|
Viewing 28 - 30 out of 30 Blogs.
| Page:
|
|
|
4 |
The Window Two men, both seriously ill, occupied the same hospital room. One man was allowed to sit up in his bed for an hour a day to drain the fluids from his lungs. His bed was next to the room's only window. The other man had to spend all his time flat on his back. The men talked for hours on end. They spoke of their wives and families, their homes, their jobs, their involvement in the military service, where they had been on vacation. And every afternoon when the man in the bed next to the window could sit up, he would pass the time by describing to his roommate all the things he could see outside the window. The man in the other bed would live for those one-hour periods where his world would be broadened and enlivened by all the activity and color of the outside world. The window overlooked a park with a lovely lake, the man had said. Ducks and swans played on the water while children sailed their model boats. Lovers walked arm in arm amid flowers of every color of the rainbow. Grand old trees graced the landscape, and a fine view of the city skyline could be seen in the distance. As the man by the window described all this in exquisite detail, the man on the other side of the room would close his eyes and imagine the picturesque scene. One warm afternoon the man by the window described a parade passing by. Although the other man could not hear the band, he could see it in his mind's eye as the gentleman by the window portrayed it with descriptive words. Unexpectedly, an alien thought entered his head: Why should hehave all the pleasure of seeing everything while I never get to see anything? It didn't seem fair. As the thought fermented, the man felt ashamed at first. But as the days passed and he missed seeing more sights, his envy eroded into resentment and soon turned him sour. He began to brood and found himself unable to sleep. He should be by that window - and that thought now controlled his life. Late one night, as he lay staring at the ceiling, the man by the window began to cough. He was choking on the fluid in his lungs. The other man watched in the dimly lit room as the struggling man by the window groped for the button to call for help. Listening from across the room, he never moved, never pushed his own button which would have brought the nurse running. In less than five minutes, the coughing and choking stopped, along with the sound of breathing. Now, there was only silence--deathly silence. The following morning, the day nurse arrived to bring water for their baths. When she found the lifeless body of the man by the window, she was saddened and called the hospital attendant to take it away--no words, no fuss. As soon as it seemed appropriate, the man asked if he could be moved next to the window. The nurse was happy to make the switch and after making sure he was comfortable, she left him alone. Slowly, painfully, he propped himself up on one elbow to take his first look. Finally, he would have the joy of seeing it all himself. He strained to slowly turn to look out the window beside the bed. It faced a blank wall.
Tags: Motivating
Seseorang yang Paling Dikasihi AyahkuSeorang dosenku pernah memberitahukan kisah berikut :" Aku adalah salah satu dari tiga belas anak." Suatu hari saat aku bermain di jalan dikampung halamanku, aku merasa sangat haus dan berlari pulang ke rumah untuk mendapatkan segelas air.
Ayahku baru saja sampai dirumah dari tempat kerjanya untuk makan siang. Ia duduk di meja dapur dengan seorang tetangga. Sebuah pintu memisahkan dapur dari lemari makan dan ayahku tidak tahu aku ada disana.
Tetanggaku itu berkata kepada ayahku, 'Joe, ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu sedemikian lama. Kau memiliki tuga belas anak. Siapakah anak yang paling kau kasihi dan menjadi favoritmu di antara ketiga belas anakmu itu?'.
Aku menempelkan kupingku lekat-lekat didinding berharap kalau nama yang terucap adalah aku. 'Mudah saja,' kata ayahku. 'Mary anakku yang berusia duabelas tahun. Ia baru saja memakai kawat gigi dan merasa minder dan malu sehingga ia tidak mau keluar rumah lagi. Oh, tapi kau menanyakan tentang anak yang paling menjadi favoritku. Itu adalah Peter anakku yang berusia dua puluh tiga tahun. Tunangannya baru saja memutuskan pertunangan mereka, dan ia kesepian. Tetapi anak yang paling sungguh-sungguh kukasihi adalah si kecil Michael. Ia benar-benar tidak dapat bekerjasama dan buruk dalam olahraga manapun yang coba ia mainkan. Tetapi tentu permata hatiku adalah Susan. Baru berusia dua puluh empat tahun, tinggal di apartemen sendiri dan memiliki masalah dengan minum-minuman. Aku bersedih dan menangis untuk Susan. Tapi kurasa semua anak...' dan ayahku melanjutkan, menyebutkan setiap nama ketiga belas anaknya."
Dosen itu mengakhiri kisahnya dengan berkata, "Yang kupetik dari semuanya itu adalah siapa yang paling dikasihi ayahku adalah anak yang paling membutuhkannya. Sama seperti Bapa disurga, Ia paling mengasihi mereka yang paling membutuhkanNya, yang bergantung padaNya, bersandar padaNya, dan mempercayainya dalam segala sesuatu. Ia tidak peduli apakah kau setulus Santo Yohanes atau berdosa seperti Maria Magdalena. Yang terpenting dari segalanya adalah percaya. Belajar untuk mempercayai Tuhan tidak menunggu sampai kita memiliki hidup yang bermoral sebelum ia mulai mengasihi kita."
Sumber : Lion and Lamb, Brennan Manning.
Tags: Love Inspirational
Made in Japan vs Made in Swiss Negara manakah yang lebih banyak menghasilkan jam. Japan atau Swiss? Jawabannya Japan Tetapi negeri manakah yang disebut negeri jam? Jawabannya Swiss Apa perbedaan keduanya? Sampai awal 70an, jika berbicara tentang jam orang pasti akan langsung teringat swiss, kemudian teknologi baru yang dinamakan quartz ditemukan. Meskipun pertama kali diperkenalkan di swiss, teknologi ini di tolak oleh komunitas industri jam disana. Karena menurut mereka perkakas yang tidak menggunakan per atau gerigi, itu bukanlah jam namanya. Japan tanggap dan langsung mengadopsinya, hasilnya keluarlah berbagai merek jam buatan japan yang akurasinya tidak kalah dengan buatan swiss namun istimewanya harganya jauh lebih murah. Dalam waktu singkat Japan pun menjelma menjadi negeri produsen jam terbesar didunia. Melihat kejayaan japan, swiss tidak tinggal berdiam diri. Revolusi butuh dalam industri jam terjadi secara besar-besaran. Mereka menyodorkan cara pandang baru dalam industri jam, kalau dahulu jam hanya sekadar perkakas penunjuk waktu, mereka merubah konsepnya menjadi simbol pribadi-pribadi yang sukses. Jam buatan swiss dipandang sebagai lambang kesempurnaan dengan kualitas istimewa, karya seni buatan tangan sang maestro dan hanya orang-orang terbaik dibidangnya yang patut memakainya. Hasilnya industri jam swiss naik lagi keperingkat atas. Rolex misalnya, jika kita mencermati iklannya, selalu menggunakan selebritis dunia yang merupakan juara atau legenda dibidangnya, tampilannya pun khas, selalu ada disampul belakang majalah terkemuka, full color, mewah, eksklusif, kesan yang ingin ditampilkan ialah jika anda memakai jam ini, maka anda akan setara dengan mereka. Dengan kata lain spirit, gengsi dan kelas anda akan terangkat dengan memakai jam tersebut. Perubahan kualitas dan paradigma membuat industri jam swis berjaya kembali. Satu fenomena khas kehidupan selalu berulang dimana-mana, para juara sekali waktu akan memasuki masa pensiun diri. Ini terjadi pada individu seperti Muhammad Ali, Martina N, Ellyas Pical atau Icuk Sugiarto. Pada tataran korporat misalnya IBM, Kodak, Sony, Indosat ato Indofood, dan negara pun misalnya Romawi, atau Inggris, gejala serupa bisa dijumpai. Cirinya sang juara merasa tidak perlu lagi bekerja keras seperti dahulu, tak perlu lagi belajar atau berlatih mati-matian seperti sedia kala, “kita kan sudah juara, mari bersantai dan menikmati anggur kesuksesan” kira-kira demikian sikap mereka, lanjutannya kewaspadaan semakin rendah, lebih jauh lagi mereka mulai menjadi arogan, menganggap enteng para pesaing dan melecehkan kompetitor, sampai suatu saat mereka pun terkejut, mereka disalip, dikalahkan, atau digusur. Banyak yang digusur selamanya tergusur, mereka bangkrut lalu hilang dari peredaran. Industri jam di swiss tergolong yang beruntung, mereka segera sadar, bertobat dan menata diri kembali, hasilnya mereka mencuat dengan tampilan yang lebih baik, mereka merubah paradigmanya dari industri kronometer menjadi menjadi industri perhiasan. Jadi, marilah bersikap sadar dan waspada, marilah berubah dan memelihara etos kerja adalah kehormatan. Kita harus bekerja tekun penuh keunggulan. dikutip dari "Kafe Smart" Special Thanks for Peter Waworundeng
Tags: Smart Etos
| Page:
|
|
|
4 |
|