Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | IM LIST | BOOKMARK US | HELP GUIDE | LANGUAGE:


Go Back   Forum Diskusi Kristen Internasional > AP - DISKUSI ROHANI KRISTEN > Renungan Harian
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #1 (permalink)  
Old 8th September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Default Renungan Harian By Thomas Tham

08 September 2008 -- Senin

Talenta Kita | I Petrus 4:10-11


Kita semua lahir dengan kemampuan tertentu yang dibawa sejak lahir. Talenta alami yang ada pada tiap orang diberikan berdasarkan pada apa yang Tuhan rancangkan untuk dikerjakan di dalam dan melalui hidup orang itu. Ketika seseorang “dilahirkan kembali” dan menjadi anggota keluarga Allah, maka Roh Kudus akan memberkati orang yang baru percaya itu dengan satu atau lebih dari satu karunia roh.

Sebagai orang Kristen, kita terpanggil untuk berperilaku sebagai pelayan Tuhan. Ia mengaruniakan kemampuan tertentu supaya kita dapat melakukan pekerjaan-Nya yang baik, di dalam lingkungan kita dan di seluruh dunia. Tanggung jawab kita ialah mengevaluasi apa yang menjadi karunia kita dan berdoa supaya kita dapat mengetahui tempat dimana pekerjaan kita akan menjadi sangat berguna. Alkitab mencatat cakupan pelayanan yang luas dimana kita dapat melayani secara efektif (I Korintus 12:5-7). Kebanyakan dari pekerjaan yang kita lakukan akan terjadi di luar gedung gereja dan bahkan mungkin tidak akan terlihat seperti pelayanan Kristiani, namun setiap talenta yang kita pergunakan seturut pimpinan Tuhan, melayani Dia.

Kita memiliki kebebasan untuk mempergunakan karunia Allah dengan cara apapun yang kita pilih; namun kita harus ingat peringatan Yesus dalam perumpamaan mengenai seorang tuan yang memberikan uang kepada ketiga hambanya. Dua diantaranya mempergunakan uang itu dengan bijak dan memperoleh lebih, namun hamba yang ketiga tidak melakukan apapun dengan bagiannya. Ketika dua hamba yang pertama memberikan pertanggung-jawabannya, tuannya sangat berkenan dengan apa yang dilakukan mereka, namun ia murka kepada hamba terakhir yang telah menyia-nyiakan karunia tersebut (Matius 25:14-30).

Suatu saat, setiap orang kudus akan mempertanggung-jawabkan bagaimana mereka mempergunakan karunia dan talenta yang telah diberikan Tuhan (Roma 14:12). Apakah Anda ingin menyenangkan Tuhan? Jika ya, kenalilah kekuatan Anda, kemudian pakailah itu bagi kemuliaan-Nya.
Reply With Quote
  #2 (permalink)  
Old 9th September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Post Orang Percaya Yang Bekerja | Kolose 3:22-24 , Yeremia 29:11

09 September 2008 -- Selasa

Orang Percaya Yang Bekerja | Kolose 3:22-24 , Yeremia 29:11


Tugas orang percaya itu lebih dari sekedar melakukan tugas harian. Setiap kali kita mempergunakan talenta dan karunia yang Tuhan berikan kepada kita, kita sedang bekerja keras bagi kerajaan-Nya. Mungkin saja yang kita lakukan jelas-jelas bersifat alkitabiah, seperti mengajar Sekolah Minggu atau membangun rumah bagi keluarga yang tidak mampu. Atau mungkin saja kita mempergunakan kemampuan kita untuk sesuatu yang tidak kentara, seperti misalnya memberi semangat kepada teman yang berduka. Apapun yang kita lakukan, Allah menghendaki pekerjaan itu selesai dengan baik dan dilakukan dengan hati yang penuh sukacita.

Orang percaya bekerja dengan sekuat tenaga. Sebagai anak-anak Tuhan, kita telah diberikan karunia supaya kita dapat melayani Tuhan dengan cara melayani sesama. Mengabaikan talenta kita atau tidak disiplin dalam melakukan tugas kita merupakan sikap ketidak-taatan. Paulus memperingatkan bahwa mereka yang malas pantas dipermalukan (II Tesalonika 3:10-14).

Orang percaya bekerja dengan antusias. Tuhan sedang mengerjakan hal-hal yang menyenangkan melalui tangan-tangan kita. Dengan mengetahui bahwa kita sedang berpartisipasi di dalam kerajaan-Nya, seharusnya hal itu menjadi suatu motivasi untuk menjadikan diri kita berguna serta mengerjakannya dengan segenap hati.

Orang percaya bekerja dengan sangat baik. Tuhan telah menempatkan di dalam kita karunia yang tepat untuk melakukan pekerjaan yang Ia kehendaki kita lakukan. Karena itu, tindakan yang serampangan dan setengah hati tidak dapat dibenarkan. Meskipun terkadang kita mengalami kegagalan, namun memberikan yang terbaik dari diri kita akan selalu menyenangkan hati Bapa.

Seringkali kita menjadi lelah dan merasa bahwa kita tidak melakukan tugas yang Allah berikan dengan sekuat tenaga. Namun demikian, perasaan yang demikian tidak menghilangkan tanggung jawab kita. Kita ada disini untuk melayani Tuhan. Hari ini, tetapkan hati Anda untuk melakukan karya-Nya dengan penuh antusias, memberikan yang terbaik dari Anda dengan sekuat tenaga selama Ia masih memberikan kekuatan kepada Anda.
Reply With Quote
  #3 (permalink)  
Old 10th September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Post Harta Kita | Yohanes 2 : 15-17

10 September 2008 -- Rabu

Harta Kita | Yohanes 2 : 15-17

Allahlah yang memiliki harta kita, yaitu segala hal yang kita anggap ìberhargaî. Sesungguhnya, segala benda-benda materi, talenta dan waktu adalah milik Allah. Tanggung jawab kita ialah mengatur dan menginventasikan dengan bijak segala harta apapun yang Ia berikan.

Kita dibantu untuk memenuhi segala kebutuhan kita dengan cara menggunakan apapun yang telah Tuhan sediakan dari dalam isi “gudang-Nya” yang tidak terbatas. Contohnya, Filipi 4:19 mengatakan, “Allah akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus”. Beberapa orang menafsirkan ayat ini sebagai suatu dasar untuk menantikan Tuhan dengan sikap berpangku tangan. Namun Alkitab juga berbicara tentang bekerja selama enam hari dan beristirahat pada hari Sabat (Keluaran 20:9-10). Beberapa kebutuhan dasar kita akan terpenuhi bila kita bekerja, maka adalah hal yang bijak untuk menginvestasikan waktu dan talenta kita pada pekerjaan yang mendatangkan hasil.

Lebih lanjut, Tuhan menghendaki agar kita memakai apa yang ada pada kita untuk menolong sesama, entah mereka itu sedang berada dalam kemiskinan finansial, rohani maupun emosional. Cara terbaik untuk menolong ialah dengan memperkenalkan karya Allah kepada lingkungan kita dan seluruh dunia. Yesus memerintahkan para pengikut-Nya untuk memberitakan Injil dan memuridkan orang-orang yang baru percaya. Sebagian dari waktu, talenta dan uang kita seharusnya dicurahkan untuk menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang, karena sesungguhnya memang tidak ada kebutuhan yang lebih besar daripada memperoleh keselamatan. Karya Allah ini termasuk sikap memperhatikan sesama agar setiap tubuh
berpakaian, setiap perut dikenyangkan dan setiap hati dipulihkan.

Apa yang Allah sediakan bukanlah milik kita. Harta yang Ia tempatkan di dalam tangan kita tidak seharusnya digenggam erat-erat, melainkan diinvestasikan dengan bijak. Untuk menjadi pengurus yang baik dari apa yang telah Tuhan berikan kepada kita, maka kita harus bersedia untuk memberi tanpa berat hati.
Reply With Quote
  #4 (permalink)  
Old 11th September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Post Menerima Hasrat Hati Kita | Mazmur 37:4-6

11 September 2008 -- Kamis

Menerima Hasrat Hati Kita | Mazmur 37:4-6

Tuhan seharusnya menjadi hasrat terbesar dalam hidup setiap orang percaya. Orang yang mengaku bahwa ia mengasihi Allah, seharusnya memprioritaskan persekutuan dengan-Nya diatas harta miliknya, pekerjaan bahkan hubungannya dengan orang lain. Namun demikian, beberapa orang masih tidak memahami pesan sesungguhnya dari Mazmur 37:4 karena mereka hanya berfokus pada bagian yang mengatakan bahwa mereka dapat memperoleh apa yang mereka inginkan. Kalimat penting yang mengikuti janji tersebut ialah suatu panggilang untuk setia kepada Allah: “Bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.”

Orang percaya sudah seharusnya dapat mengecap kebaikan. Bapa Surgawi menghendaki anak-anak-Nya untuk memanfaatkan setiap sumber daya yang Ia berikan sebagai suatu cara untuk menikmati hidup (I Timotius 6:17). Contohnya, Allah telah memungkinkan saya untuk melakukan berbagai perjalanan dan mengabadikan foto dari beberapa tempat yang indah. Namun kunci untuk menikmati hidup ialah bergembira karena Tuhan di atas segala hal. Tempat Allah yang sesungguhnya adalah sebagai Tuhan atas hidup kita. Menempatkan hal lainnya dalam posisi tersebut hanya akan membahayakan kita.

Secara alami, hati manusia itu bersifat egois dan seringkali bersifat merusak. Jika Allah tidak menempati prioritas teratas, maka kemungkinan besar kita akan diperbudak untuk mengejar hal-hal duniawi. Namun, bila Ia menjadi kasih utama kita, semua keinginan yang menyesatkan itu akan tergantikan oleh hasrat-hasrat yang seturut dengan kehendak dan maksud-Nya bagi kita.

Raja Daud, seorang yang telah menghadapi tragedi dan dukacita yang besar, mendapatkan pelajaran dari pengalaman hidupnya bahwa hati yang setia dan taat kepada Tuhan, akan memperoleh sukacita dan berkat. Mazmur 37 menjadi kekuatan bagi kita untuk mencari Allah dengan tekun, seperti yang Daud lakukan. Simpanlah perkataan Daud ini dalam hati Anda, dan jadikan Tuhan sebagai obsesi Anda. Berkat-Nya yang besar bagi Anda akan membuat Anda kagum pada-Nya.
Reply With Quote
  #5 (permalink)  
Old 12th September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Default Menyatukan Keyakinan dan Perilaku | Kisah Para Rasul 24:14-16

12 September 2008 -- Jumat

Menyatukan Keyakinan dan Perilaku |
Kisah Para Rasul 24:14-16

Bila kita menyadari bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang telah diselamatkan oleh kasih karunia, maka kemungkinan kita akan bergumul dengan ungkapan hati nurani yang murni (Kisah Para Rasul. 24:16). Hal itu terjadi karena kita mengetahui isi hati dan motivasi kita sendiri. Namun rasul Paulus menemukan cara untuk memastikan bahwa hati nuraninya dapat dipercaya dan bukannya malah mendakwa dia. Apa rahasianya? Memperhatikan apayangdiyakininya serta perilakunya.

Dalam Kis. 24, Paulus membela perkaranya di hadapan Wali Negeri Roma Felix, dengan menunjukkan konsistensi iman dan perilakunya sebagai bukti tanda tidak bersalah. Apa yang diperbuatnya ditentukan oleh keyakinannya, yaitu bahwa ia melayani Allah nenek moyangnya, dan bahwa Allah akan membangkitkan orang mati untuk dihakimi. Kedua keyakinan yang teguh ini menolong Paulus untuk menjaga hati nuraninya tetap murni.

Sebagai murid Kristus, Paulus mengetahui bahwa perilaku kita merupakan perwujudan dari apa yang ada dalam hati kita. Dalam Khotbah di Bukit, Yesus menggambarkan seperti apa hati kita dan mengilustrasikannya dengan penerapan yang praktis. Ia mengatakan bahwa para pengikut-Nya akan menjadi”terang dunia” oleh karena perbuatan mereka, namun perbuatan itu bermula di dalam hati (Matius 5:14-16; Lukas 6:45).

Seringkali, orang Kristen lebih berfokus untuk melakukan hal-hal yang benar, daripada berfokus pada keyakinan yang akan menggerakkan perbuatan itu sendiri. Kita dapat memberi, melayani ataupun bertingkah laku baik dengan berbagai macam cara. Namun jika kita tidak memperhatikan keyakinan yang memotivasi tindakan kita tersebut, maka pada akhirnya kita akan memiliki hati nurani yang tidak bersih. Namun, bila kita tunduk kepada Allah dan mengijinkan Dia untuk mengubah hati kita, maka keyakinan dan kesaksian kita akan menjadi kuat dan jelas. Kita akan mampu untuk memberitakan kebenaran melalui perbuatan kita.
Reply With Quote
  #6 (permalink)  
Old 16th September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Default Renungan Dari Hari Sabtu(13/09/2008) - Selasa(16/09/2008)

13 September 2008 -- Sabtu

Hati Nurani Yang Peduli | I Korintus 8:9-12
Bagaimana cara Anda memutuskan sesuatu? Apakah dengan memikirkan diri Anda terlebih dahulu? Ataukah, Anda memikirkan bahwa tindakan Anda akan mempengaruhi iman dan hidup orang lain? Sebagaimana kita harus mendisiplinkan hati nurani kita agar menjadi semakin kuat, kita pun harus menggunakan hikmat agar tidak melukai hati orang percaya yang lebih lemah.

Beberapa orang Kristen tidak pernah berpikir terlebih dahulu bahwa pilihan yang mereka buat dapat melemahkan bahkan menghancurkan iman orang lain. Mereka membenarkan perilaku mereka dan mengatakan bahwa Allah tidak menghukum mereka karenanya. Meskipun mereka tidak benar-benar larut dalam perbuatan-perbuatan dosa, namun pembelaan rohani mereka menjadi semakin kuat, yang membuat mereka melakukan hal-hal tertentu yang tidak akan mereka lakukan saat mereka baru menjadi orang percaya. Orang-orang percaya ini tidak menyadari bahwa orang-orang Kristen yang belum dewasa sedang mengamati bagaimana cara hidup mereka. Ketika “orang yang lebih lemah” mengikuti contoh yang mereka saksikan, kapal iman mereka kemungkinan akan terbalik dikarenakan hati nurani yang telah membingungkan mereka, dan bukan menguatkan mereka.

Paulus menyalahkan orang-orang Kristen “yang lebih kuat” atas “kapal-kapal yang kandas” ini. Ia mengatakan bahwa kita bertanggung jawab bukan hanya atas perbuatan kita, melainkan juga dampak dari perbuatan tersebut. Pada akhirnya, kita harus lebih peduli dengan “saudara, yang untuknya Kristus telah mati” daripada keinginan atau hasrat kita sendiri (I Korintus 8:11).

Oleh karena iman kita disaksikan oleh dunia ini, Allah menjanjikan ganjaran, namun Ia pun menuntut tanggung jawab kita. Salah satu ganjarannya adalah terbebas dari penghukuman. Namun kebebasan itu tidak mengijinkan kita untuk melakukan apa yang kita sukai tanpa mempertimbangkan dampak bagi mereka yang menyaksikan teladan kita. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita harus dapat membedakan apa yang lebih baik serta melakukannya.


14 September 2008 -- Minggu

Memperhatikan Hati Nurani | I Timotius 1:5, 12-13



Ada banyak sifat yang menggambarkan hati nurani seseorang. I Timotius menggambarkannya dengan sifat “murni”. Paulus mengatakan kepada jemaat Korintus bahwa beberapa dari hati nurani mereka “lemah”. Sifat lainnya dalam Alkitab yang menggambarkan hati nurani adalah: menegaskan, mendakwa, tidak bercela, bersih, jelas, penuh kasih, berbuah, kuat, cemar, dan sebagainya.

Kita hidup dalam dunia yang penuh dosa. Hati nurani kita tidak lagi terlindungi terhadap hal-hal yang salah. Karena itu, kita harus memurnikannya kembali. Untuk membentengi kompas rohani kita ini, kita harus bersandar kepada kebenaran Firman Tuhan. Roh Kudus pun turut berperan dalam pemulihan hati nurani ini.

Yesus adalah Firman yang menjadi manusia dan Ia mengatakan bahwa Dialah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yohanes 1:1,14 ; 14:6). Memelihara hubungan yang dekat dengan sang Juruselamat kita akan menjaga hati nurani kita tetap kuat. Hati nurani kita dan Roh Kudus saling menyatu untuk menuntun dan melindungi kita. Roh Kebenaran atau Roh Kudus merupakan pribadi ketiga dari Trinitas. Ia masuk ke dalam hati kita ketika kita menerima Yesus sebagai Juruselamat kita. Yesus menyebut-Nya sebagai Penolong. Roh Kudus menunjukkan kepada kita perbedaan antara kebenaran dan dosa. Ia mengajarkan kepada kita bagaimana caranya agar kita bertumbuh dewasa. Ia pun menuntun kita kepada segala kebenaran (Yohanes 14:17, 26 ; 16:8,13).

Pengajaran yang sesat dan hidup penuh dosa akan merusak hati nurani kita. Terkadang kerusakan itu terjadi begitu parahnya hingga hati nurani tersebut tidak lagi bekerja. Bila demikian, hati nurani tersebut perlu dipulihkan sehingga dapat bekerja sebagaimana mestinya, yaitu untuk melindungi dan menuntun kita.

Ijinkan Roh Kudus memulihkan hati nurani Anda. Bila Roh Kudus bekerja di dalam hati nurani kita, maka hal yang mengagumkan akan terjadi. Kita memiliki keyakinan dan keberanian untuk menghadapi dunia yang penuh dosa ini, tanpa perlu tunduk kepadanya. Bersama dengan Tuhan, kita akan meraih kemenangan!


15 September 2008 -- Senin

Maksud Dari Pencobaan Hidup | I Petrus 4:12

Beberapa orang percaya ingin menggambarkan kehidupan mereka sebagai kehidupan yang sempurna dan tidak bermasalah. Namun kenyataannya, menjadi orang Kristen tidak selalu mudah. Bahkan, terkadang kita mengalami pencobaan yang menguji iman kita dan kemampuan kita untuk mempercayai Allah.

Dalam bacaan hari ini, Petrus menyebut saat-saat pencobaan sebagai nyala api siksaan. Ia mengatakan bahwa seharusnya kita tidak terkejut bila kesusahan datang melanda. Penting bagi kita untuk mengingat bahwa Allah memiliki suatu maksud dalam setiap pencobaan yang kita alami dan Ia akan menyertai kita dalam setiap langkah kita. Namun pertanyaannya adalah, apa yang menjadi maksud Allah saat kita menghadapi pencobaan?

Pertama, Bapa surgawi terkadang memakai pengalaman pahit untuk membersihkan dan memurnikan hidup anak-anak-Nya. Pencobaan akan membawa kita kepada Tuhan. Kemudian, saat kita berfokus pada-Nya, kita akan mulai melihat segala sesuatu dari sudut pandang-Nya dan seringkali hal itu membuat kita sadar akan dosa kita.

Kedua, terkadang Tuhan memakai kesulitan hidup sebagai cara untuk menguji kita Ia mungkin hendak menguji iman kita, keteguhan dan kesetiaan kita kepada-Nya. Ia memakai pengalaman yang demikian untuk menyatakan sesuatu berkenaan dengan pertumbuhan rohani kita serta untuk menguatkan iman kita.

Ketiga, Allah memakai penderitaan untuk menunjukkan kuasa-Nya dalam menopang kita. Ketika Ia membawa kita melewati masa-masa yang sulit, Ia memuliakan diri-Nya. Hal ini pun akan memberi kekuatan kepada orang lain di saat mereka mengalami pencobaan, sebab mereka telah menyaksikan kuasa Allah yang menopang hidup Anda.

Pada akhirnya, kesukaran akan menguatkan kesaksian kita. Di tengah-tengah kesukaraan, kita mungkin merasa sangat lemah dan putus asa. Namun ketika badai itu berlalu, kita dapat melihat ke belakang dan mengingat pemeliharaan tangan Tuhan yang menyertai kita untuk melewatinya.

16 September 2008 -- Selasa

Konsekuensi Dari Nasihat Yang Buruk | Kejadian 16

Ketika kita menghadapi situasi yang menantang, maka wajar bila kita meminta pertolongan kepada keluarga dan sahabat. Terkadang, perkataan yang indah dan menguatkan dari orang terkasih terbukti dapat menjadi katalisator yang membawa kita kembali kepada Allah.

Namun penting bagi kita untuk menguji setiap nasihat yang diberikan oleh orang dekat kita. Masukan dari mereka mungkin tulus dan dimotivasi oleh kasih mereka kepada kita, namun jika saran tersebut tidak sejalan dengan Firman Tuhan, maka kita harus mengabaikannya, tentunya dengan sikap yang sopan.

Dalam Kejadian 16, Sarai mendesak Abram untuk memiliki anak dari hamba-Nya Hagar. Meskipun anjuran ini bertolak belakang dengan janji Allah bahwa Abram akan memperoleh seorang anak laki-laki dari Sarai, namun Abram memilih untuk mengikuti saran isterinya. Karena ia sudah menanti sekian lama untuk penggenapan janji itu, mungkin Abram menganggap bahwa saran isterinya cukup masuk akal. Namun, oleh karena keputusan yang gegabah untuk tidak mempercayai Allah, Abram menghadapi berbagai macam pencobaan yang sulit dan mendukakan hati. Sampai hari ini, Israel masih mengalami konsekuensi dari pilihan Abram yang gegabah itu.

Terkadang kita mencari nasihat yang memang ingin kita dengar daripada nasihat yang perlu kita dengar. Saat kita berkonsultasi dengan orang terkasih untuk meminta pertolongan dalam memutuskan hal yang penting, maka kita perlu untuk membedakan antara hasrat kedagingan kita dengan kebenaran alkitabiah. Nasihat yang bijak selalu sejalan dengan Firman Tuhan.

Ingatlah selalu apa yang dicontohkan Abram, bahwa tidak semua nasihat merupakan nasihat yang baik. Bila nanti Anda meminta pendapat dari teman atau keluarga, ambillah waktu untuk membandingkan masukan mereka tersebut dengan Firman Tuhan. Bila ada hal-hal yang tidak sejalan, percayalah kepada Firman Tuhan dan kerinduan Allah untuk membawa Anda melewati segala situasi sulit yang Anda hadapi.
Reply With Quote
  #7 (permalink)  
Old 17th September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Default Pentingnya Kesaksian Yang Tulus | Mazmur 78:1-7

17 September 2008 -- Rabu

Pentingnya Kesaksian Yang Tulus | Mazmur 78:1-7

Apakah kesaksian itu? Sebagian orang Kristen berpikir bahwa kesaksian itu semata-mata merupakan kisah singkat tentang bagaimana Allah bekerja dalam kehidupan mereka. Meskipun hal itu benar sebagian, namun kesaksian kita lebih dari sekedar cerita singkat.

Salah satu aspek penting dari kesaksian kita adalah karakter kita, yang seharusnya mencakup sikap ketaatan. Apakah kita mengikuti petunjuk Tuhan hanya sewaktu-waktu saja, sedangkan kita lebih sering mengabaikan Dia? Sikap yang taat selalu mengikuti tuntunan Tuhan, apapun itu. Terkadang sikap lahiriah kita menunjukkan ketaatan, namun tak seorangpun kecuali Allah yang mengetahui isi hati kita. Yang dilihat Allah adalah karakter kita yang sebenarnya, dan hal itu seharusnya sejalan dengan kisah yang kita sampaikan kepada orang lain, yang bertujuan untuk memuliakan Dia.

Tingkah laku kita, atau apa yang kita perbuat merupakan aspek lain dari kesaksian kita. Bila apa yang kita katakan bertentangan dengan perbuatan kita, maka kita sedang meredupkan kesaksian kita. Orang yang tidak percaya akan menganggap kita munafik atau meragukan keaslian iman kita. Cara kita bertingkah laku seharusnya menegaskan siapa diri kita di dalam Kristus.

Yang terakhir, bagian ketiga dari kesaksian kita adalah perkataan kita. Mazmur 107:2 berbunyi, “Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN”. Hal ini memberikan kesempatan kepada kita untuk memberitahukan kepada orang lain akan apa yang Allah kerjakan dalam hidup kita. Perkataan kita bisa menjadi sangat penting bagi seseorang yang tidak percaya yang meragukan keberadaan Allah atau keilahian Kristus.

Bila karakter, tingkah laku dan perkataan kita tidak sesuai dengan siapa diri kita di dalam Kristus, maka kita sedang menghambat kemampuan kita untuk menjangkau orang lain dengan kabar baik yang kita beritakan. Suatu kesaksian bisa membawa perbedaan di antara keraguan dan iman dalam kehidupan orang yang tidak percaya. Seberapa otentikkah kesaksian pribadi Anda?
Reply With Quote
  #8 (permalink)  
Old 18th September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Post Kesaksian Iman | Kisah Para Rasul 8:4-39

18 September 2008 -- Kamis

Kesaksian Iman | Kisah Para Rasul 8:4-39


Kemarin, kita mempelajari 3 aspek dari kesaksian pribadi Kristiani. Hari ini, kita akan melihat seorang tokoh dalam Alkitab yang menunjukkan semua aspek ini. Dalam Kis. 8:5-6, Filipus memberitakan kabar baik mengenai Yesus Kristus kepada orang-orang di Samaria dan mereka mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Melihat bahwa Injil diterima dengan sangat baik di sana, pastilah menggetarkan hati Filipus. Namun demikian, ia tetap menunjukkan ketaatan kepada Tuhan dengan segera mengikuti perintah-Nya untuk pergi dan memberitakan Injil ke Gaza. Karakter Filipus ini merupakan bukti dari kepekaannya terhadap panggilan Tuhan dan keinginannya untuk taat pada saat itu juga, berapapun harganya.

Kita pun melihat bahwa perilaku Filipus sesuai dengan karakternya. Ia membiarkan prinsip-prinsip Firman Tuhan menuntunnya, dan apa yang diperbuatnya sejalan dengan keyakinannya. Seandainya Filipus memilih untuk tidak menaati Allah, atau bila ia tidak memiliki iman yang sejati, maka perilakunya akan menyingkapkan perasaan-perasaan tersebut dan kesaksiannya akan menjadi tidak berarti.

Kapanpun Filipus berbicara, entah kepada orang banyak maupun kepada seseorang, perkataannya selalu merujuk kepada Yesus Kristus. Dalam ayat 25-39, ia mengajarkan Firman Tuhan kepada orang yang sedang melakukan perjalanan dan kemudian ia membaptis orang tersebut. Filipus benar-benar memperhatikan perkataannya dan memastikan bahwa apa yang dikatakannya itu akan membawa orang lain kepada sang Juruselamat.

Filipus adalah teladan dari seseorang yang percaya kepada Kristus, bagaimanapun situasinya. Saat Filipus memberikan kesaksian melalui kehidupannya, ia menyatakan imannya yang taat dan tetap teguh. Sebagaimana Anda menghadapi berbagai situasi sepanjang hari, cobalah untuk menjadi seperti Filipus. Ijinkan Allah menuntun karakter, tingkah laku dan perkataan Anda.
Reply With Quote
  #9 (permalink)  
Old 22nd September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Default Renungan Dari Hari Sabtu(20/09/2008) - Senin(22/09/2008)

20 September 2008 -- Sabtu

Penolong Dalam Kelemahan Kita | Yohanes 14:16-17


Setelah Perjamuan Malam yang terakhir, Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya mengenai misi-Nya dan apa yang akan terjadi setelah Ia meninggalkan bumi ini. Ia mengetahui bahwa masa-masa tergelap dalam hidup murid-murid-Nya terbentang di depan. Mereka akan kehilangan Guru terkasih mereka, meratapi kematian-Nya, merasakan sukacita yang luar biasa ketika Ia bangkit, tetapi juga kesedihan saat Ia terangkat ke Sorga. Yang paling sulit ialah, kesaksian mereka mengenai kehidupan Yesus akan menguji iman mereka. Maka, dalam Yohanes 14-16, Ia menjanjikan Penolong bagi mereka untuk mendampingi mereka menghadapi tantangan yang akan terjadi.

Seringkali kita menghadapi hidup ini dengan sikap tegar, mengandalkan kepandaian dan keahlian kita untuk melewatinya. Namun, mengikut Tuhan berarti memiliki cara pandang yang benar-benar berbeda, yaitu bahwa kita ini lebih lemah daripada yang dapat kita bayangkan, namun dengan Roh Kudus, kita menjadi lebih kuat daripada yang pernah kita harapkan.

Apapun pergumulan kita, entah itu pergumulan rohani, emosi ataupun fisik, kita dapat mengandalkan Roh Kudus untuk menolong kita. Rasul Paulus memberikan teladan bagi kita mengenai hal ini. Ketika ia bergumul dengan sakit dalam tubuhnya - yang ia sebut sebagai duri, ia berdoa agar Allah mengambil kesusahan itu darinya. Namun, Allah malah berkata bahwa kekuatan-Nya justru akan menjadi “sempurna di dalam kelemahan”(II Korintus 12:9).

Banyak orang Kristen memiliki konsep yang salah, yaitu bahwa Allah akan menguatkan kita pada saat kita sudah begitu jauh dari-Nya. Pada kenyataannya, Roh-Nya bukanlah semacam doping rohani yang menambah kekuatan kita. Sebaliknya, saat kita mengakui bahwa kita tidak berdaya untuk menolong diri kita sendiri, maka Roh Kudus memberi kekuatan yang kita perlukan untuk menghadapi berbagai tantangan dengan penuh keyakinan kepada Allah.

21 September 2008 -- Minggu

Metode Roh Kudus | Yohanes 14:16-26

Salah satu peran Roh Kudus dalam hidup kita ialah untuk menerangi kebenaran Firman Tuhan. Bahkan, Roh Kudus disebut sebagai Roh Kebenaran dalam Yohanes 16:13.

Tugas kita ialah membuka diri kita kepada tuntunan dan ajaran Roh Kudus dan bersedia untuk memperhatikan setiap petunjuk-Nya dan tunduk kepada kehendak-Nya. Saat kita melakukannya, Roh Kudus mengubah kita untuk menjadi serupa dengan Yesus Kristus.

Roh Kudus memiliki sedikitnya empat cara untuk mengajar kita, yaitu menyatakan, menerangi, mengingatkan dan menuntun kita.
Alkitab adalah pernyataan-Nya. Dengan menerangi kebenaran Firman Tuhan, Roh Kudus menolong kita untuk menggali dalamnya kebenaran itu. Dosa dalam kehidupan kita akan menghalangi usaha kita untuk mengerti kebenaran ini, namun hati yang tertuju kepada Allah dengan ketulusan dan kerinduan untuk mengenal-Nya akan mendorong Roh Kudus untuk memperkaya rohani kita.

Setelah itu, Roh Kudus akan mengingatkan kita tentang kebenaran-kebenaran Firman Tuhan ini. Seringkali Ia ìmemberikanî kepada kita suatu ayat Firman ketika kita membutuhkannya. Pernahkah Anda berada dalam situasi yang demikian sulit dan tiba-tiba Anda mengingat ayat Firman tertentu yang berhubungan dengan situasi Anda? Itulah pekerjaan Roh Kudus. Yang terakhir, Ia menuntun kita untuk menerapkan kebenaran-kebenaran ini. Ia menolong kita untuk memahami apa yang Allah kehendaki untuk kita pelajari, serta apa maksud dari Firman tersebut bagi kehidupan kita.

Kesemuanya ini merupakan pelayanan Roh Kudus yang tidak pernah berakhir. Selama Anda hidup dalam penyerahan dan ketaatan kepada-Nya, Allah akan bekerja melalui Roh-Nya untuk membentuk Anda menjadi serupa dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Bila Anda mau untuk mengenal Dia dan kebenaran Firman-Nya, bukalah hati Anda pada tuntunan Roh Kudus, maka Ia akan menyatakan dan menerangi Firman Tuhan saat Anda membacanya, mengingatkan Anda akan Firman Tuhan tersebut serta menuntun jalan hidup Anda.

22 September 2008 -- Senin

Roh Kudus: Pengajar Kita | Yohanes 14:26

Marilah kita jujur beberapa bagian Alkitab sangatlah sulit untuk dimengerti. Pernahkah Anda membaca suatu perikop berulang-ulang kali, dimana Anda berusaha untuk menduga-duga apa yang sesungguhnya Allah mau katakan kepada Anda?Untungnya, Bapa surgawi telah memberikan pengajar kepada setiap orang percaya. Pengajar itu adalah Roh Kudus, yang tinggal di dalam kita dan menjembatani antara pemahaman kita yang terbatas dengan Allah yang maha mengetahui. Dalam Yohanes 14:26, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Roh Kudus ìakan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamuî. Saat kita mengalami kesulitan untuk memahami suatu ayat, atau kita sulit untuk mengingat suatu kebenaran
Firman Tuhan, Roh Kudus akan menuntun kita kepada pengetahuan yang kita cari.Suatu berkat yang luar biasa memiliki Roh Allah sebagai pengajar kita! Tak seorang yang sanggup memahami pikiran Allah. Namun Roh Kudus dapat menuntun kita kepada pengetahuan yang kita perlukan untuk menjadi dewasa dan berhasil menjalani hidup sebagai orang Kristen.Allah mengutus Roh Kudus bukan hanya untuk menolong kita memahami, melainkan juga untuk mengubah hidup kita. Ia ingin membentuk kita menjadi seperti Kristus. Oleh karena itu, Ia mengingatkan kita akan hal-hal dalam hidup kita yang membutuhkan pengampunan dan menunjukkan kepada kita bagaimana caranya mengatasi hal-hal tersebut.

Kita harus bersyukur bahwa Allah tidak merancangkan hidup kekristenan sebagai suatu perjalanan yang harus dilalui seorang diri. Setiap orang percaya memiliki pengajar dan pendamping setia. Itulah Roh Kudus. Saat pertanyaan dan hal-hal yang tidak dapat teratasi muncul dalam hidup kita, percayalah bahwa Ia akan menyediakan jawabannya dan Ia akan membawa Anda melewati semua itu.

Peran Roh Kudus | Yohanes 16:7-14

Sebagai penolong dan pengajar yang ilahi, Roh Kudus menuntun orang percaya kepada segala kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup kekristenan kita, Ia menyatakan pikiran serta maksud Allah bagi hidup kita. Kemarin, saya menyatakan bahwa pada akhirnya tujuan Roh Kudus ialah untuk mengubah hidup kita. Ia melakukan hal tersebut melalui tiga peran:

Fungsi Roh Kudus yang pertama ialah penginjilan. Dengan kata lain, Ia ingin agar kita menyadari keberdosaan kita dan mengakui bahwa kita membutuhkan Juruselamat. Kerinduan-Nya ialah agar kita memahami betapa dosa kita telah memisahkan kita dari Tuhan. Kemudian, saat kita menyadari jurang pemisah diantara diri kita dengan Bapa surgawi, Roh Kudus memampukan kita untuk memahami arti Salib dan membawa kita kepada keselamatan.

Peran yang kedua adalah pemuridan. Roh Kudus mengajarkan kepada kita cara untuk menjalani hidup dengan bergantung kepada Tuhan, serta cara untuk berhubungan dengan sesama. Ia pun mengarahkan kita kepada area-area pelayanan yang efektif untuk melayani Tuhan.

Roh Kudus juga bekerja melalui peran misionari. Bapa menghendaki setiap orang mengenal Yesus sebagai Juruselamat mereka, dan keselamatan melalui Kristus memberikan kesempatan kepada orang percaya untuk menyaksikan iman mereka kepada orang lain. Peran misionari ini dilakukan bukan hanya dengan perkataan kita. Karakter dan perilaku kita pun “berbicara”.

Roh Kudus memiliki 3 maksud bagi setiap orang percaya: penginjilan, pemuridan dan misi. Saat iman kita bertumbuh dewasa, kita akan melihat Roh Kudus bekerja dalam ketiga peran ini. Dan sebagai hasilnya, kita akan memiliki gambaran yang lebih penuh akan siapa Allah itu, bagaimana Ia bekerja dalam hidup kita dan bagaimana kita dapat mengambil bagian dalam karya-Nya.
Reply With Quote
  #10 (permalink)  
Old 23rd September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Post Buku Yang Diilhami Allah | II Timotius 3 :14-17

23 September 2008 -- Selasa

Buku Yang Diilhami Allah | II Timotius 3 :14-17


Alkitab adalah buku terpenting di dunia. Tidak ada satu pun yang pernah ditulis atau yang akan ditulis, yang dapat menyamai hikmat dan inspirasi Firman Tuhan.

II Timotius 3:15 berkata bahwa tulisan ini dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Ayat ini menunjukkan kuasa Firman Tuhan. Melalui Firman-Nya, kita memahami maksud keselamatan serta membangun hubungan pribadi dengan Allah alam semesta.

Lalu, bagaimana Allah memberikan Firman yang suci ini? Ia sendiri mengilhami para penulis Firman Tuhan, yang adalah manusia, dengan mengatakan kebenaran itu kepada mereka selagi mereka menulis berbagai kitab dalam bahasa dan gaya mereka masing-masing (II Timotius 3:16). Rasul Petrus menambahkan bahwa tulisan-tulisan ini bukanlah
dihasilkan oleh “kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah”(I Petrus 1:21).

Betapa menakjubkan bahwa Allah yang sama, yang menjadikan dunia ini, telah mengilhami mereka yang menulis Buku ini. Ia melakukannya untuk membawa kita semakin dekat kepada-Nya. Bapa kita tahu bahwa kita perlu untuk memiliki keterikatan emosi dengan para penulis Alkitab ini. Oleh karena itu ketika kita mmbacanya, kita jumpai bagaimana para penulis tersebut juga mengalami pencobaan, godaan, harapan dan mimpi yang serupa dengan kita. Mereka memang hidup dalam masa dan kebudayaan yang berbeda, namun mereka merasakan emosi seperti yang kita alami sekarang. Kisah mereka adalah kisah kita.

Sebagaimana Allah berkarya melalui para penulis Alkitab ini, Ia pun dapat berkarya melalui kita. Saat Anda membaca dan mempelajari Firman Allah hari ini, mintalah agar Allah menyatakan bagaimana caranya supaya hidup kita pun bisa berdampak bagi orang lain demi Dia.
Reply With Quote
  #11 (permalink)  
Old 24th September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Post 24 September 2008 -- Rabu Maksud Dari Alkitab | II Samuel 23:1-2

24 September 2008 -- Rabu

Maksud Dari Alkitab | II Samuel 23:1-2

Sebagaimana telah saya katakan kemarin, Alkitab merupakan buku paling berpengaruh sepanjang sejarah. Diilhami oleh Allah, Firman Allah menolong kita agar kita mampu menjalani hidup sebagai orang Kristen. Namun apa sesungguhnya manfaaat Alkitab? II Timotius 3:16 menjelaskan bahwa “segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk ...”

1. Mengajar. Saat kita membaca Firman Tuhan, kita semakin mengenal Allah. Alkitab mengajarkan bagaimana anugerah-Nya dan keadilan-Nya bertemu, dan bagaimana Allah telah menempatkan Anak-Nya Yesus di bumi ini sebagai suatu korban.

2. Menegur. Semakin sering kita membaca Firman Tuhan, semakin baik kita akan memahaminya. Roh Kudus akan menyatakan hal-hal apa saja dalam kehidupan kita yang menghalangi hubungan kita dengan Allah.

3. Mengoreksi. Lebih dari sekedar ingin menghukum kita, Roh Allah rindu untuk mengoreksi bagian-bagian dalam kehidupan kita di mana kita masih melakukan dosa.

4. Mendidik dalam kebenaran. Setiap kali kita membaca Firman Tuhan, Allah dapat menyatakan kebenaran baru kepada kita. Saat kita membaca, berdoa dan merenungkan Firman-Nya, lambat laun kita akan menyerap hikmat dan pengetahuan yang berasal dari Allah.

Lebih dari itu, Firman Tuhan memampukan kita untuk menghadapi apapun. Apapun keadaan, cobaan dan kesengsaraan yang menghadang kita, kebenaran Firman Tuhan akan menolong kita untuk menghadapinya secara efektif. Ayat yang sama juga mengatakan bahwa Firman itu memperlengkapi kita untuk melakukan pekerjaan baik. Tuhan tidak menyelamatkan kita untuk sekedar memenuhi bangku gereja; kerinduan-Nya ialah supaya kita memberitakan kebenaran-Nya kepada orang lain. Menggali Firman Tuhan akan memampukan kita untuk menyatakan Injil Kristus dengan penuh keyakinan.

Hari ini, saat Anda membaca Firman Tuhan, cobalah renungkan: cara mana yang sedang Allah pakai untuk berkarya di dalam Anda?
Reply With Quote
  #12 (permalink)  
Old 25th September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Thumbs up Petrus: Ditampi Untuk Melayani

25 September 2008 -- Kamis

Petrus: Ditampi Untuk Melayani | Lukas 22:31-32


Pernahkah Anda mengalami suatu situasi yang nampaknya mustahil bagi Anda untuk bisa bertahan? Bertahun-tahun kemudian, saat Anda mengingat kembali situasi tersebut, apakah Anda menyadari bahwa ujian tersebut telah mempersiapkan Anda untuk hal-hal yang akan terjadi?

Firman Tuhan mengatakan bahwa terkadang Tuhan mengijinkan kita untuk ditampi demi suatu pelayanan yang lebih besar. Dengan kata lain, Ia bisa saja mengijinkan iblis untuk mengganggu satu area dalam hidup kita. Allah melakukannya untuk menguatkan iman kita serta membentuk kita menjadi saksi yang lebih kokoh lagi bagi-Nya.

Dalam bacaan hari ini, Yesus menjelaskan proses ini kepada Petrus: ìIblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.

Kristus tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa hari kemudian. Ia akan mati di atas kayu salib, bangkit kembali dan naik ke surga. Ia mengharapkan agar Petrus menjadi pemimpin dari para murid-Nya dan melakukan perkara-perkara yang besar bagi Kerajaan Allah. Namun Petrus belum siap.

Karena itu, Tuhan mengijinkan iblis untuk ìmenampiî Petrus. Saat melakukan hal ini, Allah sedang memisahkanîgandumî dari ìsekamî atau memisahkan hal-hal yang saleh dalam kehidupan Petrus dari hal-hal yang tidak saleh. Pada akhirnya, melalui pengalaman tersebut, Petrus bertumbuh menjadi lebih kuat. Ia memainkan peranan kunci dalam memberitakan Injil setelah kematian Kristus. Dan di akhir hidupnya, Petrus mati karena imannya.

Bila Allah tidak mengijinkan masa penampian ini, maka Petrus tidak akan siap untuk hal-hal yang akan terjadi. Saat Anda melihat ke belakang, renungkanlah: dengan cara apakah Allah telah mempersiapkan Anda untuk menghadapi masa-masa yang sulit?
Reply With Quote
  #13 (permalink)  
Old 26th September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Default Tinggal Di Dalam Roh | Yohanes 15:4

26 September 2008 -- Jumat

Tinggal Di Dalam Roh | Yohanes 15:4

Saat Tuhan bekerja dalam kehidupan orang percaya, Ia memakai cara yang berbeda-beda. Ada kalanya kita mengharapkan Dia untuk turut campur dalam keadaan kita melalui kejadian yang ajaib dan instan, namun seringkali Ia bekerja dengan cara yang tidak terlihat.

Contohnya, saya ingat ketika, dengan diam-diam dan penuh kesabaran, Tuhan menyadarkan saya mengenai suatu keyakinan yang salah tentang hidup kekristenan. Selama berbulan-bulan, saya tahu ada yang salah dengan roh saya, namun saya tidak tahu dimana letak kesalahan itu. Saya berdoa, berpuasa dan memohon Tuhan menyatakan sumber dari kegelisahan saya tersebut.

Suatu malam, Ia menyatakan sesuatu dalam Firman-Nya yang tidak pernah saya terapkan, yaitu tinggal di dalam Kristus. Malam itu saya berdoa dan saya tahu bahwa sesuatu yang luar biasa telah terjadi. Pandangan saya tentang hidup kekristenan telah berubah.

Saya pernah mengeyam pendidikan teologia dan memahami segala macam teologia, namun saya tidak pernah sungguh-sungguh mengerti maksud dari Roh Kudus. Selama bertahun-tahun, saya berusaha untuk menyenangkan Tuhan dengan perbuatan saya, tetapi saya tidak tunduk kepada Roh-Nya dan mengijinkan-Nya untuk berkarya melalui saya.Tiba-tiba, semua beban di hati saya terangkat. Saya sadar bahwa Yesus memanggil saya, bukan untuk melakukan pelayanan, namun untuk mengijinkan-Nya berkarya di dalam saya dan menyelesaikan pelayanan-Nya melalui saya. Bukan perbuatan lahiriah saya yang memuliakan Allah, melainkan kerelaan saya untuk tunduk kepada-Nya.

Mungkin Anda sedang menanti Allah untuk ìmenyadarkan kepala Andaî dengan suatu pernyataan ilahi. Ingatlah bahwa seringkali Ia bekerja dengan cara yang tidak kelihatan. Atau mungkin juga Anda telah mengabaikan hal-hal tertentu dimana sesungguhnya Allah sedang bekerja dalam hidup Anda.
Reply With Quote
  #14 (permalink)  
Old 29th September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Smile Menyaksikan Iman Anda & Bertahan Dalam Penginjilan

28 September 2008 -- Minggu

Menyaksikan Iman Anda | I Petrus 3:15

Cukup seringkah Anda menyatakan keyakinan Anda kepada orang lain? Pikirkan sejenak pertanyaan ini. Apakah pertanyaan ini membuat Anda merasa bersalah, tidak layak atau gelisah? Banyak orang percaya merasa gagal ketika diperhadapkan dengan kewajibannya untuk bersaksi tentang Kristus.

Terkadang, kita tidak siap untuk bersaksi karena kita merasa tidak diperlengkapi. Rasul Petrus menulis bahwa orang Kristen seharusnya selalu, siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu (I Petrus 3:15). Semakin siap kita membuktikan kebenaran Allah, maka semakin banyak kesempatan yang dapat Allah pakai untuk mengubah kehidupan banyak orang. Bila Anda merasa tidak siap untuk menyaksikan apa yang Anda yakini, maka cobalah untuk mengikuti kelas Alkitab atau membaca buku mengenai penginjilan pribadi. Berbicara mengenai iman adalah hal yang bisa dipelajari semua orang.

Penghalang lainnya terhadap penginjilan pribadi ialah waktu yang Allah pakai untuk membuat orang yang tidak percaya diselamatkan. Ketika saya muda, saya ingin sekali menanamkan benih iman, menyirami, memupuk, mengolah dan menuainya dalam satu waktu. Saya menjadi frustasi ketika orang-orang yang saya Injili tidak menerima Kristus saat pertama kali mereka mendengar Injil.

Sekarang saya mengerti bahwa “Allah yang memberi pertumbuhan” (I Korintus 3:6). Bagian saya adalah menabur Firman-Nya dengan setia dan mencari orang-orang yang telah siap untuk dituai. Pada masa sekarang ini, dimana semua serba instan, sulit bagi kita untuk bersabar dan mempercayai Tuhan berkarya dalam hati seseorang.

Ingatlah, penginjilan merupakan suatu proses. Allah bekerja melalui kepribadian dan kesetiaan Anda kepada pengajaran-Nya untuk membawa seseorang ke dalam Kerajaan-Nya. Semua usaha Anda akan menjadi sia-sia bila Anda tidak berserah kepada kedaulatan Yesus Kristus.

29 September 2008 -- Senin

Bertahan Dalam Penginjilan | Kisah Para Rasul 4:1-20

Kemarin, saya telah menjelaskan bahwa penginjilan merupakan suatu proses. Karenanya, jangan sampai kita merasa bersalah bila kita tidak bersaksi dengan kata-kata kepada orang yang kita temui. Ada waktunya dimana kita akan menjelaskan dengan perkataan tentang apa yang Kristus telah perbuat dalam hidup kita dan apa yang Ia mau lakukan dalam kehidupan orang yang kita Injili.

Perbuatan kita sama pentingnya dengan perkataan kita. Rasul Petrus mendorong jemaat mula-mula untuk menyampaikan kabar baik mengenai Yesus Kristus dengan “lemah lembut dan hormat” (I Petrus 3:15). Janganlah perbuatan kita menjadi batu sandungan terhadap pemberitaan salib Kristus.

Saat Anda menjelaskan tentang anugerah Allah yang indah ini, ingatlah bahwa proses penginjilan bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Pengalaman yang mengagumkan untuk melihat orang lain bertobat saat pertama kali kita memberitakan Injil kepadanya adalah suatu pengecualian, bukan keharusan. Bahkan dalam pengalaman yang langka seperti ini, orang lain mungkin sudah menabur benihnya.

Oleh karena kebanyakan orang tidak mau percaya kepada Yesus saat pertama kali mereka mendengar Injil, maka Anda harus siap untuk menerima penolakan. Bukanlah hal yang aneh untuk menerima perlakuan buruk saat Anda menginjili seseorang. Orang sangat mudah merasa tersinggung atau merasa terancam. Bahkan, mereka mungkin akan menuduh Anda tidak memiliki rasa toleransi atau ìmengganggap diri Anda lebih suci daripada merekaî.

Ada harga yang harus dibayar untuk mengambil bagian dalam keselamatan seseorang. Rasa sakit dan frustasi bisa terjadi. Namun segala pergumulan dan kekecewaan akan segera terlupakan ketika kita melihat orang yang kita kasihi diselamatkan. Ada suatu sukacita yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Jadi, jangan menyerah karena Allahlah yang memegang kendali untuk menyelamatkan dan mengubah kehidupan. Ia hanya ingin kita mengambil bagian dalam proses tersebut.
Reply With Quote
  #15 (permalink)  
Old 30th September 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Post Selasa Mempercayai Allah | I Petrus 5 : 7

30 September 2008 -- Selasa

Mempercayai Allah | I Petrus 5 : 7


Saya tidak pernah lupa dengan salah satu pelajaran berharga yang pernah saya dapatkan. Suatu ketika, saya melakukan misi ke negara lain, namun di saat yang sama, akan dilakukan pertemuan yang sangat penting meskipun saya tidak hadir. Selagi saya berjalan dari satu kota ke kota lainnya, saya terus-menerus resah mengenai hasil pertemuan tersebut. Saya merasa bahwa saya telah mengambil keputusan yang salah, dimana saya merasa yakin bahwa kehadiran saya akan sangat menentukan keberhasilan pertemuan itu. Pikiran saya benar-benar kacau.

Akhirnya, saya memutuskan untuk berbicara kepada Tuhan, persis pada saat pertemuan itu dilaksanakan. Saat saya berdoa, Tuhan dengan jelas berbicara kepada hati saya yang gelisah: Charles, menurutmu siapa yang lebih baik menghadiri pertemuan itu kamu atau Aku? Saya merasa begitu lega saat Allah mengakhiri kekuatiran saya serta menyadarkan saya akan sikap yang menggangap bahwa diri saya ini penting.

Doa mengingatkan kita bahwa Allah dengan kuasa, hikmat dan kasih-Nya sedang memegang kendali. Sepanjang hidup saya, doa telah menjadi sarana untuk menyadari bahwa Allah sedang bekerja dalam kehidupan saya. Ketika kita berdoa, kita meminta Bapa untuk turut campur dalam situasi yang kita hadapi serta menyerahkan hasilnya ke dalam tangan-Nya. Karena itu, janganlah kita kuatir.

Kekuatiran menciptakan ketakutan dan rasa ketidak-pastian, membuat kita selalu merasa gelisah dan tidak tenang. Kita harus bisa mengenyampingkan kekuatiran kita serta menantikan tuntunan tangan Tuhan atas kita. Mazmur 37:7 mengatakan “Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia”Allah akan melaksanakan kehendak-Nya bagi mereka yang senantiasa percaya kepada-Nya. Jangan biarkan kekuatiran menggerakkan Anda untuk bertindak terburu-buru; nantikanlah waktu Bapa.

Mustahil bagi Anda untuk menikmati hadirat Allah, bila pada saat yang bersamaan, Anda kuatir. Mazmur 37 mengatakan “Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia” (ayat 3). Anda akan menemukan kembali sukacita yang hilang dan perkenan Allah akan menjadi milik Anda.
Reply With Quote
  #16 (permalink)  
Old 6th October 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Post Penolong Untuk Setiap Keadaan | Yohanes 14:16-18

06 Oktober 2008 -- Senin

Penolong Untuk Setiap Keadaan | Yohanes 14:16-18


Apakah Anda pernah berharap ada semacam nomor telepon darurat di surga? Tampaknya memang ada. Kita semua menghadapi situasi-situasi yang membuat kita berseru meminta pertolongan Tuhan. Ia pun memenuhi kebutuhan kita dengan cara memberikan Penolong untuk segala keadaan.

Para murid Tuhan pun, yang melewatkan 3 tahun diajar oleh Yesus secara pribadi, tidak dapat hidup baik tanpa pertolongan ilahi. Itulah sebabnya mengapa Tuhan bersikeras agar mereka menantikan kedatangan Roh Kudus di Yerusalem sebelum mereka memberitakan keyakinan mereka. Yesus mengatakan kepada mereka, “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu” (Yohanes 16:7).

Ketika Yesus hidup di bumi, Ia tidak dapat berada dengan setiap orang yang membutuhkan-Nya dalam waktu yang bersamaan. Namun sekarang, pertolongan Tuhan senantiasa tersedia melalui Roh Kudus, yang berdiam di dalam setiap orang percaya dan kehadiran-Nya selalu ada bersama tiap-tiap pribadi.

Berkat Roh Kudus, setiap orang Kristen dapat menjadi pribadi seperti yang dikehendaki Allah. Dengan hikmat dan kuasa sang Penolong, kita dapat menjadi pengikut Kristus yang berhasil, meskipun kita berada dalam pengaruh lingkungan yang rusak. Karya Roh Kudus termasuk membuka pikiran kita terhadap kebenaran Allah, menyediakan kekuatan supernatural saat kita lelah dan menghiburkan kita saat kita sedih.

Bapa Surgawi kita begitu mengasihi manusia sehingga Ia menyediakan Penolong yang senantiasa hadir bagi mereka yang menaruh kepercayaannya di dalam Yesus Kristus. Bila kita berada dalam masalah dan membutuhkan pertolongan, kita dapat datang kepada Roh Kudus dan secara langsung berhubungan dengan kuasa Bapa di sorga.
Reply With Quote
  #17 (permalink)  
Old 7th October 2008
AP - Senior Member
 
Join Date: Jan 2008
Location: Indonesia
Posts: 57
thomas2009 is infamous around these parts
Post Penolong Untuk Berdoa | Roma 8:26-27

07 Oktober 2008 -- Selasa

Penolong Untuk Berdoa | Roma 8:26-27

Roh Kudus adalah penolong yang efektif. Ia bagian dari Trinitas, yang artinya Ia Maha Kuasa dan Maha Tahu, sama seperti Bapa. Ia menjadi satu dengan Bapa dan Yesus Kristus. Dengan kata lain, Roh Kudus yang tinggal di dalam kita selalu mengetahui dengan persis apa yang menjadi kehendak Allah bagi hidup kita.

Hampir semua orang cerdas bekerja dengan pengetahuan yang terbatas. Karena itu, suatu tindakan yang bijak bila kita bersandar pada tuntunan Roh Kudus, khususnya dalam hal berdoa. Kita tidak tahu masa depan kita, sehingga keinginan kita mungkin saja tidak sesuai dengan rancangan Tuhan. Atau, kita mungkin tidak akan pernah meminta sesuatu yang Tuhan tahu bila kelak akan kita butuhkan.

Ada beberapa orang percaya berhenti berdoa sebab, dalam pemikiran manusia yang terbatas, mereka melihat hal itu tidak masuk akal. Namun mereka yang berhenti berkomunikasi dengan Allah akan kehilangan kesempatan melihat karya Roh Kudus yang mengagumkan. Ia mengarahkan doa-doa kita, mengingatkan kebenaran-kebenaran pada hati kita akan apa yang kita minta, serta pada akhirnya membuka pikiran kita terhadap kehendak Allah.

Orang percaya tidak perlu kuatir bila ia menaikkan doa yang salah. Secara manusia kita sering meminta sesuatu yang kita pikir akan memuaskan kebutuhan daging kita. Namun Roh Kudus tidak akan menaikkan permintaan yang bertentangan dengan kehendak Bapa. Sebaliknya, Ia menjadi perantara agar kita meminta hal yang benar. Lalu pada saat yang sama, Ia membisikkan kepada hati kita, sesuatu yang kita minta itu tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Bila kehendak Tuhan sungguh-sungguh menjadi kerinduan kita, maka kita akan peka terhadap tuntunan Roh Kudus. Dialah penghubung doa kita kepada Bapa, dan kemana pun Ia menuntun, kita harus mengikuti-Nya.
Reply With Quote
  #18 (permalink)  
Old 8th October 2008