|
Viewing 1 - 6 out of 6 Blogs.
Penguasa Hati Siapakah yang menguasai hatiku? Belakangan ini selalu saja pertanyaan ini muncul. Binun juga jawabnya karena aku pun tak tau mau menyebut siapa penguasanya. Secara logika, harusnya aku berkata kalau Kristus-lah yang menjadi penguasa hatiku, namun aku harus jujur padaNya. Saat aku merasa iri hati, maka keinginan dagingku-lah yang menjadi penguasa hatiku. Saat aku merasa rendah diri, maka intimidasi-lah yang menjadi penguasa hatiku. Saat aku merasa sakit hati dan tidak mau mengampuni, maka aku telah menyangkali karya salib Kristus. Saat aku lebih memilih untuk membeli apapun yang aku suka padahal belum tentu aku perlukan, maka aku telah menjadikan keinginan mata sebagai penguasa hati ini. Saat aku meremehkan orang lain, maka hati ini telah dikuasai oleh keangkuhan hidup. Saat aku lebih memikirkan pasanganku daripada Tuhan, maka aku telah mempunyai berhala dalam hidupku. Saat aku kembali jatuh dalam dosa, maka aku mengingkari darah penebusan yang sudah Kristus berikan padaku secara gratis. Apakah yang paling kuanggap berharga dalam hidup ini? Logika ini tentunya memilih TUHAN sebagai sosok yang paling berharga dalam hidup ini, namun dalam praktek sehari-hari aku seringkali memilih yang lain. Bila keuanganku hancur dan aku tidak memiliki pekerjaan lagi, apakah aku tetap memilih TUHAN ketika mendapat tawaran bekerja dengan bayaran yang sangat tinggi namun pekerjaan tersebut tidak berkenan di hati TUHAN? Bila aku telah mengalami sakit kronis dan menjalani pengobatan medis selama bertahun-tahun, adakah aku memilih TUHAN ketika ada tawaran untuk sembuh asalkan aku tidak beribadah lagi pada Kristus? Bila kehidupan sosial yang aku jalani saat ini mengharuskan aku untuk menghujat karya penebusan Kristus, apakah aku akan melakukannya supaya boleh tetap diterima dalam lingkungan yang nyaman itu? Dan bila tiba waktu untuk memilih yang paling berharga, manakah yang kupilih antara keluarga dan TUHAN? Apakah aku rela melepaskan semua kenyamanan hidup, harta, kesehatan, kehidupan sosial dan keluargaku demi berkenan bagi Kristus? Apakah aku rela mengosongkan semua berhala dalam hati ini supaya Kristus boleh datang dan berkuasa dalam hatiku? Sampai saat ini aku menuliskannya, aku masih belum mendapatkan jawaban yang pasti, namun aku mau berusaha semaksimal mungkin supaya panggilan dan kesempatan itu tidak berlalu begitu saja dariku. Apapun yang menjadi pilihanku, aku mau invest hidupku pada nilai-nilai yang bersifat kekekalan. Dalam perjalanannya pasti akan ada jatuh bangun namun aku tetap percaya pada kuat Tangan Yang Menopang diri ini. Genggaman tangan imanku boleh saja menjadi lemah namun itu tidak berarti Sang Maha melupakan bahkan meninggalkan diriku. Thank You Lord for another new chance given in my life. Please forgive all my trespasses and conquer my heart wholly for the glory of Your Name. Amen.
First Love Masih bisa ingat kah kita waktu pertama kali kita lahir baru dan mengasihi Kristus dengan kasih mula-mula kita? Apa saja yang kita lakukan saat itu sebagai wujud ekspresi cinta kita pada Kristus? Yuk kita coba bagi-bagi kisah ini dengan satu atau dua orang yang ada di sekitar kita saat ini.
Kalau saya, tidak banyak yang saya ingat tentang kisah cinta mula-mula saya dengan Kristus. Saya hanya menjadi lebih rajin untuk berdoa, membaca kitab suci, terbenam dalam pengajaran rasul-rasul dan memperbanyak waktu berkumpul dalam komunitas orang percaya. Rasanya tidak ingin melewatkan sedetik pun tanpa memikirkan atau membahas kasih Kristus yang begitu dahsyat dalam hidup ini. Setiap waktu yang saya lalui terisi dengan senandung ucapan syukur. Hal-hal sederhana mampu membuat saya tersungkur di hadapan Kristus untuk mengucap syukur. Semuanya benar-benar terlihat menakjubkan bagi saya yang saat itu baru saja mengalami kasih mula-mula. Namun sebagai manusia, ada kalanya saya mengalami kejenuhan dan saat-saat seperti itulah saya harus benar-benar waspada karena kasih tersebut sangat rentan untuk luntur atau berkurang kadar antusiasnya.
Mari kita coba baca di kitab Wahyu 2:2-7. Ayat 4 dan 5 sangat menempelak hati saya ketika saya mendalami maknanya.
Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. (Wahyu 2:4-5) Kristus tidak meminta kita untuk mencapai tingkatan rohani tertentu atau memiliki keahlian tertentu dalam mengikutNya. Kristus hanya ingin kita untuk tetap konsisten dengan apa yang telah kita lakukan sejak semula. Kristus tidak ingin kita meninggalkan kasih mula-mula kita. Mungkin ada di antara kita yang aktif pelayanan dalam organisasi gereja, namun mari kita lakukan intropeksi lagi. Apakah semua pelayanan itu dilakukan dengan kasih yang berkobar bagi Kristus? Apakah semua itu dilakukan hanya sekedar memenuhi rutinitas dan tanggung jawab sebagai pelayan Tuhan dalam organisasi gereja? Hanya Bapa dan kita lah yang tau.. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Mat 5:20)
Prioritas Adalah tuntutan ego manusia yang memberi rasa bahagia bila masing-masing individu tersebut diperlakukan dengan prioritas tingkat tinggi. Kekasih menuntut agar diperhatikan lebih oleh pasangannya. Sesama rekan kerja saling bersaing untuk mendapatkan fasilitas dan penilaian prestasi yang terbaik. Ada pula nasabah bank yang sangat puas ketika menikmati fasilitas prioritas dari bank sehingga waktunya tidak terbuang percuma untuk antri panjang. Dari contoh-contoh di atas, saya menarik kesimpulan bahwa prioritas hanya akan diberikan kepada mereka yang berhak mendapatkannya, entah karena sudah membayar dengan suatu harga tertentu atau karena memang sudah menjadi hak yang diperoleh dari status orang tersebut. Perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka. Kalimat tersebut mungkin sudah cukup sering kita dengar namun apakah kita sudah melakukannya dalam keseharian kita? Dan bagaimana dengan motivasi kita saat kita tengah memperlakukan orang lain? Apakah yang menjadi harapan atau pamrih ketika kita memberikan prioritas kepada orang-orang tertentu? Adakah kasih yang mendasari segala tindakan kita? Pagi ini saya tengah mengalami kecewa dengan seseorang. Permasalahan yang kecil dan sederhana namun saya merasa terkejut atas respon orang tersebut dan jengkel pilihan-pilihannya yang rasanya tidak seimbang dengan prioritas yang saya sudah berikan selama ini. Sejenak saya terbenam dalam gejolak ego yang mengeruhkan ketenangan pikiran; sempat berasumsi tentang seberapa penting diri ini baginya, sempat merengut kesal karena gagalnya beberapa alternatif rencana yang sudah susah payah dipikirkan, bersyukurlah karena saya juga sempat mengingat kenyataan bahwa saya pun sering berlaku tidak adil dan tidak memprioritaskan orang-orang yang membutuhkan prioritas saya. Bahkan yang terlebih parah adalah saya pun sering tidak memprioritaskan sosok pribadi yang jelas-jelas tulus memprioritaskan saya senantiasa. Intropeksi tersebut membuat saya berhenti merasa kecewa terhadap seseorang ini, walau jujur saya katakan hati ini masih terasa tidak nyaman, namun sekarang saya sudah lebih lega menerima ini. Bukan hanya itu saja; melalui kejadian ini saya kembali disegarkan akan komitmen awal antara saya dan Kristus. Betapa jauh saya telah melangkah bersamaNya, betapa jauh prioritas yang telah saya berikan dan betapa hidup saya tetap dipeliharaNya walau saya seringkali mengecewakan Kristus dengan kebodohan-kebodohan saya yang manusiawi. Kembali saya diajarkan tentang kasih yang tanpa syarat. Tetaplah berbuat baik dan memprioritaskan mereka yang benar-benar membutuhkan karena itulah salah satu sarana kita untuk membagikan kasih tanpa syarat. Namun, apakah kita masih tetap membagikan kasih dan hidup kita saat yang lain mengecewakan kita? It’s not only about priority; it’s all about love-controlled priority, honey darling. Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. (1 Petrus 1:22)
My First Blood Donation Boleh dong norak dikit. Ini baru pertama donor darah. Awalnya sempet ragu, sempet tanya sana sini tentang donor darah, sempet takut jadi nambah gendut setelah donor dan berbagai cerita pun udah didengar. Pertengahan Maret lalu ada bakti sosial di gereja pusat, di situ juga ada donor darah dan ada kisah orang yang kesakitan selama proses pengambilan darah berlangsung. Trus ada lagi yang wanti-wanti bilang kalo kita pasti jadi tambah gendut setelah donor dan harus secara periodik donorkan darah. Ternyata semua ga seperti yang diberitakan. Kejadiannya hari Sabtu kemaren tgl 5 April 2008. Awalnya emang sakit, tapi tidak sesakit itu kok. Sakit itu wajar banget karena ada jarum tajam yang masuk menembus vena lengan kiri yang sangat tipis. Tadinya mau ambil dari vena lengan kanan, tapi ga keliatan walaupun udah dipencetin. Begitu jarum udah masuk, mendadak telapak tangan kiri keram, kayanya seh pengikat lengannya terlalu kenceng. Lalu ga berapa lama, lengan tempat jarum itu terasa sakit banget. Perawatnya sempet nanya, apa masih mau lanjut atau dicabut dulu terus ditusuk lagi. Buset dah, emang gue apaan, hihihi. Akhirnya cukup dibetulin posisi jarum yang miring, udah ga sakit lagi deh. Sempet kenalan ama cowo yang berbaring di ranjang sebelah. Ngobrol juga sama perawatnya tentang kenormalan HB, tensi dan macam-macam gitu deh. Gue seh ga terlalu nyimak, tapi lumayan lah buat mengisi waktu. Ga terlalu lama proses pengambilan darahnya, ga sampai 30 menit. Darah yang diambil hanya 250cc. Ga merasa pusing, ga lemas, hanya aja bertambah lapar. Begitu selesai, dapat ransum mi, roti, susu dan air segelas. Gue hepi udah bisa donorin darah. Gue ga tau apakah nanti gue akan bertambah gendut. Gue harap nantinya gue akan lebih sehat. Kalaupun kelak gue harus secara rutin mendonorkan darah, ya moga aja ga akan ada masalah deh. Demikian share gue. Ga kepikir ayat2 seh, tapi gue berasa aja Bapa hepi ama darah yang udah dikeluarin karena darah itu pasti akan berguna kelak.
Selamat Ulang Tahun, Sahabatku November 25, 2004  tiga ratus enam puluh lima hari berlalu kini saat itu datang kembali waktu seakan terbang melayangkan ingatan akan saat dimana kau masih di sini semilir angin senja temani langkah kita desir ombak membelai pesisir pantai kau dan aku berdua berhadapan walau tanpa sepatah kata hangat terasa genggaman jemarimu walau sunyi dan dingin coba kuasai nuansa hati seulas senyum merekah indah saat dirimu mengucap penuh tulus selamat ulang tahun, sahabatku tiga ratus enam puluh lima hari lalu kita masih bersama dan membagi ceria kali ini sunyi dan dingin telah kuasai senyummu namun bayangmu masih terlihat jelas kembali kupandang fotomu di nisan itu seulas senyum merekah indah terlintas ingatan akan kalimatmu kala itu selamat ulang tahun, sahabatku
Hidup Dalam Penderitaan Pernahkah kita mengalami ketidakadilan? Mungkin juga diskriminasi yang ditimpakan atas perbedaan atau kekurangan yang kita miliki? Pernahkah kita mengalami masa kesusahan padahal hidup kita sudah sesuai dengan standar yang diterapkan oleh Firman Tuhan? Pernahkah kita melihat adanya orang yang mengalami kelimpahan berkat padahal hidupnya justru jauh dari berkenan pada Tuhan? Apakah respon kita saat hal-hal itu terjadi dalam hidup kita? Apakah yang pertama kali melintas dalam pikiran dan hati kita saat kemujuran orang fasik muncul di sekitar kita? Apakah ada rasa marah atau iri hati saat orang lain yang mendapat apresiasi dan prioritas sedangkan kita lah yang lebih berhak untuk mendapatkannya? Bagaimana respon hati kita saat ada intimidasi yang menyerang ego kita? Dalam kitab Mazmur 37:1-11 kita diingatkan tentang bagaimana respon yang benar dan tindakan yang patut dilakukan ketika hal-hal itu terjadi dalam hidup kita. Jangan marah dan iri hati sebab semua keberhasilan orang fasik hanyalah sementara, tidaklah sebanding dengan kebahagiaan kekal yang menunggu kita setelah kita tahan uji melalui segala hal-hal itu. Ada beberapa fokus yang TUHAN perintahkan untuk kita lakukan ketika hal-hal yang sesak itu menghampiri hidup kita : - Percayalah kepada Tuhan - Lakukanlah yang baik - Berlakulah setia - Bergembiralah karena Tuhan - Serahkanlah hidup kita kepada Tuhan - Percayalah kepada Tuhan dan Tuhan akan bertindak Mempraktekan Mazmur 37:3-5 ini pastilah sangat sulit apalagi ketika kita dalam masa-masa yang tidak nyaman, namun ini adalah perintah Tuhan bagi setiap kita. Perintah untuk “percaya kepada Tuhan” dituliskan sebanyak dua kali, hal ini membuktikan betapa pentingnya kepercayaan kepada Tuhan dan betapa Tuhan rindu agar kita bergantung penuh kepadaNya bagaimanapun keadaan diri kita. Lalu bagaimana untuk tetap bergembira di saat yang tidak enak? Apakah yang menjadi sumber sukacita saat kita dirundung kemalangan? Ingatlah hukum pertukaran yang sudah dinyatakan ketika Kristus disalibkan ganti dosa kita. Di kayu salib Kristus sudah menukar segala penderitaan kita dengan diriNya sendiri, segala keberadaan diri kita sudah dibeli lunas oleh darahNya yang kudus. Hidup kita yang sekarang adalah hidup bagi Kristus, bukan hidup yang berfokus pada ego. Hidup kita bukanlah milik kita lagi, kita sudah mati bersamaan dengan penyaliban Kristus. Orang mati tentu tidak akan merasakan apa-apa bila disakiti, dilecehkan ataupun diperlakukan dengan tidak adil. Kristus tidak minta supaya kita ramai-ramai bunuh diri, tetapi yang diminta adalah mematikan ego dan segala perbuatan daging kita. Kristus tau hal ini sangat sulit buat kita, karenanya Kristus mati disalibkan bagi kita dan bangkit supaya kita boleh menang atas segala perbuatan daging serta mampu mengalahkan ego. Secara status, kita memang sudah diselamatkan dan menang karena Kristus, namun pada aplikasi sehari-hari kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan tetap tinggal dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah di sini maksudnya bukan berdiam di gereja setiap saat, namun mengijinkan Kristus menjadi pengendali dan penguasa tunggal dalam hidup kita. Allah juga telah menyediakan Roh Kudus yang menjadi penolong kita dalam menjalankan tugas dan panggilan hidup kita sebagai anak-anakNya. Bapa kita di surga pasti mengerjakan bagianNya untuk menjaga dan memberkati kita dengan kehidupan kekal, namun adakah kita tetap setia melakukan bagian kita untuk mentaati segala FirmanNya dan mematikan ego kita?
|