|
Viewing 1 - 4 out of 4 Blogs.
Jaman akhir, mungkin ini adalah sebutan yang tepat untuk waktu2 sekarang, dimana dunia berubah dengan sedemikian instantnya. Banyak individu menganggap "agama" bukanlah jalan keluar bagi hidup mereka. Karena "agama" lah yang menyebabkan berbagai peperangan, perpecahan, kebencian, egoistis, dllsb. Berbagai paham pun mulai bermunculan lebih melihat ke segi "kemanusiaan" & "kedamaian" yang dicari, bahkan penyatuan paham (pluralism) dianggap jalan terbaik, karena alasan "kemanusiaan" . Kekristenan pun berubah sedemikian beragam mengikuti perkembangan jaman. Jika agama dianggap bukan jawaban buat dunia ini. Apakah kekristenan adalah jawaban? Apakah "gereja" yang menyandang kekristenan dipundaknya adalah ending dari pencarian akan "keselamatan" pada kehidupan selanjutnya? Untuk kehidupan selanjutnya, jawabannya "mungkin" Ya. Tapi apakah "gereja" ending dari pencarian keselamatan di dunia ini?
Tak dapat dipungkiri, kekristenan mengalami pengeseran-pengeseran nilai2 kekeristenan yang seharusnya menjadi esensi dari kekristenan itu sendiri. Sering gua bertanya, "kemanakah nilai-nilai yang seharusnya ditanamkan?" Akan dibawa kemana gua? Bukan hanya gua tentunya tapi anak-anak muda lainnya, anak-anak di bawah umur yang jelas masih membutuhkan bimbingan.
Dan gua merenungkan, apa yang akan Yesus lakukan jika Dia hidup pada jaman sekarang? Akankah Dia melayani di gereja? Akankah Dia menjadi pengkotbah? Atau Dia menjadi "sampah jalanan" ? What would Jesus do?
Apakah Dia akan mengecam gereja-gereja yang menyalahgunakan firman, sebagai dalih untuk meraih keuntungan pribadi. Mengunakan ayat-ayat pendukung penggunaan media-media tertentu sebagai sarana mukjijat, hanya karena strategi marketing? atau untuk beli merci?
Apakah Dia akan mengobrak-abrik bait Allah (baca: gereja) karena didalamnya telah begitu "busuknya", menjadikan baik Allah pusat perdagangan, pencarian keuntungan pribadi atau kelompok tertentu. Yang dengan bangganya menjadi Farisi di era modern, mengatasnamakan Tuhan & selimut dari "nama Tuhan dimuliakan"
Apakah Dia bangga dengan anak-anakNya yang melayani di gereja, menjadi pelayan mimbar, atau sebagai WL posisi yang dianggap "beken". Dimana pelayanan seseorang/posisi seseorang pada jabatan tertentu di gereja "dianggap" menentukan tingkat kerohanian seseorang.
Banggakah Dia dengan mereka yang pada hari sabtu/minggu datang beribadah, memuji & meninggikan namaNya, namun melupakanNya pada hari-hari lainnya. Menerapkan gaya hidup & perkataan yang tidak sesuai, meninggalkan atitude & karakter kekristenan. Yang dipikirkan hanyalah "apa yang harus aku kenakan agar aku terlihat cantik/ganteng" , "berapa rupiah yang harus aku dapatkan hari ini", "makan apa" , "ke club mana", "belanja dimana", "gaget terbaru", "nonton film bioskop apa", dllsb
Bagaimanakah sikapNya terhadap KKR, Konser Rohani, kegiatan sosial lainnya yang diadakan dengan berjubahkan "Yesus peduli", namun tetap mengunakan spanduk besar bertuliskan nama gereja atau komunitas tertentu atau pribadi. Menjadi "malaikat" sejenak di acara panti asuhan atau panti jompo, namun pada hari-hari berikutnya tidak punya hati pada nenek tua di jalan atau anak kecil yang meminta-minta di jalan. Menjadi hebat pada "konser music" bak performer professional, namun pujian yang sesungguhnya tidak hadir pada hari-hari berikutnya.
Akankan ucapan bahagia & kotbah kerasNya di atas bukit diterima? seperti pada saat ini yang "seakan" menerima, namun tidak diindahkan?
Apakah Yesus sedemikian jijik dengan praktik-praktik dalam gereja sehingga lebih memilih hidup di jalanan, dengan murid-murid yang Dia pilih jelas bukan seseorang yang hebat pada awalnya. Ataukah Dia dengan senang hati datang ke gereja?
What Would Jesus Do?
WWJD, populer di kalangan anak muda pada abad ke 18, sebagai pegangan ribuan orang2 Kristen, sebagai "reminder" bagi orang2 tersebut dalam menjalani hidup. Dan mungkin menjadi bahan perenungan gua sekarang.
Yesus, seperti dituliskan dalam sebuah buku, seseorang yang tidak mudah ditebak. Dia seseorang yang mengikuti hukum namun di saat yang sama Dia terkenal sebagai "lawbreaker" . Dia bisa tersentuh oleh orang asing, di saat berikutnya Ia menyebut sahabatNya dengan keras, "Pergilah engkau, setan!". Dia melihat dengan tidak kompromi mengenai orang kaya dan janda yang miskin, namun Dia juga yang duduk bersahabat dengan mereka. Suatu hari mukjijat diimpretasikan dengan luar biasanya oleh Dia, di saat berikutnya kekuatanNya terhalang hanya karena iman seseorang. Dia berbicara dengan jelas mengenai kedatanganNya yang kedua, namun Dia tidak mengetahui hari & jamnya. Dia mengutarakan ke public kalau DiriNya adalah Mesias, yang akhirnya menimbulkan kontroversi, di saat berikutnya Dia menyuruh orang diam pada saat Dia melakukan mukjijat untuk orang tersebut.
What Would Jesus Do?
Kemaren gua lagi ngobrol2 sama nyokap, awalnya soal beberapa masalah keluarga. Lama2 lari2nya ke agama. Nyokap ngomongin soal kekristenan, dimana beberapa temen ‘n tante gue pindah ke kristen. Trus dia ngomong soal beberapa orang yang pindah itu, hidupnya bukan tambah baik tapi tambah banyak masalah. Contoh: si tante A, dia pindah lalu disusul masalah berurutan, pertama anaknya yang kedua tiba2 jadi strees nggak tau kenapa, suka marah2 sendiri, ngomong sendiri, nangis2 sendiri (Kalo gue yg diceritain kayak gini sih, pasti gua berasumsi klo nih anak lagi patah hati or punya masalah keuangan, or else). Gua nggak ngerti sih kenapa sampe dibilang nih anak kayak agak2 “terganggu jiwanya”. Kasus kedua, anaknya yang ke5 & anak pertama kena sakit DB, dan setelah sakit DB anak pertama pun di”vonis” gangguan jiwa sama nyokapnya, karena sering ngomong sendiri, bengong2 & bertingkah aneh. Sebenernya gua punya 2 asumsi, antara si anak2 yang bener2 bermasalah atau si nyokap yang kelewat kawatir sama anak2nya. Lalu ada juga si tante B yang setelah pindah malah bangkrut usahanya. Lalu ada lagi Paman C, mengalami hal yang sama, bangkrut. Kadang bikin gua jadi berfikir, memang kekristenan nggak menjanjikan “kekayaaan” & “kesenangan” dalam dunia. Well, ada orang2 yang mendapatkan & ada orang yang nggak mendapatkan (tergantung cara masing2 orang melihat). Namun terkadang konsep orang berfikir kalo “everything will be better if you follow Jesus”, yes it will better, tapi tergantung pola pikir yang dikepala. “Better” bagi gua & orang lain belom tentu sama. Mungkin bagi gua, “better” karena gua tau apa yang gua jalanin, kepada siapa gua hidup. Tapi “not better” buat beberapa orang saat ngeliat gua nggak hidup berkelimpahan. So, apa yang kita tawarkan “when we follow Jesus”? Beberapa orang menawarkan “better life”, but itu juga yang bikin mereka kecewa & orang2 sekitarnya mempertanyakan saat kehidupan mereka ternyata tidak lebih baik. Yeah, akan lebih mudah kalau menjelaskan hal ini kepada orang2 yang mengerti, tapi bagaimana dengan orang2 yang tidak mengerti & skeptis dengan kekristenan? Kesaksian apa yang seharusnya kita tunjukan?
Puppy love klo di indo disebutnya cinta monyet haha mungkin gak sih diumur2 segini (uda tua maksudnya) ngalamin cinta monyet hahahayah namanya juga manusia, ada rasa tertarik2 sama lawan jenis itu wajar toh, tapi karena gengsi/lingkungan yg gak memadai, rasa tertarik itu biasanya ditutupi hehe, mungkin kita harus belajar sama yg namanya “jujur sama diri sendiri” kadang hanya karena hal2 gak penting kita malah kehilangan cinta kita. Apalagi klo itu “gengsi”, haiyaah rasanya rugi banget gak seeh hahaha. Tapi bukan berarti dengan begitu kita jadi “murahan”, gampang jatuh cinta, punya mantan segabruk, dsb. Itu mah gak dewasa banget keliatannya.gua jadi inget baca email yg soal menikah, disitu ditulis jangan menikah karena asmara, kekayaan, umur, de el el, banyak banget deh. Trus yg ada otak gua mikir “so, kita harus menikah karena apa klo gitu?”Rasanya alasan orang menikah seenggaknya faktor2 itu ada lah, nggak mungkin faktor2 itu dibuang sama sekali, bagi gua kok nggak mungkin banget, emangnya robot apabalik lagi ke puppy love, hehe. Gimana caranya biar puppy love itu tumbuh jadi cinta yg dewasa? *halah* gua kok jadi bahas ginian n sotoy2 sendiri. ya udah deh gak usa dibahas aja, gua berasanya sotoy abisnya hahaha
seperti kebanyakan orang yg hidup di dunia mimpi, sepertinya keajaiban itu sangat dinantikan, sesuatu yang diluar kemampuan manusia, bisa terbang, bisa keluarin laser dari mata uda kayak X-man, ato jadi pemain “Heroes”. Kenyataannya di dunia ini sepertinya itu adalah hal yg mustahil, walaupun manusia tetep seneng sama hal2 kayak gitu, buktinya film2 superhero ratingnya bisa tinggi dimana2 Sebagai manusia mungkin kita mengharapkan keajaiban2 kecil dalam hidup kita, bukan seperti superhores mungkin, tapi mulai dari peningkatan taraf hidup, kedamaian, kesembuhan, perfect family, perfect couple, menunggu pengeran berkuda putih (or bermobil putih lebih tepatnya? LOL) & kejadian2 tak terduga lainnya. Pada kenyataannya hal tersebut nggak akan didapat begitu saja, manusia harus mengusahakannya. Walah terkadang tetep ada kejadian2 yang diluar pikiran kita terjadi, mungkin hanya sekian persen terjadi. yah begitupun gua, mengharapkan keajaiban terjadi. Bangun setiap paginya menantikan hal2 baik terjadi yg diluar perkiraan gua. Tapi pada kenyataannya hari2 tetep gua jalani sebagaimana adanya. Mengarapkan gua bisa melakukan hal lain yang lebih berarti. Nonton Oprah Winfrey, Baca tentang Martin Luther King Jr, Paul Brand, GK. Cesterton, etc bikin gua ngiri aja. Bagaimana hidup gua bisa berpengaruh seperti mereka, bagaimana gua bisa memberi dampak besar buat sesama.. mungkin gua hanya bisa berharap untuk sekarang, menunggu dibukakannya jalan, tanpa usaha.. tanpa usaha? lalu apa bisa itu terjadi tanpa usaha? *sigh* sekarang gua ngerti kenapa “pengharapan” itu harus selalu ada dalam diri kita. Bukan pengharapan yg semu tentunya. Ada yg bilang “jangan mengantungkan harapanmu pada pengharapan” karena itu akan membuat kita kecewa, menggantungkan harapan pada pengharapan..?
|