Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | IM LIST | BOOKMARK US | HELP GUIDE | LANGUAGE:


Go Back   Forum Diskusi Kristen Internasional > AP - DISKUSI ROHANI KRISTEN > Renungan Harian
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #201 (permalink)  
Old 15th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

... tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia
Yohanes 9:3


Bacaan: Yohanes 9:1-7
Setahun: Yesaya 46-49

Keterlaluan! Di dekat seorang buta yang tidak berdaya, murid-murid bukannya memberi sedekah tetapi malah membicarakan mengapa orang itu buta. "Pasti karena telah berbuat dosa. Tetapi siapa yang berbuat dosa; orang buta ini sendiri atau orangtuanya, ya?" Begitulah obrolan para murid Yesus.

Orang buta itu telah sangat menderita dengan kebutaannya. Kalau orang-orang malah mencurigai dirinya atau orangtuanya telah melakukan dosa, dan lantas hanya mendiskusikan tentu ini hanya menambah penderitaannya. Murid-murid mungkin lupa bahwa mereka sendiri juga orang berdosa (Roma 3:23). Bahkan, jika orang buta itu buta secara jasmani, mereka mungkin saja malah lebih parah, yakni buta rohani.

Yesus tidak terjebak dalam obrolan yang tidak membangun itu. Dia memilih melakukan sesuatu; menyembuhkan mata orang buta itu. Dan yang mengejutkan, Yesus juga berkata: "... bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia" (ayat 3). Bisa dibayangkan, betapa senangnya si buta mendengar hal itu! Pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dirinya? Wow! Sebelum berjumpa Yesus, baginya semua gelap. Hidupnya serasa hampa tidak berguna. Tak ada yang peduli, apalagi melibatkannya dalam aktivitas. Namun, segalanya berbeda setelah berjumpa Yesus. Sang Terang dunia bukan saja menyembuhkan, tetapi bahkan mau melibatkannya dalam pekerjaan Allah!

Kita, daripada membicarakan dosa orang lain, marilah perbincangkan pekerjaan di ladang Tuhan, yang harus kita kerjakan selagi hari masih siang —MNT

MILIKILAH MATA YANG MELIHAT SEPERTI TUHAN MELIHAT


Yohanes 9:1-7
9:1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.
9:2 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"
9:3 Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.
9:4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.
9:5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia."
9:6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi
9:7 dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek
Reply With Quote
  #202 (permalink)  
Old 16th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Remember the Lord in all you do, and He will give you success.
Proverbs 3:6 NIV


Daily Bible Reading:
Proverbs 1-4, 1 Thessalonians 2


Cartoonist, Walt Kelly, once pictured his character, Pogo, fishing, when a duck asks him, "Have you seen my cousin? He's migrating north by kiddy car." Pogo exclaims, "By kiddy car?" "Yep," says the duck, "He's afraid to fly in case he falls into the water." Pogo says, "Why doesn't he swim?" The duck responds, "He gets seasick." Pogo replies, "When your cousin decided to be a duck, he chose the wrong business!"

Blessed is the duck that walks like a duck, quacks like a duck, and does what ducks are supposed to do. Only then will he succeed! Want to be successful? Follow these guidelines, based on S.E.C.R.E.T.S.

(a) Sense of purpose: Write down your goals and review them regularly. Jesus said, "Blessed are the meek [focused]: for they shall inherit the earth" (Matthew 5:5). (b) Excellence: Need a standard to reach for? "Work… as if… for the Lord" (Colossians 3:23 NCV). (c) Contribution: "God is fair; He will not forget the work you did [for others]" (Hebrews 6:10 NCV). (d) Responsibility: Take responsibility for your actions. "A man who refuses to admit his mistakes can never be successful" (Proverbs 28:13 TLB). (e) Effort: Without hard work, success is impossible. "Diligence brings wealth" (Proverbs 10:4 TM). (f) Time management: Time is the one thing you can't get more of. Listen, "Teach us to live wisely and well" (Psalm 90:12 TM). (g) Stick with it: "We will receive our harvest… if we do not give up" (Galatians 6:9 NCV). There's the formula - now put it to work!
Reply With Quote
  #203 (permalink)  
Old 17th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Underneath are the everlasting arms.
Deuteronomy 33:27 NIV


Daily Bible Reading:
John 4:4-26, John 7:37-41, Exodus 17:1-7, Isaiah 35:1-7


During World War II, six-year old Jill Briscoe's family was evacuated to the English Lake District. Recalling a particularly scary night, she writes, "A storm had broken over our heads. Rain, like giant tears, slashed against the window and thunder grumbled. I didn't like storms, and I was old enough to understand that an even bigger storm was raging, a war involving the entire world. But it seemed far away. The fire was warm and my father was relaxed in his big chair. Suddenly, aware that I needed reassurance, he put down his paper and smiled, 'Come here, little girl,' he said in his quiet but commanding voice. And then I was safe in his arms, lying against his shoulder and feeling the beat of his heart.

"Looking back, I realise how my Heavenly Father shelters me from the storms of life. When sorrow swamped me at my mother's funeral, I sought reassurance in my Father's presence. When the winds of worry whipped away my confidence as I faced gangs of young people in street evangelism, I glanced up to see my Father's face. When floods of fear rose as I waited in hospital for the results of frightening tests, I sensed my Heavenly Father say, 'Come here, little girl.' I climbed into His arms, leaned against His shoulder and murmured, 'Ah, this is a grand place to be.'"

The Bible says, "The eternal God is your refuge, and underneath are the everlasting arms" (Deuteronomy 33:27). If life's storms are overwhelming you, climb up into your Heavenly Father's arms, feel the beat of His heart, and rest assured He's bigger than the storm you're facing.
Reply With Quote
  #204 (permalink)  
Old 17th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Underneath are the everlasting arms.
Deuteronomy 33:27 NIV


Daily Bible Reading:
John 4:4-26, John 7:37-41, Exodus 17:1-7, Isaiah 35:1-7


During World War II, six-year old Jill Briscoe's family was evacuated to the English Lake District. Recalling a particularly scary night, she writes, "A storm had broken over our heads. Rain, like giant tears, slashed against the window and thunder grumbled. I didn't like storms, and I was old enough to understand that an even bigger storm was raging, a war involving the entire world. But it seemed far away. The fire was warm and my father was relaxed in his big chair. Suddenly, aware that I needed reassurance, he put down his paper and smiled, 'Come here, little girl,' he said in his quiet but commanding voice. And then I was safe in his arms, lying against his shoulder and feeling the beat of his heart.

"Looking back, I realise how my Heavenly Father shelters me from the storms of life. When sorrow swamped me at my mother's funeral, I sought reassurance in my Father's presence. When the winds of worry whipped away my confidence as I faced gangs of young people in street evangelism, I glanced up to see my Father's face. When floods of fear rose as I waited in hospital for the results of frightening tests, I sensed my Heavenly Father say, 'Come here, little girl.' I climbed into His arms, leaned against His shoulder and murmured, 'Ah, this is a grand place to be.'"

The Bible says, "The eternal God is your refuge, and underneath are the everlasting arms" (Deuteronomy 33:27). If life's storms are overwhelming you, climb up into your Heavenly Father's arms, feel the beat of His heart, and rest assured He's bigger than the storm you're facing.
Reply With Quote
  #205 (permalink)  
Old 18th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya.
Yoh 11:15b


Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 49; Titus 3; Yesaya 51-52

Kemampuan memprioritaskan pekerjaan memang sangat dibutuhkan. Apalagi ketika kita harus berhadapan dengan banyak pekerjaan di tengah minimnya tenaga yang ada. Hal ini juga yang dialami oleh Yesus dan murid-muridNya dalam pelayanan mereka.

Dalam Alkitab, kita melihat bagaimana Yesus dan murid-muridNya seringkali diminta menyembuhkan orang sakit di samping mewartakan Firman Allah. Salah satunya ketika Yesus diminta meyembuhkan Lazarus yang sedang sakit keras.

Anehnya, Yesus malah menunda sampai 2 hari sebelum menolong Lazarus (ayat 6). Mungkin kita berpikir Yesus lelah dan harus beristirahat dulu. Namun, tidakkah menolong orang sakit jauh lebih penting daripada sekedar beristirahat? Tapi Yesus melihat bahwa jauh lebih penting menyatakan kemuliaan Allah dan agar Anak Allah dimuliakan (ayat 4) sekaligus mengajar murid-muridNya percaya (ayat 14 dan 15). Lagipula menyembuhkan orang sakit sudah menjadi hal yang biasa. Sebaliknya, membangkitkan orang mati jelas akan memberi dampak yang luar biasa (ayat 45).

Pekerjaan mendadak di tengah pekerjaan lain yang sedang dikerjakan memang sering terasa menyebalkan. Namun, bukan berarti kita dapat mengabaikannya. Sebagaimana Yesus, kita juga perlu belajar melihat prioritas dalam pekerjaan kita. Kita perlu melihat kepentingan di balik pekerjaan tersebut, lalu mengerjakannya sepenuh hati pula. Siapa tahu dengan demikian, kita akan memberi dampak yang luar biasa bagi perusahaan.


Pertimbangkan baik-baik sebelum menolak atau menerima pekerjaan yang mendadak.
Reply With Quote
  #206 (permalink)  
Old 19th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananku kepadamu.
Filipi 2:30


Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 50; Filipi 1; Yesaya 53-54

Belakangan ini, kegigihan untuk bekerja dan memberikan yang terbaik, jarang ditemui. Sebaliknya yang lebih sering dijumpai adalah semangat untuk bekerja asal-asalan. Datang ke kantor hanya untuk minum kopi, membaca koran, ngobrol, merokok, dan akhirnya tidur. Kondisi ini berlangsung dari hari ke hari sehingga sangat merugikan institusi di mana orang ini bekerja. Ironis memang, apalagi kalau itu dilakukan oleh pekerja berlabel "Kristen".

Paulus beruntung karena mendapat banyak rekan sekerja yang berbeda dengan mentalitas di atas. Kalaupun ada, jumlahnya bisa dihitung. Selebihnya, mayoritas rekan pelayanan Paulus adalah pekerja-pekerja Kristus dengan semangat juang yang gigih.

Salah satu contohnya adalah Epafroditus yang bukan saja bekerja sebaik-baiknya, tetapi juga rela mempertaruhkan nyawanya. Kondisi yang sakit dan membuatnya hampir mati, tak dihiraukannya. Semua itu bukanlah alasan untuk berhenti dari semangat memberikan persembahan terbaik.

Apa yang dialami Paulus tentu juga menjadi kerinduan setiap pemimpin terhadap pekerjanya. Adakah kita dapat memenuhi kerinduan itu? Siapkah kita memberi jawaban, "Sayalah orang yang Anda cari!" ketika pemimpin mendambakan pekerja yang all out dalam tugasnya? Jawabannya ada di tangan kita.


Mungkinkah kita belum maksimal dalam bekerja?
Reply With Quote
  #207 (permalink)  
Old 20th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default


... dan kamu akan mengetahui kebenaran,
dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu

Yohanes 8:32


Bacaan: Yohanes 8:30-36
Setahun: Yesaya 64-66

Banyak orang terkadang "putus asa" menjalani hidup berimannya. Perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan kehendak Allah masih terus dilakukan. Dalam hati tidak ingin melakukan, tetapi nyatanya berkali-kali masih terulang. Berulang kali berjanji, tetapi terus gagal. Bahkan ada orang yang marah pada diri sendiri karena terus jatuh dalam lubang yang sama dengan mengulangi dosa yang sama. Dan, akhirnya menjadi budak dosa untuk selamanya.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan bahwa sesungguhnya dalam keadaan demikian, kita tidak usah putus asa, apalagi terus menerus menyalahkan diri. Tuhan Yesus memberikan solusi. "Tetap dalam firman-Ku" (ayat 31). Istilah "tetap" berarti setiap saat, selalu—bukan kadang-kadang, dalam setiap aspek hidup kita. Jika firman Tuhan menguasai mulut, tentu perkataan kita akan terkontrol. Jika firman Tuhan menguasai kepala, pasti pikiran kita selalu tertuju kepada Yesus. Jika firman menguasai langkah, pasti kita tidak berjalan ke tempat yang berdosa. Pada saat itulah, kebenaran itu akan memerdekakan kita (ayat 32). Yah, memerdekakan kita, karena sekalipun kita bukan keturunan hamba, tetapi pada saat kita masih melakukan dosa maka kita adalah hamba dosa (ayat 34).

Kita perlu terus-menerus berjuang melawan dosa. Jangan menyerah. Untuk itu, kita perlu selalu dekat dengan firman-Nya. Betul, kita tidak akan seketika menjadi manusia suci tanpa cela, tetapi firman Tuhan akan mengingatkan dan menolong tetap berjalan di jalur yang benar. Hidupilah firman-Nya, akrabi, maka kebenaran itu memerdekakan kita —MZ


MELAKUKAN FIRMAN MENOLONG KITA
HIDUP SESUAI KEHENDAK-NYA


Yohanes 8:30-36
8:30 Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya.
8:31 Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku
8:32 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."
8:33 Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?"
8:34 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.
8:35 Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.
8:36 Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."
Reply With Quote
  #208 (permalink)  
Old 21st August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga
dan percaya bahwa ia akan menjadi bapak banyak bangsa,
menurut yang telah difirmankan

Roma 4:18


Bacaan: Kejadian 12:1-4
Setahun: Yeremia 1-4


Setelah lebih dari 25 tahun mengabdi, Pak Riko dimutasi oleh atasannya dari kantor pusat di Jakarta ke kantor cabang di Palangkaraya. Pak Riko panik. Baginya hanya ada dua pilihan: mutasi atau berhenti. Pindah ke tempat baru sungguh tak terbayangkan. Ia sudah mapan. Seluruh keluarganya ada di Jakarta. Istri dan keempat anaknya juga sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta. Pindah tempat berarti harus memulai lagi semuanya dari nol.

Meninggalkan kemapanan hidup memang bukan perkara mudah. Ketika Abram dipanggil Tuhan untuk meninggalkan negerinya, ia pun pasti bergumul berat. Pada usia 75 tahun, Abram tentu sudah sangat mapan. Sudah menyatu dengan lingkungan Ur-Kasdim. Lantas, mengapa Tuhan menyuruhnya pergi jauh? Rupanya Abram hidup dalam lingkungan penyembah "allah lain" (Yosua 24:2). Keluarga dan masyarakatnya menyembah dewa-dewi Babel. Setelah Abram beriman, Tuhan memintanya pergi membangun sebuah generasi baru yang takut akan Tuhan. Ada janji yang indah: dari Abram akan lahir bangsa yang besar. Namun janji itu baru terwujud jika ia berani meninggalkan kemapanan. Akhirnya Abram berangkat juga. Apa dasarnya? Iman! Imanlah yang memberanikan orang menerobos kemapanan.

Ada saat dalam hidup di mana kita perlu meninggalkan zona nyaman. Misalnya, saat pindah kerja, membuka bisnis baru, memasuki pernikahan, atau saat kita kehilangan apa yang kita andalkan. Jika saat itu tiba, jangan takut melangkah. Jangan menunggu sampai semua sudah tampak pasti, baru bertindak. Beriman berarti memberanikan diri melangkah dengan terus melihat ke mana Tuhan akan memimpin —JTI


KITA BERANI MAJU KARENA MEYAKINI PIMPINAN TUHAN
BUKAN KARENA KEPASTIAN MASA DEPAN


Kejadian 12:1-4
12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
12:4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.
Reply With Quote
  #209 (permalink)  
Old 22nd August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan,
sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya,
hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu

Lukas 12:15


Bacaan: Lukas 12:13-21
Setahun: Yeremia 5-7

Banyak pengusaha sukses dunia saat ini telah menunjukkan kedermawanan. Mereka menyisihkan sejumlah besar kekayaan yang mereka punya untuk membangun karya kasih bagi kemanusiaan. Sebut saja misalnya Henry Ford—pengusaha otomotif, Bill Gates—pendiri Microsoft, Larry Page dan Sergey Brinn—pemilik Google. Mereka tidak mengumpulkan kekayaan hanya untuk diri sendiri, tetapi mau berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Mereka telah memberi sumbangsih sangat besar bagi dunia pendidikan, pengentasan kemiskinan, penanggulangan kesehatan, dan bencana alam.

Tuhan Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang kaya yang bodoh. Orang itu mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, bersikap tamak, dan berpikir bahwa dengan menjadi kaya maka semua urusannya pasti beres. Kepada orang yang demikian, Tuhan Yesus berkata, "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil darimu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?" (ayat 20).

Memang berbahaya kalau kita hanya sibuk mengumpulkan kekayaan untuk diri sendiri. Sebab betapapun harta kekayaan—seperti juga jabatan dan popularitas—tidaklah abadi. Cepat atau lambat akan kita tinggalkan. Maka, bila kita diberkati dengan kekayaan lebih, baiklah kita menjadikan itu juga sebagai berkat bagi sesama yang membutuhkan. Itu akan jauh lebih berarti. Sebab nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak kekayaan yang ia kumpulkan, tetapi oleh seberapa besar hidupnya menjadi berkat dan mendatangkan kesukaan bagi sesamanya. Oleh karena itu, jangan biarkan hati kita dijerat oleh ketamakan akan harta benda —AYA


TAMAK DAN HANYA MEMIKIRKAN DIRI SENDIRI
ADALAH AWAL KEHANCURAN


Lukas 12:13-21
12:13 Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku."
12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?"
12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."
12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.
12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.
12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."
Reply With Quote
  #210 (permalink)  
Old 23rd August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan,
yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!

Mazmur 128:1


Bacaan: Matius 5:1-12
Setahun: Yeremia 8-11


Dalida adalah ratu kecantikan Mesir tahun 1955. Ia kemudian hijrah ke Paris. Di sana ia berhasil menjadi penyanyi dan pemain film terkenal. Kariernya sukses, kekayaannya berlimpah. Namun, toh Dalida merasa hidupnya sangat malang. Suaminya, Lucien Morisse, meninggal karena bunuh diri. Begitu juga Luigi Tenco, kekasihnya. Kenyataan itu membuat Dalida sangat terpukul. Akhirnya di tengah ketenaran dan kekayaannya, ia memutuskan untuk bunuh diri. Ia menulis sepucuk surat: "Beban hidup sungguh tak tertanggungkan." Begitulah, keberhasilan lahiriah bukan jaminan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak diukur oleh seberapa besar kekayaan dan popularitas yang kita miliki.

Bacaan hari ini merupakan bagian dari khotbah Yesus di bukit (Matius 5-7) di bawah judul Ucapan Bahagia. Berulang-ulang dikatakan "berbahagialah", yang dalam bahasa Yunaninya: makarios, yaitu kebahagiaan yang lengkap, utuh, sempurna. Itulah kebahagiaan sejati. Bagaimana meraihnya?

1. Hidup sepenuhnya mengandalkan kekuatan Allah (ayat 3).
2. Selalu bersedia peduli dan berbagi dengan sesama (ayat 4, 7).
3. Rendah hati dan panjang sabar (ayat 5).
4. Gigih berjalan dalam kebenaran, apa pun risiko yang harus
ditanggung (ayat 6,10).
5. Menjaga hati, menjauhi sikap bermusuhan dan pikiran buruk terhadap
orang lain (ayat 8,9).

Jadi jelaslah bahwa kebahagiaan sejati tidak tergantung pada hal-hal di luar diri, seperti kekayaan, popularitas, dan jabatan. Kebahagiaan sejati bersemi dalam hati, dan memancar keluar; dalam tindakan dan ucapan —AYA


KEBAHAGIAAN SEJATI
TIDAK DAPAT DILEPASKAN DARI TUHAN

Matius 5:1-12
5:1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
5:12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."
Reply With Quote
  #211 (permalink)  
Old 24th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya,
”Aku mau, jadilah engkau tahir”

Markus 1:41

Bacaan: Markus 1:40-45
Setahun: Yeremia 12-14

Mana lebih baik: Mau, tetapi tak mampu? Atau mampu, tetapi tak mau? Mana pula yang lebih sering kita lakukan dalam kehidupan? Banyak orang mampu, tetapi tak banyak yang mau menggunakannya secara penuh untuk meningkatkan mutu kehidupan orang lain.

Si kusta menyapa Yesus, "Kalau Engkau mau, Engkau dapat ...." Yesus menjawab dengan sederhana, namun sungguh melegakan: "Aku mau." Dengan jawaban ini Yesus menunjukkan bahwa Dia sangat mengerti kondisi si kusta. Sebagai pesakitan kusta, orang itu harus menandai dirinya dengan pakaian khusus dan teriakan peringatan agar tak seorang pun mendekatinya. Untuk makan, ia harus menunggu kiriman keluarganya tanpa perlu bertemu muka. Kusta adalah penyakit yang dianggap begitu menjijikkan, bahkan dianggap hukuman Allah yang menajiskan orang. Tak heran bila ia mengalami kesedihan yang dalam karena penyakitnya. Itu sebabnya ia hanya berani meminta dengan cemas sambil berharap, "Kalau Engkau mau ..." Ini berarti bila Yesus tidak mau, maka ia akan mengerti. Namun, Yesus sangat memahami isi hati si kusta. Karena itu sebelum melakukan penyembuhan fisik, Yesus menyentuh hati si kusta yang luka dengan berkata penuh pengertian, "Aku mau ... jadilah engkau tahir"

Kita belajar bahwa yang penting bagi pelayanan Yesus bukan sekadar menyembuhkan penyakit, namun juga memberi harapan baru bagi mereka yang lelah dan lesu jiwanya. Melalui tindakan dan kata-katanya, Yesus memberi semangat hidup bagi orang yang mati harapannya. Inilah teladan kita. Mari ikuti dan teruskan karya-Nya —DKL


DALAM MELAYANI SESAMA
LIBATKAN TUHAN UNTUK MEMULIHKAN HATI MEREKA


Markus 1:40-45

1:40 Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku."
1:41 Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir."
1:42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.
1:43 Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras:
1:44 "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka."
1:45 Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.
Reply With Quote
  #212 (permalink)  
Old 25th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Sebab jika seseorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah
Roma 13:3

Bacaan: Roma 13:1-7
Setahun: Yeremia 15-18

Tanggal 1 Desember 1955, suatu sore di Montgomery, Alabama. Seorang penjahit wanita kulit hitam tampak lelah ketika pulang bekerja. Ia naik bus dan duduk di baris terdepan, di bangku yang disediakan bagi orang kulit hitam. Seorang pria kulit putih menyusul naik bus. Bangku bagi orang kulit putih sudah penuh. Kemudian ia memerintahkan wanita kulit hitam itu untuk pindah sesuai peraturan yang berlaku.

Wanita itu bergeming. Ia menolak pindah sebagai sikap tak setuju terhadap peraturan yang rasis itu. Maka ia ditangkap dan didenda karena melanggar hukum kota setempat. Wanita pemberani itu seorang kristiani bernama Rosa Parks. Peristiwa "pembangkangan kecil"-nya menyulut gerakan menuntut hak-hak sipil yang bertujuan mengakhiri segregasi (pemisahan) legal di Amerika.

Alkitab mendorong kita untuk tunduk pada pemerintah—atau otoritas yang lebih tinggi (ayat 1,2). Namun, orang kristiani juga jangan takut untuk bersikap bila ada peraturan yang salah (ayat 3). Yesus dan murid-murid-Nya juga berani bersikap demi menjunjung standar moral Allah (Matius 21:23-27). Meskipun dengan melakukannya, mereka harus membayar harga mahal, bahkan ada yang sampai dihukum mati. Mereka memilih untuk lebih menghormati Allah daripada menaati pemerintah (Kisah Para Rasul 4:19,20).

Kita memang perlu patuh kepada pemerintah, tetapi kita juga harus tetap bersikap kritis terhadap pemerintah. Bila pemerintah mengeluarkan peraturan yang menyimpang dari standar kebenaran Allah, kita harus memperjuangkan pembatalannya. Kalaupun terpaksa "tidak patuh" seperti Rosa Parks tadi, kiranya kita dimampukan menanggung konsekuensinya —ARS


KEPATUHAN KEPADA PEMERINTAH
HARUS DISELARASKAN DENGAN KEPATUHAN KEPADA ALLAH


Roma 13:1-7
13:1 Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.
13:2 Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.
13:3 Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.
13:4 Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.
13:5 Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.
13:6 Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah.
13:7 Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.
Reply With Quote
  #213 (permalink)  
Old 26th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku ...? Berharaplah kepada Allah
b]Mazmur 42:6[/b]


Bacaan: Mazmur 42:4-12
Setahun: Yeremia 19-21

Bila Anda frustrasi, jangan merasa sendirian. Anda akan merasa lebih baik saat mengetahui bahwa setiap orang pernah mengalami ini:

* Memberi waktu dan tenaga untuk suatu karya yang tiba-tiba menjadi tak berguna.
* Mengalami kesulitan dalam usaha.
* Mengetahui bahwa jerih payahnya dirusak orang lain.
* Geraknya diperlambat ketika ia sebenarnya sudah terlambat.
* Tidak menemukan peralatan apa pun saat ia sudah siap dengan suatu proyek.
* Melakukan tugas dengan baik tetapi orang lain yang mendapat penghargaan.
* Tidak mendapatkan sesuatu yang sebenarnya sudah di depan mata.
* Rencana-rencana terbaiknya berantakan.
* Segala sesuatu tampak begitu berat.

Para tokoh Alkitab juga pernah frustrasi; mulai dari Abraham yang anaknya diminta kembali oleh Tuhan, Musa yang frustrasi karena bangsa yang dipimpinnya keras tengkuk, Elia yang dikejar-kejar Izebel, Ayub yang merasa apa yang menjadi miliknya tiba-tiba lenyap, dan masih banyak lagi. Namun, mereka tetap tampil sebagai pribadi yang kuat. Apa yang membuat mereka tetap bertahan saat frustrasi? Mereka menanggapi keadaan yang tidak menyenangkan dengan respons yang tepat. Mereka sadar semuanya itu merupakan cara Allah untuk mendewasakan mereka. Bagaimana dengan Anda?

Apakah Anda sedang frustrasi? Belajarlah untuk melihat bahwa yang Anda alami adalah bagian dari rencana Allah yang terbaik. Bila Anda tak berespons dengan tepat, Anda bisa kecewa kepada Tuhan, kepada orang lain yang merugikan Anda, bahkan kepada diri sendiri. Respons yang tepat menentukan langkah Anda selanjutnya! —PK


SATU HAL YANG ANDA BUTUHKAN SAAT FRUSTRASI:
RESPONS YANG TEPAT!


Mazmur 42:4-12

42:4 Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"
42:5 Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.
42:6 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
42:7 Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar.
42:8 Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjun-Mu; segala gelora dan gelombang-Mu bergulung melingkupi aku.
42:9 TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.
42:10 Aku berkata kepada Allah, gunung batuku: "Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?"
42:11 Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: "Di mana Allahmu?"
42:12 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
Reply With Quote
  #214 (permalink)  
Old 27th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Ketika hatiku merasa pahit … aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu
Mazmur 73:21-23


Bacaan: Mazmur 73:1-5, 21-26
Setahun: Yeremia 22-25

Aku memanggil-Mu, ingin bergantung pada-Mu, tetapi Engkau tak menjawab. Aku sendirian .... Di mana imanku? Yang ada hanya kehampaan dan kegelapan." Demikianlah Ibu Teresa menuliskan salah satu suratnya. Ketika surat-surat pribadinya dipublikasikan, orang kaget. Tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang rohaniwan terkenal seperti dia bisa mengalami kebimbangan hidup? Bahkan, meragukan imannya? Bukankah dunia mengenalnya sebagai tokoh yang begitu mencintai Tuhan dan sesama?

Hal ini tidak mengherankan. Pemazmur pun pernah bimbang akan kehadiran Tuhan. "Seperti hewan aku di dekat-Mu," katanya. Anjing peliharaan hanya paham beberapa instruksi tuannya. Pengertiannya terbatas sekali. Tak bisa ia memahami maksud sang tuan sepenuhnya. Seperti itulah kondisi pemazmur. Ia tak mengerti, mengapa Tuhan membiarkan orang jahat hidup enak dan jaya. Ia yang hidup bersih justru "nyaris tergelincir". Namun ia bertekad, "aku tetap didekat-Mu." Itulah yang membuatnya tetap bertahan di masa bimbang. Akhirnya, pelan-pelan Tuhan membukakan rencana-Nya dan membuat ia mengerti maksud-Nya.

Saat hidup tampak tidak adil, bisa jadi kita pun bimbang. Merasa Tuhan seolah-olah tak ada dan tak berkuasa. Kita meragukan pimpinan-Nya. Ini wajar. Tiap orang percaya pernah mengalaminya. Yang penting bagaimana sikap kita ketika menjalani masa itu. Dalam kebimbangan, Ibu Teresa tetap giat melayani sesama. Pemazmur memilih tetap mendekat pada Tuhan. Kita pun dapat memilih untuk tetap ada di jalan-Nya, sekalipun ada saat di mana hadir-Nya tidak nyata terasa —JTI


MATAHARI SELALU ADA SEKALIPUN AWAN MENUTUPINYA
TUHAN SELALU ADA SEKALIPUN MASALAH KITA MENUTUPINYA


Mazmur 73:1-5, 21-26
73:1 Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.
73:2 Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.
73:3 Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.
73:4 Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka;
73:5 mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.

73:21 Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya,
73:22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu.
73:23 Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.
73:24 Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.
73:25 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.
73:26 Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.
Reply With Quote
  #215 (permalink)  
Old 28th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku
2 Samuel 12:23


Bacaan: 2 Samuel 12:13-24
Setahun: Yeremia 26-28

Setelah David dan istrinya selesai makan pagi, mereka bersiap pergi. Adriana, putri mereka yang baru berusia 2,5 tahun mengikuti ibunya ke kamar. David memanaskan mobil di garasi. Setelah semua siap, ia memundurkan mobil. Tiba-tiba roda mobil melindas sesuatu. David turun dan kaget bukan main. Ia telah melindas Adriana! Anak itu rupanya berjalan keluar garasi tanpa diawasi, lalu terlindas dan tewas seketika. David dan istrinya diliputi rasa bersalah luar biasa. Sulit mengampuni diri sendiri. Pikirnya, "Adriana mati karena kecerobohan kami!"

Raja Daud pernah dihinggapi rasa bersalah serupa. Akibat dosa berzinah dengan Batsyeba, Tuhan menulahi bayi mereka hingga sakit. Daud berusaha keras memohon belas kasihan Tuhan, agar anak itu bisa tetap hidup. Tujuh hari ia berpuasa dan berbaring di tanah. Namun akhirnya anak itu tetap mati! (ayat 18). Semua ini gara-gara ulahnya. Hati Daud pasti dihantui rasa bersalah. Uniknya, setelah kematian anaknya, ia kembali mau makan dan melanjutkan hidup seperti biasa (ayat 20). Daud tak membiarkan diri dikuasai rasa bersalah. Ia sadar, jika suatu hal tak bisa lagi diubah, kita harus menerima kenyataan, seberapapun pahitnya. Berdamai dengan diri sendiri, berbenah diri, dan melanjutkan hidup ke depan. Itu lebih sehat ketimbang terjebak di masa lalu.

Adakah rasa bersalah yang masih menghantui hidup Anda? Seringkah Anda berkata, "Seandainya aku melakukan ini, itu pasti tak akan terjadi"? Berhentilah hidup dalam penyesalan. Tuhan telah mengampuni kesalahan Anda. Jadi Anda pun harus mengampuni diri sendiri —JTI


RASA BERSALAH YANG TIDAK DISELESAIKAN
BAGAI RACUN YANG MEMATIKAN


2 Samuel 12:13-24
12:13 Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.
12:14 Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati."
12:15 Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit.
12:16 Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah.
12:17 Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka.
12:18 Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: "Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!"
12:19 Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: "Sudah matikah anak itu?" Jawab mereka: "Sudah."
12:20 Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan.
12:21 Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: "Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!"
12:22 Jawabnya: "Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup.
12:23 Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku."
12:24 Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia, dan perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. TUHAN mengasihi anak ini
Reply With Quote
  #216 (permalink)  
Old 29th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya
Kejadian 40:23


Bacaan: Kejadian 40
Setahun: Yeremia 29-31

Salah satu dialog dalam film "Dumb and Dumber" yang masih saya ingat adalah ketika Lloyd Christmas menyatakan cinta kepada Mary Swanson. Mary menolak. Lloyd tidak menyerah. Ia bertanya, berapa banyak kesempatan yang ia miliki untuk mendapat cinta Mary. Lalu wanita itu menjawab: seribu banding satu. Anehnya, Llyod justru bersorak gembira mendengarnya. "Itu berarti saya masih memiliki kesempatan, kan?" katanya.

Begitulah seorang yang optimis. Ia akan berfokus pada kesempatan yang ada, sekecil apa pun kesempatan itu. Karenanya ia akan selalu mempunyai pengharapan; tidak akan patah arang dalam kesusahan.

Yusuf juga seorang yang optimis. Ia tidak putus berharap, pun ketika ia berada dalam penjara. Ia menolong juru minuman dengan menafsirkan mimpinya. Lalu ia berpesan, "Ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini" (ayat 14). Kesempatan yang Yusuf miliki itu memang tidak besar, buktinya si juru minuman kemudian melupakannya (ayat 23). Namun, justru dari kesempatan kecil tersebut, Yusuf mengawali kisah suksesnya di Mesir.

Mungkin saat ini kita tengah berada dalam "penjara kesulitan". Dan kesempatan yang kita miliki untuk keluar dari situ begitu kecil. Jangan berkecil hati. Jangan menyerah. Teruslah berusaha. Lakukan apa yang bisa dilakukan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Ingat lah bahwa dari kesempatan kecil itu tidak jarang tersedia jalan yang lebar bagi kesuksesan. Seperti yang Yusuf alami —RY


Kesempatan sekecil apa pun
itu menunjukkan masih adanya harapan


Kejadian 40
40:1. Sesudah semuanya itu terjadilah, bahwa juru minuman raja Mesir dan juru rotinya membuat kesalahan terhadap tuannya, raja Mesir itu,
40:2 maka murkalah Firaun kepada kedua pegawai istananya, kepala juru minuman dan kepala juru roti itu.
40:3 Ia menahan mereka dalam rumah kepala pengawal raja, dalam penjara tempat Yusuf dikurung.
40:4 Kepala pengawal raja menempatkan Yusuf bersama-sama dengan mereka untuk melayani mereka. Demikianlah mereka ditahan beberapa waktu lamanya.

40:5. Pada suatu kali bermimpilah mereka keduanya--baik juru minuman maupun juru roti raja Mesir, yang ditahan dalam penjara itu--masing-masing ada mimpinya, pada satu malam juga, dan mimpi masing-masing itu ada artinya sendiri.
40:6 Ketika pada waktu pagi Yusuf datang kepada mereka, segera dilihatnya, bahwa mereka bersusah hati.
40:7 Lalu ia bertanya kepada pegawai-pegawai istana Firaun yang ditahan bersama-sama dengan dia dalam rumah tuannya itu: "Mengapakah hari ini mukamu semuram itu?"
40:8 Jawab mereka kepadanya: "Kami bermimpi, tetapi tidak ada orang yang dapat mengartikannya." Lalu kata Yusuf kepada mereka: "Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Ceritakanlah kiranya mimpimu itu kepadaku."
40:9 Kemudian juru minuman itu menceritakan mimpinya kepada Yusuf, katanya: "Dalam mimpiku itu tampak ada pohon anggur di depanku.
40:10 Pohon anggur itu ada tiga carangnya dan baru saja pohon itu bertunas, bunganya sudah keluar dan tandan-tandannya penuh buah anggur yang ranum.
40:11 Dan di tanganku ada piala Firaun. Buah anggur itu kuambil, lalu kuperas ke dalam piala Firaun, kemudian kusampaikan piala itu ke tangan Firaun."
40:12 Kata Yusuf kepadanya: "Beginilah arti mimpi itu: ketiga carang itu artinya tiga hari;
40:13 dalam tiga hari ini Firaun akan meninggikan engkau dan mengembalikan engkau ke dalam pangkatmu yang dahulu dan engkau akan menyampaikan piala ke tangan Firaun seperti dahulu kala, ketika engkau jadi juru minumannya.
40:14 Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini.
40:15 Sebab aku dicuri diculik begitu saja dari negeri orang Ibrani dan di sinipun aku tidak pernah melakukan apa-apa yang menyebabkan aku layak dimasukkan ke dalam liang tutupan ini."
40:16 Setelah dilihat oleh kepala juru roti, betapa baik arti mimpi itu, berkatalah ia kepadanya: "Akupun bermimpi juga. Tampak aku menjunjung tiga bakul berisi penganan.
40:17 Dalam bakul atas ada berbagai-bagai makanan untuk Firaun, buatan juru roti, tetapi burung-burung memakannya dari dalam bakul yang di atas kepalaku."
40:18 Yusuf menjawab: "Beginilah arti mimpi itu: ketiga bakul itu artinya tiga hari;
40:19 dalam tiga hari ini Firaun akan meninggikan engkau, tinggi ke atas, dan menggantung engkau pada sebuah tiang, dan burung-burung akan memakan dagingmu dari tubuhmu."

40:20. Dan terjadilah pada hari ketiga, hari kelahiran Firaun, maka Firaun mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu di tengah-tengah para pegawainya:
40:21 kepala juru minuman itu dikembalikannya ke dalam jabatannya, sehingga ia menyampaikan pula piala ke tangan Firaun;
40:22 tetapi kepala juru roti itu digantungnya, seperti yang ditakbirkan Yusuf kepada mereka.
40:23 Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya.
Reply With Quote
  #217 (permalink)  
Old 30th August 2008
AP - Veteran
 
Join Date: Feb 2008
Location: Indonesia
Posts: 280
bluebell has a little shameless behaviour in the past
Default

Segenap perintah,