Welcome Guest Login or Signup
LIVE CHAT | INSTANT MESSENGER | BOOKMARK
| LANGUAGE:

imey0106
PROFILE   GALLERY   BLOGS   GUESTBOOK   FRIENDS   FAVORITES  
 


RSS
Pelayan Tuhan Tenggelam
Posted On: 03/05/2008 21:26:29

Konon ditengah desa berdirilah sebuah gereja. Setiap hari banyak warga yang datang mengadakan kebaktian yang dipimpin oleh seorang pelayan Tuhan yang sudah tua.

Suatu hari hujan lebat mengguyur desa itu. Sedikit demi sedikit air naik menggenangi desa. Awalnya setinggi mata kaki, lalu lutut dan akhirnya mendekati paha orang dewasa. Pemimpin desa memerintahkan agar semua penduduk segera mengungsi si pelayan Tuhan pun tidak luput. Tetapi sebagai orang beriman, dia tetap tinggal sambil berdoa kepada Tuhan untuk menghentikan hujan agar bencana yang lebih besar tidak terjadi.

Tak beberapa lama, datanglah regu penolong dengan mobil besar datang untuk menjemputnya. ”Bapak banjir sudah semakin tinggi, ayo bergabunglah bersama kami untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman”, tetapi pastor menjawab ”Tidak usah anakku, kalian mencari orang lain saja, aku akan bertahan disini”.

”Semua penduduk sudah diungsikan, tinggal bapak sendiri disini, mari naiklah bersama kami” demikian regu penolong membujuknya. ”Kalian pergi saja, aku tidak membutuhkan pertolongan kalian. Tuhan pasti menolongku.”

Merasa sia-sia, regu penolong itupun pergi.

Hujan terus mengguyur, tembok gereja mulai tenggelam dan si pelayan Tuhan mengungsi ke lantai paling atas gereja. Dari kejauhan datanglah regu penyelamat kali ini dengan perahu karet. “Bapak air semakin tinggi, hujan semakin lebat, mari mengungsi sebelum terlambat”

“Tidak, Tuhan pasti menolong saya dengan caranya sendiri, saya tidak butuh bantuan kalian, pergilah..”. Regu penyelamatpun pergi dengan khawatir.

Hari beranjak malam, hujan mengguyur semakin lebat, seluruh bangunan gereja telah tenggelam dan si pelayan Tuhan berdiri diatas gereja sambil memeluk menaranya. Tidak seberapa lama terdengar deru helikopter dengan lampu sorot datang menghampirinya. Beberapa orang berteriak sambil melemparkan tali namun dia tidak bergeming. Dengan putus asa merekapun meninggalkannya.

Hujan tidak berhenti dan akhirnya menenggelamkan seluruh desa dan akhirnya dia itupun hanyut dan meninggal.

Setibanya di surga, dia bertemu dengan Tuhan segera mengajukan protes menyatakan kekecewaannya. ”Aku sudah berpuluh-puluh tahun mengabdi, mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengabarkan ajaranmu, tetapi mengapa Tuhan tega membiarkan aku?”

Tuhan menjawab dengan lembut. ”Loh, memangnya kamu pikir siapa yang mengirimkan regu penyelamat dengan mobil, perahu karet dan helikopter itu? Itu semua kirimanKu”

Banyak orang beranggapan bahwa hidup keagamaan terpisah dari kehidupan kerja.

Namun etos ini berkata ’Kerja adalah Ibadah” itu berarti kita harus selalu menghayati kehadiran Tuhan di dalam lingkungan kerja kita, dibengkel kerja maupun dikantor kita.

Pola kerja kita, kita dedikasikan untuk Tuhan. Konstituen kerja kita banyak, pelanggan, atasan, maupun rekan kerja. Namun buat orang beriman, Tuhan adalah konstituen kita.

Dalam tradisi ini, kerja bagi Tuhan haruslah menyajikan yang terbaik, dengan segenap cinta dan pengabdian. Diyakini dengan cara yang demikianlah Tuhan akan berkenan. Apabila kita mampu merubah pola kerja kita sebagai pola rohani, maka kita akan mampu mempersembahkan karya terbaik yang mampu membuat pelanggan tersenyum dan Tuhanpun ikut tersenyum.

Itulah maksud dari etos kali ini, kita bekerja penuh cinta yang didedikasikan untuk Tuhan.

 

special thanks to Peter Waworundeng for Kafe Etos 

Tags: Smart Etos Motivating Inspirational



Bookmark:



*** www.AkuPercaya.com ***
Powered by phpFoX Version 1.6
FREE FORUM HOSTING - JAPANESE BAGS