 |
|

15th April 2008
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Matius 8:18-21: THE ATTITUDE OF THE TRUE FOLLOWER
Ringkasan Khotbah : 6 Februari 2005
The Attitude of the True Follower
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 8:18-21
Kristus adalah Tuhan dan Guru yang Agung maka sudah sepatutnyalah kalau setiap orang mengikut dan menjadi murid-Nya dan Tuhan Yesus telah memberikan teladan indah bagaimana menjadi seorang murid sejati, the true follower. Kristus bukan sekedar berteori tetapi Dia menjalankan teori yang Ia ajarkan tersebut dalam kehidupan-Nya. Untuk menjadi seorang pengikut Kristus sejati, pertama-tama kita harus memahami terlebih dahulu akan esensi seorang murid sejati maka kita harus mengubah konsep berpikir atau paradigma yang salah dan kembali pada kebenaran, yaitu:
Pertama, mengarahkan pandangan mata kita hanya kepada kehendak Tuhan. Pada umumnya, saat masalah datang, manusia selalu memandang ke bawah akibatnya kita selalu melihat dan merasakan kesulitannya saja sebab kita telah terjepit oleh kondisi. Berbeda halnya kalau kita memandang pada Tuhan maka percayalah, bersama Tuhan, segala kesulitan tersebut dapat kita lewati sebab kita tahu bahwa semuanya itu sudah menjadi kehendak Tuhan dan demi untuk kemuliaan nama-Nya.
Kedua, menguji hati apakah kita mempunyai motivasi yang bersih. Orang lain tidak tahu apa motivasi kita sebab ada kemungkinan sepertinya kita mempunyai motivasi rohani namun sesungguhnya di balik motivasi yang “rohani“ itu ada motivasi duniawi yang mengikut di belakangnya. Sebagai contoh, banyak orang Kristen yang “katanya“ sedang melakukan pelayanan misi, yaitu memberitakan Injil ke daerah namun sesungguhnya motivasi mereka bukanlah mengabarkan Injil tapi rekreasi. Alkitab mengajarkan seorang murid sejati haruslah mempunyai motivasi murni, yaitu segala sesuatu yang kita kerjakan adalah untuk Tuhan bukan untuk manusia.
Ketiga, mempersiapkan hati untuk segala kemungkinan yang terburuk yang mungkin terjadi, prepare for the worst. Kalau kita tidak mempunyai kesiapan hati maka saat kesulitan itu datang, kita akan pergi dan meninggalkan Tuhan. Mengikut yang dimaksud oleh Tuhan Yesus adalah mengikut yang selama-lamanya bukan sekedar mengikut ketika keadaan menyenangkan saja.
Setelah kita memahami dan memiliki jiwa seorang murid dengan paradigma yang baru, pertanyaannya kini bagaimana hal itu termanifestasi dalam tindakan kita. Hati-hati, setiap tindakan kita merupan cerminan dari konsep berpikir atau paradigma kita, apakah kita mempunyai paradigma salah atau benar. Kalau Matius hanya mengambil dua contoh orang yang mengikut Kristus, yaitu ahli Taurat dan murid Kristus sendiri maka itu bukan berarti yang mau menjadi murid Kristus hanya dua orang itu saja. Tidak! Mengingat banyaknya mujizat yang Yesus lakukan maka hari itu pastilah banyak orang yang hendak mengikut Kristus namun baik Matius maupun Lukas tidak mencatat semua sebab memang, tujuannya bukan mencatat detail tetapi mereka ingin supaya pembaca melihat apa yang sedang terjadi dan bagaimana mengerti ada apa dibalik kejadian tersebut.
Alkitab tidak mencatat apakah si ahli Taurat ini bertobat dan mengikut ataukah meninggalkan Tuhan Yesus dan Alkitab juga tidak mencatat apakah si murid ini mengerti akan penjelasan Yesus dan kemudian memutuskan untuk mengikut Yesus dengan sungguh-sungguh atau meninggalkan Yesus. Kenapa Alkitab tidak mencatat? Beberapa penafsir beragumen kita tidak perlu mencari kenapa sebab memang bukan tentang kenapa tetapi Matius ingin mengajak pembaca masuk ke dalam pilihan sikap. Tuhan Yesus tidak menunjukkan sikap senang ketika ada seorang ahli Taurat yang hendak berniat menjadi murid-Nya. Tidak! Tuhan Yesus justru memberikan pilihan yang menuntut suatu keputusan, yakni serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat. 8:20). Keputusan setiap orang pastilah tidak sama bahkan orang Kristen yang mendengar kalimat inipun belum tentu menghasilkan reaksi yang sama. Sebagian orang mungkin memutuskan untuk ikut namun sebagian orang mungkin memutuskan tidak mau mengikut Yesus.
Jadi, kalimat ini kembali kepada pribadi setiap kita, bagaimana paradigma yang benar yang Tuhan Yesus sudah teladankan tersebut terimplikasi pada setiap kita. Bagaimana menjadi seorang pengikut Kristus sejati? Ada tiga aspek yang perlu kita perhatikan:
1. Total Service
Sebagai hasil dari paradigma yang diubahkan maka pengikut Tuhan Yesus haruslah mempunyai sikap pelayanan yang sepenuh hati, total service. Hal inipun sangatlah disadari oleh dunia khususnya dalam dunia kerja, dengan segala cara perusahaan akan mengusahakan supaya pekerjanya berjiwa loyal pada perusaahaan dengan demikian perusahaan yang diuntungkan. Bahkan beberapa perusahaan tertentu menggunakan prinsip meditasi new age untuk memotivasi para pekerjanya. Dunia melihat secara pragmatis, untuk sesaat memang kelihatan hebat namun dunia tidak memahami bahwa pertumbuhan yang cepat tanpa pondasi yang kuat berakibat kehancuran. Dunia tahu pentingnya total service namun ironisnya orang Kristen tidak tahu bagaimana melayani Tuhan dengan total service. Tuhan Yesus sudah membukakan realita bahwa mengikut Dia menuntut suatu total comitment, jangan mengharapkan keuntungan dari Kristus. Mengikut Kristus berarti kita turut melakukan pekerjaan dahsyat dan mulia karena itu, Kristus menuntut sikap pelayanan yang sepenuh hati.
Semangat materialisme telah mencengkeram pikiran kita, maka sesungguhnya, orang bukan total komitmen pada perusahaan tapi pada uang akibatnya kalau ada perusahaan lain yang memberikan tawaran lebih besar maka ia akan pindah ke perusahaan lain. Begitu juga dengan pelayanan kita, banyak orang yang giat dan semangat melayani tapi sesungguhnya komitmen hidupnya diserahkan pada mamon. Seluruh hidupnya diserahkan pada uang. Betapa celakanya, manusia yang hidupnya dibelenggu dengan setan. Pertanyaannya ketika Tuhan Yesus mengatakan serigala punya liang, burung punya sarang tetapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya, apakah itu berarti Tuhan Yesus sengaja mau membuat orang-orang yang mengikut Dia menjadi orang-orang yang papah? Apakah Tuhan Yesus tidak menghargai mereka, yaitu orang-orang yang telah melayani sesuai dengan apa mereka kerjakan? Tidak! Tuhan Yesus adalah Tuhan yang adil, Tuhan Yesus tahu bagaimana memberikan penghargaan. Uang yang diiming-imingi di depan itulah yang memacu manusia untuk maju seperti halnya anjing pacuan, greyhorne , bukankah anjing pacuan juga dipancing dengan makanan di depannya dengan demikian ia akan terus berpacu tapi sampai akhir toh ia tidak akan pernah mendapatkan apapun.
Kristus telah menebus kita dari dosa dengan darah-Nya ketika kita masih berdosa. Kristus telah memberikan penghargaan pada kita terlebih dahulu; Dia mengangkat kita dari lumpur dosa dan memberikan keselamatan pada kita. Orang kristen sejati seharusnya menyadari dan berespon dengan tepat akan anugerah Tuhan ini. Tuhan sudah berikan diri-Nya menjadi tebusan dan harganya sangat mahal. Hal ini seharusnya menjadikan kita gemetar ketika kita melayani; bagaimana kita melakukan yang terbaik untuk Tuhan sebab kita telah mendapat keselamatan. Orang yang mengerti anugerah seharusnya mengerjakan setiap tugas pelayanan yang Tuhan beri dengan sepenuh hati namun sangatlah disayangkan, banyak orang justru mempermainkan anugerah. Puji Tuhan, kalau Dia telah berkenan menebus kita dari dosa, menyelamatkan kita dari kematian kekal dan menjadikan kita sebagai anak-Nya maka hendaklah hal itu menyadarkan kita bahwa darah Kristus sangatlah mahal, kita tidak akan mampu membayarnya, kita hanya dapat melayani Dia dengan sepenuh hati.
2. Single Authority
Kalimat Tuhan Yesus yang berkata: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka“ ini berarti bahwa menjadi pengikut Kristus berarti tidak boleh mengikut yang lain. Kata “mengikut“ dari bhs. Yunani, eltheim yang berarti mengikut selama-lamanya dan itu menjadi keputusan tunggal. Seorang yang telah diubahkan paradigmanya maka hatinya selalu terarah pada Kristus. Mengikut Kristus berarti kembalinya kita pada otoritas tunggal, yaitu Kristus sebagai pemegang otoritas tertinggi. Namun, manusia tidak suka kalau ada kuasa lain yang lebih tinggi dan berkuasa atas dirinya. Seiring dengan berkembangnya dunia maka konsep berpikir manusia pun juga mengalami pengembangan namun bersifat negatif sebab telah terdistorsi oleh berbagai macam pikiran filsafat. Akibatnya, manusia menjadi paranoid, orang akan sukar percaya pada orang lain sebab manusia takut ditipu. Bahkan orang yang mengaku dirinya mempunyai rasa percaya diri pun sesungguhnya tidaklah demikian. Pertanyaannya sekarang apakah diri sendiri bisa dipercaya? Tidak! Sebab diri sendiri pun sedang mencari-cari rasa percaya itu. Sebagai contoh, ketika diri meyakini sesuatu sebagai kebenaran pertanyaannya apakah sesuatu itu merupakan kebenaran sejati sehingga keyakinan kita tidak akan salah? Sayangnya, itu bukanlah kebenaran sejati karena selama kita belum tahu salah maka hal tersebut dianggap sebagai kebenaran. Bayangkan, kalau setiap hal yang ia yakini ternyata kedapatan salah maka orang menjadi skeptis, akibatnya segala sesuatu yang ia anggap benar itulah kebenaran. Sikap skeptis ini meluas hingga ke seluruh dunia, dunia menjadi anti kepercayaan dan anti otoritas. Ketika manusia sudah sampai pada titik puncak skeptik maka saat berhadapan dengan Tuhan, maka Tuhan pun tidak ia percaya lagi. Bersama-sama dengan Frederich Engels, Karl Max membuat manifesto komunisme dan mencetuskan ekonomi kapitalisme namun dunia akhirnya sadar kalau paham komunisme justru tidak membuat orang menjadi kaya bersama-sama tetapi sebaliknya orang menjadi miskin bersama. Orang menjadi kecewa ironisnya kekecewaan tersebut ditumpahkan pada Tuhan. Hati-hati ketika orang berpikir, dirinya mampu maka itu menjadi titik kehancurannya.
Hendaklah kita sadar bahwa kita harus kembali kepada Tuhan sebagai single authority yang mengontrol hidup kita sebab tidak ada siapapun atau apapun di dunia ini yang dapat memimpin dan mengarahkan hidup kita. Hal ini seharusnya menyadarkan kita, kita tidak perlu kuatir dan cemas akan hidup kita. Biarlah orang-orang “mati“ (arti: mati rohani) menguburkan orang-orang mati (mati jasmani) mereka. Ketika kita tahu apa yang menjadi prioritas hidup maka biarlah kita menjadi orang hidup yang hidup dalam pemikiran kita dan otoritas kita sehingga semua tindakan kita menjadi hidup. Dimanakah kita bisa mempunyai dinamika dan kehidupan seperti demikian? Jawabannya hanya satu, yaitu kalau kita hidup di dalam Kristus. Mengikut Kristus membutuhkan kesadaran bukan fanatisme tetapi ketaatan karena kita tahu siapa Kristus yang kita ikuti tersebut, yaitu Kristus yang telah menebus dan membayar kita dengan harga yang mahal, yaitu dengan darah-Nya dan itu telah lunas di bayar.
3. Kerelaan Hati
Yesus berkata, “Biarlah orang mati menguburkan orang-orang mati.“ Kalimat ini langsung memilah menjadi dua posisi dan menuntut keputusan dari kita, yaitu mengikut atau menolak. Hanya ada dua pilihan, tidak ada pilihan ketiga. Serigala punya liang, burung punya sarang, Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Kalau kita termasuk sebagai orang yang “hidup“ maka kita harus mengikut pada yang Kristus yang hidup, biarlah orang mati menguburkan orang yang mati. Kita dihadapkan pada pilihan, mau posisi yang hidup atau posisi yang mati? Ingat, kalau kita memilih mengikut pada “yang hidup“ maka ia akan membawa pada kehidupan, kalau kita memilih mengikut pada “yang mati“ maka ia akan membawa kita pada kematian. Sebab kedua hal ini terletak pada dua kutub yang berbeda sehingga terjadi kesenjangan yang saling tarik menarik maka hati-hati, dengan demikian kita tidak salah memilih. Namun bukan berarti antara hidup dan mati tidak saling berhubungan. Tuhan juga tidak mengajarkan anak-anak-Nya supaya hidup secara eksklusif, yaitu hanya hidup dengan sesama orang Kristen saja. Tidak! Tuhan justru memberikan amanat Agung supaya kita pergi mengabarkan Injil ke seluruh bangsa.
Tuhan ingin anak-anak-Nya mempunyai paradigma hidup yang diubahkan namun hal itu bukan berarti seorang anak Tuhan harus hidup terasing di dunia. Tidak! Tuhan justru menempatkan anak-anak-Nya di tengah-tengah kawanan serigala tapi ia haruslah tetap menjadi seekor domba dengan demikian ia menjadi terang dunia. Bagaimana anak Tuhan harus menjadi orang yang hidup di tengah-tengah orang mati tanpa kita diseret ke dalam kehidupan kematian. Inilah gambaran Kekristenan tentang discipleship of Christ. Sebagai murid Kristus yang sejati maka sikap murid seperti yang Tuhan Yesus teladankan itu harus terimplikasi dalam hidup kita sehari-hari dengan demikian hidup kita menjadi berkat bagi orang lain; orang disadarkan akan dosa dan bertobat. Biarlah sebagai murid Kristus sejati hendaklah kita mempunyai jiwa servanthood, pelayanan yang total, dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya pada otoritas Kristus yang tunggal serta kerelaan untuk hidup dalam situasi yang bersifat kontras di tengah dunia. Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050206.htm]The Attitude of the True Follower[/url]
|

22nd April 2008
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Matius 8:23-27: COMMITMENT AND TEMPTATION
Ringkasan Khotbah : 20 Februari 2005
Commitment and Temptation
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 8:23-27
Kita sudah memahami bahwa mengikut Kristus bukanlah pengikutan yang bersifat fanatisme atau karena ingin mendapatkan keuntungan. Tidak! Ingat, serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat. 8:20). Mengikut Kristus haruslah dengan komitmen penuh dan motivasi murni. Kristus haruslah menjadi yang terutama sebab Dia adalah Raja atas segala raja, King of kings dan Sang Raja itu datang ke dalam dunia untuk menjadi tebusan bagi kita, manusia berdosa. Sayangnya, manusia berdosa yang egois tidak memahami kebenaran ini, manusia hanya memikirkan kenikmatan dirinya sendiri maka tidaklah heran kalau kebenaran yang sejati itu selalu bertentangan dengan konsep manusia. Ironisnya, manusia tidak menyadari kalau yang mereka anggap sebagai kebenaran tersebut justru berakibat pada kebinasaan.
Tuhan haruslah yang terutama kalau kita tidak dapat menjadikan Kristus sebagai yang terutama maka omong kosong kalau kemudian ia mengatakan bahwa ia beriman dan menjadikan Kristus sebagai Tuhan atas dirinya. Tuhan tidak ingin ada ilah lain di hadapan-Nya sebab hal itu menjadi perzinahan rohani. Kristus berhak untuk diikuti sebab Dia adalah Raja atas segala raja dan Dia adalah penguasa alam semesta yang mempunyai kedaulatan penuh atas seluruh ciptaan-Nya. Dan hal ini ditunjukkan oleh Matius melalui kisah Tuhan Yesus meredakan angin ribut. Kita telah memahami sebelumnya bahwa Injil Matius tidak ditulis berdasarkan urutan sejarah sebab itu bukan tujuan Matius. Peristiwa Tuhan Yesus meredakan angin ribut ini sesungguhnya terjadi lebih dahulu, yakni sebelum Tuhan Yesus berbicara dengan Ahli Taurat dan murid-Nya tentang hal mengikut Dia. Namun Matius meletakkannya terbalik, Matius ingin mengkaitkan bahwa setelah orang memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus maka kini ia harus mengikut Kristus (ay. 23).
Ketika Yesus dan para murid naik ke dalam perahu, sekonyong-konyong datanglah angin ribut. Angin ribut disini bukanlah angin keras biasa sebab sebagian besar murid Kristus yang notabene seorang nelayan yang biasa menghadapi badai dan gelombang pun menjadi takut, panik, dan kuatir. Hal ini membuktikan bahwa badai tersebut berada di luar batas mereka. Bukankah reaksi yang ditunjukkan oleh para murid ini juga menjadi gambaran diri setiap kita, ketika badai dan gelombang, yakni kesulitan itu datang menerpa maka orang tidak lagi dapat melihat kesulitan itu sebagai ujian iman dan memandangnya sebagai kebahagiaan tetapi orang justru ingin cepat menyelesaikan menurut caranya sendiri sebab mata kita selalu tertuju pada realita.
Tuhan Yesus menegur mereka dengan keras: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya.“ Kata “kurang percaya“ disini berarti orang yang beriman kecil sebab apa yang menjadi komitmen kita belum menjadi iman yang sejati terbukti badai gelombang tidak menjadikan kita semakin beriman namun justru membuat kita takut dan kuatir. Badai gelombang yang bergolak dengan begitu dahsyat langsung berhenti dan danau menjadi teduh sekali itu ketika Tuhan Yesus menghardiknya. Secara logika, orang sukar untuk mengerti, orang seharusnya menyadari bahwa Yesus adalah Allah pemilik alam semesta sebab angin dan danau pun taat kepadanya. Adalah anugerah dan menjadi sukacita tersendiri bagi kita kalau Tuhan, Pemilik dan Penguasa alam semesta ini berkenan memanggil dan menjadikan kita sebagai murid-Nya, sayang, iman kita terlalu kecil, maka tidaklah heran kalau kita tidak dapat melihat Tuhan sedang bekerja dengan ajaib dan heran untuk itu kita harus memahami:
1. Mengikut Kristus bukan tanpa kesulitan.
Tuhan tidak pernah berjanji bahwa kalau kita mengikut Kristus, Raja di atas segala raja itu maka kita tidak akan pernah mengalami kesulitan dan penderitaan. Tidak! Jangan tertipu dengan ajaran bidat yang mengajarkan bahwa, Tuhan itu Maha Dahsyat maka menjadi murid Tuhan yang Maha Dahsyat itu, kita pasti tidak akan pernah mengalami penderitaan. Pertanyaannya adalah kalau Tuhan Maha Dahsyat, apakah kita dapat mengatur Dia sedemikian rupa menuruti semua keinginan kita? Tidak! Tuhan yang harus menjadi pemegang kuasa tertinggi dan Dia berkuasa atas hidup manusia; tidak ada siapapun atau apapun di dunia ini yang dapat memimpin dan mengarahkan hidup kita. Ketika Tuhan Yesus mengajak murid-murid-Nya ke danau, Tuhan Yesus pasti tahu akan datang gelombang yang menerpa dan Tuhan Yesus tidak menghindarkan murid-murid-Nya dari bahaya itu. Tuhan sengaja membiarkan murid-murid-Nya menghadapi gelombang, Tuhan Yesus tidur nyenyak di buritan ketika gelombang besar itu mengombang-ambingkan perahu. Sesungguhnya, Tuhan Yesus ingin menguji iman para murid namun murid-murid ingin supaya Yesus segera menyelesaikan masalah mereka. Bukankah kita seringkali juga demikian? Kita ingin supaya Yesus segera mengangkat semua kesulitan hidup dan hal ini juga menjadi teriakan nabi Habakuk. Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!“ tetapi tidak Kau tolong? (Hab. 1:2). Kalau Tuhan diam bukan berarti Tuhan tidak peduli. Tuhan tidak langsung bertindak karena Tuhan ingin supaya anak-anak-Nya mempunyai kekuatan sehingga kita bisa menghadapi berbagai-bagai kesulitan.
Di dalam kehidupan Kristen, kita seringkali dilumpuhkan oleh ajaran-ajaran palsu yang mengajarkan bahwa kita akan menjadi kaya dan sukses, kita tidak akan sakit. Kalaupun kita mengalami sakit, berarti ada dosa yang telah kita perbuat maka segeralah meminta ampunan pada-Nya. Setelah melihat begitu banyak mujizat yang dilakukan oleh Kristus, murid-murid seharusnya tahu bahwa pastilah kapal itu tidak akan tenggelam sebab ada Yesus di dalam perahu. Tapi sayang, para murid kurang beriman, mereka justru menjadi panik dan kuatir. Sesungguhnya, melalui kesulitan dan penderitaan itu Tuhan ingin menjadikan anak-anak-Nya dewasa, mature. Sayangnya, hari ini banyak orang Kristen ingin menjadi “bayi rohani“ yang segala sesuatunya selalu minta diperhatikan. Celakanya, dunia mengerti tentang perlunya pertumbuhan fisik yang diikuti dengan kedewasaan mental namun orang Kristen justru tidak memahami pentingnya kedewasaan rohani.
2. Mengikut Kristus dilatih menjadi dewasa.
Pengikut Kristus sejati haruslah kuat menghadapi kesulitan dan ingat, ada Tuhan bersama dengan kita, Dia tidak akan membiarkan kita sendiri menghadapi semua kesulitan. Realita ini seharusnya memberikan kekuatan kepada kita untuk melangkah dalam dunia. Tuhan tahu sampai dimana batas kita mampu menghadapi kesulitan. Tuhan tidak akan membiarkan kita dicobai sedemikian rupa sampai di luar batas kemampuan kita. Tuhan tahu sampai dimana batas kemampuan para murid-murid itu menghadapi gelombang karena itu Tuhan tidak tinggal diam, Dia langsung menghardik angin itu. Jangan pernah berpikir bahwa orang yang banyak mengalami mujizat Tuhan itu karena ia mempunyai iman yang besar. Tidak! Justru sebaliknya, orang yang senantiasa selalu ditolong Tuhan menunjukkan imannya kerdil. Seharusnya ia malu sebab ia tidak mempunyai daya juang untuk menghadapi kesulitan. Perhatikan, ketika iman itu sampai pada titik puncak maka Tuhan menunjukkan bahwa kita mempunyai kekuatan pertahanan yang sangat besar.
Hal ini sangat kontras kalau dibandingkan dengan Tuhan Yesus sendiri ketika Ia harus menghadapi penderitaan yang begitu besar, “Bapa, kalau boleh cawan ini lalu daripada-Ku“. Tuhan tidak minta supaya Bapa mengangkat cawan itu. Kesulitan hidup yang Tuhan perkenankan untuk kita lewati dimana kesulitan itu bukan sebagai akibat dari perbuatan dosa kita maka biarlah kita meneladani sikap Yesus:“Biarlah, kehendak-Mu saja yang jadi“. Jiwa seperti inilah yang harus ada dalam diri mereka yang menyebut diri sebagai murid Kristus sejati, yaitu taat mutlak pada kehendak Tuhan dan rela menghadapi kesulitan karena kita tahu semua penderitaan itu dimaksudkan demi untuk kebaikan kita, yakni pendewasaan iman dengan demikian kita dapat menjadi saksi bagi dunia.
Ironis, hari ini orang justru berpikir terbalik, seorang bayi dianggap dewasa. Seperti halnya orang yang diberikan karunia berbahasa Roh dianggap karena mereka mempunyai iman yang besar. Tidak! Karunia bahasa Roh itu diberikan untuk orang yang tidak beriman (1Kor. 14:22). Sayang, banyak orang Kristen yang melewatkan ayat ini. Mengikut Kristus berarti rela dipimpin oleh Kristus dan ingat, pimpinan Tuhan akan menjadikan kita dewasa. Jangan takut, Tuhan tahu sampai dimana batas kemampuan kita dapat menanggung penderitaan sebab Tuhan tidak akan menguji kita melampaui kekuatan kita dan percayalah, pada waktu kita dicobai, Ia akan memberikan jalan keluar, sehingga kita dapat menanggungnya (1Kor. 10:13). Tuhan tahu, Ayub adalah seorang beriman besar karena itu Tuhan mengijinkan ia dicobai oleh iblis; Ayub harus mengalami kesulitan dan penderitaan. Maka dapatlah dibayangkan, orang Kristen karismatik atau mereka yang ikut dalam gerakan neo pantekostalisme pastilah akan meninggalkan Tuhan ketika ia mengalami kesulitan seperti Ayub. Tuhan tahu sampai dimana kapasitas iman Ayub maka ketika iman Ayub mulai goyah, Ayub mulai mengutuki hari kelahirannya karena saudara-saudara seimannya, maka Tuhan mulai bertindak. Tuhan memulihkan keadaan Ayub; Tuhan memberkati Ayub dengan mengembalikan seluruh hartanya dengan berlipat-lipat. Di dunia modern, iman Kristen telah dirusak oleh berbagai macam ajaran-ajaran palsu maka tidaklah heran kalau anak-anak Tuhan tidak mempunyai daya untuk menghadapi gelombang yang dahsyat, orang Kristen tidak mempunyai iman yang cukup untuk kita bisa tahu rencana Tuhan yang indah di balik gelombang itu dan dimana kekuatan kita. Tuhan membiarkan kita masuk dalam berbagai-bagai kesulitan untuk mendidik dan melatih supaya mempunyai kedewasaan rohani. Pikiran Tuhan lebih tinggi dari pikiran manusia, Dia melihat yang tidak dapat kita lihat.
3. Mengikut Kristus disiapkan untuk melakukan perkara besar.
Setelah Tuhan Yesus menyelesaikan misi-Nya di dunia, maka tanggung jawab pelayanan berada di tangan murid-Nya karena itu iman mereka harus dilatih terlebih dahulu. Akan tetapi, seringkali orang tidak siap untuk dididik Tuhan, kita tidak siap dengan berbagai-bagai kesulitan. Bagaimana mungkin buah zaitun akan menghasilkan minyak kalau tidak ditekan atau buah anggur akan menjadi arak kalau tidak diperas? Kita sepatutnya mengucap syukur kalau Tuhan masih berkenan mendidik kita dengan luar biasa, kita boleh mengalami pengalaman indah berjalan bersama dengan Tuhan. Seringkali, ketika kesulitan itu datang kita tidak pernah memandangnya sebagai ujian iman, kita hanya melihat ujian itu sebagai beban yang harus kita tanggung padahal Tuhan mau memakai kita menjadi alat-Nya untuk berbagian dalam pekerjaan-Nya. Siapakah kita sehingga Tuhan berkenan memakai kita, manusia berdosa dan terbatas ini dipakai menjadi alat-Nya sehingga menjadi saluran berkat bagi banyak orang?
Setiap hari kita telah merasakan anugerah Tuhan telah memelihara hidup kita dan kita melihat dan merasakan mujizat Tuhan yang bekerja dengan luar biasa bahkan sangat sukar dimengerti logika manusia. Pertanyaannya apakah pimpinan Tuhan yang begitu dahsyat atas kita tersebut belum cukup membuktikan bahwa Tuhan menyertai kita. Ingat, Tuhan tidak pernah tidur, Dia tidak pernah meninggalkan kita walau sedetikpun, Dia ada di dalam kapal. Apakah kita masih kurang percaya? Apakah kita masih beriman kerdil? Kalau sampai detik ini, kita dapat melewati kesulitan, ingat, itu karena Tuhan yang memimpin. Tuhan ingin membentuk kita melalui latihan-latihan iman, tanpa latihan tidak ada pertumbuhan iman dan terkadang Tuhan memang membiarkan kita menghadapi kesulitan itu sampai di titik kritis sehingga kita dapat merasakan mujizat Tuhan yang ajaib. Biarlah kita mulai belajar untuk dilatih Tuhan dengan demikian kita bertumbuh dalam iman dan itu menjadikan kita bersemangat dan mempunyai kekuatan untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan yang besar.
Jangan takut, Tuhan ada di kapal bersama-sama dengan kita, di saat gelombang itu datang, mungkin kita merasa lelah dan letih karena telah bekerja keras berusaha mengeluarkan air dari kapal supaya tidak tenggelam namun percayalah, ketika kita telah berada di ambang batas kekuatan kita maka Tuhan akan menolong tepat pada waktu-Nya. Seorang pengikut Kristus bukan berarti kita dilewatkan dari badai, angin menjadi tenang dan kapal kita akan melaju dengan lancar. Tidak! Kita seharusnya makin bersyukur kalau Dia berkenan membawa kita ke dalam kesulitan-kesulitan yang berat. Jangan mudah ditipu oleh gejala jaman yang berpendapat bahwa dunia semakin hari semakin enak karena setiap manusia egois yang hanya memikirkan kesejahteraan diri sendiri. Biarlah konsep kita diubahkan dengan demikian kita mempunyai kekuatan iman. Karena itu jadilah kuat di dalam Tuhan sehingga kita bisa menjadi saksi Tuhan di tengah dunia dan menolong mereka yang lemah iman dan tidak ada pengharapan. Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber: [url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050220.htm]Commitment and Temptation[/url]
|

29th April 2008
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Matius 8:28-34: THE AUTHORITY OF CHRIST OVER SATAN
Ringkasan Khotbah : 06 Maret 2005
The Authority of Christ Over Satan
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 8:28-34
Pada bagian pertama dari sub tema the discipleship of Christ ini Injil Matius mengambil dua contoh golongan murid, yakni: 1) golongan eksternal, yaitu orang Farisi, orang yang dianggap sebagai orang religius, dan 2) golongan internal, yaitu murid Tuhan Yesus sendiri. Melalui kedua contoh ini, Matius ingin membukakan pada kita bahwa Kristus sebagai pemegang kuasa tertinggi berotoritas mutlak atas manusia dan Dia menuntut setiap orang yang mau menjadi pengikut-Nya taat pada semua ketetapan-Nya. Di bagian kedua, Matius juga membukakan bahwa bukan hanya manusia saja yang harus tunduk pada Kristus sebagai pemegang otoritas tertinggi akan tetapi alam semesta pun juga harus tunduk pada-Nya. Tidak ada satu kuasa dari manusia manapun di seluruh alam semesta ini yang dapat meneduhkan angin ribut dalam sekejap dan hanya dengan sekali perintah. Hanya Dia yaitu Yesus, Anak Allah sang Pencipta dan Pemilik alam semesta ini yang mempunyai kedaulatan kuasa itu.
Di bagian ketiga, Matius membukakan bahwa kuasa Kristus bukan hanya sebatas manusia dan alam semesta saja. Tidak! Kristus juga berkuasa atas setan. Manusia paling takut dengan kuasa kegelapan. Masalah pelik mulai timbul, di satu pihak, manusia ingin lepas dari kuasa kegelapan itu namun di pihak lain, manusia tidak ingin lepas. Sebagai pengikut Kristus sejati, kita harus melepaskan diri dari segala bentuk kuasa iblis yang menjerat hidup kita bahkan kita harus mengubah pola berpikir kita yang selama ini telah dibentuk oleh setan. Dibandingkan dengan Injil Markus dan Injil Lukas, Matius yang paling singkat menuliskan bagian dimana Tuhan Yesus mengusir setan dari orang yang kerasukan setan. Matius tidak mencatat siapa nama setannya, berapa jumlahnya, dan lain sebagainya sebab memang bukan disana fokusnya. Fokus utamanya adalah otoritas Kristus atas dosa dan sikap manusia terhadap dosa.
1. Otoritas Kristus melampaui teritorial.
Tuhan Yesus pergi ke seberang, yaitu di daerah Gadara yang terletak di wilayah Timur sungai Yordan dan orang Yahudi menganggap wilayah Gadara sebagai daerah kafir seperti halnya Samaria. Orang Yahudi membatas dirinya sedemikian rupa sampai-sampai mereka rela berjalan memutar demi supaya kakinya tidak menginjak daerah orang kafir. Namun ke daerah yang dianggap kafir inilah Tuhan Yesus pergi. Tuhan Yesus mau menyatakan bahwa otoritas-Nya bukan hanya ada di wilayah Yahudi atau di tengah-tengah orang Yudea saja. Tidak! Otoritas Tuhan Yesus tidak dibatasi oleh wilayah atau teritorial tertentu; Kerajaan yang sedang Kristus genapkan bukanlah sebatas Kerajaan Israel seperti yang dimengerti oleh orang Yahudi. Tidak! Kerajaan Kristus adalah Kerajaan Sorga yang wilayahnya mencakup seluruh alam semesta. Secara konsep hal ini dimengerti oleh manusia namun secara konsep pulalah kita sulit mengimplikasikannya.
Abraham Kuyper, seorang teolog reformed sekaligus filsuf, politikus dan ilmuwan berpendapat kalau setiap orang Kristen sebenarnya tahu bahwa Yesus sebagai pemegang otoritas tertinggi berkuasa mutlak atas hidup manusia namun ketika hal itu diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari maka nyatalah sekarang bahwa Yesus tidak menjadi Raja dan Tuhan atas hidup kita. Seharusnya kita menyadari seperti halnya Abraham Kuyper: “tidak ada satu inci pun di dalam hidupku dimana Tuhan tidak berkuasa atasnya.“ Kristus adalah otoritas tertinggi maka Ia tidak dibatasi oleh suatu wilayah teritorial tertentu dan sebagai pemegang otoritas tertinggi, Ia berhak atas semua aspek hidup kita. Sayangnya, manusia tidak memperkenankan Tuhan menjadi Raja dan Tuhan atas hidupnya, manusia membatasi otoritas Tuhan hanya sampai di wilayah tertentu saja. Apakah kita akan menjadi lebih bahagia dan beruntung ketika kita memutuskan lepas dari tangan Kristus? Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bisakah manusia itu independen murni ketika ia memutuskan untuk lepas dari tangan Kristus? Hal ini merupakan cerminan dari semangat kebebasan manusia yang ingin mengeksistensikan dosa. Orang tidak menyadari lepas dari Kristus justru akan menghilangkan makna terpenting dalam hidup mereka.
Ironisnya, banyak orang berpikir sebaliknya yakni menjadi anak Tuhan membuat hidup susah sebab terlalu banyak larangan. Pikiran seperti ini persis seperti anak kecil, ia akan marah ketika dilarang orang tuanya bermain pisau. Anak kecil tidak pernah berpikir kenapa larangan itu dibuat sebab pemikirannya belum sampai pada pengertian bahwa pisau itu akan membahayakan dirinya. Bukan tanpa alasan kalau Tuhan membatas kita sedemikian rupa dengan larangan-larangan. Otorisasi Allah bukanlah dictatorship yang dengan semena-mena membatas kita tanpa alasan. Tidak! Semua itu Kristus kerjakan demi untuk kebaikan kita, yaitu supaya kita diselamatkan, supaya kita hidup dalam kebajikan dengan demikian “gambar dan rupa Allah“ itu termanifestasi dalam hidup kita. Ironisnya, manusia ingin keluar dari panggilan Tuhan. Coba pikirkan, sampai dimanakah kekuatan tangan, kaki dan otak kita sehingga dengan kemampuan sendiri kita dapat lepasi dari situasi dan jepitan dunia yang rusak ini? Firman Tuhan menegaskan bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar; manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang (1Tim. 3:2).
Celakanya, hari ini, banyak orang Kristen yang hidupnya tidak mencerminkan hidup sebagai anak Tuhan sejati, banyak anak Tuhan yang telah dikuasai iblis. Sesungguhnya, manusia itu menyadari kalau hidupnya sangatlah hina, nilai hidupnya rendah tapi orang mencoba untuk berafiliasi seolah-olah dirinya orang baik di tengah dunia dengan kalimat-kalimat yang sepertinya positif padahal di balik kalimat indah itu ada maksud yang licik. Pertanyaannya sekarang adalah berada di bawah otoritas siapakah kita, apakah kita menyerahkan diri di bawah otoritas iblis ataukah otoritas Tuhan? Ingat, tidak ada satu inci dalam hidup kita dimana Tuhan tidak berkuasa atasnya. Bisakah kita berkata seperti Paulus: “Hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup dalamku“ (Gal. 2:20). Kalau kita mengaku bahwa kita adalah pengikut Kristus sejati maka biarlah Kristus saja yang berotoritas atas seluruh hidup kita. Memang, banyak tantangan yang mesti kita hadapi sebab iblis pasti tidak akan membiarkan begitu saja namun percayalah Tuhan yang berotoritas akan memberikan kekuatan sehingga kita dapat menghadapi tantangan itu.
2. Otoritas Kristus lebih besar dari otoritas iblis.
Pengakuan pertama bahwa Kristus adalah Anak Allah justru bukan keluar dari mulut murid-murid-Nya melainkan keluar dari mulut iblis. Setibanya Tuhan Yesus di seberang, yaitu di daerah Gadara datanglah dua orang kerasukan setan menemui Yesus. Kalau biasanya ia datang untuk menganggu dan menakuti orang-orang tapi kini ia sendiri yang takut ketika bertemu dengan otoritas sejati: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?“ Iblis tahu bahwa kekuatan yang ia punyai sekarang hanya bersifat sementara saja maka ketika Kristus datang iblis memohon supaya ia tidak disiksa pada hari itu. Tidak ada satu orang pun yang berani lewat ke daerah itu sebab orang yang kerasukan setan itu sangat garang dan mengerikan. Bukankah kita juga seringkali menunjukkan sikap demikian, yakni kita lebih takut pada setan daripada takut Tuhan. Terhadap Tuhan kita berani berbuat kurang ajar tetapi pada orang yang kerasukan setan kita tidak berani bermain-main padahal setan sangat takut ketika bertemu dengan Tuhan. Jadi, sangatlah tidak logis kalau anak Tuhan takut pada anak setan justru sebaliknya setan seharusnya takut pada Tuhan sebab Tuhan pemegang otoritas tertinggi.
Seringkali, diri kita sendirilah yang menjadikan Allah itu kecil maka tidaklah heran kalau kemudian semua masalah kita menjadi besar karena hidup kita telah terkunci oleh pikiran kita yang telah dikuasai oleh setan. Memang ironis, kita lebih takut pada manusia yang telah dikuasai oleh iblis namun kita tidak takut pada otoritas Tuhan yang lebih besar yang telah membuat iblis takut dan gemetar. Kalau kita mengakui Yesus sebagai Raja dan Tuhan atas hidup kita lalu sudahkah otoritas yang sejati itu menguasai hidup kita? Celakalah, kalau kita salah menempatkan posisi maka pastilah kita tidak akan merasakan ketenangan dalam hidup, kita selalu dicekam ketakutan apalagi ketika kita berhadapan dengan kuasa setan. Injil Markus dan injil Lukas mencatat iblis itu bernama Legion yang berarti banyak, hal ini menunjukkan besarnya kekuatan iblis yang merasuk namun kuasa setan yang besar itu menjadi sangat kecil ketika berhadapaan dengan kuasa Tuhan Yesus. Ada dua sikap yang ditunjukkan oleh orang yang berada di luar Kristus dan keduanya bersifat negatif, yaitu: 1) orang yang secara fisik dibelenggu iblis sehingga ia menjadi sangat berbahaya sampai tidak ada seorang pun yang berani melalui jalan itu, 2) orang yang egois dan mengusir Yesus untuk pergi dari tempat itu. Orang Gadara tidak berani mengusir orang yang dirasuk setan itu sebab mereka sangat takut namun, ironis ketika Tuhan Yesus datang dan mengusir setan itu, mereka justru mengusir Yesus pergi. Mereka tidak dapat melihat otoritas sejati yang ada pada diri Kristus itu bukan karena mata mereka buta, tidak, mereka melihat namun tidak melihat, mereka mendengar namun tidak mendengar dan mereka tidak mengerti. Pertanyaannya adalah siapa mereka sehingga mereka berani mengusir Kristus pemegang otoritas tertinggi? Orang tidak menyadari otoritas Kristus adalah otoritas positif dan tidak perlu ditakuti. Ketakutan manusia pada setan yang berotoritas negatif itu menyebabkan manusia akhirnya berafiliasi dan pro dengan kuasa kejahatan. Manusia mau tunduk dan diikat dengan kuasa kejahatan tapi dengan kuasa kebajikan, manusia tidak mau tunduk. Inilah manusia berdosa. Marilah kita evaluasi diri dan jujur, siapakah yang berotoritas atas hidup kita, Tuhan atau iblis? Tidak ada orang lain yang tahu otoritas siapakah yang ada dalam kita, hanya kita sendiri yang tahu. Segeralah bertobat dan memohon ampunan pada Tuhan dengan demikian kita dapat bersaksi dan menyadarkan manusia betapa bahagia dan indah kalau kita hidup di bawah otoritas Tuhan. Memang benar, secara kasat mata, kita tidak melihat hal-hal yang spektakuler ketika kita berada di bawah otoritas Kristus namun disanalah kita akan merasakan ketentraman seperti Daud yang dapat berkata, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau....“
3. Otoritas Kristus berkaitan dengan pola pikir.
Otoritas Tuhan berkait erat dengan cara berpikir Tuhan. Otoritas Tuhan memberikan pilihan, otoritas itu memberikan nilai, otoritas itu membuat kita harus merekonstruksi cara berpikir kita. Mengikut Tuhan dan mengikut setan merupakan dua hal yang berbeda maka seorang anak Tuhan ketika melihat orang kerasukan setan, ia akan melihat orang tersebut sebagai orang yang harus diselamatkan sebab satu nyawa lebih berharga daripada seluruh harta di dunia. Berbeda dengan anak iblis, mereka lebih menghargai babi daripada nyawa manusia karena itulah mereka mengusir Yesus keluar dari Gadara. Mengikut Kristus membuat kita tahu mana yang lebih bernilai dan mana yang tidak. Tuhan sangat menghargai nyawa manusia tapi sebaliknya, iblis lebih pro pada babi. Andai, satu ekor babi seharga 5 juta rupiah maka itu berarti 2000 ekor babi berharga 10 milyar rupiah dan setan lebih menghargai babi. Kalau ia anak iblis pasti akan langsung kelihatan cara berpikir kita ia langsung menghitung untung dan rugi. Sebagai anak Tuhan yang sejati seharusnya kita meneladani Kristus yang menghargai satu nyawa manusia. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh isi dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Mat. 16:26).
Harga nyawa manusia bukanlah 10 milyar rupiah atau sama dengan 2000 ekor babi, tidak, harga nyawa manusia sangat mahal sehingga demi untuk menebus nyawa manusia, Tuhan Yesus rela mati. Sayang, kita sendirilah yang menyamakan harga kita dengan babi, konsep nilai kita menjadi rusak sebab kita selalu berpola pikir babi, pig thinking. Ketika kita menilai manusia hina maka itu berarti kita menilai diri kita sendiri hina. Kita menilai orang ini cocok seharga beberapa ekor babi tanpa kita sadari sesungguhnya kita bukan berbicara tentang orang lain melainkan kita telah menilai harga diri kita sendiri. Sebab orang lain akan memikirkan lain, konsep pikir orang lain tidak sama dengan konsep berpikir kita. Perhatikan, Tuhan Yesus berpikir nyawa manusia lebih berharga dari 2000 ekor babi tetapi orang Gadara lain, mereka berpikir 2000 ekor babi itulah yang lebih berharga dari nyawa manusia. Hari ini, demi sebuah sepeda motor, orang bisa membunuh orang lain namun demi orang-orang berdosa seperti inilah Tuhan Yesus rela mati dan menjadi tebusan bagi kita. Dunia menghargai hidup manusia sangat murah dan tidak berarti, hanya di hadapan Tuhan saja, hidup kita dihargai sangat mahal.
Tuhan tidak melihat dari fenomena belaka, Ia melihat dari esensi, itulah sebabnya Ia menilai sebuah nyawa dengan sangat mahal. Kita menjadi bernilai bukan karena dunia yang menilai tetapi jadilah manusia yang bernilai di dalam Kerajaan Sorga. Hanya di hadapan Tuhan saja diri kita menjadi sangatlah bernilai, yakni senilai dengan darah Kristus domba Allah yang tercurah. Ia, yang tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Rm. 8:32). Kalau demikian pertanyaannya adalah masihkah anda menyerahkan hidupmu di bawah otoritas setan? Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050306.htm]The Authority of Christ over Satan[/url]
|

6th May 2008
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Matius 8: 28-34: THE STRATEGY OF SATAN
Ringkasan Khotbah : 13 Maret 2005
The Strategy of Satan
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 8:28-34
Hari ini banyak orang menyebut dirinya sebagai pengikut Kristus namun ia masih berpola pikir seperti iblis. Karena itu setiap orang Kristen perlu tahu strategi-strategi setan dengan demikian kita tidak mudah masuk dalam jebakan iblis sebab sekali kita masuk jebakannya maka akan sulit keluar, iblis akan membelenggu kita. Hanya Kristus Yesus, pemegang otoritas tertinggi yang dapat melepaskan kita dari ikatan belenggu iblis. Tuhan Yesus dapat mengusir setan di Gadara ini membuktikan otoritas Kristus lebih besar dari otoritas setan. Setan menjadi takut dan gemetar ketika ia berhadapan dengan Anak Allah. Ironisnya, orang lebih takut pada kuasa setan daripada kuasa Tuhan yang kepada-Nya setan menjadi takut. Setelah Kristus mati dan bangkit maka tidak ada kekuatan apapun yang dapat melawan kuasa Allah bahkan iblis pun takut kepada anak Tuhan sejati sebab kepada mereka diberinya kuasa sehingga kita dapat berkata, “Hai, maut dimanakah sengatmu?“ Namun realita tidaklah demikian Tuhan Yesus datang untuk menolong orang yang kerasukan tapi Tuhan Yesus justru yang diusir pergi.
Kekuatan orang yang dirasuk setan ini pastilah sangat dahsyat sebab sekian lama ia dirasuk dan tidak ada seorang pun yang dapat menyembuhkannya bahkan dirinya sendiri tidak mampu mengendalikan kuasa setan yang telah membelenggunya. Hari itu Tuhan Yesus datang ke Gadara khusus untuk menyembuhkan orang yang kerasukan namun reaksi yang ditunjukkan oleh orang Gadara sangatlah mengejutkan, orang-orang Gadara itu menjadi takut (Mrk. 5:15). Ternyata “demonstrasi kuasa Allah“ itu tidak membuat orang-orang Gadara bersyukur dan sujud menyembah pada-Nya tetapi mereka takut dan mengusir Yesus. Bukan ucapan terima kasih yang Tuhan Yesus terima sebab Dia sudah menyelesaikan masalah yang selama ini tidak dapat mereka atasi; penduduk Gadara takut melihat orang yang sudah waras dan ketakutan itu mampu mengusir Yesus. Reaksi yang ditunjukkan oleh orang-orang Gadara ini sungguh tidak masuk akal maka hal ini membuat kita bertanya-tanya what is the strategy of satan?
I. Fearness Authority
Kalau kita mau jujur menilik ke dalam hati kita, apakah kita suka kalau Tuhan Yesus ikut campur tangan dalam hidup kita? Mungkin kita juga akan berpola pikir seperti orang-orang Gadara, kita tidak suka kalau Tuhan Yesus mengatur hidup kita; pikiran kita telah dikuasai oleh iblis sehingga tanpa sadar sebenarnya kita lebih pro pada iblis meski mulut kita berkata, “Aku anak Tuhan.“ Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mereka justru mengambil keputusan untuk mengusir Yesus pergi padahal Tuhan Yesus telah menolong mereka dengan mengusir setan? Apa yang sebenarnya ada dalam pemikiran mereka sehingga mereka mengambil keputusan itu? Mengapa mereka tidak dapat melihat bahwa Yesus adalah Anak Allah seperti yang diteriakkan oleh iblis? Seluruh orang Gadara seharusnya bersyukur dan sujud menyembah pada Tuhan Yesus, Anak Allah, setan pun harus tunduk kepada-Nya sebab otoritas tertinggi ada ditangan-Nya namun orang-orang Gadara justru merasa terganggu dengan kehadiran Kristus.
Ketika kita melihat figur otoritas, maka pertanyaannya adalah figur seperti apa yang mempunyai otoritas tinggi dan yang kepadanya kita taat, yakni orang yang kejam dan menakutkan ataukah orang yang lemah lembut dan suka menolong? Kepada siapakah anda menundukkan kepala dan taat? Image authority kita telah terkondisi sedemikian rupa sehingga pada orang yang baik dan lemah lembut tapi berkuasa besar, kita tidak takut bahkan kita cenderung mau memberontak sedang pada orang yang kejam dan menakutkan, orang akan tunduk meskipun kelasnya sangat rendah. Kristus adalah otoritas tertinggi tapi sedikitpun Kristus tidak memberikan gambaran kegarangan. Setan tahu kalau otoritas yang ia miliki bukanlah otoritas tertinggi karena itu, ia selalu memakai wajah garang dan seram supaya orang tunduk padanya. Ironisnya, orang lebih suka pada pemimpin yang jahat daripada pemimpin yang baik dan lemah lembut. Betapa mengerikan kalau kita tidak mengerti dan salah menundukkan diri. Hati-hati, iblis memakai faktor “takut“ untuk mencengkeram manusia. Perhatikan, kata “takut“ ini berulang kali dipakai oleh iblis. Ketakutan ini muncul sebagai akibat dari dosa. Sebelum manusia jatuh dalam dosa, seluruh alam semesta tertata dengan sangat rapi dan harmoni namun dosalah yang menjadikan alam semesta disharmony dan dunia dikuasai oleh ketakutan. Kalau kita pertajam, manusia sebenarnya takut mati. Setan sangat licik, ia memakai ketakutan untuk menjatuhkan manusia, yakni dengan mengiming-imingi jalan keselamatan dan celakalah kalau orang tidak mengerti bahwa keselamatan itu bukanlah keselamatan sejati malah berakhir dengan kebinasaan. Menakut-nakuti manusia dengan kematian adalah cara iblis yang paling ampuh supaya manusia mau tunduk padanya. Ketakutan itulah yang menjadikan iblis menjalankan otoritasnya. Kepada siapa kita takut maka itu berarti kita telah berada di bawah penguasaannya maka orang yang takut setan berarti ia telah menyerahkan dirinya di bawah kuasa setan yang sifatnya mematikan. Tuhan Yesus datang melepaskan kita dari belenggu ketakutan ini. Alkitab menegaskan barangsiapa ada di dalam Kristus maka ia tidak lagi dicengkeram oleh Roh ketakutan sebab Tuhan telah menyelamatkan kita dan Tuhan juga telah menghidupkan kita sehingga kita tidak perlu takut lagi akan kematian.
Satu-satunya cara supaya kita terlepas dari cengkeraman ketakutan itu adalah kalau kita menjadi anak Tuhan yang sejati. Sebagai anak Tuhan sejati, jangan takut pada kuasa setan justru sebaliknya setan yang seharusnya pada anak Tuhan sejati. Sayangnya, orang Kristen tidak mengerti sebab contoh di dunia terlalu sedikit. Setan tidak pernah memakai kehidupan Ayub, Paulus atau para tokoh iman lain yang telah menang melawan iblis sebagai contoh teladan untuk manusia. Ingat, setan tidak boleh mencobai manusia tanpa seijin dari Tuhan. Alangkah indahnya hidup yang berada dalam anugerah Tuhan sebab kita tidak perlu lagi merasa kuatir. Ingat, rasa kuatir kita tidak akan menambah satu inci hidupmu. Mengikut Tuhan maka dunia ini tidak lagi menakutkan, tidak ada sesuatu apapun yang dapat menakutkan kita. Kiranya hal ini menjadi kekuatan bagi kita sehingga merubah seluruh aspek cara hidup kita dengan demikian kita tidak dicengkeram oleh ketakutan.
Apa yang menyebabkan orang-orang Gadara ini ketakutan? Sesungguhnya, orang Gadara ini takut kalau setan yang tadinya ada pada dua orang yang kerasukan itu pindah ke mereka dan menganggu hidup mereka. Mata rohani mereka telah dibutakan oleh kuasa setan sehingga mereka tidak dapat melihat keselamatan yang telah Kristus kerjakan, mereka tidak menyadari bahwa kalau Kristus dapat menyembuhkan dua orang yang kerasukan maka Kristus pun dapat menyelamatkan seluruh penduduk Gadara. Ketakutan telah menguasai hidup mereka sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi dapat melihat dengan tepat. Ironis, orang seharusnya bersyukur ketika ada orang yang diselamatkan tapi sikap yang kita lihat justru terbalik. Sikap orang Gadara ini pun sekarang juga terjadi, banyak orang tidak suka kalau banyak orang yang diselamatkan; orang takut kalau semakin banyak orang yang bertobat dan menjadi pengikut Kristus maka jiwanya juga menjadi terancam. Merupakan suatu sukacita kalau kita menjadi martir bagi-Nya. Ingat, Tuhan telah memilih kita dari dunia, sebab itulah dunia akan membenci kita.
II. Change of Priority
1. Secondary Purpose
Apa yang seharusnya menjadi hal yang terutama oleh setan justru ditiadakan dan hal yang sekunder itulah yang ditonjolkan sampai akhirnya pola berpikir manusia berbeda. Pemikiran manusia sangat terkondisi dengan informasi apa yang dimasukkan dalam pikiran kita dan bagaimana cara men-indoktrinasi maka media itu menjadi berbahaya. Media bersifat subyektif, sebagai contoh, media dapat menjadi sarana bagi para penulis untuk mengarahkan pembacanya sedang data itu sendiri bersifat obyektif. Dengan data yang sama pula maka media itu dapat dipakai untuk mengarahkan seseorang untuk menjadi seorang pemberontak atau penurut. Hati-hati, setan memakai sarana ini supaya kita lebih memperhatikan hal-hal yang sekunder dan meniadakan hal yang utama. Dengan caranya yang licik, iblis meng-indoktrinasi kita dengan memberikan informasi yang tidak penting dan menyembunyikan kebenaran. Anak Tuhan harus berkata kebenaran, jangan tutupi kebenaran dengan motivasi lain. Orang-orang di Gadara tidak dapat melihat hal yang inti, yakni Yesus datang untuk menyembuhkan orang yang kerasukan dengan liciknya, setan menutupi motivasi yang utama tersebut dan mengatakan kedatangan Yesus adalah untuk menganggu. Pikiran orang-orang Gadara telah dirasuk oleh iblis maka tidaklah heran kalau mereka kemudian mengusir Yesus.
2. Secondary Value
Setan juga menggeser konsep nilai. Yesus menyelamatkan orang yang kerasukan itu karena Yesus tahu nyawa manusia lebih berharga dari apapun namun orang Gadara tidak memperhatikan hal itu, mereka justru memikirkan kerugian materi yang harus mereka tanggung karena 2000 ekor babi mati, pikiran mereka telah dibutakan oleh materi, pig thinking. Manusia tidak dapat lagi menilai yang esensial, bahkan demi untuk mendapatkan sedikit uang, orang rela menjual harga dirinya. Setan telah berhasil merusak konsep nilai sehingga orang tidak tahu lagi mana yang bernilai tinggi dan mana yang bernilai rendah. Umumnya, orang menilai berdasarkan empat variabel, yaitu: 1) asumsi atau instinct, 2) kemampuan atau kapasitas diri, 3) selera masing-masing, 4) obyek benda. Dari keempat variabel di atas, menilai yang paling tepat haruslah secara obyektif dan hal itu tidaklah mudah sebab dibutuhkan studi dan kecermatan tinggi. Setan tahu bagaimana caranya menarik manusia supaya menjadi pengikutnya, yaitu setan akan menjepit dan membawa kita pada kepentingan subyektifitas dan akhirnya kita tidak dapat menghindar. Tanpa kita sadari, kita pun ikut dengan cara setan dan value system kita persis dengan setan. Ingat, segala sesuatu yang Tuhan kerjakan atas diri kita tidak akan pernah merugikan atau mengecewakan.
3. Secondary Effects
Setan menggeser dampak untuk Tuhan menjadi dampak untuk manusia. Setan tidak pernah mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan dampak akhirnya adalah untuk Tuhan. Tidak! Setan mempengaruhi manusia sedemikian rupa supaya segala sesuatu yang dikerjakan demi untuk kepentingan humanistik, egoisme manusia. Dengan akal liciknya, setan menawarkan kenikmatan sesaat sehingga manusia tidak menyadari bahwa semua kepentingan diri itu akan membawanya pada kematian kekal. Orang Gadara lebih memilih mengusir Yesus dan kehilangan keselamatan. Pikiran mereka telah dikuasai oleh iblis sehingga mereka hanya berpikir tentang babi-babi yang mati, yaitu kerugian materi. Sangatlah disayangkan, mereka tidak dapat melihat efek yang menyangkut tentang kemuliaan Tuhan, iblis telah membutakan mata rohani mereka sehingga mereka hanya melihat kemuliaan manusia. Inilah cara iblis menipu manusia sehingga manusia tidak bisa lepas dari cengkeramannya itulah sebabnya Tuhan Yesus langsung pergi tanpa memberikan penjelasan kepada mereka karena memang tidak perlu, pikiran mereka telah dibutakan kuasa iblis.
Celakalah, kalau hidup kita hanya untuk mengejar kemuliaan diri berarti iblis telah berhasil menguasai kita sehingga kita tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan dalam setiap aspek hidup kita. Setan sangat pandai menggoda manusia dengan mengiming-imingi harta di dunia sehingga manusia dengan ambisinya mengejar harta yang sifatnya sementara. Ingat, apalah gunanya mencari harta di dunia kalau hidup kita hanya berakhir dengan kebinasaan. Setan pintar sekali menutup dampak-dampak yang harusnya membawa kita pada surga dan ia membawa kita pada dampak-dampak yang berakhir dengan kebinasaan. Semua dampak yang sifatnya positif, setan tutup dan setan ganti dengan segala hal yang negatif. Biarlah apapun yang kita kerjakan, kerjakanlah untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Sayang, banyak orang Kristen yang tidak menjadi saksi, segala sesuatu yang ia lakukan hanya memalukan nama Tuhan. Hati-hati ini juga salah satu strategi setan yang menjebak orang Kristen supaya berbuat sesuatu yang kemudian memalukan nama Tuhan. Biarlah kita mencontoh teladan Tuhan Yesus sebagai pemegang otoritas tertinggi namun Ia lemah lembut dan berintegritas. Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050313.htm]The Strategy of Satan[/url]
|

13th May 2008
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Matius 9:1-8: SEPARATED FOR GOD'S MISSION
Ringkasan Khotbah : 03 April 2005
Separated for God's Mission
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 9:1-8
Kita telah memahami beberapa bagian dari implikasi Kerajaan Sorga yang dipaparkan oleh Matius, yakni bagaimana men-Tuhankan Kristus dalam hidup kita, the Lordship of Christ; sebagai warga Kerajaan Sorga harus taat pada Sang Pemimpin, yaitu Yesus Kristus. Percayalah, Kristus pasti akan memimpin jalan kita, Dia tidak memimpin kita menuju kebinasaan. Kalau kita telah menyadari bahwa Kristus adalah Tuhan atas hidup kita maka hal itu bukan hanya sekedar pengakuan tetapi kita harus mengikut secara terus menerus tanpa syarat, the disclepship of Christ. Sebagai pengikut Kritus maka ada konsekuensi yang wajib dijalankan, yaitu hidup kudus. Kudus tidak identik sama persis dengan suci. Kudus berasal dari kata kadosh (bahasa Ibrani) berarti dipisahkan dari dosa untuk menjalankan misi Kerajaan Sorga di tengah dunia, separated for God’s mission. Alkitab menegaskan dosa berarti memberontak dan melawan Allah dan kebenaran-Nya. Kita dipanggil untuk hidup kudus maka janganlah seturut dengan dunia tetapi kita harus berpaut dan seluruh hidup kita berorientasi pada Kristus yang telah memperdamaikan dan kita harus hidup suci. Suci merupakan cerminan dari sifat dan moralitas Ilahi yang terimplikasi dari diri kita yang sudah dikuduskan oleh Kristus dengan demikian kita mempunyai kualitas moral yang berbeda dengan kualitas moral dunia.
Matius juga ingin menyadarkan kita bahwa religiusitas tidaklah cukup kecuali kita kembali pada paradigma yang benar yang selama ini telah kita geser, paradigm shift. Iman bukanlah sekedar menggeser tindakan tetapi menggeser cara konsep pikir yang paling esensi di dalam pola pikir, world view. Dunia science mengenal sebagai paradigma dan Kekristenan menyebutnya sebagai iman. Iman sejati harus kembali pada satu konsep yang sejati sebab pergeseran iman ini menyangkut konsep berpikir yang tuntas. Dengan kata lain: jangan sekedar ganti tampilan tetapi ganti esensi. Secara singkat, Matius menuliskan ada seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya lalu Tuhan Yesus menyembuhkannya sehingga ia dapat berdiri dan berjalan namun cara Tuhan Yesus menyembuhkan sangatlah kontroversial, yaitu bukan berkata: “Sembuhlah kamu“ melainkan “Dosamu telah diampuni.“ Kalimat inilah yang menjadi inti yang hendak dipaparkan oleh Matius. Kalau kita bandingkan dengan Injil Markus dan Injil Lukas maka kita mengetahui detail peristiwa orang lumpuh ini bisa sampai di hadapan Yesus dengan cara yang sangat unik, yaitu ia digotong oleh empat orang dan karena orang banyak berada di dekat Yesus, mereka membuka atap lalu menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Detail tersebut sengaja tidak ditulis oleh Matius sebab memang bukan itu yang menjadi inti yang hendak dipaparkan oleh Matius. Sebagai contoh, dari perikop di atas, orang bisa saja berkhotbah tentang kerjasama yang mendatangkan suatu berkat atau juga tentang usaha atau perjuangan yang keras akan mendatangkan berkat dan kesuksesan. Melalui bagian ini, sebenarnya Matius ingin menekankan bagaimana orang lumpuh ini disembuhkan dengan cara yang sangat unik, yakni melalui dialog dengan Tuhan Yesus lalu dialog itu diinterpretasi oleh ahli Taurat. Meski tidak diucapkan secara langsung namun Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi isi hati si Ahli Taurat lalu Tuhan Yesus berkata: “Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?“ Orang pasti akan berkata, “Tentu yang paling mudah kalau mengatakan: Bangun dan berjalan.“ Namun justru itu, Tuhan Yesus tidak berkata demikian, Ia ingin memberitahukan bahwa di tengah-tengah dunia ini, Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa. Disini terjadi pertentangan konsep berpikir maka supaya tidak terjadi pertentangan, orang kemudian menyamakan konsep berpikirnya atau orang tidak mau berpikir lagi akan hal-hal yang rumit dan bersifat kontroversial. Orang tidak suka kalau hal yang esensial, yaitu iman dipertanyakan.
Francis Schaefer menegaskan I do what I think and I think what I believe, saya melakukan apa yang saya pikir dan apa yang saya pikir itulah yang saya percaya. Kepercayaan terimplikasi pada pemikiran dan pemikiran itu terimplikasi pada tindakan. Tuhan Yesus menyadarkan kita supaya jangan melihat iman sekedar dari permukaan saja, yakni kesembuhan.
Sebab orang lebih mudah melihat hal yang fenomena daripada yang esensi; sebagai contoh, orang yang terkena gejala demam maka tidak setiap orang yang mengalami demam mempunyai penyakit sama, bukan? Itulah sebabnya, Tuhan Yesus mengajak kita untuk beriman bukan karena melihat fenomena atau gejala tetapi lebih dari itu, yaitu esensi. Tuhan Yesus datang untuk menyelesaikan dosa dan berita ini tidak disuka oleh orang Yahudi maupun ahli Taurat. Kenapa mereka sulit menerima perkataan Tuhan Yesus: Dosamu telah diampuni? Bukankah Yesus membuktikan bahwa kalimat tersebut benar adanya?
Ahli Taurat ini menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan karena ia pikir Tuhan Yesus adalah penghujat, I do what I think, dan kenapa ahli taurat ini dapat berpikir kalau Tuhan Yesus adalah penghujat karena dari kepercayaan imannya, I think what I believe. Ahli Taurat ini tidak mau mengakui kalau Yesus adalah Allah. Kalau mereka percaya bahwa Yesus adalah Allah pasti tidak akan ada konflik yang timbul. Konflik ini muncul setelah mereka melihat realita, kalau benar Yesus adalah penghujat seperti dugaan mereka tapi kenapa keadaan justru bertambah baik. Kuncinya adalah apa yang mereka percaya tidak dapat dibereskan sebab ketika orang mulai masuk dalam aspek iman maka didalamnya terkandung unsur kemutlakan. Iman sejati menyangkut kemutlakan, iman sejati menuntut jawaban: ya atau tidak. Hal inilah yang menjadi masalah si ahli Taurat, dia dituntut percaya atau tidak bahwa Yesus adalah Allah. Mengikut Kristus bukan hanya sebatas fenomena tapi mengikut Kristus haruslah sampai pada titik kemutlakan iman. Melalui dialog antara Tuhan Yesus dengan orang lumpuh ini, Matius ingin membukakan pada kita yang mengaku sebagai warga Kerajaan Sorga maka sampai dimanakah wilayah pemisahan itu? Kalau kita telah dikuduskan/dipisahkan maka pemisahan seperti apa? Pemisahan itu haruslah sampai pada kriteria yang paling dalam, yaitu iman. Iman adalah sebuah kemutlakan, tidak bisa digandakan dan tidak bisa dikompromikan.
Jadi, kalau kita mengaku percaya kepada Kristus maka kita harus percaya hanya kepada-Nya saja. Kepercayaan mengandung harus tunggal adanya. Tuhan Yesus menegaskan tak seorang pun dapat mengabdi pada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat. 6:24). Kalau kita beriman pada Kristus maka apa yang kita pikirkan, apa yang kita lakukan haruslah hanya berorientasi pada Kristus. Demikian juga kalau kita beriman pada uang maka hidup kita hanya berorientasi pada uang semata. Hati-hati dengan pendapat yang mengajarkan bahwa semua agama di dunia sama, yaitu mengajarkan kebaikan sehingga iman itu tidak perlu dimutlakkan dan jangan terlalu fanatik dengan imanmu. Pertanyaannya sekarang apakah dengan adanya pendapat demikian maka kemutlakkan iman menjadi sesuatu yang tidak mutlak lagi sehingga boleh dikompromikan atau bahkan ditiadakan? Tidak! Dalam aspek religius mengandung tiga unsur kemutlakan, yaitu:
1. Kemutlakan Tesis
Sesuatu yang menjadi tesis atau sesuatu yang ada dalam konsep pemikiran seseorang sebenarnya itulah yang menjadi inti imannya. Kalau seseorang percaya pada Kristus maka seluruh hidupnya hanya berorientasi pada Yesus yang menjadi Tuhan dan Raja atas hidupnya. Begitu juga kalau orang beriman pada uang maka seluruh orientasi hidupnya hanya pada uang. Orang Kristen yang mengatakan bahwa Kekristenan tidak beda dengan agama lain maka orang tersebut pasti bukan Kristen sebab ia tidak mengerti tentang Kekristenan sejati. Iman dalam setiap agama haruslah mengandung unsur kemutlakan dan kemutlakan inilah membedakannya dari yang lain. Sebab kalau kemutlakkan itu sama maka agama di dunia tidak banyak tapi realitanya tidaklah demikian.
Orang yang mengatakan bahwa semua agama itu sama sesungguhnya ia juga mempunyai kemutlakan, yaitu kemutlakkan pada dirinya sendiri. Orang demikian akan menjadi marah ketika ada orang yang mengkutak-kutik kemutlakannya. Sebab baginya, semua agama itu sama adalah mutlak padahal ada orang lain yang tidak setuju dengannya. Berarti dia memutlakkan dirinya sendiri dengan mengatakan: “tidak ada yang mutlak“. Jadi, untuk mengatakan tidak ada yang mutlak diperlukan semangat kemutlakan. Itulah manusia berdosa. Pertanyaannya dimana imanmu yang sebenarnya? Karena itu kita perlu kembali pada konsep yang benar, yaitu what do you do, what do you think, and what do you believe harus kita bereskan terlebih dahulu. Marilah kita uji diri kita, sudahkah kita memiliki iman yang sejati? Kepada siapakah kita beriman? Cobalah telusuri dari dasar, pemikiran apa yang mendasari tindakan atau tingkah laku kita? Pertanyaan lebih lanjut why do you think like that? Benarkah Kristus yang menjadi pusat iman kita?
2. Kemutlakan Karateristik
Kemutlakan karateristik merupakan citra Kekristenan yang tidak dipunyai oleh orang lain. Iman yang sejati harus mempunyai karakteristik atau ciri khas yang membedakan dengan iman yang lain karena itu menjadi implikasi sebuah kemutlakkan. Karakteristik ini dapat diuji dengan karakteristik yang dimiliki oleh iman yang lain. Sangatlah mudah bagi Yesus untuk berkata: “Bangun dan berjalanlah“ tapi apa bedanya dengan yang lain sebab orang lain pun dapat melakukan hal demikian. Tuhan Yesus ingin menunjukkan sesuatu yang agung dan itu tidak ada pada iman yang lain, yakni: “Anak Manusia mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa.“ Kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus ini menunjukkan siapa diri-Nya, who Jesus is? Yesus bukan sekedar manusia biasa tapi Ia membuktikan bahwa dirinya lain dari manusia biasa. Jikalau tulah pertama hingga tulah keempat yang dilakukan oleh Musa dapat dilakukan juga oleh para dukun Mesir maka Alkitab mencatat Firaun mengeraskan hati. Dengan kata lain Firaun hendak berkata, “Dewa Mesir pun dapat melakukan seperti yang dilakukan Allah Yahweh maka kenapa kami harus percaya pada Allah Yahweh?“ Mulai tulah kelima hingga tulah kesepuluh, orang Mesir tidak dapat meniru yang Tuhan lakukan dan saat itu Alkitab mencatat Tuhan mengeraskan hati Firaun. Tuhan Allah mau menunjukkan kualitas diri-Nya. Inilah iman sejati. Iman sejati mempunyai kemutlakan karakteristik sejati. Kemutlakan ini tidak dapat dilakukan oleh orang lain.
Kekristenan bukanlah salah satu agama diantara banyaknya agama di dunia. Bukan! Kekristenan adalah satu-satunya yang mempunyai finalitas yang tidak dapat dilakukan orang lain. Dunia mengajarkan kalau kita dipukul sekali maka kita harus membalasnya dua kali sebab pembalasan harus lebih kejam maka ketika ada orang yang mengajarkan pembalasan haruslah impas, gigi balas gigi, mata balas mata maka orang melihat ajaran tersebut baik. Namun Tuhan Yesus mengajarkan kalau engkau ditampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu. Ajaran Tuhan Yesus mengandung kualitas yang agung dan dunia tidak dapat menjalankannya. Celaka, banyak orang Kristen tidak mengerti keagungan ini. Ingat, pembalasan itu adalah hak Tuhan. Keadilan bukan di tangan manusia tapi di tangan Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat menilai dengan tepat seberapa ukuran pembalasan yang harus diberikan. Ketika kita diperlakukan tidak adil pertanyaannya benarkah kita tidak bersalah? Atau jangan-jangan memang kita yang bersalah. Kalau kita diperlakukan tidak adil karena kebenaran maka percayalah, Tuhan tidak akan tinggal diam, Dia yang membalaskan-Nya sesuai dengan keadilan-Nya. Dunia tidak mengerti dan tidak dapat melakukannya sebab providensia Allah menjadi batasan sehingga orang yang dapat melakukan yang Kristus ajarkan. Hal ini merupakan salah satu dari finalitas Kekristenan dan masih banyak lagi.
3. Kemutlakan Nilai
Iman sejati mengandung kemutlakan sejati dan kemutlakan sejati itu harus mengandung nilai sejati. Nilai sejati inilah yang mendorong kita untuk mempunyai semangat hidup. Kalau uang yang kita anggap sebagai yang bernilai dalam hidupmu maka segala tindakan yang kita lakukan pastilah berorientasi pada uang bahkan engkau rela mati demi untuk uang. Pertanyaannya setelah kita berjuang mati-matian apa hasil yang kita dapatkan? Apakah kita menjadi lebih baik, lebih kaya, atau lebih hidup? Tidak! Kemungkinan orang lumpuh ini berpikir sangat sederhana, yakni ia hanya ingin sembuh dengan demikian ia tidak bergantung pada orang lain. Namun Tuhan Yesus mengajak dia untuk berpikir lebih jauh lagi, yakni masalah utamanya sebenarnya tidaklah sesederhana itu. Tentu, dengan mudah Tuhan Yesus dapat menyembuhkannya tapi setelah itu mati, lalu apa gunanya maka inti permasalahannya adalah kita manusia berdosa. Tuhan Yesus melihat bahwa kelumpuhannya mungkin malah membuat dia tidak berdosa tapi kalau ia disembuhkan dan dapat berdiri maka itu justru malah membuat dia lebih berdosa dan mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Dosamu diampuni“. Orang yang mengerti benar akan nilai yang sejati maka ia tahu dan sadar bahwa hidup bukan sekedar kesehatan, keuangan atau kekayaan. Hidup itu kembalinya kita pada Sumber Hidup. Hidup mencapai nilai tertinggi ketika iman kita berpaut pada Allah yang sejati. Dimanakah imanmu? Kepada siapakah anda mempertaruhkan hidup anda? Ingat, kita tidak bisa mengabdi pada dua tuan, kita harus memilih beriman pada Mamon dan berakhir dengan kebinasaan ataukah pada Allah Sang Sumber Hidup? Pilihan kita menentukan nilai hidup kita. Iman Kristen adalah iman yang terimplikasi dan terlaksana dalam kehidupan kita sehari-hari. Biarlah kita merubah seluruh citra hidup kita dengan demikian kita dapat menjadi saksi-Nya. Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050403.htm]Separated for God's Mission[/url]
|

19th May 2008
|
 |
AP - Aspiring Evangelist
|
|
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
|
|
Matius 9:1-8; 16:23: THINKING AFTER GOD'S THINKING
Ringkasan Khotbah : 10 April 2005
Thinking After God's Thinking
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 9:1-8, 16:23
Sebagai warga Kerajaan Sorga maka seharusnya kita harus taat pada hukum Kerajaan Sorga yang kita kenal dengan Khotbah di Bukit (Mat. 5-7). Tuhan juga menuntut kita untuk hidup kudus. Kita telah memahami bahwa kudus tidak sama dengan suci; kudus berasal dari kata kadosh (bhs. Ibrani) yang artinya separated for God’s Mission, dipisahkan dari dosa untuk menjalankan misi Kerajaan sorga di tengah dunia. Pemisahan disini bukanlah pemisahan di permukaan tapi lebih dari itu, yaitu pemisahan paradigma atau pola pikir. Seperti ungkapan Francis Schaefer, I do what I think and I think what I believe; apa yang saya percaya mempengaruhi atau memberikan seluruh warna pada pemikiran saya lalu pemikiran saya itulah yang mempengaruhi seluruh tindakan yang saya lakukan tiap-tiap harinya. Itulah sebabnya kalau orang meminta penjelasan tentang keputusan yang mendasari tindakan kita maka kita dapat memberikan alasan pada mereka. Pemikiran ini tidak muncul mendadak; apa yang kita pikirkan kita merupakan produk dari kepercayaan kita. Begitu juga kalau kita bertanya pada orang Kristen tentang iman kepercayaannya maka ia akan mengaku bahwa ia percaya kalau Tuhan memimpin akan tetapi kalau kita mau jujur ternyata keputusan dan pemikiran kita tidak sesuai dengan prinsip kebenaran Firman Tuhan tapi seringkali kita berjalan menurut kehendak diri sendiri. Orang hanya bertanya kalau melakukan tindakan ini boleh/tidak? Sebenarnya yang menjadi inti permasalah bukan boleh atau tidak tapi pertanyaannya adalah kenapa boleh dan kenapa tidak? Apa yang mendasari boleh/tidaknya kita melakukan suatu tindakan? Sebab sesuatu tindakan suatu saat boleh dilakukan tapi di suatu saat tidak boleh dilakukan maka orang akan memberikan argumentasi dimana argumentasi tersebut merupakan hasil dari pemikiran kita yang menjadi dasar iman kepercayaan kita.
Pada perikop ini LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) memberikan judul “Orang Lumpuh Disembuhkan“ padahal bukan itu yang menjadi inti dari tulisan Matius sebab yang menjadi inti adalah kenapa sembuh. Di setiap perikop, LAI memberikan judul yang tidak sesuai dengan inti permasalahan yang hendak dipaparkan oleh Matius. Perikop “Matius Pemungut Cukai Mengikut Yesus“ inti dari kisah itu adalah kenapa seorang pemungut cukai bisa mengikut Yesus? Perikop lain, yakni “Hal berpuasa“ penekanan bukan puasanya tetapi alasan kenapa orang harus berpuasa, apakah orang yang puasa berarti ia saleh? Dalam bagian ini, Tuhan Yesus langsung membicarakan masalah yang biasanya mucul dalam kehidupan kita sebagai seorang yang beriman. Ahli Taurat bukanlah seorang yang tidak mengerti theologi. Tidak! Mereka banyak mempelajari Perjanjian Lama tapi mereka tidak memahami dengan pikiran yang tepat sehingga mendatangkan dampak yang negatif. Ketika mereka mempelajari Firman Tuhan seharusnya mereka melihat Kristus adalah Mesias sebab semua ayat dalam Perjanjian Lama menuliskan tentang Kristus yang berinkarnasi tapi kenapa mereka tidak tahu kalau Mesias itu ada di depan mereka? Bukankah mereka mempelajari Firman bahkan hafal seluruh hukum-hukum Israel yang dibangun oleh Firman Tuhan? Dimanakah kesenjangan yang terjadi?
Di dunia modern ini ketika segala sesuatunya orang selalu menguji pikiran namun ironis, orang Kristen justru tidak mau menggunakan pikiran sebab mereka menganggap iman saja sudah cukup. Pertanyaannya sekarang adalah kalau kita tidak menggunakan pikiran apakah kita dapat mencerna kalimat tersebut di atas? Pernyataan itupun merupakan hasil dari pemikiran orang yang berpikir yang mengajak orang untuk tidak berpikir. Hati-hati jangan terjebak dengan permainan pikiran di dalam dunia theologi. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang mulai berpikir untuk tidak mau lagi berpikir dan hanya percaya saja maka ia merasa sudah beriman dengan benar dan berani mengecam orang lain. Maka tidaklah heran kalau kemudian muncul pendapat bahwa doktrin atau theologi tidaklah penting, percaya dan beriman pada Kristus itulah yang paling penting. Kalimat ini muncul dari pikiran manusia yang merupakan suatu doktrin yang hendak meniadakan doktrin. Seorang ahli Taurat adalah seorang yang sangat mengerti theologi tetapi ia telah mengkonfirmasi theologinya tanpa berani mempertanggung jawabkannya. Ahli Taurat (dan kita semua!) umumnya hanya berpikir tentang hal kesembuhan saja. Kita berpikir kalau Tuhan Yesus cukup berkata, “Bangun dan berjalanlah“ dengan demikian tidak ada pertentangan theologis, tidak ada unsur paradigma, tidak ada tuntutan iman. Ingat, kesembuhan bukan tergantung iman. Alkitab mencatat seorang perwira Romawi yang beriman pada Kristus tetapi hambanya yang tidak mengenal Kristus justru yang mengalami kesembuhan. Jadi, tidak ada unsur iman, kesembuhan itu karena Tuhan Yesus yang beranugerah sebaliknya juga orang yang beriman sungguh pada Yesus pun belum tentu mengalami kesembuhan. Banyak orang sakit di kolam Bethesda tetapi Tuhan Yesus datang dan hanya menyembuhkan satu orang saja. Kenapa hanya satu orang? Tuhan Yesus adalah Raja maka Dia berhak memutuskan siapa yang harus disembuhkan. Kalau Matius hanya berhenti sampai pada kesembuhan orang lumpuh maka kisah ini tidak ada maknanya, tidak beda dengan cerita duniawi lain. Tuhan Yesus masuk pada inti yang paling sentral, yaitu menjadi murid Kristus haruslah mempunyai pemikiran yang kudus, thinking after God’s thinking. Untuk mencapai hal ini maka ada beberapa aspek yang perlu untuk diperhatikan:
1. Kejujuran dan Keterbukaan
Ahli Taurat tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Kristus akan tetapi dia tidak berani berterus terang, dia menggerutu di dalam hatinya. Di tengah dunia ini banyak orang yang menyembunyikan iman, orang seringkali menutupi iman dengan hal-hal yang fenomena saja. Dunia meletakkan “iman“ ke dalam wilayah yang sangat pribadi, tidak boleh dipertanyakan ataupun didiskusikan. Puji Tuhan, Indonesia merupakan salah satu negara yang masih bersifat terbuka, dimana mukadimah UUD’45 berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Indonesia masih menempatkan iman di tempat teratas dan terbuka dalam pengertian yang bertanggung jawab. Banyak orang yang mau mencoba mengunci hukum ini sehingga tidak lagi menjadi hukum yang bisa dipertanggung jawabkan tetapi iman bersifat fanatisme yang tidak bisa dipertanyakan atau diuji tapi harus ditaati mutlak. Akan tetapi di ekstrim yang lain kita menjumpai ada sekelompok golongan tertentu yang hendak meniadakan iman dan agama. Orang menganggap iman dan agama sebagai hal yang bersifat pribadi maka negara tidak berhak mencampuri urusan pribadi. Akibatnya kalau ada orang yang bertanya atau mempertanyakan iman maka dijerat dengan hukum. Iman diproteksi sedemikian rupa menjadi iman yang divakumkan dari kejujuran.
Iman adalah sesuatu yang melandasi pemikiran dan tindakan kita. Tidak ada pertanggung jawaban tindakan tanpa ada alasan rasional yang mendasari tindakan tersebut. Sayangnya, hari ini banyak orang yang tidak dapat memberikan penjelasan ketika dipertanyakan tentang iman yang mendasari tindakannya, orang malah menjadi marah. Sebenarnya orang dapat memberikan alasan yang rasional ketika ditanya: Atas dasar pertimbangan apakah kamu melakukan tindakan itu? Akan tetapi hanya sebatas itu sebab kalau ditelusur lebih dalam lagi ternyata ada yang salah dengan imannya. Kalau kita mau jujur sesungguhnya di dalam seluruh tatanan hidup kita maka seringkali kita serupa dengan dunia. Sebagai orang Kristen tentulah kita tahu akan prinsip Alkitab yang benar dimana hal itu menegur kita akan tetapi kita berusaha menutupinya dengan harapan kesalahan tersebut tidak diketahui oleh orang lain maupun diri sendiri. Ingat, Tuhan Yesus tahu apa yang ada di dalam hati kita dan Dia ingin supaya kita jujur dan terbuka di hadapan-Nya.
2. Kerelaan Hati
Kita seringkali memakai paradigma kita sebagai batasan ukuran untuk mengukur orang lain. Hal inilah yang dilakukan oleh ahli Taurat, ia memakai paradigma yang ada padanya yang ia anggap benar untuk menghakimi Yesus. Si ahli Taurat ini tidak menjalankan prinsip tersebut pada dirinya sendiri tetapi ia merelasikan prinsipnya pada orang lain. Dan ketika dua prinsip bertemu, itu berarti pertemuan antara dua iman yang bersifat mutlak. Ahli Taurat ini menuduh Yesus sebagai penghujat sebab menurut kepercayaannya tidak seorang pun manusia dapat mengampuni dosa. Sampai batas ini, Tuhan Yesus pasti setuju dengan pemikiran ahli Taurat tersebut. Ketika Tuhan Yesus memberitahukan pada ahli Taurat bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa maka reaksi mereka langsung berubah sebab ada pertentangan iman di sana. Iman yang ada dalam diri ahli Taurat sedang menghakimi Kristus Ketika iman saling bertemu maka di dalamnya seharusnya mengandung pertanggung jawaban dan ada resiko besar yang harus ditanggung. Kenapa orang sulit sekali untuk berpikir seperti Tuhan berpikir, thinking after God’s thinking? Sebab itu berarti kita harus siap membongkar pemikiran kita yang salah. Iman adalah suatu kemutlakan yang tidak dapat dikompromikan atau dikombinasikan, satu-satunya cara adalah membuang pikiran kita dan menggantinya dengan yang baru. Adalah mustahil orang dapat percaya sekaligus tidak percaya kalau Yesus adalah Tuhan Allah dan Juruselamat, bukan? Menggeser sebuah iman menuntut pertanggung jawaban dengan keberanian dan kerelaan yang sungguh. Apakah kita percaya kalau Tuhan menuntun hidupmu? Setiap orang Kristen pasti akan menjawab: percaya akan tetapi kalau kita mau jujur benarkah dalam setiap keputusan yang kita ambil sehari-hari itu, Yesus memimpin hidup kita? Cobalah uji dirimu seminggu di belakang saja, apakah di setiap keputusan ataupun tindakanmu telah sesuai dengan kehendak-Nya?
Ketika kita memberitakan Injil pada seseorang maka janganlah bersukacita dulu ketika orang sudah mengatakan: “Aku percaya pada Tuhan Yesus“, cobalah bertanya lebih dalam lagi kalau sudah percaya Kristus maukah meninggalkan segala kepercayaanmu yang lain dan taat mutlak pada-Nya? Dari jawabannya barulah kita mengetahui bagaimana kepercayaan dia yang sesungguhnya. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang bersifat new age bukan inclusive God tetapi exclusive God maka bunyi hukum pertama dari hukum Taurat adalah jangan ada ilah lain di hadapan-Ku. Kalau kita mempermainkan iman maka itu berarti kita belum mengerti apa artinya dikuduskan di dalam Kristus. Ahli taurat hanya ingin kesembuhan maka kalau iman hanya menyangkut kesembuhan maka itu bukan ajaran Kristen tapi penipuan dan menjual nama Yesus. Kalau kita percaya pada Kristus maka kita harus melepaskan semua kepercayaan kita dan mengikut pada Kristus. Inilah kadosh, kekudusan Allah yang menuntut pemisahan untuk mengutamakan Allah dalam hidup kita.
3. Tidak ada posisi netral
Pendekatan religiusitas modern menegaskan bahwa semua pendekatan agama jika dibasiskan pada paradigma agamanya maka agama itu bersifat netral. Akan tetapi di mata Tuhan tidak ada posisi netral, di mata Tuhan hanya ada baik dan jahat; Dia langsung menegur ahli Taurat dengan mengatakan bahwa Dia memikirkan hal yang jahat. Ahli Taurat mendapat suatu pengujian sekaligus penghakiman, Tuhan Yesus menyatakan kebenaran sekaligus kesalahan. Ada konflik tersendiri dalam diri si ahli Taurat. Di dalam theologi Yudaisme, adalah hal yang mustahil kalau seorang penghujat dapat menyembuhkan. Namun kedua hal yang berlawanan ini oleh Tuhan Yesus dikerjakan secara paralel. Ahli Taurat ini tidak dapat menerima realita ini namun ia tidak berani berterus terang sehingga ia hanya menggerutu di dalam hati, ia berpikir jahat. Hal inipun juga terjadi pada murid Tuhan Yesus, yakni setelah pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Anak Allah maka Tuhan Yesus memberitahukan kebenaran bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Mendengar hal ini Petrus sangat kaget, ia menarik tangan Tuhan Yesus dan marah pada-Nya sebab Mesias yang ada dalam pikirannya adalah Raja dengan kuasa dan kekuatan besar dan mempunyai kerajaan yang besar bahkan menguasai seluruh kerajaan Daud dan kerajaan Salomo. Iman Petrus adalah iman duniawi yang dirohanikan. Tindakannya dipengaruhi oleh pola pikir dan pola pikirnya dipengaruhi oleh imannya. Namun Petrus tidak berani jujur, dia tidak berani mengkonfrontasikan imannya dan meninggalkan apa yang ia percaya. Petrus bukan berpikir apa yang dipikirkan Allah tetapi apa yang dipikirkan manusia karena itu Tuhan Yesus menegur Petrus dengan keras: ”Minggir setan“ (terjemahan asli).
Hal ini membuktikan bahwa di dalam dunia ini tidak ada yang netral, Tuhan hanya melihat yang baik dan jahat. Kalau kita berani menguji diri dan mengoreksi diri pastilah hari ini hidup kita menjadi lebih bersih sebab kita tahu hal yang jahat tetapi kita justru menganggapnya sebagai kebaikan. Dunia modern seringkali mengkompromikan hal-hal yang jahat bahkan cenderung mengabaikannya dengan menganggapnya netral. Memang bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk berpikir seperti Tuhan pikir tapi biarlah sebagai warga Kerajaan Sorga, kita mempunyai hati yang teachable, hati yang mau dibentuk oleh Tuhan karena kita tahu, Tuhan pasti akan memimpin kita menuju pada kebaikan. Janganlah hidup mengandalkan dunia tapi hendaklah kita mengandalkan Kristus Tuhan kita. Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050410.htm]Thinking After God's Thinking[/url]
|

27th May 2008
|
|
| |