Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | IM LIST | BOOKMARK US | HELP GUIDE | LANGUAGE:


Go Back   Forum Diskusi Kristen Internasional > AP - DISKUSI ROHANI KRISTEN > Renungan Harian
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #41 (permalink)  
Old 11th August 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Exclamation Matius 9:35-38: THE HEART OF THE KINGDOM (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 4 September 2005

The Heart of the Kingdom

ole: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.




Nats: Mat. 9:35-38






Puji Tuhan, kita telah memahami secara keseluruhan implikasi Kerajaan Sorga yang dipaparkan oleh Sang Raja, yaitu Kristus Tuhan dengan demikian sebagai warga Kerajaan Sorga kita tahu bagaimana seharusnya hidup di tengah-tengah dunia yang kacau ini dan memancarkan terang Kristus dan kini kita sampai pada bagian penutup yang merupakan misi Kerajaan Sorga. Ketika kita hidup sebagai warga Kerajaan Sorga, sebagai seorang Kristen sejati maka hal itu bukan sekedar menjadi sebuah visi atau panggilan dan menjadikan kita egois, yakni seluruh anugerah Tuhan untuk diri sendiri. Memang tidak salah kalau kita mempunyai tekad untuk hidup menjadi anak Tuhan yang sejati, bertumbuh dalam iman dan hidup memuliakan Tuhan akan tetapi kalau orientasi hidup kita berhenti hanya pada diri maka itu menjadi kefatalan dalam hidup kita sebab seluruh pelayanan dan keberadaan hidup tersebut merupakan implikasi dari egoisme, yakni pencarian aktualisasi diri yang berorientasi pada diri.

Kristus tidak mengajar kita hidup egois, hidup hanya berorientasi pada diri sendiri. Tidak! Kristus Sang Raja pemilik alam semesta telah memberikan teladan indah pada kita, Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, Dia selalu mempedulikan orang-orang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka tidaklah heran kalau kemudian orang mengakui ajaran Tuhan Yesus yang kita kenal sebagai khotbah di bukit sebagai the golden rule atau hukum emas sebab di dalamnya etika hukum Kerajaan Sorga, the highest ethics, somo bo num yang tidak ada dalam seluruh pemikiran atau filsafat dunia diajarkan oleh Kristus Tuhan. Dan sebagai puncak dari hukum Kerajaan Sorga adalah: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka (Mat. 7:12).

Ajaran Socrates yang mewakili filsafat barat dan ajaran Manxius yang mewakili filsafat timur mengajarkan hukum yang kalau sepintas bunyinya hampir sama, yakni: apa yang kau tidak ingin orang lain lakukan kepadamu maka jangan lakukan hal itu pada orang lain. Hati-hati, kalau kita tidak pahami maka kita akan menganggapnya sama tapi ajaran filsafat dunia ini banyak kelemahannya, ajaran dunia tersebut bersifat negatif maka akibatnya orang menjadi pasif. Dengan kata lain, ajaran ini mengajarkan kalau kita tidak melakukan hal-hal negatif, seperti tidak membunuh, tidak berzinah, tidak menyakiti atau tidak merugikan orang lain atau tidak melakukan hal negatif yang lain berarti diri sudah “benar.“ Namun perhatikan, ketika ia tidak melakukan hal-hal yang negatif atau hal-hal negatif lain yang dapat merugikan orang lain maka pada saat yang sama juga, ia tidak melakukan hal yang positif.

Sebaliknya, Alkitab mengajarkan kalau kita menginginkan orang lain supaya menolong kita ketika kita berada dalam kesusahan maka kita harus terlebih dahulu menolong mereka yang sedang berada kesusahan. Konsep yang diajarkan oleh Tuhan Yesus ini bersifat positif, yakni orientasi pada orang lain berbeda dengan ajaran dunia yang berorientasi pada diri semata. Tuhan Yesus tidak berorientasi pada diri-Nya sendiri melainkan Dia pergi berkeliling ke semua kota dan desa untuk mengajar, memberitakan Injil dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan manusia. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala (Mat. 9:35-36). Tuhan Yesus ingin supaya kita juga melihat bahwa di dalam Kekristenan ada suatu misi yang kita lakukan ebagai warga Kerajaan Sorga; kita harus hidup menurut aturan hukum Kerajaan Sorga yang Kristus tetapkan, yaitu men-Tuhankan Kristus, menjadi murid Kristus selamanya, dipisahkan dari dunia dan beriman pada Kristus namun setelah kita memahami semua itu maka semua itu tidak berhenti untuk diri sendiri. Pertanyaannya sudah seberapa jauhkah kita mengasihi orang lain? Mengasihi dan memperhatikan orang lain merupakan hal yang sangat penting mengingat keadaan dunia yang kacau balau saat ini dimana orang mementingkan dirinya sendiri, orang ingin diperhatikan bukan memerhatikan orang lain.

Celakanya, di dunia modern ini muncul suatu pendapat yang mengatakan bahwa egoisme malah membuat orang menjadi sukacita dan justru merupakan suatu kesalahan fatal kalau kita menganggap egoisme itu sebagai suatu kesalahan. Pendapat yang salah, sebab ketika orang mengembangkan sikap egoisme, pertanyaannya sekarang adalah sampai seberapa besarkah egoisme itu dapat terpuaskan? Coba pikir, kalau hanya satu orang saja yang berpikir egois maka hal itu tidak menjadi soal karena itu berarti satu orang mendapat kepuasan diri dan orang lain yang dirugikan akan tetapi, kalau semua orang egois, semua orang ingin diperhatikan maka akibatnya, orang akan saling dirugikan satu sama lain. Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kalau orang tidak boleh egois lalu orang harus berbuat apa? Seorang atheis pastilah tidak menemukan jawabannya karena ia tidak tahu segala sesuatu yang ia kerjakan harus untuk siapa lagi kalau bukan untuk diri. Maka tidaklah heran kalau banyak orang yang setuju untuk mengembangkan konsep egoisme. Biarlah kita menyadari bahwa anak Tuhan memang berbeda dengan dunia, Tuhan memanggil kita untuk melihat bahwa relasi hidup bukan sekedar horizontal tetapi ada yang lebih dari itu yakni secara vertikal.

Pertama, Tuhan mencipta manusia bukan untuk dilayani melainkan melayani, Tuhan mencipta kita bukan untuk dikasihi melainkan mengasihi orang lain. God create man not to get but to share. Ketika pertama kali, Tuhan menciptakan manusia, Tuhan melihat itu tidak baik maka Tuhan tidak langsung menciptakan Hawa tetapi Tuhan menciptakan binatang dan memberikan tugas pada Adam untuk menamai binatang-binatang tersebut dan ternyata baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan maka dari tulang rusuk Adam dibangunNya-lah seorang perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki. Inilah hakekat pertama manusia sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, yakni manusia dicipta untuk saling berbagi. Seluruh struktur penciptaan adalah struktur berbagi. Manusia akan merasakan suatu kepuasan tersendiri dalam hatinya, orang akan merasakan sukacita ketika ia dapat berbagi pada orang lain ketika ia dapat meringankan beban dan menolong orang lain. Kepuasan hati dan sukacita yang kita dapatkan ini tidak akan dapat dinilai dengan uang karena harganya melampaui nilai material. Jadi, jelaslah bahwa secara natur, manusia dicipta untuk berbagi dengan orang lain.

Kedua, Tuhan Yesus melihat bukan secara fenomena, Tuhan Yesus melihat dalam diri manusia seperti domba yang tidak bergembala. Domba menjadi gambaran manusia berdosa. Seperti kita ketahui, domba adalah seekor binatang lemah, ia tidak mempunyai pertahanan diri, ia tidak mempunyai cakar yang cukup kuat untuk melawan musuh, ia juga tidak dapat berlari kencang untuk menghindar dari musuh, ia hanya dapat berteriak namun toh teriakan itu tidak dapat menghindarkannya dari maut akan tetapi meski demikian domba ini termasuk binatang yang keras kepala, ia selalu ingin berjalan sendiri padahal domba kalau dibiarkan sendiri tanpa seorang gembala pastilah akan tersesat. Inilah gambaran manusia berdosa. Manusia merasa dirinya hebat sehingga ia tidak memerlukan pertolongan orang lain dan orang baru menyadari bahwa ia tidak memiliki kekuatan cukup ketika ia berada dalam kesulitan dan tantangan, orang tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan kuasa si ibilis. Maka satu-satunya jalan, supaya kita diselamatkan adalah kita harus kembali pada Kristus Sang Gembala yang agung namun sayang, manusia lebih suka jalan sendiri.

Kita sepatutnya bersyukur karena kita aman berada di dalam naungan perlindungan Kristus Sang Raja namun hal itu janganlah kita menjadi egois sebab di luar Kristus masih banyak orang yang lelah dan terlantar, seperti domba yang tidak bergembala dan celakanya, mereka tidak merasa sebagai orang yang tersesat. Namun kita juga perlu berhati-hati sebab ketika kita merasa nyaman, janganlah kita merasa diri hebat dan kita merasa tidak memerlukan pertolongan Tuhan lagi hingga suatu saat nanti, ketika kita berada dalam kesulitan, ketika orang lain tidak dapat menolong kita maka saat itulah kita baru benar-benar membutuhkan pertolongan-Nya, kita berteriak meminta tolong tapi terlambat sebab saat itu ternyata kita sudah jauh dari Sang Gembala. Itu kesalahan kita karena kita tidak mau dipimpin oleh Sang Gembala, kita menjadi terlantar dan tersesat. Sudahkah kita mempunyai hati penuh dengan belas kasih seperti Kristus yang tergerak hati-Nya ketika melihat orang-orang yang terlantar dan tersesat? Sudahkah kita mempunyai hati tidak berorientasi pada diri sendiri tetapi memandang pada Kristus? Tugas kitalah sebagai warga Kerajaan Sorga untuk berbagi dan menjadi berkat bagi mereka yang tersesat, menyadarkan orang untuk kembali dalam perlindungan Sang Gembala Agung.

Ketiga, Tuhan mengajak kita bukan berhenti sampai sekedar mempunyai hati yang berbelas kasihan saja lalu tidak bertindak apa-apa. Tidak! Tuhan ingin supaya hati yang digerakkan oleh belas kasihan itu terpancar keluar dan menjelma menjadi tindakan nyata. Jangan tertipu dengan konsep yang diajarkan Robert Tiyosaki dalam bukunya Retired Rich Retired Young. Orang hidup bukan untuk bekerja saja tetapi orang menikmati hasilnya dengan pensiun dini kalau untuk beberapa saat mungkin kita akan merasa nikmat dengan tidak bekerja tetapi bayangkan, kalau kita tidak bekerja dan seharian hanya menganggur saja maka lama kelamaan kita pasti akan mati sebab manusia bukan dicipta untuk menganggur; manusia kalau dihentikan dari suatu aktivitas yang bermanfaat maka orang tidak akan merasa sukacita tetapi ia justru kehilangan nilai dan makna hidupnya dan orang akan putus asa dan kecewa. Kristus telah memberikan teladan indah pada kita, Dia bekerja dari pagi-pagi buta sampai malam hari, Dia pergi berkeliling ke semua kota dan desa untuk memberitakan Injil pada orang yang terlantar dan tersesat. Biarlah kita terus bekerja dan bekerja bukan demi untuk egois kita tapi saat kita bekerja hendaklah kita menjadi berkat bagi orang lain. Ingat, kalau kita bekerja hanya untuk uang dan demi memenuhi kepuasan diri sendiri maka selamanya kita tidak akan merasa sukacita sejati sebab dimana hartamu berada maka disana hatimu berada maka tidaklah heran orang akan menjadi gila ketika ia kehilangan hartanya.

Mungkin kita bukanlah orang kaya, hari ini mungkin kita hidup dalam kesusahan dan kemiskinan tapi lihatlah, di luar sana masih banyak orang yang lebih sengsara dan lebih miskin dari kita maka seharusnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memberi. Justru pada saat memberi itulah kita akan merasakan hidup berkelimpahan. Biarlah kita mempunyai jiwa pelayanan yang tidak berorientasi pada diri tetapi hendaklah ketika kita bekerja itu menjadi berkat bagi orang lain. Lihatlah, seorang ibu berjerih lelah, ia tidak pernah mengeluh, ia bekerja siang malam, mengurus rumah tangga, suami dan anak, pertanyaannya untuk apa ia kerjakan semua itu? Demi uangkah? Ataukah penghargaan? Tidak! Semua yang dikerjakannya bukan berorientasi pada diri. Celakalah kalau seorang istri atau seorang ibu bekerja demi uang, ia tidak mau lagi bekerja dan mengurus rumah tangganya maka dapatlah dipastikan rumah tangga itu akan menjadi hancur. Hati-hati, di dunia modern, konsep ini mulai ditanamkan maka tidaklah heran kalau banyak kaum wanita yang tidak mau menjadi ibu rumah tangga dan lebih memilih berkarir.

Berbeda halnya kalau kita bekerja karena ada cinta kasih demi untuk menjadi berkat bagi orang lain maka kita akan mendapatkan sukacita tersendiri dimana sukacita ini tidak dapat diukur dengan materi. Begitu juga ketika kita bekerja melayani Tuhan kalau pelayanan demi untuk mendapatkan imbalan maka sia-sialah seluruh pelayanan kita sebab Tuhan tidak berkenan dengan pelayanan yang kita. Lain halnya kalau orang yang melayani Tuhan dimana seluruh hidupnya tergantung dari pelayanan saja maka Alkitab menegaskan hidupnya akan dijamin dengan demikian ia tidak berbeban ketika sedang melayani Tuhan.

Dunia semakin ke belakang semakin menuju pada kehancuran, banyak orang yang mengalami kesulitan tak terkecuali kita yang adalah anak Tuhan juga mengalami kesulitan dan di saat seperti itu akan ada banyak orang yang merasa putus asa dan kecewa maka ingatlah, di saat itu kita tidak berjalan sendiri, pandanglah ke atas sebab kita mempunyai Tuhan yang hidup, tak pernah sedetikpun kita ditinggalkan-Nya sebab tangan Tuhan selalu memegang kita namun sayang, masih banyak orang yang belum mengenal Kristus, masih banyak orang yang tidak tahu harus berpegang pada siapa maka tugas kita untuk menjadi berkat bagi mereka dengan membawa mereka kembali kepada Kristus Sang Gembala Agung. Janganlah berhenti dan cukup hanya sampai hati yang tergerak oleh berbelas kasih, tidak, tapi biarlah kita dipakai menjadi berkat bagi orang lain. Biarlah kita meneladani Kristus Tuhan, Dia Sang Raja pemilik alam semesta ini tetapi Dia berkeliling ke semua desa dan kota untuk menyembuhkan dan mengabarkan Injil. Sebagai warga Kerajaan Sorga, biarlah kita dipakai menjadi pelaku Firman bukan pendengar saja. Amin.



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)




Sumber:
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050904.htm]The Heart of the Kingdom[/url]
Reply With Quote
  #42 (permalink)  
Old 19th August 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Lightbulb Mat. 9:35-38: PENUAI UMAT PILIHAN

Ringkasan Khotbah : 11 September 2005

Penuai Umat Pilihan

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: Mat. 9:35-38, Yoh. 15:16





Setelah Matius memaparkan seluruh bagian dari implikasi Kerajaan Sorga maka Matius memberikan suatu paparan sebagai suatu jembatan antara implikasi hukum Kerajaan Sorga dengan cara Tuhan memanggil murid-murid-Nya dan yang nantinya dipakai dalam pelayanan pada pasal kesepuluh sampai pasal kedua belas. Maka di sini kita melihat, Matius 9:35-38 mempunyai posisi yang sangat penting, yaitu sebagai titik putar. Kita merasa sudah cukup memahami implikasi Kerajaan Sorga yang telah dipaparkan dalam Injil Matius akan tetapi pemahaman itu tidak cukup sampai disitu, pemahaman itu bukanlah untuk kepentingan diri kita sendiri, yaitu untuk pertumbuhan rohani kita sendiri, tidak, sebab jikalau benar demikian apa bedanya dengan dunia. Bukankah dunia modern mengajar kita untuk bersikap egois?

Tuhan menentang keras konsep egoisme sebaliknya, sebagai warga Kerajaan Sorga, kita harus altruistik, seluruh aspek hidup kita baik yang bersifat materi maupun spiritual haruslah menjadi berkat bagi orang lain seperti yang Tuhan Yesus teladankan. Seorang anak Tuhan yang sejati haruslah melihat dengan cara pandang yang berbeda dari dunia. Ingat, tampilan luar bisa menipu tetapi hendaklah kita melihat dengan mata rohani maka kita akan menemukan jiwa yang lelah seperti domba yang terlantar. Akan tetapi kita tidak boleh cukup puas hanya berhenti sampai di hati yang tergerak oleh belas kasihan saja, tidak, Tuhan ingin hati yang berbelas kasih itu tercermin melalui tindakan nyata dengan demikian seluruh tindakan kita menjadi berkat bagi mereka yang lelah dan terlantar seperti domba yang tak bergembala.

Tuhan mengatakan suatu kalimat yang bersifat paradoks pada murid-murid-Nya, yakni: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu“ (Mat. 9:37-38). Sesungguhnya Tuhan hendak mengajarkan suatu konsep manajemen yang berbeda dengan yang diajarkan oleh dunia. Dunia mengajarkan ketika kita melihat suatu visi maka visi tersebut seharusnya menjadi dorongan bagi kita untuk bekerja dengan sekeras mungkin maka kita akan mendapatkan reward. Manajemen dunia memakai sistem reward and punishment. Hati-hati dengan buku yang berjudul purpose divine life and purpose divine church yang kelihatannya rohani tetapi sesungguhnya mengacu pada manajemen dunia. Sebaliknya, ketika kita melihat suatu visi, yakni tuaian yang banyak tapi pekerja sedikit maka Tuhan tidak menyuruh kita untuk langsung bekerja, tidak, Tuhan ingin supaya kita mengarahkan pandangan pada Tuhan dan meminta kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.

Merupakan suatu kesalahan fatal kalau kita langsung mengerjakan suatu tugas dengan alasan visi dari Tuhan tanpa kita bertanya pada Tuhan terlebih dahulu apakah Tuhan berkenan atau tidak atas pekerjaan kita. Inilah cara manajemen Tuhan bekerja yang menjadi format dari Kerajaan Allah ketika menata seluruh pelayanan-Nya. Mengapa Tuhan memakai cara atau manajemen yang berbeda dengan cara dunia? Karena Tuhan ingin mendobrak sistem manajemen dunia yang salah dan ironisnya, orang menganggapnya sebagai kebenaran. Sistem manajemen yang diajarkan oleh Kristus ini bukan hanya dapat dijalankan di dalam pelayanan saja tetapi sistem manajemen itu dapat kita lakukan di seluruh aspek hidup kita. Sistem manajemen Kristus ini meliputi empat aspek, yaitu:

1. Motivasi Murni

Perhatikan konsep ekonomi yang diajarkan dunia: kalau permintaan barang tinggi sedangkan suplai barang sedikit maka harga harus dinaikkan. Sebaliknya, konsep Kerajaan Sorga justru mengajarkan sebaliknya, yakni semakin banyak orang membutuhkan barang sedang di pasaran barang sangat langka maka harga barang harus diturunkan dengan demikian banyak orang yang memerlukan barang tersebut akan mendapatkannya. Tuhan menegaskan orientasi bukan pada diri sendiri tapi kita harus menjadi berkat dan rela berkorban bagi dunia. Bekerja dalam ladang-Nya Tuhan haruslah menurut pada sistem manajemen Tuhan. Sangatlah mengenaskan, di dunia banyak jiwa yang lelah dan terlantar namun orang justru tidak membawa mereka kepada naungan Kristus Sang Gembala Agung, orang memanipulasi domba yang terlantar ini demi untuk memenuhi kepentingan egoisme sehingga domba yang sudah terlantar ini semakin jauh tersesat. Maka tidaklah heran kalau hari ini banyak orang yang menjadikan gereja layaknya sebuah bisnis dunia yang diolah dengan manajemen dunia yang memberlakukan sistem reward and punishment dimana seluruh pekerjanya digaji dan diperlakukan secara profesional layaknya sebuah perusahaan. Melihat tuaian yang banyak maka Tuhan tidak memerintahkan untuk bekerja sebaliknya Tuhan ingin supaya kita memandang kepada-Nya dan meminta kepada tuan yang empunya tuaian supaya mengirimkan pekerja. Hati-hati, iblis yang licik selalu menggoda manusia supaya menyeleweng dari jalan Tuhan sehingga manusia tidak dapat lagi membedakan Tuhankah atau setankah yang bekerja. Hari ini orang sulit membedakan mana ilalang dan mana gandum hingga suatu ketika nanti, dari buahnyalah akan nampak perbedaannya.

Sadarlah bahwa tuaian ini bukan milik kepunyaan kita sebab kita hanyalah pekerja yang dipakai untuk menggarap pekerjaan Dia. Kalau kita perhatikan di pasalnya yang ke sepuluh maka di sana kita akan melihat cara Tuhan bekerja yang sangat unik yang berbeda dari dunia; Tuhan tidak memakai orang-orang yang siap sedia untuk dipakai, tetapi Tuhan justru memakai orang-orang yang berdoa memohon pada-Nya untuk mengirimkan pekerja. Orang yang demikian ini menyadari posisinya bahwa dia adalah hamba yang harus taat pada Sang Raja dimana tuaian itu bukan milik kepunyaannya melainkan milik Sang Raja. Janganlah sombong dan bermegah diri karena pelayanan yang kita lakukan “sukses“ (menurut ukuran manusia) sebab tidak ada sedikitpun jasa kita, kita hanyalah alat yang dipakai Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan-Nya. Asalnya dari Tuhan maka seluruh hasilnya untuk kemuliaan Dia saja. Kalau kita memahami konsep manajemen Kerajaan Sorga ini maka kita akan dipakai Tuhan dengan luar biasa tetapi ingat, kita harus tetap dengan rendah hati melayani Tuhan karena kita menyadari posisi kita sebenarnya hanyalah seorang budak. Sayangnya, hari ini banyak orang yang menjadi sombong, merasa diri hebat, menganggap diri sukses karena berhasil melakukan pekerjaan Tuhan yang besar, orang lupa kalau sebenarnya tuaian itu bukan milik kepunyaannya, orang lupa kalau ia hanyalah seorang budak.

2. Kerja keras

Tuaian yang banyak tetapi pekerja sedikit itu seharusnya semakin memacu kita untuk bekerja melayani Tuhan dengan lebih keras lagi. Sungguh sangatlah mengherankan kalau ada orang yang saling iri dan berebut ketika melayani Tuhan. Hal ini menunjukkan kalau orang tidak melihat visi Tuhan. Pekerjaan Tuhan itu terlalu banyak, pekerjaan Tuhan tidak akan pernah habis-habis untuk dikerjakan bahkan sampai kita mati pun masih banyak pekerjaan Tuhan yang belum dikerjakan. Marilah kita kerjakan pekerjaan yang Tuhan sudah percayakan pada kita itu dengan sebaik dan sekuat mungkin. Jangan takut kita tidak dapat melayani Tuhan karena tidak ada lagi pekerjaan Tuhan dan jangan iri dengan pelayanan yang dikerjakan oleh orang lain dan jangan marah kalau ternyata orang lain mencontoh atau melakukan pelayanan yang sama seperti yang kita lakukan. Kita seharusnya bersyukur pelayanan kita menjadi berkat. Bahkan seandainya tidak orang yang mau mengerjakan pekerjaan Tuhan karena ada pertimbangan berbagai hal, dianggap merugikan misalnya, maka kita pun harus tetap mengerjakannya. Biarlah kita menyadari masih banyak pekerjaan Tuhan di dunia ini yang belum diselesaikan, di luar sana masih banyak orang yang lelah dan terlantar maka jangan langsung bekerja sendiri tetapi mintalah pada tuan yang empunya tuaian untuk mengirimkan pekerja dan ingat, karena masih banyak pekerjaan Tuhan yang harus dikerjakan sedang pekerja sedikit maka kita harus bekerja dengan seluruh tenaga yang Tuhan berikan pada kita.

3. Efektif dan Strategis

Tuaian memang banyak dan pekerja sedikit maka Tuhan ingin supaya kita bekerja dengan sekuat tenaga, bekerja keras tetapi Tuhan juga ingin kita menjadi bijaksana dengan demikian seluruh tenaga dan pemikiran kita menjadi sia-sia, dengan kata lain bekerja sangat keras tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Tidak! Tuhan ingin kita bekerja dengan seefisien mungkin. Kalau pekerjaannya banyak dan pekerjanya banyak maka itu disebut padat karya. Hal ini biasanya dilakukan untuk menghindari banyaknya pengangguran di suatu negara padahal sesungguhnya mereka tidak mempunyai keahlian sehingga pekerjaan yang seyogyanya dapat digantikan oleh mesin harus dikerjakan oleh manusia demi untuk mengurangi pengangguran. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh mesin tapi dikerjakan oleh manusia maka pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang manusiawi karena tidak menggunakan natur manusia. Bukankah manusia jadi setara dengan mesin yang hanya benda mati? Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan, pekerjaan banyak – pekerja sedikit bukan berarti kita boleh kerja dengan sembarangan dan serampangan. Itu berarti kita telah mengorbankan pekerjaan dan membiarkan orang lain terlantar tapi di sisi lain kita menikmatinya. Dan hari ini, di dunia modern yang canggih ini banyak orang justru tidak bekerja secara efisien. Orang sudah terikat dengan teknologi sehingga tanpa teknologi orang tidak dapat bekerja.

Selain rendah hati dan bekerja keras, Tuhan juga ingin kita bijaksana. Melayani Tuhan bukan sekedar bekerja membanting tulang tetapi sudah seberapa efisienkah kita bekerja? Sudahkah kita mencapai hasil maksimal seperti yang Tuhan inginkan? Ingat, hasil maksimal atau kesuksesan disini bukan menurut standar manusia tetapi menurut standar Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan menaruh manusia dalam batasan ruang dan waktu supaya kita dapat bekerja mencapai titik maksimum seperti yang Tuhan inginkan. Tuaian banyak - pekerja sedikit seharusnya memacu kita untuk bekerja lebih efisien dan hasil yang didapatkan maksimal. Inilah etos kerja Kristen. Anak Tuhan sejati haruslah mempunyai jiwa etos kerja Kristen dengan demikian kita dapat menjadi berkat bagi dunia.

4. Menuai umat pilihan

Tuaian yang banyak itu kini memasuki masa penuaian. Yang dimaksud dengan tuaian disini adalah orang-orang yang sudah dipilih Tuhan sebelum dunia dijadikan untuk menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya (Ef. 1:4-5). Yang menjadikan tuaian itu matang bukan kita, jadi, janganlah bermegah diri sebab tidak ada sedikitpun jasa kita yang membuat tuaian itu menjadi matang. Kita hanyalah seorang penuai yang bekerja di ladang-Nya Tuhan dan bertugas menuai tuaian yang sudah matang itu. Kita hanyalah alat yang dipakai Tuhan untuk menuai tuaian (harvest) yang sudah matang. Bukan kita yang empunya tuaian tapi Tuhanlah yang empunya tuaian itu yang mengutus kita untuk menuai umat pilihan-Nya. Rahasia tentang umat pilihan ini dibukakan oleh Tuhan Yesus hanya kepada sebelas murid (Yoh. 13:31 – 16:33), yaitu, setelah Yudas diusir pergi karena Yudas bukanlah umat pilihan sejati, bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu; dan Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta dalam nama-Ku diberikan-Nya kepadamu. Sebenarnya, bukan Tuhan tidak pernah memperingatkan Yudas, sebab berulang kali Tuhan Yesus memperingatkan Yudas mulai dari kalimat yang sangat halus (Yoh. 13:21) sampai kalimat yang kasar (Yoh. 13:26-27) dan peringatan itu seharusnya membuat Yudas sadar dan bertobat tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

Tuhan yang membuat tuaian itu matang maka tugas kita adalah menuai sebab kalau tidak segera dituai maka tuaian yang sudah matang itu akan menjadi busuk. Jangan ada orang yang memegahkan diri kalau ada orang yang bertobat dan menganggapnya sebagai jasa kita, tidak. Ingat, kita hanyalah seorang penuai yang dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya yang agung; kita harus bekerja dengan sungguh dengan sekuat tenaga tetapi bukan serampangan dan sembarangan melainkan harus bijaksana dan efisien dengan demikan dapat mencapai hasil yang maksimal namun di sisi lain, kita harus menyadari itu bukan karena jasa atau hebat kita kalau orang dapat bertobat tetapi Tuhan sudah menetapkannya terlebih dahulu sedang posisi kita hanyalah seorang budak yang harus mempertanggung jawabkan seluruh pekerjaan kita kepada Tuan yang empunya tuaian. Dengan demikian kita dapat dipakai Tuhan menjadi berkat di tengah jaman-jaman yang semakin bobrok ini. Amin.



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Sumber:
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050911.htm]Penuai Umat Pilihan[/url]
Reply With Quote
  #43 (permalink)  
Old 19th August 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Alkitab Mat. 9:35-38: PENUAI UMAT PILIHAN

Ringkasan Khotbah : 11 September 2005

Penuai Umat Pilihan

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: Mat. 9:35-38, Yoh. 15:16




Setelah Matius memaparkan seluruh bagian dari implikasi Kerajaan Sorga maka Matius memberikan suatu paparan sebagai suatu jembatan antara implikasi hukum Kerajaan Sorga dengan cara Tuhan memanggil murid-murid-Nya dan yang nantinya dipakai dalam pelayanan pada pasal kesepuluh sampai pasal kedua belas. Maka di sini kita melihat, Matius 9:35-38 mempunyai posisi yang sangat penting, yaitu sebagai titik putar. Kita merasa sudah cukup memahami implikasi Kerajaan Sorga yang telah dipaparkan dalam Injil Matius akan tetapi pemahaman itu tidak cukup sampai disitu, pemahaman itu bukanlah untuk kepentingan diri kita sendiri, yaitu untuk pertumbuhan rohani kita sendiri, tidak, sebab jikalau benar demikian apa bedanya dengan dunia. Bukankah dunia modern mengajar kita untuk bersikap egois?

Tuhan menentang keras konsep egoisme sebaliknya, sebagai warga Kerajaan Sorga, kita harus altruistik, seluruh aspek hidup kita baik yang bersifat materi maupun spiritual haruslah menjadi berkat bagi orang lain seperti yang Tuhan Yesus teladankan. Seorang anak Tuhan yang sejati haruslah melihat dengan cara pandang yang berbeda dari dunia. Ingat, tampilan luar bisa menipu tetapi hendaklah kita melihat dengan mata rohani maka kita akan menemukan jiwa yang lelah seperti domba yang terlantar. Akan tetapi kita tidak boleh cukup puas hanya berhenti sampai di hati yang tergerak oleh belas kasihan saja, tidak, Tuhan ingin hati yang berbelas kasih itu tercermin melalui tindakan nyata dengan demikian seluruh tindakan kita menjadi berkat bagi mereka yang lelah dan terlantar seperti domba yang tak bergembala.

Tuhan mengatakan suatu kalimat yang bersifat paradoks pada murid-murid-Nya, yakni: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu“ (Mat. 9:37-38). Sesungguhnya Tuhan hendak mengajarkan suatu konsep manajemen yang berbeda dengan yang diajarkan oleh dunia. Dunia mengajarkan ketika kita melihat suatu visi maka visi tersebut seharusnya menjadi dorongan bagi kita untuk bekerja dengan sekeras mungkin maka kita akan mendapatkan reward. Manajemen dunia memakai sistem reward and punishment. Hati-hati dengan buku yang berjudul purpose divine life and purpose divine church yang kelihatannya rohani tetapi sesungguhnya mengacu pada manajemen dunia. Sebaliknya, ketika kita melihat suatu visi, yakni tuaian yang banyak tapi pekerja sedikit maka Tuhan tidak menyuruh kita untuk langsung bekerja, tidak, Tuhan ingin supaya kita mengarahkan pandangan pada Tuhan dan meminta kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.

Merupakan suatu kesalahan fatal kalau kita langsung mengerjakan suatu tugas dengan alasan visi dari Tuhan tanpa kita bertanya pada Tuhan terlebih dahulu apakah Tuhan berkenan atau tidak atas pekerjaan kita. Inilah cara manajemen Tuhan bekerja yang menjadi format dari Kerajaan Allah ketika menata seluruh pelayanan-Nya. Mengapa Tuhan memakai cara atau manajemen yang berbeda dengan cara dunia? Karena Tuhan ingin mendobrak sistem manajemen dunia yang salah dan ironisnya, orang menganggapnya sebagai kebenaran. Sistem manajemen yang diajarkan oleh Kristus ini bukan hanya dapat dijalankan di dalam pelayanan saja tetapi sistem manajemen itu dapat kita lakukan di seluruh aspek hidup kita. Sistem manajemen Kristus ini meliputi empat aspek, yaitu:

1. Motivasi Murni

Perhatikan konsep ekonomi yang diajarkan dunia: kalau permintaan barang tinggi sedangkan suplai barang sedikit maka harga harus dinaikkan. Sebaliknya, konsep Kerajaan Sorga justru mengajarkan sebaliknya, yakni semakin banyak orang membutuhkan barang sedang di pasaran barang sangat langka maka harga barang harus diturunkan dengan demikian banyak orang yang memerlukan barang tersebut akan mendapatkannya. Tuhan menegaskan orientasi bukan pada diri sendiri tapi kita harus menjadi berkat dan rela berkorban bagi dunia. Bekerja dalam ladang-Nya Tuhan haruslah menurut pada sistem manajemen Tuhan. Sangatlah mengenaskan, di dunia banyak jiwa yang lelah dan terlantar namun orang justru tidak membawa mereka kepada naungan Kristus Sang Gembala Agung, orang memanipulasi domba yang terlantar ini demi untuk memenuhi kepentingan egoisme sehingga domba yang sudah terlantar ini semakin jauh tersesat. Maka tidaklah heran kalau hari ini banyak orang yang menjadikan gereja layaknya sebuah bisnis dunia yang diolah dengan manajemen dunia yang memberlakukan sistem reward and punishment dimana seluruh pekerjanya digaji dan diperlakukan secara profesional layaknya sebuah perusahaan. Melihat tuaian yang banyak maka Tuhan tidak memerintahkan untuk bekerja sebaliknya Tuhan ingin supaya kita memandang kepada-Nya dan meminta kepada tuan yang empunya tuaian supaya mengirimkan pekerja. Hati-hati, iblis yang licik selalu menggoda manusia supaya menyeleweng dari jalan Tuhan sehingga manusia tidak dapat lagi membedakan Tuhankah atau setankah yang bekerja. Hari ini orang sulit membedakan mana ilalang dan mana gandum hingga suatu ketika nanti, dari buahnyalah akan nampak perbedaannya.

Sadarlah bahwa tuaian ini bukan milik kepunyaan kita sebab kita hanyalah pekerja yang dipakai untuk menggarap pekerjaan Dia. Kalau kita perhatikan di pasalnya yang ke sepuluh maka di sana kita akan melihat cara Tuhan bekerja yang sangat unik yang berbeda dari dunia; Tuhan tidak memakai orang-orang yang siap sedia untuk dipakai, tetapi Tuhan justru memakai orang-orang yang berdoa memohon pada-Nya untuk mengirimkan pekerja. Orang yang demikian ini menyadari posisinya bahwa dia adalah hamba yang harus taat pada Sang Raja dimana tuaian itu bukan milik kepunyaannya melainkan milik Sang Raja. Janganlah sombong dan bermegah diri karena pelayanan yang kita lakukan “sukses“ (menurut ukuran manusia) sebab tidak ada sedikitpun jasa kita, kita hanyalah alat yang dipakai Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan-Nya. Asalnya dari Tuhan maka seluruh hasilnya untuk kemuliaan Dia saja. Kalau kita memahami konsep manajemen Kerajaan Sorga ini maka kita akan dipakai Tuhan dengan luar biasa tetapi ingat, kita harus tetap dengan rendah hati melayani Tuhan karena kita menyadari posisi kita sebenarnya hanyalah seorang budak. Sayangnya, hari ini banyak orang yang menjadi sombong, merasa diri hebat, menganggap diri sukses karena berhasil melakukan pekerjaan Tuhan yang besar, orang lupa kalau sebenarnya tuaian itu bukan milik kepunyaannya, orang lupa kalau ia hanyalah seorang budak.

2. Kerja keras

Tuaian yang banyak tetapi pekerja sedikit itu seharusnya semakin memacu kita untuk bekerja melayani Tuhan dengan lebih keras lagi. Sungguh sangatlah mengherankan kalau ada orang yang saling iri dan berebut ketika melayani Tuhan. Hal ini menunjukkan kalau orang tidak melihat visi Tuhan. Pekerjaan Tuhan itu terlalu banyak, pekerjaan Tuhan tidak akan pernah habis-habis untuk dikerjakan bahkan sampai kita mati pun masih banyak pekerjaan Tuhan yang belum dikerjakan. Marilah kita kerjakan pekerjaan yang Tuhan sudah percayakan pada kita itu dengan sebaik dan sekuat mungkin. Jangan takut kita tidak dapat melayani Tuhan karena tidak ada lagi pekerjaan Tuhan dan jangan iri dengan pelayanan yang dikerjakan oleh orang lain dan jangan marah kalau ternyata orang lain mencontoh atau melakukan pelayanan yang sama seperti yang kita lakukan. Kita seharusnya bersyukur pelayanan kita menjadi berkat. Bahkan seandainya tidak orang yang mau mengerjakan pekerjaan Tuhan karena ada pertimbangan berbagai hal, dianggap merugikan misalnya, maka kita pun harus tetap mengerjakannya. Biarlah kita menyadari masih banyak pekerjaan Tuhan di dunia ini yang belum diselesaikan, di luar sana masih banyak orang yang lelah dan terlantar maka jangan langsung bekerja sendiri tetapi mintalah pada tuan yang empunya tuaian untuk mengirimkan pekerja dan ingat, karena masih banyak pekerjaan Tuhan yang harus dikerjakan sedang pekerja sedikit maka kita harus bekerja dengan seluruh tenaga yang Tuhan berikan pada kita.

3. Efektif dan Strategis

Tuaian memang banyak dan pekerja sedikit maka Tuhan ingin supaya kita bekerja dengan sekuat tenaga, bekerja keras tetapi Tuhan juga ingin kita menjadi bijaksana dengan demikian seluruh tenaga dan pemikiran kita menjadi sia-sia, dengan kata lain bekerja sangat keras tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Tidak! Tuhan ingin kita bekerja dengan seefisien mungkin. Kalau pekerjaannya banyak dan pekerjanya banyak maka itu disebut padat karya. Hal ini biasanya dilakukan untuk menghindari banyaknya pengangguran di suatu negara padahal sesungguhnya mereka tidak mempunyai keahlian sehingga pekerjaan yang seyogyanya dapat digantikan oleh mesin harus dikerjakan oleh manusia demi untuk mengurangi pengangguran. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh mesin tapi dikerjakan oleh manusia maka pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang manusiawi karena tidak menggunakan natur manusia. Bukankah manusia jadi setara dengan mesin yang hanya benda mati? Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan, pekerjaan banyak – pekerja sedikit bukan berarti kita boleh kerja dengan sembarangan dan serampangan. Itu berarti kita telah mengorbankan pekerjaan dan membiarkan orang lain terlantar tapi di sisi lain kita menikmatinya. Dan hari ini, di dunia modern yang canggih ini banyak orang justru tidak bekerja secara efisien. Orang sudah terikat dengan teknologi sehingga tanpa teknologi orang tidak dapat bekerja.

Selain rendah hati dan bekerja keras, Tuhan juga ingin kita bijaksana. Melayani Tuhan bukan sekedar bekerja membanting tulang tetapi sudah seberapa efisienkah kita bekerja? Sudahkah kita mencapai hasil maksimal seperti yang Tuhan inginkan? Ingat, hasil maksimal atau kesuksesan disini bukan menurut standar manusia tetapi menurut standar Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan menaruh manusia dalam batasan ruang dan waktu supaya kita dapat bekerja mencapai titik maksimum seperti yang Tuhan inginkan. Tuaian banyak - pekerja sedikit seharusnya memacu kita untuk bekerja lebih efisien dan hasil yang didapatkan maksimal. Inilah etos kerja Kristen. Anak Tuhan sejati haruslah mempunyai jiwa etos kerja Kristen dengan demikian kita dapat menjadi berkat bagi dunia.

4. Menuai umat pilihan

Tuaian yang banyak itu kini memasuki masa penuaian. Yang dimaksud dengan tuaian disini adalah orang-orang yang sudah dipilih Tuhan sebelum dunia dijadikan untuk menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya (Ef. 1:4-5). Yang menjadikan tuaian itu matang bukan kita, jadi, janganlah bermegah diri sebab tidak ada sedikitpun jasa kita yang membuat tuaian itu menjadi matang. Kita hanyalah seorang penuai yang bekerja di ladang-Nya Tuhan dan bertugas menuai tuaian yang sudah matang itu. Kita hanyalah alat yang dipakai Tuhan untuk menuai tuaian (harvest) yang sudah matang. Bukan kita yang empunya tuaian tapi Tuhanlah yang empunya tuaian itu yang mengutus kita untuk menuai umat pilihan-Nya. Rahasia tentang umat pilihan ini dibukakan oleh Tuhan Yesus hanya kepada sebelas murid (Yoh. 13:31 – 16:33), yaitu, setelah Yudas diusir pergi karena Yudas bukanlah umat pilihan sejati, bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu; dan Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta dalam nama-Ku diberikan-Nya kepadamu. Sebenarnya, bukan Tuhan tidak pernah memperingatkan Yudas, sebab berulang kali Tuhan Yesus memperingatkan Yudas mulai dari kalimat yang sangat halus (Yoh. 13:21) sampai kalimat yang kasar (Yoh. 13:26-27) dan peringatan itu seharusnya membuat Yudas sadar dan bertobat tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

Tuhan yang membuat tuaian itu matang maka tugas kita adalah menuai sebab kalau tidak segera dituai maka tuaian yang sudah matang itu akan menjadi busuk. Jangan ada orang yang memegahkan diri kalau ada orang yang bertobat dan menganggapnya sebagai jasa kita, tidak. Ingat, kita hanyalah seorang penuai yang dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya yang agung; kita harus bekerja dengan sungguh dengan sekuat tenaga tetapi bukan serampangan dan sembarangan melainkan harus bijaksana dan efisien dengan demikan dapat mencapai hasil yang maksimal namun di sisi lain, kita harus menyadari itu bukan karena jasa atau hebat kita kalau orang dapat bertobat tetapi Tuhan sudah menetapkannya terlebih dahulu sedang posisi kita hanyalah seorang budak yang harus mempertanggung jawabkan seluruh pekerjaan kita kepada Tuan yang empunya tuaian. Dengan demikian kita dapat dipakai Tuhan menjadi berkat di tengah jaman-jaman yang semakin bobrok ini. Amin.



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)




Sumber:
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050911.htm]Penuai Umat Pilihan[/url]
Reply With Quote
  #44 (permalink)  
Old 27th August 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Lightbulb Matius 10:1-7: CHARACTERISTIC OF THE KINGDOM

Ringkasan Khotbah : 18 September 2005



Characteristic of the Kingdom

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: Mat. 10:1-7





Kita telah memahami bahwa seorang warga Kerajaan Sorga bukanlah seorang yang egois yang hanya berorientasi pada diri sendiri. Segala berkat rohani yang telah kita terima dari Kristus Sang Raja haruslah kita bagikan kepada mereka yang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala (Mat. 9:35-38). Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi yang kecil dan bertumbuh menjadi sebuah pohon besar sehingga burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya (Mat. 13:31-32), hal ini menunjukkan Kerajaan Sorga dimulai dari hal yang kecil dan kemudian bertumbuh menjadi besar. Inilah sifat dari Kerajaan Sorga. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana Kerajaan Sorga ini dikerjakan dan siapa yang mengerjakannya? Setiap orang yang menjadi warga Kerajaan Sorgalah yang harus mengerjakannya.

Kalau kita perhatikan secara sepintas, tema Kerajaan Sorga ini sepertinya tema dari Injil Matius saja namun sesungguhnya tema Kerajaan Sorga ini menjadi tema dari keseluruhan kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan memilih kita menjadi warga-Nya dimana kita berada dalam pimpinan-Nya, kita hidup dalam pemeliharaan-Nya. Tidak hanya sampai disitu saja, Allah sendiri menjagai umat-Nya dari ancaman dan bahaya musuh, kuasa Tuhan selalu menyertai bahkan kita turut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Sangat menyenangkan, bukan ketika kita menjadi umat-Nya dan berada dalam pimpinan-Nya? Ternyata anugerah yang begitu besar ini tidaklah menjadi hal yang menyenangkan bagi bangsa Israel. Manusia berdosa tidak suka kalau dipimpin oleh Raja Sorgawi, bangsa Israel lebih suka dipimpin oleh raja dunia bahkan umat Israel tetap bersikeras meminta raja dunia meski Tuhan membukakan fakta bahwa berada dibawah pimpinan raja dunia justru semakin menyengsarakannya (1Sam. 8:10-22). Inilah sifat manusia berdosa.

Kerajaan Sorga ini memang ada di bumi namun Kerajaan Sorga di bumi ini tidak diperintah secara duniawi karena yang memerintah adalah Raja atas segala raja, yaitu Allah sendiri bahkan kepada umat-Nya Allah memberikan hukum, aturan dan prinsip yang paling agung yang tidak pernah kita jumpai di dunia, yaitu hukum Taurat. Seharusnya, orang merasakan sukacita ketika berada dalam pimpinan-Nya dan menjadi umat-Nya namun kenyataannya tidaklah demikian. Jangan pernah berpikir kalau manusia bersikeras mau hidup dalam dosa maka Tuhan akan menghalang-halanginya, tidak! Bayangkan, berapa banyak pukulan yang akan kita terima sebagai akibat perbuatan dosa yang kita lakukan? Pastilah banyak pukulan yang kita terima sebab manusia berdosa selalu cenderung untuk berbuat dosa. Ketika manusia bersikeras meminta raja dunia maka Tuhan pun membiarkannya dan manusia harus menanggung resiko atas pilihannya tersebut. Raja dunia memerintah dengan cara dan sifat dunia sehingga dalam seluruh perjalanannya bangsa Israel tidak memancarkan umat pilihan Tuhan.

Sejarah mencatat berulang kali bangsa Israel jatuh dalam dosa namun Tuhan masih berbelas kasih berulang kali pula Tuhan mengampuni, dengan kasih dan sabar, Tuhan menuntun supaya bangsa Israel ini bertobat dan kembali kepada-Nya namun sungguh bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk, mereka tetap kembali jatuh pada dosa, semakin hari hidup mereka tidak bertambah baik tapi justru semakin rusak maka Tuhanpun membuang mereka. Pada hari itu berakhir pula perjanjian antara Allah dengan umat Israel; umat Israel bukan lagi umat pilihan Allah karena mereka telah melawan perjanjian dan membuktikan bahwa mereka tidak sah sebagai umat pilihan. Allah pun diam dan 400 tahun kemudian, Allah yang Maha Kasih itu mengutus anak-Nya, Kristus Yesus untuk menjadi Raja dan menata ulang kembali Kerajaan Sorga yang Allah ingin tegakkan di bumi. Memang Kerajaan Sorga itu ada di dunia tetapi Kerajaan Sorga itu tidak bersifat dunia melainkan bersifat sorgawi dan Tuhan Yesus, Raja di atas segala raja itu yang menjadi Rajanya. Kerajaan dunia bersifat materi sedang Kerajaan Sorga bersifat kekal. Materi diciptakan oleh Allah dalam ruang dan waktu yang terbatas maka sifatnya tidak kekal sedangkan Kerajaan Sorga bersifat kekal, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa menghubungkan materi dan kekekalan. Merupakan suatu kesalahan fatal kalau orang memakai standar materi dan dikenakan pada Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga seharusnya menjadi standar apalagi setelah kejatuhan manusia dalam dosa maka kerajaan dunia harus mengikuti standar Kerajaan Sorgawi. Orang berusaha mencoba merefleksikan kekekalan di dalam kesementaraan dan sebaliknya. Hal ini dapat kita jumpai pada tradisi Tionghoa, mereka mengirimkan uang-uangan dari kertas, rumah-rumahan yang terbuat dari kertas dan lain sebagainya. Sesungguhnya mereka menyadari bahwa orang yang sudah mati bersifat roh maka satu-satunya cara supaya uang kertas, rumah kertas dan lain sebagainya yang bersifat materi itu dapat diterima oleh mereka-mereka yang sudah meninggal yang bersifat roh haruslah dengan cara dibakar, orang berpikir dengan dibakar berarti terjadi perubahan bentuk dari materi menjadi non materi. Orang seharusnya sadar bahwa paradigma atau pola berpikir yang ada dalam diri merekalah yang harusnya diubah; bukan bahan atau bentuk benda materinya yang mengalami perubahan. Orang lupa bahwa kekekalan melampaui ruang dan waktu, tidak ada perubahan. Jadi, jelaslah bahwa sifat Kerajaan Sorga berbeda dengan kerajaan dunia. Tuhan Yesus datang bukan mendirikan kerajaan Israel baru seperti yang diidam-idamkan oleh bangsa Israel. Tidak! Tuhan Yesus datang untuk menegakkan Kerajaan Sorga di bumi dimana umat Allah menjadi warga-Nya dan sifat Kerajaan Sorga ini tidaklah terbatas, ia melampaui ruang dan waktu sebab dimana umat Allah berada maka disanalah Kerajaan Sorga ditegakkan.

Pertama, Kerajaan Sorga dimulai dari orang-orang yang mendapat panggilan dari Sang Raja untuk menjadi warga-Nya. Jadi, orang yang berhak menjadi warga Kerajaan Sorga adalah mereka yang dipilih. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau diantara jutaan manusia, Tuhan memilih kita menjadi bagian dari Kerajaan-Nya maka sepatutnyalah kita bersyukur sebab di tengah dunia ini banyak orang yang mengikuti Dia bahkan Alkitab mencatat, Tuhan Yesus harus memberi makan lima ribu orang laki-laki belum termasuk perempuan dan anak-anak yang hari itu mengikuti kemana Dia pergi. Perhatikan, diantara banyaknya orang yang mengikuti-Nya, Tuhan Yesus hanya memanggil dua belas orang untuk menjadi murid-Nya. Kedua belas orang yang dipanggil Tuhan Yesus ini bukanlah orang-orang terpandang, mereka hanyalah orang-orang dari golongan menengah ke bawah. Hal ini menjadi teladan indah bagi kita, biarlah ketika kita memulai segala sesuatu, kita mulai dari yang kecil terlebih dahulu dan dengan rendah hati kita taat pada-Nya. Prinsip Kerajaan Sorga adalah orang-orang yang dibentuk dan diubahkan oleh Tuhan menjadi warga-Nya. Ingat, bukan karena kehebatan atau kekuatan kita kalau kita dapat menjadi warga-Nya, tidak! Orang yang sombong, orang yang merasa berjasa dalam pekerjaan Tuhan justru kepada mereka Tuhan tidak berkenan. Satu pertanyaan dari John Calvin yang perlu kita renungkan adalah apakah semua orang yang menjadi anggota gereja adalah warga Kerajaan Sorga? Ternyata tidaklah demikian, sebab apa yang kelihatan secara duniawi belum tentu warga Kerajaan Sorga; umat Allah yang sejati adalah orang yang menyadari bahwa dirinya berdosa dan ia taat mau diubahkan oleh Tuhan. Seorang murid sejati adalah seorang yang sepanjang hidupnya mau terus menerus diajar dan belajar oleh Sang Raja.

Konsep Tuhan yang berinisiatif memanggil umat-Nya ini sudah ada sejak jaman Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Kerajaan Allah di Perjanjian Lama dimulai pertama kali ketika Allah memanggil Abraham dan di Perjanjian Baru, Kerajaan Allah dimulai dari dua belas orang dan kemudian berkembang menjadi besar dan sampai hari ini panggilan ini tetap tiba pada anda dan saya. Seberapa jauhkah kita menjawab dan merespon panggilan Tuhan? Seberapa jauhkah kita mau bertobat dan taat pada-Nya? Hari ini, kalau kita masih bertemu dengan panggilan Tuhan maka itu merupakan suatu anugerah maka jangan sia-siakan anugerah Tuhan itu. Kita seharusnya belajar dari sejarah bangsa Israel, jangan mengulang kejadian yang sama dimana mereka telah menyia-nyiakan anugerah Tuhan, mereka lebih memilih dipimpin raja dunia daripada Raja Sorga. Biarlah di dalam setiap kehidupan kita selalu bersandar pada tangan Allah yang memimpin dan memberikan damai sejahtera pada anak-anak-Nya. Sungguh amatlah disayangkan, orang lebih suka berjalan sendiri, berjalan dalam kegelapan daripada berada dalam pimpinan Tuhan. Seharusnya orang menyadari ketika ia berbuat dosa sebab di dalam diri setiap manusia disana Tuhan memberikan pada hati nurani yang akan menegur ketika kita berbuat dosa namun toh orang sengaja melawan. Maka sekali lagi saya tegaskan, jangan sia-siakan anugerah Tuhan, biarlah kita mau bertobat dan kembali pada Tuhan.

Kedua, Tuhan memberikan kuasa pada umat yang dipilih-Nya, yaitu kuasa untuk mengusir roh-roh jahat. Salah satu sifat Allah adalah kasih dan pengampun namun perhatikan, Allah yang Maha Kasih dan Maha Pengampun itu tidak pernah sekalipun berkompromi dengan iblis dan pada akhir jaman nanti, iblis dan seluruh anazirnya akan dibuang ke neraka. Begitu juga seorang anak Tuhan sejati tidak boleh berkompromi dengan iblis. Kerajaan Sorga mencerminkan sifat Allah, yaitu suci maka tidak boleh dicemari dengan dosa dan kenajisan. Ketika kita dipanggil menjadi warga Kerajaan Sorga maka kita harus melepaskan diri dari ikatan dan kuasa iblis dan Tuhan memberikan kuasa pada setiap anak-Nya untuk mengusir setan maka jelaslah bahwa mengusir setan bukanlah talenta atau karunia. Kalau Tuhan memberikan kuasa pada kita untuk mengusir setan, itu berarti tadinya setan ada di dalam kita. Sebelum kita dipanggil menjadi umat Tuhan, kita adalah makhluk berdosa, kita berada di dalam kuasa iblis dan Tuhan tidak pernah menuntut pada setiap orang yang mau menjadi umat-Nya haruslah bersih dan tidak bercacat, tidak, bahkan Tuhan memilih seorang penjahat yang ada di sebelah-Nya menjadi umat pilihan-Nya.

Satu hal yang Tuhan ingin kita lakukan adalah lepas dari ikatan setan, bertobat, kembali pada Kristus dan hidup dalam kebenaran. Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi sempurna, tidak, Tuhan hanya meminta kita untuk bertumbuh menjadi sempurna seperti Kristus dengan demikian hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Hati-hati, iblis dapat membuat segala macam yang sifatnya semu, iblis pun dapat menampilkan segala macam kebaikan palsu dan kasih palsu. Jangan tertipu oleh akal licik iblis iblis, iblis sangat pandai seolah-olah mengasihi manusia dengan megumbar cinta kasih palsu, cinta kasih yang diberikan penuh dengan tipu muslihat dan berakhir dengan kebinasaan. Berbeda halnya dengan kesucian, iblis tidak dapat mengimitasikan kesucian karena bertentangan dengan sifatnya. Tuhan memberikan kekuatan pada kita untuk mengusir setan maka janganlah pernah sekali-kali berkompromi dengan iblis, biarlah semakin hari kita semakin bertumbuh dan akhirnya menjadi sempurna seperti Kristus.

Ketiga, Kerajaan Sorga memang dimulai dari kecil, yaitu dari dua belas murid yang telah Tuhan pilih dan menjadi umat-Nya namun Kerajaan Sorga tidak berhenti sampai di situ, Tuhan ingin supaya setiap orang yang sudah dipilih menjadi warga Kerajaan Sorga untuk pergi dan memberitakan kabar keselamatan, yaitu Kerajaan Sorga sudah dekat. Kerajaan Sorga bukan berhenti di diri kita saja, tidak, tapi Kerajaan Sorga seperti biji sesawi yang kecil dan terus bertumbuh sampai menjadi pohon besar. Di dunia modern ini, muncul pendapat yang mengatakan bahwa orang yang jujur dan suci tidak akan dapat bertahan hidup di dunia. Dengan kata lain orang Kristen yang suci tidak akan dapat hidup maka supaya orang dapat hidup di dunia orang harus menjadi anak iblis. Salah! Itulah cara iblis mempermainkan dan menakut-nakuti orang Kristen; iblis akan selalu menekan orang Kristen supaya hidup seperti layaknya orang dunia.

Pendapat yang sinis ini keluar dari cetusan hati yang iri dan cemburu dari orang yang tidak suka melihat ada orang baik di dunia. Sesungguhnya, orang berdosa ini ingin hidup jujur dan baik karena di dalam diri setiap manusia, sebab manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah dan disana, Tuhan tanamkan sense of divinity. Di satu pihak, dunia suka dengan orang baik dan suci bahkan dunia berusaha untuk dapat hidup suci tetapi di lain pihak, dunia tidak suka kalau ada orang benar dan suci di dekatnya. Hal ini terjadi karena mereka tidak tahu caranya bagaimana hidup benar dan suci. Bukankah yang sering kita jumpai dalam suatu lowongan pekerjaan dengan kriteria: baik, jujur, berintegritas? Dunia membutuhkan orang yang baik, jujur, suci dan berintegritas tetapi dunia tidak tahu harus dimana dan bagaimana mendapatkan orang-orang demikian.

Tugas kitalah sebagai anak Tuhan sejati untuk pergi dan memberitakan bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat. Dunia yang tiada pengharapan membutuhkan berita pengharapan, yaitu Injil Tuhan; hanya di dalam Kristus sajalah masih ada pengharapan; orang berdosa mendapatkan pengampunan dan diselamatkan, hidup dalam kebenaran sejati. Berita pengampunan dosa, berita pertobatan, berita penebusan di dalam Tuhan Yesus ini menjadi berita yang relevan di tengah dunia yang bobrok ini. Biarlah kita dipakai Tuhan menjadi orang-orang yang membawa berita sukacita ini pada orang-orang yang lelah, pada mereka yang tersesat dan terhilang ini. Amin.



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Sumber:
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050918.htm]Characteristic of the Kingdom[/url]
Reply With Quote
  #45 (permalink)  
Old 3rd September 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Alkitab Matius 10:1-7: THE SPECIAL CALLING

Ringkasan Khotbah : 2 Oktober 2005

The Special Calling

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: Mat. 10:1-7





Kita telah memahami kerajaan Sorga sifatnya berbeda dengan kerajaan dunia, kerajaan Sorga bersifat rohani – melampaui ruang dan waktu. Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi yang kecil dan kemudian berkembang menjadi pohon yang besar sehingga burung dapat bersarang pada cabang-cabangnya. Calvin mengungkapkan Kerajaan Sorga adalah gereja yang tidak kelihatan, invisible church, gereja yang tidak dibatasi oleh gedung maupun organisasi. Kerajaan Sorga terdiri umat Allah sejati yang mau sungguh-sungguh hidup taat pada Kristus – Raja atas segala raja. Memang, Kristus adalah pusat dari Kerajaan namun Dia tidak menata Kerajaan Sorga itu seorang diri saja, Tuhan melibatkan orang lain untuk mengembangkan Kerajaan-Nya di dunia, Tuhan memilih dua belas orang untuk menjadi murid-Nya dan menata Kerajaan-Nya. Dalam hal ini Kristus telah mengajarkan pada kita akan konsep kekepalaan sejati, the true headship beda dengan dunia yang mengajarkan konsep leadership.

I. Pilihan yang Belajar

Tuhan memanggil dua belas orang murid (ay. 1) dan Tuhan memberikan jabatan kepada kedua belas murid yang dipilih tersebut sebagai rasul (ay.2). Hal ini menjadi gambaran bahwa orang yang dipanggil Tuhan dalam Kerajaan-Nya adalah murid. Jabatan rasul hanya ada pada jaman Perjanjian Baru namun istilah “murid“ itu dipakai terus di sepanjang sejarah jaman. Tugas seorang murid adalah belajar dengan demikian ia dibentuk dan mengalami perubahan. Seorang anak Tuhan sejati haruslah mempunyai hati yang senantiasa mau belajar, dibentuk dan diubahkan oleh Kristus Sang Guru Agung untuk semakin serupa dengan Kristus. Seorang yang terus berproses di sepanjang hidupnya menandakan ada kehidupan berbeda halnya kalau orang itu sudah mati maka orang akan berhenti berproses.

Manusia tidak mau mengalami perubahan dalam hidupnya, manusia lebih suka akan status quo atu kemapanan. Kalaupun harus berubah maka itu bukan dirinya tetapi orang lain yang harus berubah tetapi faktanya, tidak semua orang mau berubah akibatnya terjadilah keributan atau perselisihan karena orang mau bertahan di posisi masing-masing. Lebih sulit membuat manusia berubah sebaliknya sangatlah mudah membuat manusia tidak berubah, yaitu dengan cara pembodohan diri dan memfanatikkan diri. Jangan beri pelajaran atau pengertian dalam dirinya maka orang pasti menjadi kaku dan akhirnya ia akan mati dalam ke-fanatisme-annya. Orang demikian kalai beragumentasi selalu menggunakan senjata, “Pokoknya....“ maka percuma kita beragumentasi dengannya. Manusia tidak menyadari kalau dirinya telah dibawa masuk dalam suatu kebodohan sehingga manusia melakukan suatu tindakan kebodohan yang cenderung bersifat fanatik negatif seperti yang telah dilakukan oleh kaum terorisme akhir-akhir ini. Manusia telah dicengkeram oleh dosa sehingga ia mempunyai moral dan nilai hidup yang sangat rendah, ia terkungkung dalam status quo atau kemapanan.

Seorang murid Kristus haruslah terus belajar dan bertumbuh dalam kebenaran; apalagi belajar di sini adalah menyangkut hidup kita. Amatlah disayangkan, kalau kita telah menjadi murid Kristus Sang Guru Agung tetapi kita tidak mau belajar dari-Nya. Berarti kita telah menyia-nyiakan anugerah Tuhan yang telah memilih dan memanggil kita menjadi murid-Nya, kita telah melecehkan panggilan dari Sang Guru Agung. Banyak orang, lebih menghargai guru-guru dunia daripada Kristus Sang Guru Agung. Biarlah kita menyadari kalau kita bisa mendapatkan ilmu bijaksana tertinggi yang ada di alam semesta maka itu sungguh anugerah yang luar biasa. Kristus adalah sumber dari segala sumber ilmu yang ada di dunia bahkan ilmu yang menyangkut kehidupan, Dia telah mengajarkan sekaligus mengimplikasikan hukum Kerajaan Sorga yang agung dan mulia itu. Sebagai seorang murid sejati, hendaklah kita mau berubah, konsep pemikiran duniawi kita yang salah selama ini diubahkan dengan demikian kita mempunyai pemikiran yang sama seperti Kristus Guru Agung kita.

II. Pilihan yang Dipertanggung jawabkan

Text Box: Jawaban Pertanyaan : __________________________________________________ __________________________________________________ __________________________________________________ ________ __________________________________________________ __________________________________________________ __________________________________________________ ________Kita bukan sekedar murid tetapi kita adalah the choosen one, murid yang dipilih. Banyak orang yang mengikut Tuhan Yesus tapi Dia hanya memilih dua belas orang saja untuk menjadi murid yang dekat dengan-Nya untuk melakukan suatu tugas khusus. Ini merupakan hak istimewa atau privilege kalau kita dipilih menjadi murid Kristus bahkan sangat teristimewa kalau di antara berjuta-juta manusia di dunia Kristus Sang Guru Agung itu telah memilih kita menjadi murid-Nya. Hari ini, banyak orang yang menghargai pilihan itu ketika pertama kali ia menyadarinya namun seiring dengan berjalannya waktu orang cenderung menganggap pilihan tersebut sebagai hal yang biasa. Betapa bodohnya kita kalau kita tidak menghargai pilihan Tuhan ini, memang siapakah kita sehingga Tuhan berkenan memilih kita menjadi murid-Nya? Kita bukanlah orang pandai atau orang yang hebat yang berjasa. Di luar kita masih banyak orang yang lebih pandai dan lebih dari segalanya dari kita namun Tuhan berkenan memilih kita menjadi murid-Nya.

Sayangnya, hari ini orang tidak menyadari anugerah Tuhan yang begitu besar itu, orang menganggap pilihan Tuhan itu sebagai hal yang biasa saja. Sadarlah, bukan karena kepandaian kita, bukan karena kebaikan kita kalau kita dipilih dan dipakai menjadi alat-Nya. Kalau kita dipilih itu semata-mata karena anugerah sebab sesungguhnya kita tidak layak dipilih. Cara Tuhan memilih berbeda dengan cara dunia, Tuhan tidak memilih Gamaliel atau ahli Taurat tetapi Tuhan justru memilih orang-orang yang dianggap tidak layak dan hina untuk menjadi murid-Nya; Tuhan memilih Petrus yang hanya seorang nelayan, Tuhan memilih Matius si pemungut cukai. Pertanyaannya sekarang adalah kalau Tuhan memilih kita menjadi murid-Nya, menjadi warga Kerajaan Sorga yang bekerja melayani Dia Raja atas segala raja maka seberapa besar kita menghargai privilege yang Tuhan berikan? Ataukah kita cenderung acuh tak acuh dan sembrono?

III. Pilihan yang Bersifat Pribadi

Ketika Tuhan memilih, Dia memilih pribadi demi pribadi. Namun, hari ini, dunia mencoba menghapus konsep ini, dunia modern ingin membuat manusia kehilangan identitas dirinya manusia menjadi in personal bukan manusia sejati. Dunia tidak lagi menghargai manusia karena pribadinya tetapi dunia akan sangat menghargai manusia karena adanya “icon“ yang melekat pada dirinya, seperti: kekayaan, kepandaian, jabatan, dan lain-lain. Dunia hanya akan menghargai kita kalau kita kaya, kalau kita mempunyai jabatan, berarti sesungguhnya dunia bukan menghargai diri kita tetapi kekayaan kita, maka jangan kaget ketika orang jatuh bangkrut atau orang tidak mempunyai jabatan lagi maka ia akan dibuang dan tidak dihargai. Dengan kata lain dunia menghargai kita kalau itu menguntungkan bagi dia. Akibatnya, orang berusaha mati-matian mendapatkan pamoritas demi supaya orang lain menghargai dirinya. Orang tidak menyadari kalau sesungguhnya ia sudah meletakkan harga dirinya sangat rendah, yaitu di bawah materi. Itulah sebabnya, hari ini orang ramai meneriakkan akan eksistensi atau keberadaan dirinya di tengah dunia ini. Sebagai murid Kristus, janganlah terkecoh dengan pandangan dunia, hendaklah kita menghargai orang yang memang layak untuk dihargai dan jangan memberikan penghargaan pada orang-orang yang tidak layak untuk dihargai. Kalau kita memberikan penghargaan pada orang yang hina maka itu menjadikan diri kita hina.

Kekristenan menuntut kita untuk mempunyai prinsip yang anggun dan agung sebab disanalah harkat manusia ditegakkan. Janganlah kita menghina diri sendiri dengan cara yang hina sebab jika kita berlaku demikan maka orang lain akan menghina kita. Hendaklah kita mengevaluasi diri kalau ada orang yang menghina kita sebab jangan-jangan memang kita layak untuk dihina. Sebagai murid Kristus sejati, biarlah kita mempunyai harkat dan martabat diri yang tinggi dengan demikian orang menghargai kita karena keberadaan diri kita bukan karena “icon“ yang menempel pada diri kita. Kita boleh miskin tetapi janganlah kita menjadi hina sebab Tuhan mencipta kita menurut gambar dan rupa-Nya yang mempunyai harkat dan martabat. Di dunia, tidak sedikit orang yang mempunyai integritas, hidupnya bersih tapi secara materi, ia miskin tetapi ia orang sangat menghargainya. Tuhan ketika memanggil manusia bukan secara sembrono tetapi secara pribadi. Bukan kamu yang memilih Aku tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap,... (Yoh. 15:16). Namun, para teolog modern ini tidak menyukai Firman Tuhan tersebut di atas, mereka beranggapan kalau sebelumnya Tuhan sudah memilih berarti orang telah kehilangan kebebasan. Konsep pilihan itu telah mengekang dirinya sehingga orang tidak lagi mempunyai kebebasan. Orang sulit menerima konsep pilihan ini sehingga mereka membuat suatu konsep baru, yaitu seseorang dapat menjadi pengikut Kristus itu bukan karena Tuhan yang pilih tapi kemauan itu datang dari diri kita sendiri dan orang-orang yang berada dalam wadah sebagai pengikut Kristus inilah yang Tuhan pilih dan mereka disebut sebagai umat pilihan. Ingat, Tuhan tidak pernah memilih umat-Nya secara “borongan“, sejak Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru disana jelas bahwa ketika Tuhan memilih, Tuhan memilih secara personal, pribadi; Tuhan memilih Nuh, Abraham, Daud, dan Tuhan Yesus ketika memilih murid, Ia juga panggil mereka secara pribadi (Mat. 10:2). Perhatikan, ketika Tuhan memanggil Saulus, tidak ada satu pun orang di sekelilingnya yang mendengar suara panggilan Tuhan, hanya Saulus seorang saja yang mendengar panggilan Tuhan tersebut. Di tengah-tengah dunia yang mendengungkan konsep global, dunia yang membuang eksistensi manusia, Tuhan memanggil kita pribadi demi pribadi untuk menjadi murid-Nya, Tuhan mengenal kita pribadi demi pribadi, Dia memberikan pada setiap kita talenta. Hendaklah kita menghargai panggilan Tuhan tersebut, berdoalah dan renungkanlah Firman-Nya secara pribadi, layanilah Dia dalam struktur pribadi. Suatu hari kelak kita akan berhadapan dengan Tuhan secara pribadi, existensial moment maka inilah keindahan Tuhan panggil kita satu per satu.

IV. Pilihan yang Diutus

Pribadi yang dipanggil adalah pribadi yang dididik oleh Tuhan untuk pergi memberitakan: “Kerajaan Sorga sudah dekat.“ Sungguh merupakan suatu anugerah, kalau kita dipakai oleh Dia untuk mengerjakan pekerjaan-Nya yang begitu mulia. Janganlah kita merasa cukup puas diri karena kita telah menjadi murid Kristus, kita telah menjadi umat pilihan Tuhan. Janganlah jadikan setiap titik balik yang terjadi dalam hidup kita itu sebagai titik awal tetapi setiap titik balik tersebut haruslah kita jadikan titik awal, every turning point is alfa point not omega point. Celakalah, kalau kita menganggap lulus dari ujian sekolah sebagai akhir dari segala-galanya atau pernikahan sebagai akhir dari hidup kita. Jikalau benar demikian berarti hidup kita akan berhenti, tidak ada kedinamisan untuk kita mau berproses dan terus bertumbuh. Begitu juga, kalau kita merasa cukup puas telah menjadi murid Kristus dimana keselamatan menjadi akhir dari segala sesuatu maka celakalah hidup kita. Pertobatan kita merupakan awal dari segala sesuatu, yakni awal menapaki hidup yang baru, awal membentuk konsep yang baru, awal bagi kita menjalankan tugas panggilan kita yang baru – melayani Kristus Raja.

Tuhan tidak memanggil kita menjadi murid untuk menikmati keselamatan seorang diri saja. Tidak! Tuhan memanggil kita menjadi murid untuk dipakai sampai pada penyempurnaan – Tuhan memanggil kita untuk menjalankan Amanat Agung, yaitu pergi dan memberitakan “Kerajaan Sorga sudah dekat.“ Hal ini menjadi titik alfa dalam hidup kita maka hidup kita akan dinamis bergerak untuk maju maka kita akan dipakai Tuhan secara dahsyat. Orang yang melihat segala sesuatu sebagai akhir maka hidupnya akan menjadi statis, beku dan akhirnya mati. Sungguh amatlah disayangkan, Yudas Iskariot telah menyia-nyiakan anugerah Tuhan, dia seharusnya bersyukur karena ia telah menjadi murid Kristus Sang Guru Agung tapi Yudas sibuk dengan dirinya sendiri, ia menjadi pengkhianat dan itu justru mencelakakan dirinya sendiri. Sebagai murid Kristus yang diutus untuk pergi memberitakan berita: “Kerajaan Sorga sudah dekat“ berarti hidup kita harus diubahkan terlebih dahulu dengan demikian hidup kita menjadi teladan dan kesaksian bagi dunia. Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi sempurna barulah kita layak untuk memberitakan “Kerajaan Sorga sudah dekat.“ Tidak! Tuhan meminta untuk kita bertobat dan diperbaharui; perubahan hidup kita itulah yang nantinya menjadi kesaksian bagi dunia yang bobrok ini.

Merupakan suatu anugerah yang sangat besar kalau Kristus Sang Guru Agung berkenan memilih kita menjadi murid-Nya dan dipakai menjadi alat-Nya untuk turut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya di dunia, yaitu: memberitakan “Kerajaan Sorga sudah dekat“ maka janganlah sia-siakan anugerah Tuhan itu, marilah kita bekerja – melayani Dia dengan segenap hati dan hidup kita mau terus diubahkan untuk semakin serupa Dia. Amin.



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Sumber:
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20051002.htm]The Special Calling[/url]
Reply With Quote
  #46 (permalink)  
Old 8th September 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Lightbulb Mat. 10:5-15: PELATIHAN MURID TUHAN

Ringkasan Khotbah : 9 Oktober 2005

Pelatihan Murid Tuhan

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: Mat. 10:5-15




Kita telah memahami bahwa tema Injil Matius adalah Kerajaan Sorga dimana Kristus yang menjadi rajanya. Berbeda dengan dunia, kerajaan Sorga ini bersifat rohani dan di dalamnya kita melihat ini kita melihat bagaimana konsep Kerajaan itu ditegakkan maka Tuhan membuat hukum Kerajaan Sorga dan sekaligus mengimplikasikan hukum tersebut. Kristus Tuhan yang menegakkan Kerajaan-Nya namun Dia tidak mengerjakannya seorang diri saja; Tuhan menetapkan dua belas orang di antara beribu-ribu orang untuk menjadi murid-Nya dan kepada mereka Tuhan memberikan jabatan rasul. Dua belas murid itu diutus oleh Tuhan Yesus untuk pergi dan memberitakan: “Kerajaan Sorga sudah dekat.“ Dipilih sendiri oleh Sang Guru Agung untuk menjadi murid-Nya dapat menimbulkan suatu sikap kesombongan maka pengutusan ini merupakan pembelajaran bagaimana hidup menjadi seorang murid Kristus sejati maka pengutusan ini berbeda dengan pengutusan yang merupakan Amanat Agung dari Tuhan Yesus yang tertulis dalam Matius 28:19-20

Di dalam tugas pengutusan ini, Tuhan Yesus memberikan batasan-batasan, yaitu:

Pertama, Tuhan tidak memperkenankan mereka menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, Tuhan Yesus mengutus kedua belas murid tersebut untuk pergi kepada umat Israel saja, domba yang terhilang dan tersesat. Kedua, Tuhan memerintahkan pada mereka untuk melakukan pekerjaan yang beraspek ke dunia, seperti menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta dan mengusir setan. Inti dari keseluruhan berita tersebut adalah: “Kerajaan Sorga sudah dekat.“ Tuhan Yesus tidak memerintahkan kepada murid untuk memberitakan berita Injil, yaitu Kristus Juruselamat dunia, karena pada waktu itu memang Kritus belum mati dan bangkit: Kerajaan Sorga sudah dekat tetapi saat itu, Kerajaan Sorga belum ditata oleh Kristus Sang Raja. Barulah setelah Tuhan Yesus mati dan bangkit dan pada hari Pentakosta, para rasul itu memberitakan tentang Kristus Juruselamat dunia.

Tuhan Yesus sudah menetapkan dua belas orang untuk menjadi murid-Nya tetapi yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Tuhan Yesus langsung mengutus para murid untuk pergi dan melayani tanpa ada suatu pembekalan pelajaran sebelumnya? Inilah cara Tuhan Yesus yang berbeda dengan dunia dimana di dalamnya terdapat suatu pembelajaran yang indah dengan demikian kita dapat dipakai menjadi warga Kerajaan Sorga.

I. Melayani

Merupakan suatu kebanggaan menjadi murid seorang guru besar apalagi menjadi murid dari seorang Guru Agung seperti Tuhan Yesus maka kalau orang tidak berhati-hati akan timbul suatu kesombongan diri. Kedua belas murid ini mempunyai posisi dan jabatan yang sangat spesial karena kedekatan mereka dengan Sang Guru dan kepada mereka diberikan jabatan sebagai rasul. Hari ini, banyak orang Kristen mau melayani kalau ada jabatan dengan demikian dirinya dapat menjadi terkenal. Memang, ia akan melayani dengan sangat baik dan bertanggung jawab namun mereka melayani bukan dengan hati dan motivasi murni tetapi karena alasan lain, yakni takut kalau nama baiknya tercemar. Dan biasanya, orang yang melayani karena jabatan atau nama baik ini tidak akan bertahan lama, ia akan menjadi marah dan tidak mau melayani lagi ketika ia mendapatkan kritikan dari orang lain.

Adalah anugerah kalau Kristus Sang Raja memilih kita menjadi warga Kerajaan-Nya dan bekerja bagi-Nya sebab siapakah kita kalau Dia berkenan memakai kita? Kalau kita menyadari bahwa kita hanyalah seorang hamba maka semua status atau kedudukan itu tidaklah penting lagi. Pelayanan tidak tergantung jabatan atau status, tidak, Tuhan ingin setiap orang yang melayani itu mempunyai jiwa seorang hamba. Namun manusia berdosa selalu mementingkan diri sendiri, orang senang kalau mendapatkan berkat, orang senang kalau dirinya menjadi terkenal karena berada dekat dengan Tuhan Yesus, orang hanya ingin mendapatkan keuntungan dari Tuhan Yesus tetapi ia tidak mau melayani. Maka pengutusan ini merupakan pelatihan pelayanan bagi para murid. Di tengah-tengah dunia humanis – materialis ini, biarlah kita menyadari kalau Tuhan berkenan memilih kita menjadi murid maka itu merupakan suatu anugerah karena sesungguhnya kita tidak layak, kita hanyalah manusia berdosa yang seharusnya dibinasakan tapi Dia berkenan menyelamatkan kita dan memakai kita menjadi alat-Nya. Sadarlah kita hanyalah seorang hamba dan biarlah kita melayani dengan hati dan motivasi murni. Banyak orang yang menuntut untuk dilayani tetapi tidak mau melayani. Biarlah kita meneladani Kristus, Dia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat. 20:28).

II. Memberi

Tuhan mengutus kedua belas murid ini untuk menyembuhkan orang sakit; membangkitkan orang mati; mentahirkan orang kusta dan mengusir setan karena mereka telah memperoleh kuasa dari Tuhan Yesus secara cuma-cuma maka sekarang, mereka harus memberinya dengan cuma-cuma. Konsep memberi yang diajarkan oleh dunia berbeda dengan konsep yang diajarkan Kristus. Dunia tidak pernah memberi secara gratis tetapi harus ada timbal balik dan itu haruslah menguntungkan. Dengan segala cara orang berusaha untuk mendapatkan keuntungan bahkan memakai undian berhadiah sebagai kedok sehingga sepertinya kita yang diuntungkan padahal sesungguhnya si pemberi hadiah atau orang yang mengadakan undian itulah yang memperoleh keuntungan lebih besar dibanding orang yang menerima hadiah. Inilah wajah dunia kita yang berdosa, dunia tidak menyadari akan konsep anugerah.

Ingat, tidak ada satu pun milik kepunyaan kita yang ada pada diri kita itu adalah milik kita, tidak, segala harta yang ada pada kita asalnya dari Tuhan bahkan segala kepandaian, tenaga, bakat dan talenta yang ada pada kita itupun asalnya dari Tuhan. Kita selayaknya bersyukur atas anugerah Tuhan ini, Dia memberikan semuanya itu pada kita secara cuma-cuma. Kita harus bertanggung jawab atas segala anugerah Tuhan tersebut; semua pemberian Tuhan itu haruslah kembali untuk kemuliaan Tuhan. Kalau kita menyalahgunakan dan memakai anugerah Tuhan demi untuk kepentingan setan maka Tuhan berhak mengambil semuanya itu. Hal ini pula diungkapkan oleh Tuhan dalam perumpamaan talenta sehingga dari sana kita tahu mengapa Tuhan berhak membuang manusia berdosa dalam kebinasaan kekal? Karena kita telah mempermainkan anugerah maka Tuhan yang memberi Tuhan berhak mengambilnya kembali; kita tidak akan dapat bersembunyi dari hadapan-Nya, tidak ada satu manusia pun yang lepas dari keadilan-Nya; kemanapun kita lari disana Tuhan ada, kita lari di lembah disana Tuhan ada bahkan kita mau lari di dunia orang mati pun disana Tuhan ada (Mzm. 139).

Sebenarnya manusia menyadari bahwa semua yang ada padanya adalah karena anugerah Tuhan tetapi sudah menjadi natur manusia berdosa sehingga meski sudah menyadari anugerah pun, manusia tetap tidak rela kalau harus memberi. Seorang anak kecil tanpa ada yang mengajarkannya, ia pasti menolak ketika ia disuruh membagi sesuatu yang ada padanya padahal barang itu pun diperolehnya secara gratis. Tuhan menegaskan adalah lebih bahagia memberi daripada menerima. Memberi haruslah dengan motivasi murni, jangan masuk dalam jebakan iblis yang mengajarkan dengan memberi sedikit akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Kebahagiaan sejati tidak pernah kita peroleh dari dunia. Kebahagiaan sejati akan kita dapatkan ketika kita tahu Tuhan berkenan atas perbuatan kita. Hendaklah kita terus mengevaluasi diri kita, mintalah supaya Tuhan terus menyelidiki hati kita dengan demikian kita tidak menjadi berdosa dan Tuhan berkenan atas kita.

III. Mengimani

Tuhan juga mengajar para murid untuk senantiasa bersandar itulah sebabnya, Tuhan melarang mereka membawa emas atau perak atau tembaga bahkan Tuhan melarang mereka membawa bekal, baju, kasut atau tongkat. Inilah cara Tuhan mendidik para murid-Nya agar mereka selalu bersandar pada pemeliharaan Tuhan saja, indirect providence. Para murid telah terbiasa dengan direct providence, ketika mereka lapar, Tuhan menyediakan; ketika mereka dalam kesulitan, Tuhan menolong mereka; semuanya sudah disediakan oleh Tuhan. Maka tidaklah heran orang selalu mengikuti Tuhan Yesus kemanapun Ia pergi. Kini, Tuhan mengajar mereka untuk beriman, para murid diutus untuk pergi untuk melakukan segala sesuatu yang Tuhan perintahkan tanpa membawa bekal apapun dan Tuhan Yesus tidak beserta mereka secara langsung. Dapatlah dibayangkan, rasa was-was dan rasa kuatir itu pastilah menyergap di hati para murid. Ini merupakan latihan dan ujian iman yang terbaik.

Cara Tuhan memelihara sangatlah luar biasa, Dia dapat memakai siapa pun dan apa pun untuk memelihara hidup setiap anak-anak-Nya, Dia tidak akan pernah meninggalkan kita bahkan ketika dunia menjadi goyah kita mempunyai sandaran yang kuat, yaitu Kristus Tuhan. Janganlah sandarkan hidupmu pada uang atau materi yang sifatnya mati tetapi bersandarlah hanya pada Tuhan saja. Tuhan akan memberikan pada kita dengan secukupnya dan saat itu kita tahu Tuhan memelihara hidup kita. Ingat, semua harta dan milik kepunyaan kita asalnya dari Tuhan, Dialah satu-satunya sumber dari segala sumber berkat. Sungguh mengerikan kalau hidup kita tergantung pada benda materi yang fana, dapatlah dibayangkan betapa paniknya hidup kita kalau diikat oleh uang yang sifatnya tidak kekal. Hari ini banyak orang yang berjalan sendiri, tidak mau taat akan pimpinan Tuhan namun ironisnya, ketika ia dalam kesusahan Tuhan yang disalahkan.

Umat Israel seharusnya bersyukur hidup berada dalam pimpinan dan pemeliharaan Tuhan, Tuhan memelihara dengan ajaib dengan manna namun toh mereka masih saja bersungut-sungut. Manusia berdosa memang serakah, manusia tidak percaya pemeliharaan Tuhan, mereka mengambil manna secara berlebihan maka akibatnya manna itu menjadi busuk. Manusia tidak percaya Tuhan, manusia hanya percaya dirinya sendiri. Begitu pula ketika Tuhan mengutus para murid untuk pergi melayani, Tuhan tidak memperbolehkan mereka membawa barang apapun sebab Tuhan hendak mengajarkan pada mereka hidup beriman dan bersandar pada pemeliharaan Tuhan. Betapa bodohnya manusia yang justru lebih memilih hidup bersandar pada diri sendiri, manusia tidak menyadari bahwa diri ini bukanlah siapa-siapa sehingga tidak layak dijadikan sandaran. Hanya Tuhan Sang Pencipta dan Pemilik alam semesta ini yang layak menjadi sandaran hidup kita.

IV. Memilah

Tuhan tidak sekedar memanggil kita untuk melayani dan memberi dan selain itu, Tuhan juga tidak mengajarkan kita untuk bersandar mutlak tetapi Tuhan memberikan tugas lain yang sangat unik pada kita. Ketika kita datang ke rumah seseorang untuk melayani maka kalau orang itu memang layak dalam artian orang itu mempunyai jiwa pelayanan yang sama maka orang tersebut pasti mempunyai panggilan yang sama, yakni ia akan balik melayani kita, ia harus balik memberi dan ia harus belajar untuk bersandar mutlak maka hal ini menjadi suatu putaran pelayanan. Kepada siapa kita pergi maka orang yang kepadanya kita datangi haruslah melayani dan tidak berhenti sampai disitu, orang tersebut juga harus pergi kepada orang lain lagi untuk melayani begitu seterusnya sehingga ini menjadi suatu putaran pelayanan. Seseorang yang tidak mempunyai jiwa pelayanan akan selalu menuntut untuk dilayani sedang dirinya sendiri tidak mau melayani. Tidak setiap orang yang kita datangi mau menerima berita kebenaran yang kita bawa. Maka disini kita melihat kita berada dalam posisi pemilah dan posisi pemilah ini sangatlah krusial.

Alkitab menegaskan selama seseorang belum bertemu dengan anak Tuhan yang sejati maka kelihatannya ia seperti dibebaskan untuk berbuat hal-hal yang berdosa, ia sepertinya boleh melakukan segala hal yang mempermainkan iman sampai suatu ketika ia bertemu dengan anak Tuhan yang sejati yang memberitakan berita kebenaran Tuhan maka hanya ada dua pilihan: terima atau menolak dimana dari pilihan yang diambil terkandung suatu konsekuensi. Tuhan memerintahkan kepada para murid untuk memberitakan berita kebenaran dan kalau orang itu mau menerima berita kebenaran maka kamu harus tinggal padanya sampai kamu berangkat kembali tetapi kalau ia menolak maka kamu harus keluar dan tinggalkan rumah itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Kota yang menolak berita kebenaran ini akan lebih celaka dibandingkan dengan Sodom dan Gomora. Seorang Kristen sejati mempunyai posisi sebagai seorang pemilah, tugas ini sangatlah istimewa, Tuhan berkenan memberikan kuasa pada kita maka janganlah kita menjadi sombong sebaliknya kita harus mengerjakan tugas panggilan ini dengan kerendahan hati dan dengan rasa takut dan gentar. Tugas panggilan ini tidaklah ringan sebab dunia akan membenci kita. Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu...dan karena Aku telah memilih kamu dari dunia sebab itulah dunia membenci kamu (Yoh. 15:18-19). Biarlah kita senantiasa dipakai Tuhan menjadi alat-Nya untuk memberitakan kebenaran di tengah dunia yang semakin menuju pada kehancuran. Amin.



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Sumber:
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20051009.htm]Pelatihan Murid Tuhan[/url]
Reply With Quote
  #47 (permalink)  
Old 16th September 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past