
Originally Posted by
Freya
NB :
Q tanya ke temen Q, kebetulan Q punya temen lawyer di India n America. Lucunya mereka berduan punya opini yang sama bahwa kebebasan beragama kita dibatasi (enggak bebas donk...). Mereka bilang kalau di tempat mereka masalah agama itu jarang jadi masalah besar, karena tiap individu benar-benar bebas memilih agama apapun (termasuk menjadi Atheis) selama mereka tidak memaksa orang lain masuk agama mereka. [/COLOR]
Demokrasi itu kadang merupakan proses, bukan instant.
Indonesia menurut gue sekarang lagi ada di persimpangan jalan, apakah akan menuju total seculer, ataukah menuju seculer religius. Kalo yang pertama itu terpilih, yah konsekuensinya bukan saja atheis sah2 aja, tapi mendirikan gereja setan pun tidak ada larangan.
Kalo seandainya yang kedua terpilih, artinya ada nilai2 dan prinsip2 religious yang bakal mempengaruhi nilai2 seculer. Salah satunya yah soal penutupan gereja dll. Dengan kondisi yang sama, bayangkan kalo seandainya Indonesia itu mayoritas kristen, apakah orang2 kristen Indonesia ini akan berbuat yang sama? Sepertinya iya.
Jadi sebenarnya bukan masalah agama apa yang jadi mayoritas di Indonesia, tapi kembali ke mentalitas orang Indonesia sendiri. Mentalitas sendiri mirip dengan demokrasi, gak terbentuk instant, tapi ada proses.
Apakah demokrasi bisa berdampak negatif? Oh bisa banget. Kebebasan beragama ini contohnya. Dulu saya ingat ada kaos yang saya pernah beli dari suatu event, tulisannya begini "It's freedom of religion, not freedom from religion". Demokrasi yang hidup adalah demokrasi yang memiliki konflik.
God is not the answer, He's an excuse - PlainBread
Bookmarks