Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | IM LIST | BOOKMARK US | HELP GUIDE | LANGUAGE:


Go Back   Forum Diskusi Kristen Internasional > AP - DISKUSI ROHANI KRISTEN > Renungan Harian
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #1 (permalink)  
Old 17th November 2007
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Default Matius 4, Ringkasan Khotbah oleh Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Ringkasan Khotbah : 13 Juni 2004


Start with The Wilderness

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: Mat. 4:1-11





Kita telah memahami bahwa Tuhan Yesus dibaptis karena Ia taat menjalankan kehendak Bapa-Nya. Manusia akan merasakan sukacita sejati kalau mau kembali pada tujuan awal Allah mencipta manusia, yaitu menggenapkan seluruh kehendak-Nya. Pada saat Yesus dibaptis, Allah Tritunggal menyatakan diri secara bersama-sama dan peristiwa ini merupakan satu-satunya di sepanjang sejarah Alkitab. Yesus telah mendapat perkenanan dari Allah Bapa dan pimpinan Roh Kudus; Yesus sudah siap memulai pelayanan-Nya di dunia namun Roh Tuhan malah membawa-Nya ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Pola ini sulit dimengerti logika manusia bahkan tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiran manusia karena bertentangan dengan konsep manusia. Bukanlah hal yang mudah untuk mengubah paradigma atau cara berpikir manusia yang telah terpola dan mengakar kuat dalam diri. Hanya Roh Kudus saja yang dapat mengubahkan konsep berpikir kita yang salah. Padang gurun merupakan kunci kesuksesan sejati hidup manusia.

Dunia modern mengajarkan konsep knowing, being, and doing, yakni suatu konsep yang mengajarkan bahwa manusia harus tahu terlebih dahulu supaya ia dapat menjadi seperti yang diinginkan setelah itu barulah ditentukan langkah-langkah selanjutnya demi untuk mencapai tujuan tersebut. Alkitab justru mengajarkan being yang pertama barulah kemudian knowing and doing; bagaimana kita akan menjadi itulah yang menentukan seluruh pengetahuan apa yang hendak kita dapatkan barulah kemudian kita menentukan langkah selanjutnya. Ketika seseorang menetapkan untuk menjadi seorang atheis maka ia pasti akan memilah-milah pengetahuan yang masuk dalam dirinya; ia akan menolak seluruh pengetahuan yang berkaitan dengan Tuhan begitu pula kalau orang telah menetapkan diri untuk mau menjadi seorang materialis maka ia pasti akan mencari pengetahuan yang mendukung langkah berikutnya sebagai seorang materialis.

Berhati-hatilah kalau sejak dari awal kita salah menentukan being maka hidup kita akan berakhir dengan kehancuran. Hanya iman kepada Tuhan Yesus sajalah yang dapat membuat manusia dapat menetapkan being dengan tepat. Tapi sayang, dunia telah berhasil membentuk pola berpikir manusia sedemikian rupa dan menjadikan manusia humanis materialis. Manusia di dunia umumnya dibagi dalam dua wilayah besar, yaitu: 1) orang yang taat Allah dan Firman, 2) orang yang humanis-materialis. Adalah salah kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa ambisi mendorong orang untuk mempunyai semangat hidup. Ingat, semangat hidup itu bukan karena ambisi diri. Alkitab mengajarkan semangat hidup akan kita miliki kalau tujuan hidup kita untuk memuliakan Tuhan dan mau menjadi serupa Kristus. Celakanya, manusia mulai mencampur iman dengan ambisi pribadinya, akibatnya manusia akan kecewa asa bahkan ia tidak segan mengakhiri hidupnya kalau ambisinya tidak dapat terpenuhi. Betapa tragisnya hidup manusia kalau hanya berakhir dengan kebinasaan yang sia-sia.

I. The Guidance of The Holy Spirit

Hidup berada dibawah pimpinan Tuhan, tidak akan membuat kita kecewa pada-Nya, hal ini diungkapkan oleh Pdt. Stephen Tong di salah satu khotbahnya namun, ada orang yang tidak setuju dan berargumen: bukankah perasaan marah dan kecewa ada pada setiap manusia maka wajarlah kalau manusia juga menjadi marah dan kecewa pada Tuhan? Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah manusia berhak kecewa dan marah pada Tuhan yang memberikan hidup pada manusia? Keinginan/ambisi yang tidak terpenuhilah yang menyebabkan orang menjadi kecewa dan marah. Lalu kenapa Tuhan yang dipersalahkan? Seharusnya ambisi pribadi yang ada pada diri kita itulah yang patut dipersalahkan. Namun, orang lainlah yang justru dipersalahkan sedang diri sendiri tidak mau disalahkan dan ironisnya, setelah tidak ada orang lagi yang dapat disalahkan maka Tuhanlah yang disalahkan. Inilah sifat manusia berdosa. Kalau manusia tidak mau kembali pada Tuhan dan taat pimpinan Tuhan maka itulah dimulainya titik kehancuran. Tuhan ingin menunjukkan pada kita bagaimana Roh Kudus memimpin hidup seseorang yang dipanggil untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya, yaitu untuk menggenapkan rencana-Nya. Roh Kudus ingin menata hidup kita terlebih dahulu sebelum kita pergi mengerjakan tugas panggilan-Nya; kita harus taat mutlak untuk dibentuk sesuai kehendak Bapa. Hendaklah kita mencontoh teladan Abraham yang taat pada Bapa ketika Tuhan memerintahkan dia untuk keluar menuju tanah Perjanjian begitu juga ketika Tuhan meminta ia untuk mempersembahkan Ishak, anak Perjanjian; iman Abraham bukanlah iman yang fanatik oleh karena itu ia layak disebut sebagai Bapa orang beriman. Bagaimana dengan hidup beriman kita? Dasar iman Kristen adalah Alkitab, Firman Allah yang benar.

Jangan terjebak dengan konsep positive thinking, you believe it and you get it yang diajarkan dunia. Cara Tuhan memimpin setiap orang sangatlah unik. Tuhan memanggil Saulus untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel dan Tuhan sendiri akan menunjukkan kepadanya banyaknya penderitaan yang harus ditanggung (Kis. 9:15-16). Namun, Tuhan tidak langsung membawa Saulus untuk melakukan tugas panggilan-Nya; Tuhan mendidik dengan cara “mendiamkan“ Paulus selama 12 tahun supaya Paulus menaklukkan ambisi pribadinya terlebih dahulu. Hari ini, banyak orang yang setelah bertobat dan masih dengan semangat yang menggebu langsung ingin melayani. Celakanya, mereka tidak belajar teologi dengan benar tapi langsung mengabarkan Injil. Setelah bertobat jangan terburu untuk melayani, Tuhan ingin agar berdiam diri sejenak, menaklukkan semua ambisi pribadi kita dan belajar taat pada kehendak-Nya. Kesuksesan Paulus justru setelah Tuhan mendiamkannya selama 12 tahun, setiap pekerjaan yang dilakukan Paulus dicatat di sepanjang sejarah; hidup Paulus menjadi bermakna. Cara Tuhan memimpin terkadang sulit kita mengerti namun percayalah rencana-Nya adalah yang terbaik dalam hidup kita.

II. The Test from The Holy Spirit

Allah memimpin Yesus masuk ke padang gurun untuk berpuasa, masuk ke dalam titik pengujian yang paling berat. Allah ingin menguji kualitas Yesus sebelum Ia memulai pekerjaan-Nya di dunia sebagai Penebus umat manusia. Setiap orang pasti ingin mengerjakan pekerjaan besar dan sukses dalam hidupnya namun satu hal yang manusia sulit untuk menerima adalah proses panjang dan penuh tantangan yang harus dilalui. Ingat, setiap tantangan dan penderitaan yang Tuhan ijinkan untuk kita alami adalah demi untuk kebaikan kita, yaitu supaya kita semakin bertumbuh dalam iman dan kita tahu berjalan dalam pimpinan Tuhan kita merasakan sukacita sejati. Hati-hati dengan konsep Yin Yang yang mengajarkan bahwa penderitaan wajar dialami oleh setiap orang demi untuk kebaikan mereka sendiri, yaitu orang jadi mengerti akan arti kebahagiaan, orang harus merasakan berat terlebih dahulu supaya dapat mengerti apa itu ringan; hidup seperti roda yang berputar, terkadang manusia di atas dan terkadang di bawah.

Sepintas konsep Yin Yang ini baik karena menghibur dan memberikan pengharapan bagi orang yang sedang menderita. Namun, kelemahan konsep ini, yaitu: pertama, orang selalu berharap akan datang kebahagiaan suatu hari kelak tapi ketika kebahagiaan itu tak kunjung datang, akhirnya orang menjadi marah dan mempersalahkan Tuhan karena sepertinya Dia tidak menepati janji. Dan bagi mereka yang hidupnya sudah bahagia berarti kini hanya menunggu waktu giliran untuk hidup menderita, sesuai dengan konsep Yin Yang yang mengajarkan hidup manusia selalu berputar, hari ini kaya maka besok hidup miskin; kedua, konsep perbandingan Yin Yang ini membuat gap semakin dalam, manusia menjadi rusak karena orang tidak lagi membandingkan dirinya dengan yang lebih tingggi tapi mereka selalu membandingkan dengan sesuatu yang lebih rendah. Manusia terlarut dalam konsep passive negative, akibatnya orang hanya mau bergaul dengan mereka yang tingkatannya lebih rendah maka tidaklah heran kalau orang tidak menjadi semakin baik tapi justru semakin rusak karena orang merasa rendah diri kalau harus bergaul dengan mereka yang berkualitas.

Alkitab dengan tegas menyatakan kejahatan dengan kebaikan adalah dua hal yang berbeda dan saling bertentangan. Penderitaan yang kita alami seharusnya menjadi waktu bagi kita untuk mengevaluasi diri: pertama, apakah kita telah berbuat dosa sehingga Tuhan yang adil memberikan hukuman atas kita? Jikalau kita telah berbuat dosa maka sudah sewajarnya kalau kita menerima hukuman, punishment of God sebagai konsekuensi dari dosa yang kita lakukan. Manusia pasti akan berusaha dengan segala cara melepaskan diri dari penghukuman dunia namun ingat, manusia tidak bisa lepas dari keadilan Allah. Satu-satunya jalan supaya manusia dapat diampuni dosanya, yaitu manusia harus kembali pada Tuhan dan bertobat. Kedua, Tuhan ingin menguji sampai dimanakah ketahanan iman kita dengan penderitaan. Tuhan menguji iman Ayub, seorang yang hidup benar. Puji Tuhan, Ayub menang sehingga di sepanjang sejarah diingat dan menjadi kesaksian yang harum. Setiap orang Kristen, memang Tuhan perkenankan untuk melewati ujian supaya kita semakin bertumbuh dalam iman. Dari tanah liat, kita tidak hanya sekedar membuat kendi tapi dari bahan yang sama setelah dipanaskan dapat dihasilkan sebuah porselen yang indah. Kalau kita mau dipakai Tuhan menjadi perabot yang indah dan mulia maka kita harus melewati ujian terlebih dahulu. Cara Tuhan menguji setiap manusia berbeda, buah anggur yang tidak diperas tidak akan menjadi arak, buah zaitun yang tak ditekan takkan menjadi minyak. Tuhan mau mengembleng kita agar kita menjadi lebih murni.

Tuhan akan mempersiapkan setiap orang yang Tuhan panggil untuk menjadi hamba-Nya dengan cara yang unik. Seperti halnya, Pdt. DR. Stephen Tong yang Tuhan persiapkan sedemikian rupa sejak masa mudanya sehingga dengan pengetahuan teologi yang benar dan kekuatan fisik sehingga detik ini, beliau sudah berkhotbah pada puluhan ribu orang di dunia. Manusia seringkali hanya menginginkan jalan pintas saja; manusia mau sukses tapi tidak mau melalui proses yang panjang berliku dan penuh tantangan. Kesuksesan tidak dapat dicapai dengan cara instant, manusia harus berproses untuk membuktikan kualitas hidup seseorang. Orang yang hidupnya tidak pernah diuji dan tidak teruji maka hidup itu tidak layak dihidupi seperti kata Socrates, unexcement live unworth living. Bukan tanpa maksud kalau Tuhan memimpin kita masuk ke dalam padang gurun. Tidak! Semua itu Tuhan maksudkan demi untuk kebaikan kita, Tuhan ingin menguji kualitas hidup kita. Jalan yang dipimpin Tuhan akan membawa kita pada pimpinan yang paling indah.

III. The Suffer of The Holy Spirit

Setelah Tuhan Yesus berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam maka laparlah Yesus. Pemikiran modern langsung menyimpulkan bahwa “lapar“ merupakan kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Hal ini juga diungkapkan oleh Abraham Maslow yang menggambarkan kebutuhan manusia seperti sebuah piramid dimana yang paling mendasar adalah: 1) kebutuhan jasmani, yakni kebutuhan akan makanan dan minuman, 2) kebutuhan akan cinta kasih, 3) kebutuhan estetika/keindahan, dan 4) kebutuhan aktualisasi diri. Kalau kebutuhan yang paling mendasar tidak terpenuhi maka manusia bisa menjadi gila. Inilah sifat humanis yang dikembangkan manusia. Orang yang hanya memikirkan lapar, tidak beda dengan binatang yang hanya punya keinginan naluriah. Celakalah hidup kita kalau kita memutlakkan apa yang seharusnya bukan kebutuhan menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi.

Di tengah dunia ada banyak kebutuhan yang bukan kebutuhan mutlak karena itu dibutuhkan bijaksana supaya kita dapat memilih dengan tepat kebutuhan yang mana dan yang bagaimana yang seharusnya dimutlakkan atau tidak. Orang yang dapat memahami apa yang menjadi kebutuhan utama dan mana yang bukan maka ia akan menjadi orang yang berbahagia. Ketika Tuhan Yesus lapar maka Iblis berpikir hal itu adalah kesempatan emas bagi dia untuk mencobai Kristus. Yesus tahu apa yang seharusnya menjadi kebutuhan utama, manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Kunci utama adalah menyangkali diri, menyangkali semua yang hanya menjadi keinginan ambisi diri. Adalah hal yang wajar kalau setiap manusia mempunyai keinginan pribadi akan tetapi bisakah kita mengatakan “tidak“ pada setiap keinginan kita? Orang yang bisa mengatakan “tidak“ pada dirinya sendiri adalah orang yang peka akan pimpinan Tuhan. Banyak orang yang ingin mengerti pimpinan Tuhan tapi banyak orang yang tidak mau menyangkal diri. Biarlah kita mau hidup taat dipimpin oleh Roh Kudus maka kita akan merasakan sukacita; Tuhan akan membukakan cakrawala hidup kita. Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita kalau kita mau taat pimpinan-Nya. Amin.



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Sumber :
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2004/20040613.htm]Start with The Wilderness[/url]
Reply With Quote
  #2 (permalink)  
Old 23rd November 2007
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Default Matius 4:10-11: To worship God (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah : 18 Juli 2004



To Worship God

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: Mat. 4:10-11





Pencobaan iblis ketiga merupakan pencobaan yang paling dahsyat di antara semua pencobaan - iblis ingin supaya Tuhan Yesus berorientasi pada dunia saja - kerajaan dunia dan seluruh kemegahannya akan diberikan pada-Nya asal Tuhan Yesus sujud menyembah dia. Manusia mana yang tidak tergoda kalau ditawari dunia dan seluruh kemegahannya namun manusia tidak menyadari dibalik tawaran manis yang menggiurkan itu justru yang membinasakan. Manusia sulit menyadarinya karena di satu sisi, tawaran tersebut sangat menggoda dan cocok dengan keinginan daging kita maka tidaklah heran kalau orang mudah terkecoh dan akhirnya masuk dalam jebakan iblis. Berbeda halnya kalau tawaran tersebut bersifat negatif dan tidak sesuai dengan keinginan kita maka dengan mudah kita dapat langsung menolaknya. Namun kita harus lebih berhati-hati dan waspada kalau tawaran tersebut “sepertinya benar“ dan menguntungkan justru itu yang membinasakan.

Merupakan sifat manusia berdosa kalau manusia tidak suka dipimpin dalam kebenaran yang membawanya dalam pertumbuhan iman – manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Manusia, di satu sisi tidak suka kalau dibohongi tapi di sisi lain orang menjadi marah kalau kita berkata jujur. Sebagai contoh, kalau kita berkata jujur tentang sesuatu mengenai dirinya yang dalam hal ini dirinya sendiri pun tidak menyukainya, misalnya hal yang menyangkut keburukannya maka dia akan menjadi marah. Orang akan marah kalau dia dikatakan bodoh padahal semakin dia marah justru semakin menunjukkan kebodohannya - orang pandai tidak akan bergeming kalau dia dikatakan bodoh karena orang yang pandai adalah orang yang selalu sadar kalau dirinya bodoh. Itulah paradoxical kehidupan. Manusia pada hakekatnya tidak ingin kebenaran, mereka hanya menginginkan sesuatu menyenangkan hatinya saja.

Dosa kalau sudah mencengkeram hidup manusia maka segala sesuatu menjadi gelap. Jangankan dunia dan seluruh kemegahannya, demi uang 1 milyar saja orang sudah mau melakukan apa saja. Kalau kekayaan dan kemuliaan sudah mencengkeram manusia maka itulah titik awal kehancuran manusia. Secara logika seharusnya orang sudah tahu bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan; banyak penjelasan dan realita dunia telah membuktikannya namun orang tidak peduli. Cara iblis menggoda manusia supaya jatuh dalam pencobaan sangat licik lalu bagaimana cara kita mengantisipasinya? Hanya dengan cara Tuhan, yaitu dengan Firman seperti yang dilakukan oleh Kristus. Puncak dari pencobaan Tuhan Yesus adalah kunci bagaimana kita mengerti manusia hidup maka Tuhan Yesus mengajak kita untuk balik pada inti iman Kristen, yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Tuhan Yesus melihat tawaran iblis ini sudah tidak dapat ditolerir lagi, itulah sebabnya Yesus langsung mengusir iblis, “Enyahlah, Iblis! Beranikah kita berbuat demikian, yakni mengusir iblis ketika tawaran yang menggiurkan menghampiri kita? Hari ini kalau kita mendengar ada gereja yang mengusir setan, sesungguhnya bukan setan yang diusir tapi lebih tepatnya adalah gejala setan sedang setan yang asli masih bercokol dalam gereja. Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti (Mat. 4:10; Ul. 6:13) merupakan kunci bagi kita untuk melepaskan diri dari jeratan iblis. Perhatikan, dalam kalimat ini ada dua perintah, yaitu: menyembah dan berbakti. Menyembah tidak sama dengan berbakti karena dua kata ini mempunyai pengertian berbeda namun orang seringkali mencampur aduk dua kata ini. Konsep menyembah dan berbakti telah ada sejak jaman Perjanjian Lama dan tertulis juga dalam hukum Taurat - Tuhan Yesus mengajarkan konsep ini kembali di Perjanjian Baru. Konsep menyembah dan berbakti masih berlaku meski berbeda tempat dan selang waktu yang sangat panjang. Hal ini membuktikan bahwa konsep itu adalah kebenaran sejati. Jadi, "sesuatu" dapat dikatakan sebagai kebenaran sejati kalau "sesuatu" itu tidak dapat digeser oleh ruang dan waktu. Hari ini banyak orang yang mengklaim hasil risetnya sebagai kebenaran dan akibatnya kita jugalah yang dibingungkan. Ada riset yang mengatakan makan "itu" menyembuhkan kanker tapi riset yang lain justru mengatakan makan "itu" penyebab kanker. Akibatnya, orang jadi permainan si researcher karena di antara semua hasil riset tidak ada seorang pun tahu mana yang benar-benar benar? Kebenaran sejati tidak dapat digeser oleh waktu dan ruang. Riset, seharusnya menghasilkan sesuatu yang baru namun kita menjumpai para researcher justru meriset sesuatu yang dibutuhkan manusia dan yang sudah diasumsikan sebelumnya. Kesimpulan sudah ada terlebih dahulu barulah orang melakukan riset, misal: ada kesimpulan yang menyatakan makan bayam menyebabkan kanker maka dari kesimpulan yang ada inilah orang kemudian melakukan riset. Dan orang yang mau mengeluarkan dana besar untuk membiayai riset tersebut pastilah orang yang mempunyai kepentingan dan dia pasti ingin diuntungkan maka tidaklah heran kalau hasil riset pun dapat diatur sedemikian rupa. Hasil riset yang seharusnya "makan bayam tidak menyebabkan kanker" maka demi untuk memperoleh keuntungan, hasil riset dibuat sama dengan kesimpulan, “makan bayam akan menyebabkan kanker“. Inilah sifat dunia berdosa yang menuju pada kebinasaan, manusia menjadi humanis materialis. Iblis merusak pikiran manusia dengan tawaran-tawaran manis yang membinasakan, karena itu manusia harus kembali pada kebenaran sejati.

I. Menyembah

Menyembah berasal dari bahasa Yunani, proskuneo berarti to worship, manusia harus mengabdi pada Tuan di atas segala tuan, Raja di atas segala raja. Pros dari bahasa Yunani yang berarti “menuju“ atau “pergi ke“, jadi menyembah pada Tuhan Allah berarti manusia secara sadar, aktif datang pada Tuhan dengan sikap hormat. Hati-hati, jangan menafsirkan kata aktif sama seperti pengertian dunia karena sikap aktif yang diajarkan dunia malah justru menghancurkan hidup. Menurut konsep dunia, kita aktif kalau hal tersebut menguntungkan kita namun aktif datang pada Allah berarti kita yang berinisiatif datang pada-Nya, menundukkan diri dan taat pada pimpinan-Nya dan keaktifan ini yang tidak disukai manusia. Kesombongan dalam diri manusia inilah yang membuat orang sukar untuk tunduk dan taat pada perintah Allah. Orang menjadi malu kalau harus maju untuk menyerah, orang lebih memilih mati daripada menyerah untuk kalah. Kita harus mengubah konsep kita yang salah tersebut karena menyerah bukan berarti kita kalah, kita menyerah justru untuk menang.

Menyembah Allah berarti dengan sungguh hati kita datang pada Tuhan dan menyatakan diri bahwa kita mau takluk, tunduk dan taat pada-Nya. Sikap inilah yang tidak dapat dilakukan oleh iblis maka Alkitab mencatat iblis lalu meninggalkan Yesus karena iblis mempunyai karakter yang selalu ingin melawan dan memberontak pada Tuhan. Hendaklah kita taat pada-Nya dan ketaatan seseorang ini dapat kita lihat pada sikapnya apakah ia mau taat pada orang lain? Kalau pada manusia yang kelihatan saja ia tidak mau taat apalagi pada Tuhan yang tidak kelihatan. Dunia selalu mengajarkan supaya kita selalu memberontak pada-Nya, kita diajar tidak taat pada siapapun. Orang yang tidak taat pada Tuhan maka ia tidak akan bisa menjadi seorang pemimpin yang baik karena dia tidak bisa melihat Allah sebagai pusat kebenaran. Sebagai anak Tuhan, kita harus aktif menyembah Tuhan dan taat dengan demikian kita tidak mudah dipermainkan iblis. Utamakanlah Tuhan Yesus dalam hidupmu. Hendaklah pikiran dan hatimu selalu mengarah pada-Nya, apapun yang kita lakukan biarlah hanya untuk kemuliaan nama-Nya saja. Apakah kita sudah mempunyai sikap hati yang sungguh-sungguh menyembah dan taat kepada Tuhan?

Manusia harus berubah untuk semakin hari semakin serupa Kristus dan proses itu terus berlangsung di seumur hidup kita. Di dunia, kita menjumpai dua macam golongan manusia, yaitu: pertama, orang yang hidup untuk menyenangkan dunia tapi mempunyai sikap hidup yang baik, sebaliknya; kedua, orang yang hidup untuk menyenangkan hati Tuhan tapi hidupnya penuh dosa. Di antara kedua golongan ini yang manakah Tuhan suka? Memang, di antara kedua golongan di atas tidak ada satu golongan pun yang baik; yang paling baik dan idealnya adalah orang yang hidupnya seperti Henokh, hidup menyenangkan Tuhan dan mempunyai sikap hidup baik; di surga maupun di bumi baik. Namun andai kita disuruh memilih di antara kedua golongan tersebut, golongan manakah yang kita pilih? Contoh dalam Alkitab, orang yang termasuk dalam golongan pertama adalah Esau dan Saul; dan orang yang termasuk dalam golongan kedua adalah Yakub dan Daud tetapi kenapa Tuhan justru berkenan pada Yakub dan Daud yang mempunyai catatan hidup lebih buruk dari Esau dan Saul? Jawabnya karena Yakub dan Daud selalu mengutamakan Tuhan di setiap aspek hidupnya bahkan Daud mendapat atribusi seperti Tuhan Yesus, kepadanya Allah berkata “Inilah anak-Ku yang Kukasihi dan kepadanya Aku berkenan“. Anak muda dalam Perjanjian Baru yang katanya "hidup saleh", tetapi hartanya yang banyak itu justru menghalanginya untuk datang pada Tuhan, ia tidak sepenuhnya menjalankan seluruh hukum Taurat karena sesungguhnya ia hanya menjalankan sebagian dari hukum Taurat, yakni hukum yang ke lima sampai ke sepuluh. Kalau kita tidak mengutamakan Tuhan maka sia-sialah semua hukum Taurat ke lima sampai dengan ke sepuluh yang kita jalankan.


II. Berbakti

Berbakti berasal dari bahasa Yunani, latreia, artinya seluruh aspek hidup kita berada dalam satu ikatan dengan oknum yang kita sembah. Kalau kita tidak tahu siapa yang kita sembah maka kita tidak dapat beribadah dengan baik. Itulah sebabnya ibadah dan penyembahan tidak dapat dipisahkan. Kalau kita menyembah pada Allah yang sejati maka seluruh aspek hidup semuanya harus mengarah pada Allah yang kita sembah, apakah kita sudah menyenangkan hati Tuhan yang kita sembah? Dua hal yang tidak dapat dilakukan iblis adalah menyembah pada Allah dan menyenangkan hati Tuhan. Dengan segala macam cara, iblis selalu berusaha agar manusia menyembah dan menyenangkan dia saja, yaitu dengan jalan menuruti segala keinginan nafsu kita dengan demikian manusia jatuh ke dalam dosa. Sebaliknya, hal yang dibenci oleh Tuhan justru itulah yang menyenangkan hati iblis.

Iblis tahu kalau Yesus adalah Allah yang berkuasa atas seluruh alam semesta, Allah yang berdaulat namun iblis sengaja melawan Tuhan dengan tidak mau menyembah dan berbakti pada-Nya. Kalau kita hanya menyembah dan tidak berbakti maka penyembahan kita tersebut hanya bersifat referensi saja, hal itu yang membuat hidup manusia mudah tergoyahkan oleh bujuk rayu si iblis. Kita dapat memperkecil kemungkinan jatuh dalam dosa kalau kita berbakti pada-Nya, di setiap aspek hidup, kita selalu mengaitkan tindakan, pikiran dan tingkah laku kita pada satu tujuan, yakni untuk menyenangkan hati Tuhan. Itulah arti berbakti atau latreia. Jadi, berbakti bukan pada hari Minggu saja ketika kita pergi ke gereja dan kebaktian bukanlah tempat kita belajar Firman Tuhan. Kita akan mendapatkan sukacita sejati kalau kita mempunyai ibadah yang sejati, hidup menyenangkan hati Tuhan. Ibadah di hari Minggu, hari pertama menjadi dasar bagi kita melangkah menapaki hari-hari selanjutnya. Hati yang selalu berpaut pada Tuhan akan memperkecil kita untuk jatuh dalam jebakan iblis. Firman Tuhan mendidik kita untuk sungguh berbakti pada-Nya maka Firman yang kita dengar seharusnya merefleksi diri kita untuk kita diubahkan semakin serupa Dia.

Liturgi ibadah di gereja hendaklah disusun sedemikian rupa - dengan sikap hormat kita menghampiri tahta-Nya dan memuji kebesaran Tuhan - kebaktian diawali dengan Firman Tuhan yang mengajak jemaat melihat kebesaran dan kasih Tuhan setelah itu kita memohon pada-Nya untuk memimpin seluruh ibadah sampai akhir yang ditutup dengan pujian pada Allah Tritunggal, Sumber Berkat. Tapi sayang, hari ini banyak gereja yang menganggap liturgi sebagai hal yang tidak penting sehingga dihilangkan dari ibadah. Dunia modern telah menyelewengkan arti berbakti yang sejati, akibatnya liturgi dibuat sedemikian rupa yakni hanya menyenangkan hati orang mencari tempat yang dianggap paling cocok dengan dirinya untuk berbakti, yaitu yang dapat menyenangkan dan melegakan hatinya karena stress setelah enam hari bekerja. Dan celakanya, kini orang sudah mulai terang-terangan menjadikan gereja sebagai ajang bisnis karena dianggap menguntungkan. Hati-hati, iblis selalu mempermainkan orang-orang yang berada dalam gereja, orang yang tidak hidup rohani, orang yang tidak mau kembali pada kebenaran Firman supaya kita masuk dalam jebakan iblis yang memang bertujuan merusak sikap ibadah kita pada Tuhan.

Umat pilihan bukanlah orang suci yang tidak pernah berbuat dosa. Tidak! Sebagai contoh, Yakub, Daud, Paulus dan masih banyak lagi; namun hidup mereka adalah hidup yang mau menyenangkan hati Tuhan. Cara Tuhan memimpin anak-anak-Nya berbeda dengan cara iblis. Hendaklah seluruh aspek hidup kita hanya menyembah dan menyenangkan hati Tuhan saja maka kita akan mendapatkan sukacita sejati. Amin.



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)


Sumber :
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2004/20040718.htm]To Worship God[/url]
Reply With Quote
  #3 (permalink)  
Old 29th November 2007
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Default Matius 4:12: ESSENCE OF CALLING, SUFFERING & KERYGMA-1

Ringkasan Khotbah : 25 Juli 2004



Essence of Calling, Suffering & Kerygma (1)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: Mat. 4:12





Matius mencantumkan perikop “Yesus tampil di Galilea“ (Mat. 4:12-17) sangat tepat sebab bagian ini merupakan konsep dasar bagi setiap anak Tuhan sejati dalam menata hidupnya untuk menjadi seorang manusia sejati sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Kita seringkali mendengar bahwa hidup anak Tuhan pasti dipimpin Roh Kudus namun orang salah menginterpretasikan kata “dipimpin“. Orang menganggap bahwa kalau dipimpin berarti hidup kita akan sukses dan kita dapat melakukan berbagai mujizat dan tanda-tanda ajaib lain. Tidak! Roh Kudus memimpin orang untuk masuk dalam kehidupan rohani sejati, yaitu hidup beribadah pada Tuhan. Dan untuk membentuk kerohanian sejati, Roh Kudus memimpin Tuhan Yesus masuk ke padang gurun untuk dicobai iblis setelah berpuasa 40 hari 40 malam (Mat. 4:1-2). Ingat, puasa bukan memaksa Tuhan supaya kehendak kitalah yang jadi. Tidak! Puasa berarti menyangkal diri, yaitu menolak setiap hal yang menjadi keinginan kita dan hanya kehendak-Nya saja yang jadi.

Hati-hati, di dunia modern, banyak bidat yang memakai konsep yang berlawanan dengan Firman Tuhan. Hendaklah kita mencontoh teladan yang paling sempurna dari Tuhan Yesus, Firman hidup yang berinkarnasi. Tuhan Yesus melawan iblis dengan menggunakan Firman namun ketika iblis mulai mempermainkan posisi, yaitu Yesus disuruh menyembah pada iblis maka tanpa perlu berpanjang lebar lagi Tuhan Yesus langsung mengusir iblis; sebab hanya kepada Tuhan saja, engkau harus menyembah dan berbakti (Mat. 4:10). Dalam bagian ini kita melihat bagaimana seharusnya kita menempatkan diri sebagai seorang manusia sejati di tengah-tengah kerusakan dunia. Posisi manusia lebih tinggi dari iblis bahkan malaikat, karena: 1) manusia terdiri dari tubuh dan roh - malaikat hanya terdiri dari roh saja; 2) manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah - malaikat dicipta sebagai makhluk rohani; 3) malaikat dicipta untuk melayani Tuhan Allah dan manusia, malaikat adalah utusan, messenger yang diutus Tuhan untuk melindungi dan menjaga manusia, dan; 4) setelah dunia berakhir, manusia bersama-sama dengan Tuhan akan menghakimi malaikat.

Kejatuhan menyebabkan manusia kehilangan posisinya yang sejati, manusia yang tadinya berposisi di atas malaikat kini menjadi berada dibawah malaikat bahkan dapat dikatakan lebih rendah dari binatang sedang malaikat yang jatuh dalam dosa menyebabkan dirinya di buang oleh Tuhan. Untuk lebih jelasnya maka urutan posisi sbb: malaikat – manusia (pada saat jatuh dalam dosa) - iblis (malaikat yang jatuh dalam dosa). Kejatuhan manusia menyebabkan manusia kehilangan posisinya, jatuh ke tempat yang paling dalam sehingga manusia tidak dapat melakukan apa yang menjadi keinginan dirinya sendiri kecuali kemauan iblis karena manusia telah dicengkeram oleh iblis. Pilihan telah tersedia di hadapan kita, yaitu pilihan untuk taat Tuhan atau melawan Tuhan. Manusia telah dibelenggu iblis sedemikian rupa sehingga tidak dapat memilih untuk “taat Tuhan“. Banyak pilihan tersedia, free choice namun kita tidak mempunyai free will, kehendak bebas untuk memilih apa yang menjadi kehendak Tuhan. Maka tidaklah heran, kalau orang sangat membenci kebenaran sejati. Sebagai contoh, orang pada umumnya tahu bahwa rokok berakibat buruk untuk kesehatan, ironisnya orang justru menjadi marah kalau kita menasehatinya supaya tidak merokok.

Hanya Roh Kudus yang dapat menyadarkan manusia akan dosa dan mengubahkan hidup manusia untuk mau taat pada kehendak Tuhan. Tuhan Yesus tahu ordo dengan tepat, siapa yang harus menyembah dan siapa yang disembah. Ordo yang benar adalah iblis yang harus menyembah Tuhan bukan sebaliknya dan manusia tidak menyembah iblis karena posisi iblis berada di bawah manusia. Sebagai anak Tuhan, maka kita harus kembali pada posisi yang benar dengan demikian kita tidak mudah dipermainkan dunia dan dibelenggu oleh cara-cara iblis. Setelah selesai dicobai, maka inilah saatnya bagi Tuhan Yesus untuk memulai misi-Nya dan masuk dalam bagian transisi yang dicatat dalam oleh Matius (Mat. 4: 12-17). Bagian transisi ini oleh sebagian orang seringkali dianggap tidak penting padahal dari bagian ini kita dapat memahami: 1) hakekat panggilan kita menjadi manusia sejati, 2) bagaimana seharusnya kita bersikap ketika penderitaan datang, dan 3) diantara panggilan dan penderitaan tersebut, kita harus mempunyai kerygma atau berita, yaitu kesaksian hidup kita sebagai anak Tuhan. Orang seringkali salah mengerti hakekat panggilan, orang memahami panggilan Tuhan hanya sebatas identitas diri. Akibatnya orang mulai mencari-cari identitas diri, orang mulai mencari idola, dari kata idol yang berarti dewa. Manusia tidak menyadari bahwa ia dipanggil untuk menjadi serupa dengan Allah. Namun, hari ini kita justru menjumpai manusia makin mirip dan serupa dengan binatang. Ingat, manusia dicipta Tuhan mempunyai harkat lebih tinggi dari binatang, manusia diberikan akal budi untuk berpikir sedang binatang, tidak! Oleh sebab itu, moralitas dan etika hanya ada pada diri manusia.

Manusia kalau sudah kehilangan identitas dirinya maka seluruh tatanan hidup, tingkah laku maupun cara berpikirnya menjadi rusak. Sebaliknya, kalau manusia sadar posisi dirinya yang diciptakan lebih tinggi dari makhluk ciptaan lain maka ia tidak akan mudah jatuh dalam jebakan iblis dan ia pasti mau taat menjalankan semua perintah Tuhan. Dengan demikian segala tindakan, tingkah laku dan cara berpikir kita akan tertuju pada Tuhan semata, apapun yang kita kerjakan hanya untuk kemuliaan nama-Nya saja. Hati-hati jangan terkecoh oleh mereka yang mengaku diri “anak Tuhan“ namun kelakuannya tidak menunjukkan citra Kristus karena sebenarnya ia bukanlah anak Tuhan sejati tetapi lebih tepatnya anak iblis. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah anak Tuhan sejati tidak akan mengalami penderitaan? Kristus pun tidak luput dari penderitaan namun Ia tidak berbuat dosa meski pada jaman itu banyak orang yang rusak moralnya itu karena Tuhan Yesus tahu posisi-Nya.

Matius tidak mencatat kenapa Yohanes Pembaptis ditangkap karena hal itu memang bukan yang utama untuk diberitakan. Ada berita yang lebih utama yang hendak disampaikan oleh Matius, yakni waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea (Mat. 4:12). Hati-hati ayat ini jangan disalah mengerti. Ayat ini justru mengajarkan pada kita bagaimana seharusnya kita berespon ketika penderitaan datang? Kalau kita memang benar anak Tuhan yang sejati maka dunia pasti akan membenci kita karena dosa tidak akan bisa bersinkretis dengan kebenaran sejati. Ingat, kebenaran tidak bisa bersifat abu-abu. Kebenaran sejati haruslah yang benar-benar benar; karena di luar itu pastilah bukan kebenaran. Hati-hati diantara empat epistemologi berikut, yaitu: 1) benar-benar benar; 2) benar-benar tidak benar; 3) tidak benar-benar benar; 4) tidak benar-benar tidak benar yang paling berbahaya adalah yang keempat karena selama masih belum terbukti salah maka kita masih bisa menganggapnya sebagai kebenaran.

Anak Tuhan harus hidup dalam terang kebenaran karena terang tidak dapat bercampur dengan gelap. Dunia sulit menerima kebenaran malahan dunia akan menjadi marah kalau kita berbicara tentang kebenaran. Raja Herodes bukannya berubah ketika ditegur dosanya oleh Yohanes Pembaptis tetapi sebaliknya justru Yohanes Pembaptislah yang dihukum. Bukankah kejadian demikian bukan hal yang baru lagi di jaman ini? Buruk muka cermin dibelah. Itulah sebabnya, seorang anak Tuhan sejati yang hidup dalam kebenaran akan dibenci oleh dunia, ia akan hidup menderita. Barangsiapa yang mau mengikut Kristus maka ia akan menderita aniaya (2Tim. 3:12). Bagaimana kita berespon waktu penderitaan menimpa kita? Adalah wajar kalau di dunia yang penuh dosa ini, anak Tuhan mengalami penderitaan. Justru patut dipertanyakan kalau anak Tuhan yang sejati tidak pernah mengalami penderitaan. Kalau memang benar ia seorang anak Tuhan sejati maka orang yang berada dalam kegelapan akan terusik oleh terang itu.

Ada dua pendapat yang sangat ekstrim tentang bagaimana anak Tuhan menghadapi penderitaan, yaitu: pertama, menjadi martir, menderita sampai mati. Namun, mereka yang berpendapat demikian akan sulit mengerti peristiwa Tuhan Yesus yang sepertinya “melarikan diri“; pergi jauh meninggalkan Nazaret ketika Yohanes Pembaptis ditangkap atau peristiwa Paulus yang diturunkan dari atas tembok kota dalam sebuah keranjang ketika orang Yahudi berencana hendak membunuhnya (Kis. 9:23-25), dan masih banyak lagi peristiwa yang serupa. Peristiwa Tuhan Yesus menghindari penderitaan di atas bukanlah yang pertama karena sebelumnya Ia juga dilarikan oleh orang tuanya ketika terjadi pembunuhan bayi di bawah umur dua tahun di Betlehem, sehingga timbul ekstrim, kedua, melarikan diri ketika penderitaan datang. Bukankah sikap pengecut demikian tidak mencerminkan sikap anak Tuhan sejati? Dan di sisi lain, Tuhan menuntut anak-anak-Nya untuk taat seperti Tuhan Yesus yang juga taat sampai mati. Lalu di antara kedua sikap tersebut di atas, sikap manakah yang harus kita teladani? Dua pendapat di atas janganlah dipertentangkan satu sama lain karena sesungguhnya memang bukan hal yang bertentangan. Bagaimana kita melihat suatu tindakan yang melampaui lebih dari sekedar alasan pragmatis ketika kita menghadapi kesulitan, penganiayaan dan tantangan karena iman kita pada Tuhan Yesus Kristus.

1. Orientasi Hidup Ketika kita menghadapi kesulitan atau penderitaan, kita jangan terlarut dalam penderitaan tetapi kita harus keluar dari kondisi tersebut maka percayalah kita pasti akan melihat ada rencana Tuhan yang indah dibalik penderitaan. Dengan larut dalam penderitaan justru akan menambah masalah baru dalam hidup kita. Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup anak-Nya senantiasa lancar. Tidak! Hari ini justru banyak tantangan kesulitan yang harus kita hadapi. Hanya anak Tuhan sejati saja yang tidak akan tergoyahkan dan tetap berteguh dalam iman meski penderitaan menimpa hidupnya. Dalam setiap penderitaan, pasti ada kehendak Tuhan yang harus kita jalankan. Jadi, kalau kehendak Tuhan memang mengharuskan kita untuk pergi maka kita pun harus taat untuk pergi begitu juga kalau kehendak Tuhan memanggil kita untuk menderita karena kita tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita, yaitu hidup demi kemuliaan nama-Nya. Jangan bertindak bodoh dengan mengatasi segala tantangan dan kesulitan dengan cara sendiri dan menganggap cara kita tersebut sebagai kebenaran. Hendaklah kita waspada dan senantiasa mengarahkan hati kita pada-Nya sebab penderitaan pasti tiba pada setiap anak Tuhan sejati.

2. Uji Motivasi Ketika kita menghadapi penderitaan dimana penderitaan tersebut menuntut kita untuk mengambil keputusan, yaitu harus mati ataukah menghindar maka hendaklah kita menguji motivasi kita, apakah keputusan yang kita ambil tersebut demi untuk kepentingan diri sendiri atau untuk kemuliaan nama-Nya? Kalau motivasi kita menghindar dari kesulitan karena kita takut menderita atau takut mati berarti kita egois dan motivasi kita pasti bukan berasal dari Tuhan. Orang yang masih berpikir hanya untuk kepentingan diri hendaklah segera bertobat. Karena itu dalam segala hal yang kita lakukan hendaklah kita menguji motivasi, apakah kita melakukannya demi untuk keuntungan pribadi ataukah kehendak Tuhan yang sedang kita jalankan? Ataukah sebenarnya kehendak diri kitalah yang sedang kita jalankan tapi dengan alasan menjalankan kehendak Tuhan. Hati-hati, antara ambisi diri dan kehendak Tuhan, batasnya sangat tipis, hanya kita dan Tuhan yang tahu apa motivasi kita. Tugas anak Tuhan adalah menjalankan kehendak-Nya dan Tuhan pasti akan memimpin dan memampukan untuk kita dapat menjalankannya.

3. Kuasa Berita Kalau motivasi kita sudah benar, yakni sesuai dengan kehendak Tuhan maka pasti ada hasilnya, yaitu berita Injil tersebar luas dan nama Tuhan dipermuliakan. Tuhan Yesus menyingkir dari ke Galilea menuju Kapernaum bukan untuk bersembunyi, lari dari penderitaan. Tidak! Karena jikalau memang benar demikian maka berita Injil tidak mempunyai kekuatan dan kuasa. Namun, Alkitab mencatat, Tuhan Yesus meneruskan kabar yang diberitakan oleh Yohanes Pembaptis, yaitu “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!“ (Mat. 4:17). Itulah kerygma. Orang yang melarikan diri dari kesulitan tidak akan mempunyai kuasa untuk memberitakan Injil. Sebagai anak Tuhan, biarlah hidup kita senantiasa dimurnikan sehingga orang melihat perubahan yang terjadi dalam hidup kita dengan demikian orang akan melihat Kristus ada dalam diri kita dan mereka menjadi percaya. Hendaklah dari setiap mulut anak Tuhan keluar kerygma yang senantiasa memberitakan kebenaran sejati, yakni “bertobatlah Kerajaan Sorga sudah dekat“.

Kiranya ketiga hal tersebut di atas dapat menjadi bahan pertimbangan bagi kita, apakah kita harus menghindar dari penderitaan ataukah harus menghadapi penderitaan? Tuhan tidak menuntut setiap anak-Nya untuk menjadi martir dan berkorban bagi-Nya dan di sisi lain Tuhan juga tidak ingin anak-Nya lari ketika kesulitan datang. Tapi biarlah semua yang terjadi dalam diri kita adalah sesuai dengan waktu dan rencana Tuhan saja. Amin.



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Sumber :
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2004/20040725.htm]Essence of Calling, Suffering & Kerygma[/url]
Reply With Quote
  #4 (permalink)  
Old 5th December 2007
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Default Matius 4:12-17 : Essence of Calling, Suffering & Kerygma-2

Ringkasan Khotbah : 1 Agustus 2004



Essence of Calling, Suffering & Kerygma (2)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: Mat. 4:12-17





Alkitab mencatat Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya setelah Yohanes ditangkap. Hal ini membuat orang berpandangan negatif pada pelayanan yang Yesus kerjakan karena "sepertinya" Tuhan Yesus memang sedang menantikan Yohanes Pembaptis berhenti melayani untuk kemudian digantikan posisinya. Manusia pada umumnya ingin kalau ia menggantikan posisi atau pekerjaan seseorang maka segala sesuatunya haruslah sudah dipersiapkan dan berjalan lancar dengan demikian ia tidak akan menemui kesulitan. Akibatnya ia tidak siap ketika mendapati situasi dan kondisi berbeda dengan yang diharapkan. Puji Tuhan, Tuhan Yesus tidak terjebak dengan situasi, Ia telah siap dengan segala situasi bahkan situasi yang terburuk sekalipun karena pelayanan yang Tuhan Yesus gantikan ternyata tidaklah mengenakkan malahan sangat membahayakan namun dari sinilah kita melihat esensi panggilan sejati.

Bentuk pelayanan Yesus berbeda dengan yang dipikirkan manusia. Ketika Tuhan memanggil kita, Tuhan tidak pernah menjanjikan segala sesuatu akan berjalan lancar dan enak, Tuhan juga tidak janjikan hidup kita tidak jumpa susah dan penderitaan. Tidak! Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal itupun menderita ketika Ia datang ke dunia. Kini tiba waktunya bagi Tuhan Yesus, sang Mesias yang menjadi berita utama itu untuk tampil melayani setelah Yohanes Pembaptis, sang pembuka jalan itu ditangkap. Namun tantangan yang harus dihadapi Tuhan Yesus sangat berat karena sama halnya seperti Yohanes Pembaptis, Tuhan Yesus juga mendapat penolakan dari Herodes, penguasa pada jaman itu. Bayangkan, bagaimana Herodes tidak murka, dengan ditangkapnya Yohanes, ia berharap tidak akan ada lagi orang yang memberitakan berita: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!“ Kini Herodes justru mendapati orang yang berbeda namun memberitakan berita yang sama dan hal ini membuat geram hati Raja Herodes. Maka dengan segala cara dan upaya Herodes menghancurkan setiap orang yang memberitakan berita kebenaran tersebut namun tantangan berat ini tidak menggentarkan hati Tuhan Yesus, Ia tidak menggeser sedikitpun berita kebenaran.

Banyak orang yang menafsirkan salah dengan kembalinya Yesus ke Galilea. Ingat, Yesus menyingkir ke Galilea bukan karena Ia mau menghindar dari ancaman Herodes. Tidak! Karena itu diperlukan empat Injil untuk melihat satu pribadi Yesus. Satu buku atau satu pandangan saja tidaklah cukup untuk menuliskan biografi seseorang. Injil Lukas melihat Kristus secara sejarah dan kronologis, yakni mulai dari Dia lahir sampai kematian-Nya sebaliknya injil Yohanes melihat Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia. Injil Markus melihat Kristus sebagai seorang hamba Allah, seorang yang melayani Allah, maka kalau kita membaca tulisan Markus kita akan merasakan Yesus layaknya seorang manusia yang melayani yang pernah ada di bumi namun kontras dengan injil Matius yang menggambarkan Kristus sebagai seorang Raja yang berkuasa, maka kita akan menjumpai kata “Kerajaan Sorga“ di setiap tulisannya; kerajaan Kristus dimulai dari Yesus memanggil dua belas murid kemudian berkembang menjadi kerajaan Sorga yang besar.

Kalau kita melihat Yesus secara segmentasi, yaitu Yesus sebatas manusia, atau Yesus sebatas Raja atau Yesus sebatas Allah berarti kita gagal mengenal Yesus yang adalah Allah dan manusia. Kegagalan ini disebabkan karena orang telah terpaku pada subyektifitas diri. Injil Matius mau melihat Kristus dari sudut pandang Yesus Kristus, seorang Raja yang sedang memberitakan Kerajaan Sorga mulai dari biji sesawi sampai menjadi pohon besar dimana burung dapat berteduh dalamnya. Ingat, Matius maupun Injil yang lain tidak menulis semua hal tentang Kristus secara detail, hanya hal-hal yang mereka anggap sangat penting saja itulah yang ditulis. Dari injil Matius, kita melihat Yesus tidak sepenuhnya berada di Galilea tapi kalau kita bandingkan dengan Injil yang lain maka kita akan menjumpai Yesus pernah ke daerah Yordan bahkan ke Yerusalem. Namun hal ini tidak ditulis oleh Matius karena bukan di sana fokusnya.

Matius mau menunjukkan bahwa pelayanan Yesus dimulai dari Galilea karena Matius ingin supaya pembacanya melihat mulainya pelayanan Yesus, kemudian kita melihat bagaimana Tuhan Yesus melangkah selangkah demi selangkah memulai misi-Nya hingga berakhir di Yerusalem. Matius melihat Tuhan memanggil secara progresif, yakni kita melihat pimpinan Tuhan selangkah demi selangkah. Namun dunia modern dimana teknologi telah berkembang pesat menjadikan manusia ingin segala sesuatu haruslah serba cepat, orang selalu ingin melihat hasil akhirnya terlebih dahulu sebelum ia melangkah lebih jauh. Cara Tuhan memimpin berbeda, Ia menuntun kita selangkah demi selangkah, Ia tidak menunjukkan pada kita hasil akhirnya. Seperti halnya orang yang sedang berjalan di kegelapan malam yang pekat dengan membawa sebuah lentera kecil sehingga ia hanya dapat melihat dengan jarak pandang yang terbatas, ia tidak dapat melihat jalan tersebut akan berakhir dimana namun seiring dengan langkahnya maka lentera itupun turut menerangi jalannya. Tuhan ingin supaya manusia selalu bersandar pada pimpinan Tuhan.

I. Pelayanan yang Taat Pimpinan Tuhan

Tuhan Yesus ketika hendak memulai pelayanannya, Ia tidak langsung terjun melayani melainkan Ia retreat berdiam diri di Kapernaum sehingga hal ini dapatlah kita teladani bahwa saat kita melayani mungkin Tuhan ingin supaya kita mundur terlebih dahulu. Secara manusia terkadang kita tidak rela ketika Tuhan meminta kita untuk mundur apalagi kalau kita sudah tahu hasil akhirnya. Retreatnya Tuhan Yesus justru mempunyai makna yang sangat besar. Galilea merupakan awal bagi Kristus menjalankan misi-Nya, yaitu dari dua belas murid. Tuhan membentuk setiap anak-Nya seiring dengan berjalannya waktu yang terus berproses dengan demikian kita mempunyai pondasi yang kuat sehingga tidak mudah digoncangkan oleh bujuk rayu iblis. Ketika melangkah kita harus belajar untuk mundur dan melihat apa rencana Tuhan atas hidup kita.

Kita telah memahami bahwa cara Tuhan memimpin berbeda dengan cara iblis. Tuhan memimpin manusia selangkah demi selangkah berbeda dengan iblis yang menawarkan jalan pintas. Manusia melihat jalan pintas yang ditawarkan iblis itu nampak indah namun manusia tidak menyadari jalan pintas yang dipilih tersebut justru merupakan titik kehancuran. Karena itu sebagai anak Tuhan hendaklah kita senantiasa waspada supaya kita tidak masuk dalam jebakan iblis. Jalan Tuhan memang sulit untuk kita pahami; tujuan sudah nampak di depan mata tapi terkadang Tuhan menuntun memimpin kita untuk berputar. Tuhan tahu justru jalan yang terbaik bagi setiap anak-Nya adalah jalan yang memutar dan panjang bukan jalan pintas. Bukankah untuk sampai pada puncak gunung lebih mudah bagi kita kalau jalan tersebut berkelok-kelok? Namun manusia berdosa merasa diri lebih pandai, lebih bijaksana sehingga ia merasa tidak perlu untuk taat pada Tuhan.

II. Pelayanan yang Dimulai dari Kecil

Jangan melangkah terlalu cepat dan terburu-buru. Orang yang melangkah dengan terburu-buru biasanya akan menjadi batu sandungan. Start with the humble begining, biarlah segala sesuatunya kita mulai dari hal yang sederhana terlebih dahulu. Pada umumnya, manusia ingin mengerjakan hal yang besar dengan tujuan supaya orang lain melihat dan memuji hasil pekerjaannya namun banyak orang tidak siap mental sehingga ia akan mudah jatuh, ia tidak mempunyai pertahanan yang cukup untuk menahan “kebesaran“ dirinya. Seperti halnya gedung kalau pondasinya tidak kuat maka ia akan runtuh ketika datang goncangan dan badai menerpa. Tuhan Yesus memberikan teladan bagi kita, Dia adalah Anak Allah sehingga bukanlah hal yang sulit kalau Ia memulainya dari Yerusalem namun Ia memulai misi-Nya dari kota kecil di Galilea, Kapernaum.

Kapernaum dan Yerusalem terpisah oleh jarak yang sangat jauh tapi Yesus tahu dari sanalah awal dari kekuatan dan kematangan langkah. Orang tidak suka kalau harus memulai pekerjaan dari hal yang kecil terlebih dahulu apalagi kalau mereka sudah terbiasa mengerjakan hal-hal yang besar. Padahal dari hal yang kecil akan menjadikan kita lebih teliti dan kita mempunyai pertahanan mental diri yang kuat. Dalam banyak aspek, kita tidak mau memulai dari bawah terlebih dahulu karena orang seringkali beranggapan bahwa mengerjakan pekerjaan rendah sangat menghinakan mereka. Sebagai anak Tuhan, janganlah kita menganggap rendah dan memandang remeh setiap pelayanan yang dipercayakan Tuhan pada kita bahkan pelayanan yang kecil sekalipun. Pelayanan yang terbaik justru dimulai dari kita mengerti orang lain terlebih dahulu, seperti pelayanan di penyambutan tamu. Berelasi dengan orang lain merupakan cara yang tepat bagi seseorang untuk menunjukkan jiwa pelayanannya. Kalau ia tidak mempunyai jiwa pelayanan maka Tuhan tidak akan memberikan pelayanan lain yang lebih besar padanya. Tuhan Yesus tidak memulai pelayanannya langsung pergi ke Yerusalem meski Ia tahu bahwa pada akhirnya Ia harus ke sana tapi Kristus justru memulai pelayanan-Nya dari kandang domba dan pelayanan-Nya di mulai dari sebuah desa kecil. Hendaklah kita meneladani Yesus yang berjiwa rendah hati dan kesederhanaan.

III. Pelayanan yang Dikerjakan dengan Semangat Tinggi

Pelayanan sejati harus dimulai dari jiwa yang rendah hati dengan demikian pelayanan sekecil apapun kita kerjakan dengan kesungguhan hati bukan asal-asalan. Jiwa pelayanan Tuhan Yesus tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi, meski Kapernaum sebuah desa kecil namun Kristus tetap semangat melayani dan berita yang Ia wartakan tidak berubah, “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Manusia telah terbiasa dikondisikan oleh lingkup yang ada, kalau lingkupnya kecil dan sederhana biasanya orang melakukannya tidak dengan sepenuh hati. Itu berarti kita telah didikte oleh situasi dan kondisi karena lingkungan mendikte kita negatif maka kita pun terpengaruh negatif begitu pula sebaliknya. Puji Tuhan, Kristus tidak terpengaruh sedikitpun oleh situasi maupun kondisi. Situasi merupakan tempat bagi Kristus untuk mengerjakan tugas panggilan-Nya. Tuhan Yesus tahu esensi panggilan itulah sebabnya kesulitan dan penderitaan tidak membuat-Nya undur dari pelayanan.

Panggilan Kekristenan seharusnya tidak menurunkan kualitas pelayanan; kita harus tetap memberitakan Firman, kita tetap bersedia baik atau tidak baik waktunya (2Tim. 4:2). Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam pelayanan di gereja semata tapi juga berlaku di sekolah, dunia kerja, dan lain-lain. Karena itu jangan menganggap remeh setiap pekerjaan sederhana yang dipercayakan pada kita tapi hendaklah kita melakukannya dengan sebaik-baiknya. Orang selalu berpikir bahwa pekerjaan yang ia lakukan haruslah setimpal dengan pendapatan yang ia peroleh sehingga kalau pendapatan yang ia terima kecil maka ia akan melakukan tidak dengan sepenuh hati. Kita seharusnya berpikir terbalik, apapun yang kita lakukan haruslah kita kerjakan sebaik mungkin, seluruh kemampuan kita kerahkan sehingga orang lain akan menilai, apakah kita layak atau tidak dipercaya untuk mengerjakan hal-hal yang lebih besar. Dunia membangun citra yang terbalik dengan yang Alkitab ajarkan sehingga hal ini turut mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku kita.

Begitu pula dalam pemberitaan Firman, seorang hamba Tuhan tidak boleh terpengaruh dengan jumlah jemaat yang hadir. Meski jumlah jemaat hanya lima orang sekalipun, berita yang kita sampaikan harus tetap konsisten dan bersemangat sama seperti kalau berkhotbah pada seribu orang jemaat. Hal ini berarti hamba Tuhan tersebut tidak dikendalikan oleh situasi maupun kondisi tapi dikendalikan oleh panggilan Tuhan atas hidupnya. Sebagai anak Tuhan kita harus menyadari bahwa Tuhan memanggil untuk menjadi pemberita Firman maka kita akan memberikan yang terbaik pada-Nya. Namun bukan hal yang mudah bagi kita untuk tidak terpengaruh dengan sesuatu yang dapat kita lihat dan kita rasakan. Orang akan goncang kalau melihat situasi yang buruk dan tidak menguntungkan akibatnya kualitas kerja kita merosot. Situasi dunia kini sangat kacau namun kita diuji dalam keadaan kacau demikian apakah esensi panggilan hidup kita mengontrol hidup kita. Ini menjadi hal yang utama.

Panggilan hidup kita bertumbuh seiring dengan ketaatan kita pada pimpinan Tuhan seperti orang yang berjalan dengan lenteranya berjalan di kegelapan malam dengan demikian kita tidak takut menghadapi kesulitan dan penderitaan karena Tuhan beserta. Yang menjadi pertanyaan adalah maukah kita taat pada pimpinan Tuhan dan relakah kita dibentuk oleh Dia? Biarlah hakekat panggilan hidup terus kita sadari sehingga kita mempunyai kekuatan dan kestabilan hidup dengan demikian kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh arus dunia yang senantiasa berfluktuasi. Hendaklah kita mencontoh teladan Musa dan Yusuf yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi. Kiranya Tuhan menguatkan kita menjalani hidup seturut dengan panggilan Tuhan dalam diri setiap kita. Amin.



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)


Sumber :
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2004/20040801.htm]Essence of Calling, Suffering & Kerygma (2)[/url]
Reply With Quote
  #5 (permalink)  
Old 12th December 2007
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Default Matius 4:12-17 : THE ESSENCE OF CALLING, SUFFERING & KERYGMA-3

Ringkasan Khotbah : 15 Agustus 2004



The Essence of Calling, Suffering & Kerygma (3)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.




Nats: Mat. 4: 12-17






Matius menuliskan kembali berita tentang tanah Zebulon dan tanah Naftali yang diungkapkan nabi Yesaya (Yes. 8:23-9:1) sebelumnya dalam Perjanjian Lama. Zebulon merupakan anak ke lima sedang Naftali merupakan anak ke sepuluh dari Yakub yang disebut Israel. Zebulon dan Naftali menempati sebagian kecil wilayah yang berada di sebelah Timur, seberang sungai Yordan. Karena letak geografisnya yang berada di seberang sungai Yordan maka daerah ini dapat berkembang hingga ke wilayah Dekapolis. Namun perkembangan ini justru menyebabkan penderitaan karena di satu sisi, mereka terpisah dari sepuluh suku lain yang berada di sebelah barat sungai Yordan dan karena wilayahnya tidak dibatasi oleh sungai dimana sungai menjadi benteng pertahanan paling efektif akibatnya wilayah Naftali, Zebulon dan wilayah lain yang berada di sisi timur sungai Yordan sangat mudah diserang oleh bangsa Asyur, bangsa Babel dan bangsa lain.

Hal ini membuktikan bahwa besarnya wilayah tidak menjadikan hidup mereka lebih aman, lebih makmur atau lebih kaya. Konsep ini sangat penting untuk kita pahami dan Alkitab telah berulang kali memberikan gambaran bahwa kalau kita salah mengkategorikan nilai dan panggilan Tuhan maka itu menjadi titik awal kehancuran, manusia akan mengalami penderitaan yang tidak ada pahalanya. Kita dapat memetik pelajaran dari peristiwa berpisahnya Abraham dan Lot. Lot, sang keponakan yang tidak tahu diri ini memilih tempat yang paling baik, tanah yang paling subur dan paling menguntungkan. Secara manusia, Abraham tentu merasa dirugikan dengan tanah gersang tersebut namun Abraham tidak marah melihat kelakuan Lot karena ia menyadari tanah merupakan anugerah Tuhan, ia senantiasa berpaut pada Tuhan maka Dia tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi pada anak-anak-Nya. Andai, kita disuruh memilih maka kita pasti akan berlaku sama seperti Lot namun apa yang dipandang manusia baik justru berakhir dengan kehancuran.

Secara duniawi, tanah Naftali dan tanah Zebulon sangatlah menguntungkan dan hal ini membuat iri kesepuluh suku lain namun realita berbicara lain. Sejak jaman Hakim-hakim sampai Perjanjian Baru, daerah ini selalu menjadi bulan-bulanan dari bangsa Asyur, bangsa Babel, dan bangsa-bangsa lain. Alkitab mencatat negeri ini sebagai suatu negeri yang dinaungi maut. Sampai akhirnya, negeri ini mendapat serangan dari tentara Asyur yang paling kejam di bawah pimpinan raja Tiglat Pileser III dimana seluruh rakyat di negeri ini menjadi tawanan bangsa Asyur. Hal ini menjadikan daerah Zebulon dan Naftali sangat gersang dan mereka pun bercampur dengan bangsa-bangsa kafir. Kondisi bangsa Israel yang menderita ini telah digambarkan oleh Nabi Yesaya sejak jaman Perjanjian Lama namun demikian Tuhan tidak pernah melupakan apalagi meninggalkan mereka.

Manusia selalu berpikir dengan cara dunia sehingga semua tindakan yang dilakukan, kita selalu berpikir untung-rugi dan mencari daerah strategis. Seperti halnya ketika kita hendak mengembangkan pelayanan, cara siapa yang kita pakai, cara dunia atau cara Tuhan? Ingat, cara Tuhan berbeda dengan cara iblis begitu pula pengertian strategis Tuhan berbeda dengan manusia. Celakanya, hari ini banyak gereja yang menggunakan cara dunia untuk mengembangkan pelayanan; orang Kristen bukan lagi menjadi alat Tuhan tapi menjadi alat dunia. Kristus telah memberikan teladan yang indah pada kita, Dia datang dan melayani bangsa yang berada dalam kegelapan dan dinaungi maut. Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat (Luk. 5:12). Jangan biarkan dirimu dikendalikan oleh dunia tapi biarlah Tuhan yang memanggil kita untuk menjadi pemberita kebenaran itu saja yang mengendalikan hidup kita maka kita akan melihat tangan Tuhan yang bekerja dengan indah dan ajaib. Tuhan memanggil kita menjadi saksi-Nya yang memancarkan terang dimanapun kita berada.

Hati-hati, jangan masuk dalam jebakan iblis karena sekali kita masuk maka akan sulit bagi kita untuk keluar dari cengkeramannya. Berbeda dengan Tuhan, ketika Tuhan memimpin Ia tidak pernah mencengkeram siapapun. Tuhan memberikan kebebasan pada manusia untuk memilih apakah ia mau taat pada pimpinan Tuhan atau tidak? Tuhan tidak pernah merasuk siapapun, jadi barang siapa yang merasa terpaksa atau tanpa sadar melakukan sesuatu maka dapatlah dipastikan itu pasti bukan dari Tuhan. Tuhan tidak pernah menguasai seseorang sehingga orang menjadi kehilangan kesadaran, kehilangan kebebasan, kehilangan cara berpikir. Tidak! Tuhan sudah memberikan jalan yang terbaik, kini keputusan ada di tangan manusia, apakah kita mau taat/tidak pada-Nya? Ingat, siapa memilih maka dia yang harus bertanggung jawab akan akibatnya berbeda halnya kalau ia dipaksa melakukan tugas maka dia bisa lepas dari tanggung jawab. Tuhan pun memberikan kebebasan memilih pada Adam dan Hawa dan Tuhan pun sudah memberitahukan akibatnya, makan buah pengetahuan baik dan jahat berarti mati.

Bukan berarti Tuhan kurang bijaksana ketika Ia memilih nelayan-nelayan Galilea, bangsa yang katanya berada dalam kegelapan untuk menjadi alat-Nya. Karena pada jaman itu, selain penggembala domba, nelayan merupakan salah satu pekerjaan yang juga dipandang hina oleh bangsa Israel. Namun Tuhan memanggil orang yang dianggap “bodoh“ untuk membodohkan orang yang merasa diri pandai. Inilah panggilan Tuhan sejati. Apakah cara Tuhan yang berbeda dengan cara dunia ini akan menggagalkan seluruh misi Kerajaan Tuhan? Tidak! Alkitab mencatat murid-murid Kristus yang hanyalah seorang nelayan justru sukses menjalankan misi Kerajaan Allah. Secara logika manusia adalah tidak mungkin namun Tuhan memakai Petrus sebagai pemberita Injil dan 3000 orang bertobat dan masih banyak lagi. Lalu dimana kunci kesuksesan mereka sehingga seorang nelayan dapat mengerjakan pekerjaan besar sedemikian rupa?

Kuncinya adalah mereka telah berhasil keluar dari keadaan yang paling sulit. Seorang nelayan telah terbiasa hidup menderita, ia tahu apa arti penderitaan dan ia tahu bagaimana caranya keluar dari penderitaan maka oleh sebab itu Tuhan Yesus memilih mereka menjadi pengikut-Nya dan mengerjakan misi Kerajaan Allah. Orang yang terbiasa hidup dalam kenyamanan, tidak pernah menderita sepanjang hidupnya pada umumnya tidak memiliki daya juang karena untuk mencapai kesuksesan ia harus lewat dalam bayangan maut dan lembah kekelaman. Esensi panggilan Tuhan, yaitu melihat kembali kepada penderitaan yang sudah dilewati dengan demikian ia dapat membawa Terang pada setiap orang. Inilah jalur yang Tuhan mau pakai pada setiap kita maka kita akan melihat:

1. Kuasa Injil dapat mengubah seseorang. Secara logika, adalah mustahil untuk mengubahkan seseorang karena logika manusia dibangun dengan kausalitas sekuler atau sebab akibat. Manusia sudah dikuasai oleh dosa sehingga sukar baginya untuk keluar dari jeratan dosa. Agustinus mengatakan non-posse non- peccare, manusia tidak mungkin tidak berdosa. Namun ketika Terang itu datang dan kuasa Kristus menyadarkan manusia berdosa maka itu saatnya manusia berubah, manusia yang dulunya berada dalam kegelapan kini ia berada dalam terang. Seorang anak Tuhan yang belum pernah mengalami mujizat diubahkan, yaitu bagaimana Tuhan mengubah dari orang berdosa kembali pada kebenaran maka ia tidak akan pernah mendapatkan kuasa atau power. Ingat, kuasa bukan otoritas, kuasa dari kata dinamos yang berarti kekuatan atau kemampuan untuk mendobrak. Ingat, kekuatan atau kuasa itu bukanlah berasal dari diri sendiri melainkan dari Tuhan karena kalau dari Tuhan maka tidak mungkin manusia yang terbatas bisa mengerjakan pekerjaan Tuhan. Sangatlah disayangkan, Kekristenan kini telah kehilangan kuasa Injil, manusia telah dikunci oleh sekularisme dan dibutakan oleh materialisme. Berjalan bersama Tuhan maka tidak ada hal yang mustahil bagi kita untuk menggenapkan misi Kerajaan Allah, yakni memberitakan Injil pada mereka yang masih berada dalam gelap.

2. Kuasa Injil mempunyai Otoritas Ilahi. Sebagai anak Tuhan, kita harus menyadari bahwa Tuhan, Raja alam semesta yang seharusnya berotoritas atas hidup kita. Logika manusia mungkin melihat bahwa pilihan kita lebih baik namun percayalah pimpinan Tuhan pasti lebih indah meski kelihatan susah jalannya. Jangan pakai otoritas manusia untuk menindas otoritas Tuhan. Ketika kita melihat otoritas Tuhan diinjak-injak maka itulah saatnya anak Tuhan untuk bertindak dan menyatakan kebenaran; jangan takut Tuhan akan memberikan kemampuan dan kekuatan untuk melawan musuh. Membiarkan diri dikuasai oleh otoritasasi dunia sama halnya menyerahkan hidup pada jurang kehancuran. Selama kita tidak kembali pada Tuhan dan bertobat maka kita akan mudah dipermainkan dunia. Memang, bukanlah hal yang mudah menggenapkan rencana Tuhan di dunia yang kacau ini namun percayalah otorisasi Tuhan lebih berkuasa dari otorisasi siapun di dunia sehingga rencana Tuhan tidak mungkin digagalkan oleh manusia. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen takut menghadapi tantangan, mereka selalu menggunakan logika ketika hendak mengerjakan pekerjaan Tuhan yang besar. Seorang pelayan sejati mau tunduk mutlak dan mempunyai jiwa yang taat dan hal ini berlaku di semua aspek hidup kita, baik ketika kita memilih pekerjaan, studi, teman hidup, dan lain-lain. Ketika otorisasi Tuhan sedang dijalankan pasti banyak tantangan yang harus dihadapi namun jangan takut dengan kekuatan dari Tuhan kita pasti bisa menghadapinya dengan demikian kita mempunyai kesaksian indah dan menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan telah memberikan pada kita untuk hidup dalam Terang sehingga kita dapat merasakan indahnya berjalan dalam kuasa Terang karena itu jangan sia-siakan kesempatan.

3. Kuasa Injil memberikan Bijaksana Ilahi. Rencana Allah sungguh amat bijaksana, Ia sudah menata sedemikian rupa supaya Kristus pergi ke utara, daerah yang berada dalam kegelapan dan kemudian turun lagi ke daerah selatan. Manusia tidak pernah mengerti kenapa harus Kapernaum yang menjadi pusat dari pelayanan Kristus pertama kali? Begitu pula di kehidupan kita terkadang kita tidak mengerti kenapa Tuhan memberikan pekerjaan yang kita rasa tidak berarti, kenapa Tuhan menempatkan kita di kota yang kecil? Janganlah kita mempercepat sejarah yang Tuhan sedang tata dengan bijaksana. Manusia selalu ingin melihat hasil akhir yang berakhir dengan kesuksesan namun itu justru membuat kita hancur. Rencana dan waktu Tuhan adalah yang terbaik, Ia tahu dari mana harus dimulai, bagaimana harus mencapai kesuksesan dan waktunya berapa lama. Kalau kita dihadapkan pada dua pilihan pekerjaan, yaitu memilih menggenapkan rencana Tuhan namun gaji kecil atau gaji besar dengan pekerjaan yang menyita waktu sehingga kita tidak dapat menggenapkan rencana Tuhan; manakah yang akan kita pilih? Orang Kristen yang materialisme humanis pasti akan memilih pilihan kedua meskipun kita tidak dapat mengerjakan panggilan Tuhan. Apakah itu merupakan keputusan yang bijaksana?

Bijak adalah tahu mengambil keputusan apa yang paling tepat dengan demikian kita tidak menjadi salah langkah karena keputusan itu akan menentukan posisi kita, yaitu sebagai anak Tuhan atau anak iblis. Tidak setiap orang pandai yang berintelektual tinggi mempunyai bijaksana karena orang pandai biasanya selalu terkunci dengan rasio sehingga sukar baginya untuk melihat pekerjaan Tuhan. Kepandaian bukanlah hal yang utama tapi kecermatan melihat segala sesuatu secara integratif itulah hikmat sejati yang melampaui intelektualitas, empirisme dan pikiran manusia. Dunia hanya menuju pada kehancuran maka hendaklah kita balik pada bijaksana Ilahi yang menjadikan sebagai pemberita Terang Tuhan. Tuhan memanggil kita dan memberikan kuasa pada kita untuk melewati tantangan dan kuasa itu tidak menjadikan kita egois sebaliknya Ia mau supaya kita membawa Terang. Kuasa pemberitaan akan muncul kalau kita hidup bersama Tuhan yang memberikan hikmat dan bijaksana. Inilah kekuatan kerygma.

Puji Tuhan kalau Ia masih berkenan memakai kita manusia yang terbatas ini sebagai pembawa berita kebenaran sehingga orang-orang yang berada dalam kegelapan kembali pada Terang sejati. Panggilan Tuhan, penderitaan yang kita alami dan berita yang kita sampaikan merupakan satu ikatan yang saling terkait. Bagaimana mungkin buah zaitun akan menjadi minyak kalau ia tak ditekan? Bagaimana mungkin buah anggur akan menjadi anggur kalau ia tak diperas? Tiap pukulan Tuhan pasti berguna karena Dia sedang menggembleng kita dengan demikian kita semakin jelas melihat esensi panggilan Tuhan sehingga kita mempunyai kekuatan dan kuasa untuk memberitakan Injil dan dengan bijaksana Ilahi hendaklah kita dipakai menjadi saksi bagi-Nya, memancarkan terang di tengah dunia yang gelap ini. Amin.



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Sumber :
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2004/20040815.htm]The Essence of Calling, Suffering & Kerygma (3)[/url]
Reply With Quote
  #6 (permalink)  
Old 19th December 2007
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Default Matius 4:12-17 : The Essence of Calling, Suffering & Kerygma-4

Ringkasan Khotbah : 22 Agustus 2004



The Essence of Calling, Suffering & Kerygma (4)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: Mat. 4:12-17






Kita telah memahami bahwa konsep panggilan Tuhan berbeda dengan dunia dan merupakan suatu anugerah kalau Tuhan perkenankan kita turut menderita bersama-sama dengan Dia. Namun penderitaan yang kita alami tersebut bukanlah penderitaan yang seperti dunia pikir, yakni menderita yang tidak ada pahalanya. Tidak! Penderitaan yang dari Tuhan tersebut mempunyai kuasa rohani, yakni kuasa yang dapat mengubahkan hidup seseorang dari gelap menuju kepada terang. Alkitab mencatat, sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!“ (ay. 17), hal ini menunjukkan satu hal, yakni “sejak waktu itu“ adalah kairos yang menjadi titik putar yang membedakan antara waktu sebelumnya dan sesudahnya berarti “sejak waktu itu“ ada perubahan signifikan yang terjadi di dalam sejarah pekerjaan Tuhan.

Kalau kita hanya menjalani hidup sekedar rutinitas maka kita akan melewatkan suatu momen-momen yang sifatnya kairos, yakni sejak waktu itu menjadi momen yang sangat penting; ingat, momen itu tidak akan pernah terulang kembali. Sudahkah kita menyadari momen penting dan bersejarah yang terjadi dalam hidup kita? Momen penting apa yang menjadi sejarah di dalam hidup kita? Banyak momen penting dalam hidup kita namun momen terpenting yang menjadi kairos, yakni momen dimana Tuhan memanggil kita untuk bertobat dari gelap menuju kepada terang. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Tim. 3:16). Puji Tuhan, Dia yang adalah Raja alam semesta masih mengingat kita, manusia berdosa yang seharusnya dibuang ini untuk turut ambil bagian dalam kerajaan-Nya.

Kristus memulai pelayanan-Nya secara aktif di dunia pada saat yang tepat, yakni usia 30 tahun. Menurut tradisi Yahudi, seseorang dianggap dewasa ketika ia berusia 30 tahun. Kini, konsep kedewasaan telah terdegradasi, usia 17 tahun telah dianggap sebagai usia dewasa. Memang secara usia, ia cukup matang namun tidak demikian secara pengalaman. Usia matang ditambah dengan pengalaman yang cukup barulah ia dapat dikatakan dewasa karena hal itu akan membentuk pola berpikir yang menuju pada realita. Karena kalau tidak demikian ia hanya akan menjadi seorang yang idealis, orang hanya tahu konsep bagus tapi tidak demikian ketika konsep itu diterapkan. Hari ini di dunia modern, banyak kita jumpai anak-anak kecil yang sudah dewasa. Anak-anak tersebut dipaksa dewasa sebelum waktunya, anak dipacu sedemikian rupa untuk berprestasi setinggi mungkin. Para orang tua akan sangat bangga kalau pada usia dini anaknya bersekolah pada jenjang tinggi, usia sekolah dasar tapi mereka sudah masuk universitas. Secara ilmu, si anak mampu tetapi di sisi lain, pertumbuhan moralnya tidak sesuai dengan usianya karena lingkungan pergaulannya tidak sesuai dengan usianya.

Kalau kita tidak tahu bagaimana menangkap momen dengan tepat maka itu menjadi penyebab kehancuran. Ingat, sejarah terus berjalan tetapi momen hanya tiba satu kali di sepanjang sejarah perjalanan hidup kita; momen itu tidak akan pernah kembali lagi. Menyadari suatu kejadian sebagai momen yang bersifat kairos, bukanlah hal yang mudah. Kita harus mengkaitkan setiap momen dalam rencana kekekalan Allah karena itu diperlukan kedewasaan rohani sehingga cara pikir kita tidak dikendalikan oleh dunia. Kita harus kembali pada Firman yang menjadi dasar untuk kita menerapkan semua ide pemikiran kita ke dunia masyarakat dengan bijaksana yang dari Tuhan. Hendaklah Firman Tuhan itu menjadi kompas hidup kita dengan demikian kita tidak salah dalam mengambil keputusan. Keputusan yang diambil dari diri sendiri tidaklah sah karena diri bukan penentu kebenaran dan diri bukanlah kebenaran maka keputusan yang ia ambil pastilah hanyalah yang menguntungkan dirinya saja dan itu pasti mengandung unsur nafsu dan segala macam kepentingan pribadi akan mempengaruhi keputusannya. Orang tidak menyadari keputusan yang dikuasai oleh dosa tersebut justru akan menghancurkan diri sendiri. Kembalinya manusia pada Kristus sang kebenaran sejati merupakan momen yang sangat penting, itulah sebabnya berita utama yang Yesus wartakan adalah supaya manusia kembali pada konsep utama, yaitu “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Berita yang sama diteriakkan juga oleh Yohanes Pembaptis sebelumnya yang memulai pelayanan ketika ia berusia 30 tahun. Saat terindah dalam hidup kita adalah pada saat Tuhan memanggil kita untuk bertobat. Bertobat bukan hanya sekedar menyesal tapi berbalik arah dari hidup yang gelap menuju kepada terang dan tidak melakukan hal yang sama lagi. Hidup yang tanpa pertobatan sangatlah hampa, semua yang kita kerjakan hanyalah sia-sia karena semua akan berakhir dengan kehancuran. Satu-satunya cara agar orang keluar dari dosa maka ia harus menyadari bahwa dirinya adalah orang berdosa. Bagaimana dengan kita, apakah kita sudah menyadari momen dimana Tuhan memanggil kita?

“Sejak waktu itu...“ kalau belum pernah kita alami maka itu berarti belum ada perubahan sedikitpun dalam hidup kita. “Sejak waktu itu...“ yaitu sejak Tuhan memanggil seharusnya merubah hidup kita secara esensial. Adalah anugerah kalau Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kebenaran karena tidak semua orang mau kembali pada kebenaran. Manusia telah jatuh ke dalam dosa sehingga mempunyai pola pikir yang rasionalis rasionalis humanis. Bayangkan, seandainya kita menolak panggilan-Nya ketika momen itu datang, maka apa jadinya hidup kita, semua berlalu dengan sia-sia. Bagaimana dengan anda? Apakah momen “sejak waktu itu...“ sudah merubah hidup kita? Inilah teriakan Tuhan Yesus: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Konsep ini bukan hanya sekedar teori tetapi menjadi titik yang dapat merubah hidup kita, yaitu hidup kekal bersama Tuhan.

I. Waktu yang Tanpa Syarat

Orang pasti menginginkan semua hal yang baik dan indah dalam hidupnya terjadi “sejak waktu itu“, yaitu sejak kita menetapkan momen. Setiap orang pasti menginginkan momen pertobatannya menjadi momen yang terindah dalam hidupnya namun Alkitab menegaskan momen indah belum tentu kita dapati. Kita mungkin bisa mengalami momen surgawi tetapi kemungkinan juga tidak. Momen surgawi yang indah itu mungkin Tuhan perkenankan untuk kita lewati tetapi mungkin juga tidak. Pengalaman yang dialami Tuhan Yesus justru berbeda. Pengalaman pertama Kristus melayani, “sejak waktu itu“ adalah sejak yang tidak kondisional, semua yang diharapkan paling indah tidak terjadi. Kristus harus memulai melayani di sebuah desa kecil, sebuah tempat yang jauh dari Yerusalem, tempat yang nantinya menjadi pusat pemberitaan-Nya.

Hendaklah kita mencontoh teladan Kristus yang senantiasa bersiap sedia memberitakan Firman baik atau tidak baik waktunya. Pelayanan pekerjaan Tuhan tidak tergantung situasi dan kondisi baik atau tidak baik karena Tuhan mungkin justru mau memakai kita di dalam situasi yang paling sulit. Kristus taat mutlak pada Bapa itulah sebabnya dalam kondisi yang secara logika manusia tidak mungkin, unconditional, Dia tetap melayani; dalam hal ini tidak ada syarat, batasan maupun pertimbangan duniawi apapun. Di dunia yang kacau balau khususnya di Indonesia inilah waktunya bagi kita untuk memberitakan kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat pada dunia.

Pimpinan Tuhan terkadang sulit untuk kita mengerti namun ketika kita taat mutlak pada-Nya maka kita akan merasakan pimpinan Tuhan sangatlah indah. Rancangan Tuhan sangat jauh berbeda dengan rancangan manusia; kita mungkin merasa rencana Tuhan tidak sesuai dengan logika namun percayalah rancangan-Nya adalah yang terindah. Kapankah terakhir anda mengerjakan pekerjaan Tuhan? Apakah kita mengerjakan pekerjaan Tuhan hanya ketika situasi dan kondisi baik? Ingat, panggilan Tuhan dalam hidup kita adalah kairos, bukan tergantung baik atau tidak baik waktunya dan ketika Tuhan memanggil kita untuk melayani sangatlah mungkin kalau Tuhan memanggil kita menderita.

II. Kuasa Rohani

Panggilan Tuhan tidak meniadakan penderitaan dan kesulitan kita. Hanya satu pertanyaan apakah kita mau taat panggilan-Nya dan dipakai menjadi alat di tangan-Nya? Merupakan suatu anugerah besar bagi kita kalau Tuhan, Raja semesta alam memakai kita menjadi alat-Nya untuk mengerjakan pekerjaan-Nya yang besar. Karena itu jangan biarkan hidupmu dikendalikan oleh manusia. Jangan samakan kesulitan dan penderitaan yang kita alami karena nama-Nya itu sebagai suatu kecelakaan. Ketika Tuhan memperkenankan kita mengalami penderitaan apakah itu berarti kecelakaan bagi kita? Tidak! Sejauh penderitaan itu adalah di dalam panggilan dan perkenan Allah maka Allah turut bertanggung jawab di dalamnya. Tuhan berjanji kesulitan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita karena Tuhan pasti menjagai kita. Tuhan mengijinkan iblis untuk mencobai Ayub namun Tuhan memberikan batasan, yaitu tidak boleh mengambil nyawanya. Tuhan tahu sampai dimana kekuatan setiap anak-anak-Nya untuk dapat menanggung semua penderitaan. Hari ini banyak orang yang beranggapan salah, yaitu seseorang yang dapat dan berhasil melewati penderitaan berarti ia mempunyai iman yang besar. Salah! Justru kalau Tuhan memperkenankan kita mengalami penderitaan yang lebih besar buat Tuhan dan kita dapat bertahan seperti Ayub, hal itu membuktikan bahwa kita mempunyai iman yang besar.

Kesaksian mereka yang mampu bertahan sampai akhir dalam penderitaan dan tidak bergoyah imannya inilah yang dapat menguatkan dan membangun iman orang lain. Bukan kesaksian sebaliknya, anak Tuhan pasti hidup lancar dan sukses; kesaksian seperti ini justru tidak membangun iman karena secara tidak langsung ia mengatakan bahwa orang yang mengalami penderitaan apakah itu berarti ia tidak mempunyai iman? Kristus harus menderita ketika Ia dipanggil untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Bapa-Nya begitu juga dengan Paulus dan murid-murid lain di sepanjang sejarah jaman. Orang seperti inilah yang berhak memberikan kesaksian. Tuhan tidak janjikan hidup kita akan senang dan lancar ketika Ia memanggil kita namun Tuhan janjikan hidup kuat, ujian dan bahaya disertai-Nya. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu; dan pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1Kor. 10:13).

Penderitaan bukanlah akhir dari segala sesuatu; penderitaan justru akan membuat kita mempunyai kuasa kerygma yang besar. Mereka yang dapat melewati penderitaan itulah yang justru Tuhan pakai untuk memberitakan kuasa Firman dan dapat menyadarkan orang akan dosa untuk kembali bertobat. Dunia sangat membenci orang demikian itulah sebabnya kedatangan John Sung ke Cina untuk mengabarkan Injil dianggap sebagai pengacau oleh pemerintah setempat dan yang membuat para prajurit terheran-heran adalah sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang bertobat; mereka mengaku diri bahwa mereka orang berdosa dan hal ini mereka lakukan dengan tanpa paksaan. Kalau bukan kuasa dari Tuhan maka kuasa dari manakah yang bisa membuat orang bertobat? Banyak penderitaan yang harus dialami oleh John Sung dalam memberitakan Injil namun hal itu tidak membuatnya mundur dan kehilangan kuasa rohani.

III. Tugas Progresif

Cara Tuhan memanggil berbeda dengan dunia. Dunia selalu menggunakan uang untuk mendapatkan kuasa, kedudukan dan lain-lain dan semuanya itu justru akan membawa orang menuju pada kehancuran. Murid-murid Tuhan Yesus pun bukan orang kaya atau orang yang mempunyai kedudukan, mereka hanyalah seorang nelayan namun Tuhan pakai mereka dengan luar biasa. Esensi panggilan Tuhan dan penderitaan yang Kristus alami justru membuat berita Kristus mempunyai kuasa rohani: “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat“. Biarlah setiap kita mempunyai kerinduan untuk mau diubahkan oleh Kristus dengan demikian kita mempunyai kuasa rohani dan dipakai Tuhan menjadi alat di tangan-Nya. Adalah tugas setiap anak Tuhan untuk mengabarkan Injil sehingga orang kembali disadarkan akan dosa dan kembali pada kebenaran.

Hendaklah setiap kita mempunyai kerinduan untuk dipakai Tuhan, bukan hanya sekedar mengerti doktrin yang benar meski ajaran yang benar juga penting namun apa artinya semua doktrin kalau kita tidak mengabarkan Injil. Kita hanya akan menjadi orang-orang Kristen yang tidak seimbang, kepala besar tetapi kaki dan lengan tidak berkembang karena tidak pernah kita gunakan. Biarlah pengalaman iman kita berjalan bersama Kristus dapat dirasakan oleh orang lain juga maka Tuhan akan memakai kita lebih heran lagi. Ingat, hidup di dunia hanya sementara oleh sebab itu jangan cari kesuksesan di dunia tetapi carilah kesuksesan di surga. Suatu sukacita besar kalau Tuhan berkenan memuji kita kelak di surga. Penderitaan karena menggenapkan Kerajaan-Nya di muka bumi tidak akan sia-sia karena Tuhan pasti akan memberikan mahkota. Amin.



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Sumber :
[url=http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2004/20040822.htm]The Essence of Calling, Suffering & Kerygma (4)[/url]
Reply With Quote
  #7 (permalink)  
Old 3rd January 2008
Sola_Scriptura2007's Avatar
AP - Aspiring Evangelist
 
Join Date: Sep 2007
Location: Indonesia
Age: 23
Posts: 583
Sola_Scriptura2007 has a little shameless behaviour in the past
Default Matius 4:18-22 : The Kingdom a