|
Viewing 1 - 6 out of 6 Blogs.
|
|
SUKSES
Posted On 08/12/2008 22:39:59
|
Hari Sabtu kemarin, seorang teman mengajak merenungkan tentang kesuksesan. Semua yang hadir menerangkan definisi tentang sukses menurut pengertiannya masing-masing. Teman saya seorang calon pendeta, mengartikan sukses sebagai suatu prestasi bila ia dapat meningkatkan jumlah jemaat di gereja yang dipimpinnya. Teman lainnya mengartikan sukses sebagai kebahagiaan hidup bila ia telah mengunjungi tempat-tempat di seluruh penjuru dunia yang indah dan terkenal. Seorang pensiunan guru, mengartikan sukses bila ia berhasil mengajar anak-didiknya memiliki kemauan untuk belajar sendiri. Dan lain-lainnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “sukses” berarti berhasil atau beruntung, misalnya: novel itu mencapai sukses luar biasa, terutama setelah difilmkan. Dengan demikian, teman-teman tadi, secara berurutan, mengartikan kesuksesannya sebagai a) berhasil menambah jumlah jemaat; b) berhasil mengunjungi berbagai tempat yang indah di dunia; dan c) berhasil mendidik anak-didiknya. Pemahaman masing-masing orang terhadap kata “sukses,” tergantung pada harapan atau cita-citanya. Bila seseorang bercita-cita untuk dapat mengunjungi seluruh tempat-indah di dunia ini, maka ia akan merasa sukses pada saat mampu mewujudkannya; atau bila seseorang bercita-cita untuk dapat menjadikan semua anak-didiknya mandiri, maka ia akan merasa sukses pada saat anak-didiknya memang seperti yang diharapkannya. Jadi, pemahaman masing-masing orang tehadap arti sukses atau tidak-sukses bersifat relatif, tergantung pada harapan individu itu masing-masing. Saat renungan pada hari Sabtu tersebut memang hanya sebatas pada perenungan masing-masing orang terhadap kesuksesan, dan pertemuan tersebut berakhir pada gurauan-gurauan seputar pemahaman dan pengertian masing-masing yang hadir tentang kesuksesan. Bagi saya, renungan tersebut belum berakhir, saya terus merenungkan arti kata “sukses” lebih dalam; dimulai dengan mencari arti kata “sukses” di Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan seterusnya. Renungan saya yang pertama, bila sukses tergantung pada masing-masing individu me-set harapan atau cita-citanya, maka sukses itu merupakan hal yang paling mudah untuk dicapai. Contoh: bila saya mengharapkan hanya cukup sebagai lulusan SMU (Sekolah Menengah Umum), maka pada saat saya lulus SMU maka saya sudah sukses. Bila saya hanya berharap punya kendaraan roda-dua, namun sekarang saya punya sebuah kendaraan roda-empat, maka saya sudah mengalami sukses-sukses (sukses double). Renungan saya yang kedua, bagaimana bila yang me-set harapan atau cita-cita kita adalah pencipta kita. Bila pencipta kita mempunyai keinginan agar kita sempurna seperti pencipta kita, maka sebenarnya kita tidak pernah sukses, karena kita tidak akan penah mencapai tingkat tersebut. Bila pencipta kita memaksudkan bahwa kita diciptakan untuk menyenangkan DIA, maka sebenarnya kita tidak pernah sukses, karena kita lebih sering dan lebih banyak menggunakan waktu yang kita miliki untuk menyenangkan diri kita dan/ata keluarga kita. Konsekwensi atas ketidakmampuan ini, maka muncul renungan berikutnya, mungkin “sukses” bukanlah sesuatu yang diharapkan atau yang akan ditanyakan pada akhirnya nanti. HW (#06.080813).
Tags: Renungan Sukses Success Goal Setting
|
|
BAHASA
Posted On 07/15/2008 03:48:44
|
KECERDASAN DAN KETELITIAN Saya mendapati dalam beberapa pemaparan materi (atau pengajaran) bahwa kata “takut” digunakan dalam banyak arti. Pertama, dikaitkan perasaan takut (affraid), misalnya: takut anjing, takut ke kamar-kecil, dll. Kedua, dikaitkan dengan kekawatiran (worry), misalnya: ibu tersebut takut anaknya tidak memperoleh sekolah. Ketiga, dikaitkan dengan kecemasan (anxiety), misalnya: ibu-ibu takut kalau-kalau kebutuhan minyak-tanahnya tidak dapat terpenuhi. Keempat, dikaitkan dengan rasa-takut yang tidak beralasan (phobia), misalnya: takut ketinggian, takut ruang-tertutup, takut binatang-berbulu, dll. Kelima, dikaitkan dengan rasa-malu (ashame), misalnya: dia takut pada tetangganya karena dia belum dapat membayar hutang-hutangnya. Keenam, dikaitkan dengan rasa-bersalah (guilty feeling), misalnya: dia takut sekolah karena uang-sekolahnya telah dipakai untuk membeli rokok. Ketujuh, dikaitkan dengan rasa rendah-diri (inferior), misalnya: dia takut bergaul dengan teman-temannya karena dia tidak sekaya mereka. Dan masih banyak contoh lainnya. Luasnya arti kata “takut” itu tidak terlalu menjadi persoalan, bila disampaikan dalam komunikasi sehari-hari; tetapi akan berbeda dan berakibat fatal, bila digunakan untuk maksud-maksud pembinaan dan pengajaran; apalagi bila diambil dalam kitab suci yang menjadi sumber pengajaran yang benar dan sehat. Kemudian saya berpikir, bila kata “takut” (sebagai contoh salah-satu kata) mempunyai arti yang tidak spesifik (sangat luas), maka muncul 2-pertanyaan yang harus dijawab, yakni: a) apakah keadaan ini mencerminkan tingkat kecerdasan bangsa kita yang tidak mempunyai kemampuan men-spesifik-kan sesuatu, atau b) apakah keadaan ini hanya menunjukkan keterbatasan pengguna bahasa itu. Untuk menjawabnya, maka saya melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia yang ada di web; dan saya menemukan kata “takut” berarti 1) merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yg dianggap akan mendatangkan bencana, misalnya: anjing ini jinak, engkau tidak perlu takut; 2) takwa; segan dan hormat, misalnya: hendaklah kita takut kepada Allah; 3) tidak berani (berbuat, menempuh, menderita, dsb), misalnya: hari sudah malam, aku takut pulang sendiri; 4) gelisah; khawatir (kalau ...), misalnya: digenggam takut mati, dilepaskan takut terbang,(catatan: pribahasa yang menunjukkan rasa gelisah, khawatir kacau-balau. Dengan melihat Kamus tersebut, maka saya menemukan bahwa kata “takut” sebenarnya hanya untuk mengekspresikan perasaan 1) gentar atau ngeri, 2) ketakwaan, 3) tidak berani, dan 4) gelisah. Selain arti utamanya, dalam kamus tersebut juga diberikan beberapa contoh penggunaan kata “takut”, salah satunya: misalnya takut kemalaman --yang diartikan rasa-takut tanpa alasan (catatan: bukan dalam arti phobia). Nah, sekarang kita sudah menemukan jawabannya, bahwa ternyata pengguna bahasa itulah yang ceroboh; tepatnya, kurang mau belajar dan kurang teliti dalam menggunakan ekspresi kata-kata yang tepat. Kita juga harus menyadari bahwa bahasa kita tidak mempunyai cukup kosa-kata untuk menggambarkan secara spesifik setiap perasaan, kemauan, pikiran, benda, kondisi, situasi, dan lain-lain. (misalnya: krupuk yang melempem). Kita juga tidak mempunyai tata-bahasa yang mencerminkan waktu. Bila kita menyadari hal ini, maka siapakah yang harus bertanggungjawab terhadap mencerdaskan bangsa ini melalui bahasa ?
HW (#05.080327; 080715).
Tags: Bahasa Language Text Teks Cerdas Smart Teliti Accurate
Mengulas values and beliefs, saya teringat suatu pengalaman sewaktu studi-kasus gelandangan (homeless) Kali Tjode Yogyakarta. Dalam tugas studi-kasus tersebut, saya beberapa kali mewawancarai salah seorang gelandangan. Sungguh, saya pada saat tersebut tidak menyadari dan tidak mengerti adanya “sub-culture values and beliefs.” Ada beberapa konsep yang tidak mereka mengerti, misalnya: menabung hasil penjualan botol-bekas di bank, belajar di sekolah, atau berobat ke rumah-sakit. Baru pada saat tahapan menyusun laporan dan mencari referensi pustaka untuk menjelaskan “temuan” tadi, saya hanya menemukan bahwa mereka adalah kelompok yang tidak mempunyai akses ke fasilitas-fasilitas umum yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Bank, sekolah, dan rumah-sakit yang bagi kita merupakan hal yang biasa, menjadi istilah dan lembaga/institusi yang membingungkan. Seiring dengan waktu, pengertian dan pemahaman tentang “temuan” saya tadi diperjelas dan diperkaya dengan konsep “sub-culture values and beliefs.” Dalam kehidupan mereka terdapat nilai-hidup dan prinsip-hidup bahwa penghasilan sehari dihabiskan (dibelanjakan) pada hari tersebut.
HW (#04.080416; 080707).
Tags: Nilai Values Keyakinan Beliefs Man Manusia Gelandangan Homeless
Man is a scientist; manusia itu adalah ilmuwan. (Kelly, 1955). Secara terus-menerus, setiap waktu, manusia “menguji” nilai-hidup dan prinsip-hidup yang diyakini dan dimilikinya. Sejak masih anak-anak, kita sudah me-internalisasi-kan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang kita benarkan; dan kemudian kita jadikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip itu sebagai “jiwa” dari seluruh pikiran, perkataan, kemauan, dan tindakan kita. Seiring dengan pertumbuhan fisik kita, bertumbuh pula kemampuan psikologis dan lingkungan sosial kita; dengan demikian, sangat dimungkinkan terjadinya “gesekan” antara nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang telah diyakini dengan yang baru. Tetapi kita tidak perlu kawatir, karena kita manusia diberikan kemampuan oleh pencipta kita untuk menguji dan menguji (terus menerus menguji) kebenaran dari nilai-nilai dan prinsip-prinsip kita; dengan tujuan agar kita dapat bertahan-hidup (survive) di tempat kita tinggal. Secara individu, seorang dengan seorang, walaupun dilahirkan kembar dari satu sel telur dan dibesarkan oleh orang tua yang sama, masing-masing individu tersebut mempunyai nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang berbeda. Perbedaan tersebut bisa terjadi karena adanya perbedaan dalam mempersepsi dan merespons kejadian (event) yang sama. Jadi, nilai-hidup dan prinsip-hidup orang per orang sebagai individu berbeda satu dengan lainnya. Istilah kerennya: individual differences. Kelompok-sosial juga mempunyai andil dalam penetapan nilai-hidup dan prinsip-hidup anggota kelompoknya. Misalnya “anak-gelandangan (tidak-berumah)” akan berbeda dengan “anak-rumahan” dalam mempersepsi dan merespons kejadian yang sama. Demikian seterusnya hingga ke tingkat bangsa-negara; masing-masing bangsa memiliki nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang berbeda. Pernah atau tidak, pembaca mengalami atau memikirkan hal ini. Kita sedang berbicara dengan seorang pemulung. Pada saat kita ajak berdiskusi dan berpikir tentang manfaat menabung, maka dia terlihat bingung (atau kurang mengerti). Ybs bingung karena tidak memahami nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang coba anda tawarkan kepadanya. Nilai-nilai dan prinsip-prinsip tersebut kita susun sedemikian rupa (secara sistematis) menjadi cluster-cluster; semacam susunan katagori-spesies dalam ilmu biologi. Nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang kita ambil (internalisasikan) tidak tersebar dengan tidak teratur dalam diri kita. Mereka tersusun secara sistematis dan hierarkis. Contoh: terhadap pertanyaan “mengapa anda bekerja” yang diajukan oleh pewawancara, ada diantara kita yang menjawabnya “untuk memperoleh penghasilan”, atau “untuk punya pengalaman-kerja”, atau jawaban-jawaban lainnya. Bila ditanya lagi “mengapa anda memerlukan penghasilan”, ada yang menjawab “untuk menghidupi keluarga saya”, atau “untuk beli pakaian”, atau lainnya. Demikian seterusnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan hingga tiba pada puncaknya; istilah kerennya: core values. Yang menarik, bila kita dapat mengetahui nilai-nilai dan prinsip-prinsip seseorang, maka kita dapat memprediksi dan menduga apa yang akan dilakukan, dikatakan, atau yang dipikirkannya. Misalnya: kita tahu bahwa si-A menempatkan anak-kandungnya sebagai yang berharga, maka kita dapat menebak tindakannya bila ybs dihadapkan pada situasi tertentu yang melibatkan keamanan anaknya tersebut. Man is a scientist. Kita manusia ini telah diberi kemampuan yang demikian sempurna oleh pencipta kita dalam berhubungan (deal) dengan seluruh aspek yang ada di sekitar kita, maka selayaknya bila kita tidak boleh menyerah pada persoalan-persoalan hidup yang ada; semuanya tergantung pada apakah kita mau merubah nilai-hidup dan prinsip-hidup yang sekarang ada diri kita. HW (#03.080407; 080527).
Tags: Agama Iman Nilai Keyakinan Values Beliefs Man Manusia
Pada tulisan terdahulu, saya telah mengemukakan bahwa agama yang dipeluk seseorang sebaiknya dijadikan sumber dari semua nilai-hidup dan prinsip-hidupnya (values and beliefs); dimana, sebagai konsekwensinya, maka kita dapat melihat iman-kepercayaannya dari sikap, tindakan, tuturkata, dan dari keseluruhan hidupnya. HW (#01.080317; 080527). Orang akan bertanya: Bagaimana bila nilai-hidup dan prinsip-hidup seseorang belum sepenuhnya mencerminkan iman-kepercayaan yang dipeluknya ?. Setidak-tidaknya ada 3 (tiga) kelompok orang yang dikelompokkan menurut kemauan (willing) dan pemahaman (understanding) mereka, yaitu : Kelompok pertama, orang-orang yang sudah paham tetapi mengeraskan kepala (atau hatinya) untuk tidak menjalankan (atau menghidupi) hal-hal yang diajarkan oleh iman-kepercayaannya. Kehidupan-keagamaan kelompok orang-orang ini hanya dimaksudkan dipertontonkan (dipamerkan) pada orang-lain agar dipuji atau dihargai. Misalnya: seluruh iman-kepercayaan mengajarkan dan melarang orang untuk mencuri harta atau barang milik orang-lain (dan negara). Seseorang sudah paham tentang larangan tersebut, namun apapun alasannya ia tetap melakukannya. Mereka yang berani melanggar apa yang dilarang oleh iman-kepercayaaanya (yang berarti, berani melawan penciptanya), maka orang tersebut memiliki kecenderungan untuk berani melanggar hukum atau aturan-aturan yang dibuat oleh manusia. Kelompok kedua, orang-orang yang tidak paham sehingga tidak memiliki kemauan untuk menjalankan hal-hal yang diajarkan oleh iman-kepercayaannya. Kelompok ini tidak dengan benar-benar meyakini agama yang dipeluknya; agamanya hanya tertulis di KTP atau dokumen-dokumen lain yang menyediakan kolom-agama untuk diisi. Kehidupan-keagamaan kelompok ini hanya bersifat ritual (upacara-keagamaan) saja; bahkan tidak jarang yang menolak kewajiban untuk ibadah/sembahyang. Kelompok ketiga, orang-orang yang memiliki kemauan tapi belum tahu banyak tentang apa yang diajarkan oleh iman-kepercayaannya. Kelompok ini benar-benar telah meyakini iman-kepercayaan yang dipeluknya; agamanya bukan hanya sekedar tertulis di KTP, tetapi mereka berupaya untuk hidup dengan hal-hal yang diajarkan. Kelompok orang-orang ini secara progresif (bukan tiba-tiba) dan terus-menerus me-internalisasi-kan iman-kepercayaan mereka ke dalam nilai-hidup dan prinsip-hidup mereka. Apakah ada kelompok lainnya, selain kelompok diatas ? Banyak sekali, tergantung pada variable/faktor penggolongan yang digunakan.
HW (#02.080328; 080527).
Tags: Agama Iman Life Style Religion Faith
Saya lebih memilih (prefer) menyebut agama sebagai iman-kepercayaan (faith). Agama bukan hanya sekedar berisi upacara-upacara, aturan-aturan, larangan-larangan, perintah-perintah, dan janji-janji. Agama dalam pengertian iman-kepercayaan setidak-tidaknya berisi penjelasan dan pengajaran tentang: a) TUHAN, Allah yang benar; b) relasi antara manusia dan penciptanya; c) relasi antara manusia dan manusia; d) relasi manusia dengan ciptaan-lainnya; dan e) kehidupan selanjutnya (after death). Agama harus dapat (shall) menjelaskan dan mengajarkan kepada pemeluknya bahwa ada hakekat (esensi) yang memiliki kuasa supra-natural di luar kendali manusia. (Catatan: saya memilih menggunakan kata “hakekat” terjemahan dari kata “essence”; bukan “zat” terjemahan dari kata “substance”). Bukan hanya menjelaskan tentang hakekat tersebut, tetapi agama juga harus dapat menjelaskan dan mengajarkan perbedaan antara “yang benar” dan “yang palsu.” Agama harus dapat menjelaskan dan mengajarkan kepada pemeluknya tentang bagaimana manusia (dan ciptaan lainnya) ada. Selain itu, dalam kaitannya dengan manusia maka agama juga menjelaskan dan mengajarkan tentang: a) kenapa (atau tujuan) manusia itu ada; b) bagaimana relasi antara manusia dengan penciptanya; dan c) hidup dan mati, serta kelanjutannya. Demikian juga tentang ciptaan lainnya (seperti: bumi, matahari, dll) dan relasi manusia dengan mereka.
Saya tidak menolak (dan dapat menerima) bila dalam agama ada aturan-aturan dan larangan-larangan. Manusia sangat membutuhkan rambu-rambu untuk hidup-sendiri dan hidup-bersama dengan manusia lainnya di dunia ini. Saya juga tidak menolak bila agama juga mengajarkan agar kita mempunyai kewajiban untuk tunduk pada penguasa (pemimpin atau pemerintah), karena saya memahami bahwa pemerintahan mempunyai tugas dan peranan agar tercipta dan terjaga keteraturan di dunia ini. Agama sebaiknya dijadikan sumber dari semua nilai-hidup dan prinsip-hidup (values and beliefs) seseorang; atau nilai-hidup dan prinsip-hidup seseorang diambil (atau di-enternalisasi-kan) dari agama yang dipeluknya. Nilai-nilai dan prinsip-prinsip itu pada akhirnya tercermin dalam pikiran, kemauan, emosi-perasaan, perkataan, dan tindakan orang tersebut. Segala tindakan manusia, baik itu terlihat (overt) maupun tidak-terlihat (covert), mencerminkan nilai-hidup dan prinsip-hidup yang dimilikinya. Misalnya: seseorang memiliki nilai-hidup safety yang menghargai aspek-aspek keamanan dalam bekerja; tidaklah heran bila pada saat bekerja di ketinggian, maka yang terlebih dahulu dipikirkan dan disiapkan oleh pekerja itu adalah keamanan-kerjanya. Sebelum bekerja, ia akan mengamati (atau mengevaluasi bahaya-kerja) tempat-kerja dan sarana-kerjanya. Setelah itu, tindakannya adalah mengambil dan menggunakan peralatan-peralatan untuk mengamankan dirinya; dst. Contoh lain, misalnya: seseorang mempunyai perasaan dan pandangan yang kurang-enak tentang pesta --pesta tidak menyenangkan, maka wajar bila ia menolak ajakan dari teman atau orang lain untuk pergi ke pesta. Seseorang bisa saja, hanya mengambil sebagian nilai-hidup dan prinsip-hidup dari iman-kepercayaannya dan sebagian dari pengalaman hidupnya. Misalnya: bagi seseorang kepercayaan-diri (self-esteem; dari psikologi) merupakan hal penting yang harus dimiliki.
Saya berpendapat bahwa agama yang dipeluk seseorang sebaiknya dijadikan sumber dari semua nilai-hidup dan prinsip-hidupnya (values and beliefs); dimana sebagai konsekwensinya, maka kita dapat melihat iman-kepercayaannya dari sikap, tindakan, tuturkata, dan keseluruhan hidupnya. HW (#01.080317; 080527).
Tags: Agama Iman Religion Faith
|