Dulu waktu gue TK, karena badan gue lebih gede dibandingkan mayoritas anak2 TK yang lain, ada beberapa temen TK gue yang nyangka kalo gue menyeramkan.
Dulu waktu gue SD, karena gue pendiam, ada beberapa temen SD gue yang nyangka bahwa gue itu goblok, or at least gak enak diajak berteman.
Dulu waktu gue SMP-SMA, karena gue pelan2 berubah jadi seorang 'mensch', banyak temen gue yang cowok nyangka bahwa gue orangnya asik dan gaul, dan banyak temen gue yang cewek nyangka bahwa gue orangnya enak untuk dipacarin
Dulu waktu gue kuliah, karena gue selalu updates dengan semua hal yang berhubungan dengan mata kuliah, banyak orang menyangka bahwa gue orangnya pinter, or at least rajin
Dulu waktu gue ikut pelayanan di kuliah, karena gue orangnya tukang ngatur dan maunya serba perfect, banyak temen pelayanan mikir kalo gue orangnya keras kepala dan tukang cari ribut
Dulu setelah tamat lulus kuliah dan mulai dapet kerjaan untuk pertama kalinya, hampir semua temen2 di kerjaan gue itu ngeliat gue sebagai orang yang gak pernah ngebantah, selalu senyum dan ramah dan suka menolong (tentu tanpa embel2 "rajin menabung" hehehe)
Apakah gue setuju dengan semua hal yang mereka pikirkan tentang diri gue? Kagak.
Apakah semua pandangan mereka tentang gue adalah pandangan yang benar? Gak tuh.
Lalu sekarang seorang temen gue tanya "kalo gitu kenapa elu diem aja atau gak berusah mengubah cara mereka mikir dan ngeduga dan ngeliat elu dengan image yang keliru?"
Anaknya cakep. Putih. Berambut panjang melewati bahu. Matanya berkilau, agak kecoklat2an. Kalo tertawa, matanya makin berkilau.
Suatu hari kita berdua ngobrol. Ngobrolin soal pacaran. Terutama waktu dia bilang betapa dia bangga dengan pacarnya. Tajir. Pintar. Datang dari keluarga kaya, berpendidikan. Lalu dia bercerita bahwa pacarnya juga bangga dengan dia, karena dia rohani, bijaksana, 'cantik di luar cantik di dalam' begitu istilah pacarnya mengenai dirinya. Dia tertawa lebar seakan menikmati hidup dia yang begitu sempurna.
Lalu aku bertanya ke dia, "Gimana kalo elu ternyata selingkuh?"
Dia dengan cepat menjawab, "Gak mungkin banget lah. Gue sayang banget sama cowok gue. Lagian gue emangnya cewek apaan gak tau diri setelah dapet cowok yang kaya gitu baeknya."
Aku cuma nganguk2 aja.
Lalu aku bertanya lagi ke dia, "Gimana kalo ternyata dia yang selingkuh?"
Dia juga menukas sambil menggelengkan kepalanya,"Sama aja. Gak bakal deh. Gak mungkin."
Aku menganguk2 lagi.
Kita ngobrol2 lagi. Kali ini tentang ekonomi, tentang seleb Hollywood, tentang lingkungan, tentang minyak. Semuanya kita obrolin.
Tidak terasa kita berdua duduk semakin dekat. Lalu perlahan aku dekati dia.
Kita berdua diam.
Karena aku mencium bibirnya.
Lima enam detik berlalu. Pada detik pertama dia terkejut. Mencoba menghindar. Tapi kalah cepat. Detik kelima, dia mengalungkan tangannya di leherku. Detik ke tujuh, nafasnya mulai tak teratur. Detik ke delapan, aku buka mataku dan kulihat matanya terpejam. Detik ke sembilan, dia merengkuh ketika aku peluk pinggangnya. Detik ke sepuluh, kita berdua menikmati detik tersebut. Detik kesebelas, aku tarik kepalaku dari kepalanya.
Dia tertunduk. Lalu mengangkat dagunya. Menatapku dengan pandangan bingung.
Aku menatap matanya. Lalu tersenyum. Dan dia pun tersenyum. Aku dekati kepalanya lagi. Dia mendongak seperti ingin melanjutkan kejadian tadi. Tapi aku beralih ke lehernya, daripada mulutnya. Mungkin dia pikir aku akan mencium lehernya. Dia salah besar.
Karena aku berbisik tepat di telinganya, "Anything is possible. Elu baru aja selingkuh."
Dan aku melangkah meninggalkan dia, tanpa peduli oleh isak tangisnya.
Pernah minum Tequila yang asli dari Mexico? Rasanya strong banget. Bahkan dicampur apa pun masih strong.
Suatu hari -bertahun-tahun yang lalu pastinya- gue pernah minum 1 botol Tequila yang made in Mexico. Hasilnya? Wasted in a week. -Silakan tersenyum-
:)
Sejak saat itu, penciuman gue sama bau minuman Tequila jauh lebih tajam. Masuk ke liquor store, minuman pertama yang tercium pasti Tequila. Ada orang bawa tequila dari jarak 4-5 meter, gue udah tau kalo itu Tequila.
:)
One day, gue tulis di atas kertas kosong "A drop of Tequila in my tounge would bring me back to the worst week of my life."
:)
Ini yang terjadi -kurang lebih- sama hidup gue 3-4 minggu belakangan ini. Gak ada hubungannya sama mabok tequila. Tapi yang jelas, rasanya seperti itu, satu tetes dari hal 'itu' akan bikin gue balik dan ngerasa up and down. Cuma satu tetes loh. Kesel kan kalo ngalamin kaya gini?
:)
Btw, pengalaman seperti yang gue ceritain ada istilah ilmiahnya. Dan gue lupa istilahnya apaan. Dan itu bikin gue kesel pangkat dua.