Quote:
Originally Posted by DEJAVUMANOWAR
Wah....lari ama ngak, ngak ada hubungan dengan nasionalisme pak...
Apalagi china apa nonchina tapi ,ada ngak sarana dan prasarana yang mendukung di saat mei tersebut.
Sudah tau tetangga diperkosa tapi ngak lari padahal ada helicoter di atas rumah itu mah tolol.
Sebagai contoh extreme gue mah kalo dikasih pistol aja rela lupain nasionalisme and hukum kasih untuk menembak perkosaan biadab didepan gue.../ ngemeng2 elu sudah pernah liat gadis china diperkosa rame2 dimobil di keramain kota??
Jadi semua china ingin kabur tapi terkendala karena ngak ada sarana dan prasarana di saat kejadian tsb-bukannya balik ke orangnya masing-masing pak(wong dikala saat itu para china sudah dianggap binatang). 
PS: post saya tsb ngak ada dalam kamus...tapi di hati ortu china yang anak gadisnya jadi korban mei.
brrrrr
|
hmnnnnn............fasilitas! gak punya duit....gitu.
mungkin ini yang menjadi kendala kenapa yang pengen "kabur" tapi masih tinggal disini.....
kenapa dianggap binatang.....?
mungkin dua faktor yang pernah saya sebutkan itu bisa dijadikan variabelnya???
1. orde lama = Indonesia cenderung ke kiri ke RRC, kemudian pada adegan selanjutnya, komunis kalah dan dimenangkan oleh kaum kanan..... sehingga etnis tionghua yang tinggal di indo pun terikut dalam hal itu
2. orde baru = penguasa memberikan patronase, kemudian adegan selanjutkan adalah balas dendam, dan pada mei mungkin itu efek domino dirasakan secara merata oleh etnis tionghua....
saya sedang coba mengerti bagaimana perlakuan tersebut bisa terjadi...
yang kemudian rasa ingin "kabur" terus dipikirkan kebanyakan etnis tionghua.
mungkin yang bukan etnis tionghua, kurang bisa mengerti rasa ketakutan tersebut. dimana seluruh keluarga, sanak saudara, teman se-etnis.... ingin segera meninggalkan indo, apalagi dipicu dengan kejadian mei itu..
walaupun tidak semua etnis tionghua ingin kabur...