Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | IM LIST | BOOKMARK US | HELP GUIDE | LANGUAGE:


Go Back   Forum Diskusi Kristen Internasional > AP - LOUNGE > Warung Kopi
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #1 (permalink)  
Old 1st July 2004
GarnettaANGEL's Avatar
Peri kecil
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 1,063
GarnettaANGEL is an unknown quantity at this pointGarnettaANGEL is an unknown quantity at this point
Send a message via Yahoo to GarnettaANGEL
Default Nice STORY

Ita buat thread ini biar kita2 bisa berbagi crita2 bagus yang pernah kita baca, yang setidaknya juga mampu memberi "pencerahan" bagi kata....
Tolong di isi yaaa....

Trima Kasiiiiiih....
__________________
For People Who Like Helping People
Reply With Quote
  #2 (permalink)  
Old 1st July 2004
GarnettaANGEL's Avatar
Peri kecil
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 1,063
GarnettaANGEL is an unknown quantity at this pointGarnettaANGEL is an unknown quantity at this point
Send a message via Yahoo to GarnettaANGEL
Default

Sebuah cerita dapat menerangi hubungan kita dengan orang lain, mendorong tumbuhnya rasa kasih, menciptakan perasaan takjub dan mendukung konsep “Kita semua mengalami hidup bersama-sama.”
Sebuah cerita dapat membuat kita merenungkan “Mengapa kita ada disini…”
Sebuah cerita dapat mengejutkan kita hingga kita mengenali kebenaran yang baru, menawarkan sudut pandang baru, dan suatu cara baru dalam/untuk memandang jagad raya ini. (Ruth Stotter)
__________________
For People Who Like Helping People
Reply With Quote
  #3 (permalink)  
Old 1st July 2004
GarnettaANGEL's Avatar
Peri kecil
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 1,063
GarnettaANGEL is an unknown quantity at this pointGarnettaANGEL is an unknown quantity at this point
Send a message via Yahoo to GarnettaANGEL
Default Kasih

“Di suatu Koran Itali, muncullah berita pencarian orang yang istimewa 17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli (nama kota, tak tahu aku bener ga nulisnya), seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang kulit hitam. Tak lama kemudian,sang wanita melahirkan seorang bayi perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja menanggung tanggung jawab untuk memelihara anak ini. Sayangnya,sang bayi kini menderita leukemia (kanker darah). Dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera. Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Berharap agar pelaku pada waktu itu saat melihat berita ini, bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth. “
Berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya.Masalahnya adalah apakah orang hitam ini berani muncul? Padahal jelas ia akan menghadapi kesulitan besar. Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah hukum, dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika ia tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang tak terampuni. Kisah ini akan berakhir bagaimanakah ?
Seorang anak perempuan yang menderita leukimia ternyata menyimpan suatu kisah yang memalukan di suatu perkampungan Itali.Martha, 35 thn, adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia dan suaminya Peterson adalah warga kulit putih, tetapi diantara kedua anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik perhatian setiap orang disekitar mereka untuk bertanya. Martha hanya tersenyum kecil berkata pada mereka bahwa nenek mereka berkulit hitam, dan kakeknya berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan seperti ini
Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami demam tinggi. Terakhir, Dr.Adely memvonis Monika menderita leukimia. Harapan satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang belakang yang paling cocok untuknya.Dokter menjelaskan lebih lanjut.
Diantara mereka yang ada hubungan darah dengan Monika merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan pedonor tercocok. Harap seluruh anggota keluarga kalian berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang.
Raut wajah Martha berubah, tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani pemeriksaan. Hasilnya tak satupun yang cocok.Dokter memberitahu mereka, dalam kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok sangatlah kecil kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, yaitu Martha dan suaminya kembali mengandung anak lagi. Dan mendonorkan darah anak untuk Monika. Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi panik, dan berkata tanpa suara “Tuhan..kenapa menjadi begini ?”
Ia menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa. Peterson mengerutkan keningnya berpikir, Dr. Adely berusaha menjelaskan pada mereka, saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukimia, lagi pula cara ini terhadap bayi yang baru dilahirkan sama sekali tak ada pengaruhnya. Hal ini hanya didengarkan oleh pasangan suami istri tersebut, dan termenung begitu lama. Terakhir mereka hanya berkata, Biarkan kami memikirkannya kembali.
Malam kedua, Dr. Adely tengah bergiliran tugas, tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka, pasangan suami-istri tersebut.Martha menggigit bibirnya keras, suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata serius pada dokter. Kami ada suatu hal yang perlu memberitahumu. Tapi harap Anda berjanji untuk menjaga kerahasiaan ini, karena ini merupakan rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun. Dr.Adely menganggukkan kepalanya.
Itu adalah 10 tahun lalu, bulan 5 1992. Waktu itu anak kami yang pertama, Eleana telah berusia 2 tahun. Martha bekerja di sebuah restoran fast food.Setiap hari pukul 10 malam baru pulang kerja. Malam itu, turun hujan lebat. Saat Martha pulang kerja, seluruh jalanan telah tiada orang satupun. Saat melalui suatu parkiran yang tak terpakai lagi. Martha mendengar suara langkah kaki. Dengan ketakutan memutar kepala untuk melihat, seorang remaja berkulit hitam tengah berdiri di belakang tubuhnya. Orang tersebut menggunakan sepotong kayu, memukulnya hingga pingsan, dan memperkosanya. Saat Martha sadar, dan pulang ke rumah dengan tergesa-gesa, waktu telah menunjukkan pukul 1 malam. Waktu itu aku bagaikan gila keluar rumah mencari orang hitam itu untuk membuat perhitungan. Tapi telah tak ada bayangan orang satupun. Malam itu kami hanya dapat memeluk kepala masing-masing menahan kepedihan. Sepertinya seluruh langit runtuh.
Bicara sampai sini, Peterson telah dibanjiri air mata, Ia melanjutkan kembali. Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat ketakutan, kuatir bila anak yang dikandungnya merupakan milik orang hitam tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku masih mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi kami. Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan.Maret 1993, Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti asuhan. Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih lagi bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah nyawa.
Aku dan Martha merupakan warga Kristen yang taat, pada akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama Monika.
Mata Dr.Adely juga digenangi air mata, pada akhirnya ia memahami kenapa bagi kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal yang sangat mengkuatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukkan kepala berkata, “Memang jika demikian, kalian melahirkan 10 anak sekalipun akan sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk Monika.”
Beberapa lama kemudian, ia memandang Martha dan berkata, “ Kelihatannya, kalian harus mencari ayah kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnya, atau sumsum tulang belakang anaknya ada yang cocok untuk Monika.Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian?”
Martha berkata : "Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya.
Dr.Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu. Berita pencarian yang istimewa ini mengakibatkan banjir pedonor sumsum tulang belakang.
Terlebih lagi lewat waktu begitu lama, mau mencari sang pemerkosa dimana Martha dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya memutuskan memuat berita pencarian ini di koran dengan menggunakan nama samaran.
November 2002, di Koran Wayeli termuat berita pencarian ini. Seperti yang digambarkan sebelumnya, berita ini memohon sang pelaku pemerkosaan waktu itu berani muncul, demi untuk menolong sebuah nyawa seorang anak perempuan penderita leukimia !
Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan. Kotak surat dan telepon Dr. Adely bagaikan meledak saja, karena kebanjiran surat masuk dan telepon. Orang-orang terus bertanya siapakah wanita ini. Mereka ingin bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan padanya. Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap.
Saat ini juga seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini berakhir.
(Surat kabar Roma) berkomentar dengan topik : Orang hitam itu akan munculkah? Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita sekarang menilainya? Akankah menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya? Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk masa lalunya? Ataukah ia harus menerima pujian karena keberaniannya hari ini ?
(Surat kabar Wayeli) manulis topik : Bila Anda orang berkulit hitam itu, apa tindakan yang Anda lakukan? sebagai bahan diskusi. Dan menarik berbagai pendapat akan sulitnya berada di dua pilihan ini.
Bagian penjara setempat terus berupaya membantu Martha, memberikan laporan terpidana hukuman pada tahun 1992 pada RS. Dikarenakan jumlah orang berkulit hitam di kota ini hanya sedikit, maka dalam 10 tahun terakhir ini juga hanya sedikit jumlah terhukum berkulit hitam. Mereka berkata pada Martha : “Sekalipun beberapa orang bukanlah terhukum karena tindak perkosaan, tapi mungkin beberapa juga menemui hal seperti ini.”
Beberapa orang ini juga sebagian telah keluar penjara, sebagian lainnya masih berada di dalam penjara. Martha dan Peterson menghubungi beberapa orang ini, begitu banyak terpidana waktu itu yang bersungguh-sungguh dan antusias untuk memberikan petunjuk. Tapi sayangnya, mereka semua bukanlah orang hitam yang memperkosanya waktu itu.
Tak lama kemudian, kisah Martha menyebar ke seluruh rumah tahanan, tak sedikit terpidana yang tergerak karena kasih ibu ini, tak peduli mereka berkulit hitam maupun berkulit putih, mereka semua bersukarela mendaftar untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, berharap dapat mendonorkannya untuk Monika. Tapi tak satupun pedonor yang memenuhi kriteria di antara mereka.
Berita pencarian ini mengharukan banyak orang, tak sedikit orang yang bersukarela untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, untuk mengetahui apakah dirinya memenuhi kriteria. Para sukarelawan semakin lama semakin bertambah, di Wayeli timbullah wabah untuk mendonorkan sumsum tulang belakang.
Hal yang mengejutkan adalah kesediaan para sukarelawan ini menyelamatkan banyak penderita leukimia lainnya, sayangnya Monika tak termasuk diantara mereka yang beruntung. Martha dan Peterson menantikan dengan panik kemunculan si kulit hitam. Akhirnya dua bulan telah lewat, orang ini tak muncul-muncul juga. Dengan tidak tenang, mereka mulai berpikir, mungkin orang hitam itu telah meninggalkan dunia ini? Mungkin ia telah meninggalkan jauh-jauh kampung halamannya dan sudah sejak lama tak berada di Itali? Atau mungkin juga ia tak bersedia merusak kehidupannya sendiri, tak ingin muncul ?
Tapi tak peduli bagaimanapun, asalkan Monika hidup sehari lagi, mereka tak rela untuk melepaskan harapan untuk mencari orang hitam itu. Karna mereka yakin, bahwa disaat sebuah jiwa merana tak menentu dan keputusasaan melanda, setitik harapan pasti akan kembali muncul.
Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, dan telah memporakporandakan perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia seorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki lembaran tergelap dan merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu. Ia adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorang pun akan menyangka, Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring panggilan. Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak ia masih muda, ia yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja sejak dini. Ia yang begitu pandai dan cekatan, berharap dirinya sendiri bekerja dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari orang lain. Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu mendiskriminasikannya. Tak peduli segiat apapun dirinya, selalu memukul dan memakinya. 17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang kerja lebih awal merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, ditengah kesibukan ia memecahkan sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran. Ditengah kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih. Malam berhujan lebat, tiada seorangpun lewat, dan di parkiran ia bertemu Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian, ia pun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini.
Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu juga ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju Napulese, meninggalkan kota ini. Di Napulese, ia bertemu keberuntungannya. Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar di restoran milik orang Amerika. Kedua pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi kemampuannya, dan menikahkannya dengan anak perempuan mereka, Lina, dan pada akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola toko mereka. Beberapa tahun ini, ia yang begitu tangkas, tak hanya memajukan bisnis toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu.
Dimata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang baik, suami yang baik, ayah yang baik. Tapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya.
Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi wanita yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup damai dan tentram. Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorangpun. Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. Sedikitpun ia tak pernah membayangkan bahwa wanita malang itu mengandung anaknya, bahkan menanggung tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya bukanlah miliknya.
Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi no.Telepon Dr.Adely. Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, ia telah menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya ini. Anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan kehilangan keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akan kehilangan penghormatan masyarakat disekitarnya. Semua yang ia dapatkan dengan ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun.
Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha. Sang istri, Lina berkata : "Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku diposisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian".
Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan : “Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu?”
“Sedikitpun aku tak akan memaafkannya!! Waktu itu ia sudah membuat kesalahan, kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut!! Ia benar-benar seorang pengecut!!!” demikian istrinya menjawab dengan dipenuhi api kemarahan.
Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan kenyataan pada istrinya. Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel tak bersedia tidur, untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata : "Kau ayah yang jahat, aku tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi ayahku!"
Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya, ia pun memeluk erat-erat sang anak dan berkata : "Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang salah, maafkan papa ya…" Sampai sini, Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru berkata padanya untuk menenangkan ayahnya : "Baiklah, kumaafkan. Guru TK ku bilang, anak yang baik adalah anak yang mau memperbaiki kesalahannya.“
Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Dimatanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras itu, dan bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit tangis wanita itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri : "Aku ini sebenarnya orang baik, atau orang jahat?"
Mendengar bunyi napas istrinya yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri. Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan adanya ketidakberesan pada dirinya, memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah Dan ia mencari alasan tak enak badan untuk meloloskan dirinya. Pagi hari di jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah : "Selamat pagi, manager !" Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu.Ia merasa dirinya hampir menjadi gila saja rasanya.
Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat lagi terus diam saja, ia pun menelepon Dr. Adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang : "Aku ingin mengetahui keadaan anak malang itu.”
Dr. Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr.Adely menambahkan kalimat terakhirnya berkata : "Entah apa ia dapat menunggu hari kemunculan ayah kandungnya.”
Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam. Suatu perasaan hangat sebagai sang ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri! Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika. Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini. Malam hari itu juga, ia pun mengobarkan keberaniannya sendiri untuk memberitahu sang istri tentang segala rahasianya. Terakhir ia berkata : "Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah Monika Aku harus menyelamatkannya!”
Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak marah : "Kau PEMBOHONG!!!"
Malam itu juga ia membawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah ayah ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan kedua suami-istri tersebut dengan segera mereda. Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka menasehatinya : "Memang benar, kita patut marah terhadap segala tingkah laku Ajili di masa lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia dapat mengulurkan dirinya untuk muncul, perlu berapa banyak keberanian besar. Hal ini membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur. Apakah kau mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tapi kini bersedia memperbaiki dirinya Ataukah seorang suami yang selamanya menyimpan kebusukan ini didalamnya ?"
Mendengar ini Lina terpekur beberapa lama. Pagi-pagi di hari kedua, ia langsung kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan, Lina menetapkan hatinya berkata : "Ajili, pergilah menemui Dr. Adely ! Aku akan menemanimu !"
3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr. Adely.
8 Februari, pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika. Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya berani memunculkan dirinya, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu. Segalanya berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi pasangan Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan keadaan sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung Monika telah ditemukan.
Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini. Mereka terus-menerus menelepon, menulis surat pada Dr. Adely, memohon untuk dapat menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus penghormatan mereka padanya. Mereka berpendapat : "Barangkali ia pernah melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan !"
10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat bertemu muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk menemui mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, iapun menyetujui hal ini.
18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu langsung dengan Ajili. Ajili baru saja memangkas rambutnya, saat ia melihat Marth, langkah kakinya terasa sangatlah berat, raut wajahnya memucat. Martha dan suaminya melangkah maju, dan mereka bersama-sama saling menjabat tangan masing-masing, sesaat ketiga orang tersebut diam tanpa suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya air mata mereka bersama-sama mengalir. Beberapa waktu kemudian, dengan suara serak Ajili berkata : "Maaf...mohon maafkan aku! Kalimat ini telah terpendam dalam hatiku selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya langsung kepadamu.”
Martha menjawab : "Terima kasih Kau dapat muncul. Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum tulang belakangmu dapat menolong putriku."
19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili. Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika Sang dokter berkata dengan antusias : "Ini suatu keajaiban !"
22 Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika telah melewati masa kritis .Satu minggu kemudian, Monika boleh keluar RS dengan sehat walafiat. Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundang Ajili dan Dr. Adely datang kerumah mereka untuk merayakannya. Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr. Adely membawa suratnya bagi mereka. Dalam suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya, dan berkata : "Aku tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian menghadapi kesulitan bagaimanapun, harap hubungi aku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian. Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan untuk menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia di saparoh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku !”
__________________
For People Who Like Helping People
Reply With Quote
  #4 (permalink)  
Old 2nd July 2004
Pilgrimage's Avatar
AP - Newbie
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 1,114
Pilgrimage is an unknown quantity at this pointPilgrimage is an unknown quantity at this point
Default

sori nich garnet,, tp koq ceritanya panjang buanggett yach???
__________________

"religions are as many as people are"
lupa ngutip perkataan siapa, but i do agree...

buku Milad Hana bagus lho,
"Menyongsong yang lain, membela pluralisme".

-long live spirit of poeticsm-
nih thread baru ttg puisi tak buat!

"Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila.
Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama."
-Richard Dawkins-
Reply With Quote
  #5 (permalink)  
Old 2nd July 2004
GarnettaANGEL's Avatar
Peri kecil
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 1,063
GarnettaANGEL is an unknown quantity at this pointGarnettaANGEL is an unknown quantity at this point
Send a message via Yahoo to GarnettaANGEL
Default

Hehehe.. abis dapetnya emang dah bgitu, so mo digimanain lagi Ntar kalo dipotong2 critanya bisa ga nyambung lagi.. ;p
__________________
For People Who Like Helping People
Reply With Quote
  #6 (permalink)  
Old 2nd July 2004
GarnettaANGEL's Avatar
Peri kecil
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 1,063
GarnettaANGEL is an unknown quantity at this pointGarnettaANGEL is an unknown quantity at this point
Send a message via Yahoo to GarnettaANGEL
Default Farewell Party

Hallo...
Ita baru dapet crita ini dari teman via email. Setelah dibaca kayaknya bagus juga untuk dibagi2 ke kalian biar kita smua bisa hati2 juga..

Saya mau bagi2 peristiwa nyata, semoga menjadi berkat bagi kita semua. Kita semua pasti pernah ikutan atau menyaksikan secara ga langsung sebuah permainan nyeburin temen ke kolam yg umumnya dilakukan di akhir suatu acara.
Mungkin di acara farewell party, kelulusan, dll. Orang yg jadi korban seringnya dipaksa, bukan atas kerelaan hati nyeburin diri sendiri ke kolam. Karena suasana penuh canda kita jadi menghiraukan segi keselamatan si korban. Peristiwa ini dialami oleh seorang cewek yang sedang merayakan farewell party di sebuah universitas Teologia di Jawa tengah. Tinggal besok dia diwisuda, tapi nasib berkehendak lain. Awalnya cuma becanda, dia jadi korban permainan lempar temen ke kolam. Biasalah, ada paksaan karena siapa juga sih yang mau basah2an apalagi malam2. Ntar kalo masuk angin bisa2 ngga jadi diwisuda besokannya. Ini cewek diangkat rame2 sama temen2nya (cowok semua). Di perjalanan menuju kolam beberapa kali si cewek terjatuh karena yang megang tangan dan kakinya terlepas. Si cewek jatuh dan mendarat dengan bokongnya dan yg kedua mendarat dengan kepalanya.
Saat terjatuh yang ke-2 kalinya itu si cewek udah pingsan. Tapi karena nggak ada yg sadar, tetep saja cewek itu diceburin ke kolam. Setelah agak lama, baru yang lain sadar bahwa cewek itu pingsan karena nggak bertindak apa2 di dalam kolam.
Hasil rumah sakit menyatakan tulang ekor cewek itu retak akibat jatuh pertama yg akibatnya dia harus menderita kebutaan, dan karena jatuh yg kedua kali, dia mengalami gegar otak yang cukup serius. Selain buta, dia juga jadi lumpuh. Dan ternyata dia juga mengalami lepasnya persendian bahu yang mungkin terjadi karena adanya paksaan saat digiring dan dilempar ke kolam.
Ternyata permainan itu mengerikan juga yaa dampaknya. Apalagi bisa2nya kejadian di sekolah Teologia.
Dan bagi kaum muda, semoga email ini bisa jadi bahan renungan yang baik. Jangan pernah menganggap remeh suatu permainan fisik. Jangan sampai karena mengikuti tren dan nafsu keisengan membuat salah satu pihak menderita seumur hidup. Kita ngga pernah tau apa yg kita kerjain itu bener/aman, salah/berbahaya pada saat emosi kita sedang terbawa suasana
Sampai berita ini diketik, pihak keluarga masih berupaya menuntut para pelaku ke meja hijau. Jangan sampai kita menjadi pelaku yang berikutnya menghadap pengadilan. Cewek yang jadi korban ini adalah sepupu dari rekan kerja temen saya di Semarang.
__________________
For People Who Like Helping People
Reply With Quote
  #7 (permalink)  
Old 3rd July 2004
GarnettaANGEL's Avatar
Peri kecil
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 1,063
GarnettaANGEL is an unknown quantity at this pointGarnettaANGEL is an unknown quantity at this point
Send a message via Yahoo to GarnettaANGEL
Default Cara British Airways menghadapi RASIALISME

(This is a true story)
Kejadian di bawah ini berlangsung dalam penerbangan British Airways antara Johannesburg dan London. Seorang wanita kulit putih Afrika Selatan berusia
sekitar 50 tahunan duduk di samping seorang pria berkulit hitam. Hal ini agaknya mengganggu wanita ini sehingga dia memanggil pramugari.
"Nyonya, ada masalah apa?", tanya parmugari .
"Anda tidak melihat apa yang terjadi?" tanya wanita itu. "Anda menempatkan saya di samping pria berkulit hitam. Saya keberatan duduk di samping orang yang tergolong menjijikan seperti itu. Berikan saya kursi pengganti.”
"Tolong tenang dulu," jawab sang pramugari. "Hampir semua kursi dalam pesawat ini telah terisi. Akan saya lihat dulu kalau-kalau masih ada kursi yang kosong.”Pramugari itu pun berlalu dan kembali lagi beberapa menit kemudian .
"Nyonya, seperti yang telah saya perkirakan, tidak ada lagi kursi kosong dikelas Ekonomi. Saya sudah berbicara dengan Kapten dan dia bilang kalau masih ada satu kursi kosong di kelas bisnis. Juga ada satu kursi kosong di kelas utama (First Class)."Sebelum wanita itu berkata apa-apa, pramugari itu pun melanjutkan kata-katanya: "Perusahaan kami biasanya tidak memperbolehkan penumpang dari kelas Ekonomi untuk duduk di kelas Utama. Namun, dalam situasi semacam ini, Kapten merasa bahwa akan sangat memalukan membiarkan seorang penumpang duduk di samping penumpang lain yang begitu menjijikan."Pramugari itu lalu berpaling kepada pria berkulit hitam itu dan berkata :
"Karena itu Pak, jika Anda berkenan, silakan kemasi bawaan Anda, dan pindahlah ke bagian kelas utama," ujar Pramugari itu sambil tersenyum manis.
Seketika itu juga, penumpang lain yang masih terkejut oleh apa yang baru saja terjadi, serentak berdiri dan memberi tepuk tangan penghormatan.
Sebuah cara jitu untuk memerangi RASIALISME baru saja ditunjukkan oleh British Airways.
__________________
For People Who Like Helping People
Reply With Quote
  #8 (permalink)  
Old 6th July 2004
GarnettaANGEL's Avatar
Peri kecil
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 1,063
GarnettaANGEL is an unknown quantity at this pointGarnettaANGEL is an unknown quantity at this point
Send a message via Yahoo to GarnettaANGEL
Default Bu, Apa ibu orang kaya??

Mereka berdesakan di depan pintu luar__dua anak dengan jaket kedodoran yang sudah rombeng.
“Ada Koran bekas, bu?”
Aku sedang sibuk. Aku ingin menolak__tapi kulihat kaki mereka. Sandal kecil mereka tipis dan basah karena salju. “Masuklah. Saya akan bikinkan kalian susu coklat panas.” Kami tak bicara. Sandal mereka yang basah meninggalkan bekas di lantai.
Aku membuatkan mereka susu coklat dan roti dengan selai untuk membentengi diri mereka terhadap rasa dingin di luar. Lalu aku kembali ke dapur dan meneruskan anggaran rumag tanggaku ...
Kesunyian dalam ruang depan terdengar olehku. Aku melongok ke dalam.
Si anak perempuan memegang cangkir kosongnya di kedua tangannya, menatapnya. Si anak lelaki bertanya dengan suara datar, “Bu…Ibu orang kaya, ya?”
“Saya orang kaya? Wah, bukan!” aku menoleh pada kain-kain sarung bantal yang lusuh.
Si anak perempuan menaruh kembali cangkirnya ke atas lepek__dengan hati-hati. “Cangkir punya Ibu satu set dengan lepeknya.” Suaranya terdengar iba, akibat rasa lapar yang bukan berasal dari perut.
Mereka lalu pergi, memeluk ikatan Koran mereka untuk melawan angin.
Mereka tidak mengucapkan terima kasih. Mereka tidak perlu melakukannya, karena mereka sudah melakukan lebih dari itu.
Cangkir dan piring tembikar biru sederhana, tapi satu set.
Aku mencicipi kentang dan mengaduk kaldu.
Kentang dan kaldu coklat, atap tempat bernaung, suami yang memiliki pekerjaan tetap__semua ini satu set juga.
Aku memindahkan kursi-kursi menjauhi perapian dan membersihkan ruang tamu. Jejak Lumpur sandal kecil itu masih basah pada perapian. Aku membiarkannya. Aku ingin jejak itu tetap ada kalau-kalau aku akan lupa lagi bahwa aku ini sebenarnya AMAT KAYA ... (Marion Doolan).
__________________
For People Who Like Helping People
Reply With Quote
  #9 (permalink)  
Old 15th July 2004
Footwasher's Avatar
Sahabatmu
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 2,044
Footwasher is an unknown quantity at this pointFootwasher is an unknown quantity at this point
Default

Orang Amerika, menurut penelitian, lebih menyukai jawaban yang pasti. Bila ya katakan ya, dan bila tidak katakan tidak. Ya atau Tidak. Tolong jangan kasih warna abu-abu.

Di Indonesia, ada sebuah istilah sehari-hari yang dengan manis menjadi penghubung antara kebutuhan hitam dan putih. BELUM adalah istilahnya. Sebuah kata yang indah yg mencakup kemungkinan yg terus berlangsung.

"Bisakah Anda berbahasa Inggris?" "Belum"
"Apakah Anda mempunyai anak?" "Belum"
Apakah Anda tahu apa makna hidup ini?" "Belum"

Akan dianggap tidak sopan dan sini bila berkata "Tidak" secara langsung.
Hal ini membawa kita ke beberapa kejadian lucu. "Apakah taksi itu terbakar?" "Belum"

Bisa jadi. Mungkin. Barangkali. Bukan ya atau tidak, adalah tepi-tepi yg lembut diperbolehkan dalam perjalanan bus besar petualangan manusia.

Apakah dunia ini adalah dunia yang terbaik yang mungkin bisa dicapai? Belum.
Apakah dunia sedang kiamat? Belum
Akankah kita hidup bahagia selamanya? Belum.


Belum. Not yet.



One love,
Footy
__________________
My right to post information is protected under the constitutional rights for freedom. Any use of the collective descriptions and shared knowledge from any of my posts are at the sole discretion of the reader.



All of your "Thanks" are greatly appreciated!
Reply With Quote
  #10 (permalink)  
Old 23rd July 2004
pirlouit's Avatar
Pilihlah aku jadi pacarmu
 
Join Date: Jun 2004
Age: 29
Posts: 731
pirlouit is an unknown quantity at this pointpirlouit is an unknown quantity at this point
Send a message via Yahoo to pirlouit
Default

Mountain Story


"A son and his father were walking on the mountains.
Suddenly, his son falls, hurts himself and screams: "AAAhhhhhhhhhhh!!!"
To his surprise, he hears the voice repeating, somewhere in the
mountain: "AAAhhhhhhhhhhh!!!"


Curious, he yells: "Who are you?"
He receives the answer: "Who are you?"


And then he screams to the mountain: "I admire you!"
The voice answers: "I admire you!"


Angered at the response, he screams: "Coward!"
He receives the answer: "Coward!"


He looks to his father and asks: "What's going on?"
The father smiles and says: "My son, pay attention."


Again the man screams: "You are a champion!"
The voice answers: "You are a champion!"


The boy is surprised, but does not understand.
Then the father explains: "People call this ECHO, but really this is
LIFE.
It gives you back everything you say or do.
Our life is simply a reflection of our actions.


If you want more love in the world, create more love in your heart.
If you want more competence in your team, improve your competence.


This relationship applies to everything, in all aspects of life;
Life will give you back everything you have given to it."


YOUR LIFE IS NOT A COINCIDENCE. IT'S A REFLECTION OF YOU!"
__________________
Have no fear of perfection - you'll never reach it.

Reply With Quote
  #11 (permalink)  
Old 26th July 2004
GarnettaANGEL's Avatar
Peri kecil
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 1,063
GarnettaANGEL is an unknown quantity at this pointGarnettaANGEL is an unknown quantity at this point
Send a message via Yahoo to GarnettaANGEL
Default Bosan Hidup

Seorang pria mendatangi Sang Master, "Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati."
Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." kata sang Master.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"
"Ya, memang saya sudah bosan hidup."
"Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati. Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh Master edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! ……
Tinggal 1malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget!
Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki dikupingnya, "Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, dan akhirnya berkata, “Selama ini mungkin aku salah, Maafkan aku, sayang." Ia hanya tersenyum.
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu."
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami."
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi,
"Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, juga kesombonganmu. Jadilah lembut selembut air, dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Dan itulah jalan menuju ketenangan."
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!!!

Hidup? bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul, tapi merupakan suatu anugrah untuk dinikmati...
__________________
For People Who Like Helping People
Reply With Quote
  #12 (permalink)  
Old 28th July 2004
GarnettaANGEL's Avatar
Peri kecil
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 1,063
GarnettaANGEL is an unknown quantity at this pointGarnettaANGEL is an unknown quantity at this point
Send a message via Yahoo to GarnettaANGEL
Default Gadis Misterius di Sumur Tua

Udah pernah nonton film 'The Ring' (yang versi aslinya – versi Jepang) ?!
Katanya sih ...... film itu diilhami kisah nyata yang terjadi belasan tahun lalu di Jepang. Dan serunya, sampai saat ini ...... konon si 'Gadis Misterius di Sumur
Tua' itu masih sering menampakkan diri. Seperti yang diceritakan seorang saksi mata dibawah ini.
(cerita asli dalam bahasa Jepang, telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia)

Kami hidup di desa terpencil yang jauh dari hingar bingar kota. Saya Daijiro, malam itu berkumpul bersama 3 orang teman laki-laki. Kami merayakan ulang tahun Watanabe, seorang teman saya yang baru pulang dari Tokyo.
Saat itu jam menunjukkan pukul 01:30, bar tempat kami minum-minum
sudah hendak tutup; Maka kami memutuskan untuk melanjutkan ngobrol dirumah Shinosuke, yang paling dekat. Dan kamipun berjalan menuju kesana. Semua penduduk desa sepertinya telah terlelap tidur diselimuti kabut musim dingin.
Kira-kira 500 meter menjelang rumah Shinosuke ...... Kami melewati sebuah sumur tua ...... ! Tiba-tiba kami dikagetkan suatu hal yang sangat mengerikan ......!!!
Tiba-tiba muncul seorang gadis berpakaian putih panjang dengan berlumur banyak darah ..... Sekujur tubuh dan kepala gadis itu penuh berlumuran darah segar.......!
Kami berempat tak sanggup berbuat apa-apa ..... kami hanya tertegun ketakutan .... !!
Tak sanggup lari karena dicekam ngeri ....... bahkan tak sanggup bergerak atau bersuara !!!
Tetapi, gadis itu ternyata hanya berlalu ...... melewati kami berempat dan terus berjalan menuju sumur tua itu....... Tak berselang berapa lama gadis itu lenyap ...... masuk ke dalam sumur tua tersebut ......
Tapi, meskipun gadis itu sudah tak terlihat ..... kami berempat masih tetap tertegun ....... tak bisa berkata sepatah pun, dan kami hanya bisa saling memandang.
Belum sempat kami menenangkan diri ...... selang 1-2 menit kemudian kami kembali dicekam kengerian .......!!!
Gadis misterius itu terlihat keluar dari dalam sumur tua ......!!!
Hanya saja kali ini dengan pakaiannya yang putih panjang tanpa lumuran darah seperti tadi. Tapi wajah gadis misterius itu tetap tampak pucat dan mengerikan .....
Kali ini gadis itu memandang kepada kami berempat ......
Dan tanpa bersuara dia berjalan menghampiri kami berempat. Kami dicekam perasaan aneh dan ngeri yang amat sangat ....... saya sendiri merasa seolah darah di sekujur tubuh saya berhenti mengalir .... !!!
Otak saya memerintahkan tubuh saya untuk lari .... !!! Tapi tubuh ini sama sekali tak sanggup bereaksi untuk menggerakkan kaki saya ...... rasanya seluruh tubuh tak bisa bergerak !!!
Dengan dicekam kengerian luar biasa ...... saya melihat gadis misterius itu makin mendekat. Makin mendekat ...... dan akhirnya kami saling berhadapan, kira-kira kurang dari 2 meter. Saya merasa bahwa saya hampir pingsan saat itu ......
Ketika si gadis menyeringai ........ Meskipun gadis itu tidak bertaring (seperti hantu di film-film horor) ..... tapi saya merasa bahwa wajahnya saat itu jauh lebih mengerikan
dari Dracula yang pernah saya tonton di film .... !!!
Kami berempat sudah benar-benar tercekam rasa ngeri ....... Kami sama sekali tidak sanggup bergerak ..... bahkan bersuara ..... dan sepertinya hanya bisa pasrah apapun yang akan terjadi ......
Kemudian ......
Kami seolah tak percaya ...... si gadis berkata :







"Rinso memang Hebaaaaatttttt-ne ........ Haik !!!"
__________________
For People Who Like Helping People
Reply With Quote
  #13 (permalink)  
Old 28th July 2004
AP - Veteran
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 271
coca_cola is an unknown quantity at this pointcoca_cola is an unknown quantity at this point
Default

Jangan pernah berhenti untuk berbuat baik

Dia hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiri di pinggir jalan
itu, tetapidalam cahaya berkabut ia dapat melihat bahwa wanita tua itu
membutuhkan pertolongan. Lalu ia menghentikan mobil Pontiacnya di depan
mobil Mercedes wanita tua itu, lalu ia keluar dan menghampirinya. Walaupun
dengan wajah tersenyum wanita tua itu tetap merasa khawatir, karena setelah
menunggu beberapa jam tidak ada seorang pun yang menolongnya. Apakah lelaki
itu bermaksud menyakitinya? Lelaki tersebut penampilanya tidak terlalu
baik, ia kelihatan begitu memprihatinkan. Wanita tua itu dapat merasakan kalau
dirinya begitu ketakutan, berdiri sendirian dalam cuaca yang begitu dingin,
sepertinya lelaki tersebut tau apa yang ia pikirkan.

Lelaki itu berkata "saya ke mari untuk membantu anda bu, kenapa anda tidak
menunggu di dalam mobil bukankah di sana lebih hangat? oh ya nama saya
Bryan?" Yach memang dia sudah terlalu lelah apalagi untuk wanita setua
dirinya hal ini benar-benar terasa berat. Bryan masuk kedalam kolong mobil
wanita tua itu untuk memperbaiki yang rusak. Akhirnya ia selesai, tetapi
dia kelihatan begitu kotor dan lelah, wanita tua itu membuka kaca jendela
mobilnya dan berbicara kepadanya, ia berkata bahwa ia dari st louis dan
kebetulan lewat jalan ini. Dia merasa tidak cukup kalau hanya mengucapkan
terima kasih atas bantuan yang telah diberikan. Wanita tua itu berkata
berapa yang harus ia bayar, berapapun jumlahnya yang ia minta tidak
menjadi masalah, karena ia membayangkan apa yang akan terjadi jika lelaki
tersebut tidak menolongnya. Bryan hanya tersenyum. Bryan tidak mengatakan
berapa jumlah yang harus dibayar, karena baginya menolong orang bukanlah
suatu pekerjaan. Ia yakin apabila menolong seseorang yang membutuhkan
pertolongan tanpa suatu imbalan suatu hari nanti Tuhan pasti akan membalas
amal perbuatanya.

Ia berkata kepada wanita tua itu "Bila ibu benar-benar ingin membalas
jasa, suatu saat nanti apabila ibu melihat seseorang yang membutuhkan
pertolongan maka tolonglah orang tersebut ... dan ingatlah pada saya".
Bryan menunggu sampai wanita tua itu menstater mobilnya dan menghilang dari
pandangan. Setelah berjalan beberapa mil wanita tua itu melihat kafe kecil, lalu ia
mampir kesana untuk makan dan beristirahat sebentar. Seorang pelayan wanita
datang dan memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Wanita tua itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil, dan masih begitu muda. Lalu ia teringat kepada Bryan. Setelah wanita tua itu selesai makan dan
sang pelayan sedang mengambil kembalian untuknya, wanita tua itu pergi keluar
secara diam-diam. Setelah kepergiannya sang pelayan kembali, pelayan itu
bingung kemana wanita tua itu pergi, lalu ia menemukan secarik kertas di
atas meja dan uang $1000.

Ia begitu terharu setelah membaca apa yang ditulis oleh wanita tua itu:
"Kamu tidak berhutang apapun pada saya karena seseorang telah menolong
saya, oleh karena itulah saya menolong kamu, maka inilah yang harus kamu
lakukan: "Jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan kasih sayang".

Malam ketika iapulang dan pergi tidur, ia berfikir mengenai uang dan apa
yang ditulis oleh wanita tua itu. Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau ia
dan suaminya sangat membutuhkan uang untuk menanti kelahiran bayinya? Ia
tahu bagaimana suaminya sangat risau mengenai hal ini, lalu ia memeluk
suaminya yang terbaring disebelahnya dan memberikan kecupan yang lembut
sambil berbisik "semuanya akan baik-baik saja, I Love You Bryan".

Segala sesuatu yang berputar akan selalu berputar. Thank you for reading
...Jangan pernah berhenti untuk berbuat baik
Reply With Quote
  #14 (permalink)  
Old 28th July 2004
AP - Veteran
 
Join Date: Jun 2004
Posts: 271
coca_cola is an unknown quantity at this pointcoca_cola is an unknown quantity at this point
Default

The Lesson Plan
By Sister Carleen Brennan

It was just an ordinary day. The children came to school on buses;
there was the usual hubbub of excitement as they greeted each other. I
looked over my plan book and I never felt better prepared to face the day.
It would be a good day, I knew, and we would accomplish a lot. We took our
places around the reading table and settled in for a good reading class.
The first thing on my agenda was to check workbooks to see that the
necessary work had been completed.
When I came to Troy, he had his head down as he shoved his unfinished
assignment in front of me. He tried to pull himself back out of my sight as
he sat on my right-hand side. Naturally, I looked at the incomplete work
and said, "Troy, this is not finished."
He looked up at me with the most pleading eyes I have seen in a child
and said, "I couldn't do it last night 'cuz my mother is dying."
The sobs that followed startled the entire class. How glad I was that
he was sitting next to me. Yes, I took him in my arms and his head rested
against my chest. There was no doubt in anyone's mind that Troy was
hurting, hurting so much that I was afraid his little heart would break.
His sobs echoed through the room and tears flowed copiously. The children
sat with tear-filled eyes in dead silence. Only Troy's sobs broke the
stillness of that morning class. One child raced for the Kleenex box while
I just pressed his little body closer to my heart. I could feel my blouse
being soaked by those precious tears.
Helplessly, my tears fell upon his head.
The question that confronted me was, "What do I do for a child who is
losing his mother?" The only thought that came to my mind was, "Love him .
. .
show him you care . . . cry with him." It seemed as though the whole bottom
was coming out of his young life, and I could do little to help him.
Choking back my tears, I said to the group, "Let us say a prayer for Troy
and his mother." A more fervent prayer never floated to heaven. After some
time, Troy looked up at me and said, "I think I will be okay now." He had
exhausted his supply of tears; he released the burden in his heart. Later
that afternoon, Troy's mother died.
When I went to the funeral parlor, Troy rushed to greet me. It was as
though he had been waiting for me, that he expected I would come. He fell
into my arms and just rested there awhile. He seemed to gain strength and
courage, and then he led me to the coffin. There he was able to look into
the face of his mother, to face death even though he might never be able to
understand the mystery of it.
That night I went to bed thanking God that he had given me the good
sense to set aside my reading plan and to hold the broken heart of a child
in my own heart
Reply With Quote