banyak orang-orang Yahudi di Mesir mengerti dan menggunakan bahasa Aramaik dan banyak komunikasi dari Israel diterima dan dimengerti dalam bahasa Aramaik. Ini menjelaskan mengapa banyak orang dapat beranggapan bahwa Aramaik itu bahasa Yehuda (sebagaimana Israel disebutnya masa itu). Akan tetapi, penulis Aristeas mengetahui lebih baik.” (Buth 1987:29, dalam Hamp 2005).

Surat Aristeas ini memberi tahu kita bahwa orang-orang Yahudi di Israel pada saat itu kira-kira satu - dua abad sebelum Yesus tidak berbahasa Aramaik, dan ini pun bukan untuk dipahami sebagai dialek Aramaik; dalam kasus ini diungkapkan dengan kata Yunani eteros yang berarti sesuatu yang berbeda jenis secara total. Hal ini tidak untuk dipahami bahwa tidak ada orang di Israel berbicara dalam bahasa Aramaik; kenyataannya, mereka melakukannya namun bukan sebagai bahasa utama di dalam percakapan mereka.
Apa yang perlu kita pahami adalah bahwa terdapat orang-orang selain Yahudi yang tinggal di Israel pada masa itu, dan urusannya orang-orang Yahudi dengan mereka sering dilakukan dalam bahasa Aramaik. Akan tetapi, di dalam lingkungan mereka sendiri, orang-orang Yahudi bertutur-kata dalam bahasa Ibrani. Shmuel Safrai menegaskan,
“Aramaik adalah bahasa komunikasi antara orang-orang Yahudi dengan mereka yang non-Yahudi yang tidak berurusan dengan pemerintahan atau yang tidak tinggal di perkotaan Yunani. Seorang non-Yahudi yang biasanya disebutkan dalam literatur rabbinik menunjuk pada orang Aramean dan umumnya memiliki nama Aramaik ketimbang Yunani (Tosefta, Pesahim 1:27)” (Safrai 1991ª, dalam Hamp 2005).

“Perbedaan” bahasa (istilahYunaninya eteros) yang ditulis dalam Surat Aristeas itu adalah Mishnaik Ibrani. Mereka tidak dapat memahami dengan baik Ibrani Alkitabiah yang tua (yakni Standar Ibrani Alkitabiah, SBH, bahasa masa Daud dan Yesayah, dan yang lain), tetapi demikian juga tidak bertutur-kata Aramaik. Kita dapat pula menyimpulkan dari surat Aristeas itu bahwa “perbedaan” bahasa itu bukanlah dalam bahasa Yunani sebab terjemahan Torah Kitab Suci Ibrani ke dalam bahasa Yunani hanya diperlukan untuk orang-orang Yahudi di Aleksandria-Mesir bukan di Israel. Apa yang perlu kita sadari adalah bahwa “kesaksian” Aristeas atas bahasa percakapan orang-orang Yahudi di negeri Israel pada masa itu jelas lebih dapat dipercaya ketimbang “khayalan” dugaan Herlianto pro-Aramaik. Aristeas tentu mengerti betul, mana bahasa Aramaik, tetapi merasa “tidak familiar” atas bahasa orang-orang Yahudi di negerinya saat itu yakni “Ibrani Misnahik”, yang olehnya ditegaskan bukan Aramaik.

Sdr. Herlianto, untuk sementara perihal kebenaran kata ”Ibrani” ya ”Ibrani” bukan Aramaik sebagaimana khayalan Anda saya hentikan dulu; namun saya ”menantang” Anda untuk menguraikan kata-kata yang dinyatakan bahasa Ibrani dalam PB apakah benar-benar Ibrani, ataukah Aramaik, meskipun saya seorang akademisi. Saya belum menguraikan kesaksian para bapa gereja demikian juga arti kata-kata yang dinyatakan Ibrani oleh penulis PB.

Herlianto menulis: (4)

Soal ‘Allah’ itu ‘berasal ‘Al Ilah’ atau bukan, sekalipun ada dosen bergelar S2 menolaknya, umumnya umat Islam menyebut begitu. Baik Ensiklopedia Islam maupun Ensiklopedia Britannica menyebut ‘Allah’ sebagai kontraksi ‘Al Ilah.’ Apakah tepatnya ‘Allah’ = Al Ilah = Al Illah, atau Al Allah, tidaklah penting, sebab dalam bahasa lisan sebelum berkembang dalam bentuk tulisan, ucapan dan maksudnya sama. Menarik untuk diketahui bahwa dalam penemuan arkaeologis tua lebih dari satu milenium sebelum kelahiran Islam ternyata ‘nama Allah’ sudah disebutkan sebagai nama diri dalam beberapa inskripsi yang ditemukan. Artikel ‘Allah Before Islam’ dalam ‘The Muslim World’ (Vol.38, 1938, hlm. 239-248) mencatat bahwa suku-suku Arab kuno ‘Lihyan’ dan ‘Thamudic’ yang bermukim di Jazirah Arab bagian Utara, meninggalkan inskripsi bertuliskan banyak nama ‘Allah’ sebagai nama diri. Pendahulu suku ‘Lihyan’ adalah suku ‘Dedan’ yang dalam Alkitab disebutkan sebagai keturunan Ketura, isteri Abraham (Kej.25:1-3).

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto (4)

He 4x. Anda benar-benar menunjukkan sikap yang jauh dari kejujuran akademik. Anda memamerkan refere lain, lalu saya demikian juga untuk menyangkalnya; namun, kemudian Anda berdalih menjadi tidak penting apakah kata ”Allah” itu kependekan dari ”Al Ilah” atau tidak. Saya justru menganggap sebaliknya, umumnya orang muslim berpendapat bahwa kata ”Allah” sudah sebagaimana adanya tidak berasal-usul, proper name da tentu proper noun. Seorang Profesor dosen IAIN Yogya juga menyetujui demikian ketika seminar di Duta Wacana, 2003. Justru teolog kristianilah yang menggemborkan bahwa Allah = Al Ilah. Jadi saya sama sekali tidak percaya pernyataan Anda tersebut. Jika Anda memamerkan referensi, tentu saya juga dengan mudah memamerkannya. Simak beberapa referensi berikut meskipun saya tidak yakin Anda mau membacanya.

Allah – Arabic الله allâh: the Arabic proper name for the Supreme Deity. The exact derivation of this word is unclear, but it is likely related to the Aramaic Alaha and to the ancient Hebrew El. (Note that the name 'God' is a relatively new, and perhaps unfortunate, European invention that has been the source of much misunderstanding, fear and hatred.) [Glossary for The Sufi Message of Hazrat Inayat Khan (Updated August 15, 2005), [url]http://wahiduddin.net/mv2/mv_glossary.htm][/url]

ALLAH is the proper name of God among Muslims, corresponding in usage to Jehovah (Jahweh) among the Hebrews. Thus it is not to be regarded as a common noun meaning 'God' (or 'god'), and the Muslim must use another word or form if he wishes to indicate any other than his own peculiar deity. Similarly, no plural can be formed from it, and though the liberal Muslim may admit that Christians or Jews call upon Allah, he could never speak of the Allah of the Christians or the Allah of tire Jews. [Encyclopedia of Religion and Ethics, James Hastings, Allah p 326; [url]http://www.bible.ca/islam/islam-allah-pre-islamic-origin.htm][/url]
The Shorter Encyclopedia of Islam (1965), says that Allah, "... was and is the proper name of God among Muslims ..."

Some other references that he cited regarding Allah being a proper name include the following:

Presented in Islam as the proper name of God. (Encyclopedia of Religion, 1987, p. 27)
The proper name of God among Muslims ... (Encyclopedia of Religion and Ethics, 1962, p. 326

Nah, kita bisa menguji kebenaran semua referensi tersebut, dan ternyata sudah saya buktikan; sementara itu Anda hanya nekat saja menabrak kaidah berbahasa.
Lalu andaikata temuan arkeologis tua yang umurnya milenium sebelum Islam itu betul, ini justru akan memperkokoh pemahaman bahwa kata ”Allah” memang nama diri-proper noun, sebagaimana saya argumentasikan kepada Anda. Sementara itu Al Ilah jelas bukan nama diri. Jadi, oleh karena nama diri itulah tidak dapat diakomodasi dalam teks Alkitab PL-PB. Nampaknya Anda kebingungan istilah nama diri proper noun dengan nama generik common noun.

Maaf, argumentasi Anda semakin sekenanya, karena Anda sama sekali tidak mau belajar dari apa yang sedang Anda pertahankan perihal kata “Allah”, mana mungkin ada istilah Al Allah. Anda beralasan “sebab dalam bahasa lisan sebelum berkembang dalam bentuk tulisan, ucapan dan maksudnya sama”. Tentu saja, lalu apa maksudnya? Perlu disadari bahasa Arab ada aturan bacanya yang sangat rigid. Justru kita menjadi yakin ketika apa yang diucapkan itu berupa bentuk tulisan khususnya bagi mereka yang tidak mengucapkannya. Jika yang Anda maksudkan ”Al Ilah” terucap ”Allah” itu menunjukkan ketidak tahuannya saja. Andaikata seorang Indonesia non english speaking mendengar temannya mengucapkan ”Presiden Amerika adalah George Bush”, lalu orang ini yang mendengarkan bisa menirukan, tetapi ketika membuat teks menulis ”Presiden Amerika adalah Jos Bus”, lalu diajarkan kepada para muridnya, demikiankah yang anda maksudkan?? Jika inskripsi kuno yang memuat ”Allah” itu sebagai nama diri, ini kan didasarkan dari alat ukur tertulis saat ini yakni Quran. Anda sepertinya tidak mengerti apa yang sedang Anda pertahankan.

Herlianto menulis: (5)


Kita mengetahui bahwa bahasa Arab diturunkan dari bahasa Nabatea Aram dan semula ditulis dalam inskripsi yang menjadi kata benda bukan ‘ilah’ tetapi ‘allah!’
“The Syrian, however, raised the common noun for “god”, allah, to the dignity of a proper name by affixing the determining element “a”: allaha=”the god”, then “God”. … When the Lihyanites took over the proper name, Allaha, they arabicized it by dropping the determining element “a”.” (The Muslim World, hlm.247).

Tanggapan Kristian H. Sugiyarto (5)

Nah, di sini Anda hanya menerima referensi begitu saja tanpa mampu mengujinya, yang menunjukkan Anda kebingungan membedakan proper noun nama diri dengan common noun nama generic. Kata “God /god” jelas common noun, dalam pemakaiannya misalnya saja, my god/my God. Akan tetapi kata “allah” jelas proper noun bukan common noun; yang common noun adalah kata ”ilah”, dan inilah yang mestinya diterjemahkan “God/god”, sebab memang secara grammar dapat dituliskan my ilah (ilahiy) selain aspek plural-singular.

Nampaknya Anda yang maniak dengan kacamata Aramaik, ternyata tidak mampu menguji kata “god/God” dalam bahasa Aram-Syria. Coba tuliskan dengan benar, Elah/Alah-Elaha/Alaha ataukah allah-allaha (double “l”)? Jika ingin bersikap akademik, tolong tunjukkan sama saya tulisan aramaik yang disalin menjadi allah-allaha (double “l”), sebab yang saya temui adalah hanya single “l”.

Jika Anda menerima referensi tersebut yang menyatakan bahwa allaha tepatnya alaha = “the god” then “God” (persis pendapat Bambang Norsena) ini menunjukkan bahwa Anda memang tidak mampu mengujinya dalam teks bahasa Inggris, atau paling tidak Anda tidak pernah memperhatikan teks English Bible. Perhatikan contoh berikut:

NIV Genesis 9:26 He also said, "Blessed be the LORD, the God of Shem! May Canaan be the slave of Shem.

NIV Genesis 16:13 She gave this name to the LORD who spoke to her: "You are the God who sees me," for she said, "I have now seen the One who sees me."

Sdr. Herlianto, pertanyaannya adalah, jika “the god” = “God”, lalu “the God” apa sama dengan “the the god”? Inikah kemampuan “dagelan akademik Anda”!!

Apakah NIV tidak mampu berbahasa Inggris dengan benar? Kata “the” adalah definit artikel, jadi pemakaiannya ya seperti umumnya bahasa lain yang memiliki definit artikel. Jadi, pemakain”huruf kapital” (dalam hal ini “G”) sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemakaian artikel ”the”, melainkan hanya untuk membedakan “God” yang beneran (true) memakai huruf kapital dengan “god” yang palsu (false) atau dewa-dewaan saja. Ini kan sudah saya tanggapi sebelumnya.
Reply With Quote
  #9 (permalink)  
Old 22nd February 2008