Allah adalah Keluarga (13)
Renungan Keluarga
Allah adalah Keluarga ( 13 )
“Tetapi roh yang didalam manusia, dan nafas Yang
Mahakuasa ( El Shaddai ), itulah yang memberi
kepadanya pengertian “ [ Ayub 32:8 ].
Ayub adalah seorang yang, “…demikian saleh dan jujur,
yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan “. ( 1:8
). Ini adalah pengakuan dari Allah sendiri. Namun
ketika Tuhan memutuskan bahwa Ayub harus mengalami
kehilangan hampir segalanya, maka Ayub, “…menggelapkan
keputusan ( Allah ) dengan perkataan-perkataan yang
tidak berpengetahuan…” [ 38:2 ]. Ketika Tuhan
menantang Ayub dalam hal pengetahuan dan kekuasaan,
maka Ayub mengaku bahwa ia telah berbicara tanpa
pengertian ( 42:3 ). Bahkan Ayub juga mengaku bahwa,
“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang
Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang
Engkau “ [ 42:5 ]. Setelah Ayub memperoleh pengertian
dari Allah, maka keadaannya dipulihkan Tuhan, bahkan
dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu ( 42:10
).
Perihal memperoleh pengertian atau hikmat, inilah yang
akan kita renungkan saat ini. Ayat kita diatas adalah
perkataan Elihu, seorang yang masih muda dibanding
dengan ketiga sahabat Ayub yang telah berbicara
sebelumnya. Sekalipun ia masih muda, hanya
perkataannya yang tidak disalahkan Tuhan, sementara
ketiga sahabat Ayub yang telah lanjut usia mendapat
tegoran Tuhan ( 42:7 ). Elihu berpendapat bahwa nafas
El Shaddai, yaitu Allah yang bermanifestasi sebagai
Ibu, yang memberikan hikmat kepada seseorang. Didalam
Allah yang adalah Keluarga, dikatakan disini bahwa
nafas Allah sebagai Ibu, itulah yang memberi
pengertian. Bagaimana dengan keluarga Kristen ? Apakah
“nafas” seorang isteri telah memberi pengertian kepada
suami ?
Hikmat atau pengertian yang diberikan seorang isteri,
sangat mempengaruhi masa depan suami yang melayani
Tuhan. Kalau kita bandingkan kasus Sara dan Abigail,
maka kita dapat memahami perkara ini. Kegagalan Sara
dalam memberikan pengertian kepada Abraham, telah
membuat Ishak dan keturunannya mengalami masalah oleh
kehadiran Ismael. Tetapi sebaliknya, keberhasilan
Abigail telah menyelamatkan Daud dari pada melakukan
hutang darah turun temurun ( I Samuel 25:33 ).
Seorang suami yang melayani Tuhan, sangat memerlukan
hikmat atau pengertian yang datang dari seorang
isteri. Seorang suami yang melayani Tuhan, tentulah
diberikan tujuan, misi, dan visi yang jelas dari
Tuhan. Kadangkala, didalam perjalanan pelayanannya,
seorang suami tanpa sadar dikuasai oleh
keinginan-keinginan dan ambisinya sendiri. Dalam
kondisi sedemikian, seorang suami akan mengambil
keputusan-keputusan yang salah, dan mungkin
menimbulkan masalah yang serius bagi pelayanan dan
rumah tangganya. Disinilah pentingnya nafas El Shaddai
itu. Jika isteri gagal memberikan pengertian, bisa
jadi kasusnya akan seperti Abraham. Atau sebaliknya,
seperti Daud, yang menyelamatkan hamba Tuhan dari
hutang darah.
Secara lahiriah, seorang isteri biasanya diberikan
“indera keenam”, sehingga ia dapat melihat hal-hal
yang tidak terlihat oleh suaminya. Walaupun mungkin
“indera keenam” ini berguna didalam pekerjaan Tuhan,
tetapi yang kita bicarakan adalah pengertian yang
datang dari Allah sebagai Ibu. Seorang isteri haruslah
seorang yang suka bergaul dengan El Shaddai, agar
dapat memberikan pengertian bagi suaminya. Semoga ini
yang terjadi pada para isteri Kristen.
Gema Sion Ministry.
|