|
Viewing 10 - 18 out of 30 Blogs.
| Page:
|
2 |
|
|
Konon ditengah desa berdirilah sebuah gereja. Setiap hari banyak warga yang datang mengadakan kebaktian yang dipimpin oleh seorang pelayan Tuhan yang sudah tua. Suatu hari hujan lebat mengguyur desa itu. Sedikit demi sedikit air naik menggenangi desa. Awalnya setinggi mata kaki, lalu lutut dan akhirnya mendekati paha orang dewasa. Pemimpin desa memerintahkan agar semua penduduk segera mengungsi si pelayan Tuhan pun tidak luput. Tetapi sebagai orang beriman, dia tetap tinggal sambil berdoa kepada Tuhan untuk menghentikan hujan agar bencana yang lebih besar tidak terjadi. Tak beberapa lama, datanglah regu penolong dengan mobil besar datang untuk menjemputnya. ”Bapak banjir sudah semakin tinggi, ayo bergabunglah bersama kami untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman”, tetapi pastor menjawab ”Tidak usah anakku, kalian mencari orang lain saja, aku akan bertahan disini”. ”Semua penduduk sudah diungsikan, tinggal bapak sendiri disini, mari naiklah bersama kami” demikian regu penolong membujuknya. ”Kalian pergi saja, aku tidak membutuhkan pertolongan kalian. Tuhan pasti menolongku.” Merasa sia-sia, regu penolong itupun pergi. Hujan terus mengguyur, tembok gereja mulai tenggelam dan si pelayan Tuhan mengungsi ke lantai paling atas gereja. Dari kejauhan datanglah regu penyelamat kali ini dengan perahu karet. “Bapak air semakin tinggi, hujan semakin lebat, mari mengungsi sebelum terlambat” “Tidak, Tuhan pasti menolong saya dengan caranya sendiri, saya tidak butuh bantuan kalian, pergilah..”. Regu penyelamatpun pergi dengan khawatir. Hari beranjak malam, hujan mengguyur semakin lebat, seluruh bangunan gereja telah tenggelam dan si pelayan Tuhan berdiri diatas gereja sambil memeluk menaranya. Tidak seberapa lama terdengar deru helikopter dengan lampu sorot datang menghampirinya. Beberapa orang berteriak sambil melemparkan tali namun dia tidak bergeming. Dengan putus asa merekapun meninggalkannya. Hujan tidak berhenti dan akhirnya menenggelamkan seluruh desa dan akhirnya dia itupun hanyut dan meninggal. Setibanya di surga, dia bertemu dengan Tuhan segera mengajukan protes menyatakan kekecewaannya. ”Aku sudah berpuluh-puluh tahun mengabdi, mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengabarkan ajaranmu, tetapi mengapa Tuhan tega membiarkan aku?” Tuhan menjawab dengan lembut. ”Loh, memangnya kamu pikir siapa yang mengirimkan regu penyelamat dengan mobil, perahu karet dan helikopter itu? Itu semua kirimanKu” Banyak orang beranggapan bahwa hidup keagamaan terpisah dari kehidupan kerja. Namun etos ini berkata ’Kerja adalah Ibadah” itu berarti kita harus selalu menghayati kehadiran Tuhan di dalam lingkungan kerja kita, dibengkel kerja maupun dikantor kita. Pola kerja kita, kita dedikasikan untuk Tuhan. Konstituen kerja kita banyak, pelanggan, atasan, maupun rekan kerja. Namun buat orang beriman, Tuhan adalah konstituen kita. Dalam tradisi ini, kerja bagi Tuhan haruslah menyajikan yang terbaik, dengan segenap cinta dan pengabdian. Diyakini dengan cara yang demikianlah Tuhan akan berkenan. Apabila kita mampu merubah pola kerja kita sebagai pola rohani, maka kita akan mampu mempersembahkan karya terbaik yang mampu membuat pelanggan tersenyum dan Tuhanpun ikut tersenyum. Itulah maksud dari etos kali ini, kita bekerja penuh cinta yang didedikasikan untuk Tuhan. special thanks to Peter Waworundeng for Kafe Etos
Tags: Smart Etos Motivating Inspirational
Siapa yang tidak kenal Genghis Khan? Ia adalah kaisar Mongol yang terkenal dan gagah perkasa karena bukan saja menaklukkan seluruh daratan tiongkok, tetapi juga merambah ke Asia Tengah bahkan ke Eropa. Taukah anda kunci keberhasilannya? Sewaktu masih muda (demikianlah kata sebuah hikayat), Genghis Khan yang dikenal sebagai panglima perang yang punya nama kecil Temujin suatu saat terlibat perang dengan musuh-musuhnya. Pertempuran berlangsung dengan dasyat, serang menyerang, serbu menyerbu, siasat lawan siasat, serta taktik melawan taktik hingga suatu titik pasukan Temujin kalah, kocar-kacir dan tercerai berai. Temujin sendiri memilih bersembunyi disebuah goa. Disana dia melihat pemandangan yang menakjubkan. Segerombolan semut sedang berusaha mengangkut sebongkah makanan melewati dinding waktu sebesar kepalan tangannya yang dimata semut-semut itu adalah sebuah tebing yang amat curam. Berulangkali ketika mereka hendak sampai dipuncak, makanan itupun jatuh sehingga merekapun harus turun kembali ke dasar untuk beramai-ramai mengangkutnya kembali. Mengamati perjuangan semut-semut yang tidak putus asa itu merupakan keasyikan tersendiri buat Temujin, iseng-iseng diapun mulai menghitung berapa kali mereka jatuh bangun mengangkat makanan tersebut. Satu kali, dua kali,tiga kali,empat kali ... sepuluh kali.. lima belas kali... dua puluh kali... sampai akhirnya lebih dari lima puluh kali hingga hitungannya yang kesekian maka semut-semut itupun akhirnya berhasil. Mendadak Temujin mendapat inspirasi batin, sebuah pelajaran dari binatang kecil yang tekun dan tabah menghadapi kegagalan, melecut dan membangkitkan semangatnya sendiri. Baru kali ini dia dan pasukannya tercerai berai oleh musuh. Tidak boleh patah hati, tidak boleh lemah hati, tidak boleh kalah semangat. Menjelang petang, dengan mengendap-endap Temujin keluar dari persembunyiannya, melihat situasi sudah aman, diapun embali kemarkasnya lalu mulai menghimpun pasukannya, mengatur barisan, berlatih dan menanamkan semangat semut-semut tadi sebagai suntikan motivasi. Konon dengan cara itulah Temujin berhasil membangkitkan moral dan semangat pasukannya sehingga menjelma menjadi pasukan perang yang gagah berani dan menakutkan bagi musuh-musuhnya. Hikmah apakah yang bisa kita petik dari cerita diatas? Semut-semut adalah binatang yang lemah dan sering tidak kita sadari keberadaannya. Namun dibalik semua itu mereka punya semangat dan daya juang yang luar biasa. Sikap tak pernah putus asa dan pantang menyerah dalam mengalami kegagalan layak dan patut untuk kita teladani. ”Aku harus lebih perkasa dari semut-semut yang kulihat di goa” itulah semangat Temujin dan pasukannya dan benar saja, saat mereka bangkit dan berjuang, tidak tawar hati oleh kekalahan tidak luntur semangat menghadapi kegagalan dengan kepala tegak, merekapun bisa berbalik dan menjelma menjadi pasukan yang luar biasa. Demikianlah Genghis Khan, akhirnya menjadi maharaja seperti yang dikisahkan oleh buku sejarah. Kiranya kita semua memiliki semangat semut dan mendapatkan spirit keberhasilan sama seperti semut-semut itu memberi spirit keberhasilan kepada Genghis Khan.
Tags: Smart Etos Motivating Inspirational
Berawal dari sebuah hobby mengumpulkan berbagai artikel, membuat artikel sendiri, memberi tanggapan dan ikut ambil bagian dalam beberapa even sosial. Membuatku mulai menekuni kesibukan baru yang kritis dalam masalah lingkungan, masalah solidaritas perempuan dan masalah anak-anak. Ini sangat membahagiakan, karena secara tidak langsung aku ikut bagian dalam penanganan masalah perempuan dan anak-anak, walau hanya dalam bentuk empati dengan memberikan masukan dan tanggapan lewat talk show terhadap masalah ini. Untuk yang pertama itu tak terlalu bagaimana karena tiap orang punya pendapat dan cara masing-masing untuk memerhati lingkungan sekitarnya, tapi untuk masalah perempuan dan anak-anak itu sangat mengambil tempat banyak di hatiku. Secara tak sengaja ternyata masalah ini adalah masalah yang kompleks sekali. Memperingati hari wanita sedunia tanggal 8 Maret ini, sekedar mengulas kembali, bagaimana perjuangan seorang perempuan dalam menghadapi berbagai diskriminatif yang dialaminya yang membuat tidak merepresentasikan perempuan dalam berbagai hal, karena itu lewat perjuangan yang gigih akhirnya mendapat pengakuan terhadap kedudukan perempuan dalam kependudukan. Sebagai data, 350.000 perempuan dunia yang meninggal setiap tahun akibat penanganan reproduksi yang buruk, 200.000 ibu meninggal setiap tahun akibat pelayanan kontrasepsi yang salah, 70.000 wanita yang meninggal setiap tahunnya akibat aborsi yang tidak aman Begitu rentannya hal-hal yang menimpa perempuan, menuntut perlunya perhatian dan perlindungan terhadap perempuan di dunia. Singkat saja, sebagai suatu komunitas yang majemuk, mari kita tingkatnya perlindungan terhadap perempuan didunia sebagai suatu bentuk kepedulian terhadap sesama kita. Mendapat perlindungan adalah hak semua perempuan dan patut didapatkan. Stop Kekerasan Terhadap Perempuan !!!
Tags: Catatan Kecilku
Terinspirasi dari seli nih, jadi ketawa sendiri kalo ingetnya  mm... celeng ato buaya? Mo dilihat dari Monas pun tetep aja dua2nya jelek. Celeng tambun dan gemuk itu idaman, tapi punya sifat buaya gak asik kali ye? Nah Buaya cakep, tetep aja buaya Seli, asli bukan buaya gw, mana ada buaya secantik gw? Hahahaha..... dasar seli. Dimana-mana yang buaya itu mah kaum celeng. Kick seli dulu ah..... ciatttt....duar-duar... plok....gubrak..... Sekarang giliran kita memastikan apakah dia celeng sejati atau buaya bertampang celeng? Sebagai makhluk paling manis di dunia (cieeee....) kita mesti jeli memperhatikan hal ini, biar gak salah. Pilihlah celeng yang sejati dan menjanjikan, untuk mengetahui hal itu mesti lebur uji dulu, caranya??? Gampang...... Kalo celeng baik-baik biasanya penurut sejati, nah kalo dia nurut tapi ada maunya, berarti dia itu 100% buaya. Menurut survei (dari hasil berburu celeng nih), dari 10 celeng yang diselidiki ato dijadikan bahan penelitian, ternyata 9 diantaranya adalah buaya sejati dan itu sangat meresahkan. Dari hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa bahwa para kaum celeng, tampangnya aja seperti celeng biasa, tambun, lucu/menggemaskan, tapi jauh dihatinya itu adalah buaya, bahkan ada yang sampai mengarah menjadi lintah (mengambil keuntungan)......aduhhhhh....... bisa keabisan darah kita nih..... Nah, untuk bisa mengetahui trik-trik agar terhindar dari buaya bertampang celeng ada tempatnya tuh.... hubungi aja seli... hehehehe.... tau dia tuh, mana celeng biasa mana buaya.... Semoga bermanfaat...
Tags: Humor
Pada suatu hari seorang anak remaja secara tidak sengaja mendapati bahwa kedua tangan ibunya ternyata jelek sekali karena bekas luka bakar. Selama ini sang ibu berhasil menyembunyikannya dengan memakai baju berlengan panjang, ia kaget, terkejut, tidak suka sambil menunjukkan mimik yang menjijikkan. Ibu yang mengetahui reaksi anaknya berkata dengan lembut, ”Nak, kamu kesinilah sebentar, ibu mau cerita tentang tangan ini”. Perlahan si anak mendekati ibunya ”Apakah kamu tau kenapa tangan ibu jelek seperti ini?” tanya ibunya. Si anak menggelengkan kepalanya. ”Ceritanya begini, ketika kamu masih bayi, kita adalah keluarga yang baru merantau ke jakarta, ayahmu hanya mampu mengontrak rumah sederhana dipemukiman. Setiap hari ayahmu membanting tulang untuk mencukupi keperluan keluarga kita dan ibu, selain membesarkan kamu juga bekerja sebagai tukang cuci. Pada suatu hari ketika ibu sedang bekerja terdengar teriakan ’kebakaran... kebakaran... kebarakan... ’ dengan panik ibu meninggalkan cucian dan berlari menuju tempat kebakaran. Sesampai disana badan ibu langsung lemas karena ternyata rumah kita sedang diamuk api. Taukah dimana kamu waktu itu berada? Kamu berada dikamar, tidur dengan pulas. Dengan histeris ibupun menerobos masuk untuk menyelamatkan kamu, tetapi dihalangi masyarakat. Tentu tidak mungkin ibu membiarkan kamu mati dilalap api, dengan sekuat tenaga di bantu dengan badan yang licin karena dipenuhi sabun ibupun terlepas. Ibu menerobos masuk, menerjang ke kamar dan menemukan kamu sudah dikelilingi api. Syukur kamu belum apa-apa. Dengan segera ibu segera membungkus kamu dengan sarung basah, tinggal bagaimana caranya bisa keluar”. ”Asap hitam dimana-mana” lanjutnya. ”dan ibu kehilangan arah namun ibu nekat, menerobos dan berhasil menemukan pintu keluar. Sayangnya karena panik ibu tidak melihat keadaan sekeliling, sebatang tiang yang terbakar jatuh dan menimpa tangan ibu, kamu terlepas dan diselamatkan warga tetapi ibu.... beginilah hasilnya beginilah tangan ibu”. Mendengar cerita dramatis itu si anak diam terpaku, perasaan haru muncul dihatinya sehingga tak sadar airmatapun meleleh dipipinya, perlahan diapun mendekatkan dirinya ke tangan sang ibu, memeluk dan menciuminya dengan lembut seraya berkata ”Tangan ibu begitu hebat dan kuat, aku bangga punya ibu yang mengasihiku yang rela mengorbankan segalanya untuk menyelamatkan aku... sungguh... aku mencintai tangan ibu”. Sesuatu itu baik atau buruk, tergantung bagaimana kita melihatnya. Tangan ibu tampak buruk tanpa kisah dibaliknya, namun begitu kisah itu diceritakan maka seketika terjadilah perubahan pandangan dari tangan buruk menjadi tangan perkasa. Etos kali ini adalah kerja adalah ibadah,aku bekerja serius penuh kecintaan menuntut kita menggeser cara pandang kita terhadap pekerjaan. Ketika kita bekerja dengan niat untuk dibaktikan kepada Tuhan, maka dalam sekejap wajah pekerjaanpun berubah menjadi wajah spiritual. Wajah pekerjaan sering tampak buruk bisa karena upahnya yang kecil, jaraknya yang jauh dari rumah, merasa monoton, teman sekantor tidak bersahabat, dan banyak alasan lain. Namun apabila kita memahami bekerja adalah cara Tuhan memberkati kita maka timbulah kesadaran baru bahwa pekerjaan itu sangatlah berharga. Jadi renungkanlah kembali pekerjaan kita, pikirkanlah... Dengan pekerjaan itu anda pernah, sedang dan akan diberkati. Niscaya dengan cara demikian seperti bunyi etos ini kerja adalah ibadah, maka kita akan mampu bekerja serius penuh kecintaan. Maka kembalilah ke ruang kerja anda hari ini dengan niat bahwa seluruh pekerjaan anda, anda baktikan untuk kemuliaan nama Tuhan. special thanks to Peter Waworundeng for Kafe Etos
Tags: Smart Etos Motivating Inspirational
Menjelang sore, saat penduduk bersiap pulang dari bekerja di ladang, samar-samar dari arah padang gembalaan terdengar teriakan seorang pemuda. ”Tolong... Tolong... ada harimau.. ” Namun aneh, teriakan panik tersebut tidak mendapat respon dari seorangpun. Maka mengamuklah seekor harimau betina besar dengan ganas ia mengejar kerbau, tetapi karena kawanan itu bersatu padu sang harimau merasa jerih dan mengganti sasarannya terhadap si pemuda gembala. Mendapat serangan tersebut, si pemuda hanya bisa berlari semampunya dan malang, kekuatannya tak sebanding dengan harimau, dia diterkam dan mati menggenaskan. Usai sore, pendudukpun mulai berdatangan ke ladang. Mereka terkejut mendapatkan bahwa si gembala sudah terbujur kaku dengan sisa-sisa cabikan yang mengerikan, segera terdengar celutukan sana-sini ” Inilah hasil dari sebuah keisengan, semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak pernah berlaku iseng dan kurang ajar”. Asal muasal terjadinya peristiwa naas tersebut, masih segar dalam ingatan penduduk desa. Setiap keluarga mempunyai sedikitnya seekor kerbau, tetapi karena kerjaan mereka bertani mereka kesulitan menggembalakan kerbau-kerbau itu. Maka merekapun bermufakat menunjuk seorang pemuda dengan tugas khusus menggembalakan semua kerbau di desa itu di padang gembalaan yang tak jauh letaknya dari pemukiman. Awalnya pemuda itu menerima tanggung jawabnya dengan sukacita, dengan penuh semangat sipemuda setiap hari membawa ternak-ternak itu ke padang, memberi makan, memandikannya, sambil bermain suling, bersenandung dan menari. Namun karena tugas itu dilakukannya setiap hari sebagai rutinitas, timbullah rasa bosan dan jenuh, iapun mulai mengeluh, kehilangan keceriaan, sering ketiduran, dan mulai menelantarkan kerbau-kerbau gembalaannya. Pada suatu hari timbul rasa isengnya, ia ingin mempermainkan penduduk. Caranya? Ia berlari kencang ke arah ladang sambil berteriak dengan suara menakutkan ”Harimau.. harimau.. harimau datang, selamatkan kerbau masing-masing”. Penduduk terkejut, segera mereka bangkit dengan membawa cangkul, golok dan benda-benda tajam apa saja yang bisa diraih, berlari ke padang, membantu si gembala mengusir harimau. Tetapi apa yang terjadi, tidak ada harimau, kawanan kerbau yang katanya sedang diserang harimau, ternyata tenang-tenang saja merumput. Mereka melihat sekeliling mencari sipemuda, dan si pemuda ternyata hanya tertawa terbahak-bahak ”Hahaha... huahhaha... kalian kena tipu, harimau jauh di hutan, aku cuma iseng... hahaha......”. Penduduk kesal namun tak bisa berbuat apa-apa, mereka kembali ke ladang disertai gerutuan. Ia pun tersenyum puas penuh kemenangan. Esok hari keisengan si gembala timbul lagi, dengan tergopoh-gopoh ia kembali berlari ke ladang sambil berteriak ”Harimau datang... harimau datang... kerbau dikejar, diterkam... dimangsa...”. Penduduk pun bangkit lagi, dengan tergesa-gesa sambil membawa berbagai macam senjata mereka menuju padang, namun mereka kecewa kembali, tidak ada harimau. Dan lagi-lagi si pemuda kurang ajar ini tergelak bahagia karena dapat mempermainkan penduduk kedua kalinya. Dan itulah sebabnya, ketika sang harimau benar-benar datang, tak seorangpun yang tergerak untuk memberikan bantuan. Hikmah yang dapat ditarik dari cerita ini adalah, jangan pernah bermain-main dalam bekerja. Pekerjaan yang sudah di amanatkan kepada kita sama seperti si pemuda mendapatkan amanat untuk menggembalakan kerbau-kerbau harus kita tunaikan dengan sungguh-sungguh. Sikap kurang ajar, iseng, berarti tidak bertanggung jawab, tidak profesional, dan dapat menimbulkan bencana. Bisnis adalah keseriusan, berapa nilai bisnis anda? Mungkin puluhan juta, ratusan juta, puluhan milyar atau bahkan trilyunan rupiah. Satu hal harus selalu diingat, betapa kecilpun itu, haruslah kita mengerjakan itu dengan sungguh-sungguh, sepenuh tanggung jawab. Kita tidak dapat memprediksi datangnya bencana, bahaya kadang mengintai dari balik pintu dan siap menerkam kita. Yang bisa dilakukan adalah mengembangkan sikap waspada, dan jangan membiarkan keisengan menjadi malapetaka bagi diri kita sendiri. Marilah, pupuk sikap menangani pekerjaan dengan sepenuh hati, serius, sebaik-baiknya, disertai dengan rasa tanggung jawab yang besar, niscaya itulah yang akan meyelamatkan dan menjadi kunci sukses dalam pekerjaan kita. thanks to Peter Waworundeng for "Kafe Etos"
Tags: Smart Etos Motivating Inspirational
About ten years ago, a young and very successful executive named Josh was traveling down a Chicago neighborhood street. He was going a bit too fast in his sleek, black, 12 cylinder Jaguar XKE, which was only two months old. He was watching for kids darting out from between parked cars and slowed down when he thought he saw something. As his car passed, no child darted out, but a brick sailed out and - WHUMP! - it smashed Into the Jag's shiny black side door! SCREECH..!!!! Brakes slammed! Gears ground into reverse, and tires madly spun the Jaguar back to the spot from where the brick had been thrown. Josh jumped out of the car, grabbed the kid and pushed him up against a parked car. He shouted at the kid, "What was that all about and who are you? Just what the heck are you doing?!" Building up a head of steam, he went on. "That's my new Jag, that brick you threw is gonna cost you a lot of money. Why did you throw it?" "Please, mister, please. . . I'm sorry! I didn't know what else to do!" Pleaded the youngster. "I threw the brick because no one else would stop!" Tears were dripping down the boy's chin as he pointed around the parked car. "It's my brother, mister," he said. "He rolled off the curb and fell out of his wheelchair and I can't lift him up." Sobbing, the boy asked the executive, "Would you please help me get him back into his wheelchair? He's hurt and he's too heavy for me." Moved beyond words, the young executive tried desperately to swallow the rapidly swelling lump in his throat. Straining, he lifted the young man back into the wheelchair and took out his handkerchief and wiped the scrapes and cuts, checking to see that everything was going to be OK. He then watched the younger brother push him down the sidewalk toward their home. It was a long walk back to the sleek, black, shining, 12 cylinder Jaguar XKE -a long and slow walk. Josh never did fix the side door of his Jaguar. He kept the dent to remind him not to go through life so fast that someone has to throw a brick at him to get his attention. . . Some bricks are softer than others. Feel for the bricks of life coming at to you. For all the negative things we have to say to ourselves, God has positive answers. Source by email
Tags: Motivating Inspirational
Laut, mungkin itu tempat yang paling indah untuk beberapa bahkan sebagian besar orang, tapi tidak buatku. Oh, lautku sayang, mengapa kau membuatku menderita? Hari ini kau sangat menyiksaku dengan suara gemuruh ombakmu yang hampir membuatku merasa mati. Sialan, knapa mesti ke daerah pesisir sich? Bosku ngasih mandat yang aneh-aneh, knapa gak dikota aja. Aq emank punya sedikit masalah dengan laut, punya rasa ketakutan berlebihan terhadap laut, dan aq mau melakukan apa aja asalkan tak berhubungan ataupun berdekatan dengan laut. O God, sebenarnya aq tau mau punya rasa ketakutan seperti ini, sudah berbagai usaha dilakuin biar hilang perlahan tapi tetap aja susah. Semalam sahabat terbaikku mengingatkan untuk tidak lupa membawa mp3ku kalo lewat laut, geli sih dengernya tapi 75% membantu menghilangkan rasa takut, karena memakai mp3 saat melewati laut akan mengurangi pendengaranku terhadap suara laut entah itu ombak or others . Lautku,... cobalah kau sedikit ramah padaku mungkin aq bisa menjadi sahabat baik... hahaha
Tags: Catatan Kecilku
A story is told about a soldier who was finally coming home after having fought in Vietnam. He called his parents from San Francisco. "Mom and Dad, I'm coming home, but I've a favor to ask. I have a friend I'd like to bring home with me." "Sure," they replied, "we'd love to meet him." "There's something you should know the son continued, "he was hurt pretty badly in the fighting. He stepped on a land mind and lost an arm and a leg. He has nowhere else to go, and I want him to come live with us." "I'm sorry to hear that, son. Maybe we can help him find somewhere to live." "No, Mom and Dad, I want him to live with us." "Son," said the father, "you don't know what you're asking. Someone with such a handicap would be a terrible burden on us. We have our own lives to live, and we can't let something like this interfere with our lives. I think you should just come home and forget about this guy. He'll find a way to live on his own." At that point, the son hung up the phone. The parents heard nothing more from him. A few days later, however, they received a call from the San Francisco police. Their son had died after falling from a building, they were told. The police believed it was suicide. The grief-stricken parents flew to San Francisco and were taken to the city morgue to identify the body of their son. They recognized him, but to their horror they also discovered something they didn't know, their son had only one arm and one leg. The parents in this story are like many of us. We find it easy to love those who are good-looking or fun to have around, but we don't like people who inconvenience us or make us feel uncomfortable. We would rather stay away from people who aren't as healthy, beautiful, or smart as we are. Thankfully, there's someone who won't treat us that way. Someone who loves us with an unconditional love that welcomes us into the forever family, regardless of how messed up we are. source by email
Tags: Motivating Inspirational
| Page:
|
2 |
|
|
|