19 September 2008 -- Jumat
Pertolongan Kita Di Dalam Doa | Roma 8:26-27
Apakah hal ini terdengar tidak asing bagi Anda? Saat Anda memutuskan untuk memakai lebih banyak waktu untuk berdoa, maka pada jam tertentu Anda akan berdoa, kemudian berlutut, membuka mulut Anda dan mulai berkata-kata. Tentu saja Anda akan merangkai beberapa kata tentang apa yang Anda ingin Tuhan lakukan bagi Anda dan keluarga Anda. Namun, bukankah Anda seharusnya mendoakan hal yang lainnya juga?
Ya, memang seharusnya demikian. Kebutuhan orang Kristen memang menjadi perhatian Allah. Sekecil apapun kebutuhan kita tidak akan terlewatkan oleh-Nya. Namun demikian, Ia menghendaki umat-Nya untuk meniru teladan Yesus. Umat Allah seharusnya “tidak hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:4).
Namun demikian, berdoa bagi kepentingan orang lain bukanlah hal yang alami bagi kita. Seringkali kita menganggap Allah seperti ìjinî ñ seseorang yang melakukan apapun yang kita minta sementara kita menjalani hidup ini seturut dengan kehendak kita. Syukurlah, Allah menyediakan Penolong. Roh Kudus, yang menjadi pendamping kita saat berdoa, berdoa untuk kita kepada Allah ketika kita tidak tahu, “bagaimana sebenarnya harus berdoa”(Roma 8:26).
Bagaimana caranya kita “bekerja sama” dengan Roh Kudus yang telah berdoa untuk kita? Pertama, kita harus mengakui otoritas, kekudusan dan kemuliaan Allah. Kemudian, kita harus menyerahkan hidup kita untuk dituntun oleh-Nya. Saat kita melakukannya, maka kehendak dan kerinduan Allah akan menjadi hal yang terpenting bagi kita. Terakhir, kita harus menyerahkan masa depan kita kepada-Nya, percaya kepada-Nya bahwa dalam keadaan suka maupun duka, Ia akan selalu mendatangkan kebaikan atas hidup kita.
Saat kita tunduk kepada Tuhan, kita akan mengalami damai sejahtera dan sukacita yang besar. Kita pun akan menemukan kata-kata yang baru untuk kita ucapkan dalam doa kita. Bahkan yang terlebih penting, kita akan membangun pemahaman yang lebih dalam lagi akan kebesaran Tuhan.