Seperti judulnya, dimanakah letak kebahagiaan itu..? Perlukah aku cari..? Apa yang harus aku lakukan tuk mendapatkan kebahagiaan itu..? Bagaimanakah kita dapat mengukur sebuah kebahagian ? Ini yang menjadi question mark yang sering terbesik dalam pikiranku, Seringkali aku ingin tau arti sebenarnya dari sebuah kebahagiaan.
Kemaren pagi aku sedih sekali dan merasa terhina sekali dengan ucapan adik kandungku sendiri, aku merasa diriku sungguh tidak berarti dan semua yang telah kulakukan tuk membahagiakan keluargaku hanya sia-sia belaka. Aku merasa sama sekali tidak dihargai,dan bahkan sumpah serapah aku harus terima dari adik kandungku sendiri. Aku menangis dan mulutku tidak sanggup tuk berbicara membalas kata-kata kasar dari dia, Niat yang tadinya mau pergi ibadah pagi jadina tidak berangkat, karena hati sudah penuh di tutupi dengan rasa sedih,kesal dan emosi.
Bukan maksud untuk memberitahu kejelekan keluarga sendiri,tapi itulah keadaan yang sering aku hadapi dikeluargaku, aku memang dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana dan aku menyadari hingga aku berusaha keras tuk membantu dan mewujudkan cita-citaku untuk membahagiakan keluarga, tapi apa jadina kalo semua yang kita lakukan dan pikirkan hanyalah sia-sia belaka?
Hatiku sangat hancur,meskipun demikian aku tetap semangat berjuang teguh dan berusaha melakukan yang terbaik. Selama bertahun-tahun aku sudah mengalami-nya, aku memang seorang pendiem diantara semua keluarga, aku selalu lebih banyak diam dan lebih memilih tuk memikirkan hal lain yang bisa membuat sesuatu lebih baik. Namun semuanya itu hanya sebuah kewajiban dan tanggung jawab seorang anak sulung untuk keluarga dan seorang kakak terhadap adik-adiknya.
OKe, aku bisa terima hal itu, aku harus bertanggung jawab,dan aku berusaha mempertanggung jawabkan dan melakukan yang terbaik buat mereka, tapi apakah mereka pernah memikirkan kebahagianku? Aku sudah berusaha menutup rapat-rapat masalah ini dan aku merasa tidak perlu orang lain tahu bagaimana kejelekan keluargaku. Namun kemaren pagi aku benar-benar tidak sanggup, aku merasa diriku bukan lage bagian dari keluarga itu, sumpah serapah yang aku dengar membuat aku benar-benar sedih dan merasa terbuang dari keluarga.
Aku tidak lain hanyalah sebagai “babu” yang siap memikul semua tanggung jawab tamparan hebat dengan kata-kata tajam yang menyedihkan. Rasanya pengen keluar dari keluarga itu dan ingin jauh dan jauuuuuuuuuh..
Sambil menangis aku tulisi buka diary-ku, aku mencoba tuk menenangkan diri dan memikirkan kata-kata tajam yang barusan aku dengar, aku berusaha menenangkan diriku dan bertanya pada diriku, mengoreksi diri sendiri,apakah yang kulakukan ini sudah yang terbaik buat keluarga ini? Apakah memang begitu adanya harus memikul tanggung jawab terhadap mereka meski mereka sudah memiliki keluarga sendiri? Lantas sampai kapan tanggung jawab itu harus ada? Kapan bagian aku akan kudapatkan?
Bermula dengan nasehat sepele,namun ditanggapi dengan negative dan membuat aku kesal hingga sumpah serapah aku harus terima, kata-kata itu benar-benar membuat aku terpukul seharian sampai aku tak berdaya tuk melakukan apapun.Emosi dan rasa kesal yang tertahan didalam hati membuat aku hanya bisa menangis terseduh-seduh..
Mengapa hidup ini begitu sulit tuk dilalui dengan nyaman..? Siapakah sebenarnya diriku didalam keluarga ini, mengapa semua yg kulakukan tuk keluarga ini sama sekali tidak ada artinya..? Apa yang seharusnya aku lakukan untuk membahagiakan mereka? Seberapa besar pengorbanan yang harus dan sudah aku lakukan..? Aku merasa sudah terlalu capek namun bagi mereka mungkin belom cukup dan masih jauh dari cukup,Bukankah harusnya mereka bisa mengerti aku? Sebab aku juga sama seperti mereka, memiliki dua tangan dua kaki, bisa melihat bisa cari kerja,tapi mengapa tidak mau berbagi tanggung jawab? Atapun berusaha tuk memikul tanggung jawab sendiri-sendiri..? mengapa tidak mau berusaha..?
Setelah seharian mengurung diri dikamar,merenungi semuanya,menulis buku diary dan berusaha berdoa agar bisa berpikir tenang ,Roh Kudus Tuhan benar-benar pimpin aku ditengah-tengah air mata berlinang,aku sudah tak sanggup berkata-kata lage, kata-kata tajam dan sumpah serapah itu masing tergiang jernih di telinga ku, tiap kali aku mengingatnya airmataku selalu menetes,dan perasaan sedih dan sedih…
Dan sampai akhirnya sore aku bisa bangkit dan keluar dari kamar, aku merasa harus segera pergi ibadah,dengan cepat aku buru-buru mandi dan pergi ke gereja, aku merasa pikiranku akan tenang dan lepas dari ingatan kata-kata kasar tadi. Meski agak separoh hati melangkah dari rumah, namun aku berusaha yakin kalo aku akan bisa tenang dan mengerti arti semua kejadian tadi pagi.
Setiba di gereja Aku berdoa pada Tuhan,biarlah smua kata-kata tajam itu tidak akan pernah terjadi pada diriku,dan aku yakin kalo Tuhan akan selalu menyertaiku,memberi aku kekuatan,aku ini sedang dipahat, kehidupanku sedang di rendah oleh Tuhan sehingga aku akan terlihat semakin indah, aku percaya suatu saat aku akan lepas dari cengkraman keluargaku dan aku akan bebas dan bebas,keluargaku akan dipulihkan, adik-adik aku akan bertobat dan lebih mandiri.
Bersyukur banget karena akhirna aku bisa datang kegereja dan malam itu juga aku benar-benar diingatkan oleh Firman Tuhan yang benar-benar menyentuh dan membuatkan lebih semangat lage, aku benar-benar bersyukur kalo Roh Kudus udah bimbing aku tuk datang ke gereja dan ,jangan mengurung diri di kamar karena aku akan makin sumpek,pikiranku akan menjadi buntu dan bisa-bisa jatoh dalam dosa ( alias bunuh diri ) karena merasa sedih dan tidak berarti didalam keluarga. To be honest sangkin sedihnya sudah tidak bisa berpikir jernih lage, yang ada dipkiran dan ditelinga tergiang terus kata-kata kasar dan sumpah serapah itu.
Terimakasih buat Firman Tuhan yang sudah menguatkanku dan membuat aku lebih semangat lage tuk menjalani hidup ini, aku tidak tau apa jadina diriku kalo Tuhan tidak pernah menyertai aku, mungkin saja aku sudah ambil jalan pintas tuk mengakhiri smua masalah hidupku, ato bisa saja aku menaroh dendam pada semua anggota keluargaku,
Tapi sekarang aku menyadariya,masalah yang aku hadapi saat ini adalah awal dari kebahagiaanku,dan untuk mengawali segala sesuatu itu butuh pengorbanan yang banyak,tulus,kesabaran yang teruji dan kerja keras. Jadi aku tidak boleh menyerah begitu saja,aku harus rela berkorban dan bersabar mengahadapi segala tantangan hidup ini.
Terimakasih Tuhan karena sudah menyembuhkan luka hatiku,terimakasih juga tuk firmanMu yang senantiasa menguatkanku, Roh KudusMU yang selalu mengingatkan aku dan memimpin setiap langkahku. Biarlah aku menjadi seperti Rajawali yang mengepakkan sayapnya dan terbang semakin tinggi dikala angin datang melandanya, hingga dia tidak pernah jatoh tertiup angin,begitu juga aku bisa bangkit dan berdiri diatas setiap masalah kehidupanku dan aku akan menjadi pemenang serta kebahagian itu kelak menjadi milikku. Sebab kebahagiaan tidak pernah dapat diukur, kebahagiaan tidak dapat dibeli dengan uang, kebahagiaan tidak dapat dicari, kebahagiaan yang sempurna hanya kudapat dariMU ya Tuhanku.
Terimakasih juaga Tuhan karena ENGKAU telah tempatkan aku berada ditengah-tengah keluarga itu,sehingga aku semakin mengerti arti hidup ini, mengerti arti sebuah kasih di dalam keluarga, Aku percaya Tuhan punya rencana yang terindah dibalik semua hal yang telah aku alami. Aku patut mensyukuri segala sesuatu yang Tuhan sudah berikan didalam hidupku ini . Terimakasih BAPA, terimakasih Tuhan YESUS..terimakasih Roh Kudus..!
Diary 25 Mei 2008,
Rose Sagita