Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | IM LIST | BOOKMARK US | HELP GUIDE | LANGUAGE:


Go Back   Forum Diskusi Kristen Internasional > AP - LOUNGE > Kotak Info > Politik
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #41 (permalink)  
Old 28th June 2008
jo-hnz's Avatar
Indonesia Pasti JAYA!
 
Join Date: Jun 2004
Location: Indonesia
Posts: 1,985
jo-hnz will become famous soon enoughjo-hnz will become famous soon enough
Send a message via Yahoo to jo-hnz
Default

Quote:
Originally Posted by Plainbread
Anda suka mengkritisi orang2 lain yang anda lihat sebagai orang yang tidak berbuat apa2, hanya berdoa saja. Saya sih tidak tersindir dengan kritik atau sindiran seperti itu, tapi saya mempertanyakan balik, dari mana anda tau kalo mereka yang anda katakan itu cuma berdoa saja tanpa berbuat. Apakah anda memantau semua yang mereka lakukan? Kalo ini caranya anda untuk mengajak orang untuk melakukan aksi (dengan bilang ke mereka "berdoa saja tanpa berbuat"), believe me, gak bakal berhasil
Maaf banget..... Malahan kritisi itu bukan ditujukan kepada anda kok. Jadi memang anda tidak perlu merasa tersindir atau terkritik.

Memangnya siapakah anda yang merasa harus dikritik atau disindir ?
__________________
Count down to Hari Bhakti Bagi-mu Ibu Pertiwi - 1 September 2009

Bhinneka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma Mangrwa
Mari BerKampanye untuk Integritas Nasional dan Perdamaian Dunia.

Last edited by jo-hnz : 28th June 2008 at 01:28 PM.
Reply With Quote
  #42 (permalink)  
Old 28th June 2008
tnt-here's Avatar
peZIaRah ImAn
 
Join Date: Dec 2004
Posts: 1,603
tnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enough
Default

Quote:
Originally Posted by JC4Life View Post
Kedua kalimat pertama dalam paragraf pertama di atas saya anggap sebagai pikiran utama (thesis) Anda. Betul adanya.

Namun kemudian paragraf paragraf selanjutnya hanya berisi pembenaran pembenaran dengan mengutip teori sosiologi ini itu, yang pada akhirnya menyerang kalimat thesis Anda sendiri.


Apa bedanya Anda dengan pengusung insiden Monas? (mereka juga berdalih bahwa mereka mengalami "kekerasan struktural" oleh pemerintah yang tidak mau membubarkan Ahmadiyah. ...namanya juga pembenaran, bukan kebenaran.

Catatan: Tidak tepat kalau Anda mencari "simpati" dari jo-hnz, karena saat ia di Monas, posisinya adalah melindungi diri, membela diri dari serangan fisik. Kalau mahasiswa-mahasiswa di Gedung MPR dan di depan Atmajaya itu justru pelaku kekerasan itu sendiri, kok.
Walah sepertinya anda tidak melihat argumentasi saya dr sudut pandang reflektif.. Pantas gak mudeng dengan maksud saya ...

Saya menggunakan teori kriminologi (bukan sosisologi) tentang kekerasan struktural untuk mendudukkan persoalan kekerasan yg dilakukan oleh mahasiswa secara blak-blakan.. Ini bukannya pembenaran atau membenarkan tetapi inilah realitas yg sedang menggejala di seluruh antero bangsa ini. Ada sebuah fenomena psikologis masyarakat frustasi yg seperti arang yg siap disulut bensin ketika ada aksi maka reaksi yg mungkin muncul adalah penyelesaian dengan tidak menggunakan akal sehat tetapi emosional (kekerasan)... Kondisi psikologis ini yg harus kita cermati terlebih dahulu untuk melihat permasalah ini secara clear...

Yg kedua saya menggunakan teori sebab dan akibat untuk mendudukkan kasus ini. Dan anda jelas sengaja memutar balikkan pernyataan saya dengan tidak memasukkan argumentasi saya mengenai sebab yg terlihat dilapangan yg memancing kerusuhan

Quote:
Nah para mahasiswa (dan orang2 yg pro rakyat) menyadari hal ini. Segala upaya sudah dilakukan mulai dari dialog, mengajukan position paper (anak2 UI biasanya suka melakukan hal ini) bahkan demonstrasi.Nah apakah pemerintah mempertimbangkannya ataukah hanya mendengar dr telinga kiri lalu keluar dr telinga kanan? Nah sebagai penguasa jika suatu kebijakan sudah dikeluarkan itu kemungkinannya kecil sekali untuk merubahnya atau menggantinya kecuali ada people power.

Saya pikir aksi mahasiswa kemarin adalah ekspresi dari kemarahan rakyat yg terpendam, mengingat yg diserang adalah simbol-simbol pemerintahan seperti DPR, polisi, mobil polisi, mobil plat merah yg merupakan simbol-simbol penguasa. Apalagi jika melihat dinamikan dilapangan kejadian rusuh terjadi dipicu ketidaksediaan dewan mengijinkan mahasiswa masuk melihat sidang hak angket, dan tidak adanya perwakilan DPR yg menemui mahasiswa, kemudian ada upaya pengusiran aksi mahasiswa dengan menggunakan alat2nya seperti water canon dan gas air mata. Memang tidak ditutup kemungkinan adanya penyusup di dalam massa aksi seperti yg sy lihat ada perhimpunan tani Indonesia (bg aktivis pasti bisa menduga masa siapa ini) yg ditangkap polisi.
Paralel dengan pernyataan saya, ada opini menarik dari sawung (pemilik blog intelejen bandung) di forum pembaca kompas yg agak mirip

Quote:
Lah diluar kalo demo juga ada yang bakar-bakar atau rusuh.
Lihat tempat pertemuan tahunan G8 pasti jadi rusuh tuh, kecuali jika
dilakukan di negara otoriter.
Rusuh atau tidak bergantung dengan aparat dan sasaran yang didemo.
Kalo sasaran yang didemo mau berdialog dan aparatnya tidak over ya nda
akan rusuh.
Pertanyaannya sekarang apakah sasaran yang didemo itu mau berdialog?
Berdialog yang sehat ya, bukan hanya ceramah satu arah.
Saya kira mereka yang bedemo itu juga punya otak dan mau diajak dialog.
Lah ini presidennya malah sibuk bikin lagu sama menghadiri acara-acara
seremonial
Mungkin anda sudah terhegomoni oleh paham bahwa penguasa itu adalah pihak yang agung, benar, dan suci sehingga rakyat tidak boleh memprotes bahkan melawan setiap kebijakan gablek yg dilakukannya. Dengan wewenang diskresi yg dimilikinya seharusnya penguasa kalau ingin mendamaikan negeri ini harusnya mengambil posisi win-win solution dalam menyikapi persoalan kenaikan BBM ini... Eh ini malah mengambil posisi win- lose dengan melakukan intrik-intrik politik yg berusaha memposisikan mahasiswa sebagai sumber bencana negeri ini... Nah pola pikir seperti ini yg harus dicounter untuk mendudukkan persoalan secara obyektif... Kecuali anda merupakan bagian dr rezim yg tidak perdulu rakyat ....

Terakhir anda memecah kesimpulan akhir saya yg mengamini pernyataan JE sahetapy terkait dengan fenomena kekerasan (khususnya yg dilakukan mahasiswa)

Quote:
Lalu mengapa semua itu bisa terjadi? Mengapa bangsa yang katanya berbudi luhur, ramah dan entah kualifikasi apa yang hendak diberikan kepada bangsa ini menjadi semacam homo homini lupus dalam hampir seluruh bidang kehidupan, termasuk dalam bidang spiritual, dari strata atas sampai pada yang di bawah. Tentu akan ada banyak jawaban yang dapat diberikan, bergantung dari sudut pandang dan pangkal tolak analisis.

Tetapi satu hal yang mungkin dapat dipakai untuk pokok bahan renungan kita semua tanpa kecuali : Indonesia kini tidak memiliki seorang pemimpin yang dapat diandalkan dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa, bernegara dan dalam realitas penghidupan sosio-spiritual. Lalu dengan meminjam ungkapan bahasa Belanda yang ditulis secara indah bagi mereka yang prihatin dengan kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini : Het volk is radeloos. De regering is radeloos. Het land is reddeloos. Artinya secara bebas: Rakyat sudah tidak dapat berbicara lagi. Pemerintah sudah bingung. Negara ini (seolah-olah) tidak dapat tertolong (lagi). Semoga ini tidak akan terjadi, tetapi apakah masih ada pemimpin (kita) yang bermoral ? Apakah jawabmu?
Huruf yg saya cetak tebal itu adalah situasi yg akan memposisikan negara Indonesia sebagai bangsa yg gagal seperti di sudan dimana pemerintah sudah tidak dipercaya lagi karena mengambil posisi frontal dengan kaum tertindas... Untuk saat ini memang secara fisik apa yg dilakukan pemerintah SBY/JK cukup moderat... Tetapi anda tidak tau kan apa yg mereka lakukan secara underground?

Saya tidak setuju penyelesaian menggunakan kekerasan, tetapi ketika kekerasan struktural sudah membuat bisu sebagain besar masyarakat, apakah sebagian rakyat lain yg tersadar harus ikut2an bisu juga?
__________________
"Bukan berlimpahnya pengetahuan,
melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenaran,
itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa"

(Catatan Pendahuluan L.R. 2)
Reply With Quote
  #43 (permalink)  
Old 28th June 2008
tnt-here's Avatar
peZIaRah ImAn
 
Join Date: Dec 2004
Posts: 1,603
tnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enough
Default

Quote:
Originally Posted by jo-hnz View Post
Tnt,
Saya tidak setuju dengan kenaikan Harga BBM dengan cara membohongi Rakyat seperti yang diungkapkan oleh KKG. Saya sependapat dengan anda bahwa ITU KEKERASAN.

Tapi saya juga rasa KEKERASAN itu tidak seharusnya dibalas dengan KEKERASAN seperti aksi mahasiswa kemarin ini. Kita bisa kok AKSI DAMAI tanpa menimbulkan kericuhan di depan umum. Kita bisa melakukan PRESSURE MASSA kepada pemerintah dan DPR tanpa harus membakar mobil dan merusak fasilitas publik. Saya rasa lebih baik mahasiswa melakukan PEMBANGKANGAN PUBLIK seperti misalnya demo di depan Gedung DPR/MPR tapi duduk diem sampai malam hari pun atau berhari-hari. Ini kan juga melanggar hukum, seperti juga membakar mobil polisi, tapi pelanggaran hukum yang disengaja tapi dilakukan TANPA KEKERASAN.

Untuk menarik perhatian wartawan, AKSI bisa dikreatifkan dengan berbagai cara, seperti TERTAWA BERSAMA 1 JAM berturut-turut. (Kita pinjem teknik Toronto Blessing) Ketawain Pemerintah. Ketawain anggota DPR. Ketawain Polisi. Atau NANGIS 1 JAM beruntun. Nangisi nasib rakyat yang menderita, dstnya.

Apapun itu, jangan kita melakukan KEKERASAN. Terutama KEKERASAN fisik, biarpun kelompok lain menggunakan kekerasan tsb ... dan berhasil.

Saya rasa AKSI seperti ini jauh lebih efektif daripada melakukan AKSI KEKERASAN seperti kemarin itu.

TNT, AKSI DAMAI dengan PEMBANGKANGAN PUBLIK berhasil dilakukan Mahatma Gandhi di Afsel dan India, oleh Martin Luther King di Amerika, oleh Nelson Mandela di Afsel, dan sedang terjadi di Myanmmar, di Tibet, dll.

Kita mesti bergerak tanpa melakukan Kekerasan Fisik. Dengan cara seperti ini, mahasiswa juga tidak akan bisa dimanfaatkan untuk dibenturkan dengan aparat, atau digunakan untuk kepentingan parpol tertentu yang menginginkan muncul menjadi pahlawan setelah SBY-JK jatuh. (Kamu tahu dong maksudku)

Kalo kamu kenal elemen Mahasiswa yang bergerak kemarin, serukanlah ANTI-KEKERASAN.
KEKERASAN ngak mungkin diakhiri dengan KEKERASAN.
Sejarah telah membuktikan hal itu.
Bang Johnz,

Saya tidak sepakat dengan aksi massa dengan cara kekerasan...Dan saya mengungkapkan argumentasi seperti di awal thread ini bukannya untuk mendukung kekerasan yg terjadi di depan gedung MPR dan unika atmajaya. Saya juga tidak berafiliasi langsung dengan pihak2 yg terlibat dalam aksi kemarin. Mungkin ada yg berusaha mengaitkan saya dengan adian napitupulu karena testimoninya berupa puisi yg ada difriendster.Tetapi sy tidak ikut satu grup dengan abang Adian....Saya murni mengambil posisi untuk meluruskan opini yg mengarahkan perspektif masyarakat bahwa Gerakan Mahasiswa adalah sumber kekacauan bangsa ini, sehingga fokus perhatian masyarakat terkait kebohongan publik yg dilakukan penguasa jadi terlupakan.

Saya mendapatkan informasi terkait pertemuan TALI GENI hari senin malam... Rupanya saat itu terjadi perpecahan pilihan aksi yg akan dilakukan mahasiswa seluruh Indonesia.Ada pihak yg menginginkan bahwa pilihan aksi yg harus dilakukan adalah dengan melakukan aksi massa secara terus menerus sampai pemerintahan merubah kebijakannya yg menyengsarakan rakyat... Dan pihak kedua menginginkan harus adanya konsolidasi gerakan terlebih dahulu dengan memperkuat pondasi dg menggunakan gerakan intelektual melalui kelompok-kelompok diskusi untuk mematangkan solusi-solusi alternatif sebagai tawaran kepada penguasa. Setelah matang baru dilakukan aksi masssa berupa Pembangkangan Publik seperti yg dilakukan dalam berbagai sejarah gerakan mahasiswa di seluruh Indonesia... Rupanya pihak pertama inilah yg "memulai" duluan gerakannya didepan MPR kemarin... Ini jelas mencederai gerakan mahasiswa secara keseluruhan...

Mungkin ada informasi lain yg lebih akurat terkait pertemuan Tali Geni tersebut... Tetapi saya secara pribadi lebih memilih opsi kedua. Opsi pertama itu tidak akan bisa mengambil simpati publik, dan menyadarkan publik terkait betapa terjajahnya negeri ini saat ini... Dengan hanya berdasarkan gerakan massa, potensi kekerasan justru akan semakin besar dan semaikin mudah disusupi oleh pihak-pihak yg ingin mengambil kesempatan... Konsolidasi gerakan tidak akan solid, mereka justru akan mengalami pengkotak-kotakan sehingga berpotensi pada saat puncak gerakan (kalau konsisten), justru hanya akan dijadikan alat saja....

Pemimpin-pemimpin mahasiswa tidak akan lahir, kecuali makelar-makelar politik yg akan mengikuti siklus para pengkhianat sebagaimana tercatat dalam sejarah...Saya tertarik dengan kutipan di kompas hari ini yg mengatakan bahwa tugas cendekiawan adalah mencari kebenaran bukannya mencari kekuasaan...Pola pikir tersebut harus dijadikan idealisme gerakan bahwa mahasiswa sebagai penyebar virus kebenaran untuk mengkebiri kekuasaan yg gandrung akan kebohongan dan pengkhianatan....Jika tidak maka para penjahat itu justru akan memutar balikkan semuanya dan memposisikan mahasiswa sebagai sumber kebohongan dan pengkhianatan...Posisi agent of change yg ada dipundak mahasiswapun menjadi agent of Chaos
__________________
"Bukan berlimpahnya pengetahuan,
melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenaran,
itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa"

(Catatan Pendahuluan L.R. 2)
Reply With Quote
  #44 (permalink)  
Old 28th June 2008
PlainBread's Avatar
Slave of God
 
Join Date: Jan 2006
Location: Azerbaijan
Posts: 8,184
PlainBread has much to be proud ofPlainBread has much to be proud ofPlainBread has much to be proud ofPlainBread has much to be proud ofPlainBread has much to be proud ofPlainBread has much to be proud ofPlainBread has much to be proud of
Default

Quote:
Originally Posted by jo-hnz View Post
Maaf banget..... Malahan kritisi itu bukan ditujukan kepada anda kok. Jadi memang anda tidak perlu merasa tersindir atau terkritik.

Memangnya siapakah anda yang merasa harus dikritik atau disindir ?
Wong saya bilang saya gak merasa tersindir kok, kenapa malah dibahas lagi? Lagipula kalimat itu cuma kalimat keterangan / pelengkap. Kalimat intinya saya -saya ulangi-:

saya mempertanyakan balik, dari mana anda tau kalo mereka yang anda katakan itu cuma berdoa saja tanpa berbuat. Apakah anda memantau semua yang mereka lakukan? Kalo ini caranya anda untuk mengajak orang untuk melakukan aksi (dengan bilang ke mereka "berdoa saja tanpa berbuat"), believe me, gak bakal berhasil


Kenapa kalimat intinya malah gak anda sentuh? Mungkin memang anda diam2 mengakui bahwa pendapat saya benar yah
__________________
Oh be careful little eyes what I see
Oh be careful little eyes what I see
For the Father up above is looking down in love
Oh be careful little eyes what I see
Reply With Quote
  #45 (permalink)  
Old 28th June 2008
tnt-here's Avatar
peZIaRah ImAn
 
Join Date: Dec 2004
Posts: 1,603
tnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enough
Default

Saya suka opini ini.. Benar-benar opini yg berani.. Menempatkan keduanya dalam posisi yg adil..

Quote:

From: subagyo sh
Date: Friday, June 27, 2008 09:22:25
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Mana Ada Kekerasan Mahasiswa?

Bukan maksud saya setuju dengan kekerasan. Mengapa kita seolah kaget dan heran melihat aksi demo mahasiswa dan aktivis yang merobohkan pagar dan membakar mobil pemerintah?

Suatu saat, ketika Resi Bisma sakaratul maut terkena panah Srikandi, ia bertutur bahwa kesalahan besarnya adalah diam melihat kelakuan buruk para cucunya penguasa Hastinapura yang penindas dan merebut hak Pandawa. Mengapa Resi Bisma diam melihat keangkuhan dan kesewenang-wenangan penguasa Hastinapura? Beliau mengatakan bahwa makanan yang diberikan oleh kerajaan Hastinapura yang tidak jelas halal-haramnya, dari penguasa perebut hak orang lain itulah yang membuat pikiran dan hatinya stagnan, seolah mati.

Para mahasiswa Indonesia lahir dari para orang tua yang kebanyakan (tidak semua) diam melihat keangkuhan dan kesewenang-wenangan penguasa. Para mahasiswa itu lahir dalam negara yang sejak awal melegalkan kekerasan. Penguasa Orde Baru membunuh jutaan manusia tak berdosa dengan alasan hukum dan keamanan serta persatuan nasional. Penguasa Orde reformasi membangun politik kekuasaan dengan pentungan, peluru dan tipu-daya, menyuap rakyat di sana-sini.

Sungguh heran jika misalnya Jawa Pos di tanggal 25 dan 26 Juni yang lalu di Jati Dirinya (semacam Tajuk) mengecam demo mahasiswa dengan kekerasan dan menghimbau agar aparat tegas menangkap 'provokator' serta pelaku aksi demo keras itu? Mengapa harus begitu? Mengapa Jawa Pos dan koran-koran lainnya tidak mendesak agar aparat juga menangkap SBY - JK dan antek-anteknya termasuk Abu Bakri Al-Lapindo yang telah melakukan kejahatan yang lebih parah dibandingkan dengan para mahasiswa itu? Mengapa pers tidak mendesak agar aparat menangkap diri mereka sendiri sebab telah menyerbu kampus-kampus dan mengumbar peluru? Mengapa pers tidak mendesak agar aparat menangkap para pelaku bisnis media yang suka memborong koran pesaingnya untuk dibuang agar tidak dibaca publik? Apa itu semua bukan kekerasan?

Mana kekerasan itu? Bukankah kekerasan itu telah menjadi Jati Diri bangsa ini sejak jaman Majapahit di mana Gajah Mada menumpahkan darah di mana-mana untuk menyatukan Nusantara?

Bukan maksud saya setuju dengan kekerasan itu. Tapi kalau ingin menangkap para mahasiswa yang aksi demo itu maka berikan hak kepada mereka juga untuk menangkap para aktor intelektual kekerasan yang dilakukan para penguasa dan antek-anteknya!

Wahai para penguasa dan aparat! Tangkap diri kalian sendiri yang telah memberikan contoh-contoh tentang bagaimana melakukan kekerasan! Jika tidak, Indonesia telah jatuh dalam spiral kekerasan (meminjam D.H. Camara).

Tak ada kekerasan mahasiswa. Yang ada adalah kekerasan Indonesia.
__________________
"Bukan berlimpahnya pengetahuan,
melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenaran,
itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa"

(Catatan Pendahuluan L.R. 2)
Reply With Quote
  #46 (permalink)  
Old 28th June 2008
eve's Avatar
eve eve is offline
Planet Quest
 
Join Date: Jun 2004
Location: Indonesia
Posts: 5,419
eve is a glorious beacon of lighteve is a glorious beacon of lighteve is a glorious beacon of lighteve is a glorious beacon of lighteve is a glorious beacon of light
Default

Quote:
Originally Posted by tnt-here View Post
Lah diluar kalo demo juga ada yang bakar-bakar atau rusuh.
Lihat tempat pertemuan tahunan G8 pasti jadi rusuh tuh, kecuali jika
dilakukan di negara otoriter.
Rusuh atau tidak bergantung dengan aparat dan sasaran yang didemo.
Kalo sasaran yang didemo mau berdialog dan aparatnya tidak over ya nda
akan rusuh.
Pertanyaannya sekarang apakah sasaran yang didemo itu mau berdialog?
Berdialog yang sehat ya, bukan hanya ceramah satu arah.
Saya kira mereka yang bedemo itu juga punya otak dan mau diajak dialog.
Lah ini presidennya malah sibuk bikin lagu sama menghadiri acara-acara
seremonial
gue justru tertarik dengan quote sawung ini. bagaimana supaya pemerintah mau melihat kepada rakyat dan berdialog. bener2 dialog bukan dialog yg sudah diskenario.

tp gue ga setuju soal di luar ada bakar2 dll. akan jauh lebih baik kalo hal2 seperti ini dihindarkan.

n satu hal lagi.. pertanyaan gue mahasiswa2 yg berdemo ini ketika diajak berdialog maukah dia berdialog dengan baik dan belajar memahami kondisi yg diajak berdialog? plus bisakah memberi solusi baik jangka pendek maupun jangka panjang.

kalo cuma turunin sby... mau ganti lagi juga sama2 aja.. malah gue khawatir kelompok2 yg kita pernah bicaain itulah yg akan ambil momentum.
__________________
in every second of life there is always a miracle

Last edited by eve : 28th June 2008 at 07:20 PM.
Reply With Quote
  #47 (permalink)  
Old 28th June 2008
AP - Junior Newbie
 
Join Date: Jun 2008
Location: Indonesia
Posts: 7
beni-1989 is infamous around these parts
Default

@all diatas

kk senior,biarkan junior ucapkan salam...
kepada abang2 intelek mohon dibimbing y...
gak bisa saya banyangin klu org2 kek kk gak ngasi komen kk...
penting bnget comment2 kk....



@topik
maap klu repost..
mengenai anarkis (meskipun artinya kurang tepat tapi dah kebiasaan)...
menurut saya perlu dilihat dari berbagai sudut pandang...

dari penguasa------------------------------------------------dari mahasiswa


oke klu begini ada beberapa gep yg jauh sekali...
1.penguasa punya aparat (kekuasaan),mahasiswa punya pukulan(anarkis)
2.penguasa kaya pendidikan dan pengalaman(tau kondisi lapangan langsung),hanya tau dari sumber berita(issue,gosip,dll)

3.penguasa punya kuasa,mahasiwa punya kontrak tanda dikuasi....




usut punya usut,tunggang punya tunggang...
opini saya adalah...

YG BISA ANARKIS GAK CUMAN MAHASISWA!!!....
tapi biar "cover" nya lebih "WAH",dan lebih berpengaruh...
"MAHASISWA LAH PILIHannya"


seperti kejadian "Atmajaya" beberapa hari yg lalu...
ternyata toh bukan mahasiswa loh yg ngedemo...
biz diusut dari 11 org BANYAK yg bukan mahasiswa...



SAYA rasa anarkis2 yg terjadi akhir2 ini adalah gerakan "org2 dibalik layar"...
DEMI pemilu 2009,
mungkin y ------------->>>>....
SBY gak bsa naek lage karena Sudah banyak aksi penolakan dari daerah yg mempertanyakan kekuatan pimpinan SBY,apalagi yg nolak mahasiswa....
bisa2 bnyk org secara "BLUNTLY" ikut2an "kudeta" lge ha3



^^
Reply With Quote
  #48 (permalink)  
Old 28th June 2008
JC4Life's Avatar
AP - Custom Title (Change it at your control panel) must be a member for at least 45 days
 
Join Date: May 2008
Location: Indonesia
Posts: 2,115
JC4Life is an unknown quantity at this pointJC4Life is an unknown quantity at this point
Thumbs down

Quote:
Originally Posted by tnt-here View Post
Walah sepertinya anda tidak melihat argumentasi saya dr sudut pandang reflektif.. Pantas gak mudeng dengan maksud saya ...
Karena tulisannya tidak dirancang supaya orang bisa mudeng, kali ?

Quote:
Originally Posted by tnt-here View Post
Saya menggunakan teori kriminologi (bukan sosisologi) tentang kekerasan struktural untuk mendudukkan persoalan kekerasan yg dilakukan oleh mahasiswa secara blak-blakan..
Dek, kriminologi itu salah satu anaknya sosiologi... atau mungkin saya yang kurang mudeng?

Quote:
Originally Posted by tnt-here View Post
Ini bukannya pembenaran atau membenarkan tetapi inilah realitas yg sedang menggejala di seluruh antero bangsa ini. Ada sebuah fenomena psikologis masyarakat frustasi yg seperti arang yg siap disulut bensin ketika ada aksi maka reaksi yg mungkin muncul adalah penyelesaian dengan tidak menggunakan akal sehat tetapi emosional (kekerasan)... Kondisi psikologis ini yg harus kita cermati terlebih dahulu untuk melihat permasalah ini secara clear...
Kalau mahasiswa-juga-manusia "dipakai" sebagai pembenaran atas fenomena realita psikologis yang ada sekarang, berapa ratus SKS lagi pun ga ada gunanya capek capek kuliah.....

Quote:
Originally Posted by tnt-here View Post
Yg kedua saya menggunakan teori sebab dan akibat untuk mendudukkan kasus ini. Dan anda jelas sengaja memutar balikkan pernyataan saya dengan tidak memasukkan argumentasi saya mengenai sebab yg terlihat dilapangan yg memancing kerusuhan.
Waduh, ketinggian kayaknya anda menilai tulisan anda sendiri. Sama sekali ga ada maksud memutarbalikkan apa apa, dan untuk apa?


Quote:
Originally Posted by tnt-here View Post
.....
Mungkin anda sudah terhegemoni oleh paham bahwa penguasa itu adalah pihak yang agung, benar, dan suci sehingga rakyat tidak boleh memprotes bahkan melawan setiap kebijakan gablek yg dilakukannya. Dengan wewenang diskresi yg dimilikinya seharusnya penguasa kalau ingin mendamaikan negeri ini harusnya mengambil posisi win-win solution dalam menyikapi persoalan kenaikan BBM ini...
Kalau "cara" mahasiswa kalah santun sama cara abang tukang becak, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap si abang tukang becak.... maka ga heran "protes" orang "sekolahan" kok lebih bodoh dari abang tukang becak yang ga mau ikutan "protes" (demo).

Quote:
Originally Posted by tnt-here View Post
Eh ini malah mengambil posisi win- lose dengan melakukan intrik-intrik politik yg berusaha memposisikan mahasiswa sebagai sumber bencana negeri ini... Nah pola pikir seperti ini yg harus dicounter untuk mendudukkan persoalan secara obyektif... Kecuali anda merupakan bagian dr rezim yg tidak perdulu rakyat ....
Saya cukup peduli rakyat, "rakyat" di kantor saya yang harus kasi makan anak-istri mereka. Dan saya cukup peduli ketika Kamar Dagang Jepang sudah kirim pernyataan resmi ke KADIN bahwa kalau situasi ibukota ga bisa di"tenang"kan, mereka mikir mikir deh untuk (tetap) berinvestasi di Indonesia.

Quote:
Originally Posted by tnt-here View Post
Terakhir anda memecah kesimpulan akhir saya yg mengamini pernyataan JE sahetapy terkait dengan fenomena kekerasan (khususnya yg dilakukan mahasiswa)
Sekali lagi, jangan menilai terlalu tinggi tulisan Anda sendiri, dek.... ga ada yang memecah kesimpulanmu (kalaupun itu bisa disebut suatu kesimpulan, ya?).


Quote:
Originally Posted by tnt-here View Post
Huruf yg saya cetak tebal itu adalah situasi yg akan memposisikan negara Indonesia sebagai bangsa yg gagal seperti di sudan dimana pemerintah sudah tidak dipercaya lagi karena mengambil posisi frontal dengan kaum tertindas... Untuk saat ini memang secara fisik apa yg dilakukan pemerintah SBY/JK cukup moderat... Tetapi anda tidak tau kan apa yg mereka lakukan secara underground?

Saya tidak setuju penyelesaian menggunakan kekerasan, tetapi ketika kekerasan struktural sudah membuat bisu sebagain besar masyarakat, apakah sebagian rakyat lain yg tersadar harus ikut2an bisu juga?
Jadi daripada ikut ikutan bisu dikerasi secara struktural, mending bales aja kekerasan dengan kekerasan, begitu? Giliran ada yang diberangus aparat, teriak teriak kayak bayi kampus.... ah, rencanakan dong "aksi" anda-anda dengan matang, jangan jadi a bunch of angered crybabies....
Reply With Quote
  #49 (permalink)  
Old 1st July 2008
tnt-here's Avatar
peZIaRah ImAn
 
Join Date: Dec 2004
Posts: 1,603
tnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enough
Default

NKK/BKK akan kembali diterapkan?
Memang cr orde baru ini sangat efektif untuk membungkan gerakan mahasiswa. Hal ini disebabkan alat pukul gerakan mahasiswa diserahkan kepada kampus/rektorat dimana mereka bisa melakukan intervensi ke dalam perkuliahan mahasiswa (nilai dibuat jelek bahkan di Drop Out)...

Biasanya mahasiswa yg belum matang dalam bersikap akan segera takut dan mengambil posisi aman yaitu dengan mengikuti aturan tersebut. Mahasiswa lainnya yg masih tetap melawan kemungkinannya di drop out atau harus mengikuti kuliah dalam jangka waktu lama karena harus mengulang beberapa mata kuliah yg disunat nilainya padahal kalau mau dicek transparansinya nilainya mungkin bagus (Ini sebabnya ada beberapa aktivis mahasiswa yg pintar sampai harus lama tamatnya).

Saya pribadi sebagai mantan aktivis juga pernah mengalami hal ini. Polanya yg sy alami berupa pemanggilan dilakukan secara personal oleh pimpinan universitas atau pimpinan fakultas. Kemudian yg bersangkutan akan ditunjukkan daftar silabus yg diikuti mahasiswa tersebut berikut nama dosen2 yg bertanggung jawab.Setelah itu diikuti dengan pertanyaan mengenai nasib studi sang mahasiwa di kampus tersebut. Mungkin masing2 orang berbeda polanya, yg jelas cara2 yg digunakan mulai dr yg halus sampai kasar bs digunakan. Dan sasarannya adalah nasib studi sang mahasiswa.

Sebenranya sangat disayangkan ketika mahasiswa sebagai harapan masyarakat untuk menyuarakan kebenaran, justru mengambil posisi diam melihat kebohongan. untuk kampus-kampus swasta yg mahasiswanya membayar mahal, tentu hal ini tidak mengherankan ketika mereka dikejar-kejar oleh tagihan per semester, biaya sks, biaya praktikum dan lain sebagainya yg menguras kocek sehingga tentu saja fokus untuk ingin cepat tamat menjadi hal yg manusiawi. Maka sy pikir luar biasa kampus2 swasta seperti mustopo, unas, tarumanegara, mercubuana,UIN, trisakti, etc masih memiliki sense of social yg tinggi menanggapi isu BBM. Saya kagum disaat mahasiswa2 dr kampus kaya lainnya yg memilih bungkam, mereka mau bersuara.

Apresiasi yg luar biasa juga harus diberikan kepada mahasiswa dr kampus negeri seperti UI, UGM, Airlangga yg masih bersuara lantang, meskipun kampusnya sudah terinfeksi virus swastanisasi dengan BHMNnya. Namun yg harus dipikirkan lebih lanjut adalah bagaimana melawan virus ini dikampus2 negeri dengan memperjuangkan kuota untuk orang miskin sebesar 50% dalam bentuk beasiswa subsidi silang. Porsi yg seimbang ini memungkinkan terus terjadinya regenerasi tongkat estafet agent of change. Mengingat kaum miskin ini adalah kaum yg mengalami langsung marginalisasi sehingga mereka secara ilmiah lebih tau bagaimana memandang persoalan kebohongan publik yg berlangsung dalam praktek pemerintahan dunia.

Jika proses regenerasi ini habis, maka sy kira kampus negeri juga akan kehilangan suara lantangnya dan mengambil posisi bungkam karena sudah rejangkit virus kebohongan yg diinfeksikan oleh virus swastanisasi.

Jika mahasiswa sudah bungkam, siapa lagi yg bs diharapkan menyuarakan suara rakyat?

Quote:
GAYA BARU KEKERASAN NEGARA TERHADAP MAHASISWA

MEMBACA sepak terjang mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari karakter asasi yang dimilikinya. Dari dulu hingga kapan pun, mahasiswa adalah aktor-aktor penting perubahanbangsa. Di belahan bumi mana pun, mahasiswa selalu tampil sebagai agen pembaharu. Sikap kritis dan kepedulian terhadap kondisi riil masyarakat terus dimiliki mahasiswa sehingga tak segan-segan melakukan pengorbanan demi kejayaan bangsanya. Tentu kita masih ingat peristiwa 1966. Pada waktu itu mahasiswa meneriakkan Tritura dan berimbas pada kejatuhan Soekarno dari tampuk kepemimpinan. Tidak jauh berbeda saat Mei 1998, di mana mahasiswa begitu heroiknya menyuarakan reformasi. Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi 1945 juga tak telepas dari peran kaum intelektual muda saat itu. Kini disaat mahasiswa mulai sadar untuk bangkit kembali melalui aksi-aksi mahasiswa yang kembali bergabung dengan rakyat dan mengusung tema-tema kerakyatan memaksa pemerintah untuk melakukan tindakan represif untuk membendung gerakan tersebut menjadi gerakan rakyat.

Disaat mahasiswa belum selesai dengan "kemandulannya" (karena hanya ada beberapa orang saja yang mulai sadar akan status kemahasiswaannya) , mahasiswa sudah dibungkam dengan BLT (BKM/Bantuan khusus Mahasiswa), Penyerbuan aparat ke dalam kampus, sekarang mahasiswa kembali akan dihantam dengan NKK/BKK (Berita jawapos, selasa 10/06/08).
"Karena itu, kita sedang mengkaji sistem agar mahasiswa bisa lebih konsentrasi belajar daripada demo di jalan," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam Orientasi Fungsionaris Pengusaha dan Wirausaha Pemuda Indonesia di Hotel Nikko Jakarta, Jalan MH Thamrin, Jakarta, kemarin (9/6).

Menurut wapres, tugas mahasiswa sebagai intelektual kampus tidak bertugas untuk unjuk rasa mengkritisi kebijakan pemerintah. Karena pemerintah sudah memiliki lembaga pengawas kebijakan, yakni lembaga legislatif, yudikatif, dan elemen masyarakat madani.
Disini kita akan melihat kembali beberapa tahun yang lalu dimana Aktivitas mahasiswa yang menentang investasi asing, utang luar negeri, korupsi yang terus merajalela, serta pemberlakuan Pancasila sebagai asas tunggal dianggap menggangu atmosfir perguruan tinggi, sehingga saat
itu oleh Daoed Joesoef (sebagai mendikbud) kampus harus di normalkan.

Keluarlah peraturan pemerintah mengenai NKK/BKK yang memberangus hak-hak mahasiswa untuk melakukan kontrol sosial, dan melakukan depolitisasi kampus. Pada saat itu kita dapat melihat bagaimana kekuatan kontrol sosial (social control) bergerak mengkoreksi kinerja rezim orde baru di tahun 1974, sampai mencapai puncaknya di tahun 1978. Perjuangan di dekade itu memang tidak sempat menurunkan Soeharto dari tampuk pimpinan negara. Malahan beberapa orang aktivis,
seperti : Hariman Siregar, Syahrir, Dipo Alam dan banyak lagi harus meringkuk di sel-sel tahanan di tahun 1974 akibat peristiwa yang kita kenal dengan peristiwa Malari. Mereka menentang investasi asing dan utang luar negeri yang kian hari kian membesar dan berpotensi memberatkan anak cucu kita dikemudian hari. Pada akhirnya, saat ini kita pun merasakan bahwa yang mereka perjuangkan itu benar adanya.

Demikian pula Iqbal, Heri Akhmadi, dan banyak lagi aktivis mahasiswa di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogjakarta harus kembali meringkuk didinginnya sel tahanan militer.
Itu hanya sebuah sejarah kemarin, sekarang beberapa kali bertengger di kepala saya yang menyatakan bahwa perguruan tinggi bukan lagi tempat para pemikir atau para pemimpin yang sejati sepertinya malah akan banyak dilahirkan di luar menara gading yang semakin komersiil dan alat kacungan bagi pemerintah dan korporasi2 transnasional. Jangankan berkumpul dengan masyarakat dan meneriakkan persoalan – persoalan kehidupan rakyat tapi yang terpikir oleh saya dari realita yang ada adalah hanya sebuah pertanyaan dimanakah kalian mahasiswa??

Hal ini dapat kita lihat ketika institusi pendidikan seperti UNAIR telah menjadi BHMN ataupun sebelum BHMN dimana institusi pendidikan akan mengedepankan sebuah kepentingan bisnis dulu daripada kebutuhan dasar pendidikannya. UNAIR telah menerapkan jalur khusus penerimaan mahasiswa baru jauh sebelum UNAIR menjadi BHMN. Perspektif ke”ilmu”an di UNAIR sendiri juga untuk memenuhi pasar tenaga kerja dan secara tidak langsung hanya menjadi agen pencetak tenaga kerja berkualitas
tetapi yang murah.
UNAIR juga telah “menjual”(Menyewakan) fasilitas mahasiswa kepada pemilik modal, seperti dimana ruang kelas / lapangan tidak dapat dipergunakan kegiatan mahasiswa ketika ada salah satu penyewa semisal MLM, Deteksi BasketBall League ataupun penyewa lainnya. Mahasiswa
UNAIR juga diharuskan “membayar” ketika menggunakan LCD padahal LCD itu dibeli dengan uang mahasiswa (IKOMA). Kegiatan – kegiatan mahasiswa sendiri juga di”saran”kan agar mengejar profit untuk kemandirian organisasi itu sendiri sehingga IKOMA hanya berfungsi sebagai pemberi “bantuan” (utang) seperti layaknya IMF. Mahasiswa juga di”saran”kan agar cepat lulus dan segera bekerja di
perusahaan – perusahaan bonafit ataupun institusi kenegaraan semacam (TNI/Polri/PNS) untuk pemenuhan standar kompetensi lulusan (akreditasi) sebagai salah satu syarat dalam mendapatkan grade, dana – dana hibah, bantuan dan layak jual. Kegiatan – kegiatan kemahasiswaan seperti ospek dll ditingkatkan kontrolnya oleh rektor/dekan dengan alasan persatuan dan kekerasan senior terhadap
junior, padahal hanya menjadi legitimasi untuk mencengkeraman dan mencuci otak mahasiswa baru dengan BHMN ataupun BHPMN. Tetapi apa yang terjadi mahasiswa juga diam, Apalagi mahasiswa mau berteriak tentang kenaikan BBM ataupun persoalan-persoalan kerakyatan lainnya
(Mimpi kali yee..).

Baru aja beberapa kawan-kawan mahasiswa bangkit tersadarkan bersama rakyat untuk memperjuangkan menolak kenaikan harga BBM, pemerintah sudah melakukan penyerangan terhadap demonstrasi- demonstrasi mahasiswa dan rakyat terbukti dengan kematian kawan Maftuh Fauzi mahasiswa unas yang ikut melakukan demonstrasi didepan kampus unas.

Karena kekerasan fisik telah membuat demonstrasi- demonstrasi lebih besar dan
meluas dikalangan masyarakat pemerintah meningkatkan represifitas melalui akan diterbitkannya NKK/BKK baru. Kita harus mengingat Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) adalah kebijakan pemerintah sejak 1978 untuk membubarkan Dewan
Mahasiswa (DEMA). Dan beberapa tahun kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan mengubah format organisasi kemahasiswaan dengan melarang Mahasiswa terjun ke dalam politik praktis, yaitu dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0457/0/1990 oleh Menteri Fuad Hassan
tentang Pola Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi yang masih berlaku sampai sekarang, dimana Organisasi Kemahasiswaan pada tingkat Perguruan Tinggi dilegalkan (difasilitasi) bernama SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi) yang sekarang berganti nama menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa. Perbedaannya Dewan Mahasiswa dan SMPT/BEM sendiri bukanlah hanya sekedar perbedaan nama melainkan posisi tawar mahasiswa, dimana didalam Dewan Mahasiswa, organisasi mahasiswa sejajar dengan Rektor.

Dalam konsep NKK/BKK, kegiatan kemahasiswaan diarahkan pada pengembangan
diri mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat ilmiah an sich. Sehingga dunia mahasiswa pada kurun masa itu terasa jauh dari denyut nadi persoalan riil masyarakat yang ada di sekitarnya. Gerakan
pemihakan mahasiswa pada sejumlah persoalan, sifatnya cenderung lokal dan sporadis. Dan, lebih dari itu, aktivitas mahasiswa berupa demonstrasi dikatakan sebagai kegiatan politik praktis yang tidak
sesuai dengan iklim masyarakat ilmiah. Kegiatan kemahasiswaan "dipagari" pada wilayah minat dan bakat, kerohanian, dan penalaran. Disusul kemudian dengan kebijakan sistem kredit semester
(SKS), mahasiswa digiring menjadi insan akademis yang hanya berkutat dengan buku-buku pelajaran dan berlomba-lomba segera menyelesaikan kuliah lantas mencari pekerjaan. Pembicaraan politik hanya boleh berlangsung dalam perkuliahan dan forum-forum ilmiah semacam seminar, lokakarya dan sebagainya.

Dalam konsep SMPT tidak banyak yang berubah dari NKK/BKK. Esensinya: "kegiatan kemahasiswaan diarahkan pada pengembangan diri mahasiswa" masih digunakan dalam konsep SMPT. Dan, "pengembangan diri mahasiswa" dalam praktiknya diartikan sebagai kegiatan olahraga, kesenian, seminar, diskusi, kerohanian; bukan sikap kritis terhadap kondisi masyarakat, sehingga akibatnya gelaran ‘menara gading’ melekat pada kampus dan mahasiswa. Kondisi inilah yang kemudian masih menjangkiti paradigma sebagian besar mahasiswa –dan juga dosen-- saat ini.
Perjalanan upaya realisasi organisasi kemahasiswaan terpusat dalam kemahasiswaan di kampus-kampus Indonesia berjalan sangat beragam. Pemerintah memang mengganti keberadaan Dewan Mahasiswa (Universitas) dengan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK). Menurut peraturan menteri, Ketua BKK adalah dosen yaitu Pembantu Rektor III. Bayangkan absurd-nya dan aneh-nya
peraturan itu. Sebuah Lembaga Kemahasiswaan, tetapi Ketua nya Dosen.

Di ITB, kampus yang paling keras menolak kebijaksanaan tersebut, BKK nyaris tak pernah jelas eksistensinya. Para dosen juga tampaknya enggan bermusuhan dengan para yunior-nya, mahasiswa yang jelas menentang habis keberadaan BKK. Di UGM, de facto BKK memang ada namun juga
tidak berjalan. Tidak ada Senat Mahasiswa di tingkat Fakultas yang peduli dengan lembaga tersebut. Yang ajaib di UII Yogyakarta. Di Kampus Perguruan Tinggi Islam tertua di Indonesia itu, Dewan
Mahasiswa memang dibubarkan. Tetapi reinkarnasi menjadi BKK. Hanya saja Ketua BKK adalah mahasiswa juga, jadi masih dalam format Dewan Mahasiswa juga.
Di Salatiga, Kampus Universitas Kristen Satya Wacana juga melakukan kreasi serupa. Keberadaan BKK diakui namun pengurusnya berasal dari mahasiswa sendiri. Sedangkan di ibukota negara, Universitas
Indonesia memang memiliki BKK tetapi fungsi sehari-hari dijalankan oleh Forum para Ketua Senat Mahasiswa Fakultas, dan dinamakan Forkom UI.
Sesungguhnya kita tidak boleh munafik bahwa bergeloranya kembali gerakan mahasiswa
pasca 1998 dan 2003 membawa dampak positif pertama, gerakan mahasiswa dapat memberikan pendidikan politik yang benar, misalnya dengan menjadi corong aspirasi alternatif rakyat (lewat demonstrasi yang santun), khususnya ketika partai politik sebagai organisasi politik resmi negara melemah fungsinya seperti saat ini. Gerakan mahasiswalah yang dituntut untuk mengingatkan dan mendesak terus-menerus, terlebih karena partai politik saat ini, tidak peka sama sekali terhadap
isu-isu publik untuk pemberdayaan rakyat, pengentasan krisis, serta pencerdasan bangsa namun intens dengan proyek-proyek, uang dan pembagian kekuasaaan. Kedua, sinergisitas gerakan akan semakin
memperkuat posisi tawar rakyat dalam perumusan kebijakan publik (advokasi). Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas keperduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya. Sehingga ketika nurani suatu organisasi telah terbeli (berkaca pada pengalaman SMPT, KNPI, SPSI dimasa ORBA), maka gerakan mahasiswa lainnya akan dengan sigap mengambil alih peran advokasi tersebut. ketiga, ilmu yang diperoleh mahasiswa dari aktivitas KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) menjadi lebih matang karena didukung tidak hanya dari segi konseptual atau teori tetapi juga kesesuaian dengan realita dan pernak-pernik
implementasinya, karena dalam proses perubahan sosial, universitas –meminjam istilah Prof. Astrid Susanto (1999)-- lebih dari sekedar ‘penghimpun ilmu-ilmu’. Keempat, dengan memiliki kapasitas
keilmuan yang matang atau intelektual organik –meminjam istilah Antonio Gramsci-- , akan sangat berguna pada penyusunan strategi dan pengajuan alternatif konsep penyelesaian masalah (solving problem) yang dikritik secara lebih sistematis dan memadai sehingga para aktivis gerakan tidak hanya sibuk di lapangan, menjadi problem speaker, kurang melakukan refleksi, dan cenderung bergerak secara sporadis. Menurut Rahmat Abdullah (2002), problem speaker yang tak kunjung menjadi problem solver lama kelamaan akan mejadi problem maker.
Berkaca pada sejarah tersebut, Kini, saya berharap, mahasiswa masih resah.
Tapi, pertanyaan saya, di mana mereka? Di mana suara lantang penuh heroisme dan ketulusan menyuarakan kebenaran dan bukan karena bayaran. Tak cukupkah pemandangan antre minyak tanah di berbagai pelosok negeri? Tak cukupkah kelaparan menggantung di awan indonesia?
Tak cukupkah harga-harga melambung tinggi yang mencekik rakyat membangkitkan perlawanan? Tak cukupkah mahasiswa dikebiri hak – hak demokratisnya? Tak cukupkah mahasiswa dibodohi dengan dijauhkan dari rakyat? Masihkan akan mau diberlakukan NKK/BKK baru?? Tak cukupkah
rakyat dinganggurkan oleh Kapitalis-Negara? ? Tak cukupkah pendidikan dijadikan barang dagangan untuk diperjualbelikan? ? saya tuliskan ini bukan untuk menyulut keresahan berujung kerusuhan. Saya hanya ingin mengatakan:
Mahasiswa punya hak yang seharusnya diperolehnya! !! Mahasiswa harus tetap memiliki sikap kritis, dan mengambil peran untuk melakukan banyak perubahan terbaik untuk bangsanya. Rakyat membutuhkan didengar, disuarakan hatinya, mahasiswa seharusnya siap menyuarakannya dengan
lantang. Indonesia tak lepas dari gejolak darah muda yang resah melihat sekelilingnya. Bukan resah karena putus cinta atau kasih bertepuk sebelah tangan, tapi resah karena rakyat kelaparan dan
dipaksa lapar. Jangan pernah buat rakyat sengsara kalau tidak ingin berhadapan dengan kekuatan mahasiswa bersama rakyat pekerja!!! (M.H)
"Nyatalah bahwa pendidikan individu dalam islam mempunyai tujuan yang jelas dan tertentu, yaitu: menyiapkan individu untuk dapat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan tak perlu dinyatakan lagi bahwa totalitas agama Islam tidak membatasi pengertian ibadah pada shalat, shaum dan haji; tetapi setiap karya yang dilakukan seorang muslim dengan niat untuk Allah semata merupakan ibadah." (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Mu'atstsirat as Salbiyah fi Tarbiyati at
Thiflil Muslim wa Thuruq 'Ilajiha, hal. 76.

Sumber : Forum Pembaca Kompas (Dikirim oleh Muhammad Hanafi)
__________________
"Bukan berlimpahnya pengetahuan,
melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenaran,
itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa"

(Catatan Pendahuluan L.R. 2)

Last edited by tnt-here : 1st July 2008 at 04:22 PM.
Reply With Quote
  #50 (permalink)  
Old 2nd July 2008
shengshu's Avatar
AP - Fallen Angel
 
Join Date: Aug 2007
Location: Ireland
Posts: 2,554
shengshu is a glorious beacon of lightshengshu is a glorious beacon of lightshengshu is a glorious beacon of lightshengshu is a glorious beacon of lightshengshu is a glorious beacon of lightshengshu is a glorious beacon of light
Send a message via Yahoo to shengshu
Default

Konon gue baru denger dari sebuah sumber.
Polisi bakal dipersenjatai dengan airsoftgun berkekuatan 500 fps untuk menghalau demonstran yang suka bikin rusuh. karena selain efektif dan peralatannya juga sudah tersedia (dari hasil sitaan barang selundupan).

gile,klo begini bisa banyak demonstran yang bakal buta matanya kena peluru BB.
__________________
-------------------------------------------------------------------------
Am I robot, nor a human?
------------------------------------------------------------------------
Reply With Quote
  #51 (permalink)  
Old 2nd July 2008
JC4Life's Avatar
AP - Custom Title (Change it at your control panel) must be a member for at least 45 days
 
Join Date: May 2008
Location: Indonesia
Posts: 2,115
JC4Life is an unknown quantity at this pointJC4Life is an unknown quantity at this point
Default

crybabies' saga continues...

Reply With Quote
  #52 (permalink)  
Old 4th July 2008
tnt-here's Avatar
peZIaRah ImAn
 
Join Date: Dec 2004
Posts: 1,603
tnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enoughtnt-here will become famous soon enough
Default

Kambuhnya Tabiat Represif Aparat

Sungguh tepat dan benar ucapan yang mengatakan bahwa kebiasaan lama amat sulit pupus (old habits die hard!). Apalagi bila kebiasaan (habits) telah sedemikian lama mendarah daging sehingga menetap
menjadi tabiat pribadi dan lembaga (personal and institutional traits).

Seperti halnya para bramacorah dan para pengedar serta pemakai narkoba kronis, adiksi berat pada tabiat represif aparat negara warisan Orde Baru tiba-tiba kambuh lagi menjelang dan seusai demo 24 Juni lalu yang berakhir rusuh. Gejala-gejala awal pertanda kambuhnya tabiat represif ini sudah mulai tampak saat polisi menyerbu Kampus Universitas Nasional sebulan sebelumnya pada 25 Mei lalu.

Di bawah tekanan gencarnya pemberitaan media dan cercaan publik, tabiat buruk ini sempat surut sejenak pada waktu polisi menghadapi demo di kampus Cawang Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan kampus Senayan Universitas (Beragama) Prof Dr Moestopo. Juga pada tahap-tahap awal demo 24 Juni, satuan kepolisian yang bertugas di kompleks DPR masih mampu mengendalikan diri. Kemampuan mengendalikan tabiat represif polisi kembali jebol saat diprovokasi tindakan brutal demonstran yang meruntuhkan gerbang besi DPR yang kemudian diikuti dengan pembakaran satu mobil berpelat merah di depan Kampus Universitas Atma Jaya di Semanggi.

Eskalasi represi

Kegeraman tertahan aparat keamanan terhadap ulah pendobrakan gerbang DPR dan pembakaran mobil oleh demonstran dalam demo 24 Juni mendapatkan momentumnya untuk meruyak keluar menjadi amarah aparat ketika pleno DPR pada hari yang sama meloloskan usulan Hak Angket DPR
atas kebijakan penaikan harga BBM Pemerintah SBY-JK. Kepala Badan Intelijen Negara Syamsir Siregar dengan amat gamblang mencetuskan amarah kepanikan pemerintah saat ia secara tersamar menuding tiga pihak yang dianggap bertanggung jawab, yaitu FY yang juga Sekjen Komite Indonesia Bangkit (KIB), seorang politikus DPR, dan seorang menteri sontoloyo bawahan SBY-JK yang berasal dari sebuah parpol.

Praktik melemparkan isu dan memberi sinyal secara samar-samar adalah tabiat represif standar aparat Orba untuk menimbulkan keresahan dan ketidakpastian dalam masyarakat luas. Manuver ini sangat manjur untuk menimbulkan rasa curiga antarelemen masyarakat dan sangat ampuh dalam menghilangkan rasa aman sekaligus menciptakan atmosfer ketakutan yang meluas. Atmosfer ketakutan yang meluas adalah seni dan teknik jitu yang sangat digemari oleh hampir semua aparat rezim represif.

Merasa mendapat angin-dukungan dari mantan kakak angkatannya, aparat kepolisian RI dengan bersemangat bergerak cepat mengejar dan menciduk para aktivis yang dituding oleh Kepala BIN. Walau hanya bermodal informasi BIN yang belum diverifikasi secara hukum, polisi nekat mengesampingkan syarat perlu hadirnya penasihat hukum saat tersangka diciduk. Aparat kepolisian menjemput FY di luar negeri dan mencokok lehernya secara harfiah saat digelandang ke mobil tahanan. Perburuan aktivis lain yang dianggap bertanggung jawab atas demo 24 Juni masih
terus berlangsung dengan gencar. Sekretariat KIB digeledah, semua komputer diangkut. Tabiat represif aparat itu semakin menjadi-jadi belakangan ini. Ironisnya, Polri bersikap amat lunak terhadap sebuah organisasi massa yang jelas-jelas melakukan kekerasan di Monas pada 1 Juni. Ini sebuah standar ganda yang patut disayangkan.

Melangkahi kepantasan

Seperti lazimnya di zaman Orba, rangkaian tindakan aparat BIN dan Kepolisian RI bertabiat represif ini sudah melangkahi batas wewenang kelembagaan dan kepantasan penindakan tersangka. Kepala BIN secara nyata dan jelas telah mengingkari jati diri seorang intelijen. Setiap insan intelijen diharuskan membuka mata dan telinga lebar-lebar, tetapi sekaligus menutup mulut rapat-rapat. Sama sekali haram hukumnya bagi seorang intelijen untuk membuka mulut di dalam ruang publik. Apalagi menerobos masuk ke dalam ranah politik praktis dengan cara yang sungguh merendahkan martabat Presiden saat menista salah satu pembantunya dengan istilah ”Sontoloyo”.

Kepolisian juga jelas telah melanggar ketentuan hukum dan kepantasan penindakan tersangka FY. Ketidakhadiran penasihat hukum tersangka dalam insiden pencidukan adalah suatu langkah pelanggaran hukum. Perlakuan pencokokan leher secara harfiah oleh dua polisi di kiri dan kanan tersangka FY jelas sangat intimidatif represif. Cara-cara itu sudah di luar batas kepantasan perlakuan atas tersangka politik. Kepolisian RI sudah seyogianya di praperadilankan oleh tersangka yang diperlakukan secara tidak beradab.

”Defining moments”


Komunitas aktivis demokrasi dan HAM janganlah sampai kecut hati dan ciut nyali mengalami dan menyaksikan kambuhnya kembali tabiat represif aparat warisan Orba ini. Atmosfer ketakutan yang dicoba untuk dihadirkan kembali telah kita kenali seperti kita mengenali telapak
tangan masing-masing. Bukan baru kali ini komunitas aktivis dihadapkan pada satu situasi seperti ini. Justru inilah ”detik-detik yang menentukan” (defining moments) bagi terus menggelindingnya gerbong
demokratisasi dalam rangka menyejahterakan rakyat di persada tercinta ini.

Bila kita berhasil lulus dan lolos dari cengkeraman tabiat ademokratik yang represif ini, tambah selangkah kita semakin mendekati tonggak pengokohan tradisi demokrasi di negeri ini. Pahamilah bahwa tindakan represif aparat hanya muncul dari tabiat yang sama yang telanjur telah
mendarah daging secara pribadi maupun kelembagaan. Tabiat represif aparat ini sangat rentan untuk kambuh pada saat rezim pemerintahan terpojok dan panik. Lolosnya Hak Angket DPR, salah satu pilar
demokrasi, pekan lalu itulah yang membuat pemerintah benar-benar panik.

Terus kibarkan panji-panji demokrasi yang berkeadaban, berkeadilan, dan berperikemanusiaan di atas mosaik kemajemukan Nusantara.

Tamrin Amal Tomagola
Sosiolog

Sumber: [url]http://cetak[/url]. kompas.com/ read/xml/ 2008/07/03/ 23532822/ kambuhnya. tabiat.represif. aparat
__________________
"Bukan berlimpahnya pengetahuan,
melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenaran,
itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa"

(Catatan Pendahuluan L.R. 2)