 |
|

1st June 2008
|
 |
I will NEVER let YOU go
|
|
Join Date: Jan 2007
Location: Indonesia
Posts: 1,541
|
|
e-Santapan Harian
Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Tanggal: Senin, 2 Juni 2008
Ayat SH: Hakim 18:1-13
Judul: Mengutamakan kehendak Allah
Allah seharusnya menjadi Raja bagi umat Israel dan firman-Nya
menjadi pedoman. Namun umat-Nya lebih suka berbuat apa yang
benar menurut pandangan mereka sendiri. Hasilnya adalah
ketidakpuasan dan kekacauan.
Suku Dan adalah keturunan Yakub (Kej. 30:1-6), dan bukan suku yang
besar (Bil. 1:39). Suku ini sebenarnya telah menda-patkan
wilayah yang menjadi bagiannya, ketika Yosua membagi tanah
perjanjian (Yos. 19:40-48). Entah kenapa, mereka tidak mampu
mengusir orang Amori yang mendiami tanah yang menjadi bagian
mereka (Hak. 1:34). Orang Amori bahkan mampu mendesak mereka
untuk pindah dan menetap di daerah Utara. Sementara itu,
suku-suku Israel yang lain telah mampu menguasai tanah yang
telah ditetapkan bagi mereka.
Ketidakpuasan mendorong suku Dan untuk mengutus mata-mata guna
mencari daerah yang dapat diklaim sebagai milik pusaka mereka
(ayat 1-2). Para mata-mata sampai di rumah Mikha dan mengenali
adanya orang Lewi di situ (ayat 3). Mereka ingin mencari tahu
kehendak Allah mengenai perjalanan mereka (ayat 5). Orang Lewi
itu kemudian menyatakan penyertaan Allah (ayat 6). Padahal bila
kita melihat relasinya dengan Allah, sungguh meragukan bila itu
adalah suara Allah. Apalagi perjalanan mata-mata itu sama sekali
bukan inisiatif Allah.
Setelah melihat daerah Lais, para mata-mata mendorong orang-orang
sesukunya untuk menguasai daerah itu. Mereka meyakinkan bahwa
itulah kehendak Allah (ayat 7-10). Padahal Musa dan Yosua telah
berulang kali mengatakan, bahwa mereka hanya boleh menguasai
daerah yang telah ditentukan Allah. Suku Dan tidak mampu
mengklaim daerah teritori yang Allah tetapkan, tetapi mereka
begitu bersemangat berperang merebut tanah yang mereka anggap
cocok buat mereka.
Kita pun kadangkala bersikap seperti suku Dan: mengabaikan apa yang
Allah inginkan dan mengejar apa yang menjadi hasrat hati.
Sesuaikah ini dengan karakter seorang pengikut Kristus? Tentu
tidak! Kita seharusnya menginginkan kehendak dan kemuliaan Allah
saja dalam hidup kita.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Hakim 18:1-13
1. Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel dan
pada zaman itu suku Dan sedang mencari milik pusaka untuk
menetap, sebab sampai hari itu mereka belum juga mendapat bagian
milik pusaka di tengah-tengah suku-suku Israel.
2 Sebab itu bani Dan menyuruh dari kaumnya lima orang dari
seluruh jumlah mereka, semuanya orang-orang yang gagah perkasa,
yang berasal dari Zora dan Esytaol, untuk mengintai negeri itu
dan menyelidikinya, serta berkata kepada mereka: "Pergilah
menyelidiki negeri itu." Ketika orang-orang itu sampai ke
pegunungan Efraim di rumah Mikha, bermalamlah mereka di sana.
3 Ketika mereka ada dekat rumah Mikha itu, dikenal merekalah
logat orang muda suku Lewi itu, lalu singgahlah mereka ke sana
dan berkata kepadanya: "Siapakah yang membawa engkau ke mari?
Apakah pekerjaanmu dan urusanmu di sini?"
4 Katanya kepada mereka: "Begini begitulah dilakukan Mikha
kepadaku; ia menggaji aku dan aku menjadi imamnya."
5 Kata mereka kepadanya: "Tanyakanlah kiranya kepada Allah,
supaya kami ketahui apakah perjalanan yang kami tempuh ini akan
berhasil."
6 Kata imam itu kepada mereka: "Pergilah dengan selamat!
Perjalanan yang kamu tempuh itu dipandang baik oleh TUHAN."
7. Sesudah itu pergilah kelima orang itu, lalu sampailah mereka
ke Lais. Dilihat merekalah, bahwa rakyat yang diam di sana hidup
dengan tenteram, menurut adat orang Sidon, aman dan tenteram.
Orang-orang itu tidak kekurangan apapun yang ada di muka bumi,
malah kaya harta. Mereka tinggal jauh dari orang Sidon dan tidak
bergaul dengan siapapun juga.
8 Setelah mereka kembali kepada saudara-saudara sesukunya di
Zora dan Esytaol, berkatalah saudara-saudara sesukunya kepada
mereka: "Apakah yang kamu dapati di sana?"
9 Jawab mereka: "Bersiaplah, marilah kita maju menyerang
mereka, sebab kami telah melihat negeri itu, dan memang sangat
baik. Masakan kamu tinggal diam! Janganlah bermalas-malas untuk
pergi memasuki dan menduduki negeri itu.
10 Apabila kamu memasukinya kamu mendapati rakyat yang hidup
dengan tenteram, dan negeri itu luas ke sebelah kiri dan ke
sebelah kanan. Sesungguhnya, Allah telah menyerahkannya ke dalam
tanganmu; itulah tempat yang tidak kekurangan apapun yang ada di
muka bumi."
11 Lalu berangkatlah dari sana, dari Zora dan Esytaol, enam
ratus orang dari kaum suku Dan, diperlengkapi dengan senjata.
12 Mereka maju, lalu berkemah di Kiryat-Yearim di Yehuda.
Itulah sebabnya tempat itu disebut Mahane-Dan sampai sekarang;
letaknya di sebelah barat Kiryat-Yearim.
13 Dari sana mereka bergerak terus ke pegunungan Efraim dan
sampai di rumah Mikha.
|

2nd June 2008
|
 |
I will NEVER let YOU go
|
|
Join Date: Jan 2007
Location: Indonesia
Posts: 1,541
|
|
e-Santapan Harian
Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Tanggal: Selasa, 3 Juni 2008
Ayat SH: Hakim 18:14-31
Judul: Kesesatan dalam pelayanan
Nama Yonatan bin Gersom bin Musa hanya disebutkan sekali di dalam
Kitab Hakim-Hakim (ayat 30). Itu pun muncul pada bagian akhir
dari kisah pendudukan Lais. Nama ini menegaskan siapa
sesungguhnya yang disebut sebagai orang Lewi di Kitab
Hakim-Hakim pasal 17 dan 18.
Sungguh memprihatinkan. Yonatan tidak menjaga nama leluhurnya, yaitu
Musa. Ia membantu Bani Dan untuk mendirikan pusat penyembahan
berhala, sementara ia menjadi imamnya. Ini berlawanan dengan
ketetapan Allah bagi umat Israel (band Ul. 12), dan bagi orang
Lewi sendiri. Hal ini berlangsung sampai Israel diangkut sebagai
orang buangan. Kesesatan Yonatan dimulai saat ia, dengan
kekuatannya sendiri tanpa mengandalkan Allah, ingin memperbaiki
kehidupannya (Hak. 17:7-8). Lalu berlanjut sewaktu ia menerima
tawaran Mikha untuk menjadi imam bagi keluarganya (Hak.
17:9-12). Seharusnya, sebagai seorang Lewi, ia menegur Mikha
atas niat yang sesat itu. Malah berikutnya, ia rela meninggalkan
Mikha untuk menerima jabatan yang lebih tinggi, yaitu menjadi
imam atas suku Dan (ayat 19). Tentu lebih menjanjikan dalam hal
penghargaan dan penghasilan.
Harus kita pertanyakan apakah tindakan Yonatan dapat disebut sebagai
pelayanan kepada Tuhan, Allah yang hidup? Faktanya, ia melayani
dirinya sendiri dan orang yang membiayai hidupnya. Awalnya
Mikha, dan kemudian suku Dan. Yonatan bukanlah juru bicara
Allah. Ia hanya menyenangkan orang dengan menyampaikan apa yang
ingin mereka dengar (Hak. 18:6). Ia tidak peduli apakah yang dia
lakukan sesuai dengan kehendak Allah atas orang Lewi.
Alangkah beda sikap Yonatan dibanding kakeknya, Musa. Yonatan
melihat pelayannya sebagai pekerjaan, bukan sebagai panggilan.
Ia lebih mementingkan uang, jabatan, dan fasilitas dibanding
panggilan untuk melayani Allah. Kita harus mewaspadai diri kita
sendiri. Janganlah kita melayani hanya untuk keuntungan diri,
melainkan agar pekerjaan dan kuasa Tuhan dinyatakan di dalam
kita.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Hakim 18:14-31
14. Lalu berbicaralah kelima orang yang telah pergi mengintai
daerah Lais itu, katanya kepada saudara-saudara sesukunya:
"Tahukah kamu, bahwa dalam rumah-rumah ini ada efod, terafim,
patung pahatan dan patung tuangan? Oleh sebab itu, insafilah apa
yang akan kamu perbuat!"
15 Kemudian mereka menuju ke tempat itu, lalu sampai di rumah
orang muda suku Lewi itu, di rumah Mikha, dan menanyakan apakah
ia selamat.
16 Sementara keenam ratus orang dari bani Dan yang
diperlengkapi dengan senjata itu tinggal berdiri di pintu
gerbang,
17 maka kelima orang yang telah pergi mengintai negeri itu
berjalan terus, masuk ke dalam lalu mengambil patung pahatan,
efod, terafim dan patung tuangan itu. Adapun imam itu berdiri di
pintu gerbang bersama-sama dengan keenam ratus orang yang
diperlengkapi dengan senjata itu.
18 Tetapi, setelah yang lain-lain itu masuk ke dalam rumah
Mikha dan mengambil patung pahatan, efod, terafim dan patung
tuangan itu, berkatalah imam itu kepada mereka: "Berbuat apakah
kamu ini?"
19 Tetapi jawab mereka kepadanya: "Diamlah, tutup mulut,
ikutlah kami dan jadilah bapak dan imam kami. Apakah yang lebih
baik bagimu: menjadi imam untuk seisi rumah satu orang atau
menjadi imam untuk suatu suku dan kaum di antara orang Israel?"
20 Maka gembiralah hati imam itu, diambilnyalah efod, terafim
dan patung pahatan itu, lalu masuk ke tengah-tengah orang banyak.
21 Kemudian berbaliklah mereka dan pergi, dengan anak-anak,
ternak dan barang-barang yang berharga ditempatkan di depan
mereka.
22 Ketika mereka telah jauh dari rumah Mikha, dikerahkanlah
orang-orang dari rumah-rumah yang di dekat rumah Mikha dan
orang-orang itu mengejar bani Dan itu.
23 Mereka memanggil-manggil bani Dan, maka berbaliklah
orang-orang itu dan berkata kepada Mikha: "Mau apa engkau dengan
mengerahkan orang?" Lalu jawabnya:
24 "Allahku yang kubuat serta imam juga kamu ambil, lalu kamu
pergi. Apakah lagi yang masih tinggal padaku? Bagaimana
perkataanmu itu kepadaku: Mau apa engkau?"
25 Berkatalah bani Dan kepadanya: "Janganlah suaramu kedengaran
lagi kepada kami, nanti ada orang yang menyerang engkau karena
sakit hati dan dengan demikian engkau serta seisi rumahmu
kehilangan nyawa."
26 Lalu bani Dan melanjutkan perjalanannya, dan Mikha, setelah
dilihatnya mereka itu lebih kuat dari padanya, berpalinglah ia
pulang ke rumahnya.
27. Lalu bani Dan, dengan membawa barang-barang yang dibuat
Mikha, juga imamnya, mendatangi Lais, yakni rakyat yang hidup
dengan aman dan tenteram. Mereka memukul orang-orang itu dengan
mata pedang dan kotanya dibakar.
28 Tidak ada orang yang datang menolong, sebab kota itu jauh
dari Sidon dan orang-orang kota itu tidak bergaul dengan siapapun
juga. Letak kota itu di lembah Bet-Rehob. Kemudian bani Dan
membangun kota itu kembali dan diam di sana.
29 Mereka menamai kota itu Dan, menurut nama bapa leluhur
mereka, yakni Dan, yang lahir bagi Israel, tetapi nama kota itu
dahulu adalah Lais.
30 Bani Dan menegakkan bagi mereka sendiri patung pahatan itu,
lalu Yonatan bin Gersom bin Musa bersama-sama dengan anak-anaknya
menjadi imam bagi suku Dan, sampai penduduk negeri itu diangkut
sebagai orang buangan.
31 Demikianlah mereka menempatkan bagi mereka sendiri patung
pahatan yang telah dibuat Mikha itu, dan patung itu ada di sana
selama rumah Allah ada di Silo.
|

3rd June 2008
|
 |
I will NEVER let YOU go
|
|
Join Date: Jan 2007
Location: Indonesia
Posts: 1,541
|
|
e-Santapan Harian
Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Tanggal: Rabu, 4 Juni 2008
Ayat SH: Hakim 19:1-30
Judul: Bila tak ada kebenaran
Pasal ini berkisah tentang kasih dan sikap yang akan muncul bila tak
ada kasih. Manifestasi kasih adalah kepedulian pada orang lain,
dan ketiadaan kasih akan termanifestasi pada sikap amoral.
Mertua si Lewi menunjukkan kasihnya kepada anak dan menantunya,
dengan membiarkan si Lewi menginap lebih lama di rumahnya (ayat
4-9). Orang Efraim juga peduli pada si Lewi yang kemalaman di
jalan. Ia menyediakan rumahnya untuk tempat mereka menginap
(ayat 20-21). Berbeda dari orang Gibea. Mereka sama sekali tidak
peduli pada orang Lewi dan gundiknya yang kemalaman di jalan
(ayat 15). Dan ketika ada orang yang menyediakan rumahnya untuk
si Lewi, mereka malah bersikap amoral yang sangat bobrok (ayat
22-25).
Sementara si gundik memiliki kasih yang hanya cukup untuk tinggal
beberapa waktu lamanya dengan si Lewi, tetapi tidak untuk
selamanya (ayat 2). Si Lewi hanya memiliki sedikit kasih kepada
gundiknya, yang ditunjukkan dengan menjemput kembali gundiknya
dari rumah ayahnya (ayat 3). Namun bagaimana saat ia
diperhadapkan pada pilihan antara keselamatan diri atau
istrinya? Ia menyerahkan gundiknya pada orang Gibea, bagai
melemparkan sekerat daging kepada anjing-anjing buas yang
kelaparan (ayat 25). Yang parah, ia tidur lelap hingga pagi
(ayat 27), sementara gundiknya menjadi korban kebrutalan orang
Gibea. Sungguh tak berperasaan! Nyata bagaimana kasihnya kepada
gundiknya. Tak heran bila gun-diknya pergi meninggalkan dia.
Lebih lagi, ia memutilasi mayat gundiknya menjadi dua belas
bagian dan mengirimkannya kepada setiap suku Israel agar mereka
menuntut balas.
Seperti itulah sikap dan kelakuan manusia bila hidup menurut
pandangannya sendiri, dan melupakan kebenaran serta kedaulatan
Allah. Kekacauan, hilangnya perikemanusiaan, dan sikap amoral
yang sangat brutal dan bobrok menjadi dampaknya. Lalu apakah
kita mau terus hidup berlawanan dengan kebenaran Allah, bila
kita tahu dampaknya bagi kita dan masyarakat? Mari perbarui
tekad kita.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Hakim 19:1-30
1. Terjadilah pada zaman itu, ketika tidak ada raja di Israel,
bahwa di balik pegunungan Efraim ada seorang Lewi tinggal sebagai
pendatang. Ia mengambil seorang gundik dari Betlehem-Yehuda.
2 Tetapi gundiknya itu berlaku serong terhadap dia dan pergi
dari padanya ke rumah ayahnya di Betlehem-Yehuda, lalu tinggal di
sana empat bulan lamanya.
3 Berkemaslah suaminya itu, lalu pergi menyusul perempuan itu
untuk membujuk dia dan membawanya kembali; bersama-sama dia
bujangnya dan sepasang keledai. Ketika perempuan muda itu membawa
dia masuk ke rumah ayahnya, dan ketika ayah itu melihat dia, maka
bersukacitalah ia mendapatkannya.
4 Mertuanya, ayah perempuan muda itu, tidak membiarkan dia
pergi, sehingga ia tinggal tiga hari lamanya pada ayah itu;
mereka makan, minum dan bermalam di sana.
5 Tetapi pada hari yang keempat, ketika mereka bangun pagi-pagi
dan ketika orang Lewi itu berkemas untuk pergi, berkatalah ayah
perempuan muda itu kepada menantunya: "Segarkanlah dirimu dahulu
dengan sekerat roti, kemudian bolehlah kamu pergi."
6 Jadi duduklah mereka, lalu makan dan minumlah keduanya
bersama-sama. Kata ayah perempuan muda itu kepada laki-laki itu:
"Baiklah putuskan untuk tinggal bermalam dan biarlah hatimu
gembira."
7 Tetapi ketika orang itu bangun untuk pergi juga, mertuanya
itu mendesaknya, sehingga ia tinggal pula di sana bermalam.
8 Pada hari yang kelima, ketika ia bangun pagi-pagi untuk
pergi, berkatalah ayah perempuan muda itu: "Mari, segarkanlah
dirimu dahulu, dan tinggallah sebentar lagi, sampai matahari
surut." Lalu makanlah mereka keduanya.
9 Ketika orang itu bangun untuk pergi, bersama dengan gundiknya
dan bujangnya, berkatalah mertuanya, ayah perempuan muda itu,
kepadanya: "Lihatlah, matahari telah mulai turun menjelang
petang; baiklah tinggal bermalam, lihat, matahari hampir
terbenam, tinggallah di sini bermalam dan biarlah hatimu gembira;
maka besok kamu dapat bangun pagi-pagi untuk berjalan dan pulang
ke rumahmu."
10 Tetapi orang itu tidak mau tinggal bermalam; ia berkemas,
lalu pergi. Demikian sampailah ia di daerah yang berhadapan
dengan Yebus--itulah Yerusalem--;bersama-sama dengan dia ada
sepasang keledai yang berpelana dan gundiknya juga.
11 Ketika mereka dekat ke Yebus dan ketika matahari telah
sangat rendah, berkatalah bujang itu kepada tuannya: "Marilah
kita singgah di kota orang Yebus ini dan bermalam di situ."
12 Tetapi tuannya menjawabnya: "Kita tidak akan singgah di kota
asing yang bukan kepunyaan orang Israel, tetapi kita akan
berjalan terus sampai ke Gibea."
13 Lagi katanya kepada bujangnya: "Marilah kita berjalan sampai
ke salah satu tempat yang di sana dan bermalam di Gibea atau di
Rama."
14 Lalu berjalanlah mereka melanjutkan perjalanannya, dan
matahari terbenam, ketika mereka dekat Gibea kepunyaan suku
Benyamin.
15 Sebab itu singgahlah mereka di Gibea, lalu masuk untuk
bermalam di situ, dan setelah sampai, duduklah mereka di tanah
lapang kota. Tetapi tidak ada seorangpun yang mengajak mereka ke
rumah untuk bermalam.
16. Tetapi datanglah pada malam itu seorang tua, yang pulang
dari pekerjaannya di ladang. Orang itu berasal dari pegunungan
Efraim dan tinggal di Gibea sebagai pendatang, tetapi penduduk
tempat itu adalah orang Benyamin.
17 Ketika ia mengangkat mukanya dan melihat orang yang dalam
perjalanan itu di tanah lapang kota, berkatalah orang tua itu:
"Ke manakah engkau pergi dan dari manakah engkau datang?"
18 Jawabnya kepadanya: "Kami sedang dalam perjalanan dari
Betlehem-Yehuda ke balik pegunungan Efraim. Dari sanalah aku
berasal; aku tadinya pergi ke Betlehem-Yehuda dan sekarang sedang
berjalan pulang ke rumah. Tetapi tidak ada orang yang mengajak
aku ke rumahnya,
19 walaupun ada padaku jerami dan makanan untuk keledai kami,
pula roti dan anggur untuk aku sendiri, untuk hambamu perempuan
ini dan untuk bujang yang bersama-sama dengan hambamu ini; kami
tidak kekurangan sesuatu."
20 Lalu berkatalah orang tua itu: "Jangan kuatir! Segala yang
engkau perlukan biarlah aku yang menanggung, tetapi janganlah
engkau bermalam di tanah lapang kota ini."
21 Sesudah itu dibawanyalah dia masuk ke rumahnya, lalu
keledai-keledai diberinya makan; maka merekapun membasuh kaki,
makan dan minum.
22. Tetapi sementara mereka menggembirakan hatinya, datanglah
orang-orang kota itu, orang-orang dursila, mengepung rumah itu.
Mereka menggedor-gedor pintu sambil berkata kepada orang tua,
pemilik rumah itu: "Bawalah ke luar orang yang datang ke rumahmu
itu, supaya kami pakai dia."
23 Lalu keluarlah pemilik rumah itu menemui mereka dan berkata
kepada mereka: "Tidak, saudara-saudaraku, janganlah kiranya
berbuat jahat; karena orang ini telah masuk ke rumahku, janganlah
kamu berbuat noda.
24 Tetapi ada anakku perempuan, yang masih perawan, dan juga
gundik orang itu, baiklah kubawa keduanya ke luar; perkosalah
mereka dan perbuatlah dengan mereka apa yang kamu pandang baik,
tetapi terhadap orang ini janganlah kamu berbuat noda."
25 Tetapi orang-orang itu tidak mau mendengarkan perkataannya.
Lalu orang Lewi itu menangkap gundiknya dan membawanya kepada
mereka ke luar, kemudian mereka bersetubuh dengan perempuan itu
dan semalam-malaman itu mereka mempermainkannya, sampai pagi.
Barulah pada waktu fajar menyingsing mereka melepaskan perempuan
itu.
26 Menjelang pagi perempuan itu datang kembali, tetapi ia jatuh
rebah di depan pintu rumah orang itu, tempat tuannya bermalam,
dan ia tergeletak di sana sampai fajar.
27 Pada waktu tuannya bangun pagi-pagi, dibukanya pintu rumah
dan pergi ke luar untuk melanjutkan perjalanannya, tetapi
tampaklah perempuan itu, gundiknya, tergeletak di depan pintu
rumah dengan tangannya pada ambang pintu.
28 Berkatalah ia kepada perempuan itu: "Bangunlah, marilah kita
pergi." Tetapi tidak ada jawabnya. Lalu diangkatnyalah mayat itu
ke atas keledai, berkemaslah ia, kemudian pergi ke tempat
kediamannya.
29 Sesampai di rumah, diambilnyalah pisau, dipegangnyalah mayat
gundiknya, dipotong-potongnya menurut tulang-tulangnya menjadi
dua belas potongan, lalu dikirimnya ke seluruh daerah orang
Israel.
30 Dan setiap orang yang melihatnya, berkata: "Hal yang
demikian belum pernah terjadi dan belum pernah terlihat, sejak
orang Israel berangkat keluar dari tanah Mesir sampai sekarang.
Perhatikanlah itu, pertimbangkanlah, lalu berbicaralah!"
|

4th June 2008
|
 |
I will NEVER let YOU go
|
|
Join Date: Jan 2007
Location: Indonesia
Posts: 1,541
|
|
e-Santapan Harian
Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Tanggal: Kamis, 5 Juni 2008
Ayat SH: Hakim 20:1-17
Judul: Bukan semata demi persatuan
"Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh", tampaknya tengah
dihayati oleh bangsa Israel usai mendengar kisah si Lewi yang
tidak sepenuhnya benar (ayat 4-5). Kengerian yang dia ciptakan
melalui pengiriman potongan mayat gundiknya ke setiap suku di
Israel, berhasil memprovokasi bangsanya. Setiap suku berdatangan
dari berbagai tempat, bahkan dari berbagai tempat di perbatasan.
Mereka bermufakat untuk menuntut balas atas tindakan orang Gibea
terhadap gundiknya (ayat 1). Inilah kesempatan bagi mereka untuk
menunjukkan solidaritas sebagai satu bangsa. Sayangnya,
permufakatan ini bukanlah inisiatif Allah.
Akan tetapi, suku Benyamin tidak bersedia ikut dalam permufakatan
itu. Bukan karena mereka tahu bahwa permufakatan itu tidak
berdasar kehendak Allah, melainkan karena mereka lebih memilih
untuk berpihak pada orang Gibea. Orang Benyamin juga tidak mau
membiarkan orang Gibea mempertanggungjawabkan perbuatan mereka
(ayat 12-13). Bukannya memberikan dukungan bagi orang-orang
sebangsa, suku Benyamin malah bersekutu dengan orang Gibea untuk
memerangi bangsanya sendiri. Memang Gibea adalah bagian
Benyamin. Namun dengan berlaku demikian, suku Benyamin telah
mengingkari panggilan sebagai umat Allah.
Di dalam komunitas orang beriman pun, rentan terjadi perbedaan
pendapat dan perpecahan. Bila terjadi, tentu pihak-pihak yang
bersengketa akan mencari sekutu untuk berpihak pada mereka.
Kadang kala, solidaritas dijadikan sebagai alasan nomor satu
untuk mencari sekutu. Padahal seharusnya kedua belah pihak
mencoba berpikir jernih dan melihat masalah berdasarkan kaca
mata kebenaran Allah. Karena solidaritas yang tidak dilandaskan
pada kebenaran firman Allah adalah solidaritas yang buta dan
tidak dapat dipertanggungjawabkan. Maka bila kita diperhadapkan
pada perpecahan gereja, pertimbangkanlah untuk tidak sembarangan
berpihak. Jangan sampai hanya demi solidaritas dan kesatuan,
lalu kita mengabaikan diberlakukannya kebenaran.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Hakim 20:1-17
1. Lalu majulah semua orang Israel; dari Dan sampai Bersyeba
dan juga dari tanah Gilead berkumpullah umat itu secara serentak
menghadap TUHAN di Mizpa.
2 Maka berdirilah para pemuka dari seluruh bangsa itu, dari
segala suku orang Israel, memimpin jemaah umat Allah yang
jumlahnya empat ratus ribu orang berjalan kaki, yang
bersenjatakan pedang.
3 Kedengaranlah kepada bani Benyamin, bahwa orang Israel telah
maju ke Mizpa. Berkatalah orang Israel: "Ceritakan bagaimana
kejahatan itu terjadi."
4 Lalu orang Lewi, suami perempuan yang terbunuh itu, menjawab:
"Aku sampai dengan gundikku di Gibea kepunyaan suku Benyamin
untuk bermalam di sana.
5 Lalu warga-warga kota Gibea itu mendatangi aku dan mengepung
rumah itu pada malam hari untuk menyerang aku. Mereka bermaksud
membunuh aku, tetapi gundikku diperkosa mereka, sehingga mati.
6 Maka kuambillah mayat gundikku, kupotong-potong dia dan
kukirimkan ke seluruh daerah milik pusaka orang Israel, sebab
orang-orang itu telah berbuat mesum dan berbuat noda di antara
orang Israel.
7 Sekarang kamu sekalian, orang Israel, telah ada di sini.
Berikanlah di sini pertimbanganmu dan nasihatmu."
8 Kemudian bangunlah seluruh bangsa itu dengan serentak, sambil
berkata: "Seorangpun dari pada kita takkan pergi ke kemahnya,
seorangpun dari pada kita takkan pulang ke rumahnya.
9 Inilah yang akan kita lakukan kepada Gibea; memeranginya,
dengan membuang undi!
10 Kita akan memilih dari seluruh suku Israel sepuluh orang
dari tiap-tiap seratus, seratus orang dari tiap-tiap seribu,
seribu orang dari tiap-tiap sepuluh ribu, untuk mengambil bekal
bagi laskar ini, supaya sesudah mereka datang, dilakukan kepada
Gibea-Benyamin setimpal dengan segala perbuatan noda yang telah
diperbuat mereka di antara orang Israel."
11 Demikianlah orang Israel berkumpul melawan kota itu,
semuanya bersekutu dengan serentak.
12. Kemudian suku-suku Israel mengirim orang kepada seluruh suku
Benyamin dengan pesan: "Apa macam kejahatan yang terjadi di
antara kamu itu!
13 Maka sekarang, serahkanlah orang-orang itu, yakni
orang-orang dursila yang di Gibea itu, supaya kami menghukum mati
mereka dan dengan demikian menghapuskan yang jahat itu dari
antara orang Israel." Tetapi bani Benyamin tidak mau mendengarkan
perkataan saudara-saudaranya, orang Israel itu.
14 Sebaliknya, bani Benyamin dari kota-kota lain berkumpul di
Gibea untuk maju berperang melawan orang Israel.
15 Pada hari itu dihitunglah jumlah bani Benyamin dari
kota-kota lain itu: dua puluh enam ribu orang yang bersenjatakan
pedang, belum termasuk penduduk Gibea, yang terhitung tujuh ratus
orang pilihan banyaknya.
16 Dari segala laskar ini ada tujuh ratus orang pilihan yang
kidal, dan setiap orang dari mereka dapat mengumban dengan tidak
pernah meleset sampai sehelai rambutpun.
17 Juga orang-orang Israel dihitung jumlahnya; dengan tidak
termasuk suku Benyamin ada empat ratus ribu orang yang
bersenjatakan pedang; semuanya itu prajurit.
|

5th June 2008
|
 |
I will NEVER let YOU go
|
|
Join Date: Jan 2007
Location: Indonesia
Posts: 1,541
|
|
e-Santapan Harian
Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Tanggal: Jumat, 6 Juni 2008
Ayat SH: Hakim 20:18-48
Judul: Dahulukan Allah!
Pencarian akan kehendak Allah rupanya masih dianggap penting oleh
Israel. Mereka ingin tahu bagaimana strategi Allah agar mereka
dapat memenangkan peperangan itu (ayat 18).
Sampai dua kali, Allah mengizinkan suku Benyamin memenangkan
peperangan (ayat 21, 25). Puluhan ribu orang Israel tewas dalam
kekalahan itu. Padahal Israel sudah berperang sesuai perkataan
Allah. Apakah Allah ingkar janji? Mengapa Ia berbalik kepada
suku Benyamin? Namun bukan demikian. Kekalahan Israel bukan
karena Allah berkenan atas Benyamin, melainkan karena Dia sedang
mendisiplin Israel sebab mereka tidak bergantung sepenuhnya pada
pimpinan Allah. Mereka hanya meminta berkat-Nya agar mereka
menang. Dengan mengurangi jumlah tentara, Allah ingin mengajar
mereka bahwa jumlah tentara bukanlah jaminan kemenangan. Mereka
harus percaya kepada Allah, meski terlihat mustahil. Pimpinan
Allah melibatkan juga tindakan disiplin kepada umat yang tidak
bergantung pada Dia, sama seperti hukuman bagi yang memberontak.
Dan memang, dua kali kekalahan membuat Israel sungguh-sungguh
bertelut di hadapan Allah. Mereka menangis, berpuasa, dan
mempersembahkan korban kepada Allah (ayat 26). Kali ini, Allah
bukan hanya memberi restunya (band. ay. 18, 23). Ia menjamin
kemenangan Israel (ayat 28). Maka sebelas suku Israel
menggunakan strategi Yosua saat menaklukkan kota Ai (Yos. 8).
Terlalu percaya diri karena kemenangan yang diperoleh dua kali
berturut-turut, membuat Suku Benyamin mudah terpancing dan masuk
jebakan yang disiapkan oleh Israel. Maka Gibea berhasil direbut
dan seluruh penduduknya dibunuh. Tiga kali peperangan menyisakan
600 orang Benyamin. Harga yang sangat mahal, yang harus mereka
tanggung karena menolak mematuhi Hukum Allah. Itulah akibat bila
kasih kepada sesama mengalahkan kasih kepada Allah, dan
loyalitas kepada saudara mengalahkan loyalitas kepada Allah.
Ingatlah bahwa hukum yang terutama dan yang pertama ialah,
"Kasihilah Tuhan Allahmu ..." (Mat. 22:37-38).
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Hakim 20:18-48
18. Lalu orang Israel berangkat dan maju ke Betel. Di sana
mereka bertanya kepada Allah: "Siapakah dari kami yang lebih
dahulu maju berperang melawan bani Benyamin?" Jawab TUHAN: "Suku
Yehudalah lebih dahulu."
19 Lalu orang-orang Israel bangun pagi-pagi dan berkemah
mengepung Gibea.
20 Kemudian majulah orang-orang Israel berperang melawan suku
Benyamin; orang-orang Israel mengatur barisan perangnya melawan
mereka dekat Gibea.
21 Juga bani Benyamin maju menyerang dari Gibea dan
menggugurkan ke bumi dua puluh dua ribu orang dari antara orang
Israel pada hari itu.
22 Tetapi laskar orang Israel mengumpulkan segenap kekuatannya,
lalu mengatur pula barisan perangnya di tempat mereka mengatur
barisannya semula.
23 Kemudian pergilah orang-orang Israel, lalu menangis di
hadapan TUHAN sampai petang, sesudah itu mereka bertanya kepada
TUHAN: "Akan pergi pulakah kami berperang melawan bani Benyamin,
saudara kami itu?" Jawab TUHAN: "Majulah melawan mereka."
24 Tetapi ketika orang-orang Israel pada hari kedua sampai di
dekat bani Benyamin,
25 maka pada hari kedua itu majulah suku Benyamin dari Gibea
menyerbu mereka, dan digugurkannya pula ke bumi delapan belas
ribu orang di antara orang-orang Israel; semuanya orang-orang
yang bersenjatakan pedang.
26. Kemudian pergilah semua orang Israel, yakni seluruh bangsa
itu, lalu sampai di Betel; di sana mereka tinggal menangis di
hadapan TUHAN, berpuasa sampai senja pada hari itu dan
mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan
TUHAN.
27 Dan orang-orang Israel bertanya kepada TUHAN--pada waktu itu
ada di sana tabut perjanjian Allah,
28 dan Pinehas bin Eleazar bin Harun menjadi imam Allah pada
waktu itu--kata mereka: "Haruskah kami maju sekali lagi untuk
berperang melawan bani Benyamin, saudara kami itu, atau haruskah
kami hentikan itu?" Jawab TUHAN: "Majulah, sebab besok Aku akan
menyerahkan mereka ke dalam tanganmu."
29 Lalu orang Israel menempatkan penghadang-penghadang
sekeliling Gibea.
30 Pada hari ketiga majulah orang-orang Israel melawan bani
Benyamin dan mengatur barisannya melawan Gibea seperti yang
sudah-sudah.
31 Maka majulah bani Benyamin menyerbu laskar itu; mereka
terpancing dari kota, dan seperti yang sudah-sudah, mereka mulai
menyerang laskar itu pada kedua jalan raya--yang satu menuju ke
Betel, dan yang lain ke Gibea melalui padang--sehingga terbunuh
beberapa orang, kira-kira tiga puluh orang di antara orang
Israel.
32 Maka kata bani Benyamin: "Orang-orang itu telah terpukul
kalah oleh kita seperti semula." Tetapi orang-orang Israel telah
bermupakat lebih dahulu: "Marilah kita lari dan memancing mereka
dari kota ke jalan-jalan raya."
33 Jadi orang Israel bangun dari tempatnya dan mengatur
barisannya di Baal-Tamar, sedang orang Israel yang menghadang itu
tiba-tiba keluar dari tempatnya, yakni tempat terbuka dekat Geba,
34 dan sampai di depan Gibea, sebanyak sepuluh ribu orang
pilihan dari seluruh Israel. Pertempuran itu dahsyat, tetapi bani
Benyamin tidak tahu bahwa malapetaka datang menimpa mereka.
35 TUHAN membuat suku Benyamin terpukul kalah oleh orang
Israel, dan pada hari itu orang-orang Israel memusnahkan dari
antara suku Benyamin dua puluh lima ribu seratus orang, semuanya
orang-orang yang bersenjatakan pedang.
36 Bani Benyamin melihat, bahwa mereka telah terpukul kalah.
Sementara orang-orang Israel agak mundur di depan suku
Benyamin--sebab mereka mempercayai penghadang-penghadang yang
ditempatkan mereka untuk menyerang Gibea--
37 maka segeralah penghadang-penghadang itu menyerbu Gibea.
Mereka bergerak maju dan memukul seluruh kota itu dengan mata
pedang.
38 Tetapi orang-orang Israel telah bermupakat dengan
penghadang-penghadang itu untuk menaikkan gumpalan asap tebal
dari kota itu.
39 Ketika orang-orang Israel mundur dalam pertempuran itu, maka
suku Benyamin mulai menyerang orang Israel, sehingga terbunuh
kira-kira tiga puluh orang, karena pikir mereka: "Tentulah
orang-orang itu terpukul kalah sama sekali oleh kita seperti
dalam pertempuran yang dahulu."
40 Tetapi pada waktu itu mulailah gumpalan asap naik dari kota
itu seperti tiang asap. Suku Benyamin menoleh ke belakang dan
tampaklah kota itu seluruhnya terbakar, apinya naik ke langit.
41 Lagipula orang-orang Israel maju lagi. Maka gemetarlah
orang-orang Benyamin itu, sebab mereka melihat, bahwa malapetaka
datang menimpa mereka.
42 Jadi larilah mereka dari depan orang-orang Israel itu, ke
arah padang gurun, tetapi pertempuran itu tidak dapat dihindari
mereka, lalu orang-orang dari kota-kota menghabisi mereka di
tengah-tengahnya.
43 Mereka mengepung suku Benyamin itu, mengejarnya dengan tak
henti-hentinya dan melandanya sampai di depan Gibea, di sebelah
timur.
44 Dari bani Benyamin ada tewas delapan belas ribu orang,
semuanya orang-orang gagah perkasa.
45 Yang lain berpaling lari ke padang gurun, ke bukit batu
Rimon. Tetapi di jalan-jalan raya masih diadakan penyabitan
susulan di antara mereka: lima ribu orang; mereka diburu sampai
ke Gideom dan dipukul mati dua ribu orang dari mereka.
46 Maka yang tewas dari suku Benyamin pada hari itu seluruhnya
berjumlah dua puluh lima ribu orang yang bersenjatakan pedang,
semuanya orang-orang gagah perkasa.
47 Tetapi enam ratus orang berpaling lari ke padang gurun, ke
bukit batu Rimon, dan tinggal empat bulan lamanya di bukit batu
itu.
48 Tetapi orang-orang Israel kembali kepada bani Benyamin dan
memukul mereka dengan mata pedang, baik manusia baik hewan dan
segala sesuatu yang terdapat di sana. Juga segala kota yang
terdapat di sana mereka musnahkan dengan api.
|

7th June 2008
|
 |
I will NEVER let YOU go
|
|
Join Date: Jan 2007
Location: Indonesia
Posts: 1,541
|
|
e-Santapan Harian
Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Tanggal: Sabtu, 7 Juni 2008
Ayat SH: Hakim 21:1-25
Judul: Bukan pandangan sendiri
Kisah kemerosotan moral di ps. 19 berkembang menjadi kekacauan
politik di ps. 20, dan berakhir pada disintegrasi sosial di ps.
21. Perpecahan yang telah terjadi membuat Israel memperlakukan
suku Benyamin sama seperti mereka memperlakukan bangsa Kanaan
(band. Im. 7:1-3).
Ketika di Betel, mereka baru menyadari dampak tindakan mereka
terhadap suku Benyamin (ayat 2). Perang saudara hanya menyisakan
600 laki-laki Benyamin. Jumlah yang sangat kecil. Ditambah lagi
ikrar mereka untuk tidak memberikan anak gadis mereka menjadi
istri suku Benyamin (ayat 1). Padahal 600 laki-laki yang tersisa
dari suku Benyamin, membutuhkan istri untuk menjaga kelangsungan
suku mereka. Mereka baru sadar kalau mereka terlalu gegabah
bersumpah, dan membuat suku Benyamin terancam punah.
Reaksi pertama kali adalah menyalahkan Allah atas situasi yang
terjadi (ayat 3). Padahal alasan sebenarnya adalah karena mereka
tidak mencari petunjuk Allah terlebih dahulu sebelum bertindak
(lih. Hak. 20:8-11). Baru kemudian saja mereka mencari kehendak
Allah lebih serius (ayat 4). Namun apa yang terjadi kemudian
tidak membuktikan pertobatan mereka. Bukan mengakui dosa karena
berlaku bodoh dalam membuat sumpah, Israel malah melakukan dua
perbuatan salah. Mereka mengambil gadis-gadis Yabesh-Gilead
dengan menumpas yang lain (ayat 10-14). Karena tindakan ini
masih belum menyelesaikan masalah, mereka menyuruh orang
Benyamin mengambil gadis-gadis Silo untuk dijadikan istri (ayat
19-23).
Bagai anak ayam kehilangan induk, demikianlah Israel dalam
menghadapi masalah. Ini terjadi karena mereka melakukan apa yang
benar menurut pandangan mereka sendiri. Kekacauan moral,
politik, sosial, dan kerohanian di Israel hanya dapat
diselesaikan bila mereka memahami bahwa mereka telah melupakan
Allah sebagai Raja mereka. Kiranya kita tidak mengulangi
kesalahan yang sama. Jangan bertindak hanya menurut apa yang
kita anggap benar. Pertanyakan juga, apakah itu sudah benar
menurut pandangan Allah.
Pengantar Kitab
I SAMUEL
Kisah 1 Samuel menyambung kisah di kitab Hakim-hakim. Eli (ayat
1Sam. 4:18) dan Samuel (ayat 1Sam. 7:15) adalah hakim-hakim
terakhir. Keduanya memiliki jabatan rangkap. Eli, memiliki
jabatan imam (ayat 1:9) sementara waktu kecil, Samuel disebut
pelayan Tuhan. Namun kelak Samuel disebut sebagai nabi (ayat
3:20). Sebenarnya, Samuel hidup pada masa transisi dari masa
hakim-hakim ke masa kerajaan. Dia diutus untuk mengurapi dua
raja pertama Israel, Saul dan Daud.
Kitab 1 Samuel kemudian memfokuskan kisahnya pada dua raja pertama.
Kisah Saul adalah suatu tragedi, diawali permulaan yang baik,
tetapi berakhir tragis. Sebaliknya, Daud mulai dengan tidak
signifikan. Sepertinya dia naik daun setelah keperkasaannya
meme-nangkan pertarungan melawan jago Filistin, Goliat. Namun
hidupnya kemudian adalah serentetan kisah pelarian dari
pengejaran dan usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Raja Saul,
yang dengki kepada dia. Akan tetapi, saat Saul semakin lama
semakin menurun, pamor maupun kesehatan mental dan rohaninya,
Daud justru semakin disukai rakyat banyak, serta memuncak pada
kisahnya sebagai raja Israel (ayat 2 Samuel). Separuh hidup Daud
kontras dengan hidup Saul.
Beberapa hal penting terjadi dalam kehidupan umat Tuhan yang dicatat
dalam kitab 1 Samuel. Pertama, ada pergeseran dalam sifat
kepemimpinan. Dari yang bersifat kharismatis, dengan Tuhan yang
mengangkat dan mengurapi hakim-hakim dari waktu ke waktu,
beralih kepada pemerintahan yang bersifat monarki, dengan raja
yang memang permulaannya dipilih dan diurapi Tuhan. Namun
kemudian diteruskan secara dinasti. Kedua, Allah membangkitkan
sistem kenabian sebagai lembaga yang berfungsi untuk mendampingi
dan kalau perlu mengoreksi lembaga ke-raja-an yang mudah
terjebak kepada otoritarian dan kediktaktoran. Para nabi
mendapat tugas dari Allah untuk mengingatkan umat Israel maupun
para pemimpin mereka agar tetap setia kepada Perjanjian Sinai.
Kitab 1 Samuel bersambung terus sampai kepada 2 Raja-raja,
membentuk kisah zaman kerajaan yang penuh dengan bukti kegagalan
umat Tuhan untuk setia pada perjanjian Sinai. Padahal Tuhan
tetap setia mengirimkan para nabi-Nya untuk menegur umat yang
tidak setia, serta mendorong pertobatan agar kembali kepada
Perjanjian Sinai.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Hakim 21:1-25
1. Orang-orang Israel telah bersumpah di Mizpa, demikian:
"Seorangpun dari kita takkan memberikan anaknya perempuan kepada
seorang Benyamin menjadi isterinya."
2 Ketika bangsa itu datang ke Betel dan tinggal di situ di
hadapan Allah sampai petang, maka merekapun menyaringkan suaranya
menangis dengan sangat keras,
3 katanya: "Mengapa, ya TUHAN, Allah Israel, terjadi hal yang
begini di antara orang Israel, yakni bahwa hari ini satu suku
dari antara orang Israel hilang?"
4 Keesokan harinya pagi-pagi maka bangsa itu mendirikan mezbah
di situ, lalu mempersembahkan korban bakaran dan korban
keselamatan.
5 Pada waktu itu berkatalah orang-orang Israel: "Siapakah dari
seluruh suku Israel yang tidak ikut datang dengan jemaah ini
untuk menghadap TUHAN?" Sebab mereka telah bersumpah dengan
sungguh-sungguh mengenai orang yang tidak datang menghadap TUHAN
di Mizpa, demikian: "Pastilah ia dihukum mati."
6 Orang-orang Israel merasa kasihan terhadap suku Benyamin,
saudaranya itu, maka kata mereka: "Hari ini ada satu suku
terputus dari orang Israel.
7 Apakah yang dapat kita lakukan kepada orang-orang yang
tinggal itu dalam hal mencarikan isteri, karena kitalah yang
bersumpah demi TUHAN untuk tidak memberikan seorangpun dari
anak-anak perempuan kita kepada mereka menjadi isterinya?"
8 Sebab itu berkatalah mereka: "Dari suku-suku Israel adakah
satu yang tidak datang menghadap TUHAN di Mizpa?" Lalu tampaklah,
bahwa dari Yabesh-Gilead tidak ada seorangpun yang datang ke
perkemahan jemaah itu.
9 Lalu diperiksa jumlah bangsa itu, dan tampaklah tidak hadir
seorangpun dari penduduk Yabesh-Gilead.
10 Maka perkumpulan itu menyuruh ke situ dua belas ribu orang
dari orang-orang gagah perkasa dengan memerintahkan kepada
mereka, demikian: "Pergilah, pukullah penduduk Yabesh-Gilead
dengan mata pedang, juga perempuan-perempuan dan anak-anak.
11 Tetapi perbuatlah begini: hanya semua laki-laki sajalah dan
semua perempuan yang telah pernah tidur dengan laki-laki harus
kamu tumpas."
12 Mereka menjumpai di antara penduduk Yabesh-Gilead empat
ratus orang anak gadis, perawan yang belum pernah tidur dengan
orang laki-laki, lalu gadis-gadis itu dibawa mereka ke perkemahan
di Silo, di tanah Kanaan.
13 Sesudah itu segenap umat itu menyuruh orang membawa pesan
kepada bani Benyamin yang ada di bukit batu Rimon, lalu
memaklumkan damai kepada mereka.
14 Pada waktu itu kembalilah suku Benyamin, dan kepada mereka
diberikan perempuan-perempuan yang telah dibiarkan hidup dari
antara perempuan Yabesh-Gilead; tetapi belum cukup juga jumlahnya
bagi mereka.
15 Maka bangsa itu merasa kasihan kepada suku Benyamin, karena
TUHAN telah membuat keretakan di antara suku-suku Israel.
16. Kemudian berkatalah para tua-tua umat itu: "Apakah yang
dapat kita lakukan kepada yang tinggal ini dalam hal mencarikan
isteri? Sebab perempuan-perempuan telah punah dari antara suku
Benyamin."
17 Lagi kata mereka: "Warisan orang-orang yang terluput itu
haruslah tetap tinggal pada suku Benyamin, supaya jangan ada suku
yang terhapus dari antara orang Israel.
18 Tetapi kita ini tidak dapat memberikan isteri kepada mereka
dari anak-anak perempuan kita." Sebab orang-orang Israel telah
bersumpah, demikian: "Terkutuklah orang yang memberikan isteri
kepada suku Benyamin!"
19 Lalu kata mereka pula: "Setiap tahun ada perayaan bagi TUHAN
di Silo yang letaknya di sebelah utara Betel, di sebelah timur
jalan raya yang menuju dari Betel ke Sikhem dan di sebelah
selatan Lebona."
20 Maka mereka berpesan kepada bani Benyamin, demikian:
"Pergilah menghadang di kebun-kebun anggur.
21 Perhatikanlah baik-baik; maka apabila anak-anak perempuan
Silo keluar untuk menari-nari, baiklah kamu keluar dari
kebun-kebun anggur itu, dan masing-masing melarikan seorang dari
anak-anak perempuan Silo itu menjadi isterinya dan pergi ke tanah
Benyamin.
22 Apabila ayah atau saudaranya laki-laki datang untuk
menuntutnya kepada kami, maka kami akan berkata kepada mereka:
Serahkanlah mereka itu kepada kami dengan rela hati, sebab dalam
pertempuran kita tidak dapat menangkap seorang perempuan untuk
menjadi isteri mereka masing-masing. Memang kamu ini tidak
memberikan anak-anak gadis itu kepada mereka; sebab seandainya
demikian, kamu bersalah."
23 Jadi bani Benyamin berbuat demikian; dari gadis-gadis yang
menari-nari yang dirampas itu mereka mengambil perempuan,
jumlahnya sama dengan jumlah mereka, kemudian pulanglah mereka ke
milik pusakanya lalu membangun kota-kotanya kembali dan diam di
sana.
24 Pada waktu itu pergilah orang Israel dari sana,
masing-masing menurut suku dan kaumnya; mereka masing-masing
berangkat dari sana ke milik pusakanya.
25 Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel;
setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.
|

7th June 2008
|
 |
I will NEVER let YOU go
|
|
Join Date: Jan 2007
Location: Indonesia
Posts: 1,541
|
|
e-Santapan Harian
Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Tanggal: Minggu, 8 Juni 2008
Ayat SH: 1Samuel 1:1-18
Judul: Saat menghadapi pergumulan
Dalam suatu fase hidupnya, seseorang pasti pernah mengalami
pergumulan berat, yang membuat ia sampai bertekuk lutut
menaikkan doa-doanya. Mungkin tatkala orang yang dia kasihi
sedang meregang nyawa karena sakit, atau karena kesulitan
ekonomi yang membuat dia sampai tidak bisa memberi makan
keluarganya.
Hana juga sedang mengalami pergumulan berat, sampai-sampai ia tidak
bisa dihiburkan siapapun. Apa masalahnya? Ia tidak bisa
mengandung dan melahirkan anak! Ini merupakan aib bagi seorang
istri dalam budaya patriarkat, seperti Israel. Elkana, suaminya,
menambah penderitaannya dengan ketidakmampuan mengerti perasaan
istri yang tertekan (ayat 8). Apalagi sikap merendahkan dari
madunya, Penina yang bisa memberikan keturunan bagi Elkana.
Pandangan yang berlaku dalam bangsa Israel pada masa itu,
kemandulan merupakan hukuman Tuhan atas seorang wanita. Itulah
kata-kata hinaan Penina kepada Hana (ayat 6-7). Lalu, apakah
benar Tuhan sedang menghukum Hana?
Saat kisah ini berlanjut, kita menyadari bahwa pandangan seperti ini
tidak benar. Memang Tuhan yang menutup kandungan Hana (ayat 5),
tetapi bukan dengan maksud menghu-kum. Di tengah kepedihan hati
tiada tara, Hana mengadukan nasibnya kepada Tuhan. Sengsara
memang bisa membuat orang mendekatkan diri pada Tuhan. Kalau
hidup lancar dan masalah tidak seberapa, betapa mudahnya kita
menganggap bahwa memang sudah seharusnya situasi itu yang
terjadi.
Melalui doa yang dipanjatkan dengan hati yang hancur, Tuhan memakai
Eli untuk menjawab pergumulan Hana. Hana terhibur karena ia tahu
bahwa Tuhan mendengar dan menjawab doanya. Namun buat kita,
jangan tunggu persoalan datang baru kita mencari Tuhan. Biasakan
diri mencari kehendak-Nya dan mengucap syukur atas semua hal
yang Tuhan sudah lakukan dalam hidup kita. Percayalah bahwa saat
Anda benar-benar bersandar kepada Tuhan, Dia dapat diandalkan
dan jawaban-Nya tidak mengecewakan!
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
1Samuel 1:1-18
1. Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan
Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf,
seorang Efraim.
2 Orang ini mempunyai dua isteri: yang seorang bernama Hana dan
yang lain bernama Penina; Penina mempunyai anak, tetapi Hana
tidak.
3 Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya
untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN
semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua
anak Eli, Hofni dan Pinehas.
4 Pada hari Elkana mempersembahkan korban, diberikannyalah
kepada Penina, isterinya, dan kepada semua anaknya yang laki-laki
dan perempuan masing-masing sebagian.
5 Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya
satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya.
6 Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar,
karena TUHAN telah menutup kandungannya.
7 Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana
pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia
menangis dan tidak mau makan.
8 Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: "Hana, mengapa
engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa
hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada
sepuluh anak laki-laki?"
9. Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di
Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang
pintu bait suci TUHAN,
10 dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis
tersedu-sedu.
11 Kemudian bernazarlah ia, katanya: "TUHAN semesta alam, jika
sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan
mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi
memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku
akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau
cukur tidak akan menyentuh kepalanya."
12 Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN,
maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu;
13 dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya
bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran,
maka Eli menyangka perempuan itu mabuk.
14 Lalu kata Eli kepadanya: "Berapa lama lagi engkau berlaku
sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu."
15 Tetapi Hana menjawab: "Bukan, tuanku, aku seorang perempuan
yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan
tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan
TUHAN.
16 Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila;
sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian
lama."
17 Jawab Eli: "Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan
memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya."
18 Sesudah itu berkatalah perempuan itu: "Biarlah hambamu ini
mendapat belas kasihan dari padamu." Lalu keluarlah perempuan
itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi.
|

8th June 2008
|
 |
I will NEVER let YOU go
|
|
Join Date: Jan 2007
Location: Indonesia
Posts: 1,541
|
|
e-Santapan Harian
Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Tanggal: Senin, 9 Juni 2008
Ayat SH: 1Samuel 1:19-28
Judul: Persembahan syukur
Bagaimana menyatakan syukur terdalam kita? Banyak orang mengira
asalkan memberi persembahan yang lumayan banyak, katakanlah
lebih dari sepuluh persen - bukankah persepuluhan itu kewajiban
minimal? - maka itu sudah sesuatu yang menunjukkan lebih dari
sekadar kewajiban. Tentu Tuhan senang dengan persembahan
demikian.
Seringkali kita salah mengerti konsep ucapan syukur dan makna
persembahan. Kita mengucap syukur karena Allah telah berkarya
dalam hidup kita dengan karya yang tidak bisa dibandingkan atau
dibalas dengan cara apapun. Baik karya-Nya terbesar, yaitu
keselamatan dalam Kristus, maupun berbagai kebaikan Tuhan yang
kita alami dalam perjalanan iman kita, semua itu adalah
anugerah. Maka ucapan syukur adalah pengakuan bahwa semua
berasal dari Allah, dan tidak ada satu hal pun yang boleh kita
klaim karena jasa atau kelayakan kita. Dengan sendirinya,
persembahan kita berikan bukan karena kebaikan kita melainkan
keluar dari hati yang tulus bersyukur atas kebaikan-Nya.
Itulah yang dilakukan Hana setelah Tuhan "mengingat" (ayat 19)
dirinya dan mengabulkan permintaannya. Ucapan syukur Hana
tercermin dari nama putranya, Samuel (ayat 20). Samuel adalah
pemberian Allah. Oleh karena itu sebagai persembahan syukur,
Samuel dipersembahkan untuk melayani Tuhan sekehendak-Nya (ayat
28). Inilah persembahan yang berkenan kepada-Nya: "seumur hidup
terserahlah ia kiranya kepada Tuhan."
Banyak keluarga melihat sikap Hana ini sebagai teladan untuk
mempersembahkan anak sulung sebagai hamba Tuhan. Tentu tidak
setiap anak sulung dari keluarga Kristen, Tuhan pilih dan
panggil untuk menjadi hamba-Nya secara khusus. Jauh lebih
penting bagi kita untuk melihat teladan Hana sebagai respons
yang tepat terhadap anugerah. Berikan yang terbaik, yang Tuhan
mau kita persembahkan sebagai ucapan syukur dan pengakuan, bahwa
semua yang kita miliki berasal dari Tuhan semata.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
1Samuel 1:19-28
19. Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud
menyembah di hadapan TUHAN; kemudian pulanglah mereka ke rumahnya
di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, TUHAN
ingat kepadanya.
20 Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan
seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab
katanya: "Aku telah memintanya dari pada TUHAN."
21 Elkana, laki-laki itu, pergi dengan seisi rumahnya
mempersembahkan korban sembelihan tahunan dan korban nazarnya
kepada TUHAN.
22 Tetapi Hana tidak ikut pergi, sebab katanya kepada suaminya:
"Nanti apabila anak itu cerai susu, aku akan mengantarkan dia,
maka ia akan menghadap ke hadirat TUHAN dan tinggal di sana
seumur hidupnya."
23 Kemudian Elkana, suaminya itu, berkata kepadanya:
"Perbuatlah apa yang kaupandang baik; tinggallah sampai engkau
menyapih dia; hanya, TUHAN kiranya menepati janji-Nya." Jadi
tinggallah perempuan itu dan menyusui anaknya sampai disapihnya.
24 Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia,
dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa
tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah
TUHAN di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu.
25 Setelah mereka menyembelih lembu, mereka mengantarkan
kanak-kanak itu kepada Eli;
26 lalu kata perempuan itu: "Mohon bicara tuanku, demi tuanku
hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku
untuk berdoa kepada TUHAN.
27 Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah
memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya.
28 Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup
terserahlah ia kiranya kepada TUHAN." Lalu sujudlah mereka di
sana menyembah kepada TUHAN.
|

9th June 2008
|
 |
I will NEVER let YOU go
|
|
Join Date: Jan 2007
Location: Indonesia
Posts: 1,541
|
|
e-Santapan Harian
Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Tanggal: Selasa, 10 Juni 2008
Ayat SH: 1Samuel 2:1-10
Judul: Ditinggikan vs direndahkan
Kemashyuran Tuhan bukan semata karena segala kebaikan yang Dia
perbuat atas umat-Nya, melainkan juga karena keadilan-Nya yang
Dia tegakkan melawan orang-orang yang tinggi hati. Itulah yang
menjadi pengalaman gereja dan anak-anak Tuhan sepanjang zaman.
Pujian Hana yang merayakan kebaikan Tuhan karena meninggikan mereka
yang rendah, lemah, dan terpinggirkan di mata dunia ini, bukan
hanya karena pengalaman pribadi-nya (ayat 1-3, 5). Pujian ini
menyingkapkan sifat dan cara Allah berkarya di dalam umat-Nya
dan melalui hamba-Nya. Allah adalah kudus, dapat menjadi tempat
bersandar, mahatahu, dan adil (ayat 2-3). Dia bertindak dalam
kemahakuasaan-Nya atas para pemimpin (ayat 4), atas perempuan
mandul (ayat 5), atas hidup dan mati (ayat 6), atas perbedaan
status yang dibuat oleh manusia berdosa (ayat 7-8), dan atas
para pelaku kejahatan (ayat 9).
Pujian Hana ini semacam nubuat akan hadirnya raja yang bertindak
atas nama Allah untuk menegakkan keadilan, mewujudkan
kedaulatan-Nya dengan menjungkirbalikkan kejahatan,
ketidakadilan, dan kebanggaan semu (ayat 10). Memang 1 Samuel
ini ditulis untuk memperlihatkan bagaimana Allah memegang
kendali atas sejarah umat-Nya. Bangsa Israel memang penuh
kelemahan. Bagi bangsa lain, Israel 'mandul', tidak menjadi
kesaksian apalagi menjadi imam bagi bangsa-bangsa kafir.
Sementara di dalamnya, ketidakadilan merajalela. Hanya Tuhan
yang bisa membalikkan arah sejarah yang berjalan keliru. Ia
melakukannya melalui hamba-Nya yang diurapi. Nubuat ini digenapi
lewat Raja Daud dan keturunannya dalam skala nasional. Namun
dalam skala dunia, peng-genapan datang lewat Mesias, yang akan
membawa keadilan dan keselamatan bagi bangsa-bangsa.
Allah berkarya dalam hidup anak-anak-Nya, bukan karena keperkasaan
ataupun kepintaran mereka. Sebaliknya, yang rendah di mata dunia
akan diberi-Nya kuasa untuk menegakkan Kerajaan-Nya yang bukan
berasal dari dunia ini, yaitu kerajaan yang adil dan sejahtera
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
1Samuel 2:1-10
1. Lalu berdoalah Hana, katanya: "Hatiku bersukaria karena
TUHAN, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN; mulutku
mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena
pertolongan-Mu.
2 Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain
kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita.
3 Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki
keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan
oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji.
4 Busur pada pahlawan telah patah, tetapi orang-orang yang
terhuyung-huyung, pinggangnya berikatkan kekuatan.
5 Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena
makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh
beristirahat. Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak,
tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu.
6 TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam
dunia orang mati dan mengangkat dari sana.
7 TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan
meninggikan juga.
8 Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat
orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama
dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan.
Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh
daratan.
9 Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya,
tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, sebab
bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa.
10 Orang yang berbantah dengan TUHAN akan dihancurkan; atas
mereka Ia mengguntur di langit. TUHAN mengadili bumi sampai ke
ujung-ujungnya; Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkat-Nya
dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapi-Nya."
|
|